TC 1
Pertemuan Pertama
Setelah Ujian Nasional usai. Aku dan teman-teman sekelasku mengadakan acara perpisahan dan
makan-makan bersama di sebuah pantai. Sekitar jam 5 sore aku baru tiba di rumah.
Tiba-tiba saja Abi dan Ummi memanggilku untuk bicara. Aku menghadap Abi dan Ummi
setelah selesai membersihkan diri dan shalat ashar. Aku merasa saat ini ada hal
yang serius yang ingin Abi bicarakan. Padahal biasanya setiap malam Aku sering diberi
tausiyah oleh Abi tentang menjaga shalat
5 waktu dan larangan untuk berpacaran. Secara Aku ini hidupnya seperti
gadis-gadis modern lainnya yang tak luput dari kata ‘pacaran’. Namun begitu,
sekian banyak lelaki yang mendekatiku hanya Kavindra saja yang mampu meluluhkan
hatiku. Aku hanya berpacaran sekali saja selama aku duduk dibangku sekolahan.
Abi dan Ummi sangat menyayangiku dan selalu menuruti
kemauanku. Aku adalah anak tunggal mereka. Meskipun aku sedikit keras kepala,
namun Aku sangat nurut dengan segala perintah Abi dan Ummi. ‘Berpacaran sangat
dilarang oleh agama’. Kalimat itu yang selalu diingatkan oleh Abi setiap
mengakhiri tausiahnya kepadaku. Dari sekian nasehat Abi cuma itu yang tidak aku
turuti. Entah kenapa Aku begitu terpikat dengan Kavindra. Yang selalu aku
katakan pada Abi bahwa Kavindra itu adalah teman dekatku. Abi pun sudah
menganggap Kavindra seperti anaknya. Setiap kali Kavindra ke rumahku selalu
ditemani teman-temannya. Aku dan Kavindra jarang sekali berdua-duaan meskipun sudah ada ikatan yang bernama pacaran. Jadi,
Abi dan Ummi tidak sedikitpun menaruh curiga terhadapku. Demikian pula Kavindra
juga sangat menjaga batas-batas dalam pergaulannya terutama terhadap Aku wanita
yang dicintainya.
Waktu itu Ayesha sempat curiga, tak biasanya Pak Hermawan
memanggil Ayesha seperti itu. Di ruang tengah mereka sudah duduk dengan rapi
bersama Bu Indah Lestari. Dari kejauhan Bu Indah tersenyum cerah pada Ayesha. Ayesha
duduk disamping Bu Indah sementara Pak Hermawan duduk tepat di depan Ayesha.
“Kamu capek ya sayang?,” Tanya Bu Indah sambil membelai
rambut panjang puterinya.
“Enggak Ummi.. Sha gak capek malah seneng banget ngumpul sama
temen-temen,” Jawab Ayesha.
Lalu Ayesha melihat ke arah Pak Hermawan yang juga
tersenyum padanya.
“Ohya, kenapa Abi manggil Sha pasti ada hal penting ya,
Bi. Biasanya tausiyah-nya kan malem Bi..” Tanya Ayesha penasaran.
“Iya sayang, Abi mau bicara hal penting menyangkut dengan
masa depanmu. Sini duduk disamping Abi” Ucap Abi sambil menepuk telapak tangannya
di sofa sampingnya. Ayesha melangkah dan segera duduk disamping Abi. Tepat di
tempat Abi tunjukkan.
“Putri Abi sudah lulus sekolah kan ya. Putri kecil Abi
sudah besar kan ya,” kata Abi sambil merangkul pundak Ayesha.
Aku hanya tersenyum menanggapinya.
“Nanti malam ada tamu datang ke rumah kita. Mereka adalah
teman se-kantor Abi. Mereka datang dengan niat baik sayang..?” kata Abi.
“Niat baik apa Abi?” Tanya Ayesha.
“Beliau datang berniat untuk mengkhitbahmu sayang. Beliau
sangat menginginkanmu untuk dijadikan menantunya. Dan mereka ingin merekatkan
lagi hubungan dua keluarga ini,” jelas Abi.
Aku tentu kagetnya setengah mati. Terasa hati dan
pikiranku bagai disambar petir disiang bolong. Aku bingung tak bisa menjawab
apapun. Aku pusing sekali. Tak sedikitpun terpikirkan olehku secepat ini aku
dinikahkan dan dijodohkan pula. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku tak biasa
menolak dan membantah kedua orang tuaku. Ya, Aku memang anak yang sangat patuh
dan penurut, dan Aku tidak mungkin membuat kecewa kedua orang tuaku. Hanya Aku
satu-satunya harapan mereka.
Aku masih diam tanpa kata, karena memang tak ada kata
yang bisa kuucapkan kala itu. Aku menganggap orang tuaku selalu memberikan yang
terbaik untukku. Aku pasrah dengan semua keputusan dari orang tuaku. Hanya satu
saja harapanku yaitu berharap lelaki itu tidak menyukaiku.
“Sha nurut aja pada keputusan Abi dan Ummi,” jawabku
singkat sambil menunduk lemas.
“Sayang.. sekarang kamu mandi dan siap-siap ya. Nanti
mereka akan sampai sekitar bakda maghrib” kata Ummi.
“Iya Ummi, Sha ke kamar
dulu ya,” kata Ayesha.
Setelah mandi Ayesha merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Meraih ponsel dan berselancar di dunia maya. Tiba-tiba Ayesha teringat Kavindra.
Segera ia buka WhatsApp berharap ada satu pesan masuk
darinya. Ternyata ada chat dari kekasihnya itu.
Kavindra :
Assalamualaikum Princessku..
Ayesha : Waalaikumsalam..
Kavindra : Gimana
jalan-jalan tadi.. seneng dong ya..
ngerayain
kelulusannya.. hhee
Ayesha : Iya..
Kamu kenapa gak ikutan tadi ?
Kavindra : Aku jemput Mama Papa tadi ke Bandara
Ayesha : Emm..
Orang tuamu datang dari Jakarta ke
Jogya untuk ngerayain kelulusanmu ?
Kavindra : Enggak.. mau lamaran katanya untuk kakakku.
Tapi aku nggak ikutan karena juga ada janji
sama teman-teman
Ayesha : Ehm..
Kavindra : Kok.. ehm doang. Eh iya, sudah maghrib
belom. Shalat maghrib dulu yuk. Selamat
istirahat Princess. Assalamualaikum
Ayesha : Wa’alaikumsalam
Ya Tuhaann... bagaimana aku bisa melupakan Kavindra... secepat
inikah aku harus melupakannya..? hanya sampai disini saja kisah cintaku dengannya..?
“Astaghfirullah...”
adzan maghrib berkumandang tersentak Ayesha dari lamunannya. Dengan mata
berkaca-kaca ia bergegas menuju ke kamar mandi untuk mengambil wudhuk dan
segera menunaikan kewajibannya sebagai hamba Allah. Ayesha memasrahkan hidupnya
dengan menjalankan takdir yang telah ditetapkan.
Suara ramai di ruang tamu terdengar ke dalam kamar Ayesha,
menandakan keluarga yang mengkhitbahnya sudah datang. Sekarang Ayesha telah
siap diri namun hatinya belumlah siap. Ayesha telah mengikuti anjuran Umminya
untuk dandan lebih cantik dengan mengenakan gaun. Gaun ini kelihatan cukup panjang
jika Ayesha memakainya, panjangnya sampai menyentuh lantai. Sejujurnya tadi ia
hanya ingin mengenakan baju biasa saja yang sederhana, tapi Ummi menolaknya dan
meminta Ayesha untuk mengenakan gaun yang terbaik diantara gaun-gaun yang lain.
Ayesha hanya memakai make-up natural saja dan
memberi aksesoris jepitan rambut yang
senada dengan warna gaunnya. Sehingga rambut lurus hitam panjang milik Ayesha terurai
lebih indah terkesan bak princess
yang ada di dongeng-dongeng. Tangan Ayesha sudah dingin mengingat sebentar lagi
akan keluar menemui calon suami yang tak pernah ia kenal. Tiba-tiba terdengar
ketukan dibalik pintu. Setelah Ayesha mengatakan bahwa pintu tak terkunci, Ummi
pun masuk ke dalam kamar.
“Anak gadis Ummi... Maa
syaa Allah... cantik sekali bak seorang putri kerajaan...” celoteh Ummi
sambil menatap Ayesha penuh bahagia. Kalimat yang dilontarkan Ummi mampu
membuat Ayesha lari ke pelukannya. Seakan pelukan ini menjadi momen terakhir
baginya.
“Jangan sedih dong sayang, nanti jelek lho..,” kata Ummi
pada Ayesha.
“Abis Ummi ngomong
gitu, memang Sha harus beneran nikah ya Mi,” kata Ayesha menahan isak tangis.
“Yah, cepat ataupun lambat kamu tetap harus menikah lah
sayang.. dan kamu harus ikut dengan suamimu.” Jelas Ummi.
“Tapi.. Sha enggak
mau jauh-jauh dari Ummi. Sha enggak bisa
hidup tanpa Abi dan Ummi.” Kata Ayesha sambil terus memeluk Ummi semakin erat.
“Ayesha sayang.. Abi dan Ummi yakin dia itu adalah pria
baik-baik berasal dari keluarga terhormat, toh dia adalah anak dari rekan kerja
Abi.” Jelas Ummi sambil melonggarkan pelukan putrinya.
Ayesha hanya mengangguk dan menurut saja atas apa yang
dikatakan Umminya.
“Baik lah Mi, Sha akan lakukan apa saja asal Abi dan Ummi
bahagia.” Kata Ayesha sambil menatap mata Ummi dengan penuh kasih sayang.
“Astaghfirullah...?
Ayesha.. ayo keluar nak, jangan sampai membuat tamu terlalu lama menunggu.”
Kata Ummi panik. Lekas Ayesha berdiri tegak dan kembali merapikan gaunnya, lalu
berjalan beriringan dengan Ummi sambil memegang lengan Ummi. Wajah Ayesha terus
saja menunduk, hingga sampai di perkumpulan itu pun Ayesha masih tetap saja
menunduk.
“Ini putri kami,” ucap Abi, menyadari Ayesha sampai di
ruang tamu. Meskipun hati Ayesha tak bahagia dengan suasana malam ini, namun
penampilan Ayesha cukup menghipnotis semua orang yang berhadir malam ini sehingga
mereka terpukau melihat penampilan Ayesha dengan balutan gaun berwarna hijau
muda dengan aksesoris rambut yang
senada serta riasan wajah yang natural namun memancarkan aura manis wajah oval
miliknya Ayesha.
Ayesha duduk diantara Ummi dan Abi, dimana sekarang tamu
yang akan mengkhitbahnya itu duduk berhadapan dengan kami. Ummi meminta Ayesha
untuk langsung mendongakkan kepala, agar memperlihatkan wajahnya. Ayesha
melihat sepasang orang paruh baya duduk di sofa tepat dihadapannya yang ia yakini mereka adalah orang tua dari
calonnya sekaligus teman kantor Abi. Tunggu,
lalu dimana dia, kenapa tidak ada di sini.
“Putra kami sedang menerima telepon, sebentar lagi dia
datang” Kata wanita paruh baya di depan Ayesha seakan dia tahu isi pikirannya.
Ayesha hanya mengangguk paham.
Setelah itu aku berkenalan dengan suami istri paruh baya
itu. Pak Jehan Pratama dan Ibu Diana Syahputri, dari nama dan penampilan mereka
saja mencerminkan bahwa mereka berasal dari keluarga konglomerat. Jadi, wajar
saja kalau Abi pernah berhutang budi kepada mereka. Ya, keluarga mereka pernah
membantu Abi disaat Abi sedang sangat terpuruk kala itu. Bahkan saat Ummi
melahirkanku, Abi tak punya uang sepeserpun. Sebenarnya Abi dan Ummi tidak
pernah menceritakan prihal balas jasa dan hutang budi itu padaku. Namun, Aku
sempat mendengar percakapan Abi dan Ummi seminggu sebelum Aku di jodohkan.
Mungkin dengan menerima perjodohan ini Aku bisa menjadi anak yang berbakti kepada
orang tua. Meskipun hatiku sangat perih dan belum bisa move on dari yang
namanya Kavindra. Aku yakin, pasti bisa dan kuat menghadapi semuanya ini. ‘Bismillah... aku lakukan semua ini
demi membahagiakan kedua orang tuaku. Saat ini surgaku berada di bawah telapak
kaki Ummi. Sudah sepantasnya aku berbakti kepadanya.’ Batin Ayesha.
“Dulu saat masih di Jakarta, om dan tante pernah
gendong-gendong nak Ayesha saat om dan
tante berkunjung ke rumah. Dulu itu nak Ayesha masih kecil sekali dan imut-imut, tapi
sekarang sudah besar ya. Nak Ayesha sudah tumbuh menjadi seorang gadis cantik
jelita, ya kan Ma” kata Pak Pratama seraya memberi anggukan kepada Istrinya.
“Iya, saya harap nak Ayesha ini bisa menjadi pendamping hidup putra kami.
Dan memberi keberkahan bagi hidupnya” lanjut Ibu Diana.
“Maaf menunggu” kata seseorang dengan nada berat khas
pria, suara itu memotong percakapan orang-orang di ruangan itu. Spontan saja Ayesha
geser penglihatannya ke arah suara itu berasal. Ayesha tak menyukainya. Sepertinya
dia pun sama tak menyukai perjodohan ini. Tapi mengapa dia menyetujui
perjodohan ini?. Setelah kedua keluarga
berembuk untuk memutuskan tanggal pernikahan, dilanjutkan dengan acara makan
malam. Namun Ayesha tak ikut serta dalam makan malam tersebut. Ayesha lebih
memilih keluar rumah dan duduk di taman belakang rumah sambil menikmati
indahnya bintang-bintang yang bertebaran di langit malam. Menurut Ayesha itu
dapat membuat hatinya sedikit lega setelah mendengar keputusan pernikahan yang
begitu cepat dan tergesa-gesa itu. Hatinya sangat gundah gulana. Pikiran dan
hatinya tidak lain tertuju kepada lelaki yang bernama Kavindra. Ingin rasanya Ayesha
berkeluh kesah dan menumpahkan semua kesedihan padanya.
Deheman seseorang membuat lamunan Ayesha buyar seketika.
Saat ia palingkan wajahnya, Gilang Andrean Putra Pratama laki-laki yang tak lama
lagi akan menjadi suaminya. Suami?.. akankah Ayesha siap bersanding dengannya?
ya Tuhaaan... Mata Ayesha berkaca-kaca kala membayangkan hidup berumah tangga
dengan lelaki tak ia kenal dan bahkan sangat dingin padanya. Gilang mendekati
Ayesha namun enggan melihat wajahnya. Ia tetap berdiri tegap menatap lurus ke taman bunga sambil berkata, “Sebelum
aku dan keluargaku pulang.” Ia diam sejenak dan memalingkan wajahnya pada
Ayesha untuk memastikan Ayesha masih mendengarnya. “Jangan berharap aku akan
mencintaimu setelah pernikahan nanti, karena aku sama sekali tak tertarik
menikah dengan bocah sepertimu.” Setelah melemparkan decihan sinis, laki-laki
itu pergi begitu saja. Ayesha meremas gaunnya dengan mata mulai memerah akibat
menahan tangis. Lihatlah, belum menikah saja lelaki itu sudah berani menyakiti
hatinya. Bagaimana nanti kalau sudah menikah apakah dia akan menjadikan Ayesha seperti
babunya? Ingin rasanya Ayesha berlari menemui abi untuk membatalkan pernikahan
itu. Namun, nyalinya terlalu kecil saat mengingat abinya yang begitu ingin
melihatnya menikah dengan laki-laki sombong itu.
***
“Andai kata kamu mengetahui rencana-rencana Allah itu begitu indah dibalik
takdir yang Ia berikan. Maka kamu tak akan pernah berhenti untuk tersenyum”
[Tahajud Cinta, EPR]
TC 2
Duka dan Lara
Malam telah larut. Ayesha berusaha untuk
terus memejamkan matanya. Ia tidak bisa tidur. Kepalanya terasa mau pecah
dikelilingi bayang-bayang kejadian beberapa jam yang lalu. Ia masih tidak
percaya akan skenario hidupnya akan seperti ini. Deru nafasnya tidak teratur,
membayangkan hari-harinya yang akan suram setelah pernikahan itu. Seandainya
yang dijodohkan itu adalah Kavindra kekasih hatinya, tentu ia sangat bahagia
dan dengan senang hati ia menerimanya. Masalahnya Ayesha sama sekali tidak
mengenal lelaki itu, yang Ayesha tahu lelaki yang bernama Gilang itu adalah
lelaki paling sombong yang pernah ia kenal. Ayesha sangat berharap bahwa
kejadian hari ini hanyalah mimpi belaka.
Ketukan pintu dari luar membuat Ayesha
tersentak. Ia langsung berdiri dan membukakan pintu.
Indah tersenyum tipis sambil mengacak
rambut Ayesha. “Belum tidur? Mikirin yang tadi, ya?” tanyanya.
Anggukan pelan dari Ayesha berhasil
membuat ulu hatinya berdenyut nyeri, seolah ditekan begitu kuat. Ia merasa
bersalah pada gadis didepannya. Sebenarnya, ia tidak mau menjodohkan Ayesha
dengan anak dari bos suaminya itu. Namun, bagaimana lagi? Ada hal yang
membuatnya tak bisa menolak hal tersebut.
“Ummi tau, kamu pasti marah sama Ummi
dan Abi. Ummi paham. Kalau begitu Ummi balik ke kamar dulu ya? Kamu pasti butuh
istirahat.” Ucap Indah sambil membelai kepala putrinya.
Saat Indah hendak bangkit dari duduknya,
namun Ayesha sudah dulu menahannya. Perempuan itu langsung menghambur
kepelukannya sambil menangis sesenggukan. Ia terus meracau, mengeluarkan
kata-kata yang tak sempat ia ucap saat makan malam tadi. Keluhan demi keluhan
terus keluar tanpa jeda.
“Kenapa harus Sha, Ummi? Sha belum mau
menikah. Sha masih ingin melanjutkan kuliah dan juga masih ingin menghabiskan
masa-masa remaja. Sha mau kuliah bareng teman-teman.”
Ayesha masih menangis tergugu. Wajahnya
yang putih bersih sampai memerah. Indah juga bisa melihat bantal yang dipakai
putrinya tidur telah basah.
“Sayang, dengar Ummi.” Dengan telaten,
Indah mengusap air mata Ayesha, “Ini memang salah abi dan ummi. Kami terlalu
gegabah dalam mengambil keputusan tanpa memberitahukan ke kamu terlebih dahulu.
Kami terkesan egois dengan mengesampingkan perasaanmu. Tapi, percayalah sayang,
ini adalah kuasa Allah. Perjodohan ini akan menjadi awal dari perjalanan
hidupmu kelak. Ummi yakin, akan ada satu titik cahaya yang menantimu di depan
sana.”
“Tapi Ummi... Sha tidak mencintai lelaki
itu. Sha telah mencintai lelaki lain yang satu sekolah dengan Sha ummi..”
“Sayang.. kamu tahu kan abi sangat
melarang kamu berpacaran, dan pasti hal itu tidak pernah direstui.”
“Tapi, Ummi...” Indah langsung
menempelkan telunjuknya tepat dibibir Ayesha. Menandakan bahwa Ayesha jangan
menyebutkan lagi laki-laki yang dicintainya.
“Ummi yakin kamu pasti bisa dan kuat
nak, kuncinya hanya satu. Yaitu, sabar.”
Ayesha berdecak kesal. Tangan kirinya
bergerak cepat mengambil tisu diatas nakas untuk mengelap hidungnya yang ikut
berair karena terlalu lama menangis. “Sabar juga ada batasnya, Ummi. Sha hanya
manusia biasa,” keluhnya.
“Kata siapa sabar itu ada batasnya? Nak,
dengar Ummi. Allah Subhanahuwata’ala pernah berfirman dalam surat Az-Zumar,
ayat 10. Yang bunyinya, ‘Hai
hamba-hamba-Ku yang beriman. Bertakwalah kepada Tuhanmu. Orang-orang yang
berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas.
Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka
tanpa batas’.
Surat Al-Baqarah ayat 153
Artinya: ‘Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai
penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.’ Jadi, kita
sebagai manusia biasa seharusnya malu berkata sabar itu ada batasnya sedangkan
pahala yang diberikan Allah tanpa batas.
Ayesha tersekat, terdiam. Ia jadi sadar,
sudah terlalu banyak nikmat Allah yang ia sia-siakan. Justru lebih sibuk
menghitung banyaknya ujian yang Dia berikan. Padahal, hal itu semata-mata
karena Allah menginginkan ia untuk terus berada di jalan-Nya.
***
“Kok melamun..?.” tanya Kavindra
mendekati kekasihnya. Saat ini Ayesha sedang menghabiskan waktu hanya berdua
dengan Kavindra di sebuah taman dekat kota usai mendengar pengumuman kelulusan
di sekolah mereka. Semua murid kelas XII resmi lulus semuanya. Ayesha menatap
lurus ke depan. Menikmati pemandangan indah di taman yang biasa ia tongkrongi
bersama kekasihnya Kavindra. Bunga-bunga yang mekar indah warna warni membuat
nyaman dan indah suasana di sekitarnya. Namun tak seindah suasana hatinya saat
ini. Menyaksikan kupu-kupu yang terbang kesana kemari menghisap madunya di
setiap bunga yang bermekaran. Sungguh bahagia rasanya andai ia menjadi
kupu-kupu tersebut yang tak pernah mengalami masalah dan beban hidup layaknya
yang dihadapi Ayesha saat ini. Air mancur ditengah-tengah taman begitu sejuk
dan jernih namun tak sesejuk dan sejernih pikirannya saat ini. Ia membiarkan
rambut lurus panjangnya yang tergerai tersapu oleh embusan angin yang meniup
sepoi-sepoi. Udara kala itu cukup menenangkan otaknya.
“Hei, aku perhatikan dari pagi tadi kamu
terlihat murung. Ada masalah?” tiba-tiba Kavindra menghampiri dan seraya
mengusap puncak kepala Ayesha dengan lembut. Ayesha bukannya menjawab tapi
malah menangis. Kavindra terkejut, ada apa dengan kekasih hatinya? Kenapa
tiba-tiba ia menangis sejadi-jadinya.
“Sayang.. ada apa ini, kamu jangan buat
aku khawatir. Ayo cerita ke aku, kamu
ada masalah apa. Kumohon, jangan menangis.” Kavindra langsung membawa tubuh
Ayesha ke dalam dekapannya. Raut wajahnya sangat khawatir. Mereka tak
menghiraukan kalau di sekitarnya juga banyak orang. Taman itu sangat luas dan
memang tempatnya para remaja menghabiskan waktu senggang mereka bersama sanak
saudara dan kerabatnya. Ada yang sibuk mengerjakan tugas, ada yang sedang
bersenda gurau dan ada pula mereka yang hanya sekedar jalan-jalan saja
menikmati suasana kota yang sejuk dengan rimbunnya pepohonan disekitar dihiasi
indahnya taman bunga yang tertata sangat apik dan rapi.
“Ak- aku.. aku sayang kamu, Vin. Aku enggak mau pisah sama
kamu.” Kavindra mengerutkan dahinya, pasti ada sesuatu yang tidak beres dengan
gadis ini. Kavindra sangat mengenal Ayesha. Dia adalah gadis yang sangat tegar,
kalau tidak ada masalah serius tidak mungkin ia menangis seperti ini.
“Tanpa kamu bilang pun aku sudah tahu
Sha, aku juga sangat sayang sama kamu, ayo dong cerita ke aku, kamu sebenarnya
kenapa. Jangan buat aku makin khawatir.”
Ayesha semakin mengeratkan pelukannya. Tangisnya bahkan
semakin kencang.
“Abi akan menikahkanku dengan pria lain. Kavin. Aku
enggak mau, aku hanya ingin menikah denganmu.” Tanpa sadar Kavindra
melonggarkan pelukannya. Hatinya terasa nyeri mendengar fakta mengejutkan dari
mulut Ayesha. Pandangannya mulai buram terasa kepala berkunang-kunang. Nyeri
hatinya bagai disayat sembilu.
“Siapa laki-laki itu?” Kavindra menahan emosinya agar tak
terlihat di depan kekasihnya. Dia tidak ingin Ayesha semakin tersiksa melihat
kondisinya meskipun ia juga sangat tersiksa menghadapi kenyataan ini.
“Dia.. dia anak dari teman kantor Abi. Aku tak
menyukainya Vin.” Kavindra tak tahan melihat gadis disampingnya terus menangis.
Lihatlah, hidungnya memerah, matanya sembab, tatapannya penuh ketakutan
mengharap Kavindra dapat menolongnya. Ditangkupnya kedua pipi Ayesha untuk
menghadap kearahnya. Dengan pelan ia menghapus air mata yang terus berderai
dipipi kekasihnya yang putih dan halus itu.
Kavindra seakan ingin menertawakan nasib cintanya. Takdir benar-benar sedang
mempermainkannya. Enam bulan lebih menjalin cinta dengan Ayesha, namun harus
rela dipinang pria lain. Miris, bukan? Padahal Kavindra juga menginginkan
Ayesha menjadi istrinya kelak. Namun waktunya saja yang belum tepat dikarenakan
mereka masih duduk dibangku sekolah. Ternyata aku kalah cepat dengan pria lain.
“Sayang, dengarkan aku baik-baik. Apapun yang terjadi
nanti kamu jangan menangis lagi okey? Kalaupun takdir kamu harus menikah dengan pria
lain, aku ikhlas. Meski itu sangat menyakiti hatiku. Satu hal lagi yang perlu
kamu ingat bahwa, aku selalu mencintaimu.. selamanya...” Kalimat itu ia akhiri
dengan satu kecupan lembut di kening Ayesha.
“Kavin bawa aku pergi Viin, kita nikah lari saja.
Aku enggak mau menikah dengan laki-laki arogan itu. Dia
sangat kasar Vin,” Desak Ayesha dengan tatapannya yang penuh kesedihan.
Kavindra menggeleng, “Enggak Sha, itu enggak mungkin aku
lakukan. Aku enggak mau di anggap pengecut oleh orangtua kamu terutama Abi
kamu. Aku sangat menghormati keduanya.”
Sebelum Kavindra beranjak Ayesha kembali memeluk
laki-laki pujaan hatinya bahkan semakin erat seperti sebelumnya.
“Plis, jangan begini. Aku sayang sama kamu. Aku bahagia
dengan pilihan orangtuamu. Aku bisa apa jika takdir tidak menyatukan kita.” Kavindra
menguraikan pelukannya. Bulir air matanya menetes begitu saja. Jujur saja ia
sangat kecewa dengan Hermawan dan Indah Lestari orang tuanya Ayesha Kirana
Mikayla. Mereka berdua sudah sangat mengenal Kavindra dan Kavindra sudah
menganggap mereka seperti orang tuanya sendiri.
Namun mengapa mereka menjodohkan Ayesha dengan laki-laki
lain. Padahal seandainya keadaan memungkinkan, ia juga siap sedia melamar
Ayesha dengan segera. Ayesha terus menatap kekasihnya itu sangat dalam. Ia tahu
bahwa Kavindra lebih kecewa lagi dibandingkan dia.
“Kapan pernikahan itu dilangsungkan?” Kavindra berharap
masih ada waktu untuk memiliki gadis itu seutuhnya. Ayesha mematung,
pandangannya lurus ke arah taman. “Minggu depan.” Tubuh Kavindra lemas tak
berdaya. Harapannya hancur. Keinginannya untuk memiliki Ayesha seutuhnya pupus
seketika.
“Terimalah keputusan orangtuamu. Semoga kamu bahagia.
Jika laki-laki itu tidak bisa membahagiakanmu aku siap menggantikannya.” Ayesha
semakin tak berdaya. Hatinya perih. Kavindra menyerah.
“Ayo kita pulang, aku akan antarkan kamu ke rumah.” Tidak
seperti biasanya mereka bergandengan. Kini Kavindra berjalan lebih dulu dengan
segala kekecewaan yang ia rasakan.
***
“Setiap
masalah bukan dihadapi dengan kasar tetapi disikapi dengan sabar. Bersamamu aku
bisa belajar ikhlas dan sabar.”
[Tahajud Cinta, EPR]
TC 3
Realita Kehidupan
“Saya terima nikah dan kawinnya Ayesha Kirana Mikayla
binti Hermawan dengan maskawin seperangkat alat shalat dibayar tunai,” lantunan
kalimat itu sangat jelas terdengar di telingaku. Namun, batinku seakan
berkecamuk, hati terasa teriris. Tidak ada rasa bahagia ataupun haru yang
sering dirasakan oleh pengantin-pengantin lainnya sekilas terbayang kata-kata
pria malam itu yang notabene telah
menjadi suamiku. ‘Suami’.. Ayesha tersenyum kecut dan sinis saat menyebut
kata-kata itu. Entahlah, kelak masa depanku cerah ataukah kelam bagaikan malam
yang gelap gulita tanpa ada cahaya bulan dan bintang. Ya Allah... hanya
engkaulah yang mengetahui bagaimana perasaan hatiku saat ini. Aku serahkan
hidup dan matiku hanya lah kepada-Mu.
Ayesha merasa sangat kesepian di rumah barunya. Baginya
rumah tersebut terlalu besar untuk mereka tinggal berdua. Namun ia tak dapat
berkutik apa-apa. Toh itu dibeli dengan uang Gilang sendiri. Setelah resepsi
pernikahan Ayesha diboyong oleh suaminya untuk tinggal di rumah barunya yang
sangat luas itu dilengkapi dengan seorang satpam dan seorang pembantu rumah
tangga, namun mereka tidak tinggal serumah dengan Ayesha dan Gilang. Ayesha hanya
bisa menghabiskan waktunya di rumah saja bahkan ia lebih sering di kamarnya
jika Gilang telah berangkat ke kantor. Sembari memperhatikan wajah malangnya
itu di depan cermin riasnya, Ayesha bergumam dalam hati “Beginikah realita
hidupku? Ternyata aku akan menghabiskan masa mudaku dengan laki-laki asing yang
kini wajib ku berbakti padanya. Ya Allah.. berikan aku kekuatan menghadapi
kenyataan hidup yang tak pernah terbayangkan olehku. Mudah-mudahan semua ada
hikmahnya,” sambil meraup wajah dengan tangannya serta merta airmata menetes
begitu saja.
Dulu Ayesha berimajinasi tentang pernikahan yang indah
bersama Kavindra. Ia membayangkan dirinya menjadi seorang istri yang berbakti
dan taat kepada sang suami. Berbagi kasih sayang, bersenda gurau hingga terasa
rumah tangganya bagaikan cerminan surgawi. Ternyata semuanya itu hanyalah khayalan
belaka. Karena kenyataannya yang sekarang dia hadapi berbanding terbalik. Ia
bagaikan orang yang tak dianggap oleh suaminya itu. Tidur dengan kamar yang
terpisah, jangankan menyentuh, melirikpun ia tak sudi. Gilang selalu
membentaknya setiap saat tanpa sebab, “Segitu jijiknya kah aku dimata dia?”
lirih Ayesha dengan mata berkaca-kaca, sambil menahan rintihan sakit akibat
terkena beling dari pecahan gelas yang dibanting Gilang pagi tadi. Takdir
begitu kejam padaku. Abi menjodohkanku tanpa sepengetahuanku. Abi menjodohkanku
dengan laki-laki yang umurnya terpaut sembilan tahun denganku. Aku masih
delapan belas tahun, aku ingin melanjutkan kuliah dan masih ingin belajar
tentang bagaimana menjadi istri yang baik untuk Kavindra sebelum aku menempuh
jenjang pernikahan ini. Bagaimana bisa Abi menikahkanku dengan lelaki asing
yang tak pernah aku kenal.
Deheman seseorang membuyarkan lamunan Ayesha. Ketika Ayesha
melihat, dia adalah laki-laki yang baru saja menjadi suaminya.
“Aku akan mengatakan suatu hal padamu, ia diam sejenak
untuk memastikan Ayesha masih mendengarnya. “Jangan pernah berharap aku akan
mencintaimu meskipun kini kau adalah istriku, karena aku tak pernah tertarik
menikah denganmu.” Setelah melemparkan decihan sinis, laki-laki itu pergi
begitu saja ke kantor meninggalkan Ayesha sendiri di rumah tanpa mau memakan
makanan yang telah dimasak Ayesha. Lagi dan lagi kata-kata itu keluar dengan
sinis dari mulut pria bertubuh kekar itu tidak lain suaminya Ayesha. Mata Ayesha
berkaca-kaca dan hatinya remuk merasa diri seorang istri yang tak punya harga
diri. Ingin rasanya berlari pulang ke rumah Abi dan Ummi untuk mengadukan hal
itu.
Ayesha berpikir, lantas alasan apa Gilang mau
menikahinya. Jika hanya ia membuat Ayesha selalu menangis. Baru dua sehari saja
menjadi istri Gilang Ayesha harus menanggung sakit hati dan deraian airmata. Hampir
setiap saat Ayesha dibuat nangis oleh laki-laki yang bernama lengkap Gilang Andrean
Putra Pratama. Namun, itu semua tak diungkapkan kepada siapapun termasuk kepada
orangtuanya. Ayesha selalu menangis di dalam kamarnya setiap kali harus
menerima bentakan dan sikap kasarnya Gilang. Hanya kepada Allah-lah ia berkeluh
kesah atas takdir yang dialaminya saat ini. Ayesha selalu menangis dalam diam
saat lelaki tersebut menyakitinya. Setiap malam ia bermunajat kepada Allah
untuk diberikan kesabaran dalam menghadapi kemelut hidup yang tak pernah
sedikitpun terbayangkan olehnya. Di usia yang masih haus akan kasih sayang
orang tua dan haus akan ilmu pengetahuan, ia sudah menghadapi kekerasan hidup
yang dibuat oleh suaminya sendiri. Gilang bagaikan orang gila jika menghadapi Ayesha.
Entah salah apa gadis tersebut di matanya.
Sore harinya..
Di kamar yang bercat biru muda itu, Ayesha meratapi
realita kehidupan yang tak pernah terbayangkan olehnya. “Aku menikah dengan
laki-laki yang tak pernah ku kenal, aku hidup bersama laki-laki yang arogan
itu. Aku tak dianggap oleh suamiku sendiri. Apa yang harus aku lakukan ya
Allah.. Ya Allah, akankah aku sanggup menjalani hidupku yang baru? Apakah aku
bisa menjadi istri yang berbakti kepada suami?,” Ayesha terisak. Bahunya
bergetar hebat menahan semua luka dan lara yang baru ia terima.
Ketukan pintu membuat Ayesha cepat-cepat menyeka
airmatanya. Dengan bahu yang masih sedikit bergetar, ia membuka pintu.
Dihadapannya, Gilang berdiri tegak sambil memperhatikan Ayesha dari atas sampai
bawah.
“Simpan air matamu untuk hari-hari selanjutnya. Segera
bersihkan dirimu sekarang, nanti malam ikutlah denganku.”
Ayesha hanya mengangguk.
“Jangan lama-lama aku enggak suka menunggu terlalu lama.”
Lagi, setelah mengucapkan kalimat itu dengan kasar, Gilang langsung pergi
begitu saja.
Beberapa saat kemudian. Ayesha telah rapi dengan busana
syar’i-nya yang sangat pas ditubuhnya yang ramping dan imut. Ayesha tampak
lebih anggun dan mempesona dengan balutan hijab berwarna merah maroon.
Se-akan aura kecantikannya begitu terpantul oleh busana yang dikenakannya itu.
Tak lupa juga ia membawa clutchbag yang berisi ponsel serta beberapa
lembar rupiah. Ayesha menghembuskan nafasnya secara perlahan saat memperhatikan
wajahnya didepan cermin. Ia lega karena sembab pada matanya telah berkurang.
Setidaknya, orang-orang tidak akan menatapnya aneh di acara nanti.
Ayesha keluar bertepatan dengan Gilang yang juga baru
keluar dari kamarnya. Ya.. mereka tinggal serumah namun tidak sekamar. Gilang
tidur di kamar utama sedangkan Ayesha tidur di kamar tamu. Sesaat gilang
terpana melihat penampilan Ayesha saat ini. Namun, ia cepat-cepat menepisnya agar tidak tergoda
dengan kecantikan Ayesha. Yang membedakan saat ini adalah Ayesha mencoba
berdamai dengan takdirnya. Ia memutuskan untuk menerima pernikahannya. Ia akan
berusaha untuk mencintai suaminya. Ia juga berusaha untuk menjadi seorang istri
yang baik agar Gilang dapat menerimanya dengan baik. Niat itu diawali dengan Ayesha
menutup auratnya. Ya, kini Ayesha sudah berhijrah dengan memakai busana
muslimah yang syar’i tentu auratnya lebih terjaga dan memantulkan aura
kecantikannya yang luar biasa.
Saat berada di gedung peresmian cabang baru Pratama’s
Property yang akan dipimpin oleh Gilang. Ayesha mengedarkan
pandangannya keseluruh penjuru ruangan. Tamunya tidak banyak tapi ia yakin
mereka semua berasal dari kalangan elite dan keluarga terpandang. Sejauh
mata memandang tak seorang pun yang ia kenal. Terkecuali di sana terlihat ayah
dan ibu mertuanya sedang berbincang dengan rekan kerjanya.
Seketika Ayesha terhenyak saat seseorang memeluk
pinggangnya dengan mesra. Secepat kilat ia menoleh kesamping. Gilang tersenyum
sangat manis padanya membuat wajahnya semakin tampan. Sebelum Ayesha membalas
senyuman itu Gilang berbisik, “Bersikaplah lebih romantis layaknya pengantin
baru pada umumnya, agar mereka tidak curiga.”
Mata Ayesha kembali menelusuri setiap penjuru ruangan,
ternyata mereka berdua sedang menjadi pusat perhatian para tetamu.
“Ayesha.. apa kabar ? cantik sekali kamu sayang.” Puji
Ibu mertuanya sambil melirik Gilang.
“Iya dong, Ma.. istri Gilang harus cantik dong ?, iya kan
sayang..” Sambil memeluk Ayesha dari samping disertakan dengan senyum
hangatnya. Ayesha hanya bisa tersipu malu dan tersenyum saja. Sungguh. Ayesha belum
pernah melihat senyum hangat dari Gilang. Jujur saja Gilang semakin.. tampan
jika ia terus bersikap manis seperti ini. Ayesha menggigit bibirnya sangat kuat
saat matanya mulai berkaca-kaca.
Ya Allah... drama macam apa ini, dihadapan orang banyak
Gilang menampakkan begitu sangat mencintai Ayesha. Namun, berbanding terbalik
jika di rumah.
Pak Jehan Pratama memberikan pidato singkat tentang
kepemimpinan kantor cabang perusahaan Pratama’s Property. Lalu
dilanjutkan dengan peresmian kantor cabang perusahaan Pratama’s Property yang
di pimpin oleh Gilang Andrean Putra Pratama. Semua orang yang ada di ruangan
tersebut tampak riuh dengan bertepuk tangan. Pak Jehan telah menunaikan
janjinya bahwa jika Gilang telah menikah dengan gadis pilihannya maka
perusahaan cabang akan menjadi hak milik Gilang. Seketika Pak Jehan Pratama memandang
bangga kepada Gilang yang tepat berdiri tegak disampingnya sambil menepuk
pundak putranya itu. Saat mata Jehan menelusuri pandangannya kepada para
tetamu, sorot bola matanya tertuju pada Ayesha, lalu ia memanggil Ayesha.
“Ayesha, kemari Nak?,” sambil memberi isyarat untuk naik
ke podium dan berdiri disamping Gilang. Sekaligus Pak Jehan memperkenalkan Ayesha
kepada tetamu, bahwa ia adalah menantunya yang sangat manis dan merupakan puteri
dari bapak Hermawan. Tentunya para tetamu mengenal Hermawan. Karena beliau
merupakan tangan kanan yang dipercayai Jehan Pratama. Kata-kata dari ayah
mertuanya membuat Ayesha yang semula menunduk sekarang mendongak dan menatap
Gilang begitu dalam. Kini, ia tahu mengapa Gilang tidak menolak untuk menikah
dengannya. Hanya ia sangat menginginkan posisi sebagai pimpinan Pratama’s
Property.
Ayesha bagaikan topik pembicaraan dikeluarga Pratama.
Dikarenakan dia adalah menantu pertama dari keluarga Pratama. Disertai juga
dengan wajahnya yang anggun dilengkapi dengan sikapnya yang amat santun.
“Cantik sekali ya istrinya Gilang, Ucap wanita itu sambil
mencubit pipi Ayesha dengan gemas.
“Terimakasih” ucap Ayesha dengan senyum manisnya.
“Ayesha, Tante ini namanya Tante Elma. Dia sepupu dari
ayah mertuamu. Jadi jangan sungkan, ucap ibu mertuanya memperkenalkan Ayesha pada
Tante Elma. Elma tersenyum ramah pada Ayesha. Diana merasakan sesuatu yang
kurang, ternyata anaknya yang satu lagi belum tiba.
“Si Bontot mana Kak?” Tanya Elma. Tantenya itu sering
menyebut nama Kavindra dengan si bontot karena dia adalah anak bungsu dari Jehan
Pratama sepupu satu-satunya.
“Ya itulah yang sedang kakak pikirkan, apa dia belum
pulang dari rumah temannya? ” Jawab Diana.
“Eehh.. itu sepertinya dia baru dateng yang sedang
ngobrol sama Papanya. Ah, dasar anak itu,” ucap Elma seraya terkekeh.
“Lihat, panjang umur dia. Baru saja diomongin, dia muncul,
ucap Diana seraya menunjuk kebelakang Ayesha. Ayesha diam saja. Ia tidak tahu
siapa yang diperbincangkan oleh ibu mertuanya dengan tantenya ini.
“Mama dari mana saja sih?, dari tadi aku cariin.”
Degh,
Tubuh Ayesha menegang seketika saat mendengar suara yang tidak
asing di telinganya. Jantungnya berdebar sangat kencang saat sosok lelaki itu
berdiri tegak disampingnya.
“Kok nyalahin Mama, sih! Kamu itu yang datangnya
terlambat. Acaranya pun sudah selesai,” Protes Diana kepada anak bungsunya.
Apaa ? Mama ? Batin Ayesha.
“Iya deh, Aku yang salah. Mama selalu bener.” ucap lelaki
di samping Ayesha membuat tante Elma dan Mama Diana tertawa.
“Sayang, kenalin dulu sama saudara barumu, sekaligus
kakak iparmu,” ucap Diana sambil melirik kearah Ayesha. Ayesha semakin menegang
dan kagetnya luar biasa ketika dikatakan kakak iparnya. Ingin rasanya ia kabur
dari sana. Takdir macam apa ini ? mengapa dunia ini sangat sempit ?
“Oh, ya?” Dia langsung menoleh kearah Ayesha tepatnya
berada disampingnya. Ayesha berdiri sangat kaku dan wajahnya begitu pucat saat
ini. Bahkan, saking terkejutnya, laki-laki itu sampai melangkah mundur.
“H-hhai, ak-aku... aku Kavindra. Namamu siapa ?” ucap Kavindra
terbata-bata seraya tangannya agak sedikit bergetar. Ya Tuhan, ingin rasanya Ayesha
memeluk Kavindra yang sedang berdiri kaku didepannya. Hati Ayesha saat ini
tidak karuan, seakan mengamuk dan menjerit.. mengapa harus Kavindra ? Mengapa
harus Gilang ? Mengapa mereka harus bersaudara ?
Selama berpacaran dengan Ayesha, Kavindra memang belum
pernah memperkenalkan kepada salah seorang pun dari keluarganya. Dikarenakan ia
tinggal sendiri di rumah kost yang tidak jauh dari rumah Ayesha. Kavindra dulu
berencana akan mempertemukan Ayesha kepada keluarganya disaat ia akan
melamarnya nanti. Ternyata takdir berkata lain.
“Ak-aku.. aku Ayesha, senang berkenalan denganmu.” Ayesha
menunduk, bibirnya terus ia gigit menahan airmata yang sebentar lagi akan
keluar.
“Bagaimana Vin, cantik kan kakak iparmu, Nanti kamu cari istri
seperti Ayesha juga ya, sudah baik, shaleha juga cantik”?” celetuk Mama Diana.
“Abis kamu sih,
waktu acara nikah abangmu tidak hadir, pake acara sakit segala.” Lanjut Mama
Diana sambil tersenyum manis. Ayesha dan Kavindra mematung dan diam seribu
bahasa. Entah apa yang terdapat dalam pikiran mereka masing-masing. Yang pasti
ingin rasanya berlari sejauh-jauhnya tidak sanggup menerima kenyataan pahit
seperti ini. Ayesha yang dulunya kekasih Kavindra, kini harus terima kenyataan
sebagai kakak iparnya sendiri. Seakan takdir belum berhenti mempermainkan
cintanya.
Setelah acara usai, semua para tamu undangan menghilang
satu persatu. Tak terkecuali Gilang dan Ayesha. Jauh dilubuk hati Kavindra yang
paling dalam masih terukir indah nama Ayesha. Sampai saat ini pun meski Ayesha sudah
menjadi kakak iparnya, hatinya tidak bisa dibohongi. Entah apa yang membuat Kavindra
tidak bisa move on dari Ayesha.
Padahal Ayesha bukanlah cinta pertamanya. Mereka baru jadian enam bulan
terakhir sebelum pengumuman kelulusan.
Kavindra merupakan siswa baru pindahan dari Singapura.
Karena suatu dan lain hal yang menyebabkan keluarga Pratama pindah ke
Indonesia. Kavindra lebih memilih melanjutkan sekolahnya di kampung halaman
neneknya di Yogyakarta. Sementara orang tuanya tinggal di Jakarta. Kavindra dan Ayesha langsung akrab dan nyaman saat pertama
kali bertemu, mungkin dikarenakan Kavindra belum kenal dengan siapapun.
Sehingga lama kelamaan timbul benih-benih cinta diantara keduanya. Yang jelas setelah mengenal dan menjadi
pacarnya Ayesha, Kavindra seakan tidak ada lagi tempat di hatinya untuk diisi
oleh wanita lain. Padahal diluar sana tidak sedikit wanita-wanita cantik yang
meliriknya, namun tak sedikitpun menggugah hati si bungsu Pratama itu. Sejak Kavindra
mengetahui Ayesha adalah istri dari abangnya itu, ia sama sekali tidak mau
mencampuri hidup keluarga mereka meskipun hatinya sangat berlawanan. Kavindra selalu
menghindar dari Ayesha, meskipun terkadang Ayesha pulang ke rumah bersama
Gilang. Sebisa mungkin ia mencari alasan untuk keluar bahkan terkadang menginap
di rumah temannya dengan alasan mengerjakan tugas kuliah. Kavindra juga
berencana akan melanjutkan kuliah di Amerika, untuk menghidar dari kehidupan Ayesha.
Ia harus ikhlas dengan kenyataan yang dihadapi.
Sejenak Kavindra teringat dengan kata-kata Ayesha tempo
dulu bahwa Gilang bersikap kasar dan sangat arogan kepadanya. Namun kata-kata
itu tak dihiraukan oleh Kavindra. Bukan berarti Kavindra melupakan Ayesha dan
tidak mencintainya lagi. Tapi ia berusaha menjadi lelaki yang bijak dan
berusaha bersikap ikhlas atas apa yang telah Allah takdirkan. Karena ia juga
mengetahui sedikit tentang agama, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam
melarang sebagian kalian membeli apa yang dibeli saudaranya, dan tidak boleh
pula seseorang meminang atas pinangan saudaranya hingga peminang sebelumnya
meninggalkannya atau peminang mengizinkannya.” (H.R. Al-Bukhari).
Maka dari itu Kavindra berusaha untuk menjauhi Ayesha dan
tidak pernah memberi harapan lagi. Meski hatinya sungguh sangat menolak hal
itu. Perih dan sangat sakit rasanya. Apakah sekarang ia bahagia dengan Mas
Gilang? Pertanyaan itu menghantui Kavindra hingga Kavindra tak bisa nyenyak
dalam tidurnya. Saat itu pula Kavindra beraz-zam
untuk mulai berhijrah. Ia akan menyibukkan dirinya dengan mengikuti
beberapa halaqah dan pengajian-pengajian. Ia ingin menjadi hamba Allah yang
lebih bersyukur dan ingin mendekatkan diri dengan Allah. Yang dulunya shalatnya
masih bolong-bolong, kini ia ingin menjadi pribadi yang lebih shalih.
Gilang adalah anak pertama dari Jehan Pratama. Sejak ia
lahir ibunya meninggal dunia, dan saat itu Jehan sangat terpukul karena
ditinggal oleh istri tercintanya. Akhirnya Gilang ditinggal bersama neneknya,
sedangkan Jehan Pratama lebih memilih pergi ke luar negeri untuk menenangkan
pikirannya. Jehan Pratama kembali lagi ke tanah air disaat ibunya meninggal
dunia. Kala itu Gilang berusia delapan tahun. Sebenarnya Gilang itu anak yang
baik namun, karena kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya dan sering di bully oleh teman-temannya semasa kecil
sehingga menyebabkan dia bersikap arogan, kasar dan emosinya tak terkendali.
Setelah bertemu dengan Diana Syahputri, Jehan Pratama
kembali membuka hatinya. Diana merupakan wanita yang sangat baik. Memberikan
kasih sayang kepada Gilang sepenuhnya melebihi anak kandung. Setahun dari
pernikahan Jehan Pratama dan Diana Syahputri mereka dikaruniai seorang anak
laki-laki yang bernama Kavindra Syahreza Putra Pratama. Sejak itulah Gilang
merasakan kembali suasana keluarga yang harmonis. Itupun dikarenakan sikap baik
dan bijaknya Diana kepada anak-anaknya.
***
“Mengawali
lembaran baru, itu artinya aku sudah siap menerima kemungkinan-kemungkinan yang
terjadi. Entah berakhir bahagia atau tersiksa.
[Tahajud
Cinta, EPR]
TC 4
Hati yang Terluka
Pagi ini Gilang sudah terlihat rapi dengan pakaian
santainya. Bahkan tampak lebih tampan dari biasanya. Ia tak peduli pada Ayesha yang
sedang menyapu. Sesekali ia tersenyum pada ponselnya yang berdering bertanda
ada pesan yang masuk. Diraihnya secangkir teh yang dibuatkan Ayesha tadi.
Hingga tiba-tiba Ayesha berteriak dan menyenggol tangan Gilang ketika seekor
kecoa ada di sapunya.
Pyarr!
Cangkir itu jatuh begitu saja, sementara baju yang
dikenakan Gilang telah basah dengan air teh. Ia langsung menatap tajam kepada Ayesha
yang saat ini ia gemetaran sekaligus kaget dengan apa yang telah terjadi.
“Kamu bodoh ya! Sepertinya kamu senang sekali jika aku
marah,” bentak Gilang.
“Ma-maaf.. Mas, aku enggak sengaja.” Matanya kembali
berkaca-kaca. Ayesha paling tidak suka dengan orang berbicara kasar apalagi
dibentak. Tapi kini dia harus terbiasa menerima bentakan dari suaminya sendiri.
Gilang pergi begitu saja setelah mencaci maki istrinya. Beberapa saat kemudian Ayesha
kembali tersentak dengan bantingan pintu yang terdengar begitu keras.
Ayesha segera berjongkok, untuk memungut pecahan beling
dari cangkir tadi dengan hati-hati sambil airmatanya terus berderai. Lagi. Ayesha
menangis dalam diam. Dalam hatinya bergumam “Abi.. Ummi.. tolong aku. Aku sudah
tidak tahan dengan kehidupan yang seperti neraka ini.”
***
Ayesha menghembuskan nafas lega setelah seharian beberes
di dapur. Ia mengerjakannya sendiri dikarenakan bi Lilis tidak masuk karena
anaknya yang bungsu sedang demam. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu, segera Ayesha
membukanya.
“Tumben Mas, pulang cepat?” ucap Ayesha dengan niat mencairkan suasana.
“Tidak ada kerjaan,” balas Gilang singkat.
Ayesha hanya mengangguk. Sebenarnya Ayesha ingin sekali
berbincang lebih lama dengan Gilang dan ingin mengetahui tentang suaminya lebih
dalam terutama jenis-jenis makanan favorite-nya. Terkadang ia juga ingin
merasakan perlakuan Gilang kepadanya yang mesra dan romantis. Layaknya
pasangan-pasangan suami istri lainnya. Tak terasa bulir bening dari matanya
jatuh begitu saja.
“Bersiaplah, hari ini kita ke rumah Mama.” Ucapan Gilang
membuat Ayesha tersentak dan segera menyeka airmatanya.
“Baik Mas,” Ayesha segera ke kamar mandi untuk
membersihkan diri. Tak lama kemudian, Ayesha keluar dari kamarnya. Ia terlihat
sangat cantik dengan gaun dan hijabnya yang berwarna navy, sangat
kontras dengan kulitnya yang putih bersih itu. Sejenak mata Gilang terpaku
dibuatnya saat Ayesha menarik sudut bibirnya keatas membentuk senyum manisnya
sangat sempurna sehingga dapat membuat setiap insan yang bergelar lelaki
meleleh memandangnya.
Seperti biasa, perjalanan mereka selalu dihiasi dengan
kesunyian. Di tengah perjalanan Ayesha mendongak dan memberanikan diri untuk
berbicara dengan suaminya.
“Mas,” panggilnya dengan pelan.
“Apa?”
“Bisa mampir di toko kue sebentar. Aku mau membelikan kue
untuk Mama.” Sejenak Gilang terdiam, lalu mengangguk. Setibanya di toko kue, Ayesha
langsung turun dan sangat antusias mencari-cari kue yang paling enak menurutnya
untuk diberikan kepada mertuanya. Di saat mau mengantri di kasir, tetiba Ayesha
menyenggol tangan seorang wanita cantik sehingga membuat kuenya jatuh
berserakan di lantai. Semua orang menatap pada kedua perempuan tersebut.
“Maaf mbak, saya enggak sengaja.” Ucap Ayesha dengan
wajah panik.
“Tidak apa-apa Dik, namanya saja enggak sengaja.” Balas
wanita cantik itu sambil tersenyum.
Gilang mendengar keributan didalam lalu ia
menghampirinya.
“Clara..?”
Seseorang yang dipanggil Gilang kaget dan mematung dengan
mata menatap lurus ke arah Gilang. Sedangkan Gilang menatap wanita itu dengan pandangan
yang sendu, lembut sekali. Seakan ingin melepaskan rindu yang sangat mendalam.
“Bukannya kamu masih di Amerika?”
“Kalian saling kenal..?” celetuk Ayesha.
“Aku dan Gilang dulu saling pacaran, namun sudah putus
karena Gilang lebih memilih pekerjaannya dibanding aku, dan kamu siapa?”
“Aku is..” sebelum Ayesha melanjutkan kata-katanya,
buru-buru Gilang menyelanya. “Dia sepupuku yang baru tiba di Indonesia juga.”
sanggah Gilang cepat. Hati Ayesha bagaikan tercabik-cabik disaat sang suami
tidak mau mengakui bahwa ia adalah istrinya.
“Ooohh, aku baru tahu kamu punya sepupu perempuan yang
sekolah diluar negeri.” Jawab Clara dengan tersenyum simpul.
“Ya sudah, Clar kami duluan ya, Mama sudah tunggu di
rumah.” Sambil memberi uang gantinya karena kue yang dijatuhkan Ayesha.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Mama Ayesha dan Gilang
saling diam. Gilang fokus dengan perjalanan. Sementara Ayesha lebih memilih
menatap keluar jendela, tak terasa airmata yang sejak tadi ditahan jatuh begitu
saja tanpa dikomando. Bagi Gilang perkataan tadi itu biasa-biasa saja, tapi
bagi Ayesha itu sangat menyakitkan. Perempuan mana coba yang tidak perih
hatinya disaat kita tidak diakui istri oleh suami sahnya sendiri. “Ya
Allaaahhh...”! batin Ayesha menjerit. Tak lama kemudian sampai di rumah Mama
Diana Syahputri dan Papa Jehan Pratama.
“Ayesha sayang... Mama kangen banget sama kamu sayang?”
sambut mama Diana sambil menuntun Ayesha masuk ke rumah. Sementara Gilang mengikutinya
dari belakang dan langsung merebahkan badannya di sofa sambil menghela nafasnya
dengan kasar. Ia kesal melihat mamanya terlalu menyayangi Ayesha. “Sebenarnya
yang anak mama siapa sih, Ma!”gerutu Gilang.
“Papa sama Kavin mana, Ma?”
“Papa sama Kavin ikut mancing sama Om Agus dari sejak
tadi pagi.” Jawab Mama sambil mengajak Ayesha langsung ke meja makan untuk
menyantap makanan yang telah disediakan dari sejak tadi khusus untuk mantunya
tersayang. Gilang hanya memperhatikan percakapan mereka berdua yang sangat
akrab. Tiba-tiba ponselnya berbunyi dan Gilang pun keluar rumah tanpa terlebih
dahulu meminta izin pada mamanya.
Clara : (“Lang, kapan dong kita ketemuan lagi, kangen-
kangenan seperti dulu. Mama
selalu nanyain kamu
lho, dia kan ga tahu
kalau kita sudah pernah putus,
aku masih cinta sama kamu sayang...”) Rengek Clara
dengan suara manjanya. Diam-diam Gilang kembali merajut kasih dengan mantannya
dulu, yaitu Clara.
Gilang : (“Sabar Clar, aku sedikit sibuk karena papa baru
saja mengamanahkan
aku sebuah perusahaan.”) Jelas Gilang sambil tersenyum
bahagia.
Clara : (“Okeee.. tapi Minggu besok kita ketemuan yaaa..
ditempat biasa kita
nongkrong dulu, pokoknya
harus bisa.”) Tegas Clara
dari seberang.
Gilang : (“Iya iya sayang, jangan ngambek begitu dong..
ntar ilang cantiknya
lho,”) goda Gilang.
Clara : (“Iyeess,, terimakasih sayang.. mmuach.”) Teriak Clara
penuh kemenangan.
Sore hari.
Ayesha dan Gilang kembali ke rumahnya. Seperti biasa
kehidupan rumah tangganya bagaikan kapal pecah. Dan suasananya seperti neraka.
Seakan tempat yang paling nyaman saat ini bagi Ayesha adalah di kamarnya dan
diatas sajadah. Saat ia kembali bersujud kepada Allah.. dan dilanjutkan dengan
mentartilkan ayat demi ayat akan Firman-Nya. Ketika itu membuat hati Ayesha sejuk
dan tenang. Sejak berhijrah Ayesha tidak pernah lagi meninggalkan shalat lima
waktu bahkan dhuha serta tahajud tak pernah absen. Ayesha berubah 180 derajat
menjadi pribadi yang sabar, tegar dan ikhlas.
Kepribadiannya lebih religius dan agamis. Setiap hari
shalat, mengaji, membaca buku-buku islami serta mendengar ceramah-ceramah agama
melalui ponselnya. Hanya itu tempat ia menenangkan hati dikala panas dengan
suasana rumah tangganya itu.
Tiada hari Ayesha mengeluarkan airmatanya akibat caci maki
dari suaminya sendiri, semua yang dilakukan Ayesha serba salah. Gadis itu
sendiri bingung dengan kelakuan suaminya itu. Tanpa ada sebab ia asyik
membanting pintu bahkan terkadang perabot rumah tangga abis satu persatu
dilemparinya tanpa ada alasan yang jelas. Fisik dan batinnya sama-sama terluka.
Membangun keluarga yang harmonis sepertinya hanya angan-angan semata. Cacian
demi cacian itu telah menjadi santapannya setiap hari.
***
“Tok..tok..tok..”
Ayesha bergegas membuka pintu, berpikir Gilang tinggal sesuatu.
“Mmas..., eh, mbak siapa yaa..?” Ayesha mengingat-ingat seakan wajah wanita ini tidak
asing baginya.
“Gilangnya
ada?” Clara to the point tanpa menghiraukan
pertanyaan Ayesha.
“Mmas Gilangnya sudah ke kantor, ada perlu apa ya..?”
jawab Ayesha datar.
“Oke..” ucap Clara tak sopan dan pergi begitu saja. Terasa
nyeri di hati saat seorang wanita cantik dan seksi menanyakan keberadaan
suaminya. Hati Ayesha tidak tenang saat teringat kembali wanita tersebut yang
pernah bertemu dengannya di toko kue beberapa hari yang lalu. Namun apa daya, Ayesha
bagaikan boneka yang tak berguna di mata Gilang. Istri yang tak dianggap sama
sekali oleh suaminya. Matanya berkaca-kaca. Buliran bening dari bola matanya
menetes begitu saja. Sementara di sana Gilang sedang memadu cinta dengan
mantannya dulu yaitu Clara. Mereka sudah sangat sering berjumpa. Clara Patricia
sudah tidak sabar ingin menguasai harta milik Gilang. Terlebih dia mengetahui
Gilang adalah pemilik dan pemimpin Pratama’s Property. Ia sudah tidak
tulus lagi mencintai Gilang seperti sejak dulu. Namun, hatinya sudah berubah
akibat sakit hati karena Gilang meninggalkannya demi pekerjaan dan kini malah
ia menikahi bocah yang baru lulus SMA itu. Ternyata Clara sudah mengetahui
tentang pernikahan Gilang. Meskipun Gilang awalnya tidak mengakui Ayesha sebagai
istrinya didepan Clara.
Hati Clara sudah dipenuhi dengan dendam dan keserakahan
akan harta. Sementara Gilang masih tetap seperti dulu mencintai Clara setulus
hatinya.
“Sabar Clar, aku harus menceraikan istriku dulu, baru aku
nikahin kamu.” Jelas Gilang dengan nada harap-harap cemas.
“Aku enggak bisa sabar lagi Lang, aku rela kok kalau
dijadiin istri keduamu.” Ucap gadis itu dengan senyum sinisnya. Gilang
terhenyak dengan ucapan Clara seperti itu.
“Istri kedua ?, maksud kamu poligami ?, kamu serius!.”
“Iya Lang, aku serius. Aku sangat mencintaimu sayang”
“Iya Clar, sama. Aku juga sangat mencintaimu. Dari dulu hatiku
masih seperti dulu. Aku sama sekali tidak mencintai Ayesha meskipun ia telah
menjadi istriku”
“Percaya sama aku Lang, aku yakin Ayesha pasti setuju
dengan keputusan ini, minggu depan langsung nikahin aku ya sayang.” Rayu Clara.
***
“Kamu hanya
perlu bersabar sampai waktunya tiba, di mana dengan kesabaranmu itu akan
terbayar oleh sebuah kebahagiaan yang tiada tara. Dan ketika hijrahmu begitu
sulit. Ingatlah selalu pesan Nabi, bersabarlah sampai bertemu di telaga
kautsar”
[Tahajud
Cinta, EPR]
TC 5
Kembali
Tersakiti
Terlihat seorang wanita berambut sebahu sedang memasuki
sebuah rumah cukup luas dengan jazz
berwarna silver miliknya. Begitu tiba di halaman rumah, wanita itu mematikan
mesin mobilnya lantas tersenyum mengembang dengan pikiran melayang ke tempat
lain. Ada hal yang membuatnya bahagia dan penuh kemenangan setelah seharian
bekerja di kantor mantan kekasihnya dulu. Clara. Benar, wanita yang kini tertawa lepas
itu adalah Clara Patricia. Ia tertawa seakan-akan sudah memenangkan sebuah
pertandingan hebat. Semua rencana Clara yang telah lama disusun rapi berjalan
lancar. Ia berhasil merebut kembali hati mantan kekasihnya dulu. “Selangkah
lagi, Gilang Andrean Putra Pratama beserta istrinya yang masih bau kencur itu
akan hancur dan semua harta akan menjadi milikku.” Gumam Clara yang masih
berada di dalam Jazz kesayangannya
seraya kembali tertawa lepas.
Masih dengan senyum lebarnya, Clara perlahan melangkah
menuju pintu rumah. Begitu tangan kanan wanita itu membuka pintu, seketika
senyumnya luntur dan digantikan oleh raut wajah marah setelah melihat sesuatu
yang berhasil memancing emosinya. Tanpa berpikir panjang, Clara segera berlari
menghampiri dua manusia itu dan ....
PLAK!!
“Sudah berapa kali aku ngomong, jangan pernah datang lagi
kerumahku!” teriak Clara kepada wanita yang kini memegang pipi kirinya setelah
mendapat tamparan keras.
“Clara!” seru laki-laki yang ada disamping wanita
tersebut. Ia baru saja ingin melayangkan tamparan ke wajah Clara, namun Clara terlebih
dahulu menahannya.
“Apa! Papa lebih membela wanita murahan ini dibanding aku
putrimu! Dan berani menamparku?!” seru Clara menatap tajam papanya.
“Jaga mulutmu, Clara. Dia bukan wanita murahan!” Seketika
Clara tertawa keras seakan-akan ia baru saja mendengar sesuatu yang lucu.
Beberapa detik kemudian dia kembali menatap papanya. “Bukan wanita murahan?
Lalu apa yang pantas disematkan untuk wanita rendahan ini?! gara-gara wanita
ini, mama pergi! Ah, apa aku harus panggil dia sebagai pelakor ?”
PLAK!
Satu tamparan mendarat ke pipi mulus miliknya Clara
sebelum sempat wanita itu menghindar. Wanita itu meringis kesakitan. Namun
hatinya jauh lebih sakit begitu menyadari lelaki itu menamparnya hanya demi
membela wanita disampingnya. Ini kesekian kalinya lelaki itu menampar dan
membentak anaknya sendiri.
“Sekali lagi kamu ngomong seperti itu, jangan harap kamu
bisa tinggal lagi di rumah ini,” ancam papa Clara.
“Dari awal aku memang sudah tidak mau tinggal lagi di rumah
seperti neraka ini, aku mau ikut mama
dan juga Kayla.” Clara tersenyum kecut.
Katanya, rumah adalah tempat yang paling indah dan paling nyaman. Tempat
kembali pulang dikala seseorang telah melewati hari-hari melelahkan diluar
sana. Tapi kenapa aku nggak merasakan hal itu? Kenapa aku lebih menganggap
rumah adalah neraka ?!”
“Setiap hari aku harus melihat wanita ini. wanita yang
berhasil bikin Mama pergi dari rumah. Wanita yang berhasil menghancurkan rumah
tangga kita, menghancurkan keluarga kita! Papa lebih memilih dia dari pada Mama
setelah perjuangan mama selama ini? Papa lupa? Selama ini Mama nemenin Papa
mulai dari nol, saat Papa belum punya apa-apa. Tapi saat Papa sudah sukses
malah mencampakkan mama. Dimana hati nurani papa?!. Ternyata benar. Kesetiaan
laki-laki diukur ketika dia sudah memiliki segalanya.”
“Kamu nyalahin saya ?” tanya wanita yang sedari tadi
hanya diam saja memerhatikan Clara.
“Saya nggak pernah hancurin keluarga kalian. Papa kamu
yang datang ngemis-ngemis ke saya untuk balik lagi, padahal saya sudah nggak
mau begitu saya tahu kalau dia sudah beristri. Tapi saat papa kamu ngomong
kalau ia sudah menceraikan istrinya, saya bisa apa? Saya pun sudah terlanjur
jatuh hati sama dia.”
Wanita itu tersenyum mengejek, lantas mendekati Clara,
lalu berbisik tepat di telinganya. “Ternyata pacaran sama laki-laki yang sudah
beristri lebih tertantang, apalagi sampai mereka pisah.”
Clara menggeram murka, “Dasar wanita murahan. Wanita
rendahan. Perusak rumah tangga orang! Pelakor!.”
“Clara!” seru Papa Clara. Kembali ingin melayangkan
tamparannya, namun kali ini wanita disampingnya segera menahan tangannya.
“Sudah Mas. Mungkin Clara capek jadi bawaannya emosi
terus.” Wanita itu memegang lengan Papa Clara dengan manja. “Ayo Mas, kita
keluar. Aku bosan di rumah terus seharian.”
Clara kembali menggeram marah saat melihat papanya
berjalan keluar bersama wanita itu dengan memeluk mesra seakan tidak pernah
terjadi apa-apa. Mereka tidak pernah menampakkan rasa bersalah atas apa yang
telah mereka perbuat. Tidak peduli begitu banyak hati yang terluka akibat ulah
mereka termasuk Clara. Clara benci. Clara saat ini sangat membenci lelaki yang
sempat ia kagumi selama ini. Bahkan ia bercita-cita ingin memiliki pasangan
seperti papanya itu. Laki-laki yang penyayang, penuh tanggung jawab, sabar serta
tidak pernah menyerah untuk membahagiakan mereka. Tetapi itu dulu, sebelum
harta, tahta dan wanita itu menghancurkan segalanya.
***
Gilang pulang dalam keadaan mabuk berat akibat kepalanya
pusing dan terasa sangat frustasi dengan keadaan yang didesak oleh Clara untuk
segera menikahinya.
Brugh.
Ayesha begitu panik ketika tubuh Gilang limbung dan jatuh
tak sadarkan diri di lantai. Ayesha mencium bau alkohol dari mulutnya. Dengan
susah payah Ayesha membangunkannya dan membawanya ke kamar. Dengan telaten ia
melepaskan sepatu milik suaminya dan membuka satu persatu kancing bajunya serta
menyapukan handuk kecil yang telah dicelupkan dengan air hangat pada tubuh
suaminya.
“Claraaa..!”
Gilang menggigau memanggil-manggil nama kekasihnya. Ayesha
tersentak dan hatinya teriris bagaikan kena sembilu mendengar gigauan suaminya
dengan sebutan nama wanita lain. Segitu hinakah aku dimata suamiku?, sehingga
untuk menyebut namaku saja dia tak sudi. Ayesha menutup mulutnya sambil menahan
isak tangisnya agar tidak terganggu tidur pulasnya Gilang. Ayesha sangat kecewa
dengan Gilang. Hatinya sakit, periih..! Ternyata suaminya lebih mencintai
wanita lain. Jujur, sebenarnya Ayesha sudah ikhlas menerima pernikahannya
dengan Gilang dan ia sudah mulai membuka hatinya kepada Gilang. Dan sudah mulai
belajar mencintai suaminya itu. Terlalu lama Ayesha menangis hingga membuatnya
terasa kantuk dan tertidur sambil menggenggam tangan Gilang. Beberapa lama
kemudian Gilang terbangun dari tidurnya dan betapa terkejutnya ia ketika
melihat Ayesha tertidur disamping kasur dengan setianya dia menunggu suaminya.
Rasa bersalah muncul seketika setelah mengingat perlakuannya tadi sore. Istrinya
tidak bersalah, namun pelampiasan amarah Gilang selalu ditumpahkan kepada Ayesha.
Itu karena Clara terus saja menghubungi Gilang dan mendesaknya untuk segera
menikahinya. Hal itulah yang membuatnya tambah pusing.
“Maafkan aku Ayesha” Entah dorongan darimana tiba-tiba
Gilang mengecup kening Ayesha yang sedang tertidur di sampingnya.
***
“Dialah
sang Khalik. Dalam setiap sujudmu, Dia tak hanya melihat dan mendengar,
melainkan Dia sentuh kepalamu ‘tuk salurkan kekuatan. Agar kamu tetap kuat dan
tangguh dalam menjalankan peranmu sebagai sebaik-baik hamba Allah.”
[Tahajud Cinta, EPR]
TC 6
Menikah Lagi?!
Usai melaksanakan shalat subuh dan membaca Al-Qur’an.
Seperti biasa Ayesha bergegas ke dapur untuk mempersiapkan sarapan pagi untuk
suaminya. Ketika baru menuju dapur, tiba-tiba Gilang berada dihadapannya.
“Mas Gilang ? Ada apa ? Mau Aku buatin teh ?” ucap Ayesha
dengan sopan disertai senyumannya yang menawan. Gilang selalu menepiskan
pandangannya agar tidak terhasut dengan wajah cantiknya Ayesha. Lalu Gilang
mencekal tangan Ayesha yang hendak ke dapur.
“Aku mau bicara,” jawabnya singkat.
“Mas mau ngobrol, ayuk sini duduk,” ucap Ayesha sambil
menarik tangan Gilang untuk duduk disebelahnya. Senyumnya makin mengembang
ketika suaminya mau menurutinya.
“Aku ingin menikah lagi”
Degh. Senyum Ayesha
makin luntur dan seketika hatinya berkecamuk disertai raut wajahnya pias. Seakan
petir menghantam kepalanya. Matanya berkaca-kaca, pandangannya juga mulai
mengabur, terhalang cairan bening yang sebentar lagi akan jatuh membasahi
pipinya. Ayesha terpekur, berusaha memastikan bahwa telinganya tidak salah
dengar. Tubuhnya bergetar menahan luka untuk kesekian kalinya. Lidahnya seakan
tak dapat berkata-kata lagi. Entah apa yang ada dipikiran Gilang. Dari sejak
hari pernikahan sampai sekarang hatiku terus menerus dibuat luka. Air mata tak
pernah kering dari kelopak mataku. Belum sampai dua bulan aku menikah
dengannya, kini aku mau di madu. Ya Tuhaaann... batinku meronta seakan ingin
berteriak hingga tembus ke langit ketujuh.
“Tapi-tapi, Mas..?”
“Aku hanya ingin memberitahumu, bukan meminta persetujuan
darimu. Toh, dari dulu aku tidak mencintaimu bahkan sampai sekarang aku tidak
pernah punya rasa apapun padamu.” Ayesha menunduk dan diam. Perempuan itu
bingung harus bersikap bagaimana. Airmata yang sejak tadi ditahannya, kini
menetes begitu saja. Baiklah, sepertinya Ayesha harus belajar ikhlas dan menyiapkan
dinding yang kokoh sebagai pertahanannya. Jika dengan menikah lagi bisa membuat
suaminya bahagia, maka ia rela meski harus dimadu atau bahkan tersisihkan. Lama
kemudian Ayesha kembali mendongak dan menatap wajah Gilang dengan senyuman yang
pasrah dan wajah memerah akibat menahan tangis.
“Siapa wanita itu?” Tanyanya dengan suara yang begitu lembut.
Gilang langsung memalingkan wajahnya ketika Ayesha
menatapnya penuh luka. “Clara” sahutnya.
Sambil menyeka air mata, Ayesha mendongak dan menatap lurus tepat pada bola mata Gilang. Ayesha
dengan tegar dan pasrah disertai dengan senyum teduhnya lalu berujar dengan
amat tulus sampai Gilang tak mampu berkata apa-apa.
“Ya sudah. Kalau itu mau Mas Gilang. Jika dengan menikah
dengan Mba Clara membuat Mas Gilang bahagia, Aku ikhlas.” Meskipun itu merupakan sifat munafik.
Karena pada kenyataannya batin Ayesha berteriak seakan tak sanggup menahan pilu
dan pahitnya kehidupan rumah tangga yang ketika suaminya rela berbagi dengan
wanita lain.
“Apa kamu akan mengadu ke orang tuamu?.” Tanya Gilang
harap-harap cemas.
Pertanyaan itu disambut tawa renyah oleh Ayesha.
Bersamaan dengan itu pula air matanya jatuh membasahi pipi. Ia pikir Ayesha
akan meminta cerai padanya dan mengadu pada sang ayah. Nyatanya tidak,
perempuan itu justru menerima dengan lapang dada.
“Aku bukan anak
manja dan suka mengadu masalah rumah tangga kita Mas, lagian Abi punya riwayat
penyakit jantung. Jadi Mas tenang saja. Aku tidak mengadu ke Abi dan Ummi.” Jelas Ayesha dengan
sangat tegas meski hatinya sakit bagai disayat sembilu.
Setelah dirasa pembicaraannya cukup, Ayesha pamit untuk masuk ke kamar. Di kamar Ayesha menangis
sejadi-jadinya. Segera ia mengambil wudhuk untuk melaksanakan dua rakaat shalat
dhuha dilanjutkan dengan tilawatil Qur’an. Ya, kini Ayesha lebih khusyuk dan
taat dalam beribadah seiring dengan bertambahnya masalah dalam hidupnya. Ia
berpikir semua masalah dan cobaan hidup ini hanya kepada Allah tempat ia
mengadu. Ia sama sekali tidak ingin menyusahkan kedua orang tuanya. Dalam
sujudnya ia menangis kepada sang pemilik hati, agar dapat membolak balik hati
suaminya dan tersentuh dengan semua kebaikan yang ia lakukan. Agar supaya
suaminya bisa membukakan hatinya untuk Ayesha. Air mata Ayesha terus mengalir menganak
sungai. Matanya sembab, pipinya memerah akibat tangisannya tak henti-henti.
Seakan badannya remuk lolos satu persatu.
Setelah khatam membaca Al-Qur’an Ayesha merasakan kesejukan
dan ketenangan jiwa. Kini Ayesha sudah khatam satu kali dalam sebulan.
Ketenteraman jiwa semakin terasa jika terus berusaha mendekati pemilik jiwa
yang seutuhnya. Selain istiqamah dalam shalat dhuha Ayesha juga sudah istiqamah
dengan tahajudnya setiap malam. Ayesha selalu mengadu kepada Allah dalam setiap
sujudnya. Ia berdoa agar diberikan yang terbaik dalam kehidupan rumah tangganya. Memiliki lelaki yang bertanggung jawab dan
sangat mencintainya serta berharap suaminya dibukakan pintu hati untuk
menerimanya dengan ikhlas.
Tetiba Ayesha berpikir ingin menemui orang tuanya hanya
sekedar untuk menenangkan otaknya sekaligus
melepaskan rindu dalam kehangatan pelukan Ummi dan Abinya. Seketika ia
meraih ponselnya dan mengirim sebuah pesan untuk suaminya yang sedang di
kantor.
Assalamualaikum
Mas.. hari ini Aku enggak masak siang. Dan Aku minta izin untuk ke rumah Abi ya? Aku hanya rindu
mereka. Terimakasih.
***
Ummi : Sayang,
jadi kan ke rumah..?
Sudut bibir Ayesha tertarik keatas saat layar ponselnya menyala
dan menampilkan sederet kata dari Indah. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu
dengannya. Kepalanya ia tolehkan ke jendela sebentar. Beberapa menit lagi, ia
akan sampai di rumah sederhana bergaya klasik yang menjadi saksi kehidupannya
sejak kecil. Sepintas, ia melihat sebuah taman yang terletak dipinggir jalan. Ayesha
tersenyum kecut, ingatan berputar pada awal pertemuannya dengan Kavindra. Dulu
setiap kali mereka janjian selalu ke taman itu. Taman itu merupakan saksi bisu
kisah cintanya dengan Kavindra yang sekarang sudah kandas begitu saja.
“Sudah sampai, Neng” Ucap supir taksi itu menyadarkan Ayesha
dalam lamunannya. “Astaghfirullah,”
gumamnya seraya mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Setelah membayar
dan mengucapkan terimakasih, Ayesha segera turun dari taksi dan berjalan cepat
kearah gerbang. Ia menautkan alis sebelahnya saat melihat pintu gerbang yang
terbuka lebar. Tumben sekali, pikirnya.
“Loh, Neng Ayesha ?” Pak Abdul satpam rumah dengan wajah
ceria dan bahagia berjalan cepat menghampiri Ayesha guna untuk menyambut
kedatangan Ayesha.
Ayesha menghentikan langkahnya sebentar dan tersenyum kearah
Pak Abdul.
“Pak Abdul apa kabar?” tanyanya.
“Alhamdulillah
baik Neng. Neng sendirian?”
“Iya Pak Abdul, saya sendirian. Ya sudah saya masuk dulu
ya Pak?” Ucap Ayesha.
“Oh, silahkan Neng.
Ayesha kembali melanjutkan langkahnya. Sesampai di depan
pintu, ia mengetuk pintu berkali-kali seakan-akan tidak sabaran untuk langsung
memasuki rumah yang sudah sangat lama tidak dihuninya.
“Assalamualaikum...
Ummi.. Abi...” teriak Ayesha tak sabaran.
“Waalaikumsalam...”
suara wanita dibalik pintu. Saat pintu rumah terbuka, Ayesha langsung memeluk
erat Umminya dengan penuh kerinduan. Entahlah, rindu bercampur sedih yang
sangat mendalam. Seketika butiran bening dari kelopak matanya menetes dan
dengan cepat pula Ayesha menghapusnya. Ia tidak mau orang tuanya mengetahui
kondisi rumah tangga yang dialaminya saat ini. Hanyalah kebahagiaan yang ingin
ia perlihatkan kepada kedua orang tuanya. Indah juga terharu dan rindu dengan
kehadiran putri semata wayangnya secara tiba-tiba.
“Kamu sendirian sayang..?” tanya Indah seraya membopong
putrinya ke ruang tamu.
“Hhmm.. Mas Gilang lagi sibuk di kantor Mi, dan....”
Belum selesai Ayesha menjawab pertanyaan Indah tiba-tiba suara ketokan pintu
mengalihkan keduanya.
“Biar Sha aja yang buka, Mi...”
Ayesha melangkah sambil mengatur sesak di dadanya dan
menyeka air mata yang tiba-tiba menetes begitu saja.
Cklek!
“Mas Gilang...?” Ayesha tak mampu menyembunyikan
keterkejutannya. Ayesha berpikir laki-laki itu tak akan pernah menyusulnya.
Ternyata ia salah. Yang berdiri tegak di depannya adalah Gilang suaminya.
“Sayang, siapa tamunya.. suruh masuk dong.” Ucap Indah
dari dalam. Ayesha terkesiap sesaat, kemudian membuka pintu lebih lebar. Aa-yo
masuk, Mas,” ajak Ayesha. Gilang berjalan santai menghampiri Indah. Wanita
paruh baya yang sedang duduk di sofa ruang keluarga terkejut dengan kedatangan
menantunya itu.
“Loh, kata Ayesha kamu sedang sibuk di kantor.”
“Kebetulan tadi enggak ada kerjaan di kantor, meeting dengan klien pun di cancel. Jadi
aku memutuskan untuk menyusul Ayesha aja, Mi.” Dalihnya dengan seulas senyum
hangat.
“Abi kemana, Mi?” tanya Gilang
“Abimu sedang pergi sama temannya ke Bandung. Besok baru
pulang,” sahut Indah. Gilang mengangguk saja karena tidak tahu harus membalas
apa. Namun, sepertinya Indah pintar mencari topik, sehingga obrolan mengalir
begitu saja. Mereka menghabiskan waktunya untuk mengobrol perihal kegiatan
sehari-hari Ayesha sebelum akhirnya menikah dengan Gilang. Dari situ, Gilang
menyimpulkan bahwa Ayesha sangat disayang dan patuh kepada kedua orang tuanya. Teringat
oleh rencana ingin menikahi Clara, tiba-tiba ia merasa ada keraguan dalam
benaknya. Akan tetapi, ia segera menepisnya. Bagaimanapun ia telah pernah
berjanji kepada Clara untuk segera menikahinya.
Tak terasa, jarum jam telah menunjukkan pukul 12.00. Shalat
dzuhur kali ini diimami oleh Gilang. Sebenarnya, Gilang sedikit ragu. Karena
tak dapat dipungkiri, ia sering kali lalai dalam melaksanakan shalat lima waktu
dengan tepat. Disisi lain, tak ada yang tahu bahwa Ayesha menitikkan air matanya
ketika shalat. Jujur saja, Ayesha sangat menanti saat-saat seperti ini. shalat
berjamaah dengan suami yang menjadi imamnya. Usai berdoa, Gilang menoleh ke
belakang untuk menyalami Indah dan Ayesha.
Ya Allah.. terimakasih telah
menjadikan hari ini hari paling bahagia dengan memberikan kesempatan untuk
shalat berjamaah dengan suami hamba. Ini adalah salah satu nikmat yang terindah
dari-Mu, batin Ayesha.
“Sayang.. bantuin Ummi masak, ya? Gilang kalau bosan
nonton TV saja, di bawah meja ruang tamu juga ada beberapa majalah bisa kamu
baca. Sayang banget Abi kamu enggak ada. Jadi ga ada temen, deh,”Ucap Indah.
“Iya Ummi, aku ke depan saja deh Mi sambil ngobrol sama
pak Abdul,” jawab Gilang.
Setelah Gilang keluar, Ayesha dan Indah langsung menuju
ke dapur untuk segera mengeksekusi apa yang ada di dapur untuk dinikmati
ketiganya.
“Ya ampun, sudah lama ya kita enggak masak bareng. Ummi
bener-bener kangen sama soto ayam masakan kamu,”Ucap Indah. Baginya soto ayam
buatan Ayesha sangatlah lezat. Bahkan lebih lezat dari masakannya. Ayesha memang
jago dalam hal memasak, bakatnya itu turun dari neneknya.
“Aku, kangen dengan momen-momen begini, Mi, bagiku masakan Ummi tetap number one,” jawab Ayesha sambil mengecup pipi Indah sekilas.
“Ngomong-ngomong, kamu sudah pernah masakin soto ayam
buat Gilang belum?,” tanya Indah penasaran.
Ayesha terdiam sesaat. Ingatannya berputar saat ia masak
soto ayam minggu lalu khusus untuk Gilang. Namun, laki-laki itu tidak
menyentuhnya sedikitpun dengan alasan sudah kenyang. Akhirnya masakan itu Ayesha
berikan pada Bi Lilis untuk diberikan kepada anaknya di rumah.
“Belum pernah, Mi,” Bohongnya.
“Oalah, gimana sih kamu. Ya sudah, kalau begitu masak
seenak mungkin, ya? Ummi jamin Gilang pasti ketagihan dengan masakan kamu.” Ayesha
baru saja hendak menjawab, namun dering telepon lebih dulu mengalihkannya.
“Ada telepon, kayaknya dari Abimu deh. Ummi angkat dulu,
ya?” Indah langsung mencuci tangannya dan segera ke ruang tengah. Tepat saat Indah
pergi, Gilang masuk ke dapur. Ia terus memperhatikan Ayesha yang sedang sibuk
dengan menumis bumbu dan memotong sayuran untuk membuat soto ayam.
Ayesha sama sekali tidak menyadari keberadaan Gilang.
Sambil memotong sayuran sesekali Ayesha bersenandung melantunkan selawat nabi.
Sejak menjadi seorang istri Gilang banyak hal yang sudah berubah dari
kepribadian Ayesha. Saat ini ia lebih religius termasuk hobby yang dilakoni saat ini yaitu memperbanyak shalat sunah,
menjaga shalat lima waktu, istiqamah dengan shalat tahajud, berselawat, mengaji
dan memperbanyak mendengarkan ceramah-ceramah. Bahkan idola barunya sekarang adalah
sang ustadz Abdul Somad. Sedangkan dulu hobby-nya
hanyalah nonton korea.
“Ada yang bisa aku bantu?.”
Kemunculan Gilang secara tiba-tiba sontak saja membuat Ayesha
terkejut setengah mati. Sampai-sampai pisau yang ia pegang meleset dan melukai
jarinya. Secepat kilat Gilang menarik tangan Ayesha dan langsung menghisapnya.
Seketika Ayesha tercengang dengan perlakuan suaminya. Tidak biasanya ia
memperlakukan Ayesha semanis itu. Walau hanya beberapa detik saja Ayesha merasakan
kebahagiaan yang tiada tara dan merasakan jantungnya yang berdegup begitu
kencang. Diraihnya kotak P3K yang terdapat di lemari atas, lalu mengambil
plester untuk membalut lukanya.
“Sekarang kamu duduk, biar aku yang melanjutkannya.”
Ayesha baru saja akan melontarkan protesnya. Namun, tidak
jadi sebab Gilang sudah lebih dulu melayangkan tatapan tajamnya, tak terima
penolakannya.
*****
Suasana sangat tegang. Jehan memulai membuka suaranya.
“Apa benar kamu mau menikah lagi, Gilang?” tanya Pak
Jehan.
“Iya Pa, benar.” Jawab Gilang dengan yakin.
“Apa kamu yakin akan bisa bersikap adil dengan kedua istrimu
kelak?.”
“Iya Pa, Gilang akan bersikap adil dengan mereka.” Jawab
Gilang dengan agak sedikit ragu. Lalu pandangan Jehan beralih ke wajah menantu
kesayangannya. Dia memperhatikan menantunya dengan sangat intens.
Wajah Ayesha yang sendu itu agak sedikit menunduk untuk
menyembunyikan hatinya yang sangat sedih. Namun di depan mertuanya ia bersikap
tegar seolah-olah tidak ada beban apapun di pundaknya.
“Ayesha, apakah kamu benar-benar siap di madu?” Tanya
Jehan dengan penuh kasih sayang melihat mantu kesayangannya. Ayesha mendongak
ke arah mertuanya disertai dengan senyumannya yang sangat tulus. Dan
kata-katanya membuat mereka tertegun terutama Gilang. Ia tak menyangka jika istrinya
begitu tulus.
“In sya Allah, aku
siap Pa. Jika memang itu yang membuat
Mas Gilang bahagia, aku ikhlas. Memang
yang namanya berbagi suami itu sangat menyakitkan, tapi ini anggap saja bahwa aku
sedang berbakti kepada suami. Lagian aku
yakin kok, Mas Gilang kelak bisa
bersikap adil, iya kan Mas?”
“I-iya, itu pasti,” Jawab Gilang dengan terbata-bata.
Setelah dianggap pembicarannya cukup. Ayesha minta izin
masuk ke kamarnya. Dan ternyata disusuli oleh ibu mertuanya.
“Ayesha sayang..
kamu enggak kenapa-napa nak, jika Gilang menikah lagi?.” Tanya Diana sambil
membelai kepala menantunya dengan lembut.
“In sya Allah
enggak apa-apa kok Ma.” Jawab Ayesha begitu tulus. Mata Diana berkaca-kaca
menatap bola mata menantunnya dengan penuh kasih sayang.
“Mama enggak bisa berkata-kata lagi sayang. Kamu adalah
wanita yang sangat baik nak?” Direngkuhnya tubuh Ayesha kedalam dekapan
hangatnya. Diana menangis, enggak abis pikir apa yang dilakukan Gilang kepada Ayesha.
“Sayang, kamu harus kuat ya Nak, ini semua terjadi atas
kehendak Allah dan Allah sayang sama kamu.” Kalimat itu ditutup dengan disertai
kecupan singkat pada kening Ayesha.
***
“Allah
menunjukkan rasa cintanya padamu dengan berbagai cara, salah satunya dengan
menciptakan masalah pada hidupmu. Hingga ketika kamu menangis dalam shalatmu,
Allah mengusap kepalamu dan bisikkan kata, ‘kamu kuat’... Aku selalu bersamamu”
[Tahajud
Cinta, EPR]
TC 7
Rencana
Licik
Di ruang keluarga, Ayesha mendapati Gilang dan Clara
tengah berduaan bersenda gurau sesekali Gilang mengecup keningnya Clara. Dengan
santainya Clara bergelayut manja di samping Gilang. Sementara yang baru saja
dari dapur segera memutar arah kembali ke kamarnya. Hatinya begitu perih dengan
melihat tingkah mereka yang semakin hari semakin mesra dihadapannya. Selama
menikah dengan Gilang ia tak pernah merasakan kemesraan bersama suaminya.
Berdiri tegak dibelakang pintu kamar dengan berurai air
mata. Ia menangis sejadi-jadinya. Apakah begini rasanya mencintai tanpa
dicintai? apakah ia tidak berhak bahagia? apakah tidak ada kesempatan untuk
Ayesha mempertahankan cintanya? Akankah semua perjuangannya sia-sia? Terlalu
banyak pertanyaan yang hinggap di kepala Ayesha. Ayesha tetap mencintai Gilang
suaminya. Tak peduli seberapa kasarnya perlakuan Gilang terhadapnya. Setiap
malam, ia selalu bangun untuk melaksanakan shalat tahajud serta memohon kepada
Allah agar Gilang menyadari bahwa Ayesha begitu tulus mencintainya. Siang
berganti malam, Ayesha mengenggam erat foto pernikahannya yang telah ia bingkai
dengan rapi. Di foto itu, Ayesha mencoba tersenyum dengan tulus, sedangkan
Gilang tetap dengan wajah datarnya. Ia tersenyum masam, teringat awal pertemuan
mereka. Pertemuan pertama yang mengubah hidupnya dalam sekejap mata.
***
Kebiasan Ayesha setiap harinya mengurus rumah dan
menyiapkan makanan untuk suami dan madunya di bantu juga oleh bi Lilis.
Sementara Clara pergi ke kantor dengan Gilang, tidur sekamar dengan Gilang,
setiap hari shopping, dan
berfoya-foya dengan teman-temannya. Meskipun Ayesha bersikap tegar, namun ia
juga seorang istri dan wanita biasa yang terkadang merasakan kecemburuan
terhadap madunya yang selalu mengobral kemesraan dihadapannya.
Clara selalu berdalih ke Gilang bahwa ada bisnis baru
yang dirilisnya bersama teman-temannya. Sampai-sampai pulangnya pun sering larut malam. Dengan
kebiasaan Clara seperti itu membuat Gilang penasaran dan curiga dengan sikap Clara.
Ia merasa Clara banyak berubah dibandingkan dulu. Ya, Gilang sangat mengenal
wanita cantik itu melebihi Ayesha. Clara sudah sering memaksa dan mendesak Gilang
untuk dibelikan perhiasan dengan nominal yang tidak sedikit sampai ratusan juta
dan uang belanjaan yang jumlahnya sangat besar dengan alasan ikut arisan
bersama teman-temannya. Sementara Ayesha
yang sudah tiga bulan menjadi istrinya tidak pernah sekalipun menadahkan tangan
untuk meminta uang sepeserpun padanya. Meskipun uang sejumlah itu bukan soalan
bagi Gilang. Tapi ia mendapati keanehan pada Clara istri keduanya itu. Terkadang batin Gilang menaruh iba kepada Ayesha
dan merasa dirinya banyak melakukan kesalahan pada gadis tak berdosa itu.
***
Suatu sore...
Gilang baru pulang dari kantor dan ditangannya ia membawa
sebuah paperbag. Seperti biasa Clara tidak di rumah. Ayesha bergegas
membukakan pintu.
“Mas Gilang... tumben tidak bareng Mba Clara?” Sapa Ayesha
sambil menyalami tangan Gilang. Sementara Gilang tidak menghiraukan pertanyaan Ayesha.
“Ini, buat kamu.” Sambil memberikan paperbag kepada
Ayesha seraya memberikan senyum yang sangat manis kepada istri pertamanya itu.
“Ini buat aku, Mas?” Dengan girangnya Ayesha mengambil
hadiah dari suaminya itu. Gilang hanya membalas dengan anggukan saja tetap
dengan senyumnya yang menawan. Gilang berharap bisa menghapus kesalahannya yang
dulu, dengan memperlakukan keduanya dengan adil. Ayesha merasa sangat bahagia
karena Gilang sudah sedikit perhatian padanya. “Mungkin Allah sudah mengabulkan
doa-doaku sehingga sedikit demi sedikit Mas Gilang mau membuka hatinya untukku,”
Gumamnya dalam hati sembari memakai kalung berhiaskan liontin permata yang
barusan dibeli suaminya. “Aku merasa
sangat bahagia malam ini ya Allah... Mas Gilang sudah mau membukakan hatinya
buat Aku.. Alhamdulillah..
terimakasih ya Allah...” Gumam Ayesha dengan wajah ceria dan hati
berbunga-bunga. Belum pernah ia merasakan sebahagia itu selama menikah dengan
Gilang. Ayesha tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Allah atas nikmat yang
diberikan-Nya.
Sementara di tempat lain Clara asyik berpacaran dengan
kekasihnya yang berkebangsaan Amerika. Mereka sudah lama menjalin hubungan
sejak Clara ditinggal nikah oleh Gilang. Saat Clara kembali ke Indonesia Alex
segera menyusulnya. Alex ingin membantu Clara untuk menyukseskan misinya yaitu
menghancurkan Gilang dan merebut hartanya.
“Baby, kapan
kita bisa merebut harta kekayaan suamimu itu.” Ucap Alex dengan bahasa
Indonesia yang agak cedal. Alex sudah
terbiasa berbahasa Indonesia dengan Clara di Amerika meskipun agak sedikit cedal.
“Kita segerakan misi kita Beb.” Jawab Clara dengan senyum kecutnya.
“Yess,, kita
akan menjadi orang kaya dadakan.” Ucap Alex sambil bersulang ria dengan
kekasihnya Clara.
“Aku juga sudah muak melihat Gilang, apa lagi akhir-akhir
ini ia sudah agak perhatian sama istri bodohnya itu.” Ketus Clara.
“Apakah suamimu itu sudah jatuh cinta sama istri
pertamanya?” Selidik Alex.
“Sepertinya sih belum Beb,
tapi beberapa hari ini si Gilang sudah memberi perhatian lebih ke bocah tengik
itu.” Kesal Clara.
“Berarti kita harus percepat misi kita ya Beb?.”
“Pasti Beb, mari
kita berse_..” Sebelum Clara melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba ponselnya
berdering dan menerima pesan dari Gilang.
Gilang : Sayang..
lagi dimana?
Clara : Aku lagi di jalan mau pulang nih
sayang...
tapi jalannya macet. Sampai ketemu di
rumah ya sayang.. I Love you..
Clara segera pamitan kepada kekasihnya itu, setelah
mendapat chat dari Gilang. Setelah berpelukan mesra, cipika cipiki dengan
teman-teman lainnya, Clara langsung melajukan BMW 850i Convertible silvernya segera. Mobil yang baru saja dibeli
Gilang atas permintaannya sebagai hadiah pernikahan, dan nominalnya hampir tiga
milyar. Baru tiga minggu saja menikah dengan Gilang entah sudah berapa milyar Clara
melahap uang miliknya Gilang. Clara dan Alex hampir setiap malam menghabiskan
waktunya bersama-sama, berfoya-foya dengan harta miliknya Gilang serta juga
merencanakan misinya. Tetapi saat ditanya oleh Gilang selalu berdalih sedang merilis
bisnis baru dengan teman-temannya.
***
Setiap
luka yang kamu terima, setiap tetes air mata yang keluar, setiap ikhlas baktimu
pada suami, percayalah Allah akan menggantinya dengan surga.
[Tahajud
Cinta, EPR]
TC 8
Fitnah
Pagi-pagi sekali, Ayesha sudah selesai membersihkan rumah
dan memasak dengan dibantu Bi Lilis. Perempuan itu begitu semangat karena ia
merasa Gilang sudah mulai perhatian padanya.
“Huft, akhirnya
selesai.”
Tak ingin mengulur waktu, Ayesha segera ke kamar untuk
membersihkan diri. Beberapa menit kemudian, ia telah siap dengan gamis dan
kerudung bergo sederhananya. Saat berjalan ke dapur, Ayesha tersentak kemudian
menunduk ketika berpapasan dengan Gilang dan Clara yang sama-sama menuju ke
ruang makan. Saat di meja makan mereka menyantap sarapan bersama-sama.
“Suka enggak sama hadiahnya?” Tanya Gilang saat selesai
sarapan pagi.
“Terimakasih ya Mas, Aku suka banget sama kalung ini.” Jawab Ayesha dengan
wajah cerianya.
“Syukurlah kalau kamu suka.” Timpal Gilang seraya
mengusap lembut kepala Ayesha yang ditutupi hijab. Sementara Clara memandang Ayesha
dengan penuh kekesalan. Merasa Gilang sudah lembut dan sangat perhatian kepada Ayesha.
Ingin rasanya ia melenyapkan Ayesha agar tidak terusik dengan kekayaan yang
dimiliki Gilang. Ya, Clara ingin menguasai kekayaan Gilang dengan sendirinya
tanpa berbagi dengan Ayesha. Bermacam rencana jahat timbul dipikirannya.
“Sha, aku dan Clara ke kantor dulu ya?”
“Iya, Mas Gilang hati-hati ya.”
“Kamu jaga diri di rumah ya?”
“Baik Mas.”
Terngiang percakapan singkat antara Ayesha dan Gilang membuat panas telinga Clara.
Di kantor ia terus berpikir apa yang harus dilakukan untuk melenyapkan mereka. Clara
sudah merasa tidak nyaman lagi dengan keberadaan Ayesha diantara mereka. Bahkan
ia takut nantinya Gilang akan jatuh cinta pada Ayesha dan akan menceraikannya.
Apa lagi jika ketahuan dia sudah menjalin asmara dengan pria lain.
***
“Mba Clara? kok cepet pulang Mba.” Tanya Ayesha lembut.
“Iya, aku lagi kurang sehat.” Jawab Clara beralasan.
“Mba lagi sakit ? ada yang bisa saya bantu mba ?” Tanya Ayesha
panik.
“Enggak usah, aku mau istirahat aja.” Jawab Clara datar.
Sesaat kemudian. Gilang pun tiba di rumah. Entah dorongan
darimana Gilang ingin makan siang di rumah hasil masakan Ayesha. “Jujur, gadis manis itu juga jago dalam hal
memasak, aku sempat ketagihan setelah beberapa kali makan masakannya.” Batin
Gilang. Tanpa sepengetahuan orang rumah Gilang sudah berselonjor di ruang
keluarga sambil menikmati tontonan favorite-nya.
Sementara Ayesha sedang membersihkan diri di kamar setelah beberes di dapur
bersama bu Lilis yang selalu setia menemaninya di rumah.
“Mas Gilang sudah pulang juga?” Tanya Ayesha kaget
melihat suaminya siang-siang sudah santai di rumah.
“Iya Sha, Mas ingin makan siang dengan kamu.” Jawab
Gilang disertai sudut bibirnya tertarik ke atas.
“Beneran Mas, aku seneng sekali.” Balas Ayesha dengan
wajah Ayesha memerah dikarenakan bahagianya luar biasa.
“Oh iya, Mas.. Mba Clara juga ada di kamar, katanya
kurang sehat.” Timpal Ayesha dengan wajah memelas.
“Siapa bilang aku kurang sehat, ayuuk Mas kita makan
siang sama-sama.” Jawab Clara muncul tiba-tiba dari arah dapur mengagetkan
keduanya. Clara menggandeng tangan Gilang seraya menuntunnya ke ruang makan.
Sementara Ayesha mengikutinya dari belakang.
“Mas, masakan Ayesha enak ya?” Puji Clara. Gilang hanya
mengangguk sambil tersenyum menatap wajah cantik Ayesha.
“Aku mau juga dong belajar masak sama Ayesha.” Tambah Clara.
“Boleh kok, Mba.” Balas Ayesha dengan wajahnya tersenyum
tulus.
Hati Gilang merasakan sesuatu yang sangat sejuk dan bahagia
ketika keluarganya kompak dan hangat seperti ini. “Ya Allah, Anugerahkanlah
selalu keluarga kami dalam ridha dan kasih-Mu. Agar kehangatan ini terus
berlanjut.” Gumamnya.
Dalam beberapa hari ini kebiasaan Gilang pun banyak
berubah. Ia juga sudah melaksanakan shalat lima waktu secara rutin. Dikarenakan
setiap kali dia membuka ponselnya selalu ada pesan dari Ayesha untuk selalu
tidak meninggalkan shalat. Meskipun dulu sikap Gilang acuh dan mengabaikan
pesan tersebut. Baru sekarang Gilang menyadari kebaikan dan ketulusan istri
pertamanya itu. Ditengah-tengah pembicaraan, tiba-tiba Gilang berkata,
“Nanti malam aku mau tidur di kamar Ayesha ya,” Ucap Gilang pelan. Tersontak Ayesha mendengarnya,
sampai-sampai kedua istrinya hampir tersedak saat menelan makanan.
“Tapii.. Mm...” belum selesai kata-kata dari Clara.
Langsung Ayesha menjawabnya dengan cepat.
“Boleh Mas, Aku bahagia banget,” jawab Ayesha dengan mata
yang berbinar-binar dan pipinya agak kemerah-merahan entah karena tersipu malu
ataupun menahan senang yang luar biasa.
Sejak tiga bulan yang lalu mereka menikah, Gilang belum
pernah menyentuh Ayesha layaknya seperti suami istri, dan baru dalam beberapa
hari ini Gilang memperlakukan Ayesha dengan baik dan bahkan ingin menjadikan Ayesha
istri seutuhnya seperti apa yang telah dilakukannya kepada Clara. “Aku janji
akan bersikap adil terhadap kedua istriku,” gumam Gilang.
Terasa makin panas saja hati Clara siang ini sehingga
bisa mengalahkan sejuknya udara yang mendung disertai angin sepoi-sepoi
seakan-akan menyertai kebahagiaan Ayesha. Bi Lilis yang tidak sengaja mendengar
percakapan majikannya berkali-kali mengucapkan syukur atas berubahnya sikap
tuan Gilang kepada istri pertamanya. “Benar kata Non Ayesha, Allah itu tidak tidur, sangat
mudah bagi-Nya untuk membolak-balik hati setiap hamba-hamba-Nya,” gumam Bi
Lilis. Asisten rumah tangga itu sejenak teringat ucapan Ayesha saat ia menangis
tersedu-sedu ketika sedang memasak di dapur. Selama tinggal di rumah Gilang Bi
Lilis lah yang selalu mendengarkan keluh kesah Ayesha, dan Bi Lilis lah saksi
perbuatan dan perlakuan sikap kasarnya Gilang terhadap nyonya kecilnya itu.
Meskipun demikian Clara tetap berusaha tetap tersenyum
dan menyembunyikan hatinya yang sedang berkobar-kobar. Di sela-sela obrolan
hangat di meja makan, Clara menyodorkan
segelas jus mangga kepada Gilang. Dengan bahagianya Gilang meminum jus mangga
tersebut sampai habis, dan beberapa menit kemudian....!
Brugh!
Ayesha panik dan kaget sekali melihat tubuh Gilang
limbung dan jatuh tak sadarkan diri di lantai.
“Mas... Mas kenapa Mas..?” Ayesha panik dan terus
menepuk-nepuk pipi suaminya berusaha membangunkannya. Tak ada pergerakan dari
Gilang sedikitpun. Wajahnya langsung pucat pasi. Tangannya pun sudah dingin. Ayesha
panik bukan main, airmatanya terus berderai sembari memanggil-manggil nama
suaminya. Sementara itu Clara malah menyibukkan diri dengan hal lain dengan
ponselnya yang terus berdering.
Asyik mondar mandir ruang tengah, kamar dan ruang tamu
seperti ada yang mencurigakan.
“Ayesha..! kamu jangan sok panik dan sedih ya!.” Kecam Clara.
“Maksud Mba Clara apa?” Jawab Ayesha kaget dengan muka
memerah akibat menangis tak henti-henti.
“Kamu apakan Gilang sampai dia pingsan begini?.” Ketus Clara.
“Saya enggak ngerti apa yang mba Clara katakan...”
“Ayuk lah Mba kita bawa Mas Gilang ke rumah sakit.” Melas
Ayesha tanpa menghiraukan pertanyaan Clara. Menurutnya untuk saat ini
keselamatan Gilang yang paling utama. Ia kelelahan berusaha sendiri untuk
menggotong badan Gilang yang sudah agak berisi itu.
“Kamu kasih racun kedalam gelasnya Gilang kan?.” Tuduh Clara
“Apaaa...?! tidak mungkin mba.. itu fitnah!!”
Sementara itu di luar sana sudah ada mobil polisi dan
beberapa anggotanya. Dan segera dipersilahkan masuk oleh Clara untuk
menyelidiki apa yang telah dilaporkan Clara. Suasana di rumah mewah nan megah
itu terus terjadi perdebatan yang kian memanas. Ayesha terus menangis akibat
tuduhan kejam yang dilontarkan Clara. Clara terus menyudutkan Ayesha bahwa ia
ingin membunuhnya akibat cemburu karena Gilang lebih mencintai istri keduanya. Ayesha
terus berkata “Itu fitnah Pak, itu tidak benar. Saya bukan pembunuh dan tidak
ada niat untuk membunuh siapapun.” Ayesha terus menangis tiada henti, ia ingin
menemani suaminya yang sedang sekarat.
Di sisi sudut pojok dapur terlihat seorang wanita paruh
baya yang baru saja tiba dan menyaksikan perdebatan itu tanpa berani turut
campur dikarenakan takut dengan ancaman Clara. Gilang dilarikan ke rumah sakit
dengan ambulans yang telah dihubungi polisi. Sementara Ayesha langsung di
bawa ke kantor polisi untuk dimintakan keterangan, dikarenakan ditemui barang
bukti botol racun didalam laci kamar Ayesha.
Clara tertawa riang merasa dirinya sudah menang. Sambil
memperhatikan pajangan pigura di dinding ruang tamu “Mampus kamu Gilang..!
semua hartamu akan menjadi milikku, Dan kamu Ayesha sampai membusuk di penjara.
hahaaaahaaaa...” Clara larut dengan kemenangannya di rumah tanpa memperhatikan
siapapun lagi. Baginya Gilang sudah mati dan harta Gilang akan menjadi
miliknya.
Di lain tempat. Ayesha terus menyatakan dirinya tidak
bersalah dan tidak melakukan apapun. Dia terus memohon kepada petugas polisi
untuk membawanya ke rumah sakit. Dipikirannya hanyalah Gilang. Ayesha hanya
ingin memastikan keadaan suaminya baik-baik saja. Ia sangat khawatir dengan
suaminya itu.
“Pak, Non Ayesha tidak bersalah.” Ucap Bi Lilis
mengagetkan semuanya.
“Bi Lilis...” Lirih Ayesha dengan matanya yang sembab dan
bibirnya bergetar.
“Ibu siapa?” Tanya salah seorang petugas dari kepolisian.
“Saya ART di rumah Non Ayesha dan Tuan Gilang, saya
menyaksikan sendiri perbuatan Mba Clara, Pak. Semuanya ini adalah perbuatan Mba
Clara untuk memfitnah non Ayesha. Ini video yang sempat saya rekam ketika mba Clara
menaruh racun kedalam jus milik tuan Gilang.” Jelas Bi Lilis.
***
“Diantara
penyesalan terbesar kelak pada hari kiamat adalah ketika engkau melihat amal
ketaatanmu berada di timbangan kebaikan orang lain. Oleh karenanya,
berhati-hatilah dengan ghibah dan mengadu domba. Dan orang yang paling tercela
adalah tukang fitnah, maka Tahanlah lisanmu.”
[Tahajud
Cinta, EPR]
TC 9
Meninggal
Ayesha dan Bi Lilis larut dalam kesedihan dikarenakan
nyawa Gilang tak tertolong. Keluarga besar Pratama sangat terpukul atas
meninggalnya putra pertamanya itu dengan cara yang sangat keji diracun oleh istri
keduanya. Sementara kini Clara mendekam di penjara.
Di pemakaman terdengar pilu dari suara orang yang
menghadiri tempat istirahat terakhir Gilang. Dari arah depan, belakang, samping
kiri dan kanan, semuanya mengeluarkan suara yang sama. Rasa sedih jika orang
tersayang pergi untuk selamanya tentu tidak bisa dihindari. Keluarga besar
Pratama dan Diana turut berbelasungkawa atas meninggalnya putra sulung dari
Pratama. Banyak klien dan semua
karyawan dari perusahaan juga ikut mengantarkan Gilang ketempat peristirahatan
terakhirnya. Kecuali adik semata wayangnya Kavindra yang sedang sibuk dengan ujian
kuliahnya di Amerika.
Salah satu diantara ratusan orang yang terlihat sangat
sedih dan terpukul di pemakaman ini, seorang gadis yang berpakaian serba hitam
yaitu Ayesha istri pertama dari Gilang Andrean Putra Pratama. “Kenapa kamu
pergi secepat ini, Mas? Terimakasih atas kebaikan yang telah kamu berikan
selama ini.. meskipun sangat singkat aku bahagia.. Aku mencintaimu, Mas? Semoga
engkau juga bahagia disisi-Nya..” Gumam Ayesha sambil membelai pusara Gilang,
seketika bulir bening jatuh di pipinya.
“Pa.. kenapa Gilang harus meninggal dengan cara seperti
ini?” Ujar bu Diana yang duduk di samping pak Jehan sambil merebahkan kepalanya
ke bahu suaminya.
“Sabar, Ma.. ini semua takdir yang Maha Kuasa. Kita tidak
mengetahui apa hikmah dari semua ini. mungkin juga Allah bisa mengampunkan
segala dosa-dosa anak kita.” Jelas pak Jehan sambil menatap istrinya dengan
lembut dan berurai air mata.
“In sya Allah,
semoga Gilang husnul khatimah..” lanjut bu Diana lagi.
“Aamiiin...” Kematian adalah sebuah kepastian yang pasti
menghampiri setiap manusia. Dalam ayat lain Allah SWT berfirman yang artinya: ‘Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.
Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).
Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.’ (Q.S. Al-Anbiya:35)
Tidak ada yang abadi di dunia ini, dunia ini hanya tempat
persinggahan untuk menuju rumah di akhirat. Tidak ada seorang pun yang bisa
menghindari dari kematian yang sudah ditakdirkan oleh Allah SWT. Kematian tidak
memandang usia, jabatan, paras, waktu dan lain sebagainya. Siap tidak siap,
kematian itu pasti akan tiba. Cinta dan kematian adalah dua hal yang pasti akan
dihadapi oleh setiap insan, oleh karenanya jangan pernah takut untuk
menghadapinya.
***
Ayesha terus mengurung diri di kamarnya. Sejak ditinggal
Gilang, Ayesha ditemani Abi dan Umminya dan sesekali disambangi oleh keluarga
mertuanya kecuali Kavindra. Sementara Kavindra sedang sibuk dengan kuliahnya di
Amerika. Dia hanya diberitahukan melalui telfon yang bahwa Gilang sudah
meninggal dunia akibat diracuni istri keduanya. Diana dan Jehan baru mengabari Kavindra
tentang poligami yang dilakukan Gilang terhadap Ayesha. Mereka tidak ingin
mengganggu konsentrasi Kavindra yang sedang kuliah di sana. Makanya mereka
menutupi masalah ini dari Kavindra. Betapa kaget dan terkejutnya Kavindra saat
mendengar berita itu. Kavindra sangat kecewa dengan sikap mas Gilang yang rela
menduakan Ayesha. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa dan semua sudah berlalu.
Nasi sudah menjadi bubur. Sekarang tugas Kavindra adalah meracik kembali bubur
tersebut agar menjadi lebih enak dan sempurna. Kavindra juga sangat sedih saat
mendengar kabar meninggalnya Gilang dan membayangkan kondisi kakak iparnya itu
sekaligus mantan kekasihnya dulu. “Ayesha sudah sangat mencintai mas Gilang
sampai-sampai sudah tiga bulan berlalu dia masih saja murung,” gumamnya.
Sementara jauh dilubuk hatinya yang paling dalam Kavindra masih saja mengukir
nama indah Ayesha. Ya, Kavindra masih sangat mencintai Ayesha. Meskipun Kavindra
tinggal di negeri seberang, namun jiwanya masih tetap di Indonesia.
Setelah kepergian Gilang untuk selama-lamanya,
pelan-pelan Ayesha memudarkan keceriaannya. Ayesha menjadi sosok yang lebih
diam, hanya senyum yang masih menempel pada gurat wajahnya tanpa ada tawa. Ayesha
merasa disaat Gilang sudah mulai membukakan hati untuknya, disaat itu pula
Ayesha merasakan kebahagiaan yang tiada tara. Ayesha baru saja merasa dicintai,
dihargai dan disayangi oleh suaminya setelah berbulan-bulan ia menantinya. Tapi
kenapa Allah justru memanggilnya. Air mata Ayesha kembali menetes saat
mengenang kebaikan dan kelembutan yang disajikan oleh suaminya meskipun hanya
sesaat. Untuk melupakan kenangannya di rumah itu, Ayesha memilih kembali ke Yogyakarta
yaitu tempat ia dilahirkan dan dibesarkan bersama orang tuanya.
***
“Kita
tidak pernah tahu kapan kematian akan menjemput kita, namun yang pasti kita
tahu seberapa banyak bekal yang kita miliki
untuk menghadap-Nya. Hidup ini seperti buku. Cover depan adalah tanggal
lahir, cover belakang adalah tanggal kematian. Tiap lembar adalah hari-hari
dalam hidup kita.”
[Tahajud Cinta, EPR]
TC 10
Lembaran Baru
Tiga tahun kemudian....
Kriiingg..
kriingg...
Ayesha langsung meraih ponsel-nya saat di lihat dilayar yang muncul adalah unknown number. “Lagi dan lagi,” batin Ayesha
penasaran dengan nomor yang tak dikenal itu. Namun, ia tidak menghiraukan unknown number tersebut meskipun kejadian
itu sudah lebih sebulan karena sedikitpun tidak mengganggu dirinya. Meskipun
tidak menyimpan nomornya, Ayesha sudah sangat hafal dengan nomor tersebut. Ayesha
menganggap si pemilik unknown number itu
secara tidak langsung menginginkan dirinya untuk setiap malam ber-tahajud dan
selalu bermunajat kepada Allah. Karena selalu membangunkannya disaat jam
menunjukkan tepat pukul 03.00 dini hari. Tidak ada pesan apapun, namun hanya
sekedar misscall saja. Kini ia telah
bersahabat dengan pemilik unknown number
tersebut.
Ayesha langsung bangun berjalan ke kamar mandi untuk
mengambil wudhuk. Menurut Ayesha, selama ia menjalankan tahajud dengan
istiqamah, hatinya terasa lebih tenang dan tenteram. Ia menghabiskan waktu
sepertiga malam tersebut dengan shalat dan membaca Ayat-ayat Al-Qur’an. Secara
tidak langsung ia justru berterimakasih kepada pemilik unknown number itu yang setiap malam membangunkan ia untuk
ber-tahajud serta ia juga mendoakan suatu saat bisa dipertemukan dengan orang pemilik
unknown number tersebut.
Waktu menunjukkan pukul 07.00 Ayesha bersiap-siap
berangkat ke kampus. Ya, setelah setahun ia meninggalkan Jakarta, akhirnya
bujukan Abi dan Ummi berhasil agar Ayesha bisa melanjutkan kuliah kembali di
kota kelahirannya. Hermawan dan Indah juga merasa menyesal dan bersalah atas
keputusan yang telah diambil empat tahun yang lalu untuk kehidupan putri semata
wayangnya. Ayesha telah bercerita semua tentang perihal kehidupan rumah
tangganya empat tahun yang lalu bersama Gilang. Saat ini Hermawan dan Indah fokus
memberikan kesempatan untuk putrinya agar bisa belajar, berkarya dan menggapai
cita-citanya selayaknya gadis seumuran dia. Di umur 22 tahun ini Ayesha sudah
mencapai semester akhir.
***
Ayesha : “Sudah masuk belum Ra?”
Nadira : “Belum, tapi cepetan ya, Tumben
belum sampai?”
Ayesha : “Iya, ban motorku bocor, eh sudah dulu ya Ra, ini
sudah selesai.”
Dengan langkah tergesa, Ayesha masuk ke kelasnya. Dari
jarak beberapa meter, dia melihat sekilas seseorang masuk ke kelasnya. Ayesha sangat
yakin kalau itu pasti dosennya. Ya Allah,
semoga diijinkan untuk masuk, doanya. Ayesha sangat khawatir, karena ini
pertama kalinya dia terlambat.
Ayesha mengetuk pintu dan minta ijin untuk masuk. Dia
melihat dosennya sedang membelakanginya, sepertinya sedang meletakkan ranselnya
di kursi. Dari ekor matanya, Ayesha merasa dosen itu memperhatikannya. Tapi
berhubung Ayesha merasa gugup karena baru pertama kalinya terlambat, dia tidak
berani menoleh lagi kedosennya, karena yang terpenting saat ini dia diijinkan
masuk dan mengikuti kuliah perdananya. Ayesha melihat Nadira sahabatnya yang
memberikan kode tangan kepadanya kalau dia sudah menyiapkan kursi untuknya.
Dengan segera Ayesha menghampiri sahabatnya dan duduk di sebelahnya.
“Tenang-tenang Sha” ucap Nadira begitu melihat Ayesha yang masih terlihat
panik. Sahabatnya sangat tahu bahwa keterlambatannya ini baru pertama kali
dialami Ayesha. Memang Ayesha anaknya pintar dan rajin jadi jarang terlambat
bahkan belum pernah dan ini sekalinya. Makanya nilai-nilai kuliahnya bagus.
Meskipun Ayesha sempat menganggur setahun, namun tidak membuatnya
ketertinggalan termasuk usianya, dikarenakan Ayesha lebih cepat setahun masuk
sekolah dibandingkan teman-teman lainnya.
“Ya Allah, deg-degan aku Ra, aku udah takut banget kalau
nggak diijinkan masuk tadi.” Ucapnya.
“Iya, untung dosennya baik ya Sha, kamu masih boleh masuk.”
“Kamu kenapa telat?” bisik Nadira
“Tadi ban motor aku bocor. Ya gak tahu juga ya namanya
juga musibah.” Ucap Ayesha sambil menghembuskan nafasnya.
“Eh, tadi pas masuk, pak dosen itu ngelihatin kamu terus
lho Sha. Ekspresi beliau seperti baru menemukan orang yang dicarinya begitu lho.”
“Ah, bisa-bisanya kamu itu Ra, sejak kapan kamu jadi
cenayang?”
“Eh...... Beneran aku nggak boong.”
“Maa syaa Allah
Sha, dosennya guanteng banget.. Coba deh lihat ke depan.” Ucap Nadira lagi.
“Bentar... bentar aku ambil bolpoin dan binderku dulu.”
jawab Ayesha sambil membuka-buka tasnya. Dia masih tidak tertarik dengan sosok
yang dikagumi sahabatnya itu, eh mungkin malah teman-teman sekelasnya bahkan sekampusnya
itu, karena sekilas Ayesha mendengar kasak kusuk dari sebelah kanan kirinya
yang bilang kalau dosennya ganteng. Tidak lama kemudian terdengar suara deheman
dari depan.
“Sudah siap dimulai?”
“Sudah Paaaaakk.” jawab teman-teman. Tumben teman-temannya kompak banget, batin Ayesha yang masih sibuk
mengeluarkan binder dan mematikan HP-nya yang tadi lupa di non-aktifkan.
“Assalamu’alaikum,
selamat pagi semua,” kata dosen itu.
“Wa’alaikumsalam. Pagi Paaak.”
Teman-teman menjawab semangat. Kompak
banget sih mereka ya.
Setelah selesai menyiapkan peralatan kuliahnya, Ayesha segera
mengalihkan perhatiannya ke depan. Betapa kagetnya Ayesha saat melihat sosok
yang berdiri di depan kelasnya.
Itukan....
Seketika juga Ayesha ingat kejadian tiga tahun lalu, saat
dirinya masih menjadi mahasiswa baru.
Flashback..........
Waktu itu adalah hari orientasi
bagi MABA di kampus barunya. Saat itu bagi para MABA diberi tugas untuk meminta
tanda tangan pada kakak kelasnya alias senior. Seperti halnya siang ini, saat
istirahat sholat dan makan siang, para mahasiswa baru memanfaatkan kesempatan yang ada, termasuk salah satunya Ayesha,
mahasiswa baru jurusan Akuntansi. Banyak teman-teman yang mencari seniornya
untuk diminta tanda tangan. Saat berada di lantai dua kampusnya, Ayesha melihat
seorang laki-laki berkacamata, berpostur tinggi, kulitnya putih bersih serta
brewokan, jika dipandang sekilas hampir mirip pria yang berasal dari Pakistan
serta ia menggunakan seragam ospek. Pria tersebut sedang menempel selembar
kertas di papan pengumuman yang bersebelahan dengan papan mading. Melihat
kesempatan yang ada, Ayesha pun menghampirinya.
“Permisi Kak, boleh saya minta
tanda tangannya?”
Pria itu menoleh dan kaget tapi
tidak lama kemudian tersenyum dan beradu pandang dengan Ayesha. Seraya jantung Ayesha
hampir copot saat menatap mata pria tersebut. “Astaghfirullah...” batin Ayesha.
Seakan-akan Ayesha sangat mengenal bola mata yang menatapnya penuh kehangatan.
Namun, buru-buru Ayesha menghapus lintasan wajah dan mata seniornya itu.
“Oh, ya..ya, sini bolpoinnya,”
katanya.
Dia lalu meminta buku Ayesha dan
memberikan tanda tangannya. Tidak lupa di bawah tanda tangannya ditulis namanya
sendiri, K. Syahreza Putra. P
Apa beliau dosen disini? Berarti waktu itu...
Tapi kenapa saat itu ia memakai seragam ospek yang
dipakai kakak-kakak senior ? Atau beliau adalah dosen baru kah? Ayesha masih
terkejut dengan apa yang dilihatnya.
“Heh malah melamun ? terpesona ya ?” bisik Nadira
ditelinganya.
“Ng..nggak lah”
“Habis sih diperhatiin bengong aja gitu, aku ngajak
ngomong, kamunya malah melamun”
“Dia dosen baru Ra?” tanya Ayesha pelan.
“Nggak tau, aku juga baru liat”
“Ehem..” Tiba-tiba terdengar suara berdehem dari depan
lagi.
“Bisa fokus ya” katanya lagi. Kata-katanya seperti
menegur Ayesha yang masih terlihat kaget, karena saat mengucapkan kalimat ini dosen
didepan berbicara sambil melihat ke arah Ayesha.
“Hari ini pertama kali saya masuk di kelas kalian ya?”
“Iya Pak”
“Ada yang kaget ?”
“Kaget Pak, nggak nyangka kampus ini memiliki dosen yang ganteng banget seperti
bapak” jawab Mila dengan percaya diri. Mila adalah salah satu teman Ayesha yang
memang memiliki tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi. Jawaban yang
disampaikan Mila tentu membuat teman-teman yang lain semakin heboh.
“Sudah-sudah tenang dulu ya. Kita perkenalan dulu okey?”
ucap beliau lagi
“Okey siapp pak”
“Nama saya Reza, lengkapnya K. Syahreza Putra. P.” sambil
menulis di papan tulis.
“Cukup nama saja kan?” Canda Pak Reza sambil tertawa.
“Yaahh,, kok nama saja sih pak” Ucap Mila lagi.
“Oke.. kalian mau tanya apa lagi, tapi jangan
banyak-banyak ya, ntar kita habis waktu dengan perkenalan saja?” jawabnya lagi
“Umur?”
“Hobby?”
“Alamat?”
“Makanan Favorite?”
“Dan yang paling penting statusnya dong Pak?”
“Banyak sekali pertanyaannya. Baiklah nanti akan saya
jawab satu persatu saat kita break
nanti yaa..” Ucapnya sambil tersenyum. Jangan heran, yang bertanya mayoritas
cewek-cewek semua. Sedangkan Ayesha? Dia lebih memilih diam saja.
“Pak untuk status dijawab sekarang terus dong pak?” ucap Nada.
“Ehmm... status ya? Kenapa?
“Ya agar kami bisa memetakan diri apa masih punya
kesempatan untuk deket dengan bapak” Jawab Mila tanpa filter. Ya ampun nih
bocah.
“Okee. status saya masih single. Doakan ya semoga segera berubah status saya ya?!” Semuanya
langsung mengaminkan doa dari pak Reza.
“Memang bapak sudah ada calon ?” tanya Mila lagi.
“Emm.. In sya Allah
sepertinya saya menemukannya,” sambil melirik kearah Ayesha.
Ayesha yang melihatnya langsung gugup dan deg-degan. Ayesha
sendiri sangat bingung sejak melihat pria itu jantungnya selalu berdebar-debar.
Apalagi sekarang ini ia sudah berada di depannya. Ia merasa saat menatapnya
seakan-akan sudah mengenal sudah lama.
Kok melihatnya ke arahku.
Astaghfirullah.... jangan baper
dong Sha, batinnya.
“Apa bapak dosen baru disini?,” tanya Angga.
Pak Reza pun tersenyum ramah.
“Saya bukan dosen baru disini. Oh iya, mungkin baru untuk
kalian ya. Saya baru saja kembali dari studi saya di luar, jadi baru bertemu
kalian di semester enam ini. Ehm... tapi saya sepertinya masih melihat kalian
waktu masa orientasi. Kalau tidak salah, kalian pernah diberi tugas untuk minta
tanda tangan ke senior bukan?”
Degh...apa maksudnya ini. semoga
beliau lupa ya Allah..
“Iya Pak, dulu pernah. Tapi bapak bukan salah satu yang
diminta tanda tangan kan Pak?” tanya Angga lagi.
“Kenapa bertanya seperti itu?”
“Ya, kalau lihat Bapak pakai seragam seperti kakak senior
pasti bapak tidak keliatan seperti dosen.”
“Kalau benar ada, bagaimana?”
“Hah, masa sih Pak” jawab Hendri kaget. Ayesha yang
mendengarnya hanya menunduk malu jika mengingat kejadian itu, sedangkan
teman-teman yang lain tertawa mendengar jawaban dari Pak Reza. Seolah tahu apa
yang dirasakan Ayesha, Pak Reza pun mengalihkan pembicaraannya ke topik yang
lain.
“Sudah ya kita lanjutkan lagi. Saya akan menjelaskan
tentang mata kuliah yang saya ampu di kelas kalian. Termasuk sekilas tentang
materi yang akan kita pelajari bersama dan kontrak kerja belajar selama satu
semester ke depan”
***
‘Universitas Hijau Muda’ merupakan kampus baru yang
didirikan sekitar lebih kurang lima tahun
yang lalu. Kampus tersebut merupakan milik sang CEO muda yang memimpin
beberapa perusahaan, baik yang ada di luar negeri maupun di dalam negeri. Kini
ia telah berhasil mendirikan sebuah universitas yang bernama ‘Universitas Hijau
Muda’ atau disingkat UHM. Universitas tersebut diberi nama hijau karena
tempatnya yang rindang banyak pepohonan dan sangat asri. Muda bermakna jiwa
pemiliknya yang masih sangat muda saat ini. Di usia yang masih cenderung belia
sudah mampu mengembangkan usaha dari warisan orang tuanya.
***
“Rencana
Allah untukmu adalah lebih baik dari rencanamu. Terkadang Allah menghalangi
rencanamu dengan mendatangkan berbagai cobaan untuk menguji kesabaranmu. Maka
perlihatkan kesabaran yang indah, karena tidak lama engkau akan melihat sesuatu
yang membuatmu gembira.”
[Tahajud Cinta, EPR]
TC 11
Pengagum Rahasia
Sore hari sekembalinya Ayesha dari kampus, dia langsung
masuk kamar untuk mengistirahatkan badannya. Tiba-tiba terdengar suara dering
panggilan dari ponsel nya. Dilihatnya
layar dari benda pipih yang ada di atas nakas samping tempat tidurnya.
Unknown
number is calling.......
“Pasti hanya miscall doang..” gumamnya. Ayesha telah
terbiasa dengan panggilan unknown number
itu. Ia tidak mengambil pusing hanya karena nomor tak dikenal itu, selama ia
tidak terganggu. Bahkan sejak sering masuk panggilan dari unknown number, Ayesha sudah bisa membuka hatinya kepada orang lain
karena banyak nasehat-nasehat dari pemilik unknown
number itu. Ayesha berdoa dalam tahajudnya untuk dipertemukan dengan
seseorang yang bisa membimbingnya ke jalan yang lebih baik. Tidak lupa juga ia
menyelipkan doa untuk pemilik unknown
number itu agar dapat dipertemukan
secara langsung karena Ayesha ingin mengucapkan terimakasih kepadanya yang
telah mengubah hari-harinya menjadi lebih berwarna dibandingkan
sebelum-sebelumnya. Saat Ayesha bertanya tentang siapa pemilik unknown number, ia menjawab “suatu saat di waktu yang tepat kita pasti
akan ketemu.” Selalu dan selalu itu jawabannya. Akhirnya Ayesha pasrah
dengan pertanyaannya, dan ia hanya menerima saja apa yang dikatakan sang pemilik
unknown number itu.
Tiba-tiba masuk pesan dari Whatshapp-nya.
Aku.. salah satu pengagum
rahasiamu.
Aku.. yang menatapmu dari kejauhan
penuh harap.
Aku.. yang selalu mendoakan akan
kebahagiaanmu dari sejak aku menengenalimu.
Aku.. yang hanya mampu meneteskan
air mata ketika rindu menyerbu.
Aku.. yang menangisimu sambil
tertawa.
Aku.. yang ingin berada disisimu
dalam keadaan apapun.
Aku.. yang ikhlas melihatmu
bahagia.
Aku.. hanya mampu diam dikala kamu
tak menghiraukanku
Aku.. yang selalu menyebut namamu
dalam sujud tahajud-ku.
Aku.. yang berharap kamulah yang
menjadi takdirku.
Aku.. yang berharap kamu menjadi
cinta pertama dan terakhirku.
Untukmu yang selalu kusebut dalam
doa, izinkan aku menjadi bagian dari hidupmu
(Pengagum Rahasiamu)
Jantung Ayesha berdetak kencang. Jari-jarinya terasa
lemas. Dia sama sekali tidak menyangka kalau unknown number-nya itu bisa nge-chat
dia dengan kata-kata seperti itu. Biasanya yang dikirim selalu tausiyah,
nasehat agama dan selalu mengingatkan Ayesha agar selalu istiqamah dengan
tahajudnya disertai dengan penanda ‘pengagum
rahasia’. Tetapi hari ini kalimat yang dikirim seakan-akan dia sudah sangat
lama memantau dan mengenal Ayesha. Seketika kepala Ayesha pusing dan matanya
berkunang-kunang memikirkan siapa sebenarnya pengagum rahasia-nya itu. Ayesha terlihat sangat shock. Akhirnya ia pingsan diatas tempat
tidurnya.
***
Tok tok
tok
“Sayang... sarapan dulu nak? Ntar makanannya keburu
dingin lho,” ucap Indah dibalik pintu.
“Iya Mi, ini Sha sudah mau siap berangkat kuliah,” jawab Ayesha
dengan senyuman manisnya.
Mereka menikmati sarapan dengan khidmat. Setelah mengakhiri
makannya Hermawan menatap putrinya dengan senyum yang mengembang.
“Bagaimana kuliahmu Nduk?”
“Aman Bi, Sha seneng banget bisa kuliah dikampus itu.
Tidak terasa Sha udah masuk semester
enam lho, Bi.”
“Alhamdulillah..
Abi seneng dengarnya?”
“Oh iya Bi, Mi.. Sha belum cerita ya tentang dosen baru kami. Dia
ganteng, muda dan pinter banget, ehmm....” Sebelum melanjutkan kata-katanya,
tiba-tiba ponsel Ayesha berbunyi dan tertera nama Nadira di layar benda pipih
milik Ayesha tersebut.
Nadira : (Assalamu’alaikum, Sha lagi dimana?)
Ayesha : (Wa’alaikumsalam, di rumah nih!)
Nadira : (Aku nebeng sama kamu boleh
ke kampus?)
Ayesha : (Bolehh.. emang motormu kemana?)
Nadira : (Ntar deh, aku ceritain di
kampus, buruan ya..?
kita kan ada
kuis hari ini)
Ayesha : (Wokehh,, iyaya. Aku tutup dulu ya)
Nadira : (Assalamu’alaikum)
Ayesha : (Wa’alaikumsalam)
“Ummi, Abi.. Sha berangkat duluan yaa..”
“Assalamu’alaikum.” Ucap Ayesha
sambil menyalami tangan Hermawan dan Indah Lestari.
“Wa’alaikumsalam warahmatullah..”
Jawab mereka serempak. Setelah menyelesaikan sarapan pagi dengan orang tuanya, Ayesha
bergegas berangkat ke kampus dikarenakan hari ini ia akan ada kuis dengan Pak
Muhammad dosen mata kuliah Agama.
***
“Alhamdulillah..
selesai juga kuis kita hari ini”
“Iya. Eh, Ra.. emang kenapa dengan motormu?”
“Mas Andre tu pinjem motorku semalem, katanya sebentar ke
rumah temennya. Sampe pagi belum pulang-pulang.”
“Oh, gitu ceritanya. Terus nanti biar aku saja yang nganterin
kamu yaa..?”
Drrrttt..
“Eh, ada Whatshapp
nih dari Mas Andre..”
Mas Andre : Sorry
gemoy, Mas baru pulang nih..
motor sudah di antar ke
kampus ya? Kunci
Mas titip di Pos Satpam,
Mas berangkat ke
kampus dulu yaa..
Nadira :
Iya, Mas.. Mas ke kampus pakai apa?
Mas Andre : Bareng
sama Ikhsan sampe ke bengkel.
Nadira
: Oke, Mas.. hati-hati di jalan.. bye!
Mas Andre : Salam
kali, Assalamu’alaikum..
Nadira : Ups! Sorry Mas-ku.. Wa’alaikumsalam..
“Kayaknya ga perlu Sha, makasih ya.. motorku sudah
dianter tuh sama Mas Andre di parkiran.”
“Yups”
Waktu sudah menunjukkan waktu dzuhur. Disitu Ayesha dan
teman-temannya bergegas menuju musholla untuk melaksanakan shalat dzuhur.
Mereka dengan semangatnya menuju musholla. Bukan hanya sekedar shalat dzuhur,
mereka juga memanfaatkan waktu dzuhur ini untuk sekedar ngadem dan istirahat
setelah beberapa jam mengikuti mata kuliah. Karena mushalla memiliki full-AC dan sangat nyaman. Selesai
mengambil wudhuk Ayesha bergegas masuk kedalam musholla kembali. Ayesha mulai
melaksanakan kewajibannya itu sebagai muslimah sejati. Ayesha shalat di shaf
ketiga. Shaf pertama dan kedua diisi oleh laki-laki yang sedang melaksanakan
shalat. Musholla tersebut saat itu belum memiliki pembatas semacam kain atau
gorden untuk membatasi laki-laki dan perempuan melaksanakan shalat. Alhasil, Ayesha
bergabung dengan laki-laki saat melaksanakan shalat.
Selesai shalat...
“Assalamu’alaikum
warahmatullah...”
Assalamu’alaikum
warahmatullah...”
Tuntas Ayesha mengucap salam diakhir, lalu mengusap
wajahnya dengan kedua tangannya yang dibaluti mukena berwarna biru muda
kesukaan Ayesha.
Ketika Ayesha melihat kedepan, ke shaf paling depan..
Degh !!
Disitu ada Pak Reza yang terlihat baru selesai
melaksanakan shalat. Pak Reza yang memakai baju koko putih dan celana panjang
hitam itu duduk masih dengan posisi duduk tahiyat akhir. Ayesha benar-benar kaget.
Ketika Pak Reza menoleh kesekitar, Ayesha buru-buru mengangkat kedua tangannya
dan berdoa. Berdoa dengan posisi kedua tangan menangkup wajahnya sehingga
wajahnya tidak terlihat. Dan yang Ayesha doakan saat ini adalah ..
“Ya Allah... Astaghfirullah...
Ya Allah.. ampuni dosa-dosa hamba ya Allah..
jangan sampe Pak Reza liat.. jangan sampe.. deg-degan Astaghfirullah...
Sepenggal doa Ayesha yang masih sebisa mungkin
menetralkan detak jantungnya. Ayesha bahkan sesak menahannya. Rasanya sampai-sampai
takut kalau orang-orang sadar kalau Ayesha sedang merasa deg-degan tak karuan. Setelah
itu Ayesha memberanikan diri memperhatikan Pak Reza. Tiba-tiba Pak Reza bangun
melewati Ayesha, disitu Ayesha sontak menundukkan kepalanya tapi setelah Pak
Reza lewat Ayesha langsung melirik ketempat Pak Reza berlaju.
“Subhanallah..”
batin Ayesha bermuhasabah. Ayesha kira Pak Reza akan keluar karena sudah
selesai shalat. Tapi ternyata Pak Reza melewati Ayesha untuk mengambil
Al-Qur’an di dalam lemari yang letaknya disebelah Ayesha. Entah kenapa Ayesha merasa..
Kagum.. sekali lagi. Dan lagi lagi.. Ayesha kagum pada Pak Reza. Ya.. sejak
pertama kali bertemu dengan Pak Reza diam-diam Ayesha mengaguminya. Rasa itu
hampir sama dengan rasa kagum kepada Kavindra cinta pertamanya dulu. Ayesha sering
merasa deg-degan tak karuan. Ia merasa bingung dan bimbang sendiri, ada apa
gerangan dengan dirinya. Sementara beliau adalah orang asing baginya. Ayesha sendiri
sudah merasa hatinya selama ini kosong, seakan tak ada tempat lagi bagi
laki-laki yang bisa meluluhkan hatinya.
“Kenapa aku selalu
deg-degan ya, saat ketemu dengan beliau. Padahal sebelumnya belum pernah ketemu
deh.. tapi...” gumam Ayesha. Sebelum sempat ia melanjutkan kata-katanya
tiba-tiba dikejutkan oleh temannya Nadira.
“Hehhhh.. ngelamun aja” Ayesha terkaget ketika Nadira
menepuk bahunya.
“Kamu kenapa? dari tadi aku perhatiin melamun terus?”
“Ng-nggak ada apa-apa kok, Ra?” jawab Ayesha sambil
merapikan kembali mukenanya dan kembali ke ruang kelasnya.
“Nggak ada apa-apa kok dari tadi melamun. Doain apa sih,
kok lama banget.. jangan-jangan ngedoain Pak Reza ya..?”
Degh.. Apa Nadira tahu ya dari
tadi aku merhatiin Pak Reza dan diam-diam aku kagum sama beliau, tapi kan hanya
sekedar kagum.
“Hehh.. malah bengong lagi. Aku bercanda kali. Kalau
bener pun ga apa-apa sih. Aku masih terdiam, masih gak nyangka kenapa
akhir-akhir ini aku bisa seperti ini. Bingung sendiri dan sering deg-degan
dengan dosen baru itu.
“Sudah Sha, kembali ke laptop” Nadira mengajakku untuk kembali konsentrasi
ke mata kuliah sembari menirukan kata-kata dari artis komedi Indonesia yang
terkenal itu.
“Eh, kamu ngerasa nggak sih dari tadi kamu diliatin terus
sama Pak Reza,” Nadira menyenggolku pakai sikunya.
Hah... masa sih. Aku kok nggak
sadar kalau sudah ada Pak Reza di depan kelas.
“Hah.. ngawur kamu. Eh, sudah dari tadi ya Ra Pak Reza
masuknya?” tanyaku sambil melihat ke depan, dan tidak sengaja pandangan kami
bertemu.
Astaghfirullah... bagaimana aku
bisa konsentrasi kalau begini.
“Sudah...lah, sejak dua jam yang lalu. Nggak.. nggak dong
baru sekitar lima menitan. Bercanda,” Nadira menunjukkan jari telunjuk dan jari
tengahnya kearah Ayesha karena Ayesha mencoba mencubit Nadira.
Hah.. berarti lumanyan lama juga
aku melamun ya.
Ayesha mencoba untuk konsentrasi lagi dengan mengikuti presentasi
dari salah satu kelompok temannya. Selama presentasi dibuka sesi tanya jawab terkait
dengan materi yang disampaikan. Lima puluh menit kemudian, presentasi pun
berakhir. Masih tersisa sekitar tiga puluh menit lagi sebelum perkuliahan
berakhir.
“Ada yang mau ditanyakan lagi atau mungkin perlu
penjelasan dari materi yang telah dipresentasikan teman-teman kalian?”
Pak Reza memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk
bertanya. Biasanya beliau memang memberikan waktu setelah presentasi berakhir,
untuk tanya jawab atau menjelaskan materi yang mungkin perlu diperdalam lagi. Tiba-tiba
ada suara salah satu mahasiswa teman Ayesha yang mengacungkan tangan. Seketika
kami semua melihatnya. Ternyata Mila, teman kami yang memang sejak awal
memiliki ketertarikan dengan dosen kami Pak Reza.
“Saya mau tanya Mas eh... Pak?” Kami tahu kalau dia
memang sengaja memanggil Mas ke Pak Reza.
“Huuuu... modus lo Mil” celetuk salah satu temanku. Dan
Mila pun tertawa.
“Silahkan.... Mila
mau tanya apa?”
“Ehmm... kalau tidak terkait dengan materi boleh tidak
pak?”
“Memangnya kamu mau bertanya apa?”
“Ehmm.. tentang bapak?”
“Maksudnya? Tentang saya bagaimana?”
“Iya tentang bapak. Tapi menurut saya, pertanyaan saya
ini mewakili teman-teman saya kok pak, hanya mereka nggak berani tanya.
Bagaimana pak, boleh?”
“Oh, silahkan selama tidak mengganggu privasi saya”
“Begini pak, mau tanya kriteria istri bapak itu seperti
apa ya?” Setelah melontarkan pertanyaannya, secara bersamaan teman-teman
sekelasku tertawa dan bersorak, sedangkan si penanya sendiri malah ikut tertawa
bangga.
Pak Reza terlihat menghela nafasnya. Ayesha sendiri sudah
deg-degan tak karuan. Tidak lama kemudian Pak Reza melihatku sekilas dan
menjawab pertanyaan Mila.
“Ehmm... sebelum saya jawab, kenapa kamu bertanya tentang
kriteria istri saya?”
“Ya... mewakili teman-teman pak, siapa tahu kami masuk
dalam kriteria bapak” Mila menjawabnya dengan penuh semangat.
“Oke.. saya minta maaf kalau jawaban saya nanti agak
panjang dan menyita waktu kalian. Karena saya seorang muslim, maka kriteria
seorang istri saya tentu mengikuti anjuran Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadist
riwayat Bukhari, wanita itu dinikahi karena 4 hal: hartanya, nasabnya,
kecantikannya, dan agamanya. Pilihlah yang memiliki agama, maka kalian akan
beruntung.” Nah, dari hadist diatas, sudah jelas bagaimana kriteria istri saya.
Saya akan memilih wanita yang agamanya baik. Kenapa? memilih wanita karena
agama yang baik niscaya akan beruntung. Saya juga membaca dari sebuah buku,
sangat manusiawi memang, jika seseorang memilih
pasangan melalui fisiknya terlebih dahulu. Karena pada dasarnya manusia menyukai
keindahan. Bahkan menurut imam Al-Ghazali, menganjurkan untuk melihat kebaikan
fisiknya terlebih dahulu dan sisi kecantikan dan ketampanannya. Walaupun
demikian kita tidak boleh menelantarkan agama karena mementingkan fisik dan
rupa, termasuk kekayaan dan nasabnya. Jadi seandainya nanti saya menemukan
wanita yang shalihah, cantik, kaya dan nasabnya baik.. itu adalah rezeki dan
anugerah terindah yang Allah berikan kepada saya. Begitu Mila, sudah jelas ya.
Sepertinya untuk berdiskusi tentang hal seperti ini ada yang lebih kompeten
membahasnya. Kalian bisa diskusi dengan Pak Muhammad, dosen mata kuliah agama.
Saya rasa cukup sampai disini dulu. Kita bertemu kembali pekan depan. Saya
mohon maaf jika banyak kesalahan. Tetap semangat belajarnya. Assalamu’alaikum...”
Reza pun menutup kuliah hari itu. Dia mohon ijin untuk
undur diri dari kelas.
Sebelum meninggalkan ruangan, pak Reza mengirim pesan
kepada seseorang melalui ponselnya.
***
“Kagum itu
merupakan hal yang wajar maka merahasiakannya merupakan hal yang sangat mulia.
Jodoh itu ibarat ‘Alif Lam Mim’ ayat pertama surah Al-Baqarah, artinya yaitu
‘hanya Allah yang tahu’. ”
[Tahajud
Cinta, EPR]
TC 12
Siapakah
Malaikat Itu?
Setelah selesai kuliah siang ini, Ayesha menuju ruang
dosen. Dia melihat dari luar kalau Pak Reza sedang ada bimbingan dengan
mahasiswa. Bagaimana Ayesha bisa tahu? Karena pintunya yang dibiarkan terbuka. Ayesha
melirik arloji ditangannya, pukul 11.00 WIB. Ayesha lalu duduk di kursi panjang
yang ada dilorong depan ruang dosen. Dia melihat mahasiswa disebelahnya, mbak
Rina, kakak tingkatnya, mahasiswa semester delapan. Mungkin mau bimbingan juga.
“Dek ?” Sapa Rina
“Eh iya..iya mbak?”
“Mau ketemu Pak Reza juga?” Rina bertanya padanya.
“Iya mbak”
“Sudah Janjian.”
“Sudah mbak”
“Eh, kamu kan belum skripsi, ada janji apa dengan Pak
Reza”
Waduh,
harus jawab apa aku?”
“Oh itu mbak, kebetulan saya mau ngasi tugas.. kemarin
saya gak masuk,” jawabku was-was. Cukup deg-degan juga sebenarnya, untuk apa ya
sebenarnya aku dipanggil ke ruang pak Reza. Dan apa hubungannya si pengagum
rahasia itu dengan Pak Reza. Kalau tidak sebegitu penasarannya aku dengan dia,
mana mau mengantri di depan ruang beliau seperti ini.
“Kuliah apa?”
“Manajemen Keuangan mbak.” Kakak tingkatnya itu
menganggukkan kepalanya.
“Ehm... Dek menurutmu Pak Reza itu bagaimana?” tanyanya
lagi. Dan sungguh pertanyaan ini cukup membuat Ayesha kaget. Ayesha juga sangat
bingung dengan suasana hatinya sejak awal bertemu dengan pak Reza. Padahal
selama ini hatinya seakan sudah kebal dan tertutup rapat dengan yang namanya
laki-laki.
“Maksudnya bagaimana ya mbak?” tanya Ayesha bingung.
“Kamu tahu kan kalau Pak Reza itu masih single?”
“Iya mbak, saya
tahu”
“Jadi menurutmu beliau gimana?” Ayesha makin penasaran
dengan pertanyaan seniornya itu.
“Ya kalau menurut saya beliau baik, pintar juga masih
muda.” Jawab Ayesha apa adanya. Ayesha memang melihatnya seperti itu.
“Tau gak dek, aku itu jadi semangat banget untuk segera
nyelesain skripsiku. Salah satunya karena pak Reza. Apalagi setelah beliau
kembali mengajar disini dan ditambah lagi, beliau jadi dosen pembimbingku.”
Duarrr.... Ayesha sangat
kaget dengan perkataan tersebut. Memang dia tidak terlalu akrab dengan Rina,
hanya dekat sebatas kakak adik tingkat saja. Mungkin umurnya juga tidak beda
jauh dikarenakan Ayesha sudah menganggur setahun.
“Dulu waktu selesai S-1 dari luar negeri beliau sempat
mengajar sebentar, Pak Reza ini menjadi dosen idola lho, eh, sekarang juga iya.
Gimana nggak seneng coba? Diajar sama dosen ganteng, cerdas, jomblo, masih
muda, pengusaha sukses pula dan denger-denger kampus ini miliknya beliau lho.
Hebat kan dek? tapi sayangnya kita gak ada kuliah lagi bareng beliau tapi
syukur deh dapat dosen pembimbing beliau. Kadang punya keinginan bisa jadi
pendamping hidupnya begitu dek, makanya aku ingin cepet-cepet lulus.” Ayesha yang
mendengarkan hanya diam saja, nggak tahu harus merespon apa. Tiba-tiba
mahasiswa yang bimbingan didalam, keluar dari ruangan pak Reza dan
mempersilahkan Rina untuk masuk.
“Ya sudah ya dek, aku masuk dulu” pamitnya kepada Ayesha.
“Iya mbak, silahkan.”
Ayesha melihat kakak tingkatnya itu masuk. Sekitar lima
menitan berlalu ada pesan masuk di ponselnya. Ayesha melihat siapa yang
mengirim pesan.
Degh!!
Pengagum Rahasia: Assalamu’alaikum.
Maaf ya, harus
tunggu
lama. Sebentar saya selesaikan ini.
Ayesha begitu kaget saat membaca pesannya itu. Sampai-sampai
tangannya bergetar.. Sementara yang ia ketahui nomor ponsel yang berID-kan
Pengagum Rahasia tersebut
hanya untuk memberi nasehat buat Ayesha dan menjadikan alarm untuk shalat
tahajudnya. Cuma itu. Nah, sekarang kenapa seakan-akan pak Reza yang mengirim
pesan tersebut. Atau ada si pengagum
rahasia didalamnya.. atau temannya pak Reza.. Ah, siapakah malaikat itu?
“Ya ampuuun... jangan-jangan... Pak Reza.. si Pengagum Rahasia itu,” batin Ayesha.
“Lantas dari mana beliau mengetahui tentang aku selama
ini.. siapa sebenarnya beliau..? ya Allah..,” Ayesha terus bergumam dengan
beribu-ribu pertanyaan dalam benaknya. Saat kepala Ayesha diserang ribuan pertanyaan,
tiba-tiba..
Drrrt..Drrrt...
Pengagum Rahasia:
Kamu kaget yaa..
maaf ya selama ini saya tidak menampakkan wujud saya ke kamu, sehingga kamu begitu penasaran dengan saya. Apalagi saat
ini. Nanti setelah dzuhur saya tunggu
kamu di ruang saya dan akan saya jelaskan semuanya.
Ayesha bukannya senang tapi makin galau bercampur penasaran.
Siapa dia sebenarnya? Siapa malaikat itu yang telah sangat baik untuknya? Siapa
Pengagum Rahasia yang ia cari-cari
selama ini? Meskipun tak pernah mendengar suaranya apalagi bertemu orangnya, Ayesha
merasa dia sangat berjasa atas dirinya. Yang telah membuat Ayesha bisa move on kembali dari kehidupan yang
begitu kelam dan sedih. Nasehat dan motivasi dari Pengagum Rahasia-nya itu bisa mengembalikan keceriaan Ayesha seperti
dulu dan yang terpenting tahajud-nya sudah istiqamah.
“Apakah hari ini Allah mengabulkan salah satu doanya?
Yaitu dipertemukan dengan Pengagum
Rahasia-nya.” Rasanya Ayesha sudah tidak sabaran ingin melihat orangnya
lebih dekat dan mendengar dengan seksama ceritanya itu. Selama ini saat Ayesha berdekatan
dengan pak Reza, jantungnya selalu berdebar-debar tak karuan. Terkadang Ayesha sendiri
salah tingkah terhadapnya.
Ayesha : Baik
Dengan penuh penasaran dan deg-degan Ayesha membalas
pesan singkatnya itu. Sementara didalam ruang dosennya, Reza sedang memberikan
bimbingan skripsi Rina, kakak kelasnya Ayesha. Saat akan konsultasi, Reza
meminta ijin ke mahasiswanya untuk mengirim pesan. Siapa lagi kalau bukan Ayesha.
Reza kelihatan tersenyum. Dan hal ini membuat mahasiswanya penasaran.
“Maaf... Pak Reza kok senyum-senyum sendiri?” Kalau sudah
kenal baik dengannya, Reza memang dosen yang menyenangkan. Tapi kalau belum,
Reza terlihat tegas walaupun dalam kondisi tertentu.
“Kelihatan ya?”
“Sangat Pak. Ehm... Bapak sedang bahagia?”
“Iya”
“Ehm...Bapak belum menikah kan?” mahasiswa itu bertanya
lagi.
“Kenapa?”
“Ya siapa tahu selama ini Bapak menempuh studi, sudah
menikah begitu Pak”
“Doain saja ya.”
“Berarti yang mengirim pesan tadi bukan istrinya kan
Pak?” mahasiswa itu tetap saja bertanya, untuk menutupi rasa cemasnya.
“Calon istri. In sya
Allah. Ya sudah, kita lanjutkan diskusi tentang skripsimu tadi.” jawabnya
tegas. Mahasiswa itupun langsung terdiam, tentu saja kaget, karena pernyataan
dosennya yang terakhir sudah menunjukkan tidak ada kesempatan lagi baginya.
Tapi dia harus segera bangkit untuk tetap konsentrasi kembali dan menjalani
bimbingan konsultasi siang ini.
***
Setelah selesai shalat dzuhur, Ayesha pun naik lagi ke
lantai dua, menuju ruang dosen. Dia melihat dari kaca yang ada di pintu, kalau
penghuninya kosong.
Mungkin baru shalat. Batinnya.
Ayesha pun duduk di kursi panjang depan ruang dosen
sambil memainkan gawainya. Kampus sudah cukup sepi jika siang hari. Nanti akan
ramai lagi kalau sudah habis ashar, karena ada mahasiswa kelas sore. Sejak
pertemuan pertamaku dengannya, aku terasa sudah jatuh cinta lagi pada
seseorang. Entahlah.. kurasa seperti itu karena jantungku berdetak sangat cepat
dan rasanya sangat nyaman, berbeda jika aku dekat dengan laki-laki lain. Aku
pun terasa bingung dengan perasaanku sendiri, dan.. rasanya aku juga malu
dengan statusku ini. Kalaupun suatu saat
ia menerimaku namun apakah ia akan menerima dengan statusku sekarang..? aahh,, entahlah.. ya Allah..
Tidak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki.
Terdengar suara deheman yang membuyarkan lamunan Ayesha.
“Sudah dari tadi? Masuk yuk” Ayesha pun mendongakkan
kepalanya. Ayesha melihat sosok badan yang kekar yang berjalan membelakanginya
dan menuju ke sebuah ruangan. Dari suaranya tadi Ayesha menebak bahwa yang
barusan lewat itu adalah pak Reza.
“Tunggu-tunggu, kenapa dia masuk kedalam situ? Bukannya
itu ruang direktur? atau jangan-jangan pak Reza adalah...,” belum selesai
melanjutkan pertanyaannya tiba-tiba masuk pesan di Whatshapp-nya.
Pengagum Rahasia :
Saya tunggu di dalam
Ayesha berjalan menuju ruang yang di pintunya bertuliskan ‘Direktur’. Jantung Ayesha berdetak lebih cepat begitu ia
berdiri didepan ruangan tersebut. Entah apa alasannya, ia seperti ingin bertemu
dengan idolanya saja. Mungkin karena belum siap mengetahui tentang siapa
sebenarnya orang yang ia temui ini. Ayesha mencoba menghela napas pelan.
Perlahan tangannya mengetuk pintu. Awalnya pelan, sangat pelan, namun masih
belum ada suara dari dalam sana. Lambat-lambat, ketukan tangan Ayesha mulai
keras, namun hasilnya tetap sama.
Apakah salah ruangan? pikirnya.
Akhirnya Ayesha memilih membuka pintu yang ternyata tidak
dikunci. Dan hal pertama yang ia lihat adalah seorang pria berjas hitam membelakanginya duduk di kursi yang terkesan
mewah sedang berbicara dengan seseorang
lewat ponselnya. Ayesha berdiri tegak. Retina matanya menelusuri sekeliling
ruangan itu yang terkesan cukup mewah dan megah.
“Pantesan tidak terdengar ketukan pintu tadi, ternyata
beliau sedang menerima telpon,” gumamnya.
“Silahkan duduk.”
“Kaa...vinn...” Ayesha begitu kaget dan syok saat melihat
sosok pria yang berada tepat dihadapannya. Seakan apa yang ada didepannya saat
ini terasa tidak percaya dan bagaikan mimpi. Mengapa tidak? Kavindra Syahreza
Putra Pratama yang dia kenal dulu seakan sudah ditelan bumi. Tidak ada kabar
berita apapun lagi. Dan lost contact.
“Aku gak salah liat ? beneran ini Kavindra ?”
“Iya Sha, Aku Kavindra teman dekatmu dulu, dan akulah
pengagum rahasiamu selama ini.”
“Jadi.. kamu juga menyamar sebagai pak Reza..? Ayesha memerhatikan
wajah Kavindra dengan seksama, bagaimana tidak? Selama ini pak Reza yang ia
kenal adalah brewokan dan berkacamata.
“Aku tidak menyamar Sha, hanya saja aku kurang mengurus
diriku sendiri sejak aku berpisah denganmu, tujuan hidupku selama ini hanyalah
mendekatkan diri kepada Allah dan berbakti kepada kedua orang tuaku. Dan untuk
melupakanmu aku menyibukkan diri dengan bisnis/usahaku dan perusahaan Papa.
“Ya ampun Kavin, aku gak nyangka kita bisa dipertemukan
kembali seperti ini, aaku.. ga tahu harus berkata apa, ntah sedih ataupun
bahagia..” Ayesha terisak karena tidak menyangka orang yang dia harapkan
bertemu selama ini merupakan cinta pertamanya.
Maafkan aku yang tidak berani menampakkan
wujudku padamu. Aku hanya ingin menunggu kamu, Sha. Menunggu kapan kamu siap
kembali menerimaku kembali, menerima cintaku, menerima menjadi pendamping
hidupmu, Batin Kavindra.
“Aku bahagia Vin, seneeng.. banget melihat kamu sudah
sangat berubah dan sukses seperti ini. Oh iya, sudah punya anak berapa, Vin?.”
Saking bahagianya Ayesha bertanya seakan mengesampingkan perasaannya dan lupa
bahwa yang dihadapannya itu adalah dosennya sendiri.
“Anak...?”
“Iya.”
“Istri pun belum, kok punya anak sih.”
“Jangan boong ah, kenalin dong sama istrinya? Pasti
cantik banget kan, dan beruntung banget deh dia punya suami kayak kamu.”
“Serius Sha, aku belum menikah. Bukannya saat pertama aku
ngajar di kelas kamu sudah aku cerita semuanya tentang statusku.”
“Oh iya, Vin.. hmm.. aku baiknya manggil kamu siapa yaa..
kan kamu dosen aku saat ini.”
“Kalau di kampus panggil Pak Reza aja sama seperti yang
lain, tapi kalau diluar kampus mau panggil siapa aja bole kok.. mau panggil Kavindra,
mau panggil mas juga boleh.” Ucap Kavindra sambil terkekeh.
“Iiih kamu ini, masak manggil mas sih, kita kan seumuran.”
“Gak lah, tua-an aku setingkat dari kamu, secara kamu
katanya lebih cepat masuk sekolah dulu kan ya.”
“Oh iya ya.”
“Btw, aku mau ngucapin terimakasih sama kamu”
“Untuk apa?”
“Berkat penyamaranmu sebagai pengagum rahasia-ku, aku sudah bisa move on, sudah kembali menjadi Ayesha yang dulu, makasih ya Vin..”
“Itu juga berkat semangat dan usaha dari diri kamu juga
Sha, kamu wanita yang hebat dan kuat.. tidak berlarut-larut dalam kesedihan,
tugasku hanya memberi motivasi dan nasehat-nasehat saja.”
”Emmm..”
“Oh iya, kamu ngapain di ruang direktur ?”
“Hmm.. sebenarnya ini ruanganku juga, Sha.”
“What..?
maksudnya ?”
“Iya, kampus ini milikku. Khusus aku dirikan di kota kelahiranmu. Meskipun aku tidak bisa
memilikimu, tapi aku ingin terus mengenang kota dan tempat asal kamu, Sha.”
“Maa syaa Allah..
Kavin.. hebatt dan keren banget kamu bisa se-sukses ini.. tapii.. alasan kamu
itu maksudnya gimana ?”
“Hmm... sebelum Kavindra melanjutkan kata-katanya,
ponselnya berbunyi...
“ ........ ”
“Ayesha.. kapan-kapan kita ngobrol-ngobrol lagi ya..
masih banyak yang harus aku ceritain ke kamu, ini aku harus pergi ada urusan
mendesak, Assalamu’alaikum...”
Dengan tergesa-gesa Kavindra meninggalkan Ayesha di
ruangan tersebut sendiri. Sementara yang ditinggal merasa bingung dengan
tingkah pak dosen sekaligus teman masa lalunya itu.
***
Sore ini sekembalinya Ayesha dari Kampus, dia langsung
masuk kamar. Seperti biasa sambil istirahat ia membaca buku favorite-nya ‘La Tahzan karya DR. ‘Aidh
Al Qarni’. Menurutnya semua isi dalam buku tersebut sangat bermanfaat untuk
menjadi salah satu penyemangat hidupnya. Keinginan ia membeli buku tersebut
merupakan rekomendasi dari si pengagum
rahasia-nya. Ah, ternyata ia adalah Kavindra, sahabat sekaligus cinta
pertamanya. Pantesan ia sangat tahu apa yang Ayesha mau. Buku itu salah satu
yang telah membuat dirinya semakin sabar atas semua ujian dalam hidupnya. Hari
ini cukup melelahkan baginya namun ia juga sangat bahagia karena sudah terkabulkan
doanya yaitu dipertemukan dengan pengagum rahasianya selama ini. Ayesha kembali
membaca buku ‘La Tahzan’ untuk mengademkan pikirannya karena terasa sangat
lelah setelah melewati tugas-tugas kuliahnya.
Tiba-tiba terdengar suara dering panggilan dari ponsel-nya. Ayesha melihat siapa yang
meneleponnya. Dilihatnya layar dari benda pipih yang diatas nakas samping
tempat tidurnya.
unknown
number is calling
.....
Melihat nomor yang tidak dikenal, Ayesha ragu
mengangkatnya. Karena terus berdering, akhirnya Ayesha mengangkatnya.
Rendy : (Assalamu’alaikum, Ayesha ?)
Ayesha : (Wa’alaikumsalam.
Iya benar, ini siapa ya ?)
Rendy : (Aku Rendy, mahasiswa Teknik Sipil.)
Ayesha : (Rendy?
Teknik Sipil? Ayesha berusaha
mengingat nama-nama temannya,
tapi gagal).
Rendy : (Iya, kamu pasti belum kenal, makanya aku
ajak
kenalan).
Ayesha : (Oh,
begitu. Tapi kamu tahu aku dari mana ?)
Rendy : (Tiga hari
lalu aku lihat kamu lagi jalan di depan Apotek, sama temanmu kalau nggak salah.
Kebetulan kamu pakai jaket Akuntansi yang sama dengan punya temanku. Aku tanya, terus
dia nunjukin foto angkatan kalian, akhirnya bisa tahu namamu)
Ayesha : (Temanku
siapa ya)
Rendy : (Dimas)
Ayesha : (Oh,
Dimas. Iya bener, dia temenku).
Rendy : (Ehm.. boleh kan Sha saya kenal kamu.
Maksudku
jadi teman dulu)
Ayesha : (Boleh
saja, kan berteman boleh dengan siapa saja)
Rendy : (Kamu ada waktu nggak kalau kita ketemuan
?)
Ayesha : (Untuk
apa ?)
Rendy : (Ya aku ingin kenal kamu lebih dekat)
Ayesha : (Aku
nggak tahu, bisa apa tidak. Ehm, maaf Ren aku
nggak bisa lama-lama. Ini lagi
ada Ummi di sini. Maaf
ya).
Rendy : (Iya nggak pa pa. Nanti dilanjut lagi)
Setelah menutup teleponnya, Ayesha baru sadar ada Ummi di
sampingnya. Entah sejak kapan Indah berdiri di sampingnya. Ayesha menoleh ke
arah Umminya sambil tersenyum.
“Sejak kapan Ummi di sini ?”
“Baru saja kok sayang, siapa tadi yang nelpon ?”
“Teman Mi”
“Oh iya Nak, Ummi sama Abi rencana mau ke rumah sakit mau
jenguk atasan kantornya Abi yang lagi sakit, kamu mau ikut ?”
“Maaf, Mi.. tapi Sha masih sangat lelah sepulang dari kampus. Mau
istirahat aja, Mi.”
“Baiklah, Ummi sama Abi berangkat dulu ya sayang,” sambil
membelai rambut putrinya.
“Iya, Mi. Hati-hati ya Mi.”
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam”
***
“Kalau
memang sudah ditetapkan sebagai rezekimu atau sebagai jodohmu, maka meskipun
ribuan orang yang menghalangi tetap akan sampai juga padamu”
[Tahajud
Cinta, EPR]
TC 13
Butir-butir
Cinta
Di sebuah ruang, kamar VVIP rumah sakit CENDEKIA,
berbaring laki-laki berusia 57 tahun. Dia mulai sakit beberapa hari yang lalu.
Entah apa penyebabnya. Karena selama ini dia baik-baik saja. Istrinya terus
menangis saat melihat suaminya yang gagah dulu lemah tak berdaya seperti itu.
Saat pak Hermawan dan Pak Jehan Pratama
berbincang-bincang didalam kamar, istri pak Hermawan dan istri pak Jehan
berbincang-bincang diluar kamar.
“Maaf Pak Jehan, saya baru bisa menjenguknya sekarang,” Ucap
pak Hermawan.
“Tidak apa-apa Pak Hermawan, terimakasih sudah datang
menjenguk saya,” balas Pak Jehan dengan tersenyum.
“Bagaimana keadaan pak Jehan ?” tanya Pak Hermawan
prihatin.
“Rasanya, umur sudah tidak lama lagi Pak,” jawab Pak
Jehan dengan pesimis.
“Jangan bicara seperti itu Pak. Pak Jehan harus kuat,”
kata Pak Hermawan memberi semangat.
“Pak Hermawan, hubungan kita sudah sangat dekat. Bahkan
sudah seperti saudara. Saya tidak bertemu dengan orang, teman, ataupun sahabat
sebaik pak Hermawan. Saya ingin terus dan selamanya menjadi saudara pak
Hermawan. Kalau saya pergi nanti, hubungan kita hanya akan tinggal kenangan,”
ujar pak Jehan panjang lebar.
“Pak Jehan pasti sembuh, jangan bicara yang tidak-tidak,
Pak,” kata pak Hermawan.
“Saya berharap kita bisa menjadi keluarga yang
sesungguhnya. Sebelum saya pergi, saya masih ingin menikahkan Kavindra dengan Ayesha.
Apalagi kita sama-sama sudah tahu tentang hubungan mereka saat SMA dulu. Namun
saya juga tidak mau egois lagi dalam masa depan mereka. Saya juga tidak mau
lagi mengulang kesalahan yang sama seperti dulu. Ayesha anak yang baik, dia
pantas bahagia dan berhak memilih dengan siapa dia berdampingan. Saya sudah
menganggap Ayesha seperti anak kandung saya.” Kata pak Jehan sedih.
“Kita berdoa saja pak, semoga Nak Kavin dan putri saya
berjodoh. Saya yakin dengan putra bapak, dia anak yang cerdas. Dan dia sudah
sangat mengenal putri saya,” Ucap Pak Hermawan dengan penuh keyakinannya.
“In sya Allah
semoga bisa berjalan dengan lancar dan sesuai dengan yang kita inginkan,”
lanjut pak Jehan.
“Aamiiin ya Allah”
“Apakah Kavin pernah juga ngomong sama pak Hermawan kalau
dia masih mencintai Ayesha?,” tanya Pak Jehan.
“Iya pak. Nak Kavin sudah menceritakan semuanya kepada
saya, termasuk keinginannya untuk melamar Ayesha. Namun ia juga sangat memahami
kondisi Ayesha. Nak Kavin hanya menunggu waktu yang tepat untuk hari tersebut
dengan cara ia terus mendekati Ayesha secara perlahan,” jelas pak Hermawan
panjang lebar.
“Alhamdulillah,
semoga hari bahagia itu masih sempat saya rasakan ya pak...” ucap pak Jehan.
“In sya Allah
Pak Jehan. Yang terpenting saat ini adalah kesembuhan pak Jehan dan semoga
Allah berikan kesehatan selalu kepada bapak.” Doa pak Hermawan.
“Aamiin Ya Allah.”
***
Kavindra hari ini tidak masuk kampus. Ia membagi waktunya
untuk ngajar dan ke kantor, dikarenakan papanya harus perawatan intensive. Kavindra membagi waktunya dua
hari dalam seminggu untuk ke kampus dan dua hari ke kantor, selebihnya ia gunakan
untuk menjaga papanya di rumah sakit.
Setelah bertemu klien,
siang itu Kavindra menjenguk papanya yang masih berada di rumah sakit. Setiap
wanita yang berpapasan dengannya entah itu perawat, dokter atau anggota pasien
langsung jatuh cinta dengan ketampanan dan kegagahan tubuh Kavindra. Apalagi
saat ini ia sedang merasakan benih-benih cinta mulai bersemi kembali, seakan
wajahnya selalu dihiasi dengan senyuman. Dan tubuhnya pun sudah kembali terawat
termasuk wajahnya yang dulunya brewokan dan rambutnya kelihatan gondrong.
Kini.. semua sudah berubah. Kavindra kembali menjadi Kavindra yang Ayesha kenal
dulu. Ketampanan Kavindra sudah kembali seratus persen. Sehingga membuat setiap
wanita terpesona memandangnya.
Kavindra ke rumah sakit masih menggunakan kemeja navy dengan setelan jas hitam dan dasi
melilit di lehernya. Setelah sampai di ruang papanya, Kavindra segera duduk disamping
papanya.
“Bagaimana keadaan papa?” tanya Kavindra dengan lembut
dan menggenggam tangan papanya dengan kedua tangannya.
“Semakin lemah. Papa rasanya sudah tidak kuat lagi Vin.”
Jawab Jehan.
“Papa jangan ngomong begitu dong, Pa. Papa harus kuat,
papa harus sembuh. Pokoknya aku akan berusaha sebaik mungkin untuk kesembuhan
papa.” Ucap Kavindra menyakinkan papanya.
“Trus gimana hubungan kamu dengan Ayesha?”
“Baru mulai pendekatan, Pa. Mohon doanya ya Pa, semoga Ayesha
kembali membukakan pintu hatinya untuk Kavin.” Jawab Kavindra dengan penuh
harap.
“Iya, Nak. Semoga semuanya dilancarkan sebelum papa pergi
dari dunia ini.”
“Papa jangan ngomong seperti itu. Aku yakin papa akan
sembuh. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk kesehatan papa.” Ucap Kavindra mantap.
Lalu Kavindra keluar dari kamar menelepon seseorang untuk segera mencari dokter
terbaik di Indonesia bahkan dokter terbaik di dunia untuk papanya.
***
Drrrrtt
...
Terdengar ponsel Ayesha beberapa kali berbunyi. Saat itu Ayesha
sedang melaksanakan shalat subuh. Setelah menyelesaikan shalat dan rutinitas
subuh-nya, Ayesha ingat chat WA terakhir dari pengagum rahasia-nya yang begitu membuat hatinya tak karuan dan
berdetak lebih kencang. Ayesha pun lalu mengambil ponsel-nya. Dia liat tiga
panggilan tak terjawab dan satu pesan masuk. Ayesha membuka pesan masuknya.
Dari Pengagum Rahasia. Ternyata nomor
tersebut belum digantikan namanya oleh Ayesha.
Pengagum Rahasia :
Assalamu’alaikum. Selamat pagi Sha.
Sudah
subuh belum?
Ayesha : Wa’alaikumsalam. Alhamdulillah sudah
Vin..
Maaf tadi baru shalat.
Terimakasih sudah dibangunkan.
Tidak butuh waktu
lama ada pesan masuk lagi.
Pengagum Rahasia :
Alhamdulillah. Sama-sama Sha.
Assalamu’alaikum
Ayesha : Wa’alaikumsalam
Ayesha masih saja menatap benda pipih miliknya yang
berada di tangannya. Ia segera menggantikan nama pada nomor kontak pengagum rahasia menjadi Kavindra. Sebenarnya
ia masih penasaran kepada Kavindra tentang pesan yang diterimanya tempo hari
sebelum mereka bertemu di ruang direktur.
Apa maksud pesan panjang lebar yang
pernah dikirimnya itu ? Kata-katanya itu membuat hatiku terobrak abrik! Apakah Kavin
masih mencintaiku ?
Astaghfirullah..! Ampuni hamba-Mu
yang lemah iman ini..!
Di sepertiga malam ini mereka sama-sama bangun untuk
melaksanakan shalat tahajud. Meskipun tanpa ada kesepakatan diantara mereka,
namun mereka menginginkan sesuatu yang sama pula dalam sujud tahajudnya yaitu:
‘Jika dia bukan jodohku maka
jauhkan dia dari pikiranku dan bila dia jodohku maka dekatkanlah dia ya Allah.., jika dia benar untukku,
dekatkanlah hatinya dengan hatiku. Jika dia bukan milikku, damaikanlah hatiku
dengan ketentuan-Mu’.
Karena mendoakan adalah cara mencintai paling
rahasia. Jodoh itu adalah rahasia Allah.
Jangan lah berharap jodoh itu pada manusia tapi berharap lah kepada sang
pembolak hati Allah SWT.
***
Kebetulan hari ini hari minggu, jadi Ayesha sedikit
santai. Setelah shalat subuh, rencananya dia mau bersih-bersih rumah dan
memasak. Tepat pukul 07.00, Umminya mengajak Ayesha belanja ke pasar. Ayesha dan
Umminya membeli berbagai macam sayuran dan beberapa cemilan.
Sesampai di rumah, Abi sudah menunggu di teras belakang
dan minta untuk dibuatkan teh panas. Ayesha pun membuatkan teh panas dan
sedikit cemilan untuk dibawa ke teras belakang. Di sana sudah menunggu Abi dan Umminya.
Setelah selesai meletakkan teh dan cemilan keatas meja, Ayesha diminta duduk. Ayesha
pun duduk bersebelahan dengan Umminya.
“Gimana Nduk, kuliahmu?”
“Baik Bi, semua lancar-lancar aja”
“Oh iya Abi, Ummi.. Sha belum sempat cerita kan tentang dosen baru kami.”
“Memang kamu punya dosen baru?” tanya Ummi.
“Iya, Mi. Awalnya Sha pernah jumpa beliau saat masa ospek di kampus.
Dan sempat Sha minta tanda tangan sama
beliau. Sha pikir beliau adalah senior
kami. Ternyata setelah itu sudah tidak pernah kelihatan lagi di kampus. Nah,
ketika Sha masuk semester enam ini,
malah beliau yang jadi dosen kami. Minggu kemarin malah Sha diajak ketemuan sama beliau. Abi, Ummi tahu
siapakah beliau itu?
Abi dan Umminya saling berpandangan.
“Ternyata dosen baru itu adalah Kavindra lho Bi, Mi..”
“Kavindra? teman kamu waktu SMA dulu?” tanya Ummi
pura-pura kaget.
“Iya, Mi”
“Maa syaa Allah...
luar biasa,” puji Abi.
“Hebat sekali Kavindra ya nak,” lanjut Ummi.
“Dan yang paling keren lagi Mi, Bi.. itu kampus milik dia
lho.. aku bangga punya teman seperti dia. Sukses dia sekarang. Sudah pintar, sifatnya
makin dewasa, ganteng pula, sikapnya sangat sopan dengan semua orang dan nggak
sombong lagi,” Cerita Ayesha panjang
lebar dengan penuh antusias.
“Jadi Kavindra sekarang sudah beda banget ya sayang
dengan yang dulu?,” tanya Ummi.
“Iya, Mi. Sifat baiknya sih tetap, seperti dulu. Tapi
akhlaknya sekarang sangat mempesona. Lelaki seperti itu yang Sha dambakan Ummi.. Abi..,” pinta Ayesha secara tiba-tiba sambil merebahkan kepalanya
ke pundak Umminya.
“Semoga kalian berjodoh ya, nduk?,” ucap Abi sambil
tersenyum mengelus puncak kepala Ayesha yang dilapisi hijabnya.
“Emang kamu punya perasaan terhadap Kavindra sayang?,”
selidik Ummi.
“Ehm... ntahlah Mi. Akhir-akhir ini Sha bingung dengan perasaan sendiri.”
“Bingung kenapa? apakah ada yang mengganggu pikiranmu ?”
lanjut Ummi lagi.
“Justru itu Mi, Sha kayak sering kepikiran gitu ke Kavin, apalagi
saat ketemu dia. Hati Sha gak karuan,”
jelas Ayesha ke Umminya dengan nada yang
sangat manja.
“Emang kamu sudah siap menikah lagi sayang?,” tanya Ummi
lagi.
“Ehm.. sebenarnya sih belum, Mi. Tapi kalau dapet yang
sempurna seperti itu ya nggak masalah,” ucap Ayesha.
“Beneran nih..? kalau nanti malem langsung di lamar sama
orang seperti Kavindra, apa kamu langsung mau menerimanya?,” tanya Ummi
menyakinkan sambil berkedib ke Abi.
“Iiihh... Ummi sama Abi kok sudah serius banget sih..?,
kan Sha Cuma berangan-angan lho..?, Sha cuma curhat kok,” Sewot Ayesha.
“Kalau angan-angan kamu jadi kenyataan gimana Nduk..?,” Tanya
Abi lagi.
“Ehmm..nggak tahu ah, Abi,” jawab Ayesha sekenanya. Ayesha bingung sendiri dengan
kata-katanya yang spontan keluar begitu saja dari mulutnya. Dengan muka memerah
menahan malu Ayesha beranjak bangun dari sandaran Umminya.
“Ummi dan Abi doakan.. semoga kamu dapat yang kamu
inginkan ya sayang, In sya Allah kamu
berjodoh dengan Kavindra.” Ucap Ummi mantap.
Sementara wajah putih Ayesha semakin bersemu merah. Ia
seakan sudah salah berucap tadinya, sehingga membuat kedua orang tuanya salah
paham atas kata-katanya. Namun ia juga tidak bisa lagi memendam rasanya sendiri
semakin dalam terhadap Kavindra. Seakan butir-butir cinta yang sudah lama
tenggelam, kini muncul kembali dengan sangat indah. Hati Ayesha seakan
berbunga-bunga dikala mengingat wajah lelaki yang bernama Kavindra. Ayesha
kembali jatuh cinta pada lelaki yang pernah ia lupakan dulu. Dalam hati kecil Ayesha
mengatakan jika ia memang sudah menaruh hati padanya. Ia merasa sangat
membutuhkan orang seperti Kavindra dalam hidupnya. Ayesha merasa sangat
berhutang budi atas kebaikan Kavindra selama ini. Kavindra menyembunyikan
namanya selama ini karena ia benar-benar ikhlas membantu Ayesha bangkit dalam keterpurukannya.
“Aduhai jikalau saja saat ini kau menyampaikan lamaranmu
kepadaku, maka aku akan langsung mengatakan: “Iya!”
‘Ah,.. ya Rabbi ampuni hamba-Mu yang lemah iman ini.’
Desis hatinya bimbang.
***
“Hanya
engkaulah pelabuhan terakhirku. Kapalku telah usang berkelana hingga ke ujung
dunia untuk menemukan keindahan hatimu. Kamu adalah alasanku untuk tersenyum.”
[Tahajud Cinta, EPR]
TC 14
Dosenku Idolaku
Ayesha sedang di kantin bersama dengan Nadira. Mereka
lagi menunggu kuliah jam kedua. Saat sedang makan baksonya, terdengar gawainya
bergetar. Ayesha memang memode silent ponselnya
karena tadi sedang kuliah. Dan sekarang getarannya berulang-ulang, pertanda ada
panggilan masuk. Ayesha juga belum sempat membuka ponselnya dari tadi. Ayesha agak
lama mengangkatnya. Dia pikir siapa sih telepon terus, dari nomor tidak dikenal
lagi. Nadira yang lagi makan risih dengar HP Ayesha getar terus.
“Angkat itu Sha, risih aku dari tadi getar terus, makan
jadi nggak konsen. Siapa tahu penting.” gerutu Nadira.
“Sebentar, sekalian aku habisin.” ujar Ayesha.
Setelah selesai makan. Ayesha melihat riwayat lima
panggilan yang masuk ke gawainya. Ternyata nomor tak dikenal. Siapa ya ?!
“Kenapa ?” tanya Nadira. Ayesha lalu menunjukkan layar Ponsel-nya.
“Telepon balik aja, mana tahu penting itu orang, sudah
nelpon berulang kali,” saran Nadira. Belum juga Ayesha menjawab, ponsel-nya
berdering lagi. Ayesha langsung mengangkatnya.
Ayesha : (Assalamu’alaikum)
Kavindra : (Wa’alaikumsalam..
Sha, ini aku Kavin.. pakai
nomor kantor. Kamu dimana
?)
Ayesha : (ehm,,
baru di kantin pak).
Agak ragu Ayesha menjawabnya karena kaget dengan suara Kavindra
dan juga ia belum siap untuk menceritakan semuanya kepada Nadira tentang siapa Kavindra
alias pak Reza dosen favorite segenap
umat terkhusus mahasiswi kampus UHM.
Kavindra : (Bisa
ke ruangan saya sekarang)
Ayesha : (In sya Allah.. bisa pak)
Setelah selesai, Ayesha pamit ke Nadira untuk ke ruangan Pak Reza. Sampai didepan
ruangan, Ayesha mengucapkan salam, dia langsung diminta untuk masuk dan duduk dihadapan Pak Reza.
“Sha, kita kalau di kampus seperti biasa aja ya.. kamu
tetap panggil saya dengan sebutan Pak Reza biar sama dengan yang lain”
“Baik Pak..”
“Jangan kaku juga gitu dong..”
“Kalau sedang berdua begini nggak apa-apa kali ya, kamu
panggil saya Kavin.”
“Tapi, nanti kalau tiba-tiba ada yang dengar gimana ?”
“Ehm, iyaya juga ya”
“Saya setuju seperti saran yang bapak katakan tadi.”
“Okey. Oh iya, hari ini saya tidak bisa masuk kelas. Jadi
saya minta bantu kamu untuk memberi tugas kepada teman-teman ya ?”
“Kalau boleh tahu kenapa bapak nggak bisa masuk ?”
“Ehm, orang tua saya masuk rumah sakit”
“Innalillah..
siapa yang sakit?, Papa Jehan ? atau Mama Diana ?” tanya Ayesha panik.
“Papa, Sha”
“Ya Ampun Vin.. aku ikut prihatin ya.. semoga Papa lekas
sembuh.” Ucap Ayesha sedikit berteriak.
“Huusstt,” Kavindra menempelkan telunjuknya di bibir
sebagai tanda Ayesha tidak meninggikan suaranya agar tidak didengar orang lain.
‘Apa jangan-jangan yang dijenguk
Abi dan Umminya kemarin itu di rumah sakit, Papanya Kavin’ Batin Ayesha.
“Ya sudah, sekarang kamu masuk kelas dan ini soal kuis
yang harus kalian kerjakan.” Ucap Kavindra seraya memberikan tugas-tugas kepada
Ayesha.
“Baik Pak. Saya permisi. Assalamu’alaikum.” Pamit Ayesha sambil berlalu keluar ruangan
dosennya.
Di ruangan kelas. Semua mahasiswa sedang mengerjakan
tugas kuis yang baru diberikan oleh pak Reza melalui Ayesha.
“Sha, emangnya pak Reza kemana ya?,” celetuk Mila.
“Ehm, beliau katanya sedang ada urusan mendadak,” jawab Ayesha
seadanya.
“Yaah, jadi nggak semangat dech hari ini,” tambah Nada.
“Kenapa lo, Nad,” lanjut Nadira.
“Yaelah.. si Dira kagak paham, mana ada semangat kita-kita..
kalau dosen paling guanteeng sejagad raya tidak hadir sehari saja,” Jawab Mila
seenaknya. Lantas tertawa. Entah kenapa Ayesha begitu cemburu mendengar
komentar itu. Ia jadi heran sendiri kenapa akhir-akhir ini sering kepikiran Kavindra
dan timbul rasa cemburu disaat ada wanita lain yang lebih perhatian terhadap Kavindra.
Ayesha cepat-cepat menyingkirkan perasaannya.
***
“Hei, kamu melamun?,” Tanya Nadira mengagetkan Ayesha.
“Eh, iya kenapa Ra”
“Kamu kenapa sih ?”
“Ah, enggak kok, nggak kenapa-napa.”
“Kamu kok sering banget dipanggil Pak Reza sih Sha?”
tanya Nadira saat mereka berjalan menuju tempat parkir.
“Masa sih, kayak biasa saja”
“Tapi... kalau aku liat, beneran deh. Kayak ada sesuatu
dimata pak Reza terhadap kamu, Sha.”
“Perasaan kamu aja kali”
“Tapi nggak pernah gitu diajak ngobrol-ngobrol apa ?”
“Pernah,” jawab Ayesha jujur.
“Tentang apa ?”
“Ya macam-macam”
“Yang jelas sih Sha” Desak Nadira.
“Sudah ah, ayo pulang” ajak Ayesha.
***
Setelah mampir sebentar di kampus UHM untuk menunaikan
tugasnya sebagai dosen sekaligus juga dapat melepaskan rasa rindunya kepada
seseorang, Kavindra kembali ke rumah sakit untuk menjenguk Papanya tercinta. Disana
terlihat seorang wanita paruh baya yang sedang menyuapi makan suaminya tercinta
yang terlihat masih terbaring lemah.
“Gimana kabarnya hari ini Pa ?,” tanya Kavindra singkat
lalu mencium punggung tangan Pak Jehan. Dilanjutkan mencium pula punggung
wanita yang disampingnya.
“Alhamdulillah,
sudah lumanyan dari kemarin,” jawab Pak Jehan lesu.
“Papa harus semangat ya Pa, nggak usah mikir yang
macem-macem. Untuk saat ini yang harus papa pikirkan kesehatan papa.” Ucap Kavindra.
“Kamu nggak ngajar hari ini Vin, atau ke kantor ?,” tanya
Diana.
“Nggak Ma, aku mau jagain papa aja hari ini. Tadi pagi-pagi
ke kampus bentar buat ngasih kuis untuk mahasiswa. Dan di kantor sudah aku
suruh handle sama Riko sekretarisku.”
Jelas Kavindra.
“Ehmm.. kamu nggak kangen tuh, kalau nggak ke kampus..?
katanya ada bidadari cantik di sana..” Ledek Diana.
“Iihh, Mama bisa aja deh. Mohon doanya ya Mah, semoga Ayesha
bisa membuka hatinya untuk aku.”
“Kamu usahanya dong yang lebih kuat lagi. Mama dan Papa
akan bantu doanya sayang..”
“Iya Mah, pasti lah.. In
sya Allah”
Pak Jehan tersenyum bahagia mendengar percakapan antara
anak dan ibunya tersebut. Seakan telah men-charger
kembali kesehatannya bahkan semakin membaik dari biasanya. Pak Jehan sangat
menginginkan agar Kavindra segera menikah dan jika boleh memilih jodohnya
adalah Ayesha. Namun dalam hal ini Pak Jehan dan keluarga tidak akan mengulangi
kesalahan yang sama lagi seperti yang pernah terjadi kepada Gilang kakaknya.
***
“Dalam
diam, aku memperjuangkan cintamu dalam doaku. Ketika Allah menginginkan dua
hati bersatu, Dia akan menggerakkan keduanya, bukan hanya satu. Susah bagimu,
tapi mudah bagi Allah.”
[Tahajud
Cinta, EPR]
TC 15
Surat
Cinta
Perempuan itu menatap ponsel yang baru saja berdering.
Pertanda ada pesan masuk.
“Ayesha, tolong bukakan pintu rumahmu. Disana ada sebuah amplop berwarna
putih. Tolong bacakan segera isi suratnya. Terimakasih.”
Ayesha sangat penasaran dengan surat yang dimaksud. Dengan
penuh penasaran dan perasaan harap-harap cemas ia membukakan pintu rumah dan
mengambil amplop tersebut lalu kembali ke kamar dan membaca isinya.
Kepada
Sang Bidadari Hati (Ayesha Kirana
Mikayla)
Assalamualaikum Ayesha..
Doaku mengawali isi surat ini, semoga yang menulis surat
ini dan yang membaca surat ini diampuni dosa-dosanya oleh Allah ‘Azza wa Jalla.
Jika mengharapkan cinta seseorang adalah berdosa semoga diampuni oleh Allah
‘Azza wa Jalla. Jika menulis surat demi cinta adalah dosa maka semoga Allah
‘Azza wa Jalla mengampuni orang yang menulisnya. Sebelumnya aku minta maaf
telah lancang mengutarakan isi hatiku.. Jujur aku tidak bisa melupakanmu dari
dulu sampai detik ini.. Maka dari itu aku justru lebih memilih kuliah di luar
negeri untuk benar-benar menjauhimu. Ragaku memang jauh denganmu tapi jiwa dan
hatiku tetap dan selalu bersamamu. Akhirnya aku kembali hanya untuk dapat
selalu melihat dirimu.. melihat senyummu, tawa dan keceriaanmu. Kebahagiaanmu
merupakan motivasi dalam hidupku. Hatiku padamu masih sama seperti dulu. Dalam doaku
selalu namamu yang kusebut agar kau selalu diberikan kebahagiaan bersamanya.
Namun, saat ku tahu engkau sudah sendirian seperti saat
ini, seakan jiwaku meronta untuk segera memilikimu, menjagamu serta menghiburmu
setiap saat. Dalam sujud tahajudku selalu namamu yang kupinta, agar engkau
kelak menjadi bidadariku di dunia dan akhirat. Sungguh, aku tak bisa
melupakanmu Ayesha... Aku pernah mencoba membuka hatiku untuk wanita lain, tapi
itu percuma Ayesha, ikatan tanpa cinta akan menyakitkan salah satunya. Maka
dari itu..
Izinkan aku untuk menjadi penggantinya.
Izinkan aku agar terus menatap dan melindungimu.
Izinkan aku selalu bisa membuatmu bahagia.
Izinkan aku menjadi teman curhatmu dikala suka maupun
duka.
Izinkan aku untuk segera menghalalkanmu.
Izinkan aku menjadikanmu kekasih halalku.
Jika kamu setuju
aku tunggu balasan pesan Whatshapp-mu. Terimakasih.
Dari yang selalu mendoakanmu disetiap sujud Tahajudnya
(Kavindra Syahreza Putra Pratama, S.E., M.B.A.)
Tubuh Ayesha bergetar hebat. Rasa cinta dan damba pada Kavindra
nyaris pupus kala itu, kini kembali bertunas bahkan kembali mekar berseri-seri.
Wajah Kavindra yang begitu tulus kepadanya terbayang di pelupuk matanya.
Kata-kata Kavindra dalam suratnya terngiang-ngiang kembali.
Izinkan aku untuk menjadi penggantinya.
Izinkan aku agar terus menatap dan melindungimu.
Izinkan aku selalu bisa membuatmu bahagia.
Izinkan aku menjadi teman curhatmu dikala suka maupun
duka.
Izinkan aku untuk segera menghalalkanmu.
Izinkan aku menjadikanmu kekasih halalku.
Ayesha goyah. Hatinya oleng. Ia kembali terbayang-bayang
wajah dan kata-kata Kavindra dalam suratnya itu. Detak jantung Ayesha berpacu
semakin cepat saat membaca nama pengirimnya itu. Dialah dosenku yang kukagumi karena
akhlaknya, dan dia adalah Kavindra cinta pertamaku dulu.. dia adik dari mantan suamiku..
ya Allah... ya Allah... takdir telah mempertemukanku lagi dengannya. Aku gak
percaya ya Tuhan.. buliran bening dari bola matanya segera meluncur satu persatu
tanpa harus di komando. Matanya berkunang-kunang, kepalanya seakan menanggung
beban yang sangat berat. Bibirnya terkatup rapat. Suaranya seolah tertahan di
kerongkongan. Menikah lagi? Dengannya? Ayesha sangat galau dengan isi surat
tersebut. Bahkan ia tak pernah sedikitpun berfikiran untuk menikah lagi dengan Kavindra.
Karena Kavindra merupakan adik iparnya. Baginya Kavindra itu adalah masa
lalunya. Ia benar-benar seperti orang linglung yang tak tahu arah pulang.
Apalagi saat ia mengetahui semuanya. Pengagum rahasianya dan dosennya itu
adalah orang yang sama yaitu Kavindra orang yang sangat ia cintai sejak dulu. Jauh
di lubuk hati Ayesha masih tersimpan nama Kavindra. Namun saat menikah dengan
Gilang, ia berusaha menjadi istri yang baik dan shaleha yang hanya menjadikan
satu-satunya nama suami di hatinya. Disaat Ayesha mencoba membuka hatinya
kembali, disaat itu pula Kavindra kembali muncul. Dan benih-benih cinta yang
dulunya terhalang kembali mekar tumbuh indah berseri. Mereka dipertemukan kembali
disaat waktu yang tepat.
***
“Assalamu’alaikum, boleh
duduk disini?”
Ayesha yang sedang membuka gawainya lantas mendongakkan
kepalanya, melihat siapa yang menyapanya. Matanya mengernyit begitu melihat
sosok laki-laki dihadapannya. Siapa? dia mencoba berpikir sepertinya tidak
mengenal pria ini.
“Wa’alaikumsalam. Siapa
ya?” Akhirnya Ayesha pun menanyakan nama orang itu.
“Boleh aku duduk dulu?” tanyanya sebelum menjawab
pertanyaan Ayesha. Ayesha pun menoleh ke Nadira yang baru datang membawa dua
mangkok bakso. Nadira pun mengangguk menyatakan persetujuannya. Yah, mereka, Ayesha
dan Nadira sedang ada di kantin. Mereka menunggu kuliah jam kedua yang masih
satu jam lagi.
“Boleh, silahkan” kata Ayesha akhirnya.
“Kenalin, aku Rendy. Anak Teknik Sipil”
Laki-laki itu mengenalkan dirinya.
“Kamu pasti yang namanya Ayesha kan?” dia bertanya ke Ayesha
untuk memastikan kebenarannya.
“Iya benar. Kamu ...”
“Iyyap. Aku cowok yang sering whatshapp kamu” lanjut laki-laki bernama Rendy, sebelum Ayesha melanjutkan
pembicaraannya.
Ayesha pun ingat, laki-laki yang sering WA dirinya, dan
belum pernah dia jawab. Ya, Ayesha memang tidak pernah membalas chat siapapun yang nomornya tidak dia
kenali. Ayesha sendiri belum sekalipun bertemu dengannya. Tapi.... dari mana
dia tahu nomornya?
“Pasti kamu nggak tahu kan? Atau penasaran aku dapat
nomor kamu dari mana?”
“Iya, kamu dapat nomor ponsel ku dari siapa?” Ayesha pun akhirnya bertanya.
“Waktu itu kamu pakai jaket akuntansi, dan aku tahu warna
jaketmu sama dengan temanku yang kuliah disini.”
“Siapa temanmu itu?”
“Dimas, kamu kenal kan?”
“Oh iya kenal, kemarin sudah cerita juga kan ya. Tapi kenapa
Dimas bisa memberi tahu nomorku padamu?” Ayesha masih saja penasaran.
“Ehmm... waktu kamu jalan bersama temanmu, kalau nggak
salah kalian berhenti disebuah Apotek, saat itu aku sedang jalan pulang dan
diam-diam aku ngambil gambarmu. Lantas aku nampain ke Dimas. Sekalian aku minta
nomor kontakmu, Maaf ya nggak ijin.” Ayesha hanya mengangguk, sekilas mengingat-ingat
saat ia ke Apotek bersama Nadira untuk membeli obat sakit perut temannya itu.
Bingung harus bagaimana. Apa iya minta untuk dihapus?
“Eh, maaf Ren, kenapa kamu sampai kesini?”
“Ya nekat aja, lagian setiap aku WA nggak pernah kamu
balas,” Rendy memberikan alasannya.
“Maaf” balas Ayesha lirih.
“Iya, nggak apa-apa. Santai aja.”
“Ehm, Sha aku ingin kenal lebih dekat sama kamu.” Nadira
yang mendengar langsung berdehem, dan tidak lama ijin untuk pesan makanan yang
lainnya. Walau sebenarnya dia sedang memberikan kesempatan untuk Ayesha bicara
dengan Rendy. Nadira tahu pasti Ayesha akan marah, karena membiarkannya bicara
berdua dengan laki-laki. Tapi karena sudah bersifat pribadi, dia memilih undur
diri dan duduk tidak jauh dari tempat duduk Ayesha. Ayesha yang awalnya
menolak, akhirnya bisa mengerti, setelah Nadira duduk tidak jauh darinya.
“Maksudnya?” Ayesha menanyakan ke Rendy maksud dari
perkataannya.
“Terus terang, aku suka kamu sejak pertama kali melihatmu.”
Pernyataan Rendy benar-benar membuatnya kaget. Dan tidak menyangka. Padahal ini
baru pertama kalinya ia bertemu.
“Tapi Ren..?” Ayesha memberanikan diri untuk memanggil
namanya.
“Kamu kaget ya? Aku memang nekat. Baru sekali saja ketemu
sama kamu. Langsung bilang suka sama kamu. Sorry.”
Ayesha tampak menghela nafasnya. Ayesha bingung harus
ngomong apa.
“Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang. Aku beri kamu
waktu. Kita bisa saling mengenal dulu.” Sambungnya. Wahh, Aku tidak boleh memberi harapan padanya. Ini tidak boleh terjadi.
Lagian ia belum tahu tentang statusku. Batinnya. Ayesha memberanikan diri
untuk bicara, sebelum Rendy merasa Ayesha memberi harapan besar padanya.
“Sebelumnya aku minta maaf. Aku hargai rasa sukamu
padaku. Tapi maaf aku tidak bisa membalas rasa itu.”
“Tapi kamu tidak harus menjawab sekarang, dan kita bisa
mengenal satu sama lain terlebih dahulu, Sha,” Rendy masih saja mengejarnya.
“Tapi aku nggak bisa Ren, kalau kamu mau kita bisa
berteman saja ya. Hanya sebatas teman,” Tegas Ayesha.
“Tapi kenapa, Sha? Apa alasannya?”
“Aku tidak bisa memberitahumu. Tapi yang jelas, aku tidak
bisa menjalin hubungan lebih denganmu kecuali hanya sebatas teman. Maaf.” Tampak
Rendy menghela nafasnya, kemudian melanjutkan bicaranya pada Ayesha.
“Ya sudah, aku hargai keputusanmu. Tapi kamu masih mau
kan berteman denganku?”
“Masih Ren, kita tetap berteman ya”
“Ya sudah kalau begitu aku permisi dulu.
“Assalamu’alaikum,”
pamitnya.
“Wa’alaikumsalam”
Setelah itu, Rendy pun berdiri dan mengambil motornya
diparkiran kampus.
***
Sudah dua hari Kavindra tidak ke kampus. Ke kantor pun
hanya sekedar singgah saja sekedar menitipkan berkas dan pesan kepada Riko
sekretarisnya. Kebetulan jalan menuju ke rumah sakit tempat papanya dirawat
melewati kantornya. Sedangkan ke kampus harus membutuhkan waktu lebih kurang
sembilan jam perjalanan melalui jalan tol (Jakarta-Yogyakarta). Kavindra benar-benar
serius merawat papanya. Setelah ia berhasil menghubungi dokter yang terbaik di
Indonesia, kesehatan papanya berangsur kembali membaik dari semula. Sesampai di
rumah sakit seperti biasa Kavindra langsung masuk ke ruangan VVIP Kelas I yaitu
ruang rawat Pak Jehan Pratama.
“Gimana keadaan Papa?” Tanya Kavindra pada papanya.
“Seperti yang kamu lihat Vin papa semakin merasa lebih enakan” Jawab Pak
Jehan dengan senyum yang mengembang. “Alhamdulillah
Pa.. Kavin seneng banget dengarnya” ucap Kavindra lega.
“Kamu nggak masuk kantor sayang?” Tanya Diana.
“Tadi mampir sebentar Ma. Sekalian aku kasih Flashdisk untuk bahan presentasiku ke Riko
buat meeting sama klien jam dua nanti” Jelas Kavindra ke
Mamanya.
Diana hanya mengangguk saja.
“Tok..tok....
Permisi,” Sapa Dokter.
“Silahkan Dok..,” Jawab Diana.
“Ijin Ibu, Mas.. saya periksa Bapak ?”
Diana dan Kavindra mengangguk berbarengan.
“Gimana kondisi Papa saya Dok?” Tanya Kavindra.
“Alhamdulillah
Mas, sudah baikan. Hanya butuh istirahat saja dan jangan banyak pikiran” Jawab Dokter.
“Bapak.. obatnya diminum dengan rutin ya?” Lanjut Dokter
memperingatkan Pak Jehan pasiennya. Dan Pak Jehan hanya mengangguk saja.
“Lalu kapan saya bisa pulang, Dok ?” Tanya Pak Jehan. “Hari
ini sudah boleh pak, yang penting ingat pesan saya, istirahat yang cukup,
jangan banyak pikiran dan minum obat yang teratur” Jelas Dokter dengan ramah.
“Kalau begitu saya permisi Bapak, Ibu, Mas” Lanjut Dokter
kembali.
“Baik Dok, Terimakasih banyak”
***
Hari ini Ayesha sengaja berangkat lebih pagi. Dia ingin
ke perpustakaan dulu sebelum kuliah dimulai. Ayesha berangkat pukul enam tiga
puluh agar bisa masuk awal ke perpustakaan, maksudnya biar bukunya masih
banyak, dan setelah itu lanjut kuliah di jam sepuluh. Sampai di perpustakaan, suasana
masih sepi. Hanya ada beberapa mahasiswa yang mulai memilih buku untuk dibaca. Ayesha
pun segera menitipkan tasnya, tidak lupa membawa laptop dan buku tulisnya.
Ayesha mulai mencari buku-buku untuk referensi kuliahnya.
Semester enam ini, Ayesha mengambil mata kuliah metodologi penelitian, dimana
mahasiswa membuat semacam proposal penelitian yang berisi tiga bab, mulai dari
bab pendahuluan, berisi tentang latar belakang permasalahan, tujuan penelitian
dan manfaat penelitian, bab dua berisi landasan teori dan bab tiga tentang
metode penelitian. Ayesha ingat apa yang dikatakan dosennya, walaupun ini masih
kuliah metodologi penelitian, tapi kerjakan seolah ini akan menjadi proposal
skripsi besok. Jika proposalnya bagus, bisa dilanjut untuk diajukan menjadi
skripsi. Jadi besok tidak memerlukan waktu lebih lama karena tidak mengulang
dari awal lagi. Hal ini yang membuat Ayesha bersemangat untuk mengerjakannya
dengan sungguh-sungguh. Ayesha sendiri saat ini sedang mencari buku untuk
melengkapi landasan teori yang akan digunakannya. Sudah lima buku yang sudah dibawa
Ayesha ke mejanya. Setelah meletakkan buku-bukunya, Ayesha mulai membuka
bukunya sembari mengetik ke laptopnya. Saat sedang berkonsentrasi membaca
bukunya, terdengar suara deheman di depannya. Ayesha pun mendongak untuk
melihat, Ayesha kaget sekali.
“Assalamu’alaikum”
kata Dimas sambil duduk didepan Ayesha.
“Wa’alaikumsalam”
jawab Ayesha.
“Boleh duduk disini? Ganggu nggak kira-kira ?” Tanya
Dimas
Jelas ganggu lah Dim, tapi ya mau
gimana lagi. Apa ya harus ngusir?
“Eh, nggak apa-apa Dim, silahkan duduk aja”
“Kamu lagi cari buku apa?”
“Ini Dim, lagi cari buku tentang manajemen keuangan, tapi
kayaknya sudah keduluan yang lainnya”
“Untuk bahan mata kuliah apa?”
“Metodologi Penelitian”
Dimas pun terlihat menganggukkan kepalanya.
“Rajin banget sih mahasiswi yang satu ini”
“Pa-an sih, Dim.. biasa saja kali”
“Eh, Sha.. ngomong-ngomong sorry ya..?”
“Untuk apa?”
“Aku nggak ijin kamu kalau sudah ngasih nomor HP mu ke
Rendy”
“Iya, nggak apa-apa. Lagian kan sudah terlanjur juga”
Jawab Ayesha sambil tertawa.
“Kemarin Rendy ke sini ya?”
“Iya, kok kamu tau ?”
“Memang nekat itu anak. Sudah aku bilang lho Sha, nggak
usah main-main kalau sama Ayesha, saingannya berat”
“Heh... maksudnya apa ?! saingan.... saingan apa?”
“Lhah kan emang berat saingannya Rendy, perlu aku
sebutkan”
“Siapa?”
“Pak Reza”
Ayesha membelalakkan matanya, kaget.
“Kok bisa kamu bilang Pak Reza ?”
“Ya bisa lah Sha, kayaknya Pak Reza naksir sama kamu”
Sebenarnya aku juga sempat naksir
ke kamu Sha, tapi setelah dilihat-lihat saingannya Pak Reza, aku lebih baik
mundur. Berat saingannya. Batin Dimas.
“Ck... nggak usah macam-macam. Dari mana kamu tahu kalau
Pak Reza naksir sama aku?”
“Ya taulah Sha, aku kan juga cowok. Sesama laki-laki itu
tau lagi Sha, mana yang suka atau nggak. Coba aja dibandingin, kalau lagi
diskusi, gimana respon Pak Reza ke Mila dan kamu, beda Sha, pandangan matanya
kelihatan. Terus saat kamu lagi ngobrol sama cowok lain Pak Reza nampak tuh
cemburunya. Tapi kalau nggak, ya nggak papa. Nggak usah kamu masukin ke hati
ya.. Ntar baper lagi kamunya. Hahaaha”
Dimas tertawa terbahak-bahak. Ayesha pun mendelik tajam ke Dimas yang
mengejeknya. Wajah Ayesha bersemu merah seketika.
“Sorry-sorry
Sha, bercanda.. tu kan mukanya merah.. Lagian kalau beneran beliau suka sama
kamu kan bersyukur tuh Sha. Aku yakin beliau itu orang yang sangat baik, santun
pula akhlaknya dan sudah pasti kamu nggak mungkin diajak main-main, pasti
langsung dinikahinya.”
“Btw.. Pak Reza kemana ya, kok sudah tiga hari nggak
masuk..”
“Yah.. mana kutau. Aku kan sama juga kayak kamu.”
Sebenarnya Ayesha juga bertanya-tanya kenapa Pak Reza
nggak ada kabar apapun setelah mengirimi pesan WA dan surat kepadanya. Sampai
saat ini belum ia balas. Seingatnya setelah hari itu, beliau juga tidak miscall-miscall lagi disepertiga malam
sebagai pengingat tahajud-nya.
“Oh iya, kemarin kamu nolak Rendy ya ?”
Dimas mengalihkan pembicaraannya. Akhirnya Ayesha lega
karena Dimas nggak ngebahas-bahas lagi tentang Pak Reza.
“Kok kamu tau?” Ayesha pun bertanya.
“Kemarin dia cerita, katanya ada hal dari kamu yang tidak
bisa nerima dia”
“Tapi Rendy nggak apa-apa kan Dim?” Ayesha akhirnya
bertanya, khawatir jika penolakannya kemarin memberikan akibat buruk.
“Ya pas pulang dari sini, kelihatan banget kecewanya.
Tapi kan sejak awal sudah aku kasi tau tentang kamu, yang nggak mau pacaran
begitu. Jadi pas kemarin kamu tolak, dia bisa nerima. Ya butuh waktu sih, tapi
aku yakin, dia bisa.”
“Maaf ya Dim, sudah membuat temanmu tidak nyaman”
“Santai aja Sha, nggak apa-apa”
“Ya sudah, kalau gitu kamu lanjut saja nyari bukunya. Aku
duluan ya mau ke kantin. Laper. Belum sarapan nih.”
Setelah Dimas keluar dari perpustakaan, Ayesha kembali melanjutkan kegiatannya sebelum
waktunya masuk kelas.
***
“Mencintaimu
dalam diam dan doa adalah caraku untuk memintamu kepada Allah. Ku titipkan
cinta ini hanya pada-Mu, jagalah hatiku dan hatinya dari rasa kecewa, hingga
waktu itu tiba. Persatukanlah kami dalam restu dan Ridho-Mu”
[Tahajud
Cinta, EPR]
TC 16
Khitbah
Setelah melewati hari yang melelahkan seharian penuh,
akhirnya Ayesha bisa beristirahat lega di kamar kesayangannya. Seketika
ingatannya kembali kekata-kata yang pernah Dimas ucapkan tadi pagi di ruang
perpustakaan. Dan Ayesha mengambil benda pipih miliknya yang berada diatas
nakas. Ia kembali membuka pesan yang pernah ia terima tiga lalu.
‘Apa yang
harus aku jawab’
Ceklek !
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Nampak Umminya Ayesha di
pintu.
“Sayang.. kamu sudah pulang ?”
“Eh, Ummi... kenapa, Mi ?”
“Tumben telat pulang.. hampir maghrib gini..”
“Iya Mi, tadi banyak tugas di kampus”
“Kamu melamun ya..? kenapa ? cerita ke Ummi”
“Ehm... Ayesha bingung Mi”
“Bingung kenapa ?”
Lantas Ayesha menunjukkan pesan WA yang sedang dibacanya
tadi.. serta surat yang pernah dikirimi Kavindra kepadanya. Lalu Indah
membacanya dengan seksama pesan WA dan suratnya.
“Pengagum Rahasia ?” Tanya Indah bingung.
“Iya Ummi.. pengagum rahasianya itu ternyata Kavin.”
Jelas Ayesha.
“Lantas surat ini ?” tanya Indah lagi.
“Iya... dari Kavin juga” Jawab Ayesha
“Lalu apa yang kamu bingungkan sayang.. bukannya kamu
juga menaruh hati padanya..”
“Iya sih, Mi.. tapii...”
“Tapi kenapa Nduk.. kamu harus segera memutuskan siapa
yang kamu pilih untuk menjadi pendamping hidupmu. Jika Abi hitung dalam dua tahun ini sudah lima kali kamu menolak
lamaran. Dan lamaran itu tidak dari orang sembarangan.” Jawab Hermawan tiba-tiba
muncul didepan pintu kamar Ayesha.
“Abi disini ? sejak kapan ?”
“Sejak kalian membahas surat dan pesan dari pengagum
rahasia.. saking seriusnya sampai-sampai nggak sadar ada Abi disini. Abi pikir
kemana ini rumah kok sepi.” Jelas Abi terkekeh.
“Sayang bagaimana pun kamu harus tetap melanjutkan
hidupmu bersama pasangan yang kamu cintai. Kamu masih muda.. cantik.. pintar
lagi.. putri kesayangan Ummi” Bujuk Indah sambil memeluk wajah sendu putrinya.
“Tadi malam ada seseorang yang datang lagi untuk
melamarmu. Abi kenal baik dengannya. Dia lulusan pesantren. Tapi untuk kali ini
keputusan ada di tanganmu, Nduk. Sebab engkau sudah besar, sudah berpendidikan,”
Ucap Hermawan sambil duduk tepat disamping Ayesha.
Ayesha merasa sangat bersyukur, dengan kejadian yang
pernah ia jalani beberapa waktu silam, membuat kedua orang tuanya menjadi lebih
bijak dalam memilih pasangan hidupnya, lebih sabar, demokratis dan sangat
terbuka sekarang ini. Terimakasih ya Allah.. ternyata dibalik musibah pasti ada
hikmahnya.
“Sekarang.. kamu bersih-bersih dulu. Ummi dan Abi
menunggu di ruang mushalla ya.. kita shalat maghrib berjamaah.” Cuaca diluar
sana hujan begitu deras dan suara petir sangat keras. Sehingga membuat pak Hermawan
melaksanakan shalat maghrib di rumah saja. Biasanya beliau selalu berjamaah ke
mesjid yang berjarak sekitar dua kilometer dari rumahnya.
***
Ayesha tersadar dari lamunannya. Waktu terus berjalan.
“Bisa jadi keraguan itu datangnya dari setan yang tidak
menginginkan kebaikan pada ummat manusia.” Ayesha berdiri. Melangkah ke arah
cermin dan memandang wajahnya sendiri. Ia lalu berseru pada wajah yang ada di
cermin, “Ayesha, kamu harus mantap! Kamu tidak boleh ada keraguan apa lagi
mundur. Bukankah Kavindra adalah cinta pertamamu? bukankah kamu juga
mendambakannya? kamu sudah jatuh cinta kedua kali pada orang yang sama. Apa
lagi yang kamu cari? move on Ayesha?
jangan sia-siakan orang sebaik Kavindra yang telah mengangkatmu dari
keterpurukan. Kavindra ikhlas menerimamu apa adanya? Kalau kamu mencari manusia
yang sempurna, kamu tidak akan mendapatkannya diatas muka bumi ini! Semua ummat
manusia memiliki aib, kekurangan, salah
dan dosa-dosa! Tak ada yang sempurna. Ayesha, kamu harus yakin keputusanmu menaruh
hati padanya sudah benar!
Seketika Ayesha mengambil ponselnya, lalu mengirim pesan
sesuatu.
***
Setelah menunaikan shalat subuh. Seperti biasa Ayesha membantu
Umminya memasak. Kebetulan hari Sabtu Ayesha agak santai karena jadwal
kuliahnya di mulai jam sepuluh. Abi juga
tidak masuk kantor. Ayesha meminta pendapat dan nasehat dari orang tuanya. Ia
telah menjawab dan membalas chat WA dari Kavindra. Bahwa ia telah menerima
pinangan Kavindra. Abi dan Umminya kelihatan sangat lega dan bahagia atas
keputusan mantap yang telah diambil putrinya. Kemudian Hermawan dan Indah
Lestari menceritakan semua tentang Kavindra yang benar-benar ingin mendapatkan Ayesha
kembali. Jadi keduanya sudah lebih dahulu mengetahui itu semua, jauh sebelum Kavindra
mengajar di kampusnya Ayesha. Kavindra pula yang menyarankan ke Hermawan dan
Indah agar Ayesha dapat melanjutkan kuliahnya lagi di kampus yang baru ia
dirikan itu yaitu Universitas Hijau Muda (UHM) dan kampus tersebut adalah
miliknya Kavindra Syahreza Putra Pratama.
Suatu malam Kavindra mengajak kesebuah restoran untuk
mengadakan pertemuan antara Hermawan, Indah, Diana dan Jehan Pratama. Ia
menceritakan semuanya kepada mereka tentang hubungannya dengan Ayesha sewaktu
mereka masih SMA dan perasaannya terhadap Ayesha dari dulu sampai sekarang
belumlah berubah. Namun Kavindra tidak egois dalam hal perasaan, ia berusaha
mendekati Ayesha dengan caranya sendiri, secara natural, dan membuat Ayesha bisa
kembali jatuh cinta kepadanya. Kavindra akan sabar menanti Ayesha sampai
kapanpun. Kavindra kembali mendekati Ayesha dengan cara menjadi dosen di kampusnya.
Dan itu semua telah disetujui oleh Hermawan dan Indah beserta Diana dan Jehan. Dua
keluarga tersebut menginginkan tetap menjalin hubungan keluarga. Tetapi mereka
tidak mau terulang lagi kesalahan yang sama seperti dulu. Mereka percaya kepada
anak-anaknya dalam menata masa depan yang indah.
Kavindra sengaja membangun kampus di kota kelahiran Ayesha
yaitu Yogyakarta agar sewaktu-waktu
dapat berkunjung ke rumah Ayesha dan keluarganya. Kavindra juga tak menyangka
ternyata takdir memihak kepadanya untuk menyatukan kembali Ayesha dengan Kavindra.
Keluarga Pratama kembali ingin mengkhitbah Ayesha untuk Kavindra. Apalagi
setelah Kavindra menceritakan masa lalunya dengan Ayesha yang ternyata mereka
saling mencintai satu sama lain dan cinta mereka sangat terjaga sampai saat ini
tanpa ternodai.
***
Sore itu dengan pembacaan surat Al Fatihah ikatan
pertunangan Ayesha Kirana Mikayla dengan Kavindra Syahreza Putra Pratama resmi
sudah. Peristiwa itu disaksikan oleh tokoh-tokoh terpenting dari dua keluarga
dan para pemuka agama di masyarakat daerah tersebut. Ayesha tampak anggun dengan balutan jilbab dan jubah panjangnya
berwarna biru muda. Kecantikannya dipuji oleh keluarga Kavindra. Diana
Syahputri, Mamanya Kavindra, yang tergolong wanita yang tidak mudah memuji
kecantikan orang orang lain, saat itu tidak mampu untuk menahan pujiannya. Ayesha
semakin cantik dan dewasa. Cantik parasnya dan juga cantik akhlaknya.
“Pa, calon menantu kita ini kecantikannya sungguh alami ya.”
Bisik Bu Diana kepada Pak Jehan, suaminya. Padahal Ayesha juga pernah menjadi
menantunya dulu. Tapi Diana sungguh terpesona dengan wajah dan akhlaknya Ayesha.
Pak Jehan Pratama mengangguk pelan.
Kavindra tampak gagah dengan koko biru tuanya. Jika disandingkan
dengan Ayesha pastilah pakaian keduanya akan tampak sangat serasi. Sore itu Kavindra
mampu menghipnotis seluruh anggota keluarganya tidak terkecuali Ayesha. Sungguh
sangat gagah dan tampan.
“Padahal tidak ada kesepakatan kok baju Ayesha dan Nak Kavin
bisa serasi ya.” Seru Pak Hermawan sambil tersenyum.
“Ini namanya benar-benar jodoh Pak Hermawan,” Sahut Bu
Diana.
“Sudah ada kontak batin yang memadukan, bukankah begitu Kavin?”
Sambung Pak Jehan sambil melirik Kavindra. Kavindra hanya tersenyum. Ayesha menunduk
memandang lantai. Kalimat-kalimat itu semakin meneguhkan keyakinannya bahwa
inilah sejarah hidupnya. Bahwa Kavindra adalah bagian dari sejarah masa
depannya.
“Oh iya, Pak Jehan sudah sehat kembali ya?” tanya Pak
Hermawan.
“Alhamdulillah
Pak Hermawan. Saya sudah sehat kembali seperti sediakala. Apalagi ketika saya
mendengar berita bahagia ini, seakan saya melupakan semua rasa sakit yang
dahulu.” Jawab Pak Jehan panjang lebar sambil terkekeh-kekeh.
“Alhamdulillah”
Semuanya tertawa bahagia.
Sore itu juga disepakati hari, waktu dan tempat akad
nikah. Setelah dialog penuh kehangatan tercapai kesepakatan bahwa akad dan
pesta walimahan diadakan di daerah tempat kelahiran Ayesha. Sementara di
Jakarta hanya acara semacam syukuran yang diadakan disebuah hotel berbintang. Yang
menarik sebelum hari akad dan walimahan disepakati, Ayesha Kirana Mikayla
mengajukan syarat kepada Kavindra jika tetap ingin menikahinya. Ayesha belajar
dari pengalaman sebelumnya. Ia tidak mau hal tersebut terulang lagi kepadanya.
Karena hal itu membuat ia sungguh sakit dan tidak sanggup menjalaninya lagi. Ayesha
sadar ia hanya wanita biasa yang lemah iman.
“Saya punya syarat yang syarat ini menjadi bagian dari
sahnya akad nikah. Artinya farji saya halal diantaranya jika syarat saya ini dipenuhi
oleh Mas Kavin.” Kata Ayesha di majelis musyawarah itu. Dan itu pertama kali ia
menyebut kata ‘Mas’ untuk Kavindra.
“Apa syaratnya?” Tanya Kavindra.
“Saya mau dinikahi dengan syarat selama saya hidup dan
saya masih bisa menunaikan kewajiban saya sebagai istri Mas Kavin tidak boleh
menikah dengan perempuan lain!" Dengan tegas Ayesha menjelaskan syarat
yang diinginkannya.
Kalimat yang diucapkan itu cukup membuat kaget Kavindra dan
keluarganya. Kavindra menyetujui syarat yang diajukan oleh Ayesha. Kavindra sangat
mengerti akan permintaan Ayesha. Dan Kavindra juga pernah membaca sebuah kitab
Al Mughni karya Ibnu Qudamah juz ke -7 halaman 93.
Imam Ibnu Qudamah ketika berbicara tentang syarat dalam
nikah sebagaimana termaktub dalam kitab Al Mughni : Yang wajib dipenuhi adalah syarat yang manfaat dan faidahnya kembali
kepada isteri. Misalnya sang suami tidak akan mengeluarkannya dari rumahnya atau
dari kampungnya, tidak bepergian dengan membawanya atau tidak akan menikah
atasnya. Syarat seperti ini wajib ditepati oleh suami untuk isteri, jika suami
tidak menepati maka isteri berhak minta dihapuskan nikahnya. Hal seperti ini
diriwayatkan dari Umar bin Khattab ra, dan Saad bin Abi Waqqash, Mu'awiyah, dan
Amru bin Ash ra. Hal ini juga difatwakan oleh Umar bin Abdul Aziz, Jabir bin
Zaid, Thawus, Auzai dan Ishaq.'
Kavindra dan keluarganya sangat paham akan perasaan Ayesha.
Selain syarat tersebut merupakan syarat yang menjadi sebab akad nikah yang
harus dipenuhi sesuai permintaan Ayesha. Namun dalam hal itu para ulama juga
banyak yang memilih pendapat bahwa perempuan boleh mengajukan syarat sebelum
akad nikah bahwa suaminya tidak akan menikahi perempuan lain. Dan sang suami
wajib memenuhi syarat itu selama dia menerima syarat itu ketika akad nikah.
“Saya hanya ingin seperti Fatimah yang selama hidupnya
berumah tangga dengan Ali bin Abi Thalib tidak dimadu oleh Ali. Sungguh saya
tidak mengharamkan poligami. Tapi inilah syarat yang saya ajukan. Karena saya
hanyalah salah satu wanita yang sangat lemah iman. Jika diterima syarat yang
saya ajukan, maka akad nikah segera dirancang untuk dilaksanakan. Jika tidak,
ya tidak apa-apa.” Tutur Ayesha panjang lebar dengan wajah sendunya dan mata
berkaca-kaca.
Sore itu juga berita telah resminya Ayesha Kirana Mikayla
bertunangan dengan Kavindra Syahreza Putra Pratama dosen yang dikagumi segenap
mahasiswi UHM langsung menyebar di seantero Yogyakarta. Segenap wanita-wanita
cantik di Jakarta dan sekitar kampus UHM merasakan impian mereka untuk
bersanding dengan pengusaha muda tampan, kaya raya serta santun tersebut pupus.
Beberapa senior dan beberapa pemuda desa yang menaruh hati dan harap kepada Ayesha
menelan ludah kekecewaan.
***
Bu Diana belum mengganti gaun yang ia kenakan dalam acara
pertunangan putranya. Selepas maghrib ia langsung mengajak Kavindra jalan-jalan
mengelilingi kota Yogyakarta. Mereka hanya berdua. Pak Jehan dan yang lain
memilih istirahat di hotel. Mobil Toyota Land
Cruiser melaju tenang menyusuri Jalan Malioboro. Inilah destinasi pertama
yang menjadi surga belanja yang tak kenal sepi. Tiap hari, ribuan wisatawan
maupun warga lokal memadati nadi Jogja ini. Berbagai hasil kerajinan, batik,
benda-benda seni, makanan khas, hingga barang-barang antik digelar disepanjang
bahu jalan berkoridornya. Ketika menyusuri Jalan Malioboro bagian selatan,
pasar yang sudah ada sejak tahun 1758 ini pasti akan menarik perhatian. Pasar
Beringharjo ini tetap eksis meskipun pasar-pasar modern lain kian menjamur di
Jogja. Berhentilah sebentar, coba saja mencicipi ragam kuliner yang dijual
disana. Pecel kembang turi yang langka pasti menggoda selera. Setelah itu kita
bisa berbelanja, mulai dari batik, jejamuan, hasil kerajinan hingga pakain
pengantin yang harganya jutaan bisa kita temukan. Yogyakarta termasuk dalam
kota sepuluh besar di Indonesia.
“Vin, kamu bahagia?” Tanya Bu Diana sambil memandang
gurat wajah putranya yang sumringah.
“Iya bahagialah Ma. Aku bahagia banget malah.”
“Mama juga bahagia banget Kavin, karena kembali memiliki
menantu seperti Ayesha. Anaknya manis, santun, dan punya kepribadian yang
sangat baik. Jaman sekarang ini susah lho Vin, mendapat wanita seperti dia.”
Tutur Diana panjang lebar memuji calon menantunya itu.
“Iya Ma. Justru karena Ayesha memiliki kepribadian yang
baik sehingga membuat aku tidak bisa melupakannya” terang Kavindra.
“Ngomong-ngomong aku baru inget lho Mah.. perkataan Mama beberapa tahun yang lalu.. saat peresmian
Property Pratama yang diberikan
kepada Mas Gilang. Ketika itu Mama memperkenalkanku dengan Ayesha sebagai kakak
ipar, dan Mama sempat berkata kalau suatu saat aku bisa memiliki istri yang
cantik dan baik seperti Ayesha. Dan hari ini Allah kabulkan itu Ma.. ternyata
bener ya Mah.. kalau kata-kata itu bisa jadi doa. Dan terkabul sekarang doa
Mama.”
“Benerkah..? Mama pernah ngomong begitu ke kamu?”
“Iya Ma.. Makasih ya Ma doanya.”
“Semoga Allah selalu menganugerahkan kebahagiaan yang
tiada tara untukmu anakku dan semoga rumah tanggamu nanti kokoh dan barakah, Kavin”
“Aamiin.” Malam itu mereka menikmati panorama malam
dikawasan Malioboro. Kavindra minta Mamanya menemaninya makan gudeg dan minum
wedang ronde di pojok barat alun-alun Selatan.
“Wah gudeg dan wedang ronde nya enak ya Vin”
“Iya Ma”
“Nanti kalau kamu sudah jadi pengantin baru. Ajaklah Ayesha
jalan-jalan malam seperti ini. Akan terasa sangat romantis Vin. Setelah itu
ajaklah bermalam di hotel berbintang lima. Pasti itu akan membuat Ayesha semakin
cinta padamu Kavin.” Kata Bu Diana sambil tersenyum pada putra kesayangannya.
“Ah Mama, sudah membayangkan yang indah-indah.”
“Ya, bayangkan lah yang indah-indah itu. Karena memang
yang indah-indah itu hak para pengantin baru. Dan Mama pernah dengar, bahwa
bahwa Rasulullah meminta kepada para perjaka agar menyertai isterinya yang
selama tujuh hari saat pengantin baru. Jika isterinya itu seorang gadis.
Tujuannya ya katanya agar bisa mereguk keindahan-keindahan bersama
sedalam-dalamnya, seromantis-romantisnya, agar cinta di antara
keduanya benar-benar berakar mendarah daging. Dan
dengan itu mawaddah dan rahmah lebih mudah tercipta.”
“Waahh, Mama sudah kayak ustadzah aja.”
“Lho, gini-gini Mama kan juga pernah mengenyam ilmu dari
pesantren lho Vin, dan sudah pasti jadi ustadzah pertama bagimu.” Keduanya
tersenyum. Imajinasi keindahan berkelebat-kelebat dalam pikirannya. Keanggunan Ayesha
dalam balutan serba biru kembali hadir dipelupuk matanya.
***
Jangan di
kejar, sejauh apapun dia pergi jika dia memang jodohmu maka dia akan kembali
kepadamu. Karena jodoh datang di waktu yang tepat, jangan samakan dirimu dengan
orang lain, tidak ada kata terlambat untuk menikah.
[Tahajud Cinta, EPR]
TC 17
Ikatan Suci
Minggu ini benar-benar hectic. Ujian Akhir Semester dan persiapan pernikahan yang harus
dilalui bersamaan oleh Ayesha. Sebenarnya tidak teralu banyak yang harus
disiapkan karena besok hanya akad dulu dan resepsinya menyusul setelah Ayesha sidang.
Surat-surat untuk kelengkapan nikah
sudah dibantu oleh Abinya yang kebetulan
mempunyai teman sekaligus tetangga yang bekerja di Kemenag.
Memang sesuai rencana, mereka akan menikah setelah usai
Ujian Akhir Semester ini. Selama ujian, tidak jarang Kavindra menanyakan ke Ayesha
tentang materi apa yang belum jelas atau membutuhkan referensi apa untuk
membantu belajarnya. Dengan dalih ingin membantu, tapi ada sisi modusnya.
Secara Ayesha sudah berani terang-terangan ngobrol dengan Kavindra.
Kavindra : Assalaamu’alaikum.
Gimana ujiannya hari ini?
Lancar? Ada yang bisa dibantu untuk besok
pagi?
Ayesha menghela nafasnya. Sudah bisa ditebak, pesan Kavindra
baru saja masuk. Dan selama ujian berlangsung, tepatnya tujuh hari ujian,
selalu saja mengirimkan pesan yang sama. Ayesha sendiri heran, bagaimana Kavindra
bisa hafal betul mata kuliah yang dia ambil semester ini. Ya, Kavindra semakin
protektif dan semakin berani menanyakan segala hal kepada Ayesha semenjak ia
telah resmi menjadi calon istrinya. Sebaliknya Ayesha masih saja tetap ‘jual
mahal’ meskipun ia juga sangat mengidamkan lelaki tersebut.
Ayesha : Wa’alaikumsalam. Alhamdulillah, lancar.
Alhamdulillah untuk materi besok
sudah ada, buku
catatan dan buku referensinya. Terimakasih
sekali atas tawarannya.
Ayesha tetap memberi jawaban yang sama.
Kavindra : Alhamdulillah kalau begitu, Proposalnya sudah
dikumpulkan?
Ayesha : Sudah Pak
Kavindra : Lho..
kok Pak sih. Mas dong..?
Ayesha : Iya.
Pak, Ehh Mas
Kavindra alias Pak Reza memang tahu hari ini batas
terakhir pengumpulan proposal penelitian. Beberapa hari yang lalu, Pak Reza
meminta Ayesha untuk mengirimkan proposal yang dibuatnya melalui email. Kata beliau sebelum dikumpulkan
ke dosen pembimbing, Pak Reza ingin meneliti proposal miliknya. Ayesha tahu Pak
Reza saat ini juga menjadi dosen pembimbing proposal di kelas lain di semester
yang sama dengan Ayesha. Setelah diteliti, ternyata masih ada beberapa bagian
yang harus diperbaiki dan itu semua sudah diberi tanda berwarna merah. Agar
mudah diketahui. Tentu setelah dikoreksi oleh Pak Reza, proposalnya menjadi lebih
baik lagi. Entah harus bersyukur atau tidak dengan hal seperti ini, tapi
katanya beliau anti previllege. Lha ini namanya apa yaa...hahaha.. apa mungkin karena
khusus untuk calon istri kali ya. Entah lah.
Eits, tapi ini tidak berlaku untuk mata kuliah beliau
ya.. Pak Reza tetap profesional untuk hal tersebut.
Kavindra : Kalau persiapan minggu depan bagaimana
Ayesha : Memang
minggu depan ada apa ya Pak
Kavindra : Lho.. kok Pak lagi
Ayesha : Tapi kan.. ini kan urusan kampus, jadi
manggilnya
Pak saja
Kavindra : Ya sudahlah. Senyaman kamu saja lah
Ayesha sengaja bertanya seperti itu untuk menguji Pak
Reza.
Kavindra : Memang kamu lupa ya.. minggu depan ada acara
apa?
Saya kok nggak yakin ya
Ayesha : Ehm..
Kavindra : Mau saya ingatkan? Minggu depan kita MENIKAH.
Bagaimana sudah ingat kan?
Kamu
tanya seperti itu, malah bikin saya nggak
sabar ingin segera menghalalkan kamu, Sha.
Semenit.. dua menit.. tidak ada balasan dari Ayesha.
Kavindra : Sha..
bales dong?
Ayesha : Iya Pak
Kavindra : Terus bagaimana persiapannya?
Ayesha : In sya
Allah, sudah hampir rampung Pak,
Alhamdulillah banyak yang bantuin, Abi Ummi
dan saudara.
Kavindra : Btw, jika butuh bantuan, bilang saya ya.. in
sya
Allah saya bantu.
Ayesha : Iya
Pak
Kavindra : Nggak sabaran banget untuk hari H
Tidak ada balasan lagi, Pak Reza pun mengirimkan pesan
lagi.
Kavindra : Ayesha.. bales dong pesennya. Jangan di read
doang
Ayesha : Bapak
Reza yang terhormat, saya masih ada ujian
ini satu lagi. Saya mau belajar. Butuh
konsentrasi.
Mohon
jangan diganggu.
Kavindra : Hahaha..
iya baik.. calon istri yang tercinta.
Selamat belajar ya, semoga
sukses ujiannya)
Ayesha membaca pesan terakhir dari Pak Reza dengan hati
deg-degan.
***
Alhamdulillah, Ayesha bisa
bernafas lega, akhirnya ujian semesternya selesai juga. Paling tidak, ada satu
hal sudah mengurangi kegalauan pikiran dan hatinya. Tinggal satu momen penting
dalam hidupnya, yaitu menikah. Ya... tinggal seminggu lagi ia akan menikah
dengan dosennya sendiri sekaligus pria pilihan hatinya, cinta pertamanya..
rasanya bagaikan mimpi.
Hari ini Ayesha memang sengaja akan memberitahukan
langsung kepada Nadira tentang Kavindra alias Pak Reza yang mereka kenal itu
dan sekaligus mengundang dia untuk datang lebih cepat ke acara nikahannya. Ayesha
ingin menceritakan kisah cintanya dengan Kavindra sejak dulu semasa SMA, hanya
untuk Nadira saja. Ayesha tidak memberitahukan ke teman-teman yang lain, bukan
berarti ia menikah secara diam-diam. Hanya saja Ayesha belum siap untuk
menghadapi respon dari teman-teman di kampusnya.
“Ra, habis ini kamu ada agenda nggak?”
Tanya Ayesha saat bertemu dengan Nadira usai ujian yang
terakhir tadi.
“Nggak ada, pulang ke kosan saja, memang kenapa?”
“Makan yuk?” ajak Ayesha
“Hah... tumben, biasanya paling males lo kita ngajak
nongki”
“Kan ngerayain selesainya ujian akhir kita”
“Hmm.. iya..ya.. tapi di traktir ya hehe”
“Okey, khusus hari ini aku traktir deh, kamu bebas mau
pilih makan dimana?”
“Oke, yuk”
Akhirnya mereka sampai ke tempat makan yang dituju.
Sampai disana suasana ramai mungkin bersamaan dengan jam makan siang. Tempat
makan yang berada disekitar kampus tentu saja banyak dipadati para mahasiswa.
“Tumben nih kamu traktir aku tiba-tiba, pasti ada
sesuatu” ucap Nadira setelah mereka duduk disalah satu meja. Untungnya mereka
mendapat meja dipojok.
“Nggak ada apa-apa kok. Kamu kan tau kalau aku memang
baik hehe”
“Halah, nggak percaya aku, to the point aja. Kayak nggak kenal kamu ajah.”
Mereka memang sudah bersahabat sejak lama. Dipertemukan
saat ospek dan sering berada di kelompok yang sama sejak jaman ospek dan sering
mengerjakan tugas-tugas kuliah secara bersama-sama sehingga membuat mereka
semakin dekat. Tidak sekali dua kali mereka saling berkunjung ke rumah
masing-masing. Nadira sering menginap di rumah Ayesha terutama saat mengerjakan
tugas sampai malam, dan Ayesha juga sering bermain ke kosan Nadira. Ayesha juga pernah ke rumah Nadira di Surabaya. Orang
tua mereka sudah saling mengenal.
“Aku mau nikah” Ucap Ayesha akhirnya. Nadira yang
mendengarnya langsung tertawa cukup kencang sampai orang yang duduk
disekitarnya menoleh kearah mereka.
“Ya Allah Sha, jangan bercanda lah hahaaha” ucap Nadira
sambil masih tertawa.
“Aku serius Ra”
“Hah.. kamu beneran serius mau nikah?” tanya Nadira
setelah selesai menertawakan Ayesha. Ayesha pun menganggukkan kepalanya.
“Sama siapa ??? kamu dijodohin lagi ??” Tanyanya lagi.
“Nggak”
“Trus.. nikah sama siapa Sha? bukannya kamu nggak mau
terulang lagi seperti yang dulu ?” Nadira mulai serius.
“Sama Pak Reza”
“Haahhh...” Jawab Nadira sampai ternganga.
“Sudah tutup tuh mulut, nanti lalatnya masuk.” Ujar Ayesha
“Pak Reza dosen kita? Kamu serius Sha?”
“Iya, Pak Reza dosen kita.”
“K. Syahreza Putra P, SE., M.B.A. ??”
Ucap Nadira sampai menyebutkan nama lengkap pak Reza
sekaligus gelarnya.
“Hafal banget kamu Ra?”
“Hehe.. ya iyalah dosen sejuta mahasiswa lho ini Sha?”
“Itu namanya masih kurang lengkap Ra”
“Trus nama lengkapnya siapa dong?”
“Kavindra Syahreza Putra
Pratama, S.E., M.B.A. alias Kavindra nama panggilannya”
“Hah.. jangan kamu bilang itu Kavindra
temenmu waktu SMA dulu”
“Iya.. dialah Kavindra temenku
saat SMA” ujar Ayesha sambil menganggukkan kepalanya.
Saat Nadira mulai berteman
akrab dengan Ayesha, semua cerita masa lalu Ayesha diceritakan kepada Nadira.
Tidak sesentipun ia lewatkan. Jadi tidak heran jika Nadira mengetahui semuanya
tentang hidup Ayesha dan ia sangat bersimpati dan sangat mengagumi akan sifat
dan akhlaknya Ayesha.
“Ya Allah.. Sha, Allah maha
baik. Allah kembali pertemukan kalian dengan caranya sendiri,” Ucap Nadira haru
dengan mata yang berkaca-kaca sambil mengenggam tangan Ayesha erat.
Ayesha juga ikutan terharu
dengan sikap sahabatnya itu.
“Allah tak pernah tidur dalam
mengawasi setiap hambanya, buah kesabaran itu sangatlah manis, dan buah
kesabaran itu adalah kebahagiaan.” Lanjut Nadira yang ntah dari mana dapat
potongan kalimat nasehat tersebut.
“Sudah kayak Mama Dedeh ajah
kamu Ra”
“Gini-gini juga bisa sesekali jadi
ustadzah dan paham agama lho.. Btw, kamu nikahnya kapan emangnya ?”
“Minggu depan”
“Hah.. bener-bener kamu tuh
Sha, tega banget, berita bahagia disembunyiin sendiri” Sungutnya.
“Aku baru ngasih tahu kamu aja
kok Ra, temen-temen yang lain belum. Lagian minggu depan itu hanya akad dulu.
Untuk walimahannya menyusul.”
“Kenapa emangnya ?”
“Aku belum siap, apalagi aku
nikah sama dosen sendiri. Mereka kan nggak tahu apa-apa tentang kami, dan aku
belum siap dengan tanggapan temen-temen di kampus”
“Kamu nggak percaya diri? apa
yang kurang dari kamu? cantik, sholehah, pintar, baik pula. Menurutku apa yang
ada di dirimu benar-benar sudah mengimbangi beliau kok.”
“Iya sih, tapi aku belum siap aja.
Lagian aku kan janda..,” kata Ayesha sambil tertunduk.
“In sya Allah sebentar
lagi status kamu berubah, Sha. Kamu jangan nggak semangat gitu toh. Lagian Pak
Reza nggak masalah kan? Bahkan bucin banget dia sama kamu, dia tulus
sama kamu, Sha.”
“Iya sih Ra. Karena beliau lah
aku bisa seperti ini, dan beliaulah yang menjadi pengagum rahasia itu Ra”
“Hah.. jadi selama ini pak
Reza kah yang selalu menyemangatimu dan menasehati kamu Sha secara diam-diam?”
“Iya.” Ayesha mengangguk
pelan.
“Ya Allah.. Ayesha.. beruntung
banget kamu Sha, mendapat lelaki yang begitu baik dan sholeh plus pintar lagi.
Semoga kalian bener-bener berjodoh dunia akhirat.
“Aamiiin”
“Tumben kamu dari tadi
ngomongnya dewasa banget Ra.” Nadira yang dipuji pun terbatuk-batuk.
“Btw ceritanya gimana sampai Pak Reza ngajak kamu nikah?”
“Panjang ceritanya Ra, kita makan dulu yuk, laper ini”
Akhirnya mereka makan terlebih dahulu. Setelah selesai
mereka kembali bercerita tentang perjalanan cinta Ayesha dengan Kavindra alias
pak Reza.
***
Matahari
memerah di ufuk
barat. Tak lama lagi akan masuk keperaduannya. Burung-burung beterbangan kembali kesarangnya. Para petani yang sehari hari menggarap sawah tampak berjalan di pematang
untuk pulang. Kavindra mengemudikan mobilnya dengan tenang. Hari ini Kavindra
agak terlambat pulang dari kampus dikarenakan menyiapkan tugas-tugas kuliah
untuk kelas lainnya. Rencananya ia akan mengambil cuti selama seminggu sebelum
menikah dan seminggu setelah menikah. Mobil itu melintas di depan pasar-pasar
dan terus menuju kearah timur. Melewati
kampus UHM. Terus lurus ke timur masuk
jalan Merdeka. Hari sudah menjelang petang. Lampu-lampu jalan sudah
menyala. Azan maghrib tak lama lagi
akan bergema.
“Assalamualaikum”
Terdengar suara salam dari pintu yang menghubungkan
garasi dengan ruang keluarga.
“Wa’alaikumsalam”
Jawab Pak Jehan dan Bu Diana secara bersamaan.
Kavindra masuk segera menyalami kedua orang tuanya.
“Baru nyampe Nak?” Tanya Diana
“Iya Ma”
“Sudah sholat?” Lanjut Pak Jehan
“Belum Pa. Kavin kedalam dulu Ma Pa. Mau bersih-bersih
dulu terus shalat maghrib”
Setelah selesai bersih-bersih dan melaksanakan
kewajibannya sebagai muslim sejati. Kavindra kembali ke ruang tengah menyampari
kedua orang tuanya yang sedang santai menikmati cemilan pisang goreng dan teh
hangat. Terasa sangat cocok dengan keadaan cuaca di luar sana sangat dingin.
“Wuih.. enak tuh Ma cemilannya,” Ujar Kavindra sambil
duduk di samping Mamanya dan langsung mencomot pisang goreng yang dihidangkan
Bi Midah.
“Sudah makan kamu Vin?” Tanya Mama.
“Udah tadi Ma. Sore tadi diajak nge bakso sama
dosen-dosen di kampus” Jawab Kavindra.
“Silahkan diminum Mas Kavin” Bi Midah mempersilahkan Kavindra
mium teh yang dibuatnya.
“Terimakasih Bik”
“Oh iya Vin.. Gimana persiapan pernikahan kamu dengan Ayesha.
Kamu bantuin Ayesha lah” Tanya Pak Jehan.
“Hampir 90% Pa, Kemarin sempat Kavin chat Ayesha. Katanya
banyak yang bantuin kok Pa,” Jawab Kavindra sambil tersenyum bahagia.
“Alhamdulillah
kalau begitu”
“Mama perhatikan sepertinya kamu sangat berbeda dalam
beberapa hari ini, Vin?”
“Berbeda gimana sih Ma”
“Lebih cerah dan semakin ganteng saja kamu Nak. Nggak
seperti biasanya”
“Ah, Mama bisa ajah. Bukannya aku memang ganteng dari
sononya ya kan Pa..”
“Iya dong. Anak siapa dulu” Puji Pak Jehan lagi.
“Bukannya itu wajah-wajah pengantin baru ya?” Ledek Bu
Diana lagi.
“Mama ih, ngeledek mulu dari tadi”
“Emangnya kenapa sih sayang, kan nggak apa-apa. Sudah
seharusnya kamu bahagia. Apalagi mendapat calon istri seperti Ayesha. Sudah
cantik, baik, sholeha dan pinter lagi”
“Alhamdulillah.
Doain ya Ma, semoga acaranya lancar sampai hari H. Oh iya, Papa gimana kondisi
badannya?”
“Alhamdulillah
sudah sangat sehat. Apalagi setelah memutuskan tanggal pernikahan kamu dengan Ayesha,
seakan kondisi badan Papa semakin membaik dan sehat”
“Alhamdulillah..
bahagia Kavin dengarnya”
Disela-sela menikmati camilan mereka saling bertukar
pikiran untuk acara pernikahan Kavindra dengan Ayesha. Diselingi dengan candaan
serta godaan untuk Kavindra sehingga membuat malam berlalu begitu saja. Tanpa
terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Kavindra dan kedua orang
tuanya masuk ke kamarnya masing-masing untuk kembali mengistirahatkan tubuhnya.
Kavindra dan kedua orang tuanya sudah berada di Yogyakarta seminggu sebelum
acara pernikahan. Mereka menginap di apartemen milik keluarga Pratama. Saat
Kavindra mendirikan kampus UHM ia juga membangun sebuah apartemen untuk
keluarganya yang terletak tidak jauh dari kampus miliknya.
***
Hari ini benar-benar tiba. Hari H pernikahannya dengan Kavindra
Syahreza Putra Pratama. Ayesha masih merasa seperti mimpi. Masih tidak
menyangka bahwa dirinya menikah lagi dan dengan mantan adik ipar sekaligus
cinta pertamanya dan sekarang dosennya sendiri. Ayesha juga tidak mengira akan
terjadi pernikahan kedua kali dalam hidupnya. Kali ini ia berharap inilah
pernikahan terakhirnya. Mereka akan melangsungkan akad nikah di Mesjid seberang
rumahnya. Cukup banyak yang hadir untuk memberikan doa restu pada pernikahan
mereka berdua.
Ruang dalam mesjid diberikan pembatas kain yang dihias
apik, dengan bunga-bunga yang indah membuat kesan yang lebih santai. Meja kecil
berada dipaling depan, ditengah-tengah pembatas antara tamu laki-laki dan
perempuan. Akad nikah dilakukan dengan lesehan diatas karpet berwarna biru.
Tamu dari pihak laki-laki sudah datang. Tampak Kavindra datang
didampingi ayah disebelah kanan dan ibu disebelah kiri. Memakai jas berwarna
hitam serasi dengan celana dan dasinya membuat Kavindra terlihat gagah dan
sangat tampan. Terlihat beberapa rombongan dari pihak Kavindra, mungkin sekitar
tiga puluhan. Kedatangan rombongan dari pihak laki-laki disambut hangat oleh
keluarga pihak mempelai perempuan. Mereka pun diajak untuk memasuki mesjid.
Rombongan laki-laki dan perempuan segera diarahkan untuk duduk sesuai dengan
tempat yang telah disediakan, laki-laki dan perempuan duduk secara terpisah.
Bau cinta begitu dekat.
Aromanya
terhisap
masuk sampai ke sumsum jiwa. Efeknya luar biasa. Menyegarkan badan, menajamkan pikiran. Itulah yang
dirasakan oleh
Kavindra menjelang ijab qabulnya dengan
Ayesha Kirana Mikayla.
Acara pun dimulai, Kavindra maju untuk duduk berhadapan
dengan Hermawan. Diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh Kavindra sendiri.
Kavindra membacakan surah Ar-Rahman dengan hafalan yang lancar dan begitu merdu
suaranya disertai dengan tanda baca Al-Quran yang tepat pula. Semua orang
terharu serta berdecak kagum mendengar lantunan ayat suci Al-Quran yang
dibawakan oleh Kavindra, tak terkecuali Ayesha yang secara tiba-tiba meneteskan
air mata karena terharu dan benar-benar kagum serta tidak menduga dengan apa
yang dilihatnya. Sebegitu berubahnya Kavindra yang dilihatnya sekarang. Kavindra
yang sudah berubah menjadi sosok pria serta imam yang didambakannya selama ini.
Setelah selesai membaca ayat suci Al-Quran, Kavindra bersiap untuk mengucapkan
ijab qabulnya. Tampak Hermawan menghela nafasnya sebelum berjabat tangan dengan
Kavindra.
“Ananda Kavindra Syahreza Putra Pratama Bin Jehan
Pratama. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya Ayesha
Kirana Mikayla binti Hermawan dengan emas 200 gram dan seperangkat alat shalat
dibayar tunai”
“Saya terima nikah dan kawinnya Ayesha Kirana Mikayla
binti Hermawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.” Ucap Kavindra mantap
dengan penuh haru dan bahagia.
“Sah,” ucap penghulu
dan tamu undangan yang hadir menyaksikan acara akad nikah tersebut. Mereka
serempak mengucapkan hamdalah.
Setelah itu dilanjutkan dengan pembacaan doa yang langsung dipimpin oleh bapak
penghulu.
“Barakalallahu laka
wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fiil khairin, (Mudah-mudahan Allah
memberkahi engkau dalam segala hal (yang baik) dan mempersatukan kamu berdua
dalam kebaikan).
Setelah doa selesai, Ayesha pun diantar maju ke depan
untuk menandatangani berkas-berkas. Ayesha didudukkan disebelah Kavindra. Tidak
hentinya Kavindra menatap wajah istrinya yang baru saja duduk disebelahnya.
Mengenakan gamis cream dengan hiasan
renda dibeberapa bagian membuat Ayesha benar-benar terlihat anggun mempesona. Mahkota
kecil yang menjadi hiasan diatas hijabnya serta bunga melati yang menjuntai
indah dibagian samping kanannya. Riasan make
up yang minimalis benar-benar membuat kecantikan Ayesha terpancar. Apalagi Ayesha
jarang sekali berdandan. Jadi sekalinya berdandan wajahnya tampak pangling.
“Mas.. mas itu lho istrinya mau salaman” tegur pembawa
acara. Kavindra yang menyadarinya langsung tertawa dan mengulurkan tangannya
untuk dicium Ayesha. Mereka saling merasakan tangan masing-masing dingin.
Setelah itu, Kavindra meletakkan tangannya diatas kepala Ayesha untuk berdoa
lalu mencium keningnya lama.. sampai harus diingatkan kedua kalinya oleh
pembawa acara. Sesaat setelah mencium keningnya, Kavindra membisikkan
kalimat-kalimat yang membuat wajah Ayesha semakin merah merona.
“Aku lega akhirnya tiba juga hari yang sudah lama
dinanti-nantikan. Dan aku benar-benar jatuh cinta padamu, Istriku”
Pukul 12.00 tepat acara selesai, keluarga Kavindra pun
berpamitan. Setelah melaksanakan shalat Dzuhur di Mesjid, Kavindra masuk ke
kamar Ayesha. Ayesha terlihat duduk di pinggir kasur dan gelisah.
“Assalamualaikum”
ucap Kavindra saat memasuki kamar Ayesha.
“Wa..Wa’alaikumsalam”
balas Ayesha dengan gugup. Setelah ijab qabul tadi Ayesha kelihatan sangat
gugup saat berhadapan dengan Kavindra. Kavindra yang melihat itu tersenyum lalu
duduk disebelah istrinya.
“Ehmm..ehm.. saya mau lepas bunga ini dulu”
“Oh.. mau dibantuin nggak?”
“Bo..boleh”
Akhirnya Kavindra membantu Ayesha untuk melepaskan aksesoris
yang ada dihijabnya.
“Sha, pentulnya
banyak banget ya ?
“I..Iya”
“Kamu nggak terkena kan.. maksudnya tertusuk gitu?”
“Nggak kok”
“Siapa tadi yang masangin ini semua?”
“Mba Ninda, anak temennya Ummi”
“Ooh.. Ohiya, kamu sudah shalat ?”
“Belum, eh, saya sedang tidak shalat”
Terlihat ada perubahan di wajah Kavindra.
“Kenapa?”
“Oh.. nggak apa-apa. Berarti saya masih berpuasa lah ya”
Canda Kavindra sambil tertawa.
“Maksudnya?”
“Nggak.. nggak apa-apa kok”
Ayesha sepertinya langsung ngeh dengan apa yang dimaksud suaminya. Sehingga membuatnya
langsung menunduk malu.
Kavindra memperhatikan Ayesha yang menunduk malu.
“Nggak usah malu.. sama suami sendiri”
“Ehm.. saya ijin ke kamar mandi dulu ya?”
Saat akan berdiri, tiba-tiba Kavindra menarik Ayesha sampai
terduduk dipangkuannya. Jarak wajah mereka sangat dekat, bahkan Ayesha bisa
merasakan nafas dari suaminya. Tatapan Kavindra kepadanya membuat Ayesha menunduk.
“Kamu cantik,” bisik laki-laki itu membuat Ayesha salah
tingkah. Pipinya memanas menahan malu.
“Kamu bisa saja Mas...” Balas Ayesha dengan wajah tersipu
malu.
“Kamu bilang apa tadi sayang.. sesaat Kavindra terkejut
dengan panggilan baru dari istrinya. Baru dua kali ini ia dipanggil ‘Mas’ oleh
Ayesha.
Ayesha ingin mencairkan suasana agar terlihat lebih
santai dan harmonis. Ia akan menjadi istri seperti yang diidamkan oleh Kavindra.
Ayesha ber-azzam ini adalah
pernikahannya yang terakhir. Ayesha berusaha setiap saat selalu siap menjadi
istri yang baik dan sholeha untuk suaminya.
“Apa? Memang aku ngomong apa tadi?” Ayesha balik tanya dengan
ekspresi bingung.
“Coba dong, ulang. ‘Mas Kavin sayang’ gitu coba,”
ledeknya.
“Ah, Mas udahlah jangan asyik ngeledek aja.” Timpal Ayesha
dengan wajah cemberutnya.
“Cemberut saja masih kelihatan manisnya, gimana aku enggak cinta dan susah lupain kamu,” celetuk Kavindra
membuat Ayesha salah tingkah disertai dengan pelukan hangat dari suaminya itu.
“Ish.. gombal! Sudah ah, lepas.”
Bukannya melonggarkan pelukan justru semakin mengeratkan
pelukannya dan dengan gencar menggoda istrinya. Bahkan laki-laki itu tak segan
mengecup kening Ayesha. Karena Ayesha hanya diam saja, kembali ia melanjutkan
kata-katanya.
“Kamu pakai pelet apa sih, kok aku secinta ini sama
kamu.” Ayesha melotot mendengar pertanyaan suaminya itu. Disertai mulutnya yang
geram mendengar pertanyaan konyol suaminya.
“Tanya saja sama mbah dukunnya.” Balas Ayesha dengan
kesal. Kavindra terkekeh pelan.
Tiba-tiba ekspresi Kavindra berubah menjadi serius.
Ditatapnya setiap inci dan begitu intens wajah sang kekasih halalnya yang
menumbuhkan ribuan pahala dari sisi-Nya. Kavindra sangat beruntung mendapatkan istri
seperti Ayesha yang sangat menggemaskan dan disertai dengan sifat rendah hati,
membuatnya jatuh cinta berkali-kali. Keduanya kembali dipertemukan dikala
mereka sudah mantap jiwa dan raga dalam berumah tangga. Mantap dalam hal ilmu
agama dan kini keduanya sangat religius. Kavindra
pantas menjadi imam yang diidam-idamkan oleh kaum hawa disertai dengan karir
yang gemilang wajah yang tampan, cerdas dan berwibawa. Kavindra menjadi
pengusaha sukses di perusahaan milik papanya. Sekarang Kavindra lah pewaris
tunggal keluarga Pratama.
***
Dan ternyata
rencana Allah itu jauh lebih indah dibandingkan dengan rencana kita manusia.
Jodoh itu tak pernah tertukar. Sejauh apapun tulang rusuk dan pemiliknya
terpisah, keduanya akan kembali bersama. Yang terpenting Allah-lah yang harus
utamakan.
[Tahajud Cinta, EPR]
TC 18
Nyanyian Cinta
“Widiiih pengantin baru ni ya?” ucap Nadira saat
menghampiri Ayesha di kursi yang ada dikoridor kampus.
“Astaghfirullah,
ngagetin saja.”
“Cie..cie.. yang pengantin baru melamun niyee?”
“Heh siapa yang melamun, lagi baca draft skripsi juga. Eh, jangan keras-keras dong nanti ada teman
yang denger”
“Oh.. jadi kamu belum nyebarin berita bahagia ini? masih
dirahasiakan?”
“Enggak dulu ah, ntar saja kalau sudah nyebarin undangan.”
“Terus kapan dong walimahannya”?
“In sya Allah
dua minggu lagi, tunggu selesai sidangnya. Jadi kan bisa aman itu.”
“Aman apanya. Aman biar cepet jadi mahmud nih.. haha”
“Iiiihh.. kamu nyebelin deh Ra”
“Maaf deh.. maaf.. Btw, kamu mau bimbingan sama siapa?”
“Pak Arman. Kamu?”
“Bu Santi”
Saat mereka sedang berbincang-bincang terdengar obrolan
beberapa orang yang sedang menuju ke arah mereka berdua.
“Sha, tuh suamimu” ujar Nadira sambil mencolek lengan Ayesha.
“Apaan sih” Tapi Ayesha akhirnya menengok juga.
Dilihatnya Pak Reza berjalan dengan beberapa mahasiswi.
“Selamat ya Pak atas pernikahannya.”
“Kalau boleh tahu istrinya orang mana ya pak? Kok nggak
ditampilin mukanya sih pak.”
“Biasanya kan orang-orang kalau sudah jadi pengantin baru
sering lho pak pasang-pasang snap/status WA atau berbagi di media
sosial.”
“Boleh dong Pak kenalan sama istrinya?”
“Beruntung banget ya pak istri bapak punya suami seperti
bapak.”
“Wah, banyak yang patah hati lho Pak, saat tau Pak Reza
nikah.”
Mahasiswi tersebut melemparkan banyak pertanyaan terhadap
dosen favoritnya itu. Sementara Kavindra alias Pak Reza menanggapinya hanya
dengan senyuman saja. Beberapa kalimat yang Ayesha denger dari mereka. Tapi Ayesha
melihat sikap Kavindra hanya biasa saja saat menanggapi berbagai pertanyaan
dari mahasiswinya. Tidak disangka didepan Ayesha duduk, Kavindra justru
berhenti. Ayesha sudah gugup dan kelabakan.
Ya Ampun.. kenapa harus berhenti
sih, seharusnya lanjut jalan saja. Batinnya.
Kavindra tersenyum cerah ke Ayesha.
“Pagi Ayesha. Pagi Nadira.”
“Pagi Pak” ujar mereka berdua.
“Ayesha, sudah ketemu Pak Arman?” tanyanya
“Ehm.. be belum Pak. Kayaknya belum datang deh”
“Oh.. nanti coba saya lihat ya.”
“I..iya Pak, terimakasih.”
“Bapak kayaknya kenal banget ya sama Ayesha?” kata Ririn,
salah satu mahasiswa yang tadi berbincang dengan Pak Reza. Ririn seangkatan
dengan Ayesha juga hanya beda kelas saja. Dia baru saja mengajukan judul
seminarnya. Ayesha selangkah lebih maju dari teman-temannya. Ia dapat
menyelesaikan kuliah sarjananya dalam kurun waktu tiga tahun. Meskipun ia
sempat menganggur, namun tidak menutup kemungkinan untuk umurnya. Ia masih
dapat mengejar ketertinggalannya.
“Oh iya, kenal sekali. Kan mahasiswa saya juga”
“Tapi aneh saja Pak, kayaknya lebih perhatian begitu Pak.
Beda dengan mahasiswa lain.”
Waduh mati aku. Batin Ayesha
“Perasaan kamu saja itu”
“Oh iya kali ya Pak”
Alhamdulillah... Batin Ayesha.
“Ya sudah, ditunggu bentar ya. Saya cek Pak Arman dulu,
apa beliau sudah tiba?” ucap Kavindra sambil berjalan menuju ruangannya.
“Ciee.. cuit..cuit.. Sedepnya... rasanya nikah sama dosen
sendiri?” kata Nadira sambil mencolek lengan Ayesha.
“Apaan sih”
“Eh, kamu itu masih ngutang lho sama aku ya. Kisah cinta kalian harus ceritain ke aku sampe
tuntas, pokoknya kapan aja ada waktu aku siap dengerin.”
“Iya-iya”
***
“Ini sudah dikoreksi sama Pak Reza ya kan?”
“Maksudnya Pak?”
“Saya sudah tahu kamu istrinya Pak Reza.”
“I..iya Pak” Jawab Ayesha gugup.
“Maaf Pak, besok-besok lagi biar tidak usah dikoreksi Pak
Reza.”
“Eh, tidak apa-apa. Saya justru seneng lho. Kalau beliau
mau mengoreksi justru memudahkan pekerjaan saya. Jadi tidak perlu banyak revisi
lagi. Tapi enggak mungkin juga langsung saya acc begitu saja, tetap ada koreksi dari saya.”
“Iya Pak.”
“Untuk bab 1 ini sudah oke, hanya perlu kamu perdalam
lagi permasalahan yang ini.” tunjuk Pak Arman sambil mencoret-coret skripsi Ayesha.
“Nanti coba kamu tambahkan teori dari buku ini ya.” Pak Arman
menunjukkan salah satu judul buku.
“Kamu bisa cari di perpustakaan. Besok kalau sudah siap,
bisa kembali ke saya lagi. Tapi jangan lupa WA saya dulu ya. Oiya, sudah ke Bu
Sari?”
“Belum Pak, rencana setelah dari bapak.”
“Ya sudah. Segini dulu saja. Salam untuk Pak Reza ya.”
ucap Pak Arman sambil tertawa.
“Ya Pak, nanti saya sampaikan. Kalau begitu saya permisi
dulu. Terimakasih waktunya Pak. “Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam”
Setelah dari bimbingan, Ayesha langsung ke perpustakaan. Kebetulan
Ayesha masih sedang datang bulan sehingga ia terus melanjutkan mencari-cari
buku yang dibutuhkannya meskipun waktu Dzuhur telah tiba. Saking seriusnya, Ayesha tidak menyadari ada
beberapa pesan yang masuk ke WA-nya.
Drrrrrtttt...
Tanpa melihat siapa yang menelepon. Ayesha langsung
mengangkatnya.
Ayesha : (Assalamu’alaikum)
Kavindra : (Wa’alaikumsalam... Sibuk
banget ya sayang..?)
Ayesha : (Ah, eh... Mas yang nelpon?)
Kavindra : (Ya ampun Shaa.. segitunya.. sampai-sampai
yang nelpon pun
enggak dilihat lagi namanya)
Ayesha : (M..maaf Mas...)
Kavindra : (Lagi di perpus ya sayang.. sudah makan
siang?)
Ayesha : (Iya. Belum Mas..)
Kavindra : (Belum??) Kavindra langsung berdecak sambil
melihat jam dipergelangan tangannya.
(Ini sudah jam dua siang lho sayang.. Mas tunggu kamu di ruangan. Enggak
pakai lama!) ucap Kavindra diseberang sana. Ayesha langsung
membereskan buku-bukunya.
Setibanya di ruangan Kavindra. Ayesha melihat makan
siangnya sudah tertata di atas meja. Akhirnya Ayesha makan siang di ruangan Kavindra.
Saat makan, Kavindra memajukan tangannya kepinggir mulut Ayesha.
“Kenapa?” tanpa dijawab, Kavindra menunjukkan nasi yang
ada dipinggir mulut Ayesha.
“Oh iya, kalau lagi kerja jangan sampe lupa makan, Nanti
sakit lho? Kalau kamu sakit kan saya juga yang repot.”
“Oh.. jadi Mas merasa direpotin saya ya..” jawab Ayesha
serius dengan wajah cemberut.
“Enggak begitu sayang.. malah seneng direpotin sang
bidadari hati.” ucap Kavindra sambil
membelai wajah mulus miliknya Ayesha.
“Senyum dong bidadariku.. biar suasana ruangan ini cerah
dan sejuk dengan keindahan senyummu.” lanjut Kavindra menggoda istrinya.
“Iiih... Mas bisa aja deh. Gombal.”
“Ngegombal sama istri sendiri kan nggak dosa bahkan dapat
pahala berlipat-lipat. Lagian Mas ngomong yang sebenarnya kok.. memang istrinya
Mas Macan kok.”
“Apaa..? Macan..? Mas jahat..” sewot Ayesha.
“Kenapa kok sewot dibilang Macan. Manis dan cantik kan.. I Love You Ayesha sayang.” goda Kavindra
lagi seraya mengedipkan sebelah matanya.
“Iiiih.. Mas ah. Aku kan jadi malu.” seketika wajah Ayesha memerah.
Kavindra lalu menyalakan musik dari laptopnya, lagu Cinta
Luar Biasa dari Andmesh Kamaleng mengalun merdu didalam ruangan tersebut.
Menambah suasana menjadi syahdu. Ehm..
Keduanya membisu..
Waktu pertama kali
Kulihat dirimu hadir
Rasa hati ini inginkan dirimu
Hati tenang mendengar
Suara indah menyapa geloranya hati ini tak ku sangka
Rasa ini
tak tertahan
Hati ini
selalu untukmu
Terimalah
lagu ini dari orang biasa
Tapi
cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia tulus padamu
Hari hari
berganti
Kini
cintapun hadir
Melihatmu
memandangmu bagai bidadari
Saat sampai lirik ini, Kavindra menatap Ayesha sangat
dalam seakan cinta mereka semakin tumbuh dan bersemi. Volume lagu itu pun agak
dikecilkan oleh Kavindra.
“Sudah selesai makannya?” Kavindra memecahkan keheningan
diantara mereka.
“Sudah Mas.” Jawab Ayesha.
“Kita pulang bareng ya. Sudah mau sore, besok dilanjutkan
lagi tugasnya. Mas bantuin ya sayang.”
“Makasih Mas.”
***
Langit cerah.
Ufuk barat memerah.
Angin berhembus. Daun mangga
jatuh. Senja bertasbih.
Burung-burung pulang ke sangkarnya
dengan bertasbih. Alunan suara
azan yang merdu mengantarkan kedua insan tersebut dalam pikirannya
masing-masing.
“Sayang.. kita mampir dulu ke mesjid terdekat ya.. Mas
enggak mau telat Ashar. Karena kita langsung ke Jakarta.”
Ayesha hanya menganggukkan kepalanya.
“Kok diem aja sih sayang, capek ya?”
“Ayesha hanya melengos.”
“Kenapa hmm...” ucap Kavindra sambil mengelus pipi Ayesha.
“Merah loh pipinya.” goda Kavindra. Ayesha masih mode
diamnya.
“Aku cium lagi lho nanti kalau diam saja.” ucap Kavindra sambil
mendekat ke telinga Ayesha.
“Mas ih... ini di jalan lho ya, nanti kalau ketahuan sama
polisi bisa ditilang.”
“Ya biarin aja, lagian juga sama istri sendiri.”
Kavindra lalu membelokkan mobilnya ke pelataran parkir
Mesjid. Setelah parkir, Kavindra menitipkan jam tangan dan kunci mobilnya ke Ayesha.
Berhubung Ayesha sedang berhalangan, ia menunggu di serambi mesjid.
“Yuk, udah selesai.” ajak Kavindra sambil mendekat ke
tempat Ayesha duduk.
Subhannallah, ganteng
banget suamiku ini, dengan rambut yang masih tampak basah karena wudhuk
benar-benar menambah kadar ketampanannya.
“Ehm..” Kavindra berdehem. Ayesha tersentak kaget karena
ketahuan melihat suaminya. Waduh
ketahuan.
“Ganteng ya suaminya.” Godanya.
“Apaan sih.” ucap Ayesha sambil memukul lengan suaminya.
Beberapa jam kemudian. Mereka tiba disebuah rumah yang
sangat mewah dan megah. Kavindra memasukkan mobilnya ke garasi. Kavindra turun
dari mobil diikuti Ayesha. Sementara Ayesha bingung dan asing dengan tempatnya
itu. Ayesha memandang sekeliling rumah itu. Mewah dan megah. Itu yang terbersit
dalam benaknya.
“Ini rumah siapa Mas?”
“Kok sepi, Mas?”
“Tentu saja. Ini rumah kamu, tepatnya rumah kita sayang.
Hadiah pernikahan kita. Ini hadiah untuk kamu Ayesha Kirana Mikayla istriku
tercinta.”
“Ttapi Mas.. ini enggak berlebihan? Rumahnya terlalu
besar lho mas untuk kita berdua.”
“Enggak sayang.. ini tidak ada apa-apanya dibandingkan
cinta mas ke kamu. Lagi pula siapa bilang rumah ini hanya berpenghuni kita
berdua. Nanti akan diramaikan oleh anak-anak kita lho sayang. Kita bikin anak
yang banyak ya cinta.. sambil
mengedipkan sebelah matanya ke Ayesha.”
“Iiih.. mas genit ah.” sambil mencubit lengan suaminya.
“Ayo.. kita masuk sayang.”
Kavindra langsung menggendong mesra istrinya tercinta
dengan membawa masuk kedalam rumahnya yang mewah nan megah itu. Saat masuk ke
kamar, suasana menjadi awkward. Setelah
dari kamar mandi, Ayesha melihat Kavindra sudah duduk ditepi ranjang. Ayesha bingung
harus melakukan apa karena merasa suasana rumah yang baru dan asing, sampai Kavindra
menariknya untuk duduk disebelahnya.
“Kok nggak di buka jilbabnya sayang? Malam ini kita
nginap disini ya?”
“Tapi Mas.. Aku belum ngabari Abi sama Ummi. Ntar mereka
khawatir lho.”
“Itu gampang sayang.. sudah beres kok. Tadi setelah shalat
ashar sudah mas WA Abi. Kalau kita langsung ke Jakarta nginap di rumah baru
kita dan sekalian weekend.”
“Jadi Abi sama Ummi sudah mengetahui semuanya?”
“Iya”
“Iiih.. mas kebiasaan deh, suka ngasi-ngasi surprise”
“Tapi seneng kaan..”
“Hmm..”
“Sini Mas buka hijabnya.” Ayesha hanya menunduk malu.
Lalu Kavindra pun membuka hijab Ayesha. Meskipun sudah beberapa kali melihat Ayesha
tanpa berhijab, namun ia benar-benar terkesima melihat pesona kecantikan
istrinya itu.
“Kamu cantik sekali.” bisik Kavindra yang membuat kulit Ayesha
meremang.
“Rambutmu panjang dan mmm... wangi. Mas suka aromanya.”
ucap Kavindra sambil menghirup dan membelai rambut panjang Ayesha.
“Sambil istirahat kita cerita-cerita yuk, tapi sambil
tiduran.” ajak Kavindra. Ayesha pun hanya mengikutinya. Ayesha meletakkan
guling di tengah-tengah mereka.
“Kamu tidurnya pakai guling?” tanya Kavindra sambil
mengambil guling itu dan melemparnya kebawah tempat tidur.
“Kok dilempar sih?” bukannya menjawab pertanyaan malah
balik bertanya.
“Sekarang kan sudah ada guling baru, bisa meluk balik
lagi.” Ayesha yang mendengar hanya bisa tersipu malu.
“Boleh meluk nggak?” tanya Kavindra.
“Nggak boleh.” jawab Ayesha.
“Memang nggak boleh?” sambil menjawab Kavindra justru
semakin mengeratkan pelukannya.
“Mas ih.. bantalnya kan disana. Sesak ini. Mas tidur di
bantalku lho ya ini.” Kavindra hanya tersenyum dan tetap memeluk istrinya erat
sambil menciumi pipinya dengan gemas.
“Nggak papa, tidur yuk.”
“Mas geser dong, katanya mau cerita-cerita dulu.”
“Cerita-ceritanya bisa besok-besok aja, sudah yuk tidur
sudah malem.”
Gimana bisa tidur coba? Meluknya
gini amat.
***
“Sebaik-baik
kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istrinya. Tertawa, bermain dan
bercandalah dengan istrimu, karena itu adalah sunnah.
Ketika
suami istri saling memandang satu sama lain dengan penuh cinta dan kasih
sayang, maka Allah memandang keduanya dengan tatapan kasih sayang”
[Tahajud
Cinta, EPR]
TC 19
Hari
Bahagia
Beberapa
minggu kemudian..
Sudah seminggu ini Ayesha belajar mempersiapkan diri
untuk menghadapi sidang skripsinya. Kavindra meminta untuk mempresentasikan
skripsi itu dihadapannya. Hampir setiap hari kegiatan ini mereka lakukan di
ruang kerja rumah mereka, dan waktu sidang yang tinggal besok pagi semakin
membuat Ayesha tegang. Seperti malam ini Ayesha kembali belajar bersama suaminya.
“Kenapa sayang?” tanya Kavindra melihat istrinya yang
nampak tegang.
“Ya Allah Mas, aku presentasi di depan mas saja sudah
deg-degan kayak gini. Ini saja sudah latihan berhari-hari. Gimana besok ya,
nggak bayangin kalau dibantai di ruang sidang?” ucap Ayesha dengan nada
khawatir.
Kavindra tersenyum lalu mendekat dan mengelus rambut
istrinya. Dipeluknya Ayesha dari sisi kanan tubuhnya.
“Jangan tegang, harus percaya diri ya. Kamu itu cerdas
lho sayang bisa selesain kuliah hanya tiga tahun. Istri siapa dulu dong.”
sambil mengelus lembut pipi istrinya.
“Oh iya tau nggak sayang.. mas itu selalu ingat nasehat dosen mas dulu.
Beliau bilang kenapa para mahasiswa itu kalau sidang skripsi pada ketakutan,
bahkan karena tegangnya membuat mereka justru lupa apa yang harus disampaikan.”
“Mas sih nggak merasakan?” potong Ayesha.
“Sssst.. bibirnya ini lho.” ucap Kavindra sambil mengecup
singkat bibir istrinya. Ayesha yang kaget langsung menepuk lengan Kavindra.
“Dengerin dulu sayang. Siapa bilang nggak merasakan? Mas
kan juga pernah menjadi mahasiswa. Jadi apa yang kamu rasain sekarang sudah
pernah Mas rasain. Jadi dulu yang membuat mas akhirnya lancar sekali dalam
sidang karena ingat kata dosen mas. Beliau bilang kalau skripsi itu kan kita
yang membuat, dari awal sampai akhir. Dan karena kita yang menyusun maka sewajarnya
kita juga paham isinya. Nah, kenapa dosen penguji itu bertanya? Ya karena
mereka ingin tahu isi dari skripsi kita, bukan kayak kata kamu tadi apa?
Pembantaian ya.” kata Kavindra sambil tertawa.
“Habis kata para senior yang sudah sidang suasana disana
menegangkan banget.”
“Tegang itu wajar tapi jangan sampai menguasai diri.
Efeknya yang tidak bagus untuk diri sendiri. Seperti apa yang mas katakan tadi,
ketegangan yang berlebihan bisa membuat lupa apa yang seharusnya disampaikan
padahal semuanya sudah dipersiapkan dengan baik. Memang dari segi apa yang
menakutkan? Tadi mas lihat kamu lancar-lancar saja bahkan sudah menguasai
materi dengan sangat baik. Mas jujur lho ini, obyektif sebagai dosen.”
“Ya semuanya mas, ada yang bilang menakutkan saat ditanya
tentang latar belakang atau pas landasan teori begitu, tapi ada juga yang takut
karena yang ditanyakan metode penelitiannya, ya macam-macamlah, setiap senior
yang cerita pasti memiliki pengalaman sendiri-sendiri.”
“Sekarang mas mau tanya, dulu yang mengajukan judul
siapa? Mahasiswa atau dosen? Ehm.. gini deh nggak usah jauh-jauh, contohnya
kamu saja.”
“Mahasiswa ehm maksudnya.”
“Kenapa kamu mengajukan judul itu?”
“Ya karena aku melihat ada latar belakang permasalahan
dari variabel pada subyek penelitian itu.”
“Itu kamu tahu sendiri. Jadi kamu kan yang melihat ada
permasalahan disana. Berarti yang tahu lebih dulu juga mahasiswa yang
bersangkutan? Dosen pembimbing menyetujui karena itu memang perlu untuk
diteliti lebih lanjut.” Ayesha lalu menganggukkan kepalanya.
“Ehm.. tahu nggak mas. Di kampus ada desas desus lho
tentang mas”
“Desas-desus apa?”
“Ehm.. tapi mas harus janji dulu, jangan marah ya?”
“Ya lihat dulu dong, ngegosip apa sih?”
“Ya sudah nggak jadi kalau begitu.” kata Ayesha sambil
berdiri.
“Eits... nggak boleh pergi dulu. Nggak boleh ngegosip di
WA lagi lho ya, sini duduk lagi.” Kata Kavindra sambil menarik pinggang
istrinya sampai terduduk lagi.
“Memang desas desus apa lagi? Tentang mas?”
“Mau tau aja atau mau tau banget?” goda Ayesha.
“Awas lho ya.” ucap Kavindra sambil menggelitiki
istrinya.
“Sudah.. sudah Mas...” kata Ayesha kegelian.
“Mau bilang nggak?”
“Iya..iya tapi sudah dulu geli aku mas.” Kavindra berhenti menggelitik istrinya
tapi langsung sigap mendekapnya.
“Ih.. mas lepasin ah.” rengek Ayesha.
“Enggak.. ntar kamu lari.”
“Enggak.. nggak aku nggak lari. Bener deh. Ini mas
kenceng banget lho.” akhirnya Kavindra melonggarkan dekapannya.
“Bagaimana?” tanya Kavindra.
“Jadi gini, kata teman-teman di kampus itu, ada beberapa
dosen yang ditakuti saat sidang.” Ayesha berhenti sejenak.
“Terus?” tanya Kavindra penasaran.
“Ehm... salah satunya mas.” Kata Ayesha lirih.
“Kata mereka lagi, kata mereka lho, ehm.. mas itu ganteng-ganteng
srigala begitu.” lanjutnya.
Kavindra yang mendengarnya lalu tertawa terbahak-bahak.
“Astaghfirullah...
temen-temenmu itu lho -yang ada-ada aja.”
kata Kavindra masih sambil tertawa.
“Sudah ah aku mau tidur dulu.” ucap Ayesha kesal saat melihat
suaminya yang masih terus tertawa.
“Eits.. kenapa sih? Kok malah kesel? Seharusnya kan mas
yang kesel kok malah kamu yang marah sih -yang?”
“Habis nya mas ih dibilangin kok malah tertawa terus.”
“Iya..iya maaf ya..yuk.” kata Kavindra sambil merangkul
isrinya.
“Yuk kemana?” tanya Ayesha polos.
“Lhah tadi katanya mau tidur, bagaimana sih nyonya Kavindra
Syahreza Putra Pratama ini? jadi nge-blank
ya karena suaminya ganteng-ganteng srigala hahaha.” kata Kavindra sambil
tertawa. Ayesha yang mendengarnya lalu mendengus pelan dan berjalan mendahului
suaminya yang masih harus mematikan lampu ruang kerjanya.
***
Akhirnya hari yang menegangkan itu tiba. Setelah belajar
tadi malam. Ayesha dan Kavindra memutuskan untuk istirahat. Semalam Ayesha tidak
bisa tidur dengan tenang dan Kavindra yang menyadari kegelisahan istrinya itu
lalu memeluknya sampai pagi. Pagi harinya pun Ayesha sudah terlihat gelisah. Kavindra
yang melihat sikap istrinya lalu menyiapkan sarapan sederhana yang biasanya
disiapkan oleh istrinya. Tapi khusus pagi ini, Kavindra yang menyiapkannya.
“Ayo makan dulu sayang.” ajak Kavindra yang melihat
istrinya tampak hanya mengaduk makanannya sambil membaca draft skripsinya.
“Nggak enak ya.”
Tanya Kavindra lagi.
“Eh.. enak kok mas. Maaf ya Mas, aku nggak bisa nyiapin
sarapannya.”
“Sini.”
“Apa?” Tanya Ayesha dengan kening berkerut.
“Draft-nya
diletakkan dulu, kamu harus sarapan.” Ayesha
yang baru menyadari kalau piringnya sudah berpindah tempat didepan suaminya,
bahkan suaminya juga sudah menyiapkan sesendok makanan didepan mulutnya. Kavindra
lalu mengambil draft yang diberikan Ayesha
dan meletakkannya disebelahnya.
“Ayo dibuka mulutnya, setegang apapun kamu, harus tetap
sarapan ya.” Ayesha pun menurut dan menerima suapan dari suaminya.
“Sudah mas.. aku kenyang.”
“Dua suap lagi.” Kata Kavindra tidak mau dibantah.
Akhirnya Ayesha pun menurut.
Setelah selesai sarapan mereka pun berangkat bersama dari
apartemen menuju ke kampus. Setelah weekend
kemarin Kavindra langsung kembali ke Yogyakarta dan tidak menginap di rumah
mertuanya, melainkan tidur di apartemen milik keluarganya agar Ayesha lebih
fokus belajar. Lokasinya pun tidak jauh dari kampus miliknya.
Sesampainya di parkiran kampus. Ayesha bergegas turun
dari mobil setelah mencium tangan suaminya. Saat tangan kiri membuka handle pintu, Kavindra menahan lengan
kanannya. Ayesha pun menengok. Kavindra lalu menarik kepala istrinya dan
mencium bibir istrinya cepat. Ayesha terkesiap kaget. “Mas, nanti ketahuan!” Kavindra
hanya tersenyum santai menanggapi istrinya yang terlihat kaget.
“In sya Allah
enggak sayang, parkir masih sepi kok.”
“Tapi nanti kalau ada _”
“Sssst.. udah ah, mas Cuma mau bilang jangan terlalu
tegang, mas yakin kamu pasti bisa.” Ucap Kavindra sambil mengelus kepala
istrinya.
“Aaamiin. Makasih ya mas doa dan semangatnya. Kalau
begitu Aku turun dulu ya.” pamit Ayesha. Kavindra menganggukkan kepalanya.
Begitu sampai di depan ruang sidang, ternyata beberapa
temannya sudah datang untuk memberikan semangat. Sekitar setengah jam kemudian Ayesha
sangat bersyukur sekali bisa menjawab semua pertanyaan yang diajukan dosen
pengujinya, artinya Ayesha sukses dalam mengikuti sidang. Betapa bersyukurnya Ayesha
saat mengingat bagaimana suaminya mendampingi dan mengarahkannya selama skripsi
sampai sidang.
Setelah selesai, Ayesha pun membuka pintu ruang sidang.
Bahagianya Ayesha melihat teman-temannya sudah menunggu dan menyambutnya dengan
pelukan dan buket bunga. Ucapan selamat pun mengalir dari mereka. Saat sedang
bercengkerama dengan teman-temannya, bahu Ayesha ditepuk oleh salah satu
temannya yang bernama Sinta. Ayesha lalu bertanya,
“Kenapa Sin?”
“Balik badan gih Sha, ada someone spesial ini.” ucap Sinta sambil senyum-senyum. Ayesha pun
berbalik dan melihat Kavindra yang sudah berdiri sambil tersenyum lebar sembari
membawa sebuket bunga mawar merah yang indah. Kavindra lalu melangkah maju dan
memberikan buket bunganya itu kepada Ayesha “Congratulation sayang. I’am
so proud of you.”
“Thanks mas”
ucap Ayesha sambil menerima sebuket bunga dari suaminya.
“Peluk...peluk.” Tiba-tiba terdengar suara riuh dari
teman-temannya.
“Bener ini nggak apa-apa?” tanya Kavindra sambil
tersenyum jahil.
“Nggak pa pa deh pak, kita merem ya teman-teman.” ucap
Angga yang diikuti tawa teman-temannya. Kavindra pun langsung maju dan memeluk Ayesha.
Sorak sorai teman-temannya begitu terdengar riuh dipenjuru lantai dua kampus
itu.
***
Ayesha dan Kavindra sudah di mobil sekarang, bersiap
pulang ke rumah setelah semua hadiah kelulusan yang berasal dari teman-temannya
dimasukkan ke dalam mobil. Ayesha sungguh bahagia hari ini, sesuatu yang ia
tunggu-tunggu dan gelisahkan beberapa minggu lalu, akhirnya selesai dengan
hasil yang memuaskan. Ia sekarang fokus untuk acara walimahan dan wisudanya.
“Mas.. kok teman-teman sudah pada tau semua ya tentang
pernikahan kita ?” tanya Ayesha tiba-tiba.
“Memangnya kamu malu ya kalau mereka tau.”
“Nggak lah mas, tapi...”
“Nggak usah dilanjutkan sayang.” potong Kavindra sambil menempelkan telunjuknya
dibibir manis istrinya.
“Tadi Sinta ke ruang mas untuk konsultasi, jadi sekalian
dia nanyain hubungan kamu dengan mas. Dia penasaran dengan siapa mas menikah.
Rupanya pak penghulu kita itu pamannya Sinta. Saat ia berkunjung ke rumah
pamannya kebetulan berkas-berkas kita terjatuh di depan Sinta dan ia ikutan
ngutip. Dan saat ia liat di sana tercantum nama kita berdua, karena penasaran
ia tanya ke pamannya.
“Paman, yang nikah ini siapa?” tanya Sinta ke pamannya.
“Pak Kavindra, seorang CEO muda yang sukses.” kata pamannya.
“Tapi.. kok namanya mirip nama dosen kami ya..” tanya
Sinta bingung.
“Oh iya,
denger-denger beliau juga mendirikan sebuah kampus di kota ini.”
“Paman tahu nama kampusnya apa?”
“Itu paman yang enggak tau.”
.”....”
Ternyata Sinta juga sempat melihat kita tadi pagi saat
kamu turun dari mobil. Akhirnya mas ceritain saja terus sama dia kalau kamu
istri mas. Setelah itu mas nggak tau lagi, apa mungkin dia cerita ke
teman-teman yang lain. Gitu sayang ceritanya.”
“Ooh gitu...”
“Kan ga pa pa sayang.. lagian kita kan sudah jadi suami istri yang sah. Jadi ngapain
ditutupi lagi.”
“Iya mas.”
“Btw kamu laper nggak sayang?”
“Laper dong mas.. kan energi aku sudah terkuras abis
tadi.. he he.”
“Terus mau makan apa bidadari surgaku.”
“Ish mas ah...”
“Jadi merah kan mukanya. Si macan mas.. manis dan
cantik..” Rayu Kavindra sambil mengelus pipi mulus miliknya Ayesha.
“Maaaasss.... gombal mulu sih ah.” jawab Ayesha sambil
mencubit manja lengan suaminya.
“Aauuuww.. ampuun nyonya Bos...” ucap Kavindra kaget
dengan cubitan istrinya.
“Mas.. Aku laperr.”
“Oh iya, mau makan apa cintaku?”
“Aku kepingin Mie Sop Iga.”
“Oke.. kita cari tempat Mie Sop Iga yang paling enak di
kota ini ya sayang.”
Akhirnya Kavindra mengarahkan mobilnya ke arah sebuah caffe
miliknya pak Haji Salim. Disana banyak menu yang tersedia. Andalannya adalah
Mie Sop Iga, Mie Sop Iganya memang sudah sangat dikenal terutama dikalangan
mahasiswa sekitarnya. Untungnya mereka datang saat belum waktunya makan siang,
jadi warungnya belum penuh. Jangan tanya setelah ini pasti sudah susah untuk
mencari tempat duduk.
“Mas, boleh tambah nggak?” Kavindra sedang makan pun
kaget tapi kemudian dia berpikir mungkin istrinya benar-benar lapar karena baru
selesai ujian skripsi.
“Boleh, mas pesenin ya.” Ayesha pun langsung habis dua
porsi Mie Sop Iga. Setelah selesai makan dan keluar menuju parkir mobil, Ayesha
menahan lengan suaminya lagi.
“Mas, Aku pengen
beli ice cream itu deh, kayaknya
seger banget. Tungguin ya.” Kavindra hanya menganggukkan kepalanya, kemudian
mengikuti langkah istrinya. Sambil berjalan Kavindra membayangkan saat-saat
istrinya hamil nanti yang ingin makan ini ingin makan itu. Istilahnya ngidam
gitu ya.. Terasa asyik juga membayangkan hari-hari yang membahagiakan tersebut.
Kavindra senyum-senyum sendiri saat membayangkan hal tersebut. Ya Allah... semoga Engkau segerakan hari yang
membahagiakan itu.. Aamiiin ya Rabb.
“Mas...mas...” Kata Ayesha sambil menggoyangkan lengan
suaminya.
“Eh,... sudah ya.”
“Mas melamun ya.”
“Enggak kok, yuk pulang.” Ajak Kavindra sambil merangkul
istrinya.
Sesampainya di rumah, mereka berdua langsung masuk kamar,
dipeluknya suaminya dengan erat. Kavindra yang kaget langsung berbisik di telinga istrinya.
“Kenapa?”
“Makasih ya mas, berkat bantuan mas aku bisa
menyelesaikan skripsi ini dengan tepat waktu. Makasih juga mas selalu sabar
dengerin keluh kesahku, mas yang selalu ada setiap aku butuh kapanpun. Makasih banget.” Ucap Ayesha sambil
menatap suaminya.
“Iya, sama-sama sayang. Tau nggak sayang, mas rasanya
bangga banget liat kamu lulus lebih cepat dari waktu yang telah ditentukan.
Makasih ya sayang. Meskipun udah menjadi seorang istri, kamu tetap semangat
mengerjakan skripsi dan mas juga minta maaf pasti banyak membuatmu sakit hati
selama minta bimbingan sama mas.”
“Nggak kok mas, pokoknya aku yang makasih banget.” Ucap Ayesha
sambil berkaca-kaca.
“Jangan nangis dong sayang, sudah sarjana lho?”
“Ih mas ini lho, Aku kan bener-bener terharu... Oh iya
mas pekan depan acara walimahan kita kan ya.”
“Oh iyaya sayang.. hampir lupa saking fokusnya ke sidang
kamu sayang.”
“Untuk undangan kawan-kawan di kampus sudah tersebar
semua belum mas.”
“Tadi barusan siap sidang kamu, mas langsung minta tolong
sama Sinta dkk untuk nyebarin undangan kita sayang.”
“Makasih ya sayang?”
“Ah istri mas ini makasih mulu.. Ya udah, sekarang kamu
bersih-bersih dulu, terus istirahat ya sayang. Kan capek seharian tadi.” ucap Kavindra
sambil mengecup lembut kening Ayesha.
***
Iringan selawat melalui alat musik saxophone terdengar menggema didalam gedung ini. Kavindra yang
berdiri diatas karpet merah didampingi kedua orang tuanya menunggu kedatangan Ayesha
yang berjalan tidak jauh dari hadapannya. Senyum Kavindra tidak berhenti
melihat kehadiran istrinya yang hari itu luar biasa cantik di matanya. Dicampur
dengan rindu yang berat membuat hatinya kian membuncah. Tidak sabar rasanya
untuk segera memeluk istrinya jika tidak mengingat sekarang sedang berada di
tempat umum.
Setibanya di depan suaminya, Ayesha meraih tangan Kavindra
untuk dicium. Sebuket bunga yang dipegangnya pun diserahkan. Sembari memberikan
bunga, Kavindra memandangi wajah istrinya sambil berbisik “Mas kangen banget
sama kamu sayangku.” Mendengar perkataan suaminya, Ayesha tersenyum. Kavindra lalu
mencium kening sang istri. Selesai mencium kening istrinya, Kavindra memberikan
lengannya untuk digandeng oleh Ayesha. Keduanya pun melanjutkan jalan menuju
pelaminan.
Suasana gedung pun tertata apik. Nuansa putih tulang
sangat terasa, banyak tatanan bunga disetiap sudut ruangan. Di depan pelaminan
terdapat banyak kursi yang berjajar rapi, mungkin sekitar sepuluh baris dengan
masing-masing baris terdiri dari dua belas kursi dengan lorong ditengahnya.
Para tamu yang akan memberikan ucapan selamat berada disebelah kiri barisan
kursi. Sebelah kanan ruangan terdapat meja-meja dengan kursi yang melingkarinya.
Sajian makanan berada dibelakangnya. Jadi para tamu yang hadir dipastikan dapat
duduk semua jika melihat kursi yang disediakan.
“Ayesha... selamat yaa.” teriak teman-teman kuliahnya.
Berbondong-bondong mereka naik ke pelaminan. Satu persatu mereka mengucapkan
selamat dan mendoakan kedua mempelai. Sebagian teman-temannya ada juga yang
geram dengan sikap Ayesha yang menutupi rapat tentang pernikahannya selama ini.
“Foto bareng dong.” ajak Sinta. Mereka pun segera
menempatkan diri disamping kiri kanan dan depan kedua mempelai. Mereka berfoto
beberapa kali. Setelah selesai mereka menyalami pengantin itu lagi.
“Sekali lagi selamat ya, semoga menjadi keluarga sakinah
mawaddah warahmah, moga cepet kasih ponaan ya buat aku.” bisik Nadira sambil
meluk erat sahabatnya itu.
“Aamiiin.” Kita idem ya Sha... apapun yang dibisik Nadira
tu tadi ke kamu semoga cepet dikabulin yak.” ucap Mila.
“Selamat ya Pak Reza alias Pak Kavindra. Semoga bahagia.”
ucap Nada.
“Doakan kami ya pak semoga kami cepet menyusul” ucapnya
lagi.
“Aamiiin, semoga kalian semua cepat menyusul. Terimakasih
sudah hadir.” Jawab Kavindra.
“Iya Pak, sama-sama.” Jawab mereka kompak.
Keberadaan mereka sekarang pasti terlihat heboh,
bagaimana tidak? Ada sekitar lima puluh orang yang maju ke pelaminan bersamaan
disatu waktu. Tingkah mereka saat berfoto bersama dan jangan lupakan suara tawa
bahagia mereka karena melihat temannya sendiri yang menikah dengan dosen idola
serta pemilik kampus favorite-nya
sekaligus juga seorang CEO muda yang sukses. Diam-diam Ayesha tersenyum bahagia
melihat teman-temannya bisa menghadiri acara resepsi ini dengan wajah yang juga
memancarkan kebahagiaan seperti dirinya.
“Pak Reza.. Ayesha.. kami kebawah dulu ya.” Ucap Angga.
“Oh iya, makasih sudah datang. Silahkan dinikmati apa
yang ada ya.” Jawab Kavindra sambil tertawa. Ayesha pun mengangguk sambil
tersenyum.
“Pak Reza tau aja.” kata Angga diikuti tawa
teman-temannya. Setelahnya mereka pun turun berbaur dengan tamu undangan yang
lainnya. Suasana pesta berlangsung sangat khidmat dan meriah. Lagu-lagu
romantis juga terus mengalun indah dari penyanyi yang mengiringi suasana pesta
tersebut. Kavindra terus merangkul istrinya yang terlihat begitu cantik dan
anggun bagaikan princes dibaluti gaun
panjang berwarna biru muda yang senada dengan jas mewah miliknya Kavindra.
Mereka berdua bagaikan raja dan ratu layaknya dicerita-cerita dongeng. Indah
dan sangat bahagia.
***
Hari ini jalanan menuju kampus Hijau Muda sedang ramai.
Banyak kendaraan yang berlalu lalang. Dengan wajah yang berseri-seri mereka
mengantarkan kelulusan putra-putrinya menjadi seorang sarjana. Tidak terkecuali
Ayesha yang didampingi oleh orang-orang tercinta.
Pukul satu siang acara sudah selesai, para wisudawan pun
sudah keluar dari gedung. Ayesha keluar dengan wajah yang berseri-seri.
Akhirnya tiba hari dimana gelar
kelulusan sarjana dia dapatkan.
“Sha, ayo foto dulu yuk,” ajak teman seangkatannya.
“Om, tante, pak Reza, Ayesha kami pinjam sebentar yaa,
hehe.”
“Ya, silahkan,” kata Kavindra.
Bersama dengan teman sejurusan dan seangkatan yang wisuda
hari ini, Ayesha berfoto.
“Selamat ya, Sha”
“Makasih yaa,”
“Selamat yaa,”
“Selamat ya, Risma,”
“Selamat Dinda,”
“Makasih.”
Semuanya berpamitan setelah saling mengucapkan selamat
dan menemui teman atau keluarganya yang sudah menunggu. Setelah berpisah dengan
Risma, Dinda dan teman-temannya, Ayesha kembali ke tempat awal.
“Sayang, kamu capek? Minum dulu ya?” Kavindra memberikan
sebotol air mineral untuk istri tercinta.
“Makasih, Mas.” balas Ayesha sambil duduk dan meminum
minuman yang diberikan Kavindra suaminya.
“Assalamu’alaikum
Mas Kavin?”
“Wa’alaikumsalam,
Haii.. Rendy apakabar?
Ayesha tersentak kaget mendengar suara dan nama Rendy.
“Alhamdulillah
Mas..baik.”
“Kamu juga diwisuda hari ini? selamat yaa?” ucap Kavindra
bahagia.
“Makasih, Mas” balas Rendy.
“Mas Reno mana? Enggak ikutan?” tanya Kavindra.
“Mas Reno sudah meninggal karena kecelakaan tunggal dua
bulan yang lalu, Mas.” lirih Rendy dengan mata berkaca-kaca.
“Innalillahi wa
innailaihi rajiun.”
“Oh iya.. ngomong-ngomong Mas Kavin siapa yang diwisuda?”
Tanya Rendy.
“Istri saya. Kenalkan.” Ucap Kavindra.
Ayesha yang tadinya duduk segera berdiri dan menangkupkan
kedua tangannya di dada.
“Ayeshaa..” ucap Rendy kaget.
“Kalian saling kenal?” Tanya Kavindra.
“Emm.. iya, Mas. Rendy ini kawannya Dimas. Jadi kita
pernah jumpa saat ia ke kampus kita.. Ya kan Ren? Jelas Ayesha kepada suaminya.
“Iiya.. Mas..” Jawab Rendy terbata-bata.
“Mas, kenal dari mana sama Rendy? Tanya Ayesha.
“Mas satu angkatan kuliah di Amerika dengan Reno,
kakaknya Rendy yang tadi kita ceritakan." ucap Kavindra.
“Ooh.. begitu. Ternyata dunia ini sempit yaa.
Btw.. selamat ya Ren atas kelulusannya.. Barakallah fii Ilmi.” Ujar Ayesha.
“Makasih, Sha. Selamat juga atas pernikahan dan wisudanya
yaa..” Balas Rendy.
“Makasih Ren.” Ucap Ayesha sambil tersenyum.
“Kalau begitu saya pamit dulu ya, Sha.. Mas Kavin?” Ujar
Rendy sambil menyalami Kavindra dan kedua orang tua Kavin dan Ayesha.
“Ini untukmu Sayang.. selamat atas kelulusannya ya..”
Ucap Kavindra sambil memberikan sebuah buket dengan bunga mawar merah ditengah
lengkap dengan boneka Teddy bear graduation.
Ayesha sangat bahagia dengan semua yang telah disajikan oleh Kavindra
suaminya. Lalu Ayesha menyalami dan memeluk suaminya dengan penuh kasih sayang.
Saat Kavindra memeluk Ayesha, ia berbisik tepat ditelinga istrinya.
“Ntar malem, mas kasih hadiah spesial buat kamu ya
sayang.. I love you istriku..” Ucap
Kavindra menggoda istrinya. Seketika wajah Ayesha memerah menahan malu, karena
kata-kata itu terdengar juga oleh orang tua dan mertuanya itu.
“Mas!” bisik Ayesha sembari mencubit pinggang suaminya.
“Aw! Aw! Sayang, ih. Bercanda bercanda,” ucap Kavindra
setengah berteriak lalu merangkul istrinya.
Setelah acara foto-foto bersama keluarga, Ayesha dan
keluarganya menuju mesjid untuk melaksanakan shalat dzuhur dan lalu mampir kesebuah
restoran mewah untuk menikmati makan siang bersama. Dalam sebulan ini, Ayesha
benar-benar merasakan bahagia yang sangat luar biasa. Semua impiannya telah
terwujud, ‘Maka nikmat Tuhan kamu yang
manakah yang kamu dustakan?’.
***
“Kesabaran
itu pasti mengalahkan hari yang terberat sekalipun. Kebahagiaan tidak akan
pernah sampai kepada mereka yang gagal menghargai apa
yang sudah
mereka miliki.”
[Tahajud
Cinta, EPR]
TC 20
Dzikir Cinta
Kring!
Kring!
03.00 am.
Dering jam weker itu berhenti tepat setelah seorang
wanita mematikannya. Kedua netra dengan bulu mata lentik itu mengerjap saat
sinar lampu remang-remang menancap indra penglihatan. Setelah shalat Isya tadi Ayesha
langsung tertidur pulas. Tubuhnya benar-benar pegal setelah seharian merayakan
hari wisudanya. Ayesha menoleh kesamping tidurnya, seorang laki-laki dengan
wajah yang tampan masih tertidur pulas. Tangannya yang kekar memeluk tubuh Ayesha
yang ramping. Ayesha masih tidak menyangka jika sampai saat ini dirinya bangun
disuguhi pemandangan seindah ini.
Terimakasih, Mas. Sudah berjuang
begitu banyak. Sudah sangat sabar menantiku.
Pelan Ayesha menggerakkan jari telunjukknya ke wajah Kavindra,
menelusuri dua alis tebal Kavindra yang begitu pas menempel di matanya yang
tajam. Hidung mancung dan bibir tipis kemerahan. Nyaris sempurna. Kavindra bergerak
saat tersadar jika tidurnya sedang diganggu istrinya.
“Kenapa sayang?” Tanya Kavindra masih dengan kedua mata
terpejam. Suaranya yang berat dan serak sukses membuat jantung Ayesha berdebar.
“Ga ada apa-apa
Mas.” Ayesha terkaget karena membuat suaminya terbangun. Ayesha kembali tidur
sambil berbalik badan memeluk guling. Dan saat itu pula Kavindra kembali
memeluk Ayesha dari belakang dengan sangat erat.
“Hey, cantik bangun yuk, shalat tahajud bareng Mas.”
bisik Kavindra tepat di telinga Ayesha.
“Bentar lagi ya Mas, badan Aku masih pegel-pegel nih.”
“Utututu humairahku tersayang sini-sini Mas gendong ke
kamar mandi, ntar selesai tahajud Mas pijitin ya sayang?”
“Ehh, nggak mas.. aku ambil wudhuk dulu ya mas.” langsung
terbangun dengan kagetnya.
“Ya udah, kamu duluan yang wudhuk biar Mas yang siapin
alat-alat shalatnya ya sayang.”
“Iya Mas” Ayesha tersenyum dengan sangat manis. Bahagia
sekali mendapatkan suami yang begitu penyayang terhadapnya.
Setelah selesai shalat tahajud.
Kavindra berdoa dengan suara yang lirih:
“Ya Allah, terimakasih Engkau
telah memberikan nikmat baik dalam hidup hamba. Terimakasih telah menakdirkan
wanita shalihah untuk menjadi tulang rusuk hamba. Sungguh, aku sangat
mencintainya, Rabbi. Jagalah cinta kami, kuatkan iman kami, luruskan niat kami,
selalu lindungi kami di jalan yang Engkau ridhai. Ya muqallibal quluub tsabbit
qalbi ‘ala diinik”
“Aaamiin Ya Rabbal
‘alamiin” jawab Ayesha dengan penuh haru.
Kavindra lalu membalikkan badan seraya disambut Ayesha menyalami
tangan suaminya dan menciumnya.
“Terimakasih Mas.. sudah sangat baik untuk aku.” Ucap Ayesha
sambil terisak haru.
Lalu Kavindra merangkul
dan memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang.
“Alhamdulillah ya
Allah telah menganugerahkan seorang imam yang begitu baik dan penyayang untuk hamba.
Terimakasih, Mas” ucap Ayesha lagi saat dalam pelukan Kavindra.
Sesaat kemudian Kavindra melonggarkan pelukannya.
“Kenapa? kamu masih ngantuk ya cantik?” tanya Kavindra kepada
Ayesha dengan tatapan yang penuh cinta.
“Iya Mas, masih ngantuk” Jawab Ayesha manja.
“Ya udah, sini manis bobo di pangkuan mas.. Mas mau ngaji
dulu, ntar mas bangunin kalau sudah adzan subuh.”
Tanpa dikomando lagi Ayesha tersenyum bahagia dan
langsung tidur di pangkuan suaminya.
Kavindra terus menerus menatap wajah Ayesha yang sudah
terlelap di pangkuannya. Dengan lembut Kavindra membelai puncak kepala Ayesha yang
masih dibaluti mukenanya yang berwarna putih tulang. Wajah naturalnya begitu
manis dan sendu saat ditatap membuat hati Kavindra begitu sejuk dan bahagia. Kavindra
sangat beruntung dan bersyukur mendapat istri seperti Ayesha, wanita idamannya
sejak dulu.
Terimakasih, ya Allah.. telah
menakdirkan kepadaku perempuan se-shalihah istriku. Terimakasih ya Allah telah
menyatukan kami dalam ikatan cinta yang sah. Semoga cinta kami terus menguat
seiring berjalannya waktu sampai ke jannah-Mu kelak.
Terimakasih sayang.. telah menerimaku menjadi suami dan
imammu. Semoga aku terus mengukir kebahagiaan dalam hidupmu. Dan semoga cinta
kita terus terjaga selamanya. Ana
Ukhibbuki Fillah, ya Zaujati. Kembali mengecup puncak kepala istrinya.
***
04.40 am.
Sayup suara kokok ayam milik tetangga terdengar membuat Kavindra
berhenti melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dan meletakkan mushaf Al-Qur’an
kembali diatas nakas. Sebelumnya ia membangunkan istrinya yang masih tertidur
pulas dalam pangkuannya.
“Sayang.. bangun sudah mau subuh” ucap Kavindra sambil
mengelus lembut pipi manis Ayesha.
“Jam berapa sekarang?” Ayesha mencoba bangun dan matanya
masih segaris.
“Jam lima kurang sepuluh menit”
“Hah, beneran?” Ayesha mengucek mata melihat jam yang
terpajang diatas nakas samping Al-Qur’an yang di letakkan Kavindra.
“Mas mau jamaah ke Mesjid ya.. terlambat nggak sayang?”
“Nggak dong”
Secepat kilat Ayesha menyiapkan baju koko, sarung serta
sajadah yang akan Kavindra gunakan untuk shalat subuh berjamaah di Mesjid.
Sementara Kavindra sedang di kamar mandi untuk membersihkan diri.
“Mas berangkat dulu ya sayang. Assalamu’alaikum.”
“Mas, tunggu dulu.” Ayesha menyusul suaminya keluar
kamar.
“Kenapa?”
“Lupa belum salim, hehe” Ayesha mengambil tangan Kavindra
dan menciumnya.
“Wa’alaikumsalam.”
Pemandangan seperti ini adalah hal yang Kavindra selalu
syukuri. Menjadi suami dari Ayesha adalah anugerah terindah yang Allah
hadiahkan untuknya. Ayesha adalah wanita yang shalihah dan berbakti kepadanya.
Istrinya itu adalah wanita yang kuat, selalu mendukung Kavindra dan berusaha
untuk tetap berfikir positif meskipun waktu yang tidak baik. Kavindra mengelus
kepala Ayesha dan menciumnya dengan lembut.
“Mas berangkat ke mesjid dulu ya Zaujati”
Setelah Kavindra berangkat, Ayesha melaksanakan shalat
subuh sendiri di mushalla rumahnya. Memanjangkan syukur kepada Allah yang telah
melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya.
“Ya Allah, terimakasih Engkau telah memberikan nikmat
baik dalam hidup hamba. Terimakasih telah menakdirkan lelaki shalih untuk
menjadi imamku. Sungguh, aku sangat mencintai suamiku. Jagalah selalu cinta
kami ya Rabbi. Semoga kekuatan cinta kami bisa membuat iman kami semakin kuat
dan semakin tinggi kepada-Mu ya Rabb. Rabbana
aatina Fiddunya hasanah, Wa fil akhirati hasanah Waqina ‘adzabannar.”
Sebelum Kavindra kembali dari Mesjid, Ayesha sudah lebih dulu
menyiapkan sarapan pagi untuk mereka berdua. Menu untuk bekal sarapan adalah
ayam penyet dengan sambal terasi. Waktu itu dirinya dan Kavindra sedang makan
bersama disalah satu caffe, karena
rasanya yang nagih Kavindra jadi ingin dimasakin sendiri oleh sang istri.
“Assalamu’alaikum”
Kavindra membuka pintu utama. Ia berjalan kearah dapur
yang menjadi sumber berisik pagi ini. Diam-diam Kavindra memperhatikan istrinya
yang kerepotan menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Ayesha selalu lucu kalau
sedang fokus begitu.
“Argh!” Ayesha berteriak saat cabe yang digoreng meletus
dan minyak panas mengenai wajahnya. Melihat istrinya tampak kesakitan, dengan
rasa penuh khawatir Kavindra menghampiri.
“Kenapa sayang?”
Kavindra mendekati Ayesha yang berdiri diam dan menutupi
wajahnya.
“Ayesha, kenapa?”
“Sayaaaaang,” Kavindra menyentuh pundak Ayesha dengan
lembut, “kamu kenapa sayang?”
Memerlukan sedikit waktu untuk Ayesha mau melepaskan
telapak tangannya. Sampai Kavindra melihat wajah istrinya memerah.
“Ada apa?” tanya Kavindra sekali lagi saat Ayesha sudah
mulai tenang.
“Pipi aku kecipratan minyak goreng.”
“Coba mas liat.”
Kavindra menghela nafas melihat pipi Ayesha yang memerah
karena minyak panas. Untuk mengabdi menjadi istri yang baik sampai harus
seperti ini.
“Duduk dulu, sayang. Biar mas obati dulu pipinya.”
Ayesha menuruti kata suaminya untuk duduk di kursi,
sedangkan Kavindra mengambil salep di kotak obat.
“Memangnya kenapa bisa kamu kecipratan minyak?”
“Tadi aku goreng cabe mau buat sambel terasi untuk ayam
penyet, tapi cabenya meletus.”
“Lain kali kalau goreng cabe ditutup ya wajannya. Biar
wajah kamu tetap cantik.”
Ayesha mengerutkan kening bingung. “Jadi maksud Mas Kavin
sekarang Aku jelek?”
“Mas nggak bilang begitu loh, kamu sendiri yang
menyimpulkan sendiri," Kavindra duduk disamping Ayesha, “Diem dulu,
ditahan protesnya!” sela Kavindra saat Ayesha hendak kembali bersuara.
Kavindra mengelus dengan lembut pipi Ayesha. Istrinya ini
begitu cantik meskipun tidak memakai skincare
apapun. Lama Kavindra terdiam sampai akhirnya dia mendekat dan mengecup lembut
pipi Ayesha. Aroma wangi vanilla milik Ayesha membuat Kavindra betah mendekap
sang istri.
“Mas modus ya?”
“Eum...” Kavindra kembali duduk tegap, “Nggak papa modus
sama istri sendiri, kan udah halal.”
“Katanya tadi mau ngobatin pipi aku, tapi kok malah dicium.”
“Malah itu tadi obat paling manjurnya. Coba masih sakit
nggak pipinya?”
Ayesha menahan senyum. Obat yang diberikan Kavindra sangat
manjur membuat jantungnya berulah. Serasa Ayesha dibawa terbang oleh kenyataan.
Meskipun bukan pengantin baru lagi, Kavindra berhasil membuat Ayesha merasa
dicintai.
“Itu kan langsung sembuh,” goda Kavindra saat melihat
istrinya salah tingkah, “Sini Mas kasih salep dulu biar cepat sembuh.”
“Mas punya puisi ini buat kamu sayang..” ucap Kavindra.
“Lagi masak kok maen-maen baca puisi sih, Mas”
“Biar kamunya semangat. Dengar yaa..”
Mencintaimu adalah inginku.
Memilikimu adalah dambaku.
Meski jarak jadi pemisah, hati tak
akan bisa terpisah. Tidak ada yang mampu membuat hati ini tersentuh, kecuali
dirimu sayang,
Karena kamulah bidadari terindah
dalam hidupku.
Seketika wajah Ayesha memerah dan hatinya begitu
berdesir-desir mendengar ungkapan hati yang tulus dari suaminya.
“Bagaimana bagus nggak puisinya?” tanya Kavindra sambil
membelai wajah mulus istrinya.
Ayesha mengangguk pelan sambil tersenyum manis sekali.
“Sekarang biar Mas yang lanjut masak ya, kamu diem saja
disitu,” titah Kavindra pada Ayesha setelah mengobati luka di pipi Ayesha.
“Memangnya Mas bisa ngulek sambel?”
“Jangan anggap Mas nggak bisa masak ya. Dulu itu kalau di
Malang, Mas sering masak buat Bibi, Eyang, Mama dan Papa.”
Kavindra menggulung lengan baju koko sampai siku.
Kemudian memasukkan bumbu yang sudah digoreng ke dalam wadah untuk dia
hancurkan. Ayesha tersenyum diam-diam. Lucu sekali melihat Kavindra masak
dengan masih memakai sarung dan koko. Menambah kesan suami idaman baginya.
“Oh ya, Mas bisa masak apa saja?”
“Banyak. Bisa nasi goreng, mie goreng, nasi uduk. Nanti
Mas sempetin ya masakin kamu biar merasakan bagaimana enaknya masakan Chef Kavindra.”
“Diih, begitu?”
“Iya lah.”
“Apa jaminannya kalau nanti nggak enak?”
“Mas temenin kamu belanja bulanan.”
“Sepakat.”
Girang sekali mendapatkan kesempatan yang membahagiakan.
Kavindra selalu sibuk dengan perannya sebagai direktur
perusahaan dan juga sesekali menyambangi kampus yang didirikannya. Sejak
menikahi Ayesha, Kavindra sudah lebih fokus di perusahaannya dan tidak lagi
mengajar. Di kampus sudah ia berikan tanggungjawab kepada sahabat
kepercayaannya bernama Didy Kusuma. Ia merupakan teman akrab saat menimba ilmu
di Amerika. Selain cerdas Didy merupakan salah satu laki-laki yang shalih dan
jujur.
“Ayam penyet sudah siap!”
Kavindra menyajikan ayam penyet buatannya diatas meja.
“Bagus banget pakai dihias segala. Chef Juna nggak
bakalan nangis liat ini.”
Kavindra tertawa mendengarnya.
“Gimana, enak? Ada yang kurang?”
Melihat ekspresi Ayesha yang diam saja, membuat Kavindra was-was
jika bumbu yang dibuat nggak enak. Pasalnya Kavindra sudah lama tidak memasak.
Teringat saat ia kelas X SMA terakhir ia memasak bersama bibi dan eyangnya.
“Eum... rasanya itu, kek... gimana yaa,” Ayesha berekspresi
layaknya selebgram yang sedang mereview
makanan.
“Gimana, sayang?” Kavindra tidak sabar.
Melihat suaminya seperti sekarang membuat Ayesha gemas
saja. Dia mencubit hidung mancung Kavindra, “Ini enak banget sayang. Yakin deh,
kamu bakal menang kalau ikut Master Chef,
pasti banjir pujian dari juri terutama Chef Juna.”
“Masa?” Kavindra menyendok sambel terasi dan ayam penyet
dan mencicipinya. Benar, tidak terlalu buruk.
“Ya udah, selamat makan ya, istriku tercinta. Makan yang
banyak!” Kavindra menyiapkan nasi ke piring Ayesha.
“Selamat makan juga suamiku tercinta”
Pagi hari ini sangat indah untuk dua orang yang saling
mencintai. Ayesha berharap semoga momen seperti ini akan selalu dia rasakan
setiap hari sampai tua nanti bersama Kavindra.
***
“Bersungguh-sungguh
memperbaiki diri. Berjuanglah meningkatkan kualitas diri. Maka lihatlah, kelak
akan kau temukan cinta yang berkualitas”
[Tahajud Cinta, EPR]
TC 21
Terbang ke Singapura
Tiga bulan
kemudian...
Kavindra pergi ke rumah sakit sendiri dan meninggalkan Ayesha
di rumah Pak Jehan. Dengan begitu Ayesha tidak akan kesepian karena di rumah
itu ada pembantu. Di rumah sakit keadaan Pak Jehan sudah lebih baik dari
kemarin sehingga ia sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Kavindra senang
dengan membaiknya keadaan papanya. Tapi ia juga khawatir karena tulang pada
bagian kakinya patah akibat terpeleset di kamar mandi.
Sore hari Kavindra keluar dari rumah sakit. Kebetulan pak
Jehan sudah diperbolehkan pulang oleh dokter yang menanganinya. Kavindra
mengantar pulang papa dan mamanya sambil menjemput Ayesha disana. Ditengah
perjalanan Kavindra melihat sebuah mobil misterius sedang mengikuti
dibelakangnya. Kavindra lalu menambah kecepatan mobilnya tanpa menghiraukan
mobil tersebut.
“Hati-hati Kavin.. jangan ngebut?”
“Iya Ma.”
“Oh iya Vin.. kamu dan Ayesha tidak menunda kehamilan kan
sayang?”
“Nggak lah Ma”
“Bagus kalau begitu, mama sama papa sudah sangat
menginginkan cucu lho. Iya kan Pa..” ucap mama Diana sambil mengiyakan ke
suaminya.
Pak Jehan hanya mengangguk lemah lalu tersenyum singkat.
“Bantu doanya ya Ma”
“Pasti dong nak.”
Sesampainya di rumah, pak Jehan kembali beristirahat.
Sementara Bu Diana mempersiapkan perlengkapan-perlengkapanya untuk berangkat ke
Singapura.
***
Ayesha sudah siap menunggu kepulangan Kavindra dari rumah
sakit bersama orang tuanya. Saat Kavindra tiba, Ayesha segera masuk kedalam
mobil dan Kavindra melajukan mobilnya pulang ke rumah mereka.
“Mas gimana kondisi papa?” Tanya Ayesha penasaran.
“Alhamdulillah
sayang sudah membaik. Tensinya juga sudah normal. Tapi tulang kakinya patah”
Jelas Kavindra sedih.
“Ya ampun mas, lalu gimana?”
“Ya.. rencana Papa mau dibawa ke Singapura”
“Kapan rencana mau dibawa Mas?”
“Lusa. Sekarang kita ke kantor Imigrasi ngurus paspor
kamu ya sayang.. kamu juga ikut ke Singapura”
“Yey akhirnya aku bisa keluar negri.” Seru Ayesha kegirangan
sambil memeluk Kavindra dari samping.
“Kok yey sih.. Alhamdulillah
dong sayang...”
“Alhamdulillah.”
“Yang berangkat lusa itu cuma Papa, Mama dan Mas dulu
sayang, ntar baru kamu nyusul ya.”
“Kenapa aku nggak berbarengan aja Mas?”
“Iya. Karena Mas harus fokus dulu sama papa.. ntar Mas
balik lagi untuk jemput kamu. Kita bulan madu lagi di sana ya sayang.” Jelas Kavindra
sambil mencubit hidung mancung istrinya dengan gemes.
“Iish, Mas ini ah.. kayak penganten baru saja.”
***
Keesokan harinya Kavindra kembali ke rumah sakit mengurus
sesuatu yang diperlukan untuk keberangkatan papanya ke Singapura. Ayesha membantu
mama Diana mengepak pakaian di rumah untuk dibawa ke Singapura besok.
“Mama jaga kesehatan ya disana? Kalo ada apa-apa mama
langsung hubungi Mas Kavin.” Ujar Ayesha khawatir pada mertuanya.
“Kamu nggak perlu khawatir Sha. Mama membawa satu
pembantu mama kesana. Kamu fokus sama program kehamilan kamu saja. Semoga
sebelum papa pulang ke Indonesia, kamu sudah hamil.” Ujar Bu Diana sambil
tersenyum. Wajah Ayesha pun memerah menahan malu. Sudah seharusnya keluarga
Pratama sangat menantikan keturunan dari putra semata wayangnya itu. Sejak
meninggalnya Gilang, Kavindra lah satu-satunya harapan dan pewaris keluarga
Pratama.
“Iya Ma..” Jawab Ayesha sambil tersenyum.
Sore hari Kavindra menjemput Ayesha di rumah Pak Jehan
lalu mengajaknya pulang. Sesampainya di rumah, Ayesha memasukkan barang-barang
yang diperlukan Kavindra selama di Singapura kedalam koper.
“Berapa hari Mas Kavin disana?” Tanya Ayesha sambil
memilih pakaian yang akan dibawa Kavindra.
“Mungkin dua hari. Tergantung kondisi papa sich. Oiya
packing juga barang kamu yang diperlukan. Nanti malam mas antar pulang ke rumah
Abi.” Jawab Kavindra sambil merebahkan tubuhnya di ranjang.
“Iya Mas.” Jawab Ayesha.
Jam delapan malam mereka berangkat ke rumah pak Hermawan.
Karena sudah malam Kavindra juga menginap disana.
“Mas jangan lama-lama perginya?” Ujar Ayesha saat
bersiap-siap untuk tidur dipelukan Kavindra.
“Kenapa? sudah kangen?” Tanya Kavindra sambil tersenyum.
“Bukan. Aku sudah terbiasa tidur dipeluk mas Kavin. Aku merasa nyaman.” Jawab Ayesha.
“Manjanya istriku” ujar Kavindra lalu mencium kening
isterinya lalu turun ke bibir Ayesha. Kedua insan itu kembali bertasbih menyempurnakan ibadah mereka sebagai hamba-hamba Allah yang mengikuti
sunnah para nabi dan rasul yang mulia. Malam begitu indah. Rembulan mengintip malu
dibalik pepohonan. Rerumputan bergoyang-goyang bertasbih dan bersembahyang.
Selesai shalat subuh, Kavindra membaca Al - Qur'an
disimak oleh isterinya tersayang. Setengah
juz ia baca dengan tartil dan penuh penghayatan. Ayesha tampak begitu ranum dan segar. Senyumnya
mengembang ketika suaminya selesai membaca Al-Qur'an.
“Mau apa pagi ini sayang?” Tanya Ayesha.
“Terserah kamu aja sayang.” Jawab Kavindra sambil
mengecup kembali kening istrinya sebelum melepas mukenanya.
“Baiklah. Kalo gitu aku ke dapur dulu ya mas, bantu-bantu
Ummi.” Ucap Ayesha sambil membuka mukena dan meletakkannya dengan rapi kembali
ditempatnya.
Setelah sarapan Kavindra, Ayesha, Pak Hermawan dan Bu Indah
ke rumah sakit bersama. Disana semua orang sudah menunggu kedatangan Kavindra.
Seorang dokter dan seorang perawat akan mendampingi keberangkatan mereka ke Singapura.
Kini Pak Jehan, dokter, perawat, Bu Diana dan pembantunya berangkat menaiki
mobil ambulans. Sedangkan Kavindra, Ayesha, Pak Hermawan dan Bu Indah menaiki
mobil pribadi Kavindra.
Sesampainya di bandara pesawat yang telah disiapkan Kavindra
sudah siap berangkat. Perawat dan dokter mendorong brankar Pak Jehan masuk kedalam
pesawat.
Bu Diana berpamitan dengan pak Hermawan, Bu Indah dan Ayesha.
Begitu juga dengan Kavindra. Ayesha meneteskan airmata. Ini pertama kalinya Ayesha
ditinggal jauh sama Kavindra selama menikah. Sebelum berangkat ke rumah sakit
tadi pagi, Kavindra memberikan kartu kredit dan debit pada Ayesha.
“Mas cepet pulang....” Ucap Ayesha sambil memeluk Kavindra.
“In sya Allah
sayang, itu pasti. Mas juga udah nggak bisa jauh-jauh lagi dari bidadariku
ini.” Bisik Kavindra di telinga Ayesha sambil tersenyum. Wajah Ayesha pun
memerah.
“Kamu akhir-akhir ini terlalu manja dan cengeng sayang?”
Ujar Kavindra sambil menyeka air mata Ayesha.
“Aku sayang Mas Kavin..”
“Mas juga sangat menyayangimu istriku..” balas Kavindra sambil
mengecup kening Ayesha. Lalu Ayesha membalas dengan mencium tangan Kavindra. Setengah
jam kemudian pesawat yang ditumpangi Kavindra dan keluarganya lepas landas. Ayesha
menyaksikan dengan dada yang sesak. Ia pun menangis dipelukan umminya. Setelah
itu mereka pulang menggunakan mobil Kavindra.
***
Di perusahaan Riko berada di ruangan Kavindra untuk
menggantikan pekerjaan Kavindra. Ia duduk di kursi Kavindra dan melihat foto Ayesha
di meja Kavindra. Riko memandangi wajah Ayesha disalah satu bingkai foto. “Kamu
cantik, Kavin sangat beruntung bisa
memilikimu Ayesha.” Gumam Riko sambil tersenyum lalu meletakkan foto itu
kembali ketempatnya.
“Astaghfirullah.” Gumam Riko
kembali setelah tersadar dengan hal yang salah terlintas dipikirannya. Ternyata
dulu Riko juga sempat menaruh hati pada Ayesha. Hanya kalah cepat dan kalah
saing dengan bosnya itu.
Setelah melihat-lihat beberapa foto Ayesha disana
tiba-tiba Riko menyenggol sebuah bingkai foto Ayesha bersama teman-temannya
sewaktu di kampus yang ditengahnya berada Kavindra yang notabene dosen mereka dulu. Riko melihat seorang wanita yang berada
disamping Ayesha. Sambil mengerutkan kening seakan-akan ia mengingat-ingat
wajah wanita tersebut. “Bukankah dia yang pernah menumpahkan minumannya saat
acara pesta pernikahan Kavindra dan Ayesha? Iya-iya bener.. dia orangnya.
Ternyata temannya Ayesha.. di lihat-lihat cantik juga.” Gumamnya.
***
Sesampainya Kavindra dan rombongan di bandara Singapura,
ambulans sudah menanti mereka. Kavindra sudah mempersiapkan segalanya sebelum
berangkat ke Singapura melalui koneksinya. Sesampai di rumah sakit Pak Jehan diperiksa
secara menyeluruh. Setelah itu dokter dari Indonesia membicarakan tentang
keadaan Pak Jehan selama dirawat di Indonesia kepada dokter yang akan merawat
Pak Jehan selama di Singapura. Selama Pak Jehan diperiksa, Kavindra duduk di
kursi ruang tunggu sambil membuka email
dari Filia dan Riko asistennya. Ia sesekali memandangi foto Ayesha yang ada di
ponselnya sambil tersenyum. Sementara itu Bu Diana dan pembantunya langsung
menuju apartemen yang disewa Kavindra.
Keesokan harinya Kavindra memesan ticket untuk pulang ke Indonesia secara online. Ia sudah tidak
sabar ingin bertemu dengan Ayesha. Jam dua siang Kavindra terbang ke Indonesia
setelah pamit dengan papa dan mamanya. Jam lima sore Kavindra pulang ke rumah Ayesha
menggunakan taksi karena mobilnya dibawa pulang pak Hermawan kemarin. Setelah
sampai di rumah Ayesha, Kavindra segera mengajak Ayesha pulang ke rumahnya. Ia
ingin melepaskan rindu berdua dengan istri tercintanya.
***
Satu minggu
kemudian....
Kavindra dan Ayesha sedang mengepak pakaian untuk
mengunjungi Pak Jehan dan Bu Diana di Singapura besok. Ayesha sangat senang
karena ini pertama kalinya ia naik pesawat dan menginjakkan kakinya ke luar
negeri.
“Mas.. berapa hari kita di sana?” Tanya Ayesha untuk
mempersiapkan berapa pakaian yang akan dibawa.
“Satu minggu cukup sayang untuk sekalian kita liburan.”
“Oke.. cukup sayang.”
“Kalau sudah selesai segera tidur ya sayang. Besok kita
berangkat pagi.”
“Iya Mas”
Ayesha pun mempercepat pekerjaannya sambil dibantu
suaminya supaya bisa segera tidur dan bangun lebih cepat.
***
Pukul 03.00 am.
Pagi terasa dingin dan benar-benar membuat Ayesha mual.
“Ueekkk” sambil berlari ke kamar mandi.
“Sayaaang.. kamu kenapa?” tiba-tiba Kavindra juga
terbangun dan menyusul Ayesha ke kamar mandi. Kavindra mengurut-urut leher Ayesha.
“Kayanya aku masuk angin deh, mas.” Kavindra memeriksa
dahi Ayesha.
“Sayang kamu pucat dan badanmu agak sedikit panas.”
“Gapapa sayang. Aku hanya masuk angin. Ntar juga ilang.”
“Beneran kamu gapapa sayang. Kamu istirahat lagi gih!.
Masih terlalu pagi ini.”
“Hmmm” Ayesha memeluk Kavindra sangat kencang. Kavindra pun
membalas pelukan istrinya itu dengan sangat lembut dan membelai rambut panjang
istrinya.
“Istirahat ya sayang, mas shalat tahajud dulu ya.” Ujar Kavindra
sambil mengecup dahinya.
“Ikuutt” Jawab Ayesha manja sambil memoyongkan bibirnya.
“Ya udah ayo.. Emang sanggup sayang?”
Ayesha mengangguk.
“Mas gendong ke kamar mandi ya manis.”
Ayesha kembali mengangguk sambil tersenyum bahagia.
Setelah selesai tahajud mereka berdoa bersama-sama,
seperti biasa Kavindra kembali melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan Kavindra
menyuruh Ayesha kembali tidur sambil menunggu adzan subuh. Ketika adzan subuh Kavindra
kembali mendekati istrinya dan mendekatkan punggung telapak tangannya ke dahi Ayesha.
“Sudah tidak panas lagi,” gumam Kavindra. Hari ini Kavindra tidak berjamaah ke
Mesjid karena ia harus segera berangkat ke bandara pagi-pagi.
“Sayang.. bangun cantik.. kita shalat subuh berjamaah
yuk”
“Iya, Mas.” Ayesha segera bangun dan menuju ke kamar
mandi untuk berwudhuk.
Setelah melaksanakan kewajiban sebagai hamba Allah. Kedua
insan kembali mengangkat tangannya untuk bermunajat kepada Allah SWT. Setelah
rutinitas subuhnya, Kavindra mendekati Ayesha yang masih dibaluti mukena yang
berwarna abu-abu dan berkata..
“Ya Humaira.. aku ingin kamu yang akan mendampingiku
sampai ke syurganya Allah.” sambil mengecup keningnya.
“Aamiiin.. Aku juga mas, Ana Uhibbuka fillah.”
“Sekarang kamu mandi duluan ya sayang. Kita siap-siap ke
bandara.”
“Iya Mas.”
Kavindra dan Ayesha pergi ke bandara menggunakan taksi. Ayesha
merasa deg-degan sekaligus senang. Ini pengalaman pertamanya menaiki pesawat.
Saat Kavindra menggandeng tangan Ayesha, Kavindra merasakan tangan Ayesha sangat
dingin.
“Kamu kenapa sayang..” Tanya Kavindra. Ayesha meringis
garing.
“Aku takut mas.”
Jawab Ayesha
“Ada mas sayang.. jangan takut ya. Tenang aja.” Balas Kavindra
sambil tersenyum dan tetap menggandeng tangan Ayesha hingga naik kedalam
pesawat.
Didalam pesawat, Ayesha memeluk lengan Kavindra dengan
sangat erat dan menyandarkan kepalanya pada bahu Kavindra. Ia merasa sedikit
mual karena terlalu gugup. Tidak berapa lama pesawat pun mendarat. Kavindra dan
Ayesha turun dari pesawat. Ayesha terus memeluk lengan suaminya dengan sangat
senang.
“Mas.. Aku seneng banget.”
“Alhamdulillah..”
Kavindra dan Ayesha meninggalkan bandara menuju apartemen
menggunakan taksi. Kavindra ingin istirahat dulu sebelum ke rumah sakit. Sesampai di apartemen, pembantu Bu Diana
sudah menyiapkan makanan untuk Kavindra dan Ayesha karena Kavindra sudah
mengabari Bu Diana sebelumnya bahwa ia akan menjenguk papanya hari ini.
“Mau makan dulu sayang?” Tanya Kavindra pada Ayesha saat
memasuki apartemen.
“Nanti aja mas. Aku pengen istirahat. Aku mual lagi mas.
Mungkin mabok perjalanan kali ya.” Jawab Ayesha lalu duduk di sofa menyandarkan
kepalanya pada sandaran sofa.
“Bi, tolong bikinin minuman jahe panas ya!” Ucap Kavindra
pada pembantunya.
“Iya, Mas..” Jawab pembantunya lalu pergi ke dapur.
“Ayo sayang kita ke kamar. Biar bisa istirahat dengan
nyaman.” Ajak Kavindra lalu membantu Ayesha berdiri.
“Mas aku nggak kuat. Sudah ingin muntah.” Ucap Ayesha saat
sampai didepan kamar. Kavindra segera mengangkat tubuh Ayesha dan membawanya
kedalam kamar mandi. Ayesha pun mengeluarkan semua isi perutnya. Kavindra membantu
memijat tengkuk Ayesha.
“Kamu sakit sayang?” Tanya Kavindra saat melihat Ayesha sudah
tidak muntah lagi.
“Mungkin masuk angin dan mabok perjalanan Mas..”
“Biar Mas kerokin ya sayang.” Sambil membuka pakaian Ayesha.
“Sekalian dipijit ya Mas, Aku capek banget.”
“Hmmmm.. iya sayang.. apa sih yang enggak untuk
bidadariku.” Goda Kavindra. Lalu keluar kamar untuk meminta minyak angin pada
pembantunya. Tidak berapa lama Kavindra kembali ke kamar.
Setelah menutup pintu ia mengerokin dan memijit punggung Ayesha.
Tok tok tok.. pintu
kamarnya diketuk seseorang.
“Mas Kavin minuman jahenya sudah jadi.” Ucap pembantunya
dari balik pintu.
“Bawa masuk, Bi!.” Perintah Kavindra.
Pembantu itu pun masuk membawa minuman jahe panas yang
diminta Kavindra dan menaruhnya di meja. Ia melihat Kavindra sedang memijit
punggung Ayesha yang kemerahan setelah dikerokin Kavindra.
“Eleuh eleuh Mas Kavin segitu sayangnya sama istrinya.
Nggak nyangka sifatnya yang cool
banget seperti kulkas dulu bisa seperhatian itu pada istrinya.” Gumam Bi Midah
setelah keluar dari kamar Kavindra. Setelah selesai memijit Ayesha, Kavindra memberikan
minuman jahe pada Ayesha supaya mualnya berkurang. Setelah itu mereka tidur
untuk melepaskan penat setelah melakukan perjalanan jauh.
***
Sore hari Kavindra dan Ayesha pergi ke rumah sakit untuk
menjenguk Pak Jehan setelah istirahat dan makan di apartemen. Sesampainya di
rumah sakit, Kavindra segera menuju kamar Pak Jehan seperti minggu lalu. Tapi
ternyata Pak Jehan sudah dipindahkan ke kamar lain karena kamar itu sedang direnovasi.
Kavindra pun kembali ke lobby rumah
sakit menuju meja informasi untuk menanyakan dimana Pak Jehan dipindahkan. Ayesha
mengikuti dibelakang Kavindra.
“Di ruang mana pasien bernama Jehan Pratama dipindahkan?”
Tanya Kavindra pada wanita yang menjaga meja informasi menggunakan bahasa
Inggris.
“Ruang Alamanda nomor 2 lantai 7. Lift-nya disebelah sana Pak.” Jawab wanita itu setelah mengecek di
komputernya sambil menunjuk lift disudut
lobby dengan menggunakan bahasa
Inggris juga tentunya.
Kavindra pun mengerti dan segera menuju lift yang dimaksud wanita itu. Ayesha mengikuti
Kavindra masuk kedalam lift. Sesampai
dilantai 7, pintu lift terbuka. Kavindra
dan Ayesha keluar dari pintu lift dan
melihat petunjuk didepan mereka. Setelah menemukan ruangan Pak Jehan, Kavindra mengetuk
pintu ruangan itu takutnya salah kamar. Tidak berapa lama pintu pun terbuka dan
muncullah Bu Diana.
“Assalamu’alaikum
Ma...” Ucap Kavindra sambil mencium punggung tangan bu Diana. Begitu juga
dengan Ayesha.
“Ayo masuk. Papa sudah menunggu dari tadi...” balas Bu
Diana mempersilahkan Kavindra dan Ayesha masuk.
Saat Kavindra dan Ayesha masuk, mereka melihat pak Jehan
sedang duduk. Ini suatu kemajuan karena sebelumnya Pak Jehan hanya bisa
berbaring di ranjang.
“Bagaimana keadaan Papa sekarang?” Tanya Kavindra saat
sudah duduk di kursi samping ranjang Pak Jehan.
“Alhamdulillah Vin,
sudah lebih baik.” Jawab Pak Jehan dengan suara yang masih lemas.
“Jam berapa selesai operasinya, Ma..?”
“Kemarin jam delapan malam.”
Tiba-tiba Ayesha menjadi pusing dan ingin muntah. Ia
segera masuk ke dalam kamar mandi dan mengeluarkan isi perutnya.
“Ayesha hamil ya..” Tanya Pak Jehan.
“Enggak Pa... hanya masuk angin karena mabuk perjalanan.”
Jawab Kavindra sambil menyusul Ayesha ke kamar mandi.
“Mudah-mudahan bukan hanya masuk angin saja, semoga itu
pertanda baik untuk kalian ya nak.” Harap Pak Jehan.
“Aamiiin”
“Kavin ajaklah istrimu pulang untuk istirahat. Kasian dia
masih kecapean. Lagian Papa sudah lebih baik sekarang.” Ujar Pak Jehan pada Kavindra
sambil tersenyum.
Kavindra pun menuruti saran papanya. Ia juga kasian sama Ayesha
yang muntah-muntah terus dari tadi siang. Setelah keluar dari ruangan Pak
Jehan, Kavindra mengajak Ayesha ke UGD. Kavindra ingin memeriksakan Ayesha apakah
ada yang salah dengan perutnya.
“Ngapain kita kesini Mas?” Tanya Ayesha saat sudah sampai
didepan UGD.
“Memeriksakanmu. Wajahmu pucat terlalu banyak muntah.”
Jawab Kavindra.
“Aku nggak mau. Aku nggak papa Mas. Aku hanya butuh
istirahat aja.” Balas Ayesha menolak. Sejujurnya ia sangat takut dengan jarum
suntik.
“Ya sudah ayo pulang.” Ajak Kavindra lalu mengajak Ayesha
naik taksi yang berjajar didepan rumah sakit.
***
“Sesekali
berhentilah sekedar untuk bersantai. Bukan untuk terlena, namun membangun semangat
untuk perjuangan berikutnya”
[Tahajud Cinta, EPR]
TC 22
Ngidam
Setelah pulang dari rumah sakit dan makan malam, Ayesha dan
Kavindra beristirahat di kamarnya.
“Sayang.. kalau kamu masih mual dan pusing, jalan-jalannya
ditunda saja dulu ya?” Ucap Kavindra.
“Iya Mas.. tapi kenapa ya mas.. kok Aku sering banget mual dalam beberapa hari ini.”
“Jangan-jangan kamu beneran hamil lho sayang..”
“Hmmm..”
“Besok kita pulang ke Indonesia aja ya sayang. Kamu lagi
gak enak badan jadi perlu banyak istirahat.”
Ayesha hanya mengangguk dan menurut saja apa kata
suaminya.
Keesokan harinya..
Saat Kavindra dan Ayesha bersiap-siap untuk berangkat ke
bandara, Ayesha sudah membayangkan akan naik pesawat lagi dan itu membuatnya
merasa mual. Ia pun menutup mulutnya dan berlari ke kamar mandi untuk
mengeluarkan isi perutnya. Kavindra pun menyusulnya.
“Kamu kenapa sayang?” Tanya Kavindra didepan pintu kamar
mandi.
“Aku sudah terbayang-bayang akan naik pesawat. Jadi
tiba-tiba saja merasa mual Mas.” Jawab Ayesha setelah mengelap mulutnya dengan tissue.
“Gimana sekarang sayang.. sudah enakan?” Tanya Kavindra sambil
mengelus punggung istrinya.
Ayesha hanya mengangguk.
“Kita berangkat sekarang ya.. nanti jangan ketinggalan
pesawat.” Ajak Kavindra.
Kini mereka menuju bandara menggunakan taksi. Sesampainya
di Bandara Indonesia Ayesha merasa sangat lemas. Sebelum naik pesawat tadi ia
sudah muntah berkali-kali. Kavindra sangat kasihan dengan Ayesha. Setelah turun
dari pesawat, ia segera mengajak Ayesha naik taksi untuk pulang ke rumah.
Setelah sampai di rumah Ayesha segera merebahkan tubuhnya
di tempat tidur. Kavindra memesankan makanan di aplikasi G-food untuk mengisi perut Ayesha yang kosong.
“Sayang.. lain kali kita jalan-jalannya nggak usah naik
pesawat ya.. sepertinya kamu nggak bisa naik pesawat deh.” Ujar Kavindra sambil
duduk ditepi ranjang.
“Hmmmm. Aku mau
tidur. Mas Kavin mandi sana. Baunya bikin Aku mual.” Balas Ayesha lalu menarik selimut dan memejamkan matanya.
“Masa’ sih aku bau? Perasaan sama saja seperti biasanya.”
Gumam Kavindra sambil menciumi ketiaknya. Kavindra makin bingung dengan tingkah
istrinya yang enggak karuan. Bentar-bentar ngambek, sewot, kadang manjanya
berlebihan.
Setelah itu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan
tubuhnya. Setelah Kavindra mandi dan berganti pakaian, tidak berapa lama
anggota G-food datang dengan membawa
makanan di tangannya. Setelah menerima makanan, Kavindra pergi ke dapur lalu
memindahkannya ke piring dan membawanya ke kamar.
“Sayang.. bangun..” Panggil Kavindra membangunkan Ayesha supaya
makan. Ayesha pun membuka matanya.
“Ada apa Mas?” Tanya Ayesha sambil mengernyitkan dahinya.
“Ayo makan dulu..” Jawab Kavindra. Ayesha pun duduk dan
melihat makanan di piring yang di pegang Kavindra dan tampaklah nasi dengan
kuah soto.
“Aku nggak mau Mas.. Aku kepingin nasi goreng Mas...”
Rengek Ayesha.
“Ini sudah malam sayang.. Biasanya kamu suka soto? Ayo Mas
suapi, buka mulutnya.” Balas Kavindra. Ayesha pun membuka mulutnya dan memakan
soto itu disuapi Kavindra.
“Sayang.. setelah ini Mas ke mesjid ya. Kamu shalat
maghrib dulu setelah itu istirahat lagi ya sayang.” Ujar Kavindra sambil
mengecup kening istrinya dengan lembut. Setelah makan dan menyuapi Ayesha, Kavindra
segera bersiap-siap untuk shalat maghrib ke masjid.
***
Siang hari setelah bosan menonton televisi, Ayesha pergi
ke halaman belakang untuk menghirup udara segar. Karena disana banyak pohon
yang rindang dan berbagai macam tanaman bunga. Kebetulan hari ini adalah Minggu
sehingga Kavindra tidak ke kantor. Karena kondisi Ayesha yang sering lemas
begini Kavindra berencana untuk tidak masuk kantor beberapa hari dan segera
menghubungi Riko untuk meng-handle
semuanya. Kavindra ingin menemani Ayesha saja di rumah.
Saat Ayesha mendongak, ia melihat buah mangga
bergelantungan di pohonnya. Tiba-tiba air liurnya keluar dan berkumpul didalam
mulutnya.
“Uuuhh... bikin rujak mangga kayaknya enak banget nich.
Tapi bagaimana ngambilnya ya?” Gumam Ayesha sambil cemberut.
“Ada yang bisa dibantu mbak?” Tanya Bi Siti pembantu yang
ada di rumah orang tuanya Kavindra. Bi Siti diajak Kavindra untuk bantu-bantu
di rumahnya selama Ayesha kurang sehat.
“Saya mau mangga itu Bi..” Jawab Ayesha sambil menunjuk
mangga diatas pohon.
“Tenang Mbak. Sebentar saya panggilkan Kang Asep di
depan..” Balas Bi Siti. Kang Asep tukang kebun yang ada di rumah Kavindra, yang
mengurus kebun, taman dan halaman rumah Kavindra. Ayesha pun mengacungkan kedua
jempolnya pada Bi Siti dan tersenyum senang. Tidak berapa lama Kang Asep masuk
ke kebun halaman belakang lalu memanjat pohon mangga.
“Mau yang sebelah mana Mbak?” Tanya Kang Asep pada Ayesha.
“Yang diatas itu Kang. Naik sedikit ya?” Jawab Ayesha sambil
menunjuk mangga diatas Kang Asep.
“Yang ini saja ya Mbak, biar gampang ngambilnya?” Ujar
Kang Asep pada Ayesha.
“Nggak mau. Aku maunya yang diatas itu Kang...” Balas Ayesha.
Kang Asep pun manjat lagi hendak mengambil mangga yang dimaksud Ayesha.
“Alaamaaakk.... semutnya banyak amat yak?” Gumam Kang
Asep. Ia pun segera memetik mangga itu dan semutnya berlarian ke tangannya.
“Sini Kang lempar!” Ujar Bi Siti yang menunggu di bawah.
Kang Asep pun melempar mangga itu ke bawah tepatnya ke arah Bi Siti. Siti
menerimanya dan kaget jejeritan.
“Ya ampun banyak amat semutnya kyaaak!” Jerit Bi Siti
lalu membuang mangga itu ke tanah sambil mencak-mencak. Ayesha tertawa
terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya.
Kavindra yang baru keluar dari kamar mandi mendengar
keributan diluar jendela kamarnya. Kebetulan balkon kamar Kavindra dan Ayesha menghadap
ke halaman belakang. Ia pun berjalan menuju balkon.
“Ada apa sih berisik banget?” Tanya Kavindra sambil mengelap
rambutnya yang basah setelah habis keramas.
“Mbak Ayesha minta mangga Mas..” Jawab Bi Siti.
“Ayo bikin rujak mangga Mas!” Ajak Ayesha.
“Oke juga.” Balas Kavindra lalu segera turun ke bawah.
Ayesha dan Bi Siti segera masuk ke dapur. Kang Asep
kembali ke halaman rumah membersihkan taman bunga. Bi Siti membuat bumbu,
sedangkan Ayesha yang mengupas mangganya. Saat Kavindra turun semuanya sudah
siap.
“Mmmm asem banget...” Gumam Kavindra sambil
nyengir-nyegir dan segera memuntahkan kembali mangga yang dimakannya.
“Enak kok. Seger banget!” Balas Ayesha sambil memasukkan
irisan buah mangga muda ke mulutnya. Bi Siti yang hanya melihat saja air
liurnya ikut mengalir.
‘Ini doyan apa ngidam? Asem begitu dia enak banget
makannya.’ Batin Bi Siti sambil nyengir-nyengir bayangin rasa asamnya mangga
muda.
“Ayoo Mas dimakan lagi.” Ajak Ayesha.
“Nggak ah, Mas ogah asem gitu dibilang enak. Sebenarnya
kamu ini ngidam atau apa sih sayang?” Tanya Kavindra penasaran melihat
perubahan yang signifikan pada istrinya. Setelah menghabiskan rujak mangga
mudanya, Ayesha dan Kavindra kembali keatas untuk istirahat.
***
“Pernikahan
bukanlah akhir dari sebuah cerita, melainkan membuka lembaran baru dan
merupakan titik awal dari sebuah perjalanan panjang. Menikah adalah ibadah
terpanjang dalam hidup”
[Tahajud Cinta, EPR]
TC 23
Hamil
Disepertiga malam Kavindra selalu bertahajud dan bermunajat
kepada Allah SWT. Ia sangat bersyukur atas kehidupan yang Allah berikan kepadanya.
Allah maha baik. Setelah memberikan orang tua yang selalu menyayanginya dan
sekarang ia diberikan hadiah yang luar biasa yaitu seorang istri yang shalihah,
cantik, cerdas dan sangat imut menurutnya. Setelah bercerita dan mengadu semua
tentang hidupnya kepada sang pemberi hidup, Kavindra memalingkan wajahnya dan
melihat sosok wajah yang sangat anggun meski tidak berhias sekalipun. Tidak
lain adalah Ayesha istrinya tercinta, sekilas Kavindra tersenyum bahagia
melihat istrinya yang tidur sangat nyenyak, sambil mengelus pipi mulus milik Ayesha.
Kali ini ia tidak tega membangunkan istrinya untuk tahajud bersama dikarenakan
kondisi Ayesha yang masih kurang sehat. Kavindra kasian melihat kondisi
istrinya yang sangat berubah beberapa minggu ini. Ia berencana untuk mengajaknya
ke dokter untuk memastikan kondisinya baik-baik saja.
ࣖ ÙˆَالْاِÙƒْرَامِ الْجَÙ„ٰÙ„ِ ذِÙ‰ رَبِّÙƒَ اسْÙ…ُ تَبٰرَÙƒَ
Artinya : “Maha suci
nama Tuhanmu Pemilik
Keagungan dan Kemuliaan”.
اْلعَظِÙŠْÙ…ُ اللهُ صَدَÙ‚َ Artinya : "Maha benar Allah yang Maha Agung".
Saat adzan subuh berkumandang, Kavindra mengakhiri ayat
terakhir dari surah Ar-Rahman.
Saat itu pula Ayesha merasa sangat mual. Ia pun segera
bangun dan berlari kedalam kamar mandi. Huek... huek... huek... Ayesha memuntahkan
isi perutnya hingga perutnya terasa sakit. Ia hanya memuntahkan air berwarna
kekuningan karena lambungnya belum terisi makanan apapun.
“Pahit dan asam sekali...” Gumam Ayesha setelah membasuh
dan mengusap bibirnya. Kavindra lalu menghampiri Ayesha kedalam kamar mandi.
“Sayang.. kamu sakit?” Tanya Kavindra.
“Nggak tahu Mas. Tiba-tiba mual. Mungkin kebanyakan makan
rujak mangga muda kemarin.” Jawab Ayesha sambil memegangi perutnya.
“Sayang.. wajahmu semakin pucat..” Kavindra mengkhawatirkan
kondisi istrinya.
“Mas, bau tubuh mas nggak enak.. Mas mandi deh sana. Aku
makin mual.” Balas Ayesha lalu memuntahkan isi perutnya lagi.
Kavindra makin bingung dengan kondisi Ayesha yang makin
hari makin aneh. “Kenapa Ayesha selalu
menyalahkan bau tubuhku ya..” Gumam Kavindra yang tidak merasa dirinya bau
badan sambil memijit tengkuk Ayesha yang sedang muntah.
“Mas.. maaf ya.. aku nggak ngerti.. kenapa setiap kali deket dengan
Mas terasa mual dan mau muntah.” Ujar Ayesha setelah membasuh mulutnya.
“Sekarang kamu wudhuk dulu ya sayang.. kita shalat subuh berjamaah
di rumah. Mas hari ini mau temenin kamu saja jadi nggak ke Mesjid.” Ucap Kavindra.
“Iya Mas.” Jawab Ayesha.
Setelah selesai shalat subuh, Kavindra menyampaikan
keinginannya untuk membawa Ayesha ke dokter.
“Sayang kamu siap-siap ya. Kita ke rumah sakit hari ini.”
“Aku nggak mau Mas..” Rengek Ayesha.
“Sayang.. kamu sudah tiap hari lho muntah-muntah..
wajahnya pun makin pucat itu. Mungkin ada yang tidak beres dengan hidung dan
syaraf-syaraf kamu sayang. Kita periksa ya.” Jelas Kavindra.
“Nggak mau. Aku nggak mau ke rumah sakit Mas!” Tolak Ayesha
lalu melangkahkan kakinya hendak kembali ke tempat tidur. Tapi tangannya
ditarik Kavindra.
“Hey mau kemana? Ayo mandi.” Ujar Kavindra sambil membuka
mukena Ayesha lalu mengangkat tubuhnya ke dalam bathup. Setelah itu melucuti pakaiannya dan mandi bersama.
***
Setelah sarapan pagi, Kavindra beneran mengajak Ayesha ke
rumah sakit. Ia ingin Ayesha di periksa secara menyeluruh supaya tahu apa yang
sebenarnya terjadi pada tubuh Ayesha. Ayesha benar-benar tidak bisa menolak dan
mengelabui Kavindra kali ini. Terpaksa ia pun ikut ke rumah sakit untuk
memeriksa tubuhnya. Sesampainya di parkiran rumah sakit, jantung Ayesha sudah
berdebar-debar karena kali ini ia ke rumah sakit bukan untuk menjenguk orang
sakit, melainkan untuk memeriksa tubuhnya sendiri.
Belum diperiksa, tapi Ayesha sudah membayangkan yang
tidak-tidak. Ia membayangkan kalau ia mengidap penyakit kanker otak, tumor
hidung, maag kronis, dan penyakit yang berbahaya lainnya.
“Kyaaaak! Tidak tidak tidak!!” Teriak Ayesha di dalam
mobil sambil menaruh kedua tangannya dimasing-masing telinganya. Kavindra kaget
melihat tingkah istrinya itu.
“Kamu kenapa sayang?” kok teriak-teriak begitu.” Tanya Kavindra
sambil melepas sabuk pengamannya.
“Aku takut mas..”
Rengek Ayesha.
“Nggak usah takut sayang? Ada mas disamping. Tenang ya
sayang?” Ucap Kavindra sambil membelai puncak kepala istrinya.
Setelah itu mereka turun dari mobil dan masuk ke pintu
utama rumah sakit.
***
Saat masuk ke lobby
rumah sakit, Kavindra menyuruh Ayesha duduk di kursi tunggu, sedangkan ia mengambil
nomor antrian di komputer. Di layar komputer Kavindra memilih medical check up lalu mengeklik tombol
OK. Setelah itu keluarlah nomor antrian yang menunjukkan angka 12. Kavindra mengambilnya
lalu duduk disamping Ayesha. Ayesha merasa sangat gugup. Tangannya terasa
dingin karena ketakutan. Kavindra melihat kekhawatiran Ayesha. Ia pun memegang
tangan Ayesha untuk menenangkannya.
“Jangan takut ya sayang? Kalau pun nanti kamu dinyatakan
sakit parah, Mas akan berusaha menyembuhkanmu dan Mas tetap mencintaimu sayang.
Mas akan mencari dokter terhebat diseluruh dunia untukmu istriku.” Hibur Kavindra
sambil tersenyum memandang Ayesha dengan penuh kasih sayang.
“Makasih Mas..” Ujar Ayesha
Dua puluh menit kemudian, nomor antrian Ayesha dipanggil
untuk melakukan pendaftaran. Ayesha berdiri dan kemudian duduk di meja
pendaftaran.
“Diisi dulu ya Mbak formulirnya...” Ucap pegawai yang
melayani Ayesha di meja pendaftaran.
Ayesha pun mengisi nama, tempat dan tanggal lahir, status
perkawinan, serta alamat ia tinggal. “Keluhannya apa mbak?” Tanya pegawai rumah
sakit itu pada Ayesha.
“Mmmm mual dan muntah Mbak. Apa penyakit lambung saya
kambuh ya mbak, tapi aneh kalo deket dengan suami rasanya mual buanget.” Jawab Ayesha.
“Sudah berapa lama?” Tanya pegawai itu lagi.
“Kurang lebih semingguan ini Mbak.” Jawab Ayesha lagi.
“Kapan hari pertama menstruasi terakhirnya Mbak?” Tanya
pegawai wanita itu lagi.
“Lupa mbak, pokoknya minggu ini harusnya sudah menstruasi
lagi.” Jawab Ayesha.
“Kalau begitu saya alihkan ke poli kandungan saja ya
Mbak, dari yang saya lihat keluhannya sepertinya mbak Ayesha sedang hamil. Untuk
memastikannya biar nanti diperiksa dokter dulu.” Ujar pegawai rumah sakit pada Ayesha.
“Iya mbak” Jawab Ayesha.
Setelah membayar uang pendaftaran, Ayesha menarik tangan Kavindra
ke ruangan dimana poli kandungan berada. Ayesha menyerahkan lembar pendaftaran
pada perawat didepan pintu poli lalu duduk di kursi tunggu seperti pasien yang
lain. Kavindra membaca tulisan di depan pintu poli yang bertuliskan “POLI
KANDUNGAN DAN GINEKOLOGI”. Ia merasa bingung, karena tadi ia mengambil nomor
antrian untuk medical check up.
“Kenapa kesini sayang? Kamu hamil?” Tanya Kavindra pada Ayesha.
“Kata Mbak yang didepan tadi disuruh kesini. Mungkin pemeriksaannya
yang dimulai dari sini dulu Mas..” Jawab Ayesha. Kavindra pun mengangguk
mengerti. Tidak berapa lama ponsel Kavindra berdering. Kavindra pun mengeluarkannya
dari saku dan melihat ID pemanggil lalu menjauh dari keramaian.
Kavindra :
(“Assalamu’alaikum, ada apa Rik?”)
Riko : (“Wa’alaikumsalam.. Maaf mengganggu pak.
Saya
lupa ngabarin bapak, kalau hari ini
bapak
ada meeting jam sembilan pagi.”)
Kavindra : (“Oh
iya, Rik. Untuk beberapa hari ini tolong
kamu dan Filia yang handle saja semuanya
urusan
kantor ya? Termasuk meeting hari ini.
Laporannya saya tunggu di e-mail. Istri saya
sedang kurang sehat saya mau temenin istri
dulu.”)
Riko : (“Baik Pak. Semoga bu Ayesha lekas
sembuh.”)
Kavindra : (“Aamiiin..
terimakasih doanya”)
Setelah memutuskan panggilan telepon dengan Riko. Kavindra
kembali ke kursinya.
“Masih lama ya sayang?” Tanya Kavindra pada Ayesha.
“Ya iyalah mas... kan masih banyak ibu-ibu hamil yang
duduk disini sebelum kita datang?” Ujar Ayesha yang sudah mulai bosan menunggu.
“Yang sabar ya sayang.. Orang sabar itu di sayang
Allah..” Ucap Kavindra menenangkan Ayesha.
Kavindra sangat bingung melihat perubahan psikis istrinya selama ini. Kadang-kadang
marah, tiba-tiba kesal sendiri, terus dikit-dikit sedih dan terkadang manjanya
berlebihan.
***
Tiga jam berlalu, tapi nama Ayesha belum di panggil juga.
Hingga akhirnya hanya dia dan Kavindra yang tersisa di kursi tunggu. Ketika
pasien terakhir keluar dari ruang periksa, nama Ayesha pun akhirnya dipanggil
juga. Ia dan Kavindra masuk ke ruang periksa poli kandungan. Setelah masuk, Kavindra
dan Ayesha duduk di kursi depan dokter. Dokter membaca data Ayesha terlebih
dahulu.
“Keluhannya hanya mual dan muntah saja?” Tanya dokter
pada Ayesha.
“Iya Dok.” Jawab Ayesha.
“Sudah berapa lama menikah?” Tanya dokter lagi.
“Hampir empat bulan.” Jawab Kavindra.
“Silahkan naik ke tempat tidur. Saya periksa dulu ya...”
Ujar dokter kandungan pada Ayesha sambil berdiri dan berjalan kesamping tempat
tidur.
Ayesha naik ke tempat tidur dibantu seorang perawat.
Tangan dan kaki Ayesha terasa sangat dingin karena terlalu gugup.
“Permisi ya Mbak...” Ujar perawat itu lalu menyingkap
gamis Ayesha keatas dan menuangkan gel ke perut Ayesha. Ayesha merasakan gel
itu dingin di perutnya.
Dokter pun menggeser alat USG nya kekanan, kekiri, keatas,
dan kebawah sekaligus mengabadikannya. Setelah itu dokter duduk kembali ke
kursinya, sedangkan perawatnya membersihkan gel di perut Ayesha. Setelah duduk
di kursinya, dokter menulis hasil dari pemeriksaannya di kertas. Ayesha yang
sudah dibersihkan segera turun dari tempat tidur dan duduk kembali disamping Kavindra.
“Jadi istri saya sebenarnya sakit apa Dok?” Tanya Kavindra
tidak sabar.
“Sakit?” Tanya dokternya heran sambil membetulkan letak
kacamatanya.
“Iya. Kenapa dia muntah terus-terusan?” Jawab Kavindra.
“Jadi kalian berdua tidak tahu kalau ada janin di sana?
Istri Anda hamil Pak.” Jawab Dokter itu.
“Alhamdulillah..
jadi istri saya hamil dok? Sayang.. kamu hamil?” Ujar Kavindra kaget dan
bahagia atas kehamilan Ayesha.
“Iya. Selamat ya untuk kalian berdua. Usianya masih empat
mingguan. Harap dijaga dengan sangat hati-hati.” Ucap Dokter itu sambil
tersenyum lalu menyalami Kavindra dan Ayesha.
“Terimakasih Dok.” Jawab Kavindra sambil tersenyum sangat
bahagia. Ayesha hanya terharu bahagia, Akhirnya pikirannya jadi tenang dengan
bayangan penyakit yang macam-macam.
***
Sore hari asisten rumah tangga yang dipesan Kavindra dari
yayasan datang. Mereka ibu-ibu berusia 40 dan 45 tahun. Setelah memencet bel
dua kali barulah pintu terbuka dan tampaklah wajah tampan Kavindra diambang
pintu.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.. Maaf..
ibu-ibu siapa ya?” Tanya Kavindra sopan saat melihat dua orang ibu-ibu didepan
pintu rumahnya.
“Kami asisten rumah tangga dari yayasan yang Bapak
pesan.” Jawab salah satu dari mereka.
“Oh, silahkan masuk!” Ujar Kavindra mempersilahkan mereka
masuk ke ruang tamu. Mereka pun masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
“Boleh tau nama ibu siapa?” Tanya Kavindra pada salah
satu dari mereka.
“Saya Suriani biasa dipanggil Ani Pak.” Jawab wanita yang
berusia 45 tahun.
“Saya Marianti biasa dipanggil Yanti.” Jawab wanita
berusia 40 tahun.
“Okey.. tugas ibu-ibu seperti pekerjaan rumah tangga pada
umumnya dan juga menjaga istri saya yang sedang hamil.” Ujar Kavindra pada Ani
dan Yanti.
“Baik Pak.” Jawab Ani dan Yanti secara bersamaan.
“Ayo kebelakang. Saya tunjukkan kamar kalian.” Ujar Kavindra
lalu berdiri dan diikuti Ani dan Yanti.
“Oh iya, tolong jangan lupa memasak untuk malam ini ya?
Kami biasa makan malam pukul tujuh malam.” Ujar Kavindra sebelum pergi setelah
mengantar Ani dan Yanti ke kamar mereka.
“Baik Pak.” Jawab Ani dan Yanti bersamaan.
Setelah mengantar Ani dan Yanti ke kamar mereka, Kavindra
kembali ke kamar lantai atas dimana Ayesha berada.
“Sayang.. dibawah ada dua orang pembantu baru. Kalau kamu
butuh apa-apa panggil saja mereka ya? Mulai sekarang kamu tidak perlu memasak
lagi dan nggak usah ngapa-ngapain lagi. Kamu istirahat aja ya sayang..” ujar Kavindra.
“Banyak amat Mas dua orang. Kan masih ada Bi Siti ART
dari rumah Mama Papa..” Jawab Ayesha.
“Bi Siti sudah Mas suruh balek ke rumah Mama Papa buat
bersih-bersih rumah. Kan kasian rumah nggak ada yang ngurus. Bi Midah lagi di Singapura
nemenin mama.” Ujar Kavindra.
“Hmm..”
“Mas cari dua orang pembantu sekaligus untuk bantu-bantu
kamu sayang.. pokoknya kamu harus fokus untuk jagain kandungan kamu. Nggak
boleh capek-capek lagi ya sayang. Mas nggak mau terjadi apa-apa sama kamu
apalagi anak kita.”
“Iya Mas.” Balas Ayesha sambil tersenyum.
***
Malam hari Ani dan Yanti sedang menyiapkan makan malam di
dapur. Mereka bingung harus memasak
berapa porsi karena mereka tidak tahu berapa jumlah penghuni di rumah Kavindra.
“Yan, kita masak berapa banyak ya?” Tanya Ani pada Yanti.
“Nggak tau Mbak. Tadi Pak Kavindra bilangnya ‘istriku’.
Mungkin penghuni rumah ini hanya 2 orang mbak.” Jawab Yanti mengira-ngira.
“Mmmm kamu bener juga.” Balas Ani lalu mengeluarkan
bahan-bahan yang ada di kulkas dan memasaknya.
Setengah jam kemudian Ayesha dan Kavindra menuruni tangga
untuk menikmati makan malam mereka. Kavindra berjalan sambil memeluk bahu Ayesha.
Ayesha juga merasa penasaran dengan asisten rumah tangga mereka yang baru.
Sesampainya di meja makan, Kavindra dan Ayesha segera duduk sambil menanti
makanan yang disajikan.
“Selamat malam Pak.. Bu...” Sapa Yanti yang sedang
menaruh makanan diatas meja makan.
“Hmmm.” Gumam Kavindra.
“Malam juga Bi. Bibi namanya siapa kalau boleh tau?”
tanya Ayesha ingin tahu sambil tersenyum.
“Yanti Bu.” Jawab Yanti sambil tersenyum juga lalu
kembali ke dapur.
“Kalau Bibi yang satunya namanya siapa Mas?”Tanya Ayesha pada
Kavindra.
“Ani apa Ina begitu kalau nggak salah. Mas lupa. Ayo
makan sayang sebelum dingin makanannya.” Jawab Kavindra mengajak Ayesha untuk
segera makan.
Setelah makan, Kavindra mengajak Ayesha kembali untuk
beristirahat di kamar. Di dapur Ani dan Yanti sedang membersihkan dapur dan
meja makan.
“Mbak, istri Pak Kavindra cantik banget ya?” Tanya Yanti.
“Iya. Sepertinya sudah cantik baik lagi, hhee.” Jawab
Ani.
“Beruntung lah kita mbak kalau majikan kita orang baik.”
Lanjut Yanti lagi.
“Alhamdulillah,
Yan.” Lanjut Ani.
Mereka saling bertatapan dan tersenyum bersama.
Di lantai atas Kavindra dan Ayesha sedang bersantai di
kamarnya. Ayesha duduk sambil memeluk lengan Kavindra dari samping.
“Mas...” Panggil Ayesha.
“Hmmm.” Gumam Kavindra membalas panggilan Ayesha. Ayesha tidak
sadar dari tadi Kavindra sedang memandangi wajahnya. Saat mendongak kearah Kavindra.
Ayesha mengerutkan dahinya merasa heran. Ia berpikir apakah ada sesuatu di
wajahnya. Ia pun mengusap wajahnya berharap menghapus apa yang menempel di
wajahnya. Kavindra melihat kelakuan Ayesha pun tersenyum.
“Mas Kavin kenapa ngeliatin aku seperti itu?” Tanya Ayesha
pada Kavindra dengan cemberut.
“Mas ingin mengamati wajah istriku dengan seksama.” Jawab
Kavindra sambil tersenyum dan menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Ayesha
kebelakang telinganya.
“Tumben? Kenapa?” Tanya Ayesha merasa heran.
“Kamu semakin cantik sayang semenjak hamil dan juga
semakin berisi.” Jawab Kavindra jujur.
“Mas Kavin ngatain Aku gendut?” Tanya Ayesha tidak terima dikatain ’semakin
berisi’. Kavindra pun tertawa mendengar pernyataan Ayesha.
“Nggak sayangku. Dulu kamu terlalu kurus. Sekarang sudah
ideal. Jangan terlalu sensitif. Ambil positifnya supaya kamu tidak stress.
Kasian nanti jagoan Mas.” Ucap Kavindra sambil mengelus perut ratanya Ayesha.
“Beneran ya Mas.. Aku masih tetap cantik kan. Mas masih cinta kan
sama Aku?” Rengek Ayesha sambil memeluk Kavindra dengan erat.
“Tentu lah sayang.. Mas selalu cinta dan sayang sama
kamu. Eh, jangan kenceng-kenceng meluknya.. kasian anak Mas itu terjepit.” Goda
Kavindra sambil mencubit gemes pipi mulusnya Ayesha lalu menciumnya sekilas.
“Ya udah sayang.. ayo kita tidur sudah malam.” Ajak Kavindra
sambil menarik selimut sampai ke dada Ayesha.
“Iya Mas.” Jawab Ayesha menuruti kata suaminya.
Ayesha dan Kavindra pun berbaring dan memejamkan matanya.
***
Pagi hari..
Riko tiba di rumah Kavindra. Saat memencet bel rumah Kavindra
yang keluar adalah Yanti. Riko pun bertanya-tanya siapa wanita yang baru ia
lihat di rumah Kavindra hari ini. Karena Kavindra memang belum menceritakan
pada Riko bahwa ia telah mengambil pembantu baru.
“Mau cari siapa Mas?” tanya Yanti pada Riko dengan sopan.
“Pak Kavindra, saya sudah ada janji semalam.” Jawab Riko
dengan sopan.
“Silahkan masuk Mas. Saya panggilkan Pak Kavindra dulu.”
Balas Yanti mempersilahkan Riko masuk dan duduk di sofa.
Setelah mempersilahkan Riko masuk, Yanti naik ke lantai
atas dan menuju pintu kamar Kavindra. Ia sudah tahu dimana kamar Kavindra dan Ayesha
karena kemarin ia sudah membersihkan lantai atas.
“Pak Kavin, ada tamu yang sedang mencari Anda.” Ujar
Yanti setelah mengetuk pintu kamar Kavindra.
Tidak berapa lama pintu kamar terbuka dan tampaklah Ayesha
yang terkesan seperti baru bangun tidur mengucek matanya dan merapikan
rambutnya yang berantakan lalu menguncirnya keatas menampakkan lehernya yang
putih bersih. Saat ini Ayesha jarang memakai hijab di rumah, karena menurutnya
di rumah hanya ada suaminya dan dua orang pembantu perempuan.
“Ada apa Bi?” Tanya Ayesha saat melihat Yanti di depan
pintu kamarnya.
“Ada tamu yang mencari Pak Kavin Bu.” Jawab Yanti sopan.
“Siapa?” Tanya Ayesha lagi ingin tahu.
“Waduh nggak tahu Bu. Tadi lupa tanya. Tapi katanya sudah
janjian sama Pak Kavin.” Jawab Yanti lagi.
“Oh pasti itu Mas Riko. Ya sudah Bi Yanti tolong buatkan
minum ya. Mas Kavin masih mandi. Terimakasih ya Bi.” Balas Ayesha sambil
menutup pintu kamarnya.
Yanti pun mengiyakan dan menuruni tangga lalu pergi ke
dapur. Tak lama kemudian Kavindra pun turun tangga ke ruang tamu menemui Riko.
“Rik, ayo masuk ke ruang kerja saya.” Ajak Kavindra pada Riko.
Riko mengangguk sopan dan berjalan mengikuti dibelakang Kavindra.
Setelah memakai hijab Ayesha pergi ke dapur untuk minum
air putih dan memberitahu Yanti untuk mengantar minuman ke ruang kerja Kavindra
di lantai atas. Setelah itu Ayesha kembali ke kamarnya untuk mandi.
Didalam ruang kerja, Riko memberikan amplop berwarna
coklat berisi uang 10 juta seperti yang diminta Kavindra semalam. Ia juga
memberikan berkas penting yang harus ditanda tangani Kavindra hari ini.
“Masukkan masing-masing 2,5 juta kedalam amplop ini.”
Ujar Kavindra sambil menyerahkan 2 buah amplop pada Riko yang ia ambil dari
dalam laci.
“Ini untuk apa Pak?” Tanya Riko ingin tahu.
“Menggaji kedua pembantu baru saya. Yang satu minta gaji
dimuka untuk membayar daftar ulang sekolah anaknya yang baru masuk SMP. Jadi
saya gaji sekalian keduanya biar tidak ada rasa iri diantara mereka.” Balas Kavindra
sambil membuka berkas lalu membacanya.
“Oh jadi yang tadi itu pembantu baru bapak? Pantesan saya
tidak pernah melihatnya.” Ujar Riko mulai paham sambil memasukkan uang kedalam
amplop yang diberikan Kavindra.
“Iya. Saya mengambil sekaligus 2 supaya bisa menjaga
istri saya secara bergantian. Ayesha sekarang hamil.” Balas Kavindra tanpa
memandang Riko dan tetap fokus memandang kearah berkasnya.
Tidak berapa lama Yanti masuk untuk mengantar minuman dan
menaruhnya diatas meja kerja Kavindra. Setelah itu ia keluar dan menutup
kembali pintu ruang kerja Kavindra.
***
“Anak-anak
itu amanah, hanya boleh dididik sesuai keinginan yang menitipkan, bukan sesuai
hawa nafsu kita”
[Tahajud
Cinta, EPR]
TC 24
Sebuah Firasat
Kavindra memang sangat percaya kepada Riko. Selain
menjadi asisten pribadinya Riko sudah dianggap sebagai sahabat bahkan
saudaranya. Jadi hampir semua cerita hidup Kavindra diketahui Riko dan Riko pun
sangat memegang kepercayaan yang diberikan Kavindra. Meskipun Kavindra menganggap
Riko sebagai saudara dan sahabatnya, Riko juga tidak semena-mena dalam bersikap
bahkan dalam melakukan segala hal. Ia tetap sopan, menghargai dan menghormati Kavindra.
Sudah sangat banyak jasa yang diberikan keluarga Kavindra kepada Riko.
Riko merupakan anak yatim piatu dan dia tidak mempunyai
saudara kandung. Pak Jehan telah membiayainya kuliah sampai sarjana dan kini ia
telah menjadi asisten pribadinya Kavindra. Riko telah berjanji pada dirinya
sendiri bahwa akan terus membantu keluarga Pratama sampai kapanpun. Bahkan ia
rela mempertaruhkan nyawanya demi keluarga Pratama. Karena keluarga itulah yang
telah mengangkat derajatnya sampai menjadi seperti saat ini. Baginya Pak Jehan
dan keluarganya adalah sang penyelamat hidupnya disaat orang lain menjauhinya.
Riko berasal dari keluarga yang serba kekurangan. Ayahnya
suka mabuk-mabukan dan ibunya adalah korban dari keganasan ayahnya sendiri.
Ibunya meninggal di tangan ayahnya. Saat polisi menangkap ayah Riko, ia berlari
sempoyongan di jalan raya hingga tewas ditabrak truk.
Riko sangat sedih membayangkan kehidupannya yang begitu
kelam. Nasibnya terlunta-lunta saat sebelum bertemu dengan pak Jehan. Jika ia
tidak bertemu dengan pak Jehan entah bagaimana nasibnya sekarang. Awalnya ia
sempat iri melihat kehidupan Kavindra yang serba berkecukupan. Namun, hal
tersebut sirna begitu saja ketika melihat perlakuan mereka begitu baik dan
perhatian kepadanya. Pak Jehan memenuhi semua kebutuhan Riko tanpa
membeda-bedakan dengan Kavindra. Karena sifat baik dan mulia yang ditunjukkan
Pak Jehan dan keluarganya membuat Riko menjadi pribadi yang lebih bersahaja.
***
Setelah kepergian Riko, Kavindra masuk ke dalam kamarnya
dengan membawa amplop coklat berisi uang 5 juta. Ia akan memberikan uang itu
pada Ayesha untuk belanja pembantunya setiap hari. Kavindra tahu Ayesha tidak
pernah menggunakan kartu debit dan kredit yang ia berikan, sehingga ia
memberikan uang cash itu pada Ayesha.
“Ini apa Mas?” Tanya Ayesha setelah menerima amplop yang
diberikan Kavindra.
“Bukalah.” Jawab Kavindra. Ayesha pun membukanya dengan
hati-hati dan betapa terkejutnya Ayesha melihat uang yang begitu banyak didalam
amplop.
“Ini uang apa Mas?” Tanya Ayesha pada Kavindra.
“Uang belanja harian. Sekarang kita punya ART. jadi
biarkan mereka yang berbelanja, kamu tinggal memberi uang pada mereka.” Jawab Kavindra
menjelaskan.
“Okey.” Balas Ayesha lalu memasukkan uang itu kedalam
almari.
Malam hari Kavindra dan Ayesha turun kebawah untuk makan
malam. Kavindra membawa dua amplop berisi uang untuk Bi Ani dan Yanti. Saat Bi
Ani menaruh makanan diatas meja makan, Kavindra memberikan uang itu pada Bi
Ani.
“Terimakasih Pak.” Ucap Bi Ani senang.
“Tolong panggilkan Bi Yanti juga Bi.” Ujar Ayesha pada Bi
Ani.
Setelah Yanti datang, Kavindra memberikan amplop berisi
uang. Yanti menerima amplop itu dan merasa bingung karena baru kerja 2 hari
tapi ia sudah menerima gaji.
“Pak, apa saya dipecat? Apa salah saya?” Tanya Yanti sudah
hampir menangis. Ayesha yang melihat Yanti hampir menangis karena menerima gaji
dimuka jadi tertawa lucu.
“Tidak. Karena Bi Ani minta gaji dimuka, jadi Bi Yanti juga menerima gaji dimuka
biar adil.” Jawab Kavindra dengan santai.
“Oh begitu. Terimakasih Pak Kavin.” Balas Yanti lalu
kembali ke kamarnya untuk menyimpan uangnya.
***
Seperti biasa Kavindra bangun tahajud sendirian tanpa
membangunkan Ayesha. Ia sangat tidak tega melihat Ayesha sering muntah-muntah.
Setelah melantunkan beberapa ayat
Al-Qur’an. Adzan subuh pun berkumandang, lalu membangunkan Ayesha untuk subuh berjamaah.
Setelah selesai shalat subuh berjamaah di rumah, Kavindra segera mandi dan
berganti pakaian. Setelah itu ia mengambil kopernya yang ada diatas almari lalu
membuka almari dan mengambil beberapa pakaian lalu memasukkannya kedalam koper.
Ia akan terbang ke Singapura hari ini setelah mendapat kabar bahwa Pak Jehan
sudah bisa pulang ke Indonesia dan kondisinya sudah membaik.
Ayesha yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Kavindra,
tiba-tiba matanya berkaca-kaca dan hatinya terasa sangat sedih.
“Mas... Aku ikuutt..” Rengek Ayesha.
“Jangan sayang.. kamu sedang hamil. Nanti kamu mabok lagi
dan kelelahan, kasian anak kita.” Balas Kavindra khawatir kalau Ayesha muntah-muntah
lagi, itu akan mengurangi berat badannya yang akan memengaruhi nutrisi ke
anaknya. Ayesha pun cemberut karena Kavindra tidak mengajaknya. Kavindra yang
melihat Ayesha cemberut segera menghampirinya.
“Mas segera kembali sayang.. jangan ngambek ya manis?
Kasian anak kita,” Ujar Kavindra sambil merapikan rambut Ayesha. Ayesha pun
mengangguk mengerti.
Setelah itu Ayesha mandi dan berganti pakaian lalu turun
bersama Kavindra untuk sarapan pagi. Setelah sarapan, Ayesha mengantar Kavindra
sampai di halaman rumah karena taksi yang dipesan Kavindra secara online
sudah datang.
“Hati-hati ya Mas, jaga dirimu baik-baik,” Ujar Ayesha pada
Kavindra dengan sedih.
“Iya sayang.. kamu juga jaga diri dan anak kita. I Love You,” Balas Kavindra lalu
mengecup kening Ayesha dan memeluknya dengan erat. Ayesha pun membalas pelukan Kavindra
lebih erat. Entah kenapa Ayesha merasa tidak ingin Kavindra pergi. Setelah
melepaskan pelukan suaminya Ayesha lalu mencium punggung tangan Kavindra. Kavindra
mengelus puncak kepala Ayesha dengan lembut.
Saat taksi melaju menjauh dari rumah, Ayesha menyaksikan
kepergian Kavindra sambil menitikkan air matanya.
“Mas, aku harap
kamu baik-baik saja dan pulang dengan selamat,” gumam Ayesha sebelum masuk kedalam
rumah.
***
Didalam pesawat, Kavindra sudah merasa rindu dengan Ayesha.
Ia melihat keluar jendela dan membayangkan senyum manja Ayesha. Ia juga
membayangkan perut Ayesha yang akan membesar nanti pasti sangat lucu sekali. Kavindra
pun tersenyum sendiri membayangkannya. Tidak berapa lama kemudian hujan turun
sangat lebat karena sedari tadi awan hitam memang sudah bergelantungan di
langit. Kavindra pun memejamkan matanya untuk beristirahat sejenak.
Sementara itu Ayesha sedang duduk di balkon kamarnya dilantai
atas sambil membaca buku yang dibelikan Kavindra kemarin. Ayesha menatap langit
dan melihat hujan turun seperti sedang menangis. Ia tiba-tiba teringat dengan Kavindra
yang sedang berangkat ke Singapura. Ayesha pun masuk kedalam kamar dan menutup
pintu balkon karena udara diluar mulai terasa dingin. Ia turun kelantai bawah
dan menuju ke dapur untuk membuat teh hangat. Saat ia menuang air mendidih kedalam
gelas, tiba-tiba gelas itu pecah dan terjatuh kelantai bersama dengan airnya. Ayesha
mundur supaya tidak mengenai kakinya.
“Ada apa ini, kenapa perasaanku tiba-tiba enggak enak?”
Gumam Ayesha sambil menyentuh dadanya.
Yanti yang mendengar gelas pecah segera keluar dari dalam
kamarnya dan melihat Ayesha di dapur. Ia segera menghampiri Ayesha dan melihat
gelas pecah dilantai.
“Bu Ayesha kenapa enggak panggil saya?” Tanya Yanti pada Ayesha.
“Enggak apa-apa Bi, saya bisa sendiri. Hanya mau membuat
teh saja, enggak tahu tiba-tiba gelasnya pecah,” jawab Ayesha masih dengan
ekspresi masih terkejut dan merasa gelisah.
“Ya sudah, Bu Ayesha duduk di meja makan saja. Biar saya
yang membuat tehnya,” Balas Yanti.
Ayesha pun patuh dan duduk di meja makan lalu
mengeluarkan ponselnya yang ada di sakunya. Ia melihat layar ponselnya berharap
Kavindra mengirim pesan atau meneleponnya saat sudah sampai di Bandara Singapura,
tapi nyatanya tidak ada kabar apapun dari Kavindra. Setelah membuatkan teh
untuk Ayesha, Yanti menaruh teh itu diatas meja makan. Setelah itu ia
membersihkan pecahan gelas yang ada dilantai. Ayesha meminum tehnya dengan
tatapan kosong memikirkan Kavindra.
Sementara itu di perusahaan sedang menerima karyawan
baru, karena ada salah satu karyawan yang sudah
resign dari perusahaan untuk
menikah dan ikut suaminya ke luar negeri. Kavindra sudah menghubungi Riko dan
Filia supaya membimbing karyawan baru tersebut. Ia adalah temannya Ayesha yaitu
Nadira Safira. Nadira diterima di perusahaan ‘Pratama Sejahtera’ merupakan permintaan dari Ayesha. Kavindra menyetujuinya.
Kavindra juga mengetahui kualitas IQ-nya Nadira. Karena ia juga pernah menjadi
mahasiswa nya dulu. Ketika sudah memasuki waktunya untuk makan siang, Riko
mengajak Nadira untuk makan siang bersama.
“Ayo makan siang,” Ajak Riko pada Nadira.
“Iya Mas,” Balas Nadira lalu berdiri dan berjalan menuju
kantin.
Di kantin, semua mata melihat kearah Nadira, karena bagi
mereka sosok Nadira sangat asing di perusahaan ‘Pratama Sejahtera’.
“Mau pesan apa?” Tanya Riko pada Nadira saat sampai di
kantin.
“Es jeruk sama salad buah saja Mas,” Jawab Nadira pada Riko.
“Ya sudah, carilah tempat duduk dulu, biar saya saja yang
memesannya,” Balas Riko lalu pergi untuk memesan makanan.
***
Saat makan bersama, Riko sesekali memandangi wajah
Nadira. Ia teringat saat acara pesta pernikahan Kavindra, gadis inilah yang
tidak sengaja menumpahkan minuman di jas nya. Lalu Riko mencoba mengenang
kembali saat-saat itu.
“Nadira masih ingat saat acara pesta pernikahan Ayesha dengan
Pak Kavin?” Tanya Riko.
“Mmm.. Nadira mencoba mengingat-ingat kembali kejadian
sekitar empat bulan yang lalu.
“Ohiya iya Mas, Dira inget.. jadi itu Mas Riko?”.
“Maaf ya Mas.. Dira enggak sengaja menumpahkan minuman
saat itu.” Ucap Nadira penuh penyesalan.
“Udaaah.. nggak apa-apa kok, justru karena pertemuan itu
kita bisa kembali bertemu saat ini, ya kan?” Ujar Riko dengan tersenyum.
Setelah makan bersama, kini Nadira dan Riko kembali ke
kantor.
Hari berganti sore, sore berganti malam, namun tidak ada
kabar apapun dari Kavindra. Ayesha mencoba menghubungi nomor ponsel Kavindra berkali-kali
sejak tadi sore, tapi sayangnya operator yang menjawabnya mengatakan kalau
nomor ponsel Kavindra sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan.
Ayesha semakin panik dan gelisah. Ia mondar mandir didalam
kamarnya memikirkan apa yang harus ia lakukan. Ayesha jarang sekali menonton
televisi, ia lebih suka didalam kamarnya sambil membaca buku, sehingga ia tidak
tahu kabar apapun yang disiarkan stasiun televisi hari ini. Untuk mengatasi
kegelisahannya, Ayesha mengambil buku seputar kehamilan yang dibeli Kavindra kemarin
di meja nakas. Ia naik ketempat tidur sambil bersandar pada sandaran tempat
tidur lalu menyelonjorkan kakinya dan menutupi kakinya dengan selimut karena
udara terasa sangat dingin kali ini. Ayesha terbiasa dipeluk Kavindra, sehingga
ia merasakan kehangatan selalu di tubuhnya. Kali ini Kavindra tidak ada
disampingnya ditambah lagi hujan turun lebat diluar rumah.
Ayesha membaca buku itu berharap bisa mengalihkan
pikirannya yang sedang cemas, tapi nyatanya ia tetap gelisah memikirkan Kavindra
yang tidak ada kabar sama sekali sejak tadi pagi. Hingga akhirnya Ayesha tertidur
sambil memeluk bukunya. Ayesha pun bermimpi melihat Kavindra dalam keadaan
menggigil kedinginan disuatu tempat yang tidak ia kenal. Ayesha m engernyitkan
dahinya untuk memastikan yang ia liat bener-bener Kavindra suaminya.
“Mas Kavin!” Seru Ayesha memanggil Kavindra.
Kavindra pun menoleh kearah Ayesha lalu tersenyum lembut
dengan mata sayu dan bibirnya yang putih pucat. Ayesha hendak menghampiri Kavindra,
tapi mereka dipisahkan oleh sebuah sungai yang sangat lebar, tidak ada jembatan
ataupun jalan untuk menuju kesana.
“Mas Kavin kenapa disini? Ayo kita pulang, Mas,” Ajak Ayesha
dengan mata berkaca-kaca. Ia sangat sedih melihat Kavindra dalam keadaan
seperti ini.
“Pulanglah, Mas tidak apa-apa, kamu tenang sayang jangan
mengkhawatirkan Mas. Jagalah anak kita dengan baik. Aku mencintaimu Ayesha,”
Jawab Kavindra dengan tersenyum.
“Mas Kavin! Mas...” Seru Ayesha belum selesai tiba-tiba
ia terbangun dari tidurnya.
“Mas Kavin, kamu dimana Mas?” gumam Ayesha lirih lalu
menitikkan air matanya.
Ayesha pun mengambil ponselnya di nakas berharap ada
kabar dari Kavindra, tapi tidak ada pesan ataupun missed call dari Kavindra. Ayesha semakin panik dan bingung
ditambah dengan mimpinya yang aneh.
“Ya Tuhan, jagalah suami hamba di manapun ia berada,”
gumam Ayesha sambil menyentuh dadanya yang terasa sesak sekali.
Ayesha pun mengambil foto berbingkai yang berdiri diatas
nakas. Itu adalah foto prewedding
mereka beberapa bulan yang lalu. Ayesha membelai wajah Kavindra di foto itu
dengan jari telunjuknya.
“Mas, Aku merindukanmu,” gumam Ayesha lalu memeluk foto
itu dadanya sambil memejamkan matanya, air mata pun lolos dari pelupuk mata Ayesha
membasahi pipinya.
***
Malam hari disebuah bandara di Pulau Sumatera, Kavindra sedang
duduk di kursi lobby bersama ratusan
penumpang lain. Karena cuaca memburuk, sehingga pesawat yang ditumpangi Kavindra
mendarat sementara disalah satu bandara di Pulau Sumatera.
Kavindra merasa kedinginan karena tidak membawa jaket di
kopernya. Hujan turun sangat deras ditambah dengan angin badai. Ia ingin
memberi kabar Ayesha atau papanya yang ada di Singapura, tapi sayangnya baterai
ponselnya habis karena ia belum sempat mengisi baterai ponselnya tadi pagi.
Semua saluran komunikasi terputus karena cuaca yang sangat buruk, sehingga
semua penumpang tidak bisa menghubungi kerabatnya juga.
Tidak lama kemudian ada seseorang yang menyodorkan
segelas kopi didepan wajah Kavindra. Kavindra pun mendongak dan melihat seorang
wanita tersenyum padanya sambil membawa 2 gelas kopi dikedua tangannya.
“Minumlah! Sepertinya kamu kedinginan,” Ujar wanita itu. Kavindra
pun menerimanya dan wanita itu duduk disamping Kavindra.
“Terimakasih,” Ucap Kavindra setelah menerima segelas
kopi itu sambil tersenyum.
Kavindra melirik wanita yang duduk disampingnya itu
sambil meminum kopinya. Wanita itu cantik, tinggi, putih, dan sepertinya belum
menikah. Wanita itu tahu bahwa Kavindra sedang memandanginya, ia pun menoleh
dan tersenyum. Kavindra yang terpergok sedang memandanginya jadi malu dan
tersenyum canggung.
“Namaku Nayla,” Ujar wanita itu memperkenalkan dirinya
sambil mengulurkan tangannya pada Kavindra.
“Kavindra,” balas Kavindra sambil menangkupkan kedua
tangannya di dada.
“Maaf, Pak Kavindra mau ke Singapura juga?” Tanya Nayla.
“Iya, menjemput orang tua,” Jawab Kavindra jujur.
“Apa mereka sedang berlibur?” Tanya Nayla lagi.
“Tidak, papa sedang sakit dan dirawat di rumah sakit.
Karena sudah sembuh saya hendak menjemputnya, tapi malah seperti ini,” balas Kavindra
sambil mengangkat kedua bahunya.
“Oh begitu, saya turut senang atas kesembuhan orang tua
Pak Kavin,” Ujar Nayla sambil tersenyum pada Kavindra.
“Terimakasih,” Balas Kavindra singkat.
“Mmm bisakah kita bertukar nomor ponsel?” Tanya Nayla
lagi berharap Kavindra menyetujuinya.
“Maaf, ponsel saya sedang mati kehabisan baterai,” Balas Kavindra.
“Oh, kalau begitu sebutkan saja nomor ponsel Pak Kavin,
biar saya yang menyimpannya, nanti saya yang menghubungi Pak Kavin," Tawar
Nayla sedikit memaksa. Kavindra pun memberikan nomor ponselnya pada Nayla dan
Nayla menyimpannya. Setelah itu mereka berpisah karena cuaca sudah membaik,
sehingga penumpang bisa naik ke pesawat kembali untuk melanjutkan
perjalanannya.
***
Pagi hari Ayesha menghubungi Nadira untuk menanyakan
nomor ponsel Riko. Ia ingin bertanya pada Riko barangkali mendapatkan kabar
dari Kavindra. Nadira pun memberikan nomor ponsel teman kerjanya di kantor pada
Ayesha. Sejak bekerja di perusahaan Kavindra, Nadira sudah sangat dekat dengan Riko.
Riko pun memberi perhatian penuh dan tertarik pada Nadira.
Saat Riko sedang berganti pakaian, tiba-tiba ponselnya
berdering. Ia melihat layar ponselnya dan melihat nomor asing disana. Ia
ragu-ragu untuk menerimanya, tapi karena sudah berdering beberapa kali,
akhirnya ia pun menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.
(“Hallo. Assalamu’alaikum,”) sapa Riko.
(“Wa’alaikumsalam... Mas Riko, ini Ayesha,”) Ujar Ayesha di seberang
telepon.
(“Ada apa Bu Ayesha?”) Tanya Riko heran karena tiba-tiba Ayesha meneleponnya
pagi-pagi sekali.
(“Apa Mas Riko tahu kabarnya Mas Kavin?”) Tanya Ayesha langsung ke intinya.
(“Memangnya ada apa dengan pak Kavin?”) Tanya Riko lagi.
(“Dari kemarin Mas Kavin nggak ada kabar sama sekali Mas.”) Jawab Ayesha lalu
terisak tangis.
(“Sabar ya Bu, Pak Kavin pasti baik-baik saja. Saya akan mencari informasi
tentang pak Kavin. Nanti saya akan memberi kabar ke ibu. Maaf Bu Ayesha, jangan
menangis lagi,”) Balas Riko mengkhawatirkan kondisi Ayesha.
(“Terimakasih Mas Riko,”) Ucap Ayesha lalu memutuskan sambungan teleponnya.
Riko pun merasa heran, dari kemarin Kavindra memang belum
menghubunginya sama sekali. E-mail
pun belum ada yang dibalas. Ia mencoba menghubungi nomor ponsel Kavindra tapi
tidak aktif. Ia pun akhirnya menghubungi pihak penerbangan pesawat yang
ditumpangi Kavindra, hingga ia pun mendapatkan informasi bahwa pesawat yang
ditumpangi Kavindra mendarat darurat disalah satu bandara di Pulau Sumatera.
***
Sesampai di kantor Riko berpapasan dengan Nadira saat
keluar dari lift utama. Sambil
berjalan menuju ruang utama Nadira menanyakan perihal tentang Ayesha sahabatnya.
“Mm.. Mas Riko, Dira penasaran kenapa ya Ayesha minta
nomor Mas tadi pagi.” Tanya Nadira khawatir dengan Ayesha.
“Oh, ternyata Bu Ayesha minta nomor dari kamu ya,” Tanya Riko
kembali.
“Iya Mas, maaf ya enggak minta ijin duluan sama Mas. Dira
pikir karena Mas Riko sudah kenal sama Ayesha. Jadi ya Dira kasi aja terus,
hehe..” Jawab Nadira ngeles.
“Enggak apa-apa kok Ra, malah saya pikir bu Ayesha dapat
dari mana nomor saya.” Balas Riko.
“Btw kalau
boleh tahu, kenapa ya Mas kok pagi-pagi Ayesha nelpon Mas.”
“Bu Ayesha menanyakan kabar pak Kavin yang tidak ada
kabar seharian, setelah saya tanyakan kepihak penerbangannya, ternyata
pesawatnya mendarat darurat di Pulau Sumatera,” Jawab Riko sambil membukakan
pintu untuk Nadira.
“Oh, jadi begitu ceritanya,” Balas Nadira sambil
manggut-manggut mengerti.
“Ya sudah.. sekarang enggak penasaran lagi kan buk..”
Canda Riko pada Nadira.
“Mmm..” Nadira mengangguk sambil tersenyum manis pada Riko.
“Selamat bekerja calon Ibu Negara?” Ujar Riko sambil
tersenyum penuh makna pada Nadira dan langsung berbalik keluar ruangan menuju
ruangannya sendiri.
“Hah... Mas Riko.... Mas Riko..” Nadira kaget dengan
ucapan Riko barusan dan menggeleng-gelengkan kepalanya lantas tersenyum
bahagia.
Setelah sampai di ruangannya Riko kembali menghubungi Ayesha
untuk memberitahukan kejadian yang sebenarnya.
“Tapi kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi?” Tanya Ayesha masih khawatir.
“Saya juga tidak tahu Bu masalah itu, mungkin baterainya habis atau
ponselnya hilang,” Jawab Riko seadanya.
“Ya sudah terimakasih infonya, selamat pagi, Asssalamu’alaikum,” Balas Ayesha lalu memutuskan sambungan
teleponnya.
Setelah Ayesha memutuskan sambungan teleponnya, Riko menatap layar ponselnya yang sambungan
teleponnya terputus. Pikirannya melayang kepada Pak Kavindra. Sebenarnya hati
kecilnya sangat khawatir dengan kondisi Kavindra yang tidak diketahui kabarnya.
Sementara itu, setelah memutuskan sambungan teleponnya
dengan Riko dan tidak mendapatkan informasi yang memuaskannya, Ayesha menghubungi
Ibu Diana mama mertuanya berharap Riko sudah tiba di Singapura dan sedang
bersama mama dan papanya. Ternyata mama dan papanya sudah menunggu kedatangan Kavindra
dari kemarin di apartemen, tapi Kavindra tidak kunjung datang hingga pagi ini. Ayesha
pun menghembuskan nafasnya dengan kasar melalui mulutnya lalu menaruh ponselnya
di nakas dan beristighfar. Setelah itu ia bangkit dari duduknya dan berjalan
menuju kamar mandi untuk berwudhuk dan shalat Dhuha dua rakaat serta berdoa
untuk suaminya agar selalu dalam lindungan Allah SWT. “Dimana kamu Maass.... Aku rindu.. Aku khawatir dengan Mas.. Ya Allah.. lindungi suami
hamba dimanapun ia berada,” gumam Ayesha diakhir doanya sambil menitikkan
air mata setetes demi setetes. Setelah selesai berdoa, Ayesha membukakan
mukenanya dan meletakkan kembali peralatan shalatnya diatas nakas dengan rapi
lalu berjalan keluar kamarnya untuk sarapan dilantai bawah.
Tidak berapa lama ponsel Ayesha bergetar, sayangnya Ayesha
tidak mengetahuinya karena ia sudah duduk di meja makan untuk sarapan pagi. Sementara
disebuah bandara Singapura, Kavindra sedang menempelkan ponsel di telinganya
berharap Ayesha segera menerima panggilan teleponnya, tapi hingga panggilan kelima
tidak ada jawaban dari Ayesha. Ia sudah sangat merindukan istri manisnya itu
karena dari kemarin ia tidak bisa menghubungi Ayesha gara-gara baterai
ponselnya habis. Sesampainya di Bandara, ia segera mengisi baterai ponselnya
yang habis dan menghubungi Ayesha, sayangnya Ayesha tidak segera menjawab.
“Kemana kamu sayang? Kenapa tidak menerima panggilan
telepon Mas?” Gumam Kavindra lalu memasukkan ponsel kedalam sakunya. Tiba-tiba
Nayla menepuk bahu Kavindra dari belakang. Kavindra pun terkejut dan menoleh
kebelakang.
“Hallo Pak Kavin,” Sapa Nayla sambil tersenyum
kegirangan.
“Iya, maaf Mbak ada apa?” Tanya Kavindra heran.
“Tidak ada apa-apa Pak, hanya saja tadi saya melihat Pak Kavindra,
jadi saya sapa begitu Pak,” Jawab Nayla sok akrab.
“Oh ya sudah, saya pergi dulu kalau begitu, maaf Mbak, Assalamu’alaikum,” Balas Kavindra lalu
buru-buru menarik kopernya. Nayla pun menyaksikan kepergian Kavindra dengan
tersenyum gemas.
“Ganteng banget sih, dan kelihatannya baik banget,” gumam
Nayla.
***
“Ada yang
lebih menyedihkan dari menunggu, yaitu saling menunggu tapi tak saling tahu.
Cinta
sejati adalah ketika kamu masih membahagiakan dirinya walaupun dia tidak
bersamamu”
[Tahajud
Cinta, EPR]
TC 25
Melepas
Rindu
Sesampai dia apartemen, Kavindra memencet bel pintu
apartemen. Tidak berapa lama Bi Midah membukakan pintu. Kavindra pun masuk lalu
mencium punggung tangan papa dan mamanya yang sedang duduk di sofa. Kavindra sangat
senang melihat papanya sudah sehat kembali dan kakinya sudah bisa digerakkan
dengan sempurna, ia pun memeluk papanya dengan erat.
“Dari mana saja kamu nak? Dari kemarin kami menunggumu,”
Tanya Pak Jehan pada Kavindra.
“Maaf Pa, kemarin pesawat mendadak mendarat di Pulau
Sumatera karena cuaca buruk, baterai ponselku juga habis. Karena cuaca buruuk
itu, semua saluran telekomunikasi dan listrik tidak berfungsi,” Jawab Kavindra menjelaskan
pada Pak Jehan setelah duduk di sofa samping pak Jehan.
“Oh jadi seperti itu, pantas saja papa berkali-kali
meneleponmu tapi tidak bisa,” Balas Pak Jehan.
“Apa kita kembali sekarang?” Tanya Kavindra pada kedua
orang tuanya.
“Istirahatlah dulu, kamu baru sampai. Bagaimana kamu
sudah menghubungi Ayesha? Bagaimana kabarnya? Apa kandungan baik-baik saja?”
Tanya Bu Diana dengan antusias.
“Kemarin dia juga menghubungi mama.” Sambung Pak Jehan. Kavindra
pun terkejut, ia baru ingat kalau belum memberi kabar pada Ayesha dari kemarin.
Ia yakin kalau Ayesha sangat khawatir sekarang. Ia pun segera mengeluarkan
ponsel dari sakunya lalu mencari kontak “Istriku” dan menekan tombol untuk
memanggil.
“Bagaimana Vin?” Tanya Bu Diana heran karena Kavindra tidak
menjawab pertanyaannya tapi malah menghubungi seseorang.
“Kavin belum menelepon Ayesha dari kemarin Ma,” jawab Kavindra
sambil menempelkan ponsel di telinganya.
“Kamu itu bagaimana sih nak? Pasti dia sangat khawatir Vin,”
balas Bu Diana ikut mengkhawatirkan Ayesha.
Sementara itu Ayesha di rumahnya sedang berada di dapur
membuat kue bersama Yanti. Karena terlalu asyik membuat kue, Ayesha pun lupa
dengan ponselnya yang terus berdering di kamarnya yang berada dilantai atas. Sekarang
giliran Kavindra yang khawatir dengan Ayesha karena dari tadi pagi Ayesha tidak
menjawab teleponnya. Ia menjadi cemas dan takut terjadi apa-apa dengan Ayesha.
Sudah lima belas kali Kavindra menghubungi Ayesha, tapi tidak ada jawaban sama
sekali. Akhirnya Kavindra menghubungi Riko. Hanya Riko satu-satunya orang yang
diandalkan saat ini. Saat Kavindra menelepon, Riko sedang berada di ruang kantor
Kavindra bersama Nadira. Karena semua kerjaan Kavindra di handle oleh Riko. Riko juga membimbing Nadira dalam segala hal.
Saat ponsel Riko berdering, Riko pun segera menerima panggilan itu saat melihat
nama ‘Pak Kavindra’ tertera dilayar ponselnya.
“Hallo.. Assalamu’alaikum,” Sapa Riko
dengan semangat karena Riko memang sedang menunggu kabar dari Kavindra.
“Wa’alaikum salam.... Rik, tolong
pergi ke rumah saya! Lihat keadaan Ayesha,” Perintah Kavindra.
“Maaf Pak, memangnya ada apa dengan Bu Ayesha. Kenapa bapak begitu panik?” Tanya Riko
dengan santai.
“Saya meneleponnya sejak tadi pagi tapi tidak ada jawaban sama sekali. Saya
takut terjadi apa-apa sama dia, tolong saya Rik. Sekarang terus ke rumah saya!”
balas Kavindra
panik.
“Baiklah pak, saya sekarang ke rumah bapak. Saya ajak Nadira ya Pak. Agar
tidak sendirian kesana.” balas Riko tenang.
“Oke-oke Rik, Terimakasih,” Ujar Kavindra sebelum memutuskan
sambungan teleponnya.
Setelah memasukkan ponselnya kedalam sakunya, Riko
mengajak Nadira untuk pergi ke rumah Kavindra, Nadira kegirangan karena sudah
sangat rindu dengan sahabatnya itu. Akhirnya Riko dan Nadira pergi berdua ke
rumah Kavindra. Didalam mobil Nadira duduk di kursi penumpang sambil memainkan
ponselnya. Ia merasa kurang nyaman terlalu sering dekat dengan Riko karena
belum ada hubungan apa-apa. Namun sebenarnya hati mereka sudah ada ketertarikan
satu sama lain. Riko memperhatikan Nadira dari kaca spion yang ada didepannya
secara diam-diam, ia pun tersenyum dan tersipu malu.
Cantik juga gadis ini, batin Riko.
“Astaghfirullah..”
gumamnya lagi
Karena terlalu asyik dengan ponselnya, Nadira tidak tahu
sedari tadi Riko memperhatikannya dari kaca spion.
***
Sesampainya Riko di rumah Kavindra, ia segera memencet
bel pintu rumah Kavindra. Bi Ani yang sedang bersih-bersih diruang tamu
langsung membukakan pintunya dan mempersilahkan masuk Riko dan Nadira. Nadira
dan Riko masuk ke rumah langsung menuju ke dapur dan melihat Ayesha sedang
asyik membuat kue bersama Yanti.
“Ayesha!” Panggil Nadira sambil berjalan mendekati dapur.
Ayesha menoleh saat mendengar Nadira memanggil namanya. Ia terkejut karena
tiba-tiba Nadira sudah berada di rumahnya bersama Riko.
“Ada apa, kenapa kamu bisa di sini?” Tanya Ayesha penasaran.
“Tadi Pak Kavin menelepon dan mengkhawatirkan Bu Ayesha karena Pak Kavin sudah berkali-kali
menelepon tapi enggak direspon Ibu,” Jawab Riko menjelaskan maksud dan tujuan
mereka ke rumahnya.
“Oh iya, ponsel saya di kamar atas, sejak sarapan pagi
saya belum melihat ponsel saya,” balas Ayesha lalu memasukkan kue kedalam mulut
Nadira yang sedang duduk di meja makan untuk mencicipi kue buatannya. Nadira
yang merasakan enak kue buatan sahabatnya itu lalu ia pun mengambil kue yang
sudah matang diatas meja ikut menyuapi Ayesha. Akhirnya mereka berdua menikmati
kue buatan Ayesha. Sementara Riko yang sedari tadi berdiri tidak ada yang
menghiraukan segera berdehem sambil melipat tangan di dadanya.
“Eh ada Mas Riko juga,” Ujar Nadira saat melihat kearah Riko
yang tengah berdiri. Riko pun berjalan mendekat dan ikut duduk di meja makan
juga.
“Silahkan dicicipi Mas kuenya,” Ujar Ayesha sambil
menyodorkan kue pada Riko. Riko pun mengambil kure itu lalu memasukkan kue kedalam
mulutnya. Tidak berapa lama ponsel Riko berdering dan tampaklah nama ‘pak Kavindra’
pada layar ponselnya, Riko pun terkejut lalu tersedak. Ia lupa tujuan utama ia
ke rumah Kavindra adalah melihat keadaan Ayesha untuk dilaporkan pada Kavindra bukan
untuk mencicipi kue buatan Ayesha. Ayesha segera menuangkan air putih pada
gelas lalu memberikannya pada Riko. Setelah meminum airnya, Riko menerima
panggilan dari Kavindra.
“Hallo.. Assalamu’alaikum,” sapa Riko
sambil mengelap bibirnya dengan jarinya.
“Wa’alaikumsalam... Rik, bagaimana
keadaan Ayesha?” Tanya Kavindra.
“Bu Ayesha baik-baik saja Pak,” jawab Riko.
“Tolong berikan ponselmu padanya,” Perintah Kavindra.
Riko pun memberikan ponselnya pada Ayesha. Ayesha segera
menerimanya dengan antusias karena dari kemarin ia juga mengkhawatirkan keadaan
Kavindra.
“Assalamu’alaikum Mas...,” Ucap Ayesha
menyapa Kavindra.
“Wa’alaikumsalam... kenapa kamu
tidak menerima panggilan telepon Mas sayang? Kamu kemana saja? Mas khawatir dengan
kamu dan anak kita?” Tanya Kavindra dengan tidak sabar.
“Maaf mas.. ponsel Aku di kamar Mas,
Aku sedang membuat kue bersama Bi Yanti
di dapur,” Jawab Ayesha menjelaskan situasinya.
“Ya sudah.. yang penting kamu dan kandunganmu baik-baik saja kan sayang?
Kabari Mas ya kalau ada apa-apa?” balas Kavindra merasa lega.
“Iya Mas, Aku minta maaf sekali lagi. Alhamdulillah
Aku dan kandunganku baik-baik saja
Mas.” Jawab Ayesha lagi.
“Oh iya.. kapan Mas Kavin pulang?” Tanya Ayesha lagi dengan manja.
“In sya Allah.. besok Mas pulang
sayang,” balas Kavindra sambil tersenyum.
“Aku kangen,” Ucap Ayesha sambil tersenyum. Ia lupa kalau ponsel yang
ia pakai adalah ponsel milik Riko.
“Ehm-ehm,” Dehem Riko merusak suasananya kemesraan Ayesha dan Kavindra.
Ayesha pun tersadar lalu tersenyum malu.
“Mas, nanti telepon ke ponsel Aku aja ya, yang punya ponsel sepertinya iri.
Hahaha,” Ujar Ayesha mengakhiri percakapannya dengan Kavindra. Kavindra
pun menyetujuinya. Setelah menerima ponsel dari Ayesha, Riko segera memasukkan
ponselnya kedalam sakunya lalu berdiri hendak kembali ke perusahaan.
“Dira, kamu tetap disini apa ikut kembali ke perusahaan?”
tanya Riko pada Nadira.
“Ikut ke perusahaan Mas, kan masih ada PR dari Mas Riko
yang belum Dira selesaikan. Tapi aku mau membawa kue ini ya Sha,” Jawab Nadira
sambil tersenyum malu.
Ayesha pun membungkus sebagian kuenya dan memberikannya
pada Nadira.
***
Didalam mobil, Riko memberanikan diri untuk bertanya pada
Nadira supaya tidak penasaran lagi.
“Ra...” Panggil Riko tiba-tiba.
“Iya Mas,” Sahut Nadira sambil menoleh kearah Riko yang
sedang fokus mengemudi.
“Mmm... apa kamu sudah punya pacar?” Tanya Riko sedikit
malu.
“Kenapa?” Tanya Nadira heran.
“Tidak apa-apa, hanya ingin tahu saja,” balas Riko
tersenyum canggung.
“Oh,” balas Nadira lalu melanjutkan makan kuenya tanpa
menjawab pertanyaan dari Riko.
Eh kok Cuma ‘oh’ doang enggak
dijawab, batin Riko kecewa.
***
Riko dimintakan Kavindra untuk menemani Ayesha ke bandara
untuk menjemput dirinya dan kedua orang tua Kavindra. Ayesha duduk di kursi lobby menanti kedatangan Riko dengan
sabar. Tidak berapa lama muncullah sosok Kavindra, Pak Jehan, Bu Diana dan Bi
Midah dari pintu kedatangan. Ayesha segera menghambur ke arah Kavindra dengan
semangat dan memeluknya. Kavindra pun menyambut pelukan Ayesha dengan
membentangkan kedua tangannya.
“Mas, aku kangen banget,” Ujar Ayesha dipelukan Kavindra.
“Iya, Mas juga sayang,” balas Kavindra sambil tersenyum
dan mengecup kening Ayesha.
Pak Jehan dan Bu Diana tersenyum sambil geleng-geleng
melihat kelakukan Ayesha yang seperti anak kecil. Setelah melepaskan rindu
dengan suaminya, lalu Ayesha mencium punggung tangan Pak Jehan dan Bu Diana
lalu memeluk kedua orang tuanya itu. Setelah itu mereka keluar dari bandara
bersama-sama menuju area parkir. Riko membantu Bi Midah membawa barang bawaan
mereka. Kavindra berjalan sambil memeluk Ayesha dan tersenyum senang.
Sesampainya di rumah Pak Jehan, Bi Siti sudah menyiapkan
makanan untuk menyambut kedatangan mereka. Sudah lama Pak Jehan tidak
menginjakkan kakinya di rumah itu, ia melihat ke sekeliling lalu tersenyum. Ia
merasa bersyukur akhirnya bisa sembuh dari sakitnya dan rindu dengan rutinitas
keseharian di rumahnya. Mereka berlima pun akhirnya makan bersama seperti
keluarga besar yang sedang merayakan suatu pesta. Riko juga sudah dianggap
bagian dari keluarga Pratama sejak dulu.
“Om, Tante.. terimakasih jamuan makan siangnya. Saya
pamit pulang dulu?” Ujar Riko kepada Pak
Jehan dan Bu Diana.
“Kenapa buru-buru?” Tanya Pak Jehan pada Riko.
“Iya Om, sudah sore, saya harus ke perusahaan sebentar
sebelum pulang,” jawab Riko dengan sopan.
Akhirnya Pak Jehan pun mengerti dan mengizinkan Riko
pulang. Setelah kepergian Riko, Pak Jehan dan Bu Diana masuk kedalam kamarnya
untuk beristirahat, begitu juga dengan Ayesha dan Kavindra mereka juga masuk ke kamar untuk beristirahat.
Didalam kamar, Ayesha membuka hijabnya lalu membaringkan tubuhnya
diatas tempat tidur diikuti Kavindra. Kavindra memiringkan tubuhnya menghadap Ayesha
lalu merapikan anak rambut Ayesha dan menyisipkannya di telinga Ayesha.
“Mas, kenapa kemarin-kemarin Mas tidak menghubungi aku?”
Tanya Ayesha meminta penjelasan.
“Baterai ponsel Mas habis sayang, jadi Mas tidak bisa
menghubungi kamu. Saat Mas meneleponmu malah kamu tidak menerima panggilan
teleponnya,” Jawab Kavindra dengan tenang.
“Kenapa tidak menelepon ke telepon rumah?” Tanya Ayesha lagi.
“Apa kamu pernah mendengarnya berdering? Sudah lama
telepon rumah error, jadi Mas tidak
menelepon ke telepon rumah. Tadinya Mas juga mau melihat keadaanmu lewat CCTV
rumah, tapi sepertinya internet sedang bermasalah, jadi Mas tidak bisa
melakukannya. Maafkan Mas ya sayang, jangan marah ya?” Ujar Kavindra dengan
lembut.
“Hmm,” gumam Ayesha sambil memejamkan matanya.
Kavindra pun memegang pipi Ayesha lalu mencium bibirnya
dengan lembut. Kemudian Kavindra membelai rambut Ayesha hingga mereka tertidur
bersama dengan saling berpelukan.
***
“Merindukan
seseorang adalah bagian dari mencintai mereka. Jika kamu tidak pernah berpisah,
kamu tidak akan pernah benar-benar tahu seberapa kuat cintamu. Tak ada satupun
hari atau waktu yang kulewatkan tanpa merindukanmu”
[Tahajud Cinta,
EPR]
TC 26
Bayi
Kembar
Malam hari Nayla keluar dari dalam kamar mandi
menggunakan handuk kimono ditubuhnya dan handuk kecil melilit di kepalanya. Ia
duduk ditepi tempat tidur lalu mengambil ponselnya yang ada diatas tempat
tidur. ia memandangi layar ponsel ditangannya dan tersenyum. Setelah itu ia
membuka kontak dan mencari nama Kavindra lalu mengirim sebuah pesan.
Nayla : Hai, aku Nayla. Kamu sedang apa?
Nayla tersenyum sendiri sambil memeluk ponsel di dadanya.
Ia membaringkan tubuhnya ketempat tidur dan berharap Kavindra akan segera
membalas pesannya. Ia memandangi layar ponselnya beberapa kali untuk melihat
apakah Kavindra sudah membalas pesannya.
Sementara itu di rumah Pak Jehan, Kavindra dan Ayesha sedang
tidur berpelukan dibawah selimut. Tiba-tiba ponsel Kavindra berbunyi menandakan
ada pesan masuk. Kavindra yang mendengar ponselnya berbunyi segera membuka
matanya dan mengambil ponsel diatas nakas dengan satu tangan tanpa melepas
pelukannya dari tubuh Ayesha dengan pelan-pelan supaya Ayesha tidak terbangun.
Setelah shalat maghrib Ayesha tertidur lagi karena bawaan hamil, sedangkan Kavindra
memang masih sangat lelah jadi tertidur juga berbarengan Ayesha. Kavindra membuka
pesan itu dan tampaklah nama Mama.
Mama: Kavin, sudah waktunya makan malam, apa kamu enggak mau keluar kamar?
Setelah membaca pesan itu, Kavindra menaruh ponselnya
kembali lalu memandangi wajah Ayesha yang sedang tertidur lelap. Ia tidak tega
untuk membangunkan Ayesha, tidurnya terlihat sangat nyenyak sekali. Kavindra pun
membiarkan Ayesha hingga tidak lama kemudian Ayesha membuka matanya.
“Jam berapa sekarang Mas?” Tanya Ayesha sambil mengusap
matanya.
“Delapan malam,” Jawab Kavindra sambil tersenyum.
“Aku laper Mas,”
Rengek Ayesha.
“Ayo bangun sayang.. bersih-bersih dulu sambil wudhuk
terus lalu kita shalat isya berjamaah. Setelah itu kita turun untuk makan,”
balas Kavindra sambil membuka selimut dan mengangkat tubuh Ayesha lalu
menggendongnya kedalam kamar mandi. Ayesha yang tiba-tiba digendong tentu saja
terkejut.
“Mas, aku bisa
jalan sendiri!” Seru Ayesha mencak-mencak digendong Kavindra, tapi Kavindra tidak
melepaskannya hingga sampai di bathup
lalu menurunkan Ayesha di sana.
Sementara itu Filia sekretaris Kavindra baru saja bangun
dari tidurnya. Ia merasa sangat lelah hari ini, sehingga ketika ia pulang dari
bekerja ia pun tertidur. Saat ia membuka matanya ia melihat jam di ponselnya
lalu melihat ada tanda pesan masuk. Ia membuka pesan dari nomor asing itu.
+62 856 xxx xxx : Hai, aku Nayla. Kamu
sedang apa?
Nayla? Apa dia Nayla temanku waktu SMA dulu?” gumam Filia
sambil mengingat-ingat temannya yang bernama Nayla.
Filia: Aku baru bangun tidur.
Setelah membalas pesan dari Nayla, Filia menaruh
ponselnya pada meja riasnya lalu masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan
tubuhnya yang belum mandi sejak tadi sore. Sementara itu, Nayla yang mendengar
ponselnya berdering tentu saja segera
membuka pesan yang baru masuk ke ponselnya. Ia membaca balasan pesan
dari Filia yang ia anggap itu balasan dari Kavindra. Ia merasa sangat senang
karena pesannya mendapat balasan, tapi ia kecewa karena pesan itu tidak
bertanya balik padanya. Nayla pun cemberut lalu meletakkan ponselnya kembali.
Sejujurnya Kavindra tidak pernah memberikan nomor
ponselnya pada orang lain. Di ponselnya hanya menyimpan nomor keluarganya, Riko,
Filia, dan beberapa orang terdekat saja. Selain itu, ia akan menyerahkannya
pada Filia sekretarisnya. Kavindra juga tidak memberikan nomor ponsel
pribadinya pada Nayla, tapi yang ia berikan nomor ponsel Filia.
***
Setelah shalat Isya berjamaah, Kavindra dan Ayesha menikmati
makan malam hanya berdua saja karena Pak Jehan dan Bu Diana sudah makan malam
terlebih dahulu saat mereka shalat Isya tadi. Seperti biasa Ayesha mengambilkan
makanan untuk Kavindra lalu menaruh piring itu diatas meja depan Kavindra. Kavindra
mengambil sendok lalu menyendok makanan diatas piring dan menyodorkannya ke
depan mulut Ayesha. Ayesha yang sedang mengambil makanan, tiba-tiba disodori
makanan di depan mulutnya jadi merasa heran. Ia melihat kearah Kavindra dengan
tatapan seolah-olah bertanya.
“Buka mulutmu sayang!” perintah Kavindra. Ayesha pun
memanyunkan bibirnya lalu membuka mulutnya lebar-lebar dengan terpaksa, ia
merasa kesal dengan Kavindra yang selalu memaksa saat makan. Setelah Ayesha membuka
mulutnya, Kavindra memasukkan makanan kedalam mulut Ayesha. Ayesha pun
mengunyah makanannya dengan cemberut.
Pak Jehan dan Bu Diana menyaksikan kemesraan mereka dari
ruang keluarga sambil menonton televisi. Kavindra tahu itu, tapi ia tidak
menghiraukannya. Sudah dua hari ia tidak bertemu Ayesha, hari ini ia ingin
memanjakan istri manisnya itu. Setelah menyuapi Ayesha, Kavindra memasukkan makanan
kedalam mulutnya sendiri dengan sendok yang sama. Setelah makan malam, Kavindra
dan Ayesha berpamitan pulang pada Pak Jehan dan Bu Diana.
***
Pagi-pagi Nayla mengirim pesan lagi pada Filia yang ia
anggap Kavindra.
Nayla: Selamat Pagi
Filia yang sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja
segera membuka tasnya saat mendengar ponselnya berdering. Ia membuka pesan yang
masuk pada ponselnya dan membalasnya.
Filia : Pagi juga
Nayla senang sekali pesannya mendapat balasan dengan
cepat. Ia pun membalas pesan itu lagi.
Nayla : Sedang apa?
Filia : Bersiap-siap berangkat kerja.
Nayla : Semangat
ya kerjanya (menambahkan
emoticon smile)
Filia mengernyitkan dahinya saat membaca pesan terakhir
dari Nayla.
“Perhatian banget dia, ada apa ini?” gumam Filia lalu
memasukkan ponsel kedalam tasnya dan berangkat kerja. Sementara itu Nayla
senang bukan main. Ia berpikir Kavindra selain tampan, ia juga seorang lelaki
pekerja keras.
***
Ayesha sedang membantu Kavindra bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Ayesha memasang jas dan
dasi di leher Kavindra sambil mendongak karena Kavindra lebih tinggi dari tubuh
Ayesha. Kavindra pun menunduk dan mendekatkan wajahnya pada Ayesha lalu
mengecup bibirnya. Ayesha terkejut lalu menatap mata Kavindra dan tersenyum
malu. Setelah selesai membantu Kavindra bersiap-siap, kini Ayesha dan Kavindra turun
kebawah untuk sarapan bersama. Di dapur Bi Ani dan Bi Yanti sedang menyiapkan
sarapan bersama. Saat Kavindra dan Ayesha sudah duduk di meja makan, Bi Ani
menghampiri Kavindra.
“Pak, maaf beberapa hari ini saya tidak masuk bekerja
karena anak saya sedang sakit,” Ujar Bi Ani meminta maaf.
“Iya Bi, tidak apa-apa. Semoga anaknya lekas sembuh.”
Jawab Kavindra dengan santai.
Setelah Bi Ani kembali ke dapur untuk menghidangkan
makanan keatas meja makan dibantu Yanti. Tiba-tiba Kavindra teringat sesuatu.
Ia belum memeriksa kandungan Ayesha bulan ini. Padahal moment ini sudah sangat
ia nanti-nantikan untuk mengetahui perkembangan anak yang ada didalam kandungan
Ayesha.
“Sayang.. kita ke rumah sakit ya?” Ujar Kavindra tiba-tiba.
“Kenapa, Mas Kavin sakit?” Tanya Ayesha heran karena Kavindra
tiba-tiba mengajaknya ke rumah sakit.
“Memeriksakan kandunganmu,” jawab Kavindra lalu
menyeruput minumannya.
“Ooooohh periksa kandungan,” Balas Ayesha sambil
memegangi perutnya.
“Iya, aku ingin memeriksakannya setiap bulan,” ujar Kavindra
sambil tersenyum dan ikut membelai perut Ayesha dengan lembut.
“Okey Mas,” Ucap Ayesha setuju.
Setelah itu mereka memulai sarapannya. Setelah sarapan Kavindra
melajukan mobilnya membawa Ayesha ke rumah sakit untuk memeriksa kandungannya.
***
Sesampainya di area parkir, Ayesha dan Kavindra turun
dari mobil lalu berjalan ke rumah sakit sambil bergandengan tangan. Ayesha merasa
gugup setiap menginjakkan kakinya ke rumah sakit, apalagi yang akan diperiksa
adalah dia sendiri. Kavindra menenangkannya dengan menggenggam tangan Ayesha erat-erat.
Ayesha memandang kearah Kavindra, Kavindra pun memandang Ayesha tersenyum.
“Tanganmu dingin sekali sayang? Kenapa?” Tanya Kavindra saat
merasakan dingin pada telapak tangan Ayesha.
“Mmm... Aku deg-degan, Mas,” Jawab Ayesha dengan gugup.
“Tidak usah takut, ada Mas disini,” Balas Kavindra sambil
tersenyum dan menepuk punggung tangan Ayesha yang ia genggam. Ayesha pun ikut
tersenyum dan mengangguk.
Setelah mendaftar dan antri, akhirnya kini giliran Ayesha
untuk diperiksa. Ayesha naik keatas tempat tidur lalu seorang perawat menaikkan
gamis Ayesha hingga ke dada. Setelah itu perawat itu menuangkan gel diatas
perut Ayesha, lalu Dokter kandungan memeriksa kandungan Ayesha dengan alat USG.
Kavindra mendampingi Ayesha disamping tempat tidur sambil memegangi tangan Ayesha
yang terasa dingin sejak tadi. Ia ikut menyaksikan tampilan gambar yang tertera
pada layar komputer meskipun tidak mengerti
gambar apa itu, yang ia lihat hanyalah gumpalan kacang kecil. Setelah
memeriksa Ayesha dengan alat USG, Dokter kandungan menjelaskan perihal tentang
kandungan Ayesha. Dokter mengatakan bahwa Ayesha sedang mengandung bayi kembar,
tapi itu masih belum terlalu jelas karena usia kandungan Ayesha masih delapan
minggu. Kavindra merasa sangat senang mendengarnya.
Selama perjalanan pulang Kavindra tersenyum tiada henti.
Ia memegangi tangan kanan Ayesha dan berkali-kali mencium punggung tangan Ayesha.
Ia sangat berterimakasih karena Ayesha dapat mengandung bayi kembar. Ayesha
juga berpikir bagaimana bisa ia mengandung bayi kembar, sedangkan ia tidak
memiliki saudara kembar, begitu juga dengan Kavindra.
“Mas,” Panggil Ayesha
tiba-tiba.
“Iya,” Sahut Kavindra sambil tetap fokus mengemudi.
“Apa kamu punya saudara kembar?” Tanya Ayesha ingin tahu.
“Iya, kakak kandungnya papa. Tapi mereka dua-duanya sudah
meninggal,” Jawab Kavindra dengan santainya.
“Meninggal kenapa?” Tanya Ayesha lagi semakin ingin tahu.
“Kecelakaan,” Balas Kavindra singkat.
“Oh begitu, pantesan aku bisa hamil kembar,” gumam Ayesha
mengerti.
Sesampainya di halaman rumah, Ayesha mencium punggung
tangan Kavindra sebelum turun dari mobil dan Kavindra mencium kening Ayesha.
“Banyak-banyak istirahat ya,” Ujar Kavindra pada Ayesha sebelum
Ayesha turun dari mobilnya.
“Iya Mas, Mas Kavin hati-hati ya mengemudinya, jangan
ngebut,” balas Ayesha sambil tersenyum.
“Iya,” jawab Kavindra lembut seraya membelai puncak
kepala Ayesha dengan kasih.
Setelah Ayesha turun dari mobil dan masuk kedalam rumah, Kavindra
melajukan mobilnya menuju perusahaan. Saat ditengah perjalanan, Kavindra mengisi
bahan bakar mobilnya disebuah SPBU. Ia membuka kaca mobilnya untuk berbicara
dan membayar pada petugas yang mengisi bahan bakar mobilnya. Tidak jauh dari
lokasi Kavindra, Nayla juga sedang mengisi bahan bakar motornya. Ia terkejut
saat melihat Kavindra didalam sebuah mobil, ia ingin mendekat tapi sayangnya Kavindra
sudah melajukan moobilnya keluar dari SPBU. Setelah selesai Nayla mengisi dan
membayar bahan bakar motornya, ia melajukan motornya untuk mengejar mobil Kavindra,
namun sayangnya Kavindra terlalu cepat melajukan mobilnya sehingga Nayla tidak
dapat mengejarnya.
“Sial!” Umpat Nayla karena tidak dapat mengejar mobil Kavindra.
Akhirnya ia pun melajukan motornya ke kampus karena ia ada urusan siang ini.
***
Ketika Riko sampai di lobby
perusahaan, ia melihat Nadira hendak masuk kedalam lift. Riko pun mengejarnya dan ikut masuk kedalam lift yang sama dengan Nadira. Nadira
melihat Riko dengan heran karena tiba-tiba Riko masuk kedalam lift dengan tergesa-gesa.
“Mas Riko kenapa?” Tanya Nadira saat pintu lift sudah tertutup.
“Tidak apa-apa. Hanya ingin mengejarmu,”Balas Riko sambil
ngos-ngosan.
“Kenapa mengejar saya?” tanya Nadira lagi sambil
mengernyitkan dahinya tidak mengerti.
“Tumben kamu terlambat ke perusahaan?” Tanya Riko setelah
mengatur napasnya.
“Oh itu karena tadi macet Mas,” Jawab Nadira santai,
karena merasa tidak telat-telat banget.
Tidak berapa lama pintu lift terbuka. Nadira keluar dan berjalan kearah ruangan kantornya,
dan Riko mengikutinya. Nadira duduk di kursinya, Riko pun duduk di kursi depan
Nadira.
“Kenapa Mas” Tanya Nadira sambil mengerutkan dahinya.
“Tidak ada apa-apa, hanya saja saya ingin mengajakmu
makan diluar,” Jawab Riko seraya tersenyum malu-malu.
“Liat nanti dulu ya Mas,” jawab Nadira menggantung.
“Oh ya sudah kalau begitu, saya ke ruangan dulu,” balas Riko
kecewa.
“Tapi... akan saya usahain,” Imbuh Nadira sambil
tersenyum saat Riko sudah diambang pintu. Riko pun berbalik dan tersenyum pada
Nadira.
“Saya tunggu kabarnya,” Ujar Riko senang. Setelah itu ia
keluar dari ruangan Nadira dan menutup pintunya.
***
Dua bulan
kemudian...
Di rumah Kavindra dan Ayesha. Bi Yanti dan Bi Ani sedang
sibuk bersih-bersih rumah. Makanan dan minuman sudah tersedia diatas meja
makan. Ayesha pun menyeruput susunya terlebih dahulu sambil menunggu Kavindra turun.
Tidak lama kemudian Kavindra turun dan sarapan bersama Ayesha seperti biasanya.
Setelah makan bersama, Kavindra meluncur ke rumah Pak Jehan.
“Mas.. ini kan bukan jalan ke rumah Papa?” tanya Ayesha penasaran.
“Iya sayang.. sebelum kita ke rumah Papa kita ke rumah
sakit dulu ya?” Ujar Kavindra sambil membelai puncak kepala Ayesha yang
dilapisi hijab berwarna ungu. Setelah memarkirkan mobilnya, Kavindra dan Ayesha
segera menuju ke tempat pendaftaran poli.
“Memang siapa yang sakit Mas?” Tanya Ayesha lagi.
“Enggak ada yang sakit sayang, Mas ingin melihat anak
kembar kita. Ayo USG...” Ucap Kavindra sambil tersenyum.
“Astaghfirullah..
kirain apa Mas,” balas Ayesha sambil tersenyum bahagia.
Setelah melakukan pendaftaran dan antrian yang begitu
panjang, akhirnya kini giliran Ayesha untuk diperiksa. Dulu saat diperiksa Ayesha
merasa gugup dan takut, tapi sekarang ia sudah terbiasa. Ia juga ingin melihat
bagaimana janin kembarnya yang kini sedang berkembang didalam rahimnya.
“Selamat ya Pak, Bu, bayi kalian kembar berjenis kelamin
laki-laki dan perempuan. Mereka sehat dan berkembang sesuai usianya,” Ucap
dokter kandungan yang memeriksa Ayesha.
Ayesha tersenyum senang sambil menggenggam tangan Kavindra
yang ikut mendampinginya saat diperiksa. Begitu juga dengan Kavindra, ia sangat
bahagia karena sekalinya punya anak langsung dikasih dua dan itupun berjenis
kelamin laki-laki dan perempuan. Ia sudah sangat tidak sabar ingin
memberitahukan kabar ini pada papanya. Ia sangat yakin kalau papanya akan
sangat bahagia mendengarnya.
***
Sesampainya di rumah Pak Jehan, Kavindra dan Ayesha segera
masuk kedalam rumah setelah mengucapkan salam dan mencium punggung tangan kedua
orang tuanya.
“Ada apa ini.. tumben ke rumah papa tidak dikabari
duluan?” Tanya Pak Jehan.
Kavindra menggandeng Pak Jehan dan mengajaknya duduk di
sofa. Sedangkan Ayesha diajak Bu Diana ke dapur, karena tadi ia membuat kue dan
belum sempat mencicipinya.
“Anak Kavin Pa...” Ucap Kavindra terputus saking
gembiranya.
“Kenapa dengan anakmu Vin?” tanya Pak Jehan tidak
mengerti.
“Anak Kavin kembar laki-laki dan perempuan Pa.. Alhamdulillah, Kavin seneeeng banget
Pa..” Ucap Kavindra dengan wajah yang berbinar-binar.
“Maa syaa Allah...
Papa ikut seneng Vin ...” Pak Jehan memeluk tubuh Kavindra. Begitu juga dengan Kavindra.
***
“Semenjak
kau hadir, hanya ada pelangi di dalam hidupku. Kehadiran seseorang tanpa
disadari menjadi sumber kebahagiaan yang berharga”
[Tahajud
Cinta, EPR]
TC 27
Pengantin
Baru
Malam Minggu Riko sedang melihat bayangannya didepan kaca
didalam kamarnya. Ia tampil yang terbaik malam ini. Sementara Nadira didalam
kamarnya sedang duduk didepan meja riasnya. Ia menanti kedatangan Riko.
Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Ia menempelkan telapak tangan
pada dadanya dan merasakan debaran jantung di dadanya.
“Ada apa ini? Kenapa rasanya berdebar-debar?” gumam
Nadira saat menyentuh dadanya. Tidak lama kemudian Riko sampai didepan rumah
Nadira, tepatnya didepan rumah Andre kakak kandungnya Nadira. Ya, sejak
meninggal kedua orang tuanya akibat kecelakaan tunggal tiga tahun yang lalu, Nadira
tinggal bersama Andre kakak kandungnya. Nadira sempat ngekos saat ia kuliah.
Begitu selesai kuliah ia menumpang tinggal bersama Andre dan Sinta serta keponakannya
yang masih berusia empat tahun bernama Annisa.
Ketika keluar dari mobilnya, Riko menghirup nafas
dalam-dalam melalui hidungnya lalu menghembuskannya dengan kasar melalui
mulutnya. Ia berjalan menghampiri pintu rumah Nadira lalu memencet belnya.
Setelah memencetnya dua kali muncullah Annisa membukakan pintu.
“Cali siapa Om?” Tanya Annisa dengan bahasa cedalnya.
“Ini pasti Annisa kan?” Tanya Riko balik. Riko sudah
banyak tahu tentang keluarganya Nadira. Termasuk keponakannya itu, banyak hal
yang ia ceritakan ke Riko tentang tingkah lucu keponakannya.
“Iya, Om. Om ciapa cih.. kok enggak kenal Aca? (Panggilan
nama Annisa).” Tanya Annisa lagi.
“Om temen tantenya Aca, Tante Diranya ada?” Ujar Riko
sambil berjongkok sejajar dengan tubuh mungilnya Annisa. Tidak lama kemudian
Andre muncul dari dalam kamar karena mendengar ada obrolan diluar. Andre lalu
berdehem, Riko menjadi salah tingkah sendiri karena terlalu gugup. Untung ada
Annisa yang lucu sehingga dapat mencairkan suasana.
“Papa.. ada temen tante Dila nih” Ucap Annisa dengan
bahasa cedalnya.
“Kok Oomnya enggak disuruh masuk Nak?” Ujar Andre sambil
mempersilahkan Riko masuk.
“Mas ...” Sapa Riko lalu mengulurkan tangannya untuk
menjabat tangan Andre. Andre pun menerimanya.
“Riko, temennya Nadira di kantor?” Tanya Andre memastikan
teman lawan jenisnya Nadira yang sering ia ceritakan.
“Iya Mas...” Balas Riko sopan.
Sementara itu, Annisa dengan lincahnya langsung mengetuk
pintu kamar Nadira dan memberitahukan bahwa ada oom yang mencarinya. Nadira pun
keluar dari dalam kamarnya. Ia sangat yakin kalau itu Riko yang datang. Nadira
melihat Andre sedang berbincang-bincang dengan Riko. Ia pun menghampirinya.
“Mas Riko maaf ya ...” Ucap Nadira sambil menyatukan
kedua telapak tangan di dadanya. Riko mengernyitkan dahinya tidak mengerti.
Kenapa Nadira masih belum ganti
baju? Batin Riko. Nadira hanya berpakaian gamis biasa dengan
jilbab bergonya.
“Kak Andre melarang kita makan diluar, jadi malam ini
kita makan di rumah...” Imbuh Nadira menjelaskan. Andre mendengarkan sambil
tersenyum.
“Oh iya tidak apa-apa...” balas Riko seraya tersenyum.
“Silahkan masuk Mas, anggap rumah sendiri ...” ucap
Nadira mempersilahkan Riko dengan sopan dan mengajaknya ke ruang makan. Andre
berdiri dan Riko mengikutinya. Di ruang makan, tampak Sinta sedang
mempersiapkan makanan. Andre duduk diikuti Nadira, Sinta, Annisa dan Riko. Setelah
itu mereka mulai makan ditengah keheningan, sesekali terdengar celetukan
kata-kata cedal dari Annisa. Riko merasa jantungnya deg-degan. Ini pertama
kalinya ia makan malam di rumah seorang wanita. Sambil makan, Riko sesekali
melirik Nadira yang sedang makan didepannya. Ia sangat salah tingkah berada di
tengah-tengah keluarga Nadira. Setelah makan malam selesai, Andre membuka
perbincangan.
“Riko... Anda serius dengan adik saya Nadira?” Tanya
Andre tiba-tiba.
“Uhuk..uhuk...” Riko tersedak air ludahnya sendiri saat
mendengar pertanyaan Andre. Ia pun menepuk-nepuk dadanya supaya batuknya reda.
Ia merasa terkejut dengan pertanyaan Andre. Tadinya ia masih ingin PDKT dulu
sama Nadira, tapi Andre sudah menanyakan ke hal yang serius. Riko pun bingung
harus menjawab apa.
“I-iya Mas...” jawab Riko terbata-bata. Hanya itu yang
bisa keluar dari mulutnya saat ini. Ia terlalu gugup untuk mengeluarkan
kata-kata yang lebih banyak dari itu.
“Kalau begitu saya tinggal dulu...” Ujar Andre lalu berdiri
sambil menggendong Annisa yang baru saja duduk dipangkuannya. Andre
meninggalkan Nadira dan Riko di ruang tamu. Sinta mengikuti Andre masuk kedalam
kamar setelah beberes di dapur untuk segera beristirahat.
“Mas Riko apa-apaan?” Tanya Nadira sambil mengernyitkan
dahinya saat Andre dan Sinta sudah pergi.
“Maaf Ra, saya terlalu gugup tadi. Sehingga reflek
menjawab ‘iya’,” Jawab Riko sambil meringis.
“Ayo kita ngobrol di teras belakang Mas...” Ajak Nadira. Riko
pun setuju.
“Beneran Mas Riko mau melamar Dira?” Tanya Nadira saat
sudah duduk di kursi teras belakang rumahnya.
“Ya... mau gimana lagi? Saya sudah terlanjur bilang ‘iya’
sama kakak kamu Dira. Kalau saya batalkan nanti Kakak kamu tidak percaya lagi
sama saya...” Jawab Riko pasrah.
“Mmm.. memang Mas Riko beneran suka sama Dira?” tanya
Nadira memastikan keseriusan Riko.
“Iya, Ra. Saya sudah lama tertarik sama kamu. Tepatnya
saat kita pertama kali jumpa diacara pesta pernikahan Pak Kavindra dan Bu Ayesha.”
Nadira hanya mengangguk.
“Tapi... kamu enggak punya pacar kan sekarang?” tanya Riko
untuk memastikan.
“Enggak ada Mas...” Balas Nadira sambil menggelengkan
kepalanya.
***
Dua bulan
berlalu...
Riko telah melamar Nadira satu minggu setelah makan malam
di rumah Andre waktu itu. Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Nadira
dan Riko. Nadira merasa sangat deg-degan melihat saudara dan keluarganya sedang
menerima hantaran dari keluarga Riko yaitu diwakili oleh keluarga besar
Pratama. Karena memang Riko sudah dianggap bagian dari keluarga Pratama. Dari
semalam Nadira tidak bisa tidur karena memikirkan hari yang paling spesial
dalam hidupnya. Akad nikad diadakan di Mesjid. Setelah kata SAH terucap dibibir
saksi. Sekarang saatnya Riko memberi mahar seperangkat alat shalat, uang tunai
dan logam mulia 50 gram. Setelah acara akad nikah langsung dilanjutkan acara
walimahan di tempat Nadira. Tepatnya di kediaman rumah Andre kakak kandungnya. Riko
didandani pakaian adat khas Minang, karena ikut keluarga Nadira yang berasal
dari tanah Minang. Saat melihat Riko dari kejauhan dia pun disambut oleh tari
piring. Penari-penari itu menuntun Riko mendekat kepada Nadira. Semakin lama
semakin mendekat, hati Nadira begitu berbunga-bunga sangat bahagia menantikan
sang pujaan hati yang sangat tampan. ‘Ini
adalah bener-bener acara walimahan seperti yang aku impikan’, batin Nadira. Riko
pun tersenyum kepadanya.
“Kamu sangat tampan Mas,” Ucap Nadira sambil tersenyum
bahagia.
“Kamu juga sangat cantik sayang.” Balas Riko sambil
menggandeng tangan Nadira berjalan menuju pelaminan.
Mereka pun duduk dan melihat tarian yang diiringi rabab.
Banyak para tetamu yang datang untuk memberi restu kepada kedua mempelai yang
sangat berbahagia.
Malam pertama menjadi suami istri, Nadira langsung
diboyong Riko ke rumahnya. Rumah yang dibelikan pak Jehan untuk Riko dan
langsung dibuat atas nama Riko saat ia masih kuliah.
“Dik Dira?” Riko memecahkan sepi.
“Iya Mas, kenapa” Ucap Nadira lirih.
“Makasih ya sayang sudah mau menjadi istriku,” Ujar Riko
sambil mengelus tangan Nadira lalu menciumnya.
“Makasih juga sudah mau menjadi imamku,” balas Nadira
sambil tersenyum yang tiba-tiba pipinya menjadi merah.
“Mas.. kamu tinggal sendirian ya di rumah sebesar ini?”
Tanya Nadira mengalihkan topik.
“Dulu iya sayang.. tapi sekarang sudah ada temen. Tepatnya
teman hidup, teman makan, teman tidur dan teman....” Riko tidak melanjutkan
kalimatnya, namun tiba-tiba Riko
mengangkat tubuh Nadira dan menidurinya keatas ranjang yang dipenuhi warna
hijau. Nadira benar-benar kaget dibuatnya. Pipinya seketika merah merekah
akibat malu. Riko pun ikut tidur disampingnya dengan menggeser badannya kearah
Nadira.
“Mas...kok deket-deket sih.” Ucap Nadira kesel menahan
malu.
“Kamu itu istri aku sayang.” Riko pun memeluk Nadira.
Nadira merasa sangat nyaman tapi juga deg-degan.
“Tenang saja malam ini kita hanya tidur.” Kata Riko
sambil sedikit tertawa.
“Siapa juga yang mau macam-macam.” Nadira pun
menyikutnya.
“Sstt ssstt sudah ayo tidur,” Riko pun memeluk Nadira
dengan sangat erat. Entah karena terlalu lelah Nadira pun tertidur dalam
pelukan suaminya itu.
***
“Tiada
satu pun cara yang dapat menyatukan dua manusia yang sedang jatuh cinta kecuali
menikah”
[Tahajud
Cinta, EPR]
TC 28
Kecewa
Hari Minggu Nayla tidak masuk kuliah. Ia becermin didepan
kaca dengan perasaan gugup. Berkali-kali ia berputar-putar didepan cermin takut
kalau penampilannya ada yang kurang. Semalam sebelum tidur, Nayla mengirim
pesan pada Filia yang ia kira selama ini adalah Kavindra. Selama ini menurutnya
Kavindra selalu membalas chat-nya dan
memberi kesempatan baginya. Karena itu ia memberanikan diri mengajak Filia
bertemu disebuah caffe pada hari
Minggu. Filia pun menyetujuinya karena memang sudah lama ia tidak bertemu
dengan Nayla. Sesampainya Nayla di caffe,
ia duduk di sebuah meja sambil menunggu kedatangan Filia dengan gugup. Beberapa
kali ia berkaca pada layar ponselnya untuk memastikan kalau penampilannya tidak
berantakan. Tidak lama kemudian ponselnya berbunyi. Ada pesan masuk dari Filia
yang sudah berada ditempat parkir. Jantung Nayla berdebar-debar rasanya.
Filia : Kamu dimana? Aku sudah sampai.
Nayla membalas pesan Filia dengan jantung berdebar-debar.
Tangannya pun berkeringat dan gemetar.
Nayla : Aku sudah
menunggumu didalam. Di meja
nomor 12.
Filia : Okey, aku akan segera kesana, tapi aku mau
ke toilet dulu sebentar.
Setelah Filia keluar dari dalam kamar mandi, ia segera
menuju ke meja nomor 12 seperti petunjuk yang diberikan Nayla. Saat ia sudah
tiba didekat meja nomor 12, ia mengernyitkan dahinya saat melihat postur tubuh
Nayla temannya sendiri, melainkan orang lain. Ia pun segera mengeluarkan
ponselnya lalu menelepon Nayla yang mengiriminya pesan selama ini. Filia
melihat orang di meja nomor 12 itu menerima panggilan telepon dengan semangat.
(“Hallo...”) Sapa Nayla dengan suara yang dibuat selembut mungkin
saat melihat nama Kavindra dilayar ponselnya.
(“Kamu Nayla?”) tanya Filia sembari mengernyitkan dahinya. Begitu juga
dengan Nayla ia merasa heran saat mendengar suara Filia.
(“Iya saya Nayla,”) Jawab Nayla gugup.
Siapa ini? Apa istrinya Kavindra ya? Batin
Nayla.
Filia pun memutuskan sambungan teleponnya lalu menghampiri
meja nomor 12.
“Kamu Nayla?” Tanya Filia lagi seraya duduk didepan
Nayla. Nayla terkejut saat Filia tiba-tiba duduk didepannya dan menyapanya.
“I-iya,” Jawab Nayla sembari menatap Filia dengan gugup.
“Kamu dapat nomor ponsel saya dari mana?” tanya Filia.
Nayla mengernyitkan dahinya tidak mengerti.
“Kamu kan yang mengajak saya ketemuan hari ini?” tanya
Filia lagi.
“Loh? yang saya ajak ketemuan Mas Kavin, tapi kenapa yang
datang kamu?” Tanya Nayla semakin bingung.
“Hah.. Pak Kavin?” Tanya Filia terkejut.
“Jadi kamu dapat nomor ponsel saya dari pak Kavin?” Imbuh
Filia.
“Sebentar, sebenarnya kamu ini siapanya Kavindra?” Tanya
Nayla meminta penjelasan.
“Saya Filia. Sekretarisnya Pak Kavindra.” Jawab Filia
santai.
“Lalu Mas Kavinnya mana? Kok nggak datang? Malah kamu
yang kemari.” Tanya Nayla kecewa.
“Pak Kavin di rumah lah,” Jawab Filia lalu melambaikan
tangannya memanggil pelayan hendak memesan minuman.
“Kenapa dia tidak datang?” Tanya Nayla memaksa ingin
tahu.
“Begini ya Dik. Aku tanya dulu, kamu dapat nomor aku dari
Pak Kavin?” tanya Filia. Nayla mengangguk.
“Pak Kavin tidak pernah memberikan nomor ponsel
pribadinya pada siapapun. Bahkan pada klien
bisnisnya sekalipun. Beliau tidak mau kehidupan pribadinya terganggu. Jadi
ketika ada yang meminta nomor ponselnya, beliau akan memberikan nomor saya (Filia)
sebagai sekretarisnya,” Tutur Filia menjelaskan.
“Oh begitu...” sahut Nayla kecewa lalu menghembuskan
nafas melalui hidungnya dengan kasar.
“Jadi yang selama ini berkirim pesan ke saya Mba Filia?”
Tanya Nayla lagi untuk memperjelas.
“Iya!” balas Filia singkat.
“Kenapa enggak bilang? Tanya Nayla kecewa.
“Aku juga enggak tahu kalau kamu Nayla lain. Aku kira
kamu Nayla teman sekelasku saat kuliah dulu,” Jawab Filia santai. Nayla
cemberut. Ia merasa sia-sia dandan cantik dari tadi, tapi yang ia temui bukan Kavindra.
Nayla sudah sangat berharap kepada Kavindra saat pertama kali bertemu agar bisa
berjodoh dengannya. Apalagi setiap ia berkirim pesan, Filia yang dianggap Kavindra
selalu membalas chatnya itu. Hatinya selalu berbunga-bunga saat melihat balasan
chat dari Filia. Meskipun tidak ada kata-kata romantis diantara mereka, tapi
Nayla sudah sangat senang bukan kepalang.
“Boleh saya minta nomor ponselnya Mas Kavin?” tanya Nayla
lagi.
“Maaf, tidak bisa. Bisa-bisa saya dipecat kalau sampai
nomor ponsel Pak Kavin menyebar,” tolak Filia dengan sopan. Nayla pun semakin
cemberut karena laki-laki yang ia harapkan menjadi jodohnya ternyata susah
untuk digenggam.
***
“Kekecewaan
tidak memiliki tempat di hati
yang penuh
rasa syukur”
[Tahajud
Cinta, EPR]
TC 29
Cobaan
Kini kehamilan Ayesha sudah memasuki 33 minggu. Artinya Kavindra
dan Ayesha sedang menanti kelahiran bayi kembarnya itu. Sebelum ia melahirkan, Ayesha
menginginkan Bu Indah tinggal di rumahnya. Saat melahirkan ia ingin didampingi
suami dan ibu kandungnya sendiri.
Hari ini Ayesha dan Kavindra akan menjemput Bu Indah dan
Pak Hermawan sekalian bersilaturrahim kepada kedua orang tuanya. Sudah lama
mereka tidak mengunjunginya. Kavindra memenuhi semua kemauan Ayesha selama itu
membuat hatinya senang dan bahagia.
Tentu saja Ayesha sangat senang. Ia pun membuat kue di
dapur dibantu Bi Yanti dan Bi Ani untuk diberikan pada Bu Indah. Setelah kuenya
matang Kavindra dan Ayesha pun berangkat. Selama perjalanan Kavindra mengemudikan
mobilnya dengan kecepatan sedang. Saat berhenti di lampu merah, ia mengecup
pipi Ayesha yang sedikit tembem. Ayesha pun menoleh dan tersenyum padanya.
“Dilihat orang malu, Mas,” Ucap Ayesha pada Kavindra seraya
menyentuh pipinya yang baru saja dicium.
“Tidak apa-apa manis.. kan cium istri sendiri dapat
pahala,” Balas Kavindra dengan mengedipkan sebelah matanya.
“Aku mencintaimu,” Ucap Kavindra tiba-tiba seraya
mengaitkan jemarinya dengan jemari Ayesha lalu menciumnya.
“Aku juga mencintaimu, Mas,” balas Ayesha seraya
tersenyum dan mengeratkan jemarinya pada jemari Kavindra.
Dari arah yang berlawanan dengan mereka, seseorang sedang
memperhatikan kemesraan mereka dari dalam mobilnya. Kebetulan mereka sama-sama
berada di barisan paling depan saat menunggu lampu lalu lintas dari merah
menjadi hijau. Ia merasa tidak suka dan cemburu dengan hidup mereka. Ia merasa Ayesha
telah merebut semua impiannya untuk menjadi bagian dari keluarga Pratama dan
menguasai semua hartanya.
“Kalau aku tidak bisa memilikinya, orang lain juga tidak
boleh memilikinya, aku benci Ayesha. Kenapa hidupnya begitu beruntung,” gumam
wanita itu dengan menyeringai jahat. Setelah lampu kuning menyala dan berubah
menjadi hijau, wanita misterius itu segera menginjak gas dan melaju dengan
kecepatan penuh ke arah mobil Kavindra. Ia tidak peduli dengan keselamatan
dirinya sendiri. Kavindra baru saja menginjak gasnya. Tentu saja ia tidak siap
dan terkejut. Ia pun membanting kemudi hingga menabrak mobil disamping kirinya.
Wanita misterius itu pun mundur lalu menabrakkan mobilnya ke mobil Kavindra berkali-kali
dengan kerasnya. Kecelakaan pun tidak terelakkan. Ayesha dan Kavindra kini
bersimbah darah. Beberapa orang segera mengerubungi mobil Kavindra yang
ringsek. Kavindra yang masih setengah sadar menoleh kearah Ayesha yang tidak
sadarkan diri. Ia menangis melihat istrinya dengan keadaan seperti itu. Ia
tidak mau kehilangan istri dan anak kembarnya yang akan segera lahir. Ia
mengulurkan tangannya dengan pelan-pelan kearah Ayesha. Belum sempat tangannya
menggapai Ayesha, tiba-tiba pandangannya gelap dan ia pun tidak sadarkan diri. Ya Allah... tolong selamatkan anak dan istri
saya. Ucap Kavindra dalam hati. Hatinya menangis karena tidak bisa
melindungi dan menyelamatkan istri sekaligus buah hati yang ada dalam
kandungannya. Beberapa orang membuka paksa pintu mobil Kavindra yang kacanya
sudah pecah. Setelah pintu mobil terbuka, mereka segera mengeluarkan Kavindra dan
memeriksa nafas serta nadi untuk memastikan apakah masih hidup atau sudah
meninggal.
Kavindra membuka matanya dan melihat bahwa kini ia berada
di rumah sakit. Ia memegangi kepalanya yang terasa sakit.
“Aaaah,” pekik Kavindra.
Bu Diana yang sedang duduk di sofa segera menghampirinya.
Sudah dua hari Kavindra berbaring dan tidak sadarkan diri.
“Alhamdulillah... akhirnya
kamu sadar nak,” Bu Diana mengucap
syukur seraya memencet tombol yang ada di samping tempat tidur Kavindra untuk
memanggil dokter dan perawat.
“Dimana Ayesha? Bagaimana keadaan anakku, Ma?” Tanya Kavindra
pada mamanya dengan tidak sabar.
“Tenang Vin... kamu baru sadar. Biar dokter memeriksamu
dulu,” ujar Bu Diana menenangkan Kavindra. Tidak lama kemudian dokter dan
perawat pun datang untuk memeriksanya. Setelah memastikan tidak ada hal yang
perlu dikhawatirkan, dokter dan perawat itu pun pergi.
“Dimana Ayesha,
Ma?” Dia baik-baik saja kan? Bagaimana dengan anakku?” Tanya Kavindra lagi
dengan tidak sabar dan khawatir.
“Sabar Vin...” ucap Bu Diana dengan lirih menenangkan Kavindra
dan mengusap airmatanya.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Kavindra semakin
penasaran.
“Istrimu koma,” jawab Bu Diana dengan menangis. Ia tidak
tega mengatakannya pada Kavindra. Ia juga tidak tega melihat Ayesha yang berada
di ruang ICU dengan berbagai alat kesehatan yang dipasangkan pada tubuh Ayesha.
“Bagaimana dengan anakku?” Tanya Kavindra dengan
menitikkan airmata. Jujur ia tidak sanggup mendengar berita buruk yang akan didengar,
tapi ia ingin tahu kepastiannya.
“Anakmu sudah lahir, tapi...” Bu Diana menggantungkan
kalimatnya.
“Tapi apa, Ma?” Tanya Kavindra dengan tidak sabar dan
memegangi kedua lengan mamanya.
“Tapi mereka premature
karena belum waktunya untuk dilahirkan,” jawab Bu Diana dengan bibir bergetar
menahan tangis. Ia sudah melihat wujud cucunya yang masih mungil-mungil. Ia
ingin mendekap dan memeluk bayi-bayi itu, tapi dokter melarangnya dan menaruh
mereka didalam inkubator untuk mendapatkan perawatan intensif.
“Aku ingin melihat mereka, Ma,” Ujar Kavindra seraya
mencoba bangkit.
“Sebentar Mama panggilkan perawat supaya membantumu
bangun,” Ucap Bu Diana lalu keluar sebentar untuk memanggil perawat beserta
kursi roda. Tidak lama kemudian bu Diana masuk dengan seorang perawat yang
tengah mendorong kursi roda. Kemudian perawat itu membantu Kavindra yang masih
lemah duduk di kursi roda. Setelah itu ia mendorongnya keluar menuju ruang
perinatal dan bu Diana mengikuti dibelakang mereka. Kini Kavindra melihat
bayi-bayi mungil itu dari luar kaca bayi dengan duduk di kursi roda. Ia
membelai kaca itu seakan-akan sedang membelai kedua anaknya. Ia merasa bahagia
karena istrinya koma dan anaknya lahir premature.
Ia pun menitikkan air mata. Ia merasa gagal menjadi suami dan papa yang baik
untuk keluarga kecilnya. Setelah melihat kedua anaknya, Kavindra pergi ke ruang
ICU dimana Ayesha berada. Sebenarnya anggota keluarga tidak diperbolehkan
masuk, tapi Kavindra memohon untuk diizinkan melihat istrinya. Ia berjanji
hanya melihatnya sebentar. Ia sangat rindu dengan senyum istrinya yang setiap
hari menemani hari-harinya.
Kini Kavindra diizinkan masuk dengan baju steril menempel
pada tubuhnya. Ia memegang tangan Ayesha yang tidak bergerak dan mencium tangan
itu serta menempelkan pada pipinya.
“Sayang ... bangunlah ...” Ucap Kavindra lirih dengan
tubuh bergetar dan menangis. Air matanya jatuh dan membasahi pipi serta tangan Ayesha
yang ada di pipinya. Ia tidak tega melihat istrinya yang terkulai tidak
berdaya. Hatinya sangat sakit. Andai saja ia bisa menggantikan posisi istrinya,
ia akan sangat bersedia. Anak-anaknya membutuhkan ibunya dari pada ayahnya.
“Sayang... maafkan
aku. cepatlah bangun. Aku merindukanmu,” Ucap Kavindra dengan bahu bergetar.
“Tidakkah kamu ingin melihat anak-anak kita? Mereka
sangat lucu-lucu. Mereka membutuhkanmu, sayang. Bangunlah...” Ujar Kavindra seraya
membelai pipi Ayesha.
“Ayo kita merawat mereka bersama-sama. Kita belum membuat
nama untuk mereka. Kamu mau memberi mereka dengan nama siapa?” tanya Kavindra dengan
berlinang air mata dan bahunya bergetar. Ia sudah membayangkan betapa bahagia
hari-harinya saaat kedua anaknya berlarian didalam rumah tangga dan memanggil
dirinya dengan sebutan papa dan Ayesha dengan sebutan mama. Sungguh keluarga
impian yang sangat sempurna. Setetes bulir bening pun keluar dari mata Ayesha dan
menetes di samping matanya.
Aku mendengarmu, Mas. Aku ingin
memelukmu dan anak-anak kita, tapi aku tidak bisa. Seluruh tubuhku terasa
sangat sakit. Maafkan aku tidak bisa menjadi istri dan ibu yang baik. Kata Ayesha
dalam hati.
Kalau nanti aku pergi dan tidak
lagi disisimu, aku akan selalu menunggumu di keabadian. Aku akan selalu menunggu
dan merindukanmu. Sebutlah namaku selalu di hatimu dan doamu. Jangan pernah
lupakan aku. Aku mencintaimu, Mas. Imbuhnya.
Aku tidak akan pergi jauh, aku
akan selalu ada di hatimu. Kamu juga akan selalu ada di hatiku. Aku sangat
berterimakasih kepada Tuhan yang maha kuasa karena telah mempertemukan dan
menyatukan kita. Meskipun aku tidak bisa merawat anak kita bersama-sama, aku
sudah bahagia bisa mengandung dan melahirkan mereka untukmu. Jagalah mereka
dengan baik untukku. Ucap Ayesha dalam hati.
Kavindra yang melihat air mata Ayesha menetes segera
mengusapnya dengan lembut. Air matanya pun semakin deras melihat istrinya yang
biasanya riang dan sering tersenyum kini hanya bisa menangis dan berbaring
tidak berdaya. Ia ingin memeluk tubuh istrinya, tapi banyak alat kesehatan yang
menempel pada tubuh Ayesha. Ia hanya bisa melihat dan merasakan sakit di dalam
hatinya.
***
Kavindra pun segera memanggil perawat yang tidak jauh
darinya. Ia meminta agar istrinya segera diperiksa. Ia berharap istrinya segera
sadar dan bisa melihat anak mereka.
“Sus tolong periksa istri saya. Dia menangis,” Ucap Kavindra
dengan semangat seraya mengusap air matanya dengan punggung tangannya. Perawat
itu mendekat dengan tersenyum. “Sabar ya, pak. Kami tadi sudah memeriksanya
sebelum Pak Kavindra datang kesini. Istri Anda menitikkan air mata itu karena
merespon setiap kata-kata yang Anda lontarkan padanya. Meskipun istri Anda koma
dan tidak bergerak, tapi dia bisa mendengar semua yang Anda ucapkan,” Jelas
perawat itu pada Kavindra. Kavindra pun memandang istrinya kembali. Dan
lagi-lagi bulir bening keluar dari pelupuk mata Ayesha yang terpejam.
“Sayang, kamu mendengarkanku kan? Cepatlah bangun. Anak-anak
kita membutuhkanmu sayang,” Ucap Kavindra memberikan semangat pada Ayesha. Ayesha
hanya meresponnya dengan air mata yang ia teteskan disetiap ucapan Kavindra.
“Pak Kavindra tolong segera kembali ke kamar Anda untuk
beristirahat. Supaya keadaan Anda juga segera pulih,” Ucap seorang perawat yang
tadi mengantarnya. Kavindra mengangguk lalu berpamitan pada Ayesha. Sebelum
pergi Kavindra mengecup punggung tangan Ayesha dengan lembut. Seorang perawat
segera mendorong kursi roda Kavindra menjauhi ranjang Ayesha. Kavindra menoleh
ke belakang untuk melihat istrinya hingga ia tidak bisa melihat istrinya lagi.
***
Setiap hari Kavindra mengunjungi bayinya di ruang
perinatal dan istrinya di ruang ICU. Kedua bayi kembar itu lahir dengan cara
operasi caesar pasca kecelakaan. Saat sampai di rumah sakit, dokter dan perawat
segera memeriksa kandungan Ayesha. Saat mereka mengetahui bahwa bayi itu masih
hidup, mereka segera melakukan operasi caesar untuk menyelamatkannya. Bayi-bayi
itu lahir di usia 33 minggu. Karena mereka kembar, tentu saja berat badan
mereka hanya 1900 gram untuk yang berjenis kelamin laki-laki dengan panjang 73 cm,
sedangkan yang perempuan hanya 1800 gram dengan panjang 71 cm. Kebanyakan bayi prematur yang lahir pada usia
kandungan 33 minggu memiliki resiko kesehatan yang tinggi, misalnya masalah
pernapasan, kesulitan mengatur suhu tubuh, dan penyakit kuning. Selain masalah
tersebut, mereka juga beresiko tinggi mengalami masalah perkembangan belajar
dan perilaku. Karena itu mereka memerlukan perawatan intensif.
Setiap hari si kembar selalu ditimbang untuk mengetahui
perkembangan berat badan mereka. Karena tidak mendapatkan ASI (Air Susu Ibu),
mereka diberikan susu formula khusus BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) supaya
berat badannya cepat naik keberat badan normal.
Kavindra melihat mereka yang menggeliat dan terkadang
menguap dari luar kaca ruang perawatan intensif. Ia tersenyum bisa melihat
anaknya, tapi hatinya sakit melihat mereka tidak bisa berada dipelukan ibunya.
Sudah dua minggu berlalu. Kondisi Ayesha tidak ada
perubahan sama sekali. Setiap hari Kavindra menjenguknya untuk memberikan
semangat. Bu Indah setiap hari menangisi Ayesha didepan ruang ICU. Ia masih
tidak percaya putri semata wayangnya mengalami musibah setragis ini.
***
Hari ini Riko baru bisa menjenguk Kavindra ke rumah sakit
karena sibuk di perusahaan mengurus perusahaan ‘Pratama Sejahtera’. Untungnya
ia tidak sendiri sekarang ini, Nadira ikut terjun membantunya. Mereka sangat
tahu bagaimana kondisi psikis Kavindra saat ini. Tidak mungkin ia bisa mengurus
pekerjaan di tengah musibah yang menimpa anak dan istrinya. Saking stresnya,
bahkan ia tidak memikirkan untuk mengusut penyebab kecelakaan yang menimpanya.
“Bagaimana keadaan pak Kavin?” Tanya Riko pada Kavindra yang
berbaring setengah duduk diatas tempat tidurnya.
“Alhamdulillah, saya
sudah lebih baik,” Jawab Kavindra datar. Wajahnya terlihat sangat sedih dengan
kantung mata dibawah matanya. Kavindra memang kurang tidur akhir-akhir ini. Ia
hanya bisa berdoa disepertiga malam untuk kesehatan istri dan anak-anaknya.
Seperti biasa setiap malam Kavindra selalu shalat tahajud dan bermunajat kepada
sang pencipta untuk selalu diberikan kesehatan dan kesembuhan untuk istri dan
anak-anaknya. Hanya itu saja doa yang diulang-ulang dan dipanjatkan disetiap
sujud tahajudnya.
“Saya sudah mengurus semuanya, Pak. Di perusahaan saya
dibantu Nadira,” Ucap Riko pada Kavindra.
“Terimakasih,” Balas Kavindra. Rasanya ia sudah tidak
peduli lagi dengan perusahaan yang ia miliki.
“Saya juga sudah mengurus dan mengusut yang menyebabkan
bapak kecelakaan,” Imbuh Riko. Kavindra pun menatap lekat Riko.
“Apa hasilnya?” Tanya Kavindra ingin tahu.
“Itu bukan sebuah kecelakaan, tapi memang sebuah
kesengajaan,” Jawab Riko menjelaskan.
“Siapa pelakunya?” Tanya Kavindra semakin penasaran
dengan geram.
“Clara. Polisi sudah menyelidiki rekaman kamera CCTV dan
mengecek keadaan mobil Clara. Tidak ada masalah dengan mobil itu, bahkan remnya
pun tidak blong,” tutur Riko.
“Clara?!. Siapa dia!” Tanya Kavindra geram sambil
mengingat-ingat nama wanita yang tidak pernah ia kenal.
“Mantan istri Pak Gilang. Tepatnya istri kedua Pak
Gilang.” Jelas Riko.
“Bukannya dia sudah di penjara?” Tanya Kavindra lagi
dengan nada yang masih geram saat ia sudah mengingat wanita tersebut.
“Iya. Enam bulan yang lalu ia sudah bebas, ada yang
menjaminnya. Dan... ternyata setelah diperiksa kejiwaannya, dia memiliki
gangguan mental. Selain karena efek samping dari obat-obatan terlarang yang
pernah ia konsumsi, ia juga terobsesi untuk menguasai harta kekayaan dari
keluarga Pratama serta ia juga menaruh dendam yang sangat besar terhadap Bu Ayesha
karena menurut dia Ayesha telah berhasil menguasai kekayaan Pratama.” Jelas Riko
panjang lebar sambil memperlihatkan rekaman video pengakuan dari Clara saat di
introgasi oleh pihak kepolisian. Kavindra yang mendengar cerita Riko sangat
geram dan penuh amarah atas kelakuan Clara mantan istri saudaranya itu. Namun
ia masih bisa menguasai emosinya. Kavindra beristighfar berkali-kali.
“Sekarang dimana dia?” Tanya Kavindra dengan menatap
tajam Riko.
“Sedang menjalani rehabilitasi di rumah sakit jiwa,”
Jawab Riko. Kavindra pun menghembuskan napas dengan kasar melalui hidungnya. Kavindra
terkesan sangat murka atas kelakuan si Clara, namun ia tetap berusaha untuk
mengendalikan emosinya. Seandainya Clara dirawat di rumah sakit yang sama
dengannya, ia akan mencekik Clara hingga mati sekarang juga. Disaat ia akan
meraih kebahagiaan dengan kelahiran anaknya, perempuan itu malah membuat masalah
hingga istrinya koma dan anaknya lahir prematur.
“Astaghfirullahal
‘azhim,” Kavindra beristighfar berulang kali sambil mengusap wajah dengan
tangannya.
***
Satu bulan berlalu
Keadaan si kembar sudah stabil dan diperbolehkan untuk
dibawa pulang. Karena rumah sakit sarangnya penyakit, Kavindra pun membawa
pulang si kembar dengan dua orang perawat untuk menjaga mereka. Bu Diana dan Bu
Indah pun kini ikut tinggal di rumah Kavindra untuk ikut menjaga si kembar. Sampai
saat ini keadaan Ayesha masih tetap sama. Tidak ada kemajuan sama sekali.
Setiap hari Kavindra tinggal di rumah sakit. Bahkan ia menyewa sebuah kamar
VVIP untuk beristirahat. Sesekali ia pulang untuk menengok si kembar dan
menggendongnya. Ia sangat bahagia bisa menggendong anaknya dalam dekapannya. Ia
menitikkan airmatanya saat melihat bayi-bayi itu menjulurkan lidahnya untuk
mencari susu. Andai Ayesha tidak koma, mungkin saat ini bayi-bayi itu bisa
menyusu pada ibunya. Andai ia tidak keluar rumah waktu itu, mungkin saat ini
mereka berempat sudah hidup bahagia. Andai Mas Gilang tidak pernah menjalin
hubungan dengan Clara, mungkin kecelakaan itu tidak pernah terjadi.
Andai, andai, andai, semua itu berputar-putar di kepala Kavindra.
Ia pun menangis menyesali semuanya, tapi ia juga tahu ini semua takdir Allah.
Ia yakin semua pasti akan indah pada waktunya. Semua yang terjadi pasti ada
hikmahnya.
‘Ya Allah... sembuhkanlah
istriku.. panjangkan umurnya.. berikanlah kebahagiaan untuk istriku Ayesha...
Lindungilah anak-anakku... Ridhailah keluarga kami ya Rabb....’ Lirih Kavindra
dalam hati sambil menangis sekencang-kencangnya. Seakan Kavindra sudah tidak
ada lagi senyum di wajahnya. Tiada hari tanpa air mata saat mengingat dan menatap
istrinya terbaring tak berdaya.
***
Sepuluh bulan kemudian...
Keadaan Ayesha tetap sama, bahkan sekarang tubuhnya
semakin kurus. Begitu juga dengan Kavindra. Karena Ayesha koma, tidak ada yang
mengurusnya seperti dulu. Setiap hari ia mondar mandir rumah sakit, perusahaan
dan rumah. Kavindra sesekali pulang untuk melihat si kembar yang kini sudah
bisa merangkak dan sesekali terjatuh saat belajar berjalan. Bu Diana dan Bu
Indah kewalahan mengejar mereka yang semakin aktif bergerak kesana kemari. Kavindra
pun memperkerjakan dua orang babysitter
untuk menjaga mereka karena perawat yang ia sewa sudah kembali ke rumah sakit
setelah si kembar berusia tiga bulan. Meskipun dulu mereka lahir dengan keadaan
prematur, tapi sekarang tubuh mereka sehat dan gembul karena Kavindra memperkerjakan
ahli gizi untuk memasak makanan mereka. Setiap hari selalu diberi makanan yang
bergizi seimbang dan sehat untuk anak-anaknya Kavindra. Mereka sangat telaten
dalam mengurus si kembar. Selain itu, Kavindra
juga membeli susu formula import berkualitas tinggi untuk menunjang gizi dan
kecerdasan mereka. Pak Jehan dan Pak Hermawan juga sering menjenguk mereka di
rumah Kavindra. Mereka sangat senang karena kini sudah menjadi kakek, dan
sesekali mereka menginap di rumah Kavindra.
“Dokter, sampai kapan istri saya seperti ini?” Tanya Kavindra
saat menjenguk istrinya dengan mata berkaca-kaca setiap kali melihat keadaan
istrinya yang berbaring tidak berdaya.
“Kami tidak bisa memastikannya, Pak,” Jawab dokter yang
menangani keadaan Ayesha.
“Apa yang terjadi kalau alat-alat itu dilepas dari tubuh
istri saya?” Tanya Kavindra.
“Istri Anda akan meninggal. Karena itu satu-satunya alat
yang membuatnya masih bisa hidup sampai saat ini,” Jawab dokter dengan sedih
karena tidak bisa membuat pasiennya sembuh sudah hampir setahun.
Kavindra pun menghirup napas dalam-dalam dengan
memejamkan matanya. Air matapun lolos dari pelupuk matanya. ia tidak akan bisa
hidup kalau istrinya meninggal.
“Dokter, saya ingin istri saya dirawat di rumah. Saya
akan membeli alatnya berapapun harganya,” Ucap Kavindra dengan sungguh-sungguh.
“Tapi... harga alat ini sangat mahal, Pak. Dan rumah
sakit kami membelinya dari luar negeri,” Tutur dokter itu yang bernama Rinaldi.
“Saya tidak akan mempermasalahkan biaya dan harganya.
Berapapun itu akan saya beli,” Ujar Kavindra. Ia tidak peduli berapapun biaya
yang akan ia keluarkan untuk bisa menyembuhkan istrinya.
“Baiklah. Kami akan mempersiapkannya dalam waktu dua
minggu, Pak. Karena kami harus memesan alatnya terlebih dahulu dari Amerika,”
Balas Dokter Rinaldi.
“Terimakasih, Dok,” Ucap Kavindra seraya mengusap air
matanya.
***
Dua minggu kemudian
Kini Ayesha sudah berada di rumahnya. Kavindra menyewa 4
dokter jaga dan 4 orang perawat untuk menjaga Ayesha secara bergantian terbagi
menjadi 4 shift. Semua dokter dan
perawat itu setiap hari pulang dan bergantian menjaga Ayesha. Kavindra senang
akhirnya kini mereka berempat bisa berkumpul di rumah mereka. Dengan begini ia
bisa melihat istri sekaligus anak-anaknya dalam waktu yang bersamaan.
Akhir-akhir ini ia bekerja dari rumah dengan Riko yang bekerja di perusahaan. Setiap
hari Kavindra selalu menyeka tubuh Ayesha dengan tangannya sendiri. Ia merawat
dan membersihkan tubuh Ayesha dengan sabar dan telaten. Setiap melakukan itu
mata Kavindra selalu berkaca-kaca.
“Sayang... kapan kamu bangun? Anak kita sudah besar.
Mereka butuh mamanya,” ucap Kavindra pada Ayesha dengan lirih dan akhirnya
bulir bening pun keluar dari matanya dan menetes membasahi dada Ayesha.
Setelah itu Kavindra keluar dari kamar itu untuk bekerja
di ruang kerjanya. Tanpa Kavindra tahu air mata keluar dari pelupuk mata Ayesha.
Satu bulan kemudian
Hari ini adalah hari ulang tahun si kembar. Tepat setahun
sudah Ayesha koma. Mereka sudah bisa berjalan dan sudah bisa berbicara meskipun
masih cedal. Kavindra membelikan kue tart untuk mereka berdua. Masing-masing
kue tart itu bertuliskan ‘Kinaan’ dan ‘Kishaan’. Itulah nama yang diberikan Kavindra
untuk si kembar. Kinaan Auroraa Putri Pratama dan Kishaan Albaraa Putra
Pratama. Sebenarnya ia ingin berdiskusi terlebih dahulu dengan Ayesha untuk
memberikan nama pada si kembar, tapi istrinya tak kunjung sadar dari komanya
hingga satu tahun lamanya. Namun demikian Kavindra juga menyelipkan nama tengah
Ayesha pada huruf awal nama kedua anaknya (yaitu Ki dari kata ‘Kirana’), dan
tetap diujungnya disematkan nama keluarga besar Kavindra yaitu Pratama.
Kini Kinaan sudah cantik dengan gaun berwarna merah cerah
pada tubuhnya dan pita di rambutnya. Sedangkan Kishaan memakai tuksedo warna
putih. Mereka seperti raja dan ratu. Semua pakaian si kembar di urus Nadira.
Setiap bulan Nadira selalu mengunjungi Ayesha sekalian untuk berbelanja
keperluan si kembar dengan Riko yang membantunya. Nadira sudah menganggap Ayesha
tidak hanya sebatas sahabat, namun mereka sudah seperti saudaranya. Selain
ikhlas membantu Ayesha, Nadira juga menganggap itu semua sebagai ucapan
terimakasih kepada Ayesha atas
kebaikannya selama ini.
Pesta kecil-kecilan itu diadakan di ruang keluarga dan
hanya dihadiri orang-orang terdekat saja. Semua anggota keluarga sudah hadir di
ruangan itu. Pak Jehan, Bu Diana, Pak Hermawan, Bu Indah, Nadira, Riko dan Kavindra.
Selain itu ada para maid, babysitter, dokter, dan perawat yang
menjaga Ayesha. Kini mereka di ruang tengah sedang merayakan ulang tahun si
kembar bersama-sama. Setelah bernyanyi lagu ‘Selamat Ulang tahun’, Kishaan dan
Kinaan meniup lilinnya dibantu Kavindra. Semua orang bertepuk tangan dengan
riuh. Di dalam kamar, Ayesha menitikkan air matanya. Ia bisa mendengar betapa
serunya pesta itu. Namun, ia tidak bisa menghadiri pesta itu. Ia merasa sedih
karena tidak bisa berada disisi kedua anaknya.
Selamat ulang tahun, sayangnya
mama. Maafkan mama yang tidak bisa menemani kalian. Maafkan mama yang tidak
bisa merawat dan menjaga kalian. Semoga kalian panjang umur, sehat selalu dan
semoga Allah selalu menjaga kalian berdua anak-anakku. Doa Ayesha untuk keduan anaknya didalam
hati.
Tidak lama kemudian Kavindra masuk kedalam kamar Ayesha dengan
menggandeng kedua anaknya. Mereka berfoto bersama Ayesha yang berbaring diatas
tempat tidur. Kavindra, Kishaan, Kinaan tersenyum bahagia, sedangkan Ayesha menangis
didalam hatinya. Ia ingin sekali memeluk dan mencium kedua anaknya, tapi tidak
bisa.
“Oke. Siap ya?” Ujar Riko yang memegang kamera.
“Satu... dua... tiga!” Riko memberi aba-aba lalu
mengambil gambar mereka sebanyak mungkin karena Kishaan dan Kinaan tidak bisa
diam. Setelah pesta berakhir semua orang pulang ke rumah masing-masing. Si
kembar tidur di kamar dengan Bu Diana dan Bu Indah yang menemani mereka.
***
“Simpanlah
harapanmu dalam setiap untaian doa. Lalu jadikan nyata dengan berjuang dan
tawakkal pada-Nya. Hanyalah doa yang dapat mengubah takdir”
“Mengeluh
tidak akan memperbaiki keadaan. Semangat buat hari ini! Jalani dengan ikhlas
dan penuh rasa sabar.
[Tahajud
Cinta, EPR]
TC 30
Tahajud
Cinta
Setelah shalat tahajud Kavindra berdoa seperti biasa,
memohon kepada Yang Maha Kuasa atas kesembuhan istrinya. Setelah itu Kavindra melantunkan
ayat-ayat suci Al-Qur’an disamping Ayesha tidur sambil menunggu waktunya subuh.
Setelah melaksanakan shalat subuh di kamar dimana Ayesha terbaring, Kavindra mengenggam tangan Ayesha lalu menciumnya dan
membelainya dengan sangat lembut. Ia duduk di kursi samping tempat tidur Ayesha.
“Sayang... kapan kamu bangunnya.” Mas sangat merindukanmu
sayangku. Ya humaira.. maafkan suamimu,” Ujar Kavindra kembali mencium punggung
tangannya Ayesha.
“Anak kita sudah berusia satu tahun. Itu artinya kamu
sudah koma selama satu tahun lamanya. Kapan kamu bangun? Mereka sangat cantik
dan tampan. Kami merindukanmu sayang?” Imbuh Kavindra dengan lirih. Ia pun
menengadahkan kepalanya dan melihat foto pernikahan mereka yang digantungkan di
dinding kamar itu.
“Sayang, rasanya baru kemarin kita menikah. Aku bahagia
denganmu sayang. Aku harap kamu tidak pernah meninggalkanku. Aku ingin selalu
bersamamu sampai kapanpun. Duniaku sangat indah rasanya saat kamu masuk kedalam
hidupku, bahkan sampai detik ini hanya namamu yang terukir indah di hatiku.
Sekarang aku merasa sendiri. Meskipun kamu ada disampingku, tapi aku tidak bisa
merasakan kehidupan yang seperti dulu. Aku sangat merindukanmu, Sayang ...”Ucap
Kavindra lalu memeluk tubuh Ayesha dan menangis. Tubuhnya bergetar dan menangis
tersedu-sedu. Ia sudah tidak kuat lagi menahan kesedihannya selama satu tahun.
“Andai aku bisa menggantikanmu. Aku sangat bersedia dengan
senang hati, Sayang...lebih baik aku yang koma daripada aku harus melihatmu
seperti ini,” Ucap Kavindra dengan menangis di dada Ayesha.
Ayesha pun menangis didalam hatinya. Ia pun sama. Ia juga
sangat merindukan suaminya yang selalu menjahilinya, menggodanya, mencumbuinya
dan memanjakannya. Setetes bulir bening pun keluar dari matanya dan mengalir
kesamping matanya.
***
Enam bulan kemudian
Siang hari Kinaan dan Kishaan bermain di ruang tengah
bersama Bu Diana, tiba-tiba Kishaan memukul kepala Kinaan karena mengambil
mainan yang ia pegang. Kinaan pun menangis dengan histeris karena merasa sakit.
Bu Diana pun segera menggendongnya dan membawanya ke dapur untuk membuat susu.
Kishaan bermain sendiri lalu berdiri dan berjalan masuk kedalam kamar Ayesha.
Ia naik kursi yang ada disamping tempat tidur Ayesha lalu memukul tangan Ayesha.
Perawat yang menjaga Ayesha sedang tertidur di sofa.
“Ma...” panggilnya dengan cedal. Ia bisa tahu Ayesha adalah
mamanya karena setiap hari Kavindra mengajak mereka masuk kedalam kamar Ayesha dan
memberitahu mereka bahwa Ayesha adalah mama mereka. Seketika Ayesha membuka
matanya dengan melotot. Jari-jarinya mulai bergerak. Saat ia mendengar Kinaan
menangis, hatinya tergugah untuk ingin segera bangun dan melihat anaknya yang tengah
menangis. Tidak lama kemudian Kishaan datang dan memukulnya.
“Ma ...” panggil Kishaan lagi seraya menaruh kepalanya di
lengan Ayesha. Air mata Ayesha pun mengalir dari pelupuk matanya. Ia berusaha
keras untuk menggerakkan tangannya. Ia ingin membelai kepala Kishaan untuk
pertama kalinya.
***
Perawat yang menjaga Ayesha pun terbangun saat mendengar
suara Kishaan memanggil Ayesha. Ia segera menghampiri tempat tidur Ayesha untuk
menurunkan Kishaan dari atas kursi. Tiba-tiba ia melotot dan terkejut saat
melihat mata Ayesha yang terbuka lebar. Ia pun segera menggendong Kishaan lalu
menghubungi dokter yang kebetulan sedang izin hari ini.
(“Hallo ...”) Sapa
dokter Rinaldi.
(“Dok, Bu Ayesha sadar,”) Ucap perawat yang bernama Retno
itu.
(“Serius?”) Tanya dokter Rinaldi tidak percaya.
(“Iya, Dok,”) Jawab Retno dengan sungguh-sungguh.
(“Baiklah. Saya akan segera ke sana. Kamu cek tekanan darahnya terlebih
dahulu,”) Perintah dokter Rinaldi sebelum memutuskan sambungan
teleponnya.
Sambil menunggu dokter Rinaldi datang, perawat itu
membawa Kishaan keluar dari dalam kamar Ayesha. Bu Diana baru saja kembali dari
dapur dan menggendong Kinaan yang minum susu dari botol. Bu Indah sedang pulang
hari ini, sedangkan babysitter si
kembar sedang makan rujak bersama dengan Yanti dan Bi Ani.
“Ada apa dengan Kishaan?” Tanya Bu Diana saat melihat
Kishaan di gendongan perawat itu.
“Ia masuk kedalam kamar Bu Ayesha dan... sekarang bu Ayesha
ssadar,” Ucap perawat itu.
“Apa? Ayesha sadar? Allahu
Akbar..”Bu Diana kaget saking tidak percaya. Ia pun segera masuk kedalam
kamar Ayesha dan melihat Ayesha tengah melepas sungkup oksigen yang ada di
hidungnya.
“Alhamdulillah... Ayesha!”
seru bu Diana terharu dan tiba-tiba tangisnya pecah. Ia menitikkan air mata.
Air mata kebahagiaan. Ia sangat tahu bagaimana sedih dan menderitanya Kavindra selama
ini. Hanya saja Kavindra menutupi dan memendamnya sendiri. Bu Diana sering
mendengar Kavindra menangis disepertiga malamnya. Setiap malam tanpa absen
sekali pun ia selalu menangis dan memohon kepada Allah agar istrinya sembuh
seperti sediakala. Hatinya pun ikut teriris saat melihat anaknya menderita.
Kinaan yang masih berada di gendongan bu Diana melihat Diana yang sedang menangis
dengan heran. Karena melihat Bu Diana menangis, Kinaan pun ikut menangis.
“Cup... cup... Sayang... Grandma tidak menangis,” Ucap Bu Diana dengan tersenyum.
Perawat itu pun menurunkan Kishaan di sofa karena akan
memeriksa Ayesha. Bu Diana juga duduk di sofa itu untuk menjaga Kinaan dan
Kishaan sambil menunggu Ayesha selesai diperiksa.
Setelah Ayesha diperiksa, bu Diana mengajak kedua cucunya
menghampiri Ayesha. Ayesha melihat kedua anaknya dengan berlinang air mata. Ini
pertama kalinya ia melihat buah hatinya. Ia merasa sangat bahagia karena Allah
masih memberi kesempatan untuk hidup dan melihat anak yang selama ini didalam
kandungannya.
Ayesha mengulurkan tangannya ingin membelai anaknya.
Namun, Kishaan dan Kinaan takut dan bersembunyi dibelakang bu Diana. Ayesha pun
tersenyum.
Tidak lama kemudian Kavindra keluar dari ruang kerjanya
dan melangkahkan kakinya menuruni anak tangga untuk melihat Ayesha di kamar
lantai bawah. Saat ia berada di ambang pintu kamar Ayesha, ia terkejut dan
tertegun melihat Ayesha sudah membuka matanya. Tetesan bulir bening pun keluar
dari pelupuk matanya. Kavindra langsung sujud syukur tepat didepan pintu kamar Ayesha,
lalu segera menghampiri Ayesha dan memeluknya.
“Sayang...” gumam Kavindra
di dada Ayesha dengan berderai air mata. Bu Diana dan Retno pun menangis haru
melihat Kavindra memeluk Ayesha dengan erat seperti itu. Kishaan dan Kinaan
melihat Kavindra dengan mata bulat mereka merasa heran.
“Pa...” panggil mereka serempak sambil menarik celana Kavindra.
Kavindra pun melepas pelukannya pada tubuh Ayesha lalu berjongkok dan memeluk
kedua anaknya.
“Mama sudah bangun, Sayang...” ucap Kavindra pada Kishaan
dan Kinaan lalu mengecup pipi mereka berkali-kali.
***
Tidak berapa lama kemudian dokter Rinaldi datang dan
segera memeriksa Ayesha. Setelah dipastikan semuanya baik-baik saja, dokter pun
melepas semua alat yang selama ini dipasangkan pada tubuh Ayesha agar bisa
bertahan hidup. Ayesha menatap Kavindra yang kini tengah menatapnya. Mata
mereka pun bertemu.
“Mas... “ ucap Ayesha dengan lirih. Itulah kata yang diucapkan
Ayesha pertama kalinya setelah 18 bulan koma. Kavindra pun tersenyum dan
bibirnya bergetar. Ia menangis haru melihat istrinya kini telah sadar dari
komanya. Ayesha pun menangis melihat Kavindra yang kurus, berewok dan tidak
terurus. Setelah itu ia melihat Kishaan dan Kinaan yang menatapnya dengan malu-malu
dan takut bersembunyi dibelakang Kavindra. Kavindra pun menggandeng tangan mereka
lalu menaikkan mereka keatas tempat tidur disisi kiri dan kanan Ayesha.
“Ini Mama,” Ucap Kavindra. Kishaan dan Kinaan pun
memandang Ayesha lalu memanggilnya ‘Mama’ bersamaan. Ayesha pun menangis
mendengar anaknya memanggilnya ‘Mama’. Ia merasa sangat bahagia.
***
Enam bulan kemudian
Kavindra sudah memakai kemejanya lalu berjongkok didepan Ayesha
yang duduk ditepi tempat tidur. Ayesha memasang dasi di leher Kavindra seperti
dulu dengan tersenyum. Kavindra mendekat hendak mencium bibir Ayesha, tiba-tiba
Kishaan dan Kinaan masuk kedalam kamar mereka.
“Mama!” seru mereka serempak lalu menghambur ke Ayesha dan
memeluknya.
“Ayo cepat!” ajak mereka seraya menarik tangan Ayesha masing-masing
di tangan kiri dan kanan Ayesha.
“Iya ... iya ...” ucap Ayesha seraya berdiri lalu
mengikuti kedua anaknya. Kavindra mencebikkan bibirnya karena kedua anaknya
mengabaikannya. Kemudian ia tersenyum karena kini ia merasa bahagia. Ia bisa
melihat senyum dan tawa istrinya seperti dulu lagi. Apalagi dengan si kembar
yang kini sudah berusia dua tahun. Mereka berempat pun masuk kedalam mobil lalu
menuju hotel milik Kavindra.
Di hotel itu akan diadakan pesta ulang tahun si kembar
yang kedua tahun serta doa bersama atas kesembuhan Ayesha. Semua orang sudah
hadir disana. Pak Jehan, Bu Diana, Pak Hermawan, Bu Indah, Nadira, Riko, Andre,
Sinta, Annisa, para pegawai, para pembantu, dan semua klien Kavindra, tidak
lupa juga Kavindra mengundang beberapa Ustadz yang akan memimpin doa untuk
keselamatan keluarganya. Semua orang menyambut kedatangan Kavindra, Ayesha dan
si kembar. Pesta ulang tahun Kishaan dan Kinaan kali ini diadakan Kavindra dengan
besar-besaran di aula hotel. Sekaligus ia mengadakan syukuran atas sadarnya Ayesha
dari koma. Setelah pembacaan doa oleh Ustadz Ahmad Fauzan, semua orang
dipersilahkan untuk mencicipi jamuan yang telah disediakan oleh pihak hotel
milik keluarga Pratama.
Di sela-sela menikmati makanan/minuman para tetamu
menyaksikan perayaan ulang tahun si kembar, Kishaan dan Kinaan pun meniup lilin kue ulang tahun mereka
masing-masing dengan bantuan Kavindra dan Ayesha diiringi musik ‘mabruk alfa
mabruk’. Semua orang bertepuk tangan dengan riuh. Ayesha menitikkan air matanya
karena terlalu bahagia. Ia juga yang memintakan pada Kavindra agar kembali
dirayakan ulang tahun si kembar berbarengan dengan syukuran atas kesembuhan
dari komanya. Ayesha mencium pipi Kishaan dan Kinaan bergantian lalu memeluk
mereka mereka disisi kanan dan kirinya. Begitu juga dengan Kavindra memeluk
mereka bertiga.
Setelah acara doa bersama dan pesta ulang tahun selesai, Kavindra
mengajak Ayesha dan si kembar naik ke atap hotel. Di sana sudah ada sebuah
helikopter baru beserta dengan pilotnya. Kavindra mengajak mereka naik
helikopter itu dan terbang ke Bali. Sementara itu Clara di rumahnya duduk
diatas kursi roda sedang menonton televisi acara ulang tahun Kishaan dan
Kinaan. Karena diadakan besar-besaran, sehingga banyak stasiun televisi yang
meliput acara itu dan menyiarkannya secara langsung. Clara merasa geram dan
marah melihat kebahagiaan Ayesha dengan keluarga besar Pratama. Ia pun menjerit
histeris dengan memegangi kedua sisi kepalanya. Kecelakaan dengan Kavindra dua
tahun yang lalu membuat cacat pada kakinya.
***
Sesampainya di rumah, Kavindra dan Ayesha menggendong si
kembar yang sudah tertidur sampai ke kamar. Sepertinya mereka sangat kelelahan
karena perjalanan liburan mereka Bali – Jakarta, si kembar terus diperebutkan
dan terus diciumi. Kishaan dan Kinaan merupakan anak-anak yang sangat
menggemaskan bagi mereka. Si kembar adalah anugerah terindah yang diberikan
Allah untuk melengkapi keluarga kecilnya. Kavindra sangat bersyukur sudah
diamanahkan Allah permata yang sangat berharga kepadanya yaitu Ayesha istri
yang shaleha, Kishaan dan Kinaan yang selalu membuatnya selalu bahagia.
Malam ini, bulan purnama bersinar dengan indahnya bahkan
Ayesha sangat terpukau melihatnya dari atas balkon. Bibirnya menciptakan
senyuman manis karena sebenarnya, ia sangat suka dengan bulan purnama.
Tiba-tiba ada sebuah tangan kekar yang melingkar dipinggangnya, lalu di susul
sebuah kecupan di pipinya.
“Jangan melamun sayang,” Ucap Kavindra saat memeluk
istrinya dari belakang.
“Siapa yang melamun?” Tanya Ayesha.
“Ya kamu lah,” Jawab Kavindra.
“Aku enggak
melamun kok,” ucap Ayesha membela dirinya.
“Hmm.. Iya deh, terserah apa kata istriku.” Kavindra
kembali mencium pipi Ayesha, lalu beralih mencium lehernya.
“Kita bobok yuk, aku ngantuk banget,” ajak Kavindra.
“Ya udah Mas Kavin duluan saja. Aku masih belum ngantuk,”
ucap Ayesha tapi matanya masih fokus memandang bulan.
“Apa bulan itu lebih menarik dari suami kamu?” Tanya
Kavindra.
“Bukan gitu Mas... aku memang belum ngantuk kok,” jelas
Ayesha.
“Ya udah kalo gitu, kamu temenin aku tidur ya,” pinta
Kavindra.
“Nanti aja deh,” balas Ayesha.
Kavindra mulai kesal dengan istrinya yang sudah berani
menolak ajakannya. Sebuah ide pun muncul dan ia langsung menggendong istrinya
ala bridal style menuju ke ranjang
mereka. Kavindra membaringkan Ayesha, lalu menyandarkan kepalanya dipangkuan
istrinya. Ia juga meletakkan tangan Ayesha dikepalanya agar dielus-elus.
“Aku mau dielus-elus sama kamu,” Pinta Kavindra.
“Manja banget sih, padahal anaknya sudah dua,” ejek
Ayesha tapi tangannya mengelus lembut kepala suaminya.
“Gapapa dong sayang, jarang-jarang kan aku manja sama
kamu,” ucap Kavindra.
Ayesha masih setia mengelus kepala suaminya. Kavindra
memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut dari istrinya.
“Kamu tahu enggak, kalo kita lagi berdua gini, rasanya
kayak pengantin baru,” ucap Kavindra.
“Masa berdua seperti ini adalah masa paling indah dan aku
sangat merindukannya. Aku bisa manja-manjaan sama kamu, peluk-peluk kamu,
bahkan mencium bidadariku sepuasnya,” lanjutnya. Kavindra bangkit dari tidurnya
untuk menatap wajah cantik istrinya. Tangannya juga mengelus pipi istrinya
dengan lembut.
“Terimakasih,” ucap Kavindra.
“Untuk apa?” Tanya Ayesha.
“Terimakasih karena kamu sudah menjadi istri dan ibu yang
baik bagi anak-anak kita. Terimakasih atas cinta dan kasih sayang kamu untuk
kami,” Jawab Kavindra. Ayesha hanya tersenyum saja sembari menganggukkan
kepalanya. Ia tidak tahu harus berkata apa atas ucapan Kavindra barusan.
“I love you my
wife. I love you so much.” Kavindra mencium seluruh wajah Ayesha dan
terakhir, ia mencium bibir istrinya cukup lama dengan penuh cinta.
Gilang bukanlah jodoh Ayesha. Semesta memiliki skenario
paling indah untuk hamba-Nya yang bersabar. Dan ternyata jodoh Ayesha adalah Kavindra
Syahreza Putra Pratama. Pemuda pertama yang Ayesha sebut namanya dalam doa
setelah Abi dan Ummi. Cinta pertama yang dia jaga melalui untaian doa dalam
sujud tahajudnya. Jika cinta itu belum
waktunya, maka jangan katakan untuk saling menunggu satu sama lain, melainkan langitkan
doa kepada Pemilik Hati agar dipilihkan yang terbaik untuk pantas ditunggu.
*****
Seberapa
besar kesabaranmu dalam menghadapi masalah, tergambar jelas dari seperti apa
sikap tenangmu. Karena sabar dan menyerah itu dua hal yang berbeda, sikapilah
dengan bijak. Sabar itu ilmu tingkat tinggi. Belajarnya setiap hari, latihannya
setiap saat, ujiannya sering mendadak, sekolahnya seumur hidup”
[Tahajud Cinta, EPR]
0 komentar:
Posting Komentar