Menyajikan Informasi dan Model Baju Muslimah terbaru serta Berbagai Artikel Menarik Lainnya

Senin, 03 April 2023

TAHAJUD CINTA


TC 1

Pertemuan Pertama

 

Setelah Ujian Nasional usai. Aku dan teman-teman  sekelasku mengadakan acara perpisahan dan makan-makan bersama di sebuah pantai. Sekitar jam 5 sore aku baru tiba di rumah. Tiba-tiba saja Abi dan Ummi memanggilku untuk bicara. Aku menghadap Abi dan Ummi setelah selesai membersihkan diri dan shalat ashar. Aku merasa saat ini ada hal yang serius yang ingin Abi bicarakan. Padahal biasanya setiap malam Aku sering diberi tausiyah oleh Abi tentang  menjaga shalat 5 waktu dan larangan untuk berpacaran. Secara Aku ini hidupnya seperti gadis-gadis modern lainnya yang tak luput dari kata ‘pacaran’. Namun begitu, sekian banyak lelaki yang mendekatiku hanya Kavindra saja yang mampu meluluhkan hatiku. Aku hanya berpacaran sekali saja selama aku duduk dibangku sekolahan.

Abi dan Ummi sangat menyayangiku dan selalu menuruti kemauanku. Aku adalah anak tunggal mereka. Meskipun aku sedikit keras kepala, namun Aku sangat nurut dengan segala perintah Abi dan Ummi. ‘Berpacaran sangat dilarang oleh agama’. Kalimat itu yang selalu diingatkan oleh Abi setiap mengakhiri tausiahnya kepadaku. Dari sekian nasehat Abi cuma itu yang tidak aku turuti. Entah kenapa Aku begitu terpikat dengan Kavindra. Yang selalu aku katakan pada Abi bahwa Kavindra itu adalah teman dekatku. Abi pun sudah menganggap Kavindra seperti anaknya. Setiap kali Kavindra ke rumahku selalu ditemani teman-temannya. Aku dan Kavindra jarang sekali berdua-duaan meskipun  sudah ada ikatan yang bernama pacaran. Jadi, Abi dan Ummi tidak sedikitpun menaruh curiga terhadapku. Demikian pula Kavindra juga sangat menjaga batas-batas dalam pergaulannya terutama terhadap Aku wanita yang dicintainya.

Waktu itu Ayesha sempat curiga, tak biasanya Pak Hermawan memanggil Ayesha seperti itu. Di ruang tengah mereka sudah duduk dengan rapi bersama Bu Indah Lestari. Dari kejauhan Bu Indah tersenyum cerah pada Ayesha. Ayesha duduk disamping Bu Indah sementara Pak Hermawan duduk tepat di depan Ayesha.

“Kamu capek ya sayang?,” Tanya Bu Indah sambil membelai rambut panjang puterinya.

“Enggak Ummi.. Sha  gak capek malah seneng banget ngumpul sama temen-temen,” Jawab Ayesha.

Lalu Ayesha melihat ke arah Pak Hermawan yang juga tersenyum padanya.

“Ohya, kenapa Abi manggil Sha pasti ada hal penting ya, Bi. Biasanya tausiyah-nya kan malem Bi..” Tanya Ayesha penasaran.

“Iya sayang, Abi mau bicara hal penting menyangkut dengan masa depanmu. Sini duduk disamping Abi” Ucap Abi sambil menepuk telapak tangannya di sofa sampingnya. Ayesha melangkah dan segera duduk disamping Abi. Tepat di tempat Abi tunjukkan.

“Putri Abi sudah lulus sekolah kan ya. Putri kecil Abi sudah besar kan ya,” kata Abi sambil merangkul pundak Ayesha.

Aku hanya tersenyum menanggapinya.

“Nanti malam ada tamu datang ke rumah kita. Mereka adalah teman se-kantor Abi. Mereka datang dengan niat baik sayang..?” kata Abi.

“Niat baik apa Abi?” Tanya Ayesha.

“Beliau datang berniat untuk mengkhitbahmu sayang. Beliau sangat menginginkanmu untuk dijadikan menantunya. Dan mereka ingin merekatkan lagi hubungan dua keluarga ini,” jelas Abi.

Aku tentu kagetnya setengah mati. Terasa hati dan pikiranku bagai disambar petir disiang bolong. Aku bingung tak bisa menjawab apapun. Aku pusing sekali. Tak sedikitpun terpikirkan olehku secepat ini aku dinikahkan dan dijodohkan pula. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku tak biasa menolak dan membantah kedua orang tuaku. Ya, Aku memang anak yang sangat patuh dan penurut, dan Aku tidak mungkin membuat kecewa kedua orang tuaku. Hanya Aku satu-satunya harapan mereka.

Aku masih diam tanpa kata, karena memang tak ada kata yang bisa kuucapkan kala itu. Aku menganggap orang tuaku selalu memberikan yang terbaik untukku. Aku pasrah dengan semua keputusan dari orang tuaku. Hanya satu saja harapanku yaitu berharap lelaki itu tidak menyukaiku.

“Sha nurut aja pada keputusan Abi dan Ummi,” jawabku singkat sambil menunduk lemas.

“Sayang.. sekarang kamu mandi dan siap-siap ya. Nanti mereka akan sampai sekitar bakda maghrib” kata Ummi.

“Iya Ummi, Sha  ke kamar dulu ya,” kata Ayesha.

Setelah mandi Ayesha merebahkan tubuhnya di atas kasur. Meraih ponsel dan berselancar di dunia maya. Tiba-tiba Ayesha teringat Kavindra. Segera ia   buka WhatsApp berharap ada satu pesan masuk darinya. Ternyata ada chat dari kekasihnya itu.

Kavindra  :  Assalamualaikum Princessku..

Ayesha     :  Waalaikumsalam..

Kavindra  :  Gimana jalan-jalan tadi.. seneng dong ya..

       ngerayain kelulusannya.. hhee

Ayesha    :  Iya.. Kamu kenapa gak ikutan tadi ?

Kavindra :  Aku jemput Mama Papa tadi ke Bandara

Ayesha    :  Emm.. Orang tuamu datang dari Jakarta ke

      Jogya untuk ngerayain kelulusanmu ?

Kavindra :  Enggak.. mau lamaran katanya untuk kakakku.

      Tapi aku nggak ikutan karena juga ada janji

      sama teman-teman

Ayesha     : Ehm..

Kavindra  : Kok.. ehm doang. Eh iya, sudah maghrib

     belom. Shalat maghrib dulu yuk. Selamat

     istirahat Princess. Assalamualaikum

Ayesha   : Wa’alaikumsalam

Ya Tuhaann... bagaimana aku bisa melupakan Kavindra... secepat inikah aku harus melupakannya..? hanya sampai disini saja kisah cintaku dengannya..?

Astaghfirullah...” adzan maghrib berkumandang tersentak Ayesha dari lamunannya. Dengan mata berkaca-kaca ia bergegas menuju ke kamar mandi untuk mengambil wudhuk dan segera menunaikan kewajibannya sebagai hamba Allah. Ayesha memasrahkan hidupnya dengan menjalankan takdir yang telah ditetapkan.

Suara ramai di ruang tamu terdengar ke dalam kamar Ayesha, menandakan keluarga yang mengkhitbahnya sudah datang. Sekarang Ayesha telah siap diri namun hatinya belumlah siap. Ayesha telah mengikuti anjuran Umminya untuk dandan lebih cantik dengan mengenakan gaun. Gaun ini kelihatan cukup panjang jika Ayesha memakainya, panjangnya sampai menyentuh lantai. Sejujurnya tadi ia hanya ingin mengenakan baju biasa saja yang sederhana, tapi Ummi menolaknya dan meminta Ayesha untuk mengenakan gaun yang terbaik diantara gaun-gaun yang lain.

Ayesha hanya memakai make-up natural saja dan memberi aksesoris jepitan rambut yang senada dengan warna gaunnya. Sehingga rambut lurus hitam panjang milik Ayesha terurai lebih indah terkesan bak princess yang ada di dongeng-dongeng. Tangan Ayesha sudah dingin mengingat sebentar lagi akan keluar menemui calon suami yang tak pernah ia kenal. Tiba-tiba terdengar ketukan dibalik pintu. Setelah Ayesha mengatakan bahwa pintu tak terkunci, Ummi pun masuk ke dalam kamar.

“Anak gadis Ummi... Maa syaa Allah... cantik sekali bak seorang putri kerajaan...” celoteh Ummi sambil menatap Ayesha penuh bahagia. Kalimat yang dilontarkan Ummi mampu membuat Ayesha lari ke pelukannya. Seakan pelukan ini menjadi momen terakhir baginya.

“Jangan sedih dong sayang, nanti jelek lho..,” kata Ummi pada Ayesha.

 “Abis Ummi ngomong gitu, memang Sha harus beneran nikah ya Mi,” kata Ayesha menahan isak tangis.

“Yah, cepat ataupun lambat kamu tetap harus menikah lah sayang.. dan kamu harus ikut dengan suamimu.” Jelas Ummi.

“Tapi.. Sha  enggak mau jauh-jauh dari Ummi. Sha  enggak bisa hidup tanpa Abi dan Ummi.” Kata Ayesha sambil terus memeluk Ummi semakin erat.

“Ayesha sayang.. Abi dan Ummi yakin dia itu adalah pria baik-baik berasal dari keluarga terhormat, toh dia adalah anak dari rekan kerja Abi.” Jelas Ummi sambil melonggarkan pelukan putrinya.

Ayesha hanya mengangguk dan menurut saja atas apa yang dikatakan Umminya.

“Baik lah Mi, Sha  akan lakukan apa saja asal Abi dan Ummi bahagia.” Kata Ayesha sambil menatap mata Ummi dengan penuh kasih sayang.

Astaghfirullah...? Ayesha.. ayo keluar nak, jangan sampai membuat tamu terlalu lama menunggu.” Kata Ummi panik. Lekas Ayesha berdiri tegak dan kembali merapikan gaunnya, lalu berjalan beriringan dengan Ummi sambil memegang lengan Ummi. Wajah Ayesha terus saja menunduk, hingga sampai di perkumpulan itu pun Ayesha masih tetap saja menunduk.

“Ini putri kami,” ucap Abi, menyadari Ayesha sampai di ruang tamu. Meskipun hati Ayesha tak bahagia dengan suasana malam ini, namun penampilan Ayesha cukup menghipnotis semua orang yang berhadir malam ini sehingga mereka terpukau melihat penampilan Ayesha dengan balutan gaun berwarna hijau muda dengan aksesoris rambut yang senada serta riasan wajah yang natural namun memancarkan aura manis wajah oval miliknya Ayesha.

Ayesha duduk diantara Ummi dan Abi, dimana sekarang tamu yang akan mengkhitbahnya itu duduk berhadapan dengan kami. Ummi meminta Ayesha untuk langsung mendongakkan kepala, agar memperlihatkan wajahnya. Ayesha melihat sepasang orang paruh baya duduk di sofa tepat dihadapannya yang  ia yakini mereka adalah orang tua dari calonnya sekaligus teman kantor Abi.  Tunggu, lalu dimana dia, kenapa tidak ada di sini.

“Putra kami sedang menerima telepon, sebentar lagi dia datang” Kata wanita paruh baya di depan Ayesha seakan dia tahu isi pikirannya.

Ayesha hanya mengangguk paham.

Setelah itu aku berkenalan dengan suami istri paruh baya itu. Pak Jehan Pratama dan Ibu Diana Syahputri, dari nama dan penampilan mereka saja mencerminkan bahwa mereka berasal dari keluarga konglomerat. Jadi, wajar saja kalau Abi pernah berhutang budi kepada mereka. Ya, keluarga mereka pernah membantu Abi disaat Abi sedang sangat terpuruk kala itu. Bahkan saat Ummi melahirkanku, Abi tak punya uang sepeserpun. Sebenarnya Abi dan Ummi tidak pernah menceritakan prihal balas jasa dan hutang budi itu padaku. Namun, Aku sempat mendengar percakapan Abi dan Ummi seminggu sebelum Aku di jodohkan. Mungkin dengan menerima perjodohan ini Aku bisa menjadi anak yang berbakti kepada orang tua. Meskipun hatiku sangat perih dan belum bisa move on dari yang namanya Kavindra. Aku yakin, pasti bisa dan kuat menghadapi semuanya ini.  ‘Bismillah... aku lakukan semua ini demi membahagiakan kedua orang tuaku. Saat ini surgaku berada di bawah telapak kaki Ummi. Sudah sepantasnya aku berbakti kepadanya.’ Batin Ayesha.

“Dulu saat masih di Jakarta, om dan tante pernah gendong-gendong nak Ayesha  saat om dan tante berkunjung ke rumah. Dulu itu nak Ayesha  masih kecil sekali dan imut-imut, tapi sekarang sudah besar ya. Nak Ayesha  sudah tumbuh menjadi seorang gadis cantik jelita, ya kan Ma” kata Pak Pratama seraya memberi anggukan kepada Istrinya.

“Iya, saya harap nak Ayesha  ini bisa menjadi pendamping hidup putra kami. Dan memberi keberkahan bagi hidupnya” lanjut Ibu Diana.

“Maaf menunggu” kata seseorang dengan nada berat khas pria, suara itu memotong percakapan orang-orang di ruangan itu. Spontan saja Ayesha geser penglihatannya ke arah suara itu berasal. Ayesha tak menyukainya. Sepertinya dia pun sama tak menyukai perjodohan ini. Tapi mengapa dia menyetujui perjodohan ini?.  Setelah kedua keluarga berembuk untuk memutuskan tanggal pernikahan, dilanjutkan dengan acara makan malam. Namun Ayesha tak ikut serta dalam makan malam tersebut. Ayesha lebih memilih keluar rumah dan duduk di taman belakang rumah sambil menikmati indahnya bintang-bintang yang bertebaran di langit malam. Menurut Ayesha itu dapat membuat hatinya sedikit lega setelah mendengar keputusan pernikahan yang begitu cepat dan tergesa-gesa itu. Hatinya sangat gundah gulana. Pikiran dan hatinya tidak lain tertuju kepada lelaki yang bernama Kavindra. Ingin rasanya Ayesha berkeluh kesah dan menumpahkan semua kesedihan padanya.

Deheman seseorang membuat lamunan Ayesha buyar seketika. Saat ia palingkan wajahnya, Gilang Andrean Putra Pratama laki-laki yang tak lama lagi akan menjadi suaminya. Suami?.. akankah Ayesha siap bersanding dengannya? ya Tuhaaan... Mata Ayesha berkaca-kaca kala membayangkan hidup berumah tangga dengan lelaki tak ia kenal dan bahkan sangat dingin padanya. Gilang mendekati Ayesha namun enggan melihat wajahnya. Ia tetap berdiri tegap  menatap lurus ke taman bunga sambil berkata, “Sebelum aku dan keluargaku pulang.” Ia diam sejenak dan memalingkan wajahnya pada Ayesha untuk memastikan Ayesha masih mendengarnya. “Jangan berharap aku akan mencintaimu setelah pernikahan nanti, karena aku sama sekali tak tertarik menikah dengan bocah sepertimu.” Setelah melemparkan decihan sinis, laki-laki itu pergi begitu saja. Ayesha meremas gaunnya dengan mata mulai memerah akibat menahan tangis. Lihatlah, belum menikah saja lelaki itu sudah berani menyakiti hatinya. Bagaimana nanti kalau sudah menikah apakah dia akan menjadikan Ayesha seperti babunya? Ingin rasanya Ayesha berlari menemui abi untuk membatalkan pernikahan itu. Namun, nyalinya terlalu kecil saat mengingat abinya yang begitu ingin melihatnya menikah dengan laki-laki sombong itu.

 

***

 

“Andai kata kamu mengetahui rencana-rencana Allah itu begitu indah dibalik takdir yang Ia berikan. Maka kamu tak akan pernah berhenti untuk tersenyum”

 

 [Tahajud Cinta, EPR]

 

TC 2

Duka dan Lara

 

Malam telah larut. Ayesha berusaha untuk terus memejamkan matanya. Ia tidak bisa tidur. Kepalanya terasa mau pecah dikelilingi bayang-bayang kejadian beberapa jam yang lalu. Ia masih tidak percaya akan skenario hidupnya akan seperti ini. Deru nafasnya tidak teratur, membayangkan hari-harinya yang akan suram setelah pernikahan itu. Seandainya yang dijodohkan itu adalah Kavindra kekasih hatinya, tentu ia sangat bahagia dan dengan senang hati ia menerimanya. Masalahnya Ayesha sama sekali tidak mengenal lelaki itu, yang Ayesha tahu lelaki yang bernama Gilang itu adalah lelaki paling sombong yang pernah ia kenal. Ayesha sangat berharap bahwa kejadian hari ini hanyalah mimpi belaka.

Ketukan pintu dari luar membuat Ayesha tersentak. Ia langsung berdiri dan membukakan pintu.

Indah tersenyum tipis sambil mengacak rambut Ayesha. “Belum tidur? Mikirin yang tadi, ya?” tanyanya.

Anggukan pelan dari Ayesha berhasil membuat ulu hatinya berdenyut nyeri, seolah ditekan begitu kuat. Ia merasa bersalah pada gadis didepannya. Sebenarnya, ia tidak mau menjodohkan Ayesha dengan anak dari bos suaminya itu. Namun, bagaimana lagi? Ada hal yang membuatnya tak bisa menolak hal tersebut.

 

“Ummi tau, kamu pasti marah sama Ummi dan Abi. Ummi paham. Kalau begitu Ummi balik ke kamar dulu ya? Kamu pasti butuh istirahat.” Ucap Indah sambil membelai kepala putrinya.

Saat Indah hendak bangkit dari duduknya, namun Ayesha sudah dulu menahannya. Perempuan itu langsung menghambur kepelukannya sambil menangis sesenggukan. Ia terus meracau, mengeluarkan kata-kata yang tak sempat ia ucap saat makan malam tadi. Keluhan demi keluhan terus keluar tanpa jeda.

“Kenapa harus Sha, Ummi? Sha belum mau menikah. Sha masih ingin melanjutkan kuliah dan juga masih ingin menghabiskan masa-masa remaja. Sha mau kuliah bareng teman-teman.”

Ayesha masih menangis tergugu. Wajahnya yang putih bersih sampai memerah. Indah juga bisa melihat bantal yang dipakai putrinya tidur telah basah.

“Sayang, dengar Ummi.” Dengan telaten, Indah mengusap air mata Ayesha, “Ini memang salah abi dan ummi. Kami terlalu gegabah dalam mengambil keputusan tanpa memberitahukan ke kamu terlebih dahulu. Kami terkesan egois dengan mengesampingkan perasaanmu. Tapi, percayalah sayang, ini adalah kuasa Allah. Perjodohan ini akan menjadi awal dari perjalanan hidupmu kelak. Ummi yakin, akan ada satu titik cahaya yang menantimu di depan sana.”

 

“Tapi Ummi... Sha tidak mencintai lelaki itu. Sha telah mencintai lelaki lain yang satu sekolah dengan Sha ummi..”

“Sayang.. kamu tahu kan abi sangat melarang kamu berpacaran, dan pasti hal itu tidak pernah direstui.”

“Tapi, Ummi...” Indah langsung menempelkan telunjuknya tepat dibibir Ayesha. Menandakan bahwa Ayesha jangan menyebutkan lagi laki-laki yang dicintainya.

“Ummi yakin kamu pasti bisa dan kuat nak, kuncinya hanya satu. Yaitu, sabar.”

Ayesha berdecak kesal. Tangan kirinya bergerak cepat mengambil tisu diatas nakas untuk mengelap hidungnya yang ikut berair karena terlalu lama menangis. “Sabar juga ada batasnya, Ummi. Sha hanya manusia biasa,” keluhnya.

“Kata siapa sabar itu ada batasnya? Nak, dengar Ummi. Allah Subhanahuwata’ala pernah berfirman dalam surat Az-Zumar, ayat 10. Yang bunyinya, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. Bertakwalah kepada Tuhanmu. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas’.

Surat Al-Baqarah ayat 153

Artinya: ‘Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.’ Jadi, kita sebagai manusia biasa seharusnya malu berkata sabar itu ada batasnya sedangkan pahala yang diberikan Allah tanpa batas.

Ayesha tersekat, terdiam. Ia jadi sadar, sudah terlalu banyak nikmat Allah yang ia sia-siakan. Justru lebih sibuk menghitung banyaknya ujian yang Dia berikan. Padahal, hal itu semata-mata karena Allah menginginkan ia untuk terus berada di jalan-Nya.

***

 

“Kok melamun..?.” tanya Kavindra mendekati kekasihnya. Saat ini Ayesha sedang menghabiskan waktu hanya berdua dengan Kavindra di sebuah taman dekat kota usai mendengar pengumuman kelulusan di sekolah mereka. Semua murid kelas XII resmi lulus semuanya. Ayesha menatap lurus ke depan. Menikmati pemandangan indah di taman yang biasa ia tongkrongi bersama kekasihnya Kavindra. Bunga-bunga yang mekar indah warna warni membuat nyaman dan indah suasana di sekitarnya. Namun tak seindah suasana hatinya saat ini. Menyaksikan kupu-kupu yang terbang kesana kemari menghisap madunya di setiap bunga yang bermekaran. Sungguh bahagia rasanya andai ia menjadi kupu-kupu tersebut yang tak pernah mengalami masalah dan beban hidup layaknya yang dihadapi Ayesha saat ini. Air mancur ditengah-tengah taman begitu sejuk dan jernih namun tak sesejuk dan sejernih pikirannya saat ini. Ia membiarkan rambut lurus panjangnya yang tergerai tersapu oleh embusan angin yang meniup sepoi-sepoi. Udara kala itu cukup menenangkan otaknya.

“Hei, aku perhatikan dari pagi tadi kamu terlihat murung. Ada masalah?” tiba-tiba Kavindra menghampiri dan seraya mengusap puncak kepala Ayesha dengan lembut. Ayesha bukannya menjawab tapi malah menangis. Kavindra terkejut, ada apa dengan kekasih hatinya? Kenapa tiba-tiba ia menangis sejadi-jadinya.

“Sayang.. ada apa ini, kamu jangan buat aku khawatir.  Ayo cerita ke aku, kamu ada masalah apa. Kumohon, jangan menangis.” Kavindra langsung membawa tubuh Ayesha ke dalam dekapannya. Raut wajahnya sangat khawatir. Mereka tak menghiraukan kalau di sekitarnya juga banyak orang. Taman itu sangat luas dan memang tempatnya para remaja menghabiskan waktu senggang mereka bersama sanak saudara dan kerabatnya. Ada yang sibuk mengerjakan tugas, ada yang sedang bersenda gurau dan ada pula mereka yang hanya sekedar jalan-jalan saja menikmati suasana kota yang sejuk dengan rimbunnya pepohonan disekitar dihiasi indahnya taman bunga yang tertata sangat apik dan rapi.

“Ak- aku.. aku  sayang kamu, Vin. Aku enggak mau pisah sama kamu.” Kavindra mengerutkan dahinya, pasti ada sesuatu yang tidak beres dengan gadis ini. Kavindra sangat mengenal Ayesha. Dia adalah gadis yang sangat tegar, kalau tidak ada masalah serius tidak mungkin ia menangis seperti ini.

“Tanpa kamu bilang pun aku sudah tahu Sha, aku juga sangat sayang sama kamu, ayo dong cerita ke aku, kamu sebenarnya kenapa. Jangan buat aku makin khawatir.”

Ayesha semakin mengeratkan pelukannya. Tangisnya bahkan semakin kencang.

“Abi akan menikahkanku dengan pria lain. Kavin. Aku enggak mau, aku hanya ingin menikah denganmu.” Tanpa sadar Kavindra melonggarkan pelukannya. Hatinya terasa nyeri mendengar fakta mengejutkan dari mulut Ayesha. Pandangannya mulai buram terasa kepala berkunang-kunang. Nyeri hatinya bagai disayat sembilu.

“Siapa laki-laki itu?” Kavindra menahan emosinya agar tak terlihat di depan kekasihnya. Dia tidak ingin Ayesha semakin tersiksa melihat kondisinya meskipun ia juga sangat tersiksa menghadapi kenyataan ini.

“Dia.. dia anak dari teman kantor Abi. Aku tak menyukainya Vin.” Kavindra tak tahan melihat gadis disampingnya terus menangis. Lihatlah, hidungnya memerah, matanya sembab, tatapannya penuh ketakutan mengharap Kavindra dapat menolongnya. Ditangkupnya kedua pipi Ayesha untuk menghadap kearahnya. Dengan pelan ia menghapus air mata yang terus berderai dipipi kekasihnya yang putih dan halus itu.  Kavindra seakan ingin menertawakan nasib cintanya. Takdir benar-benar sedang mempermainkannya. Enam bulan lebih menjalin cinta dengan Ayesha, namun harus rela dipinang pria lain. Miris, bukan? Padahal Kavindra juga menginginkan Ayesha menjadi istrinya kelak. Namun waktunya saja yang belum tepat dikarenakan mereka masih duduk dibangku sekolah. Ternyata aku kalah cepat dengan pria lain.

“Sayang, dengarkan aku baik-baik. Apapun yang terjadi nanti kamu jangan menangis lagi okey?  Kalaupun takdir kamu harus menikah dengan pria lain, aku ikhlas. Meski itu sangat menyakiti hatiku. Satu hal lagi yang perlu kamu ingat bahwa, aku selalu mencintaimu.. selamanya...” Kalimat itu ia akhiri dengan satu kecupan lembut di kening Ayesha.

“Kavin bawa aku pergi Viin, kita nikah lari saja.

Aku enggak mau menikah dengan laki-laki arogan itu. Dia sangat kasar Vin,” Desak Ayesha dengan tatapannya yang penuh kesedihan.

Kavindra menggeleng, “Enggak Sha, itu enggak mungkin aku lakukan. Aku enggak mau di anggap pengecut oleh orangtua kamu terutama Abi kamu. Aku sangat menghormati keduanya.”

Sebelum Kavindra beranjak Ayesha kembali memeluk laki-laki pujaan hatinya bahkan semakin erat seperti sebelumnya.

“Plis, jangan begini. Aku sayang sama kamu. Aku bahagia dengan pilihan orangtuamu. Aku bisa apa jika takdir tidak menyatukan kita.” Kavindra menguraikan pelukannya. Bulir air matanya menetes begitu saja. Jujur saja ia sangat kecewa dengan Hermawan dan Indah Lestari orang tuanya Ayesha Kirana Mikayla. Mereka berdua sudah sangat mengenal Kavindra dan Kavindra sudah menganggap mereka seperti orang tuanya sendiri.

Namun mengapa mereka menjodohkan Ayesha dengan laki-laki lain. Padahal seandainya keadaan memungkinkan, ia juga siap sedia melamar Ayesha dengan segera. Ayesha terus menatap kekasihnya itu sangat dalam. Ia tahu bahwa Kavindra lebih kecewa lagi dibandingkan dia.

“Kapan pernikahan itu dilangsungkan?” Kavindra berharap masih ada waktu untuk memiliki gadis itu seutuhnya. Ayesha mematung, pandangannya lurus ke arah taman. “Minggu depan.” Tubuh Kavindra lemas tak berdaya. Harapannya hancur. Keinginannya untuk memiliki Ayesha seutuhnya pupus seketika.

“Terimalah keputusan orangtuamu. Semoga kamu bahagia. Jika laki-laki itu tidak bisa membahagiakanmu aku siap menggantikannya.” Ayesha semakin tak berdaya. Hatinya perih. Kavindra menyerah.

“Ayo kita pulang, aku akan antarkan kamu ke rumah.” Tidak seperti biasanya mereka bergandengan. Kini Kavindra berjalan lebih dulu dengan segala kekecewaan yang ia rasakan.

***

“Setiap masalah bukan dihadapi dengan kasar tetapi disikapi dengan sabar. Bersamamu aku bisa belajar ikhlas dan sabar.”

 

               [Tahajud Cinta, EPR]

TC 3

Realita Kehidupan

 

“Saya terima nikah dan kawinnya Ayesha Kirana Mikayla binti Hermawan dengan maskawin seperangkat alat shalat dibayar tunai,” lantunan kalimat itu sangat jelas terdengar di telingaku. Namun, batinku seakan berkecamuk, hati terasa teriris. Tidak ada rasa bahagia ataupun haru yang sering dirasakan oleh pengantin-pengantin lainnya sekilas terbayang kata-kata pria malam itu yang notabene telah menjadi suamiku. ‘Suami’.. Ayesha tersenyum kecut dan sinis saat menyebut kata-kata itu. Entahlah, kelak masa depanku cerah ataukah kelam bagaikan malam yang gelap gulita tanpa ada cahaya bulan dan bintang. Ya Allah... hanya engkaulah yang mengetahui bagaimana perasaan hatiku saat ini. Aku serahkan hidup dan matiku hanya lah kepada-Mu.

Ayesha merasa sangat kesepian di rumah barunya. Baginya rumah tersebut terlalu besar untuk mereka tinggal berdua. Namun ia tak dapat berkutik apa-apa. Toh itu dibeli dengan uang Gilang sendiri. Setelah resepsi pernikahan Ayesha diboyong oleh suaminya untuk tinggal di rumah barunya yang sangat luas itu dilengkapi dengan seorang satpam dan seorang pembantu rumah tangga, namun mereka tidak tinggal serumah dengan Ayesha dan Gilang. Ayesha hanya bisa menghabiskan waktunya di rumah saja bahkan ia lebih sering di kamarnya jika Gilang telah berangkat ke kantor. Sembari memperhatikan wajah malangnya itu di depan cermin riasnya, Ayesha bergumam dalam hati “Beginikah realita hidupku? Ternyata aku akan menghabiskan masa mudaku dengan laki-laki asing yang kini wajib ku berbakti padanya. Ya Allah.. berikan aku kekuatan menghadapi kenyataan hidup yang tak pernah terbayangkan olehku. Mudah-mudahan semua ada hikmahnya,” sambil meraup wajah dengan tangannya serta merta airmata menetes begitu saja.

Dulu Ayesha berimajinasi tentang pernikahan yang indah bersama Kavindra. Ia membayangkan dirinya menjadi seorang istri yang berbakti dan taat kepada sang suami. Berbagi kasih sayang, bersenda gurau hingga terasa rumah tangganya bagaikan cerminan surgawi. Ternyata semuanya itu hanyalah khayalan belaka. Karena kenyataannya yang sekarang dia hadapi berbanding terbalik. Ia bagaikan orang yang tak dianggap oleh suaminya itu. Tidur dengan kamar yang terpisah, jangankan menyentuh, melirikpun ia tak sudi. Gilang selalu membentaknya setiap saat tanpa sebab, “Segitu jijiknya kah aku dimata dia?” lirih Ayesha dengan mata berkaca-kaca, sambil menahan rintihan sakit akibat terkena beling dari pecahan gelas yang dibanting Gilang pagi tadi. Takdir begitu kejam padaku. Abi menjodohkanku tanpa sepengetahuanku. Abi menjodohkanku dengan laki-laki yang umurnya terpaut sembilan tahun denganku. Aku masih delapan belas tahun, aku ingin melanjutkan kuliah dan masih ingin belajar tentang bagaimana menjadi istri yang baik untuk Kavindra sebelum aku menempuh jenjang pernikahan ini. Bagaimana bisa Abi menikahkanku dengan lelaki asing yang tak pernah aku kenal.

Deheman seseorang membuyarkan lamunan Ayesha. Ketika Ayesha melihat, dia adalah laki-laki yang baru saja menjadi suaminya.

“Aku akan mengatakan suatu hal padamu, ia diam sejenak untuk memastikan Ayesha masih mendengarnya. “Jangan pernah berharap aku akan mencintaimu meskipun kini kau adalah istriku, karena aku tak pernah tertarik menikah denganmu.” Setelah melemparkan decihan sinis, laki-laki itu pergi begitu saja ke kantor meninggalkan Ayesha sendiri di rumah tanpa mau memakan makanan yang telah dimasak Ayesha. Lagi dan lagi kata-kata itu keluar dengan sinis dari mulut pria bertubuh kekar itu tidak lain suaminya Ayesha. Mata Ayesha berkaca-kaca dan hatinya remuk merasa diri seorang istri yang tak punya harga diri. Ingin rasanya berlari pulang ke rumah Abi dan Ummi untuk mengadukan hal itu.

Ayesha berpikir, lantas alasan apa Gilang mau menikahinya. Jika hanya ia membuat Ayesha selalu menangis. Baru dua sehari saja menjadi istri Gilang Ayesha harus menanggung sakit hati dan deraian airmata. Hampir setiap saat Ayesha dibuat nangis oleh laki-laki yang bernama lengkap Gilang Andrean Putra Pratama. Namun, itu semua tak diungkapkan kepada siapapun termasuk kepada orangtuanya. Ayesha selalu menangis di dalam kamarnya setiap kali harus menerima bentakan dan sikap kasarnya Gilang. Hanya kepada Allah-lah ia berkeluh kesah atas takdir yang dialaminya saat ini. Ayesha selalu menangis dalam diam saat lelaki tersebut menyakitinya. Setiap malam ia bermunajat kepada Allah untuk diberikan kesabaran dalam menghadapi kemelut hidup yang tak pernah sedikitpun terbayangkan olehnya. Di usia yang masih haus akan kasih sayang orang tua dan haus akan ilmu pengetahuan, ia sudah menghadapi kekerasan hidup yang dibuat oleh suaminya sendiri. Gilang bagaikan orang gila jika menghadapi Ayesha. Entah salah apa gadis tersebut di matanya.

 

Sore harinya..

Di kamar yang bercat biru muda itu, Ayesha meratapi realita kehidupan yang tak pernah terbayangkan olehnya. “Aku menikah dengan laki-laki yang tak pernah ku kenal, aku hidup bersama laki-laki yang arogan itu. Aku tak dianggap oleh suamiku sendiri. Apa yang harus aku lakukan ya Allah.. Ya Allah, akankah aku sanggup menjalani hidupku yang baru? Apakah aku bisa menjadi istri yang berbakti kepada suami?,” Ayesha terisak. Bahunya bergetar hebat menahan semua luka dan lara yang baru ia terima.

Ketukan pintu membuat Ayesha cepat-cepat menyeka airmatanya. Dengan bahu yang masih sedikit bergetar, ia membuka pintu. Dihadapannya, Gilang berdiri tegak sambil memperhatikan Ayesha dari atas sampai bawah.

“Simpan air matamu untuk hari-hari selanjutnya. Segera bersihkan dirimu sekarang, nanti malam ikutlah denganku.”

Ayesha hanya mengangguk.

“Jangan lama-lama aku enggak suka menunggu terlalu lama.” Lagi, setelah mengucapkan kalimat itu dengan kasar, Gilang langsung pergi begitu saja.

Beberapa saat kemudian. Ayesha telah rapi dengan busana syar’i-nya yang sangat pas ditubuhnya yang ramping dan imut. Ayesha tampak lebih anggun dan mempesona dengan balutan hijab berwarna merah maroon. Se-akan aura kecantikannya begitu terpantul oleh busana yang dikenakannya itu. Tak lupa juga ia membawa clutchbag yang berisi ponsel serta beberapa lembar rupiah. Ayesha menghembuskan nafasnya secara perlahan saat memperhatikan wajahnya didepan cermin. Ia lega karena sembab pada matanya telah berkurang. Setidaknya, orang-orang tidak akan menatapnya aneh di acara nanti.

Ayesha keluar bertepatan dengan Gilang yang juga baru keluar dari kamarnya. Ya.. mereka tinggal serumah namun tidak sekamar. Gilang tidur di kamar utama sedangkan Ayesha tidur di kamar tamu. Sesaat gilang terpana melihat penampilan Ayesha saat ini. Namun,  ia cepat-cepat menepisnya agar tidak tergoda dengan kecantikan Ayesha. Yang membedakan saat ini adalah Ayesha mencoba berdamai dengan takdirnya. Ia memutuskan untuk menerima pernikahannya. Ia akan berusaha untuk mencintai suaminya. Ia juga berusaha untuk menjadi seorang istri yang baik agar Gilang dapat menerimanya dengan baik. Niat itu diawali dengan Ayesha menutup auratnya. Ya, kini Ayesha sudah berhijrah dengan memakai busana muslimah yang syar’i tentu auratnya lebih terjaga dan memantulkan aura kecantikannya yang luar biasa.

Saat berada di gedung peresmian cabang baru Pratama’s Property yang akan dipimpin oleh Gilang. Ayesha mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan. Tamunya tidak banyak tapi ia yakin mereka semua berasal dari kalangan elite dan keluarga terpandang. Sejauh mata memandang tak seorang pun yang ia kenal. Terkecuali di sana terlihat ayah dan ibu mertuanya sedang berbincang dengan rekan kerjanya.

Seketika Ayesha terhenyak saat seseorang memeluk pinggangnya dengan mesra. Secepat kilat ia menoleh kesamping. Gilang tersenyum sangat manis padanya membuat wajahnya semakin tampan. Sebelum Ayesha membalas senyuman itu Gilang berbisik, “Bersikaplah lebih romantis layaknya pengantin baru pada umumnya, agar mereka tidak curiga.”

 

Mata Ayesha kembali menelusuri setiap penjuru ruangan, ternyata mereka berdua sedang menjadi pusat perhatian para tetamu.

“Ayesha.. apa kabar ? cantik sekali kamu sayang.” Puji Ibu mertuanya sambil melirik Gilang.

“Iya dong, Ma.. istri Gilang harus cantik dong ?, iya kan sayang..” Sambil memeluk Ayesha dari samping disertakan dengan senyum hangatnya. Ayesha hanya bisa tersipu malu dan tersenyum saja. Sungguh. Ayesha belum pernah melihat senyum hangat dari Gilang. Jujur saja Gilang semakin.. tampan jika ia terus bersikap manis seperti ini. Ayesha menggigit bibirnya sangat kuat saat matanya mulai berkaca-kaca.

Ya Allah... drama macam apa ini, dihadapan orang banyak Gilang menampakkan begitu sangat mencintai Ayesha. Namun, berbanding terbalik jika di rumah.

Pak Jehan Pratama memberikan pidato singkat tentang kepemimpinan kantor cabang perusahaan Pratama’s Property. Lalu dilanjutkan dengan peresmian kantor cabang perusahaan Pratama’s Property yang di pimpin oleh Gilang Andrean Putra Pratama. Semua orang yang ada di ruangan tersebut tampak riuh dengan bertepuk tangan. Pak Jehan telah menunaikan janjinya bahwa jika Gilang telah menikah dengan gadis pilihannya maka perusahaan cabang akan menjadi hak milik Gilang. Seketika Pak Jehan Pratama memandang bangga kepada Gilang yang tepat berdiri tegak disampingnya sambil menepuk pundak putranya itu. Saat mata Jehan menelusuri pandangannya kepada para tetamu, sorot bola matanya tertuju pada Ayesha, lalu ia memanggil Ayesha.

“Ayesha, kemari Nak?,” sambil memberi isyarat untuk naik ke podium dan berdiri disamping Gilang. Sekaligus Pak Jehan memperkenalkan Ayesha kepada tetamu, bahwa ia adalah menantunya yang sangat manis dan merupakan puteri dari bapak Hermawan. Tentunya para tetamu mengenal Hermawan. Karena beliau merupakan tangan kanan yang dipercayai Jehan Pratama. Kata-kata dari ayah mertuanya membuat Ayesha yang semula menunduk sekarang mendongak dan menatap Gilang begitu dalam. Kini, ia tahu mengapa Gilang tidak menolak untuk menikah dengannya. Hanya ia sangat menginginkan posisi sebagai pimpinan Pratama’s Property.

Ayesha bagaikan topik pembicaraan dikeluarga Pratama. Dikarenakan dia adalah menantu pertama dari keluarga Pratama. Disertai juga dengan wajahnya yang anggun dilengkapi dengan sikapnya yang amat santun.

“Cantik sekali ya istrinya Gilang, Ucap wanita itu sambil mencubit pipi Ayesha dengan gemas.

“Terimakasih” ucap Ayesha dengan senyum manisnya.

“Ayesha, Tante ini namanya Tante Elma. Dia sepupu dari ayah mertuamu. Jadi jangan sungkan, ucap ibu mertuanya memperkenalkan Ayesha pada Tante Elma. Elma tersenyum ramah pada Ayesha. Diana merasakan sesuatu yang kurang, ternyata anaknya yang satu lagi belum tiba.

“Si Bontot mana Kak?” Tanya Elma. Tantenya itu sering menyebut nama Kavindra dengan si bontot karena dia adalah anak bungsu dari Jehan Pratama sepupu satu-satunya.

“Ya itulah yang sedang kakak pikirkan, apa dia belum pulang dari rumah temannya? ” Jawab Diana.

“Eehh.. itu sepertinya dia baru dateng yang sedang ngobrol sama Papanya. Ah, dasar anak itu,” ucap Elma seraya terkekeh.

“Lihat, panjang umur dia. Baru saja diomongin, dia muncul, ucap Diana seraya menunjuk kebelakang Ayesha. Ayesha diam saja. Ia tidak tahu siapa yang diperbincangkan oleh ibu mertuanya dengan tantenya ini.

“Mama dari mana saja sih?, dari tadi aku cariin.”

Degh,

Tubuh Ayesha menegang seketika saat mendengar suara yang tidak asing di telinganya. Jantungnya berdebar sangat kencang saat sosok lelaki itu berdiri tegak disampingnya.

“Kok nyalahin Mama, sih! Kamu itu yang datangnya terlambat. Acaranya pun sudah selesai,” Protes Diana kepada anak bungsunya.

Apaa ? Mama ? Batin Ayesha.

“Iya deh, Aku yang salah. Mama selalu bener.” ucap lelaki di samping Ayesha membuat tante Elma dan Mama Diana tertawa.

“Sayang, kenalin dulu sama saudara barumu, sekaligus kakak iparmu,” ucap Diana sambil melirik kearah Ayesha. Ayesha semakin menegang dan kagetnya luar biasa ketika dikatakan kakak iparnya. Ingin rasanya ia kabur dari sana. Takdir macam apa ini ? mengapa dunia ini sangat sempit ?

“Oh, ya?” Dia langsung menoleh kearah Ayesha tepatnya berada disampingnya. Ayesha berdiri sangat kaku dan wajahnya begitu pucat saat ini. Bahkan, saking terkejutnya, laki-laki itu sampai melangkah mundur.

“H-hhai, ak-aku... aku Kavindra. Namamu siapa ?” ucap Kavindra terbata-bata seraya tangannya agak sedikit bergetar. Ya Tuhan, ingin rasanya Ayesha memeluk Kavindra yang sedang berdiri kaku didepannya. Hati Ayesha saat ini tidak karuan, seakan mengamuk dan menjerit.. mengapa harus Kavindra ? Mengapa harus Gilang ? Mengapa mereka harus bersaudara ?

Selama berpacaran dengan Ayesha, Kavindra memang belum pernah memperkenalkan kepada salah seorang pun dari keluarganya. Dikarenakan ia tinggal sendiri di rumah kost yang tidak jauh dari rumah Ayesha. Kavindra dulu berencana akan mempertemukan Ayesha kepada keluarganya disaat ia akan melamarnya nanti. Ternyata takdir berkata lain.

 

“Ak-aku.. aku Ayesha, senang berkenalan denganmu.” Ayesha menunduk, bibirnya terus ia gigit menahan airmata yang sebentar lagi akan keluar.

“Bagaimana Vin, cantik kan kakak iparmu, Nanti kamu cari istri seperti Ayesha juga ya, sudah baik, shaleha juga cantik”?” celetuk Mama Diana.

 “Abis kamu sih, waktu acara nikah abangmu tidak hadir, pake acara sakit segala.” Lanjut Mama Diana sambil tersenyum manis. Ayesha dan Kavindra mematung dan diam seribu bahasa. Entah apa yang terdapat dalam pikiran mereka masing-masing. Yang pasti ingin rasanya berlari sejauh-jauhnya tidak sanggup menerima kenyataan pahit seperti ini. Ayesha yang dulunya kekasih Kavindra, kini harus terima kenyataan sebagai kakak iparnya sendiri. Seakan takdir belum berhenti mempermainkan cintanya.

Setelah acara usai, semua para tamu undangan menghilang satu persatu. Tak terkecuali Gilang dan Ayesha. Jauh dilubuk hati Kavindra yang paling dalam masih terukir indah nama Ayesha. Sampai saat ini pun meski Ayesha sudah menjadi kakak iparnya, hatinya tidak bisa dibohongi. Entah apa yang membuat Kavindra tidak bisa move on dari Ayesha.  Padahal Ayesha bukanlah cinta pertamanya. Mereka baru jadian enam bulan terakhir sebelum pengumuman kelulusan.

Kavindra merupakan siswa baru pindahan dari Singapura. Karena suatu dan lain hal yang menyebabkan keluarga Pratama pindah ke Indonesia. Kavindra lebih memilih melanjutkan sekolahnya di kampung halaman neneknya di Yogyakarta. Sementara orang tuanya tinggal di Jakarta. Kavindra dan  Ayesha langsung akrab dan nyaman saat pertama kali bertemu, mungkin dikarenakan Kavindra belum kenal dengan siapapun. Sehingga lama kelamaan timbul benih-benih cinta diantara keduanya.  Yang jelas setelah mengenal dan menjadi pacarnya Ayesha, Kavindra seakan tidak ada lagi tempat di hatinya untuk diisi oleh wanita lain. Padahal diluar sana tidak sedikit wanita-wanita cantik yang meliriknya, namun tak sedikitpun menggugah hati si bungsu Pratama itu. Sejak Kavindra mengetahui Ayesha adalah istri dari abangnya itu, ia sama sekali tidak mau mencampuri hidup keluarga mereka meskipun hatinya sangat berlawanan. Kavindra selalu menghindar dari Ayesha, meskipun terkadang Ayesha pulang ke rumah bersama Gilang. Sebisa mungkin ia mencari alasan untuk keluar bahkan terkadang menginap di rumah temannya dengan alasan mengerjakan tugas kuliah. Kavindra juga berencana akan melanjutkan kuliah di Amerika, untuk menghidar dari kehidupan Ayesha. Ia harus ikhlas dengan kenyataan yang dihadapi.

Sejenak Kavindra teringat dengan kata-kata Ayesha tempo dulu bahwa Gilang bersikap kasar dan sangat arogan kepadanya. Namun kata-kata itu tak dihiraukan oleh Kavindra. Bukan berarti Kavindra melupakan Ayesha dan tidak mencintainya lagi. Tapi ia berusaha menjadi lelaki yang bijak dan berusaha bersikap ikhlas atas apa yang telah Allah takdirkan. Karena ia juga mengetahui sedikit tentang agama, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam melarang sebagian kalian membeli apa yang dibeli saudaranya, dan tidak boleh pula seseorang meminang atas pinangan saudaranya hingga peminang sebelumnya meninggalkannya atau peminang mengizinkannya.” (H.R. Al-Bukhari).

Maka dari itu Kavindra berusaha untuk menjauhi Ayesha dan tidak pernah memberi harapan lagi. Meski hatinya sungguh sangat menolak hal itu. Perih dan sangat sakit rasanya. Apakah sekarang ia bahagia dengan Mas Gilang? Pertanyaan itu menghantui Kavindra hingga Kavindra tak bisa nyenyak dalam tidurnya. Saat itu pula Kavindra beraz-zam untuk mulai berhijrah. Ia akan menyibukkan dirinya dengan mengikuti beberapa halaqah dan pengajian-pengajian. Ia ingin menjadi hamba Allah yang lebih bersyukur dan ingin mendekatkan diri dengan Allah. Yang dulunya shalatnya masih bolong-bolong, kini ia ingin menjadi pribadi yang lebih shalih.

Gilang adalah anak pertama dari Jehan Pratama. Sejak ia lahir ibunya meninggal dunia, dan saat itu Jehan sangat terpukul karena ditinggal oleh istri tercintanya. Akhirnya Gilang ditinggal bersama neneknya, sedangkan Jehan Pratama lebih memilih pergi ke luar negeri untuk menenangkan pikirannya. Jehan Pratama kembali lagi ke tanah air disaat ibunya meninggal dunia. Kala itu Gilang berusia delapan tahun. Sebenarnya Gilang itu anak yang baik namun, karena kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya dan sering di bully oleh teman-temannya semasa kecil sehingga menyebabkan dia bersikap arogan, kasar dan emosinya tak terkendali.

Setelah bertemu dengan Diana Syahputri, Jehan Pratama kembali membuka hatinya. Diana merupakan wanita yang sangat baik. Memberikan kasih sayang kepada Gilang sepenuhnya melebihi anak kandung. Setahun dari pernikahan Jehan Pratama dan Diana Syahputri mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang bernama Kavindra Syahreza Putra Pratama. Sejak itulah Gilang merasakan kembali suasana keluarga yang harmonis. Itupun dikarenakan sikap baik dan bijaknya Diana kepada anak-anaknya.

 

***

 

 

 

 

“Mengawali lembaran baru, itu artinya aku sudah siap menerima kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Entah berakhir bahagia atau tersiksa.

 

[Tahajud Cinta, EPR]

 

 

TC 4

Hati yang Terluka

 

Pagi ini Gilang sudah terlihat rapi dengan pakaian santainya. Bahkan tampak lebih tampan dari biasanya. Ia tak peduli pada Ayesha yang sedang menyapu. Sesekali ia tersenyum pada ponselnya yang berdering bertanda ada pesan yang masuk. Diraihnya secangkir teh yang dibuatkan Ayesha tadi. Hingga tiba-tiba Ayesha berteriak dan menyenggol tangan Gilang ketika seekor kecoa ada di sapunya.

Pyarr!

Cangkir itu jatuh begitu saja, sementara baju yang dikenakan Gilang telah basah dengan air teh. Ia langsung menatap tajam kepada Ayesha yang saat ini ia gemetaran sekaligus kaget dengan apa yang telah terjadi.

“Kamu bodoh ya! Sepertinya kamu senang sekali jika aku marah,” bentak Gilang.

“Ma-maaf.. Mas, aku enggak sengaja.” Matanya kembali berkaca-kaca. Ayesha paling tidak suka dengan orang berbicara kasar apalagi dibentak. Tapi kini dia harus terbiasa menerima bentakan dari suaminya sendiri. Gilang pergi begitu saja setelah mencaci maki istrinya. Beberapa saat kemudian Ayesha kembali tersentak dengan bantingan pintu yang terdengar begitu keras.

 

Ayesha segera berjongkok, untuk memungut pecahan beling dari cangkir tadi dengan hati-hati sambil airmatanya terus berderai. Lagi. Ayesha menangis dalam diam. Dalam hatinya bergumam “Abi.. Ummi.. tolong aku. Aku sudah tidak tahan dengan kehidupan yang seperti neraka ini.”

***

 

Ayesha menghembuskan nafas lega setelah seharian beberes di dapur. Ia mengerjakannya sendiri dikarenakan bi Lilis tidak masuk karena anaknya yang bungsu sedang demam. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu, segera Ayesha membukanya.

“Tumben Mas, pulang cepat?” ucap Ayesha dengan  niat mencairkan suasana.

“Tidak ada kerjaan,” balas Gilang singkat.

Ayesha hanya mengangguk. Sebenarnya Ayesha ingin sekali berbincang lebih lama dengan Gilang dan ingin mengetahui tentang suaminya lebih dalam terutama jenis-jenis makanan favorite-nya. Terkadang ia juga ingin merasakan perlakuan Gilang kepadanya yang mesra dan romantis. Layaknya pasangan-pasangan suami istri lainnya. Tak terasa bulir bening dari matanya jatuh begitu saja.

“Bersiaplah, hari ini kita ke rumah Mama.” Ucapan Gilang membuat Ayesha tersentak dan segera menyeka airmatanya.

“Baik Mas,” Ayesha segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak lama kemudian, Ayesha keluar dari kamarnya. Ia terlihat sangat cantik dengan gaun dan hijabnya yang berwarna navy, sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih itu. Sejenak mata Gilang terpaku dibuatnya saat Ayesha menarik sudut bibirnya keatas membentuk senyum manisnya sangat sempurna sehingga dapat membuat setiap insan yang bergelar lelaki meleleh memandangnya.

Seperti biasa, perjalanan mereka selalu dihiasi dengan kesunyian. Di tengah perjalanan Ayesha mendongak dan memberanikan diri untuk berbicara dengan suaminya.

“Mas,” panggilnya dengan pelan.

“Apa?”

“Bisa mampir di toko kue sebentar. Aku mau membelikan kue untuk Mama.” Sejenak Gilang terdiam, lalu mengangguk. Setibanya di toko kue, Ayesha langsung turun dan sangat antusias mencari-cari kue yang paling enak menurutnya untuk diberikan kepada mertuanya. Di saat mau mengantri di kasir, tetiba Ayesha menyenggol tangan seorang wanita cantik sehingga membuat kuenya jatuh berserakan di lantai. Semua orang menatap pada kedua perempuan tersebut.

“Maaf mbak, saya enggak sengaja.” Ucap Ayesha dengan wajah panik.

“Tidak apa-apa Dik, namanya saja enggak sengaja.” Balas wanita cantik itu sambil tersenyum.

Gilang mendengar keributan didalam lalu ia menghampirinya.

“Clara..?”

Seseorang yang dipanggil Gilang kaget dan mematung dengan mata menatap lurus ke arah Gilang. Sedangkan Gilang menatap wanita itu dengan pandangan yang sendu, lembut sekali. Seakan ingin melepaskan rindu yang sangat mendalam.

“Bukannya kamu masih di Amerika?”

“Kalian saling kenal..?” celetuk Ayesha.

“Aku dan Gilang dulu saling pacaran, namun sudah putus karena Gilang lebih memilih pekerjaannya dibanding aku, dan kamu siapa?”

“Aku is..” sebelum Ayesha melanjutkan kata-katanya, buru-buru Gilang menyelanya. “Dia sepupuku yang baru tiba di Indonesia juga.” sanggah Gilang cepat. Hati Ayesha bagaikan tercabik-cabik disaat sang suami tidak mau mengakui bahwa ia adalah istrinya.

“Ooohh, aku baru tahu kamu punya sepupu perempuan yang sekolah diluar negeri.” Jawab Clara dengan tersenyum simpul.

“Ya sudah, Clar kami duluan ya, Mama sudah tunggu di rumah.” Sambil memberi uang gantinya karena kue yang dijatuhkan Ayesha.

Sepanjang perjalanan menuju rumah Mama Ayesha dan Gilang saling diam. Gilang fokus dengan perjalanan. Sementara Ayesha lebih memilih menatap keluar jendela, tak terasa airmata yang sejak tadi ditahan jatuh begitu saja tanpa dikomando. Bagi Gilang perkataan tadi itu biasa-biasa saja, tapi bagi Ayesha itu sangat menyakitkan. Perempuan mana coba yang tidak perih hatinya disaat kita tidak diakui istri oleh suami sahnya sendiri. “Ya Allaaahhh...”! batin Ayesha menjerit. Tak lama kemudian sampai di rumah Mama Diana Syahputri dan Papa Jehan Pratama.

“Ayesha sayang... Mama kangen banget sama kamu sayang?” sambut mama Diana sambil menuntun Ayesha masuk ke rumah. Sementara Gilang mengikutinya dari belakang dan langsung merebahkan badannya di sofa sambil menghela nafasnya dengan kasar. Ia kesal melihat mamanya terlalu menyayangi Ayesha. “Sebenarnya yang anak mama siapa sih, Ma!”gerutu Gilang.

“Papa sama Kavin mana, Ma?”

“Papa sama Kavin ikut mancing sama Om Agus dari sejak tadi pagi.” Jawab Mama sambil mengajak Ayesha langsung ke meja makan untuk menyantap makanan yang telah disediakan dari sejak tadi khusus untuk mantunya tersayang. Gilang hanya memperhatikan percakapan mereka berdua yang sangat akrab. Tiba-tiba ponselnya berbunyi dan Gilang pun keluar rumah tanpa terlebih dahulu meminta izin pada mamanya.

Clara : (“Lang, kapan dong kita ketemuan lagi, kangen-

              kangenan seperti dulu. Mama selalu nanyain kamu   

               lho, dia kan ga tahu kalau kita sudah pernah putus,

aku masih cinta sama kamu sayang...”) Rengek Clara dengan suara manjanya. Diam-diam Gilang kembali merajut kasih dengan mantannya dulu, yaitu Clara.

Gilang : (“Sabar Clar, aku sedikit sibuk karena papa baru

                 saja mengamanahkan aku sebuah perusahaan.”) Jelas Gilang sambil tersenyum bahagia.

Clara : (“Okeee.. tapi Minggu besok kita ketemuan yaaa..

              ditempat biasa kita nongkrong dulu, pokoknya  

               harus bisa.”) Tegas Clara dari seberang.

Gilang : (“Iya iya sayang, jangan ngambek begitu dong..

                ntar ilang cantiknya lho,”) goda Gilang.

Clara : (“Iyeess,, terimakasih sayang.. mmuach.”) Teriak Clara penuh kemenangan.

 

Sore hari.

Ayesha dan Gilang kembali ke rumahnya. Seperti biasa kehidupan rumah tangganya bagaikan kapal pecah. Dan suasananya seperti neraka. Seakan tempat yang paling nyaman saat ini bagi Ayesha adalah di kamarnya dan diatas sajadah. Saat ia kembali bersujud kepada Allah.. dan dilanjutkan dengan mentartilkan ayat demi ayat akan Firman-Nya. Ketika itu membuat hati Ayesha sejuk dan tenang. Sejak berhijrah Ayesha tidak pernah lagi meninggalkan shalat lima waktu bahkan dhuha serta tahajud tak pernah absen. Ayesha berubah 180 derajat menjadi pribadi yang sabar, tegar dan ikhlas.

Kepribadiannya lebih religius dan agamis. Setiap hari shalat, mengaji, membaca buku-buku islami serta mendengar ceramah-ceramah agama melalui ponselnya. Hanya itu tempat ia menenangkan hati dikala panas dengan suasana rumah tangganya itu.

Tiada hari Ayesha mengeluarkan airmatanya akibat caci maki dari suaminya sendiri, semua yang dilakukan Ayesha serba salah. Gadis itu sendiri bingung dengan kelakuan suaminya itu. Tanpa ada sebab ia asyik membanting pintu bahkan terkadang perabot rumah tangga abis satu persatu dilemparinya tanpa ada alasan yang jelas. Fisik dan batinnya sama-sama terluka. Membangun keluarga yang harmonis sepertinya hanya angan-angan semata. Cacian demi cacian itu telah menjadi santapannya setiap hari.

***

 

Tok..tok..tok..” Ayesha bergegas membuka pintu, berpikir Gilang tinggal sesuatu.

“Mmas..., eh, mbak siapa yaa..?” Ayesha  mengingat-ingat seakan wajah wanita ini tidak asing baginya.

“Gilangnya ada?” Clara to the point tanpa menghiraukan pertanyaan Ayesha.

“Mmas Gilangnya sudah ke kantor, ada perlu apa ya..?” jawab Ayesha datar.

“Oke..” ucap Clara tak sopan dan pergi begitu saja. Terasa nyeri di hati saat seorang wanita cantik dan seksi menanyakan keberadaan suaminya. Hati Ayesha tidak tenang saat teringat kembali wanita tersebut yang pernah bertemu dengannya di toko kue beberapa hari yang lalu. Namun apa daya, Ayesha bagaikan boneka yang tak berguna di mata Gilang. Istri yang tak dianggap sama sekali oleh suaminya. Matanya berkaca-kaca. Buliran bening dari bola matanya menetes begitu saja. Sementara di sana Gilang sedang memadu cinta dengan mantannya dulu yaitu Clara. Mereka sudah sangat sering berjumpa. Clara Patricia sudah tidak sabar ingin menguasai harta milik Gilang. Terlebih dia mengetahui Gilang adalah pemilik dan pemimpin Pratama’s Property. Ia sudah tidak tulus lagi mencintai Gilang seperti sejak dulu. Namun, hatinya sudah berubah akibat sakit hati karena Gilang meninggalkannya demi pekerjaan dan kini malah ia menikahi bocah yang baru lulus SMA itu. Ternyata Clara sudah mengetahui tentang pernikahan Gilang. Meskipun Gilang awalnya tidak mengakui Ayesha sebagai istrinya didepan Clara.

Hati Clara sudah dipenuhi dengan dendam dan keserakahan akan harta. Sementara Gilang masih tetap seperti dulu mencintai Clara setulus hatinya.

“Sabar Clar, aku harus menceraikan istriku dulu, baru aku nikahin kamu.” Jelas Gilang dengan nada harap-harap cemas.

“Aku enggak bisa sabar lagi Lang, aku rela kok kalau dijadiin istri keduamu.” Ucap gadis itu dengan senyum sinisnya. Gilang terhenyak dengan ucapan Clara seperti itu.

“Istri kedua ?, maksud kamu poligami ?, kamu serius!.”

“Iya Lang, aku serius. Aku sangat mencintaimu sayang”

“Iya Clar, sama. Aku juga sangat mencintaimu. Dari dulu hatiku masih seperti dulu. Aku sama sekali tidak mencintai Ayesha meskipun ia telah menjadi istriku”

“Percaya sama aku Lang, aku yakin Ayesha pasti setuju dengan keputusan ini, minggu depan langsung nikahin aku ya sayang.” Rayu Clara.

 

***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Kamu hanya perlu bersabar sampai waktunya tiba, di mana dengan kesabaranmu itu akan terbayar oleh sebuah kebahagiaan yang tiada tara. Dan ketika hijrahmu begitu sulit. Ingatlah selalu pesan Nabi, bersabarlah sampai bertemu di telaga kautsar”

 

[Tahajud Cinta, EPR]

 

 

 

TC 5

Kembali Tersakiti

 

Terlihat seorang wanita berambut sebahu sedang memasuki sebuah rumah cukup luas dengan jazz berwarna silver miliknya. Begitu tiba di halaman rumah, wanita itu mematikan mesin mobilnya lantas tersenyum mengembang dengan pikiran melayang ke tempat lain. Ada hal yang membuatnya bahagia dan penuh kemenangan setelah seharian bekerja di kantor mantan kekasihnya dulu.  Clara. Benar, wanita yang kini tertawa lepas itu adalah Clara Patricia. Ia tertawa seakan-akan sudah memenangkan sebuah pertandingan hebat. Semua rencana Clara yang telah lama disusun rapi berjalan lancar. Ia berhasil merebut kembali hati mantan kekasihnya dulu. “Selangkah lagi, Gilang Andrean Putra Pratama beserta istrinya yang masih bau kencur itu akan hancur dan semua harta akan menjadi milikku.” Gumam Clara yang masih berada di dalam Jazz kesayangannya seraya kembali tertawa lepas.

Masih dengan senyum lebarnya, Clara perlahan melangkah menuju pintu rumah. Begitu tangan kanan wanita itu membuka pintu, seketika senyumnya luntur dan digantikan oleh raut wajah marah setelah melihat sesuatu yang berhasil memancing emosinya. Tanpa berpikir panjang, Clara segera berlari menghampiri dua manusia itu dan ....

PLAK!!

“Sudah berapa kali aku ngomong, jangan pernah datang lagi kerumahku!” teriak Clara kepada wanita yang kini memegang pipi kirinya setelah mendapat tamparan keras.

“Clara!” seru laki-laki yang ada disamping wanita tersebut. Ia baru saja ingin melayangkan tamparan ke wajah Clara, namun Clara terlebih dahulu menahannya.

“Apa! Papa lebih membela wanita murahan ini dibanding aku putrimu! Dan berani menamparku?!” seru Clara menatap tajam papanya.

“Jaga mulutmu, Clara. Dia bukan wanita murahan!” Seketika Clara tertawa keras seakan-akan ia baru saja mendengar sesuatu yang lucu. Beberapa detik kemudian dia kembali menatap papanya. “Bukan wanita murahan? Lalu apa yang pantas disematkan untuk wanita rendahan ini?! gara-gara wanita ini, mama pergi! Ah, apa aku harus panggil dia sebagai pelakor ?”

PLAK!

Satu tamparan mendarat ke pipi mulus miliknya Clara sebelum sempat wanita itu menghindar. Wanita itu meringis kesakitan. Namun hatinya jauh lebih sakit begitu menyadari lelaki itu menamparnya hanya demi membela wanita disampingnya. Ini kesekian kalinya lelaki itu menampar dan membentak anaknya sendiri.

“Sekali lagi kamu ngomong seperti itu, jangan harap kamu bisa tinggal lagi di rumah ini,” ancam papa Clara.

“Dari awal aku memang sudah tidak mau tinggal lagi di rumah seperti neraka ini,  aku mau ikut mama dan juga Kayla.” Clara tersenyum kecut.  Katanya, rumah adalah tempat yang paling indah dan paling nyaman. Tempat kembali pulang dikala seseorang telah melewati hari-hari melelahkan diluar sana. Tapi kenapa aku nggak merasakan hal itu? Kenapa aku lebih menganggap rumah adalah neraka ?!”

“Setiap hari aku harus melihat wanita ini. wanita yang berhasil bikin Mama pergi dari rumah. Wanita yang berhasil menghancurkan rumah tangga kita, menghancurkan keluarga kita! Papa lebih memilih dia dari pada Mama setelah perjuangan mama selama ini? Papa lupa? Selama ini Mama nemenin Papa mulai dari nol, saat Papa belum punya apa-apa. Tapi saat Papa sudah sukses malah mencampakkan mama. Dimana hati nurani papa?!. Ternyata benar. Kesetiaan laki-laki diukur ketika dia sudah memiliki segalanya.”

“Kamu nyalahin saya ?” tanya wanita yang sedari tadi hanya diam saja memerhatikan Clara.

“Saya nggak pernah hancurin keluarga kalian. Papa kamu yang datang ngemis-ngemis ke saya untuk balik lagi, padahal saya sudah nggak mau begitu saya tahu kalau dia sudah beristri. Tapi saat papa kamu ngomong kalau ia sudah menceraikan istrinya, saya bisa apa? Saya pun sudah terlanjur jatuh hati sama dia.”

Wanita itu tersenyum mengejek, lantas mendekati Clara, lalu berbisik tepat di telinganya. “Ternyata pacaran sama laki-laki yang sudah beristri lebih tertantang, apalagi sampai mereka pisah.”

Clara menggeram murka, “Dasar wanita murahan. Wanita rendahan. Perusak rumah tangga orang! Pelakor!.”

“Clara!” seru Papa Clara. Kembali ingin melayangkan tamparannya, namun kali ini wanita disampingnya segera menahan tangannya.

“Sudah Mas. Mungkin Clara capek jadi bawaannya emosi terus.” Wanita itu memegang lengan Papa Clara dengan manja. “Ayo Mas, kita keluar. Aku bosan di rumah terus seharian.”

Clara kembali menggeram marah saat melihat papanya berjalan keluar bersama wanita itu dengan memeluk mesra seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Mereka tidak pernah menampakkan rasa bersalah atas apa yang telah mereka perbuat. Tidak peduli begitu banyak hati yang terluka akibat ulah mereka termasuk Clara. Clara benci. Clara saat ini sangat membenci lelaki yang sempat ia kagumi selama ini. Bahkan ia bercita-cita ingin memiliki pasangan seperti papanya itu. Laki-laki yang penyayang, penuh tanggung jawab, sabar serta tidak pernah menyerah untuk membahagiakan mereka. Tetapi itu dulu, sebelum harta, tahta dan wanita itu menghancurkan segalanya.

***

 

Gilang pulang dalam keadaan mabuk berat akibat kepalanya pusing dan terasa sangat frustasi dengan keadaan yang didesak oleh Clara untuk segera menikahinya.

Brugh.

Ayesha begitu panik ketika tubuh Gilang limbung dan jatuh tak sadarkan diri di lantai. Ayesha mencium bau alkohol dari mulutnya. Dengan susah payah Ayesha membangunkannya dan membawanya ke kamar. Dengan telaten ia melepaskan sepatu milik suaminya dan membuka satu persatu kancing bajunya serta menyapukan handuk kecil yang telah dicelupkan dengan air hangat pada tubuh suaminya.

“Claraaa..!”

Gilang menggigau memanggil-manggil nama kekasihnya. Ayesha tersentak dan hatinya teriris bagaikan kena sembilu mendengar gigauan suaminya dengan sebutan nama wanita lain. Segitu hinakah aku dimata suamiku?, sehingga untuk menyebut namaku saja dia tak sudi. Ayesha menutup mulutnya sambil menahan isak tangisnya agar tidak terganggu tidur pulasnya Gilang. Ayesha sangat kecewa dengan Gilang. Hatinya sakit, periih..! Ternyata suaminya lebih mencintai wanita lain. Jujur, sebenarnya Ayesha sudah ikhlas menerima pernikahannya dengan Gilang dan ia sudah mulai membuka hatinya kepada Gilang. Dan sudah mulai belajar mencintai suaminya itu. Terlalu lama Ayesha menangis hingga membuatnya terasa kantuk dan tertidur sambil menggenggam tangan Gilang. Beberapa lama kemudian Gilang terbangun dari tidurnya dan betapa terkejutnya ia ketika melihat Ayesha tertidur disamping kasur dengan setianya dia menunggu suaminya. Rasa bersalah muncul seketika setelah mengingat perlakuannya tadi sore. Istrinya tidak bersalah, namun pelampiasan amarah Gilang selalu ditumpahkan kepada Ayesha. Itu karena Clara terus saja menghubungi Gilang dan mendesaknya untuk segera menikahinya. Hal itulah yang membuatnya tambah pusing.

“Maafkan aku Ayesha” Entah dorongan darimana tiba-tiba Gilang mengecup kening Ayesha yang sedang tertidur di sampingnya.

 

***

 

 

 

 

 

“Dialah sang Khalik. Dalam setiap sujudmu, Dia tak hanya melihat dan mendengar, melainkan Dia sentuh kepalamu ‘tuk salurkan kekuatan. Agar kamu tetap kuat dan tangguh dalam menjalankan peranmu sebagai sebaik-baik hamba Allah.”

            

           [Tahajud Cinta, EPR]

 

 

 

TC 6

Menikah Lagi?!

 

Usai melaksanakan shalat subuh dan membaca Al-Qur’an. Seperti biasa Ayesha bergegas ke dapur untuk mempersiapkan sarapan pagi untuk suaminya. Ketika baru menuju dapur, tiba-tiba Gilang berada dihadapannya.

“Mas Gilang ? Ada apa ? Mau Aku buatin teh ?” ucap Ayesha dengan sopan disertai senyumannya yang menawan. Gilang selalu menepiskan pandangannya agar tidak terhasut dengan wajah cantiknya Ayesha. Lalu Gilang mencekal tangan Ayesha yang hendak ke dapur.

“Aku mau bicara,” jawabnya singkat.

“Mas mau ngobrol, ayuk sini duduk,” ucap Ayesha sambil menarik tangan Gilang untuk duduk disebelahnya. Senyumnya makin mengembang ketika suaminya mau menurutinya.

“Aku ingin menikah lagi”

Degh. Senyum Ayesha makin luntur dan seketika hatinya berkecamuk disertai raut wajahnya pias. Seakan petir menghantam kepalanya. Matanya berkaca-kaca, pandangannya juga mulai mengabur, terhalang cairan bening yang sebentar lagi akan jatuh membasahi pipinya. Ayesha terpekur, berusaha memastikan bahwa telinganya tidak salah dengar. Tubuhnya bergetar menahan luka untuk kesekian kalinya. Lidahnya seakan tak dapat berkata-kata lagi. Entah apa yang ada dipikiran Gilang. Dari sejak hari pernikahan sampai sekarang hatiku terus menerus dibuat luka. Air mata tak pernah kering dari kelopak mataku. Belum sampai dua bulan aku menikah dengannya, kini aku mau di madu. Ya Tuhaaann... batinku meronta seakan ingin berteriak hingga tembus ke langit ketujuh.

“Tapi-tapi, Mas..?”

“Aku hanya ingin memberitahumu, bukan meminta persetujuan darimu. Toh, dari dulu aku tidak mencintaimu bahkan sampai sekarang aku tidak pernah punya rasa apapun padamu.” Ayesha menunduk dan diam. Perempuan itu bingung harus bersikap bagaimana. Airmata yang sejak tadi ditahannya, kini menetes begitu saja. Baiklah, sepertinya Ayesha harus belajar ikhlas dan menyiapkan dinding yang kokoh sebagai pertahanannya. Jika dengan menikah lagi bisa membuat suaminya bahagia, maka ia rela meski harus dimadu atau bahkan tersisihkan. Lama kemudian Ayesha kembali mendongak dan menatap wajah Gilang dengan senyuman yang pasrah dan wajah memerah akibat menahan tangis.

“Siapa wanita itu?” Tanyanya dengan suara yang begitu lembut.

Gilang langsung memalingkan wajahnya ketika Ayesha menatapnya penuh luka. “Clara” sahutnya.

Sambil menyeka air mata, Ayesha mendongak dan  menatap lurus tepat pada bola mata Gilang. Ayesha dengan tegar dan pasrah disertai dengan senyum teduhnya lalu berujar dengan amat tulus sampai Gilang tak mampu berkata apa-apa.

“Ya sudah. Kalau itu mau Mas Gilang. Jika dengan menikah dengan Mba Clara membuat Mas Gilang bahagia, Aku  ikhlas.” Meskipun itu merupakan sifat munafik. Karena pada kenyataannya batin Ayesha berteriak seakan tak sanggup menahan pilu dan pahitnya kehidupan rumah tangga yang ketika suaminya rela berbagi dengan wanita lain.

“Apa kamu akan mengadu ke orang tuamu?.” Tanya Gilang harap-harap cemas.

Pertanyaan itu disambut tawa renyah oleh Ayesha. Bersamaan dengan itu pula air matanya jatuh membasahi pipi. Ia pikir Ayesha akan meminta cerai padanya dan mengadu pada sang ayah. Nyatanya tidak, perempuan itu justru menerima dengan lapang dada.

“Aku  bukan anak manja dan suka mengadu masalah rumah tangga kita Mas, lagian Abi punya riwayat penyakit jantung. Jadi Mas tenang saja. Aku  tidak mengadu ke Abi dan Ummi.” Jelas Ayesha dengan sangat tegas meski hatinya sakit bagai disayat sembilu.

Setelah dirasa pembicaraannya cukup, Ayesha  pamit untuk masuk ke kamar. Di kamar Ayesha menangis sejadi-jadinya. Segera ia mengambil wudhuk untuk melaksanakan dua rakaat shalat dhuha dilanjutkan dengan tilawatil Qur’an. Ya, kini Ayesha lebih khusyuk dan taat dalam beribadah seiring dengan bertambahnya masalah dalam hidupnya. Ia berpikir semua masalah dan cobaan hidup ini hanya kepada Allah tempat ia mengadu. Ia sama sekali tidak ingin menyusahkan kedua orang tuanya. Dalam sujudnya ia menangis kepada sang pemilik hati, agar dapat membolak balik hati suaminya dan tersentuh dengan semua kebaikan yang ia lakukan. Agar supaya suaminya bisa membukakan hatinya untuk Ayesha. Air mata Ayesha terus mengalir menganak sungai. Matanya sembab, pipinya memerah akibat tangisannya tak henti-henti. Seakan badannya remuk lolos satu persatu.

Setelah khatam membaca Al-Qur’an Ayesha merasakan kesejukan dan ketenangan jiwa. Kini Ayesha sudah khatam satu kali dalam sebulan. Ketenteraman jiwa semakin terasa jika terus berusaha mendekati pemilik jiwa yang seutuhnya. Selain istiqamah dalam shalat dhuha Ayesha juga sudah istiqamah dengan tahajudnya setiap malam. Ayesha selalu mengadu kepada Allah dalam setiap sujudnya. Ia berdoa agar diberikan yang terbaik dalam kehidupan rumah tangganya.  Memiliki lelaki yang bertanggung jawab dan sangat mencintainya serta berharap suaminya dibukakan pintu hati untuk menerimanya dengan ikhlas.

Tetiba Ayesha berpikir ingin menemui orang tuanya hanya sekedar untuk menenangkan otaknya sekaligus  melepaskan rindu dalam kehangatan pelukan Ummi dan Abinya. Seketika ia meraih ponselnya dan mengirim sebuah pesan untuk suaminya yang sedang di kantor.

 Assalamualaikum Mas.. hari ini Aku enggak masak siang. Dan Aku minta  izin untuk ke rumah Abi ya? Aku hanya rindu mereka. Terimakasih.

***

 

Ummi : Sayang, jadi kan ke rumah..?

Sudut bibir Ayesha  tertarik keatas saat layar ponselnya menyala dan menampilkan sederet kata dari Indah. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya. Kepalanya ia tolehkan ke jendela sebentar. Beberapa menit lagi, ia akan sampai di rumah sederhana bergaya klasik yang menjadi saksi kehidupannya sejak kecil. Sepintas, ia melihat sebuah taman yang terletak dipinggir jalan. Ayesha tersenyum kecut, ingatan berputar pada awal pertemuannya dengan Kavindra. Dulu setiap kali mereka janjian selalu ke taman itu. Taman itu merupakan saksi bisu kisah cintanya dengan Kavindra yang sekarang sudah kandas begitu saja.

“Sudah sampai, Neng” Ucap supir taksi itu menyadarkan Ayesha dalam lamunannya. “Astaghfirullah,” gumamnya seraya mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Setelah membayar dan mengucapkan terimakasih, Ayesha segera turun dari taksi dan berjalan cepat kearah gerbang. Ia menautkan alis sebelahnya saat melihat pintu gerbang yang terbuka lebar. Tumben sekali, pikirnya.

“Loh, Neng Ayesha ?” Pak Abdul satpam rumah dengan wajah ceria dan bahagia berjalan cepat menghampiri Ayesha guna untuk menyambut kedatangan Ayesha.

Ayesha menghentikan langkahnya sebentar dan tersenyum kearah Pak Abdul.

“Pak Abdul apa kabar?” tanyanya.

Alhamdulillah baik Neng. Neng sendirian?”

“Iya Pak Abdul, saya sendirian. Ya sudah saya masuk dulu ya Pak?” Ucap Ayesha.

“Oh, silahkan Neng.

Ayesha kembali melanjutkan langkahnya. Sesampai di depan pintu, ia mengetuk pintu berkali-kali seakan-akan tidak sabaran untuk langsung memasuki rumah yang sudah sangat lama tidak dihuninya.

Assalamualaikum... Ummi.. Abi...” teriak Ayesha tak sabaran.

Waalaikumsalam...” suara wanita dibalik pintu. Saat pintu rumah terbuka, Ayesha langsung memeluk erat Umminya dengan penuh kerinduan. Entahlah, rindu bercampur sedih yang sangat mendalam. Seketika butiran bening dari kelopak matanya menetes dan dengan cepat pula Ayesha menghapusnya. Ia tidak mau orang tuanya mengetahui kondisi rumah tangga yang dialaminya saat ini. Hanyalah kebahagiaan yang ingin ia perlihatkan kepada kedua orang tuanya. Indah juga terharu dan rindu dengan kehadiran putri semata wayangnya secara tiba-tiba.

“Kamu sendirian sayang..?” tanya Indah seraya membopong putrinya ke ruang tamu.

“Hhmm.. Mas Gilang lagi sibuk di kantor Mi, dan....” Belum selesai Ayesha menjawab pertanyaan Indah tiba-tiba suara ketokan pintu mengalihkan keduanya.

“Biar Sha aja yang buka, Mi...”

Ayesha melangkah sambil mengatur sesak di dadanya dan menyeka air mata yang tiba-tiba menetes begitu saja.

Cklek!

“Mas Gilang...?” Ayesha tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Ayesha berpikir laki-laki itu tak akan pernah menyusulnya. Ternyata ia salah. Yang berdiri tegak di depannya adalah Gilang suaminya.

“Sayang, siapa tamunya.. suruh masuk dong.” Ucap Indah dari dalam. Ayesha terkesiap sesaat, kemudian membuka pintu lebih lebar. Aa-yo masuk, Mas,” ajak Ayesha. Gilang berjalan santai menghampiri Indah. Wanita paruh baya yang sedang duduk di sofa ruang keluarga terkejut dengan kedatangan menantunya itu.

“Loh, kata Ayesha kamu sedang sibuk di kantor.”

“Kebetulan tadi enggak ada kerjaan di kantor, meeting dengan klien pun di cancel. Jadi aku memutuskan untuk menyusul Ayesha aja, Mi.” Dalihnya dengan seulas senyum hangat.

“Abi kemana, Mi?” tanya Gilang

“Abimu sedang pergi sama temannya ke Bandung. Besok baru pulang,” sahut Indah. Gilang mengangguk saja karena tidak tahu harus membalas apa. Namun, sepertinya Indah pintar mencari topik, sehingga obrolan mengalir begitu saja. Mereka menghabiskan waktunya untuk mengobrol perihal kegiatan sehari-hari Ayesha sebelum akhirnya menikah dengan Gilang. Dari situ, Gilang menyimpulkan bahwa Ayesha sangat disayang dan patuh kepada kedua orang tuanya. Teringat oleh rencana ingin menikahi Clara, tiba-tiba ia merasa ada keraguan dalam benaknya. Akan tetapi, ia segera menepisnya. Bagaimanapun ia telah pernah berjanji kepada Clara untuk segera menikahinya.

            Tak terasa, jarum  jam telah menunjukkan pukul 12.00. Shalat dzuhur kali ini diimami oleh Gilang. Sebenarnya, Gilang sedikit ragu. Karena tak dapat dipungkiri, ia sering kali lalai dalam melaksanakan shalat lima waktu dengan tepat. Disisi lain, tak ada yang tahu bahwa Ayesha menitikkan air matanya ketika shalat. Jujur saja, Ayesha sangat menanti saat-saat seperti ini. shalat berjamaah dengan suami yang menjadi imamnya. Usai berdoa, Gilang menoleh ke belakang untuk menyalami Indah dan Ayesha.

Ya Allah.. terimakasih telah menjadikan hari ini hari paling bahagia dengan memberikan kesempatan untuk shalat berjamaah dengan suami hamba. Ini adalah salah satu nikmat yang terindah dari-Mu, batin Ayesha.

“Sayang.. bantuin Ummi masak, ya? Gilang kalau bosan nonton TV saja, di bawah meja ruang tamu juga ada beberapa majalah bisa kamu baca. Sayang banget Abi kamu enggak ada. Jadi ga ada temen, deh,”Ucap Indah.

“Iya Ummi, aku ke depan saja deh Mi sambil ngobrol sama pak Abdul,” jawab Gilang.

Setelah Gilang keluar, Ayesha dan Indah langsung menuju ke dapur untuk segera mengeksekusi apa yang ada di dapur untuk dinikmati ketiganya.

“Ya ampun, sudah lama ya kita enggak masak bareng. Ummi bener-bener kangen sama soto ayam masakan kamu,”Ucap Indah. Baginya soto ayam buatan Ayesha sangatlah lezat. Bahkan lebih lezat dari masakannya. Ayesha memang jago dalam hal memasak, bakatnya itu turun dari neneknya.

“Aku, kangen dengan momen-momen begini, Mi, bagiku  masakan Ummi tetap number one,” jawab Ayesha sambil mengecup pipi Indah sekilas.

“Ngomong-ngomong, kamu sudah pernah masakin soto ayam buat Gilang belum?,” tanya Indah penasaran.

Ayesha terdiam sesaat. Ingatannya berputar saat ia masak soto ayam minggu lalu khusus untuk Gilang. Namun, laki-laki itu tidak menyentuhnya sedikitpun dengan alasan sudah kenyang. Akhirnya masakan itu Ayesha berikan pada Bi Lilis untuk diberikan kepada anaknya di rumah.

“Belum pernah, Mi,” Bohongnya.

“Oalah, gimana sih kamu. Ya sudah, kalau begitu masak seenak mungkin, ya? Ummi jamin Gilang pasti ketagihan dengan masakan kamu.” Ayesha baru saja hendak menjawab, namun dering telepon lebih dulu mengalihkannya.

“Ada telepon, kayaknya dari Abimu deh. Ummi angkat dulu, ya?” Indah langsung mencuci tangannya dan segera ke ruang tengah. Tepat saat Indah pergi, Gilang masuk ke dapur. Ia terus memperhatikan Ayesha yang sedang sibuk dengan menumis bumbu dan memotong sayuran untuk membuat soto ayam.

Ayesha sama sekali tidak menyadari keberadaan Gilang. Sambil memotong sayuran sesekali Ayesha bersenandung melantunkan selawat nabi. Sejak menjadi seorang istri Gilang banyak hal yang sudah berubah dari kepribadian Ayesha. Saat ini ia lebih religius termasuk hobby yang dilakoni saat ini yaitu memperbanyak shalat sunah, menjaga shalat lima waktu, istiqamah dengan shalat tahajud, berselawat, mengaji dan memperbanyak mendengarkan ceramah-ceramah. Bahkan idola barunya sekarang adalah sang ustadz Abdul Somad. Sedangkan dulu hobby-nya hanyalah nonton korea.

“Ada yang bisa aku bantu?.”

Kemunculan Gilang secara tiba-tiba sontak saja membuat Ayesha terkejut setengah mati. Sampai-sampai pisau yang ia pegang meleset dan melukai jarinya. Secepat kilat Gilang menarik tangan Ayesha dan langsung menghisapnya. Seketika Ayesha tercengang dengan perlakuan suaminya. Tidak biasanya ia memperlakukan Ayesha semanis itu. Walau hanya beberapa detik saja Ayesha merasakan kebahagiaan yang tiada tara dan merasakan jantungnya yang berdegup begitu kencang. Diraihnya kotak P3K yang terdapat di lemari atas, lalu mengambil plester untuk membalut lukanya.

“Sekarang kamu duduk, biar aku yang melanjutkannya.”

Ayesha baru saja akan melontarkan protesnya. Namun, tidak jadi sebab Gilang sudah lebih dulu melayangkan tatapan tajamnya, tak terima penolakannya.

                        *****

 

Suasana sangat tegang. Jehan memulai membuka suaranya.

“Apa benar kamu mau menikah lagi, Gilang?” tanya Pak Jehan.

“Iya Pa, benar.” Jawab Gilang dengan yakin.

“Apa kamu yakin akan bisa bersikap adil dengan kedua istrimu kelak?.”

“Iya Pa, Gilang akan bersikap adil dengan mereka.” Jawab Gilang dengan agak sedikit ragu. Lalu pandangan Jehan beralih ke wajah menantu kesayangannya. Dia memperhatikan menantunya dengan sangat intens.

Wajah Ayesha yang sendu itu agak sedikit menunduk untuk menyembunyikan hatinya yang sangat sedih. Namun di depan mertuanya ia bersikap tegar seolah-olah tidak ada beban apapun di pundaknya.

“Ayesha, apakah kamu benar-benar siap di madu?” Tanya Jehan dengan penuh kasih sayang melihat mantu kesayangannya. Ayesha mendongak ke arah mertuanya disertai dengan senyumannya yang sangat tulus. Dan kata-katanya membuat mereka tertegun terutama Gilang. Ia tak menyangka jika istrinya begitu tulus.

In sya Allah, aku  siap Pa. Jika memang itu yang membuat Mas Gilang bahagia, aku  ikhlas. Memang yang namanya berbagi suami itu sangat menyakitkan, tapi ini anggap saja bahwa aku  sedang berbakti kepada suami. Lagian aku  yakin kok, Mas Gilang kelak bisa bersikap adil, iya kan Mas?”

“I-iya, itu pasti,” Jawab Gilang dengan terbata-bata.

Setelah dianggap pembicarannya cukup. Ayesha minta izin masuk ke kamarnya. Dan ternyata disusuli oleh ibu mertuanya.

“Ayesha  sayang.. kamu enggak kenapa-napa nak, jika Gilang menikah lagi?.” Tanya Diana sambil membelai kepala menantunya dengan lembut.

In sya Allah enggak apa-apa kok Ma.” Jawab Ayesha begitu tulus. Mata Diana berkaca-kaca menatap bola mata menantunnya dengan penuh kasih sayang.

“Mama enggak bisa berkata-kata lagi sayang. Kamu adalah wanita yang sangat baik nak?” Direngkuhnya tubuh Ayesha kedalam dekapan hangatnya. Diana menangis, enggak abis pikir apa yang dilakukan Gilang kepada Ayesha.

“Sayang, kamu harus kuat ya Nak, ini semua terjadi atas kehendak Allah dan Allah sayang sama kamu.” Kalimat itu ditutup dengan disertai kecupan singkat pada kening Ayesha.

                                     ***

 

 

 

 

“Allah menunjukkan rasa cintanya padamu dengan berbagai cara, salah satunya dengan menciptakan masalah pada hidupmu. Hingga ketika kamu menangis dalam shalatmu, Allah mengusap kepalamu dan bisikkan kata, ‘kamu kuat’... Aku selalu bersamamu”

 

[Tahajud Cinta, EPR]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TC 7

Rencana Licik

 

Di ruang keluarga, Ayesha mendapati Gilang dan Clara tengah berduaan bersenda gurau sesekali Gilang mengecup keningnya Clara. Dengan santainya Clara bergelayut manja di samping Gilang. Sementara yang baru saja dari dapur segera memutar arah kembali ke kamarnya. Hatinya begitu perih dengan melihat tingkah mereka yang semakin hari semakin mesra dihadapannya. Selama menikah dengan Gilang ia tak pernah merasakan kemesraan bersama suaminya.

Berdiri tegak dibelakang pintu kamar dengan berurai air mata. Ia menangis sejadi-jadinya. Apakah begini rasanya mencintai tanpa dicintai? apakah ia tidak berhak bahagia? apakah tidak ada kesempatan untuk Ayesha mempertahankan cintanya? Akankah semua perjuangannya sia-sia? Terlalu banyak pertanyaan yang hinggap di kepala Ayesha. Ayesha tetap mencintai Gilang suaminya. Tak peduli seberapa kasarnya perlakuan Gilang terhadapnya. Setiap malam, ia selalu bangun untuk melaksanakan shalat tahajud serta memohon kepada Allah agar Gilang menyadari bahwa Ayesha begitu tulus mencintainya. Siang berganti malam, Ayesha mengenggam erat foto pernikahannya yang telah ia bingkai dengan rapi. Di foto itu, Ayesha mencoba tersenyum dengan tulus, sedangkan Gilang tetap dengan wajah datarnya. Ia tersenyum masam, teringat awal pertemuan mereka. Pertemuan pertama yang mengubah hidupnya dalam sekejap mata.

***

 

Kebiasan Ayesha setiap harinya mengurus rumah dan menyiapkan makanan untuk suami dan madunya di bantu juga oleh bi Lilis. Sementara Clara pergi ke kantor dengan Gilang, tidur sekamar dengan Gilang, setiap hari shopping, dan berfoya-foya dengan teman-temannya. Meskipun Ayesha bersikap tegar, namun ia juga seorang istri dan wanita biasa yang terkadang merasakan kecemburuan terhadap madunya yang selalu mengobral kemesraan dihadapannya.

Clara selalu berdalih ke Gilang bahwa ada bisnis baru yang dirilisnya bersama teman-temannya. Sampai-sampai  pulangnya pun sering larut malam. Dengan kebiasaan Clara seperti itu membuat Gilang penasaran dan curiga dengan sikap Clara. Ia merasa Clara banyak berubah dibandingkan dulu. Ya, Gilang sangat mengenal wanita cantik itu melebihi Ayesha. Clara sudah sering memaksa dan mendesak Gilang untuk dibelikan perhiasan dengan nominal yang tidak sedikit sampai ratusan juta dan uang belanjaan yang jumlahnya sangat besar dengan alasan ikut arisan bersama teman-temannya. Sementara  Ayesha yang sudah tiga bulan menjadi istrinya tidak pernah sekalipun menadahkan tangan untuk meminta uang sepeserpun padanya. Meskipun uang sejumlah itu bukan soalan bagi Gilang. Tapi ia mendapati keanehan pada Clara istri keduanya itu.  Terkadang batin Gilang menaruh iba kepada Ayesha dan merasa dirinya banyak melakukan kesalahan pada gadis tak berdosa itu. 

***

 

Suatu sore...

Gilang baru pulang dari kantor dan ditangannya ia membawa sebuah paperbag. Seperti biasa Clara tidak di rumah. Ayesha bergegas membukakan pintu.

“Mas Gilang... tumben tidak bareng Mba Clara?” Sapa Ayesha sambil menyalami tangan Gilang. Sementara Gilang tidak menghiraukan pertanyaan Ayesha.

“Ini, buat kamu.” Sambil memberikan paperbag kepada Ayesha seraya memberikan senyum yang sangat manis kepada istri pertamanya itu.

“Ini buat aku, Mas?” Dengan girangnya Ayesha mengambil hadiah dari suaminya itu. Gilang hanya membalas dengan anggukan saja tetap dengan senyumnya yang menawan. Gilang berharap bisa menghapus kesalahannya yang dulu, dengan memperlakukan keduanya dengan adil. Ayesha merasa sangat bahagia karena Gilang sudah sedikit perhatian padanya. “Mungkin Allah sudah mengabulkan doa-doaku sehingga sedikit demi sedikit Mas Gilang mau membuka hatinya untukku,” Gumamnya dalam hati sembari memakai kalung berhiaskan liontin permata yang barusan dibeli suaminya. “Aku  merasa sangat bahagia malam ini ya Allah... Mas Gilang sudah mau membukakan hatinya buat Aku.. Alhamdulillah.. terimakasih ya Allah...” Gumam Ayesha dengan wajah ceria dan hati berbunga-bunga. Belum pernah ia merasakan sebahagia itu selama menikah dengan Gilang. Ayesha tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan-Nya.

Sementara di tempat lain Clara asyik berpacaran dengan kekasihnya yang berkebangsaan Amerika. Mereka sudah lama menjalin hubungan sejak Clara ditinggal nikah oleh Gilang. Saat Clara kembali ke Indonesia Alex segera menyusulnya. Alex ingin membantu Clara untuk menyukseskan misinya yaitu menghancurkan Gilang dan merebut hartanya.

Baby, kapan kita bisa merebut harta kekayaan suamimu itu.” Ucap Alex dengan bahasa Indonesia yang agak cedal. Alex sudah terbiasa berbahasa Indonesia dengan Clara di Amerika meskipun agak sedikit cedal.

“Kita segerakan misi kita Beb.” Jawab Clara dengan senyum kecutnya.

Yess,, kita akan menjadi orang kaya dadakan.” Ucap Alex sambil bersulang ria dengan kekasihnya Clara.

“Aku juga sudah muak melihat Gilang, apa lagi akhir-akhir ini ia sudah agak perhatian sama istri bodohnya itu.” Ketus Clara.

“Apakah suamimu itu sudah jatuh cinta sama istri pertamanya?” Selidik Alex.

“Sepertinya sih belum Beb, tapi beberapa hari ini si Gilang sudah memberi perhatian lebih ke bocah tengik itu.” Kesal Clara.

“Berarti kita harus percepat misi kita ya Beb?.”

“Pasti Beb, mari kita berse_..” Sebelum Clara melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba ponselnya berdering dan menerima pesan dari Gilang.

Gilang   : Sayang.. lagi dimana?

Clara     : Aku lagi di jalan mau pulang nih sayang...  

                 tapi jalannya macet. Sampai ketemu di   

                 rumah ya sayang.. I Love you..

Clara segera pamitan kepada kekasihnya itu, setelah mendapat chat dari Gilang. Setelah berpelukan mesra, cipika cipiki dengan teman-teman lainnya, Clara langsung melajukan BMW 850i Convertible silvernya segera. Mobil yang baru saja dibeli Gilang atas permintaannya sebagai hadiah pernikahan, dan nominalnya hampir tiga milyar. Baru tiga minggu saja menikah dengan Gilang entah sudah berapa milyar Clara melahap uang miliknya Gilang. Clara dan Alex hampir setiap malam menghabiskan waktunya bersama-sama, berfoya-foya dengan harta miliknya Gilang serta juga merencanakan misinya. Tetapi saat ditanya oleh Gilang selalu berdalih sedang merilis bisnis baru dengan teman-temannya.

***

Setiap luka yang kamu terima, setiap tetes air mata yang keluar, setiap ikhlas baktimu pada suami, percayalah Allah akan menggantinya dengan surga.

         

             [Tahajud Cinta, EPR]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TC 8

Fitnah

 

Pagi-pagi sekali, Ayesha sudah selesai membersihkan rumah dan memasak dengan dibantu Bi Lilis. Perempuan itu begitu semangat karena ia merasa Gilang sudah mulai perhatian padanya.

Huft, akhirnya selesai.”

Tak ingin mengulur waktu, Ayesha segera ke kamar untuk membersihkan diri. Beberapa menit kemudian, ia telah siap dengan gamis dan kerudung bergo sederhananya. Saat berjalan ke dapur, Ayesha tersentak kemudian menunduk ketika berpapasan dengan Gilang dan Clara yang sama-sama menuju ke ruang makan. Saat di meja makan mereka menyantap sarapan bersama-sama.

“Suka enggak sama hadiahnya?” Tanya Gilang saat selesai sarapan pagi.

“Terimakasih ya Mas, Aku  suka banget sama kalung ini.” Jawab Ayesha dengan wajah cerianya.

“Syukurlah kalau kamu suka.” Timpal Gilang seraya mengusap lembut kepala Ayesha yang ditutupi hijab. Sementara Clara memandang Ayesha dengan penuh kekesalan. Merasa Gilang sudah lembut dan sangat perhatian kepada Ayesha. Ingin rasanya ia melenyapkan Ayesha agar tidak terusik dengan kekayaan yang dimiliki Gilang. Ya, Clara ingin menguasai kekayaan Gilang dengan sendirinya tanpa berbagi dengan Ayesha. Bermacam rencana jahat timbul dipikirannya.

“Sha, aku dan Clara ke kantor dulu ya?”

“Iya, Mas Gilang hati-hati ya.”

“Kamu jaga diri di rumah ya?”

“Baik Mas.”

Terngiang percakapan singkat antara  Ayesha dan Gilang membuat panas telinga Clara. Di kantor ia terus berpikir apa yang harus dilakukan untuk melenyapkan mereka. Clara sudah merasa tidak nyaman lagi dengan keberadaan Ayesha diantara mereka. Bahkan ia takut nantinya Gilang akan jatuh cinta pada Ayesha dan akan menceraikannya. Apa lagi jika ketahuan dia sudah menjalin asmara dengan pria lain.

***

 

“Mba Clara? kok cepet pulang Mba.” Tanya Ayesha lembut.

“Iya, aku lagi kurang sehat.” Jawab Clara beralasan.

“Mba lagi sakit ? ada yang bisa saya bantu mba ?” Tanya Ayesha panik.

“Enggak usah, aku mau istirahat aja.” Jawab Clara datar.

Sesaat kemudian. Gilang pun tiba di rumah. Entah dorongan darimana Gilang ingin makan siang di rumah hasil masakan Ayesha.  “Jujur, gadis manis itu juga jago dalam hal memasak, aku sempat ketagihan setelah beberapa kali makan masakannya.” Batin Gilang. Tanpa sepengetahuan orang rumah Gilang sudah berselonjor di ruang keluarga sambil menikmati tontonan favorite-nya. Sementara Ayesha sedang membersihkan diri di kamar setelah beberes di dapur bersama bu Lilis yang selalu setia menemaninya di rumah.

“Mas Gilang sudah pulang juga?” Tanya Ayesha kaget melihat suaminya siang-siang sudah santai di rumah.

“Iya Sha, Mas ingin makan siang dengan kamu.” Jawab Gilang disertai sudut bibirnya tertarik ke atas.

“Beneran Mas, aku seneng sekali.” Balas Ayesha dengan wajah Ayesha memerah dikarenakan bahagianya luar biasa.

“Oh iya, Mas.. Mba Clara juga ada di kamar, katanya kurang sehat.” Timpal Ayesha dengan wajah memelas.

“Siapa bilang aku kurang sehat, ayuuk Mas kita makan siang sama-sama.” Jawab Clara muncul tiba-tiba dari arah dapur mengagetkan keduanya. Clara menggandeng tangan Gilang seraya menuntunnya ke ruang makan. Sementara Ayesha mengikutinya dari belakang.

“Mas, masakan Ayesha enak ya?” Puji Clara. Gilang hanya mengangguk sambil tersenyum menatap wajah cantik Ayesha.

“Aku mau juga dong belajar masak sama Ayesha.” Tambah Clara.

“Boleh kok, Mba.” Balas Ayesha dengan wajahnya tersenyum tulus.

Hati Gilang merasakan sesuatu yang sangat sejuk dan bahagia ketika keluarganya kompak dan hangat seperti ini. “Ya Allah, Anugerahkanlah selalu keluarga kami dalam ridha dan kasih-Mu. Agar kehangatan ini terus berlanjut.” Gumamnya.

Dalam beberapa hari ini kebiasaan Gilang pun banyak berubah. Ia juga sudah melaksanakan shalat lima waktu secara rutin. Dikarenakan setiap kali dia membuka ponselnya selalu ada pesan dari Ayesha untuk selalu tidak meninggalkan shalat. Meskipun dulu sikap Gilang acuh dan mengabaikan pesan tersebut. Baru sekarang Gilang menyadari kebaikan dan ketulusan istri pertamanya itu. Ditengah-tengah pembicaraan, tiba-tiba Gilang berkata,

“Nanti malam aku mau tidur di kamar Ayesha  ya,” Ucap Gilang pelan. Tersontak Ayesha mendengarnya, sampai-sampai kedua istrinya hampir tersedak saat menelan makanan.

“Tapii.. Mm...” belum selesai kata-kata dari Clara. Langsung Ayesha menjawabnya dengan cepat.

“Boleh Mas, Aku bahagia banget,” jawab Ayesha dengan mata yang berbinar-binar dan pipinya agak kemerah-merahan entah karena tersipu malu ataupun menahan senang yang luar biasa.

Sejak tiga bulan yang lalu mereka menikah, Gilang belum pernah menyentuh Ayesha layaknya seperti suami istri, dan baru dalam beberapa hari ini Gilang memperlakukan Ayesha dengan baik dan bahkan ingin menjadikan Ayesha istri seutuhnya seperti apa yang telah dilakukannya kepada Clara. “Aku janji akan bersikap adil terhadap kedua istriku,” gumam Gilang.

 

Terasa makin panas saja hati Clara siang ini sehingga bisa mengalahkan sejuknya udara yang mendung disertai angin sepoi-sepoi seakan-akan menyertai kebahagiaan Ayesha. Bi Lilis yang tidak sengaja mendengar percakapan majikannya berkali-kali mengucapkan syukur atas berubahnya sikap tuan Gilang kepada istri pertamanya. “Benar kata  Non Ayesha, Allah itu tidak tidur, sangat mudah bagi-Nya untuk membolak-balik hati setiap hamba-hamba-Nya,” gumam Bi Lilis. Asisten rumah tangga itu sejenak teringat ucapan Ayesha saat ia menangis tersedu-sedu ketika sedang memasak di dapur. Selama tinggal di rumah Gilang Bi Lilis lah yang selalu mendengarkan keluh kesah Ayesha, dan Bi Lilis lah saksi perbuatan dan perlakuan sikap kasarnya Gilang terhadap nyonya kecilnya itu.

Meskipun demikian Clara tetap berusaha tetap tersenyum dan menyembunyikan hatinya yang sedang berkobar-kobar. Di sela-sela obrolan hangat di meja makan,  Clara menyodorkan segelas jus mangga kepada Gilang. Dengan bahagianya Gilang meminum jus mangga tersebut sampai habis, dan beberapa menit kemudian....!

Brugh!

Ayesha panik dan kaget sekali melihat tubuh Gilang limbung dan jatuh tak sadarkan diri di lantai.

“Mas... Mas kenapa Mas..?” Ayesha panik dan terus menepuk-nepuk pipi suaminya berusaha membangunkannya. Tak ada pergerakan dari Gilang sedikitpun. Wajahnya langsung pucat pasi. Tangannya pun sudah dingin. Ayesha panik bukan main, airmatanya terus berderai sembari memanggil-manggil nama suaminya. Sementara itu Clara malah menyibukkan diri dengan hal lain dengan ponselnya yang terus berdering.

Asyik mondar mandir ruang tengah, kamar dan ruang tamu seperti ada yang mencurigakan.

“Ayesha..! kamu jangan sok panik dan sedih ya!.” Kecam Clara.

“Maksud Mba Clara apa?” Jawab Ayesha kaget dengan muka memerah akibat menangis tak henti-henti.

“Kamu apakan Gilang sampai dia pingsan begini?.” Ketus Clara.

“Saya enggak ngerti apa yang mba Clara katakan...”

“Ayuk lah Mba kita bawa Mas Gilang ke rumah sakit.” Melas Ayesha tanpa menghiraukan pertanyaan Clara. Menurutnya untuk saat ini keselamatan Gilang yang paling utama. Ia kelelahan berusaha sendiri untuk menggotong badan Gilang yang sudah agak berisi itu.

“Kamu kasih racun kedalam gelasnya Gilang kan?.” Tuduh Clara

“Apaaa...?! tidak mungkin mba.. itu fitnah!!”

Sementara itu di luar sana sudah ada mobil polisi dan beberapa anggotanya. Dan segera dipersilahkan masuk oleh Clara untuk menyelidiki apa yang telah dilaporkan Clara. Suasana di rumah mewah nan megah itu terus terjadi perdebatan yang kian memanas. Ayesha terus menangis akibat tuduhan kejam yang dilontarkan Clara. Clara terus menyudutkan Ayesha bahwa ia ingin membunuhnya akibat cemburu karena Gilang lebih mencintai istri keduanya. Ayesha terus berkata “Itu fitnah Pak, itu tidak benar. Saya bukan pembunuh dan tidak ada niat untuk membunuh siapapun.” Ayesha terus menangis tiada henti, ia ingin menemani suaminya yang sedang sekarat. 

Di sisi sudut pojok dapur terlihat seorang wanita paruh baya yang baru saja tiba dan menyaksikan perdebatan itu tanpa berani turut campur dikarenakan takut dengan ancaman Clara. Gilang dilarikan ke rumah sakit dengan ambulans yang telah dihubungi polisi. Sementara Ayesha langsung di bawa ke kantor polisi untuk dimintakan keterangan, dikarenakan ditemui barang bukti botol racun didalam laci kamar Ayesha.

Clara tertawa riang merasa dirinya sudah menang. Sambil memperhatikan pajangan pigura di dinding ruang tamu “Mampus kamu Gilang..! semua hartamu akan menjadi milikku, Dan kamu Ayesha sampai membusuk di penjara. hahaaaahaaaa...” Clara larut dengan kemenangannya di rumah tanpa memperhatikan siapapun lagi. Baginya Gilang sudah mati dan harta Gilang akan menjadi miliknya.

 

Di lain tempat. Ayesha terus menyatakan dirinya tidak bersalah dan tidak melakukan apapun. Dia terus memohon kepada petugas polisi untuk membawanya ke rumah sakit. Dipikirannya hanyalah Gilang. Ayesha hanya ingin memastikan keadaan suaminya baik-baik saja. Ia sangat khawatir dengan suaminya itu.

“Pak, Non Ayesha tidak bersalah.” Ucap Bi Lilis mengagetkan semuanya.

“Bi Lilis...” Lirih Ayesha dengan matanya yang sembab dan bibirnya bergetar.

“Ibu siapa?” Tanya salah seorang petugas dari kepolisian.

“Saya ART di rumah Non Ayesha dan Tuan Gilang, saya menyaksikan sendiri perbuatan Mba Clara, Pak. Semuanya ini adalah perbuatan Mba Clara untuk memfitnah non Ayesha. Ini video yang sempat saya rekam ketika mba Clara menaruh racun kedalam jus milik tuan Gilang.” Jelas Bi Lilis.

***

 

“Diantara penyesalan terbesar kelak pada hari kiamat adalah ketika engkau melihat amal ketaatanmu berada di timbangan kebaikan orang lain. Oleh karenanya, berhati-hatilah dengan ghibah dan mengadu domba. Dan orang yang paling tercela adalah tukang fitnah, maka Tahanlah lisanmu.”

 

[Tahajud Cinta, EPR]

TC 9

Meninggal

 

Ayesha dan Bi Lilis larut dalam kesedihan dikarenakan nyawa Gilang tak tertolong. Keluarga besar Pratama sangat terpukul atas meninggalnya putra pertamanya itu dengan cara yang sangat keji diracun oleh istri keduanya. Sementara kini Clara mendekam di penjara.

Di pemakaman terdengar pilu dari suara orang yang menghadiri tempat istirahat terakhir Gilang. Dari arah depan, belakang, samping kiri dan kanan, semuanya mengeluarkan suara yang sama. Rasa sedih jika orang tersayang pergi untuk selamanya tentu tidak bisa dihindari. Keluarga besar Pratama dan Diana turut berbelasungkawa atas meninggalnya putra sulung dari Pratama. Banyak klien dan semua karyawan dari perusahaan juga ikut mengantarkan Gilang ketempat peristirahatan terakhirnya. Kecuali adik semata wayangnya Kavindra yang sedang sibuk dengan ujian kuliahnya di Amerika.

Salah satu diantara ratusan orang yang terlihat sangat sedih dan terpukul di pemakaman ini, seorang gadis yang berpakaian serba hitam yaitu Ayesha istri pertama dari Gilang Andrean Putra Pratama. “Kenapa kamu pergi secepat ini, Mas? Terimakasih atas kebaikan yang telah kamu berikan selama ini.. meskipun sangat singkat aku bahagia.. Aku mencintaimu, Mas? Semoga engkau juga bahagia disisi-Nya..” Gumam Ayesha sambil membelai pusara Gilang, seketika bulir bening jatuh di pipinya.

“Pa.. kenapa Gilang harus meninggal dengan cara seperti ini?” Ujar bu Diana yang duduk di samping pak Jehan sambil merebahkan kepalanya ke bahu suaminya.

“Sabar, Ma.. ini semua takdir yang Maha Kuasa. Kita tidak mengetahui apa hikmah dari semua ini. mungkin juga Allah bisa mengampunkan segala dosa-dosa anak kita.” Jelas pak Jehan sambil menatap istrinya dengan lembut dan berurai air mata.

In sya Allah, semoga Gilang husnul khatimah..” lanjut bu Diana lagi.

“Aamiiin...” Kematian adalah sebuah kepastian yang pasti menghampiri setiap manusia. Dalam ayat lain Allah SWT berfirman yang artinya: ‘Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.’ (Q.S. Al-Anbiya:35)

Tidak ada yang abadi di dunia ini, dunia ini hanya tempat persinggahan untuk menuju rumah di akhirat. Tidak ada seorang pun yang bisa menghindari dari kematian yang sudah ditakdirkan oleh Allah SWT. Kematian tidak memandang usia, jabatan, paras, waktu dan lain sebagainya. Siap tidak siap, kematian itu pasti akan tiba. Cinta dan kematian adalah dua hal yang pasti akan dihadapi oleh setiap insan, oleh karenanya jangan pernah takut untuk menghadapinya.

***

Ayesha terus mengurung diri di kamarnya. Sejak ditinggal Gilang, Ayesha ditemani Abi dan Umminya dan sesekali disambangi oleh keluarga mertuanya kecuali Kavindra. Sementara Kavindra sedang sibuk dengan kuliahnya di Amerika. Dia hanya diberitahukan melalui telfon yang bahwa Gilang sudah meninggal dunia akibat diracuni istri keduanya. Diana dan Jehan baru mengabari Kavindra tentang poligami yang dilakukan Gilang terhadap Ayesha. Mereka tidak ingin mengganggu konsentrasi Kavindra yang sedang kuliah di sana. Makanya mereka menutupi masalah ini dari Kavindra. Betapa kaget dan terkejutnya Kavindra saat mendengar berita itu. Kavindra sangat kecewa dengan sikap mas Gilang yang rela menduakan Ayesha. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa dan semua sudah berlalu. Nasi sudah menjadi bubur. Sekarang tugas Kavindra adalah meracik kembali bubur tersebut agar menjadi lebih enak dan sempurna. Kavindra juga sangat sedih saat mendengar kabar meninggalnya Gilang dan membayangkan kondisi kakak iparnya itu sekaligus mantan kekasihnya dulu. “Ayesha sudah sangat mencintai mas Gilang sampai-sampai sudah tiga bulan berlalu dia masih saja murung,” gumamnya. Sementara jauh dilubuk hatinya yang paling dalam Kavindra masih saja mengukir nama indah Ayesha. Ya, Kavindra masih sangat mencintai Ayesha. Meskipun Kavindra tinggal di negeri seberang, namun jiwanya masih tetap di Indonesia.

Setelah kepergian Gilang untuk selama-lamanya, pelan-pelan Ayesha memudarkan keceriaannya. Ayesha menjadi sosok yang lebih diam, hanya senyum yang masih menempel pada gurat wajahnya tanpa ada tawa. Ayesha merasa disaat Gilang sudah mulai membukakan hati untuknya, disaat itu pula Ayesha merasakan kebahagiaan yang tiada tara. Ayesha baru saja merasa dicintai, dihargai dan disayangi oleh suaminya setelah berbulan-bulan ia menantinya. Tapi kenapa Allah justru memanggilnya. Air mata Ayesha kembali menetes saat mengenang kebaikan dan kelembutan yang disajikan oleh suaminya meskipun hanya sesaat. Untuk melupakan kenangannya di rumah itu, Ayesha memilih kembali ke Yogyakarta yaitu tempat ia dilahirkan dan dibesarkan bersama orang tuanya.

***

 

“Kita tidak pernah tahu kapan kematian akan menjemput kita, namun yang pasti kita tahu seberapa banyak bekal yang kita miliki  untuk menghadap-Nya. Hidup ini seperti buku. Cover depan adalah tanggal lahir, cover belakang adalah tanggal kematian. Tiap lembar adalah hari-hari dalam hidup kita.”

       

                [Tahajud Cinta, EPR]

TC 10

Lembaran Baru

 

Tiga tahun kemudian....

Kriiingg.. kriingg...

Ayesha langsung meraih ponsel-nya saat di lihat dilayar yang muncul adalah unknown number. “Lagi dan lagi,” batin Ayesha penasaran dengan nomor yang tak dikenal itu. Namun, ia tidak menghiraukan unknown number tersebut meskipun kejadian itu sudah lebih sebulan karena sedikitpun tidak mengganggu dirinya. Meskipun tidak menyimpan nomornya, Ayesha sudah sangat hafal dengan nomor tersebut. Ayesha menganggap si pemilik unknown number itu secara tidak langsung menginginkan dirinya untuk setiap malam ber-tahajud dan selalu bermunajat kepada Allah. Karena selalu membangunkannya disaat jam menunjukkan tepat pukul 03.00 dini hari. Tidak ada pesan apapun, namun hanya sekedar misscall saja. Kini ia telah bersahabat dengan pemilik unknown number tersebut.

Ayesha langsung bangun berjalan ke kamar mandi untuk mengambil wudhuk. Menurut Ayesha, selama ia menjalankan tahajud dengan istiqamah, hatinya terasa lebih tenang dan tenteram. Ia menghabiskan waktu sepertiga malam tersebut dengan shalat dan membaca Ayat-ayat Al-Qur’an. Secara tidak langsung ia justru berterimakasih kepada pemilik unknown number itu yang setiap malam membangunkan ia untuk ber-tahajud serta ia juga mendoakan suatu saat bisa dipertemukan dengan orang pemilik unknown number tersebut.

Waktu menunjukkan pukul 07.00 Ayesha bersiap-siap berangkat ke kampus. Ya, setelah setahun ia meninggalkan Jakarta, akhirnya bujukan Abi dan Ummi berhasil agar Ayesha bisa melanjutkan kuliah kembali di kota kelahirannya. Hermawan dan Indah juga merasa menyesal dan bersalah atas keputusan yang telah diambil empat tahun yang lalu untuk kehidupan putri semata wayangnya. Ayesha telah bercerita semua tentang perihal kehidupan rumah tangganya empat tahun yang lalu bersama Gilang. Saat ini Hermawan dan Indah fokus memberikan kesempatan untuk putrinya agar bisa belajar, berkarya dan menggapai cita-citanya selayaknya gadis seumuran dia. Di umur 22 tahun ini Ayesha sudah mencapai semester akhir.

***

Ayesha : “Sudah masuk belum Ra?”

Nadira  : “Belum, tapi cepetan ya, Tumben belum sampai?”

Ayesha : “Iya, ban motorku bocor, eh sudah dulu ya Ra, ini

                   sudah selesai.”

Dengan langkah tergesa, Ayesha masuk ke kelasnya. Dari jarak beberapa meter, dia melihat sekilas seseorang masuk ke kelasnya. Ayesha sangat yakin kalau itu pasti dosennya. Ya Allah, semoga diijinkan untuk masuk, doanya. Ayesha sangat khawatir, karena ini pertama kalinya dia terlambat.

Ayesha mengetuk pintu dan minta ijin untuk masuk. Dia melihat dosennya sedang membelakanginya, sepertinya sedang meletakkan ranselnya di kursi. Dari ekor matanya, Ayesha merasa dosen itu memperhatikannya. Tapi berhubung Ayesha merasa gugup karena baru pertama kalinya terlambat, dia tidak berani menoleh lagi kedosennya, karena yang terpenting saat ini dia diijinkan masuk dan mengikuti kuliah perdananya. Ayesha melihat Nadira sahabatnya yang memberikan kode tangan kepadanya kalau dia sudah menyiapkan kursi untuknya. Dengan segera Ayesha menghampiri sahabatnya dan duduk di sebelahnya.

“Tenang-tenang Sha” ucap Nadira  begitu melihat Ayesha yang masih terlihat panik. Sahabatnya sangat tahu bahwa keterlambatannya ini baru pertama kali dialami Ayesha. Memang Ayesha anaknya pintar dan rajin jadi jarang terlambat bahkan belum pernah dan ini sekalinya. Makanya nilai-nilai kuliahnya bagus. Meskipun Ayesha sempat menganggur setahun, namun tidak membuatnya ketertinggalan termasuk usianya, dikarenakan Ayesha lebih cepat setahun masuk sekolah dibandingkan teman-teman lainnya.

“Ya Allah, deg-degan aku Ra, aku udah takut banget kalau nggak diijinkan masuk tadi.” Ucapnya.

“Iya, untung dosennya baik ya Sha, kamu masih boleh masuk.”

“Kamu kenapa telat?” bisik Nadira

“Tadi ban motor aku bocor. Ya gak tahu juga ya namanya juga musibah.” Ucap Ayesha sambil menghembuskan nafasnya.

“Eh, tadi pas masuk, pak dosen itu ngelihatin kamu terus lho Sha. Ekspresi beliau seperti baru menemukan orang yang dicarinya begitu lho.”

“Ah, bisa-bisanya kamu itu Ra, sejak kapan kamu jadi cenayang?”

“Eh...... Beneran aku nggak boong.”

Maa syaa Allah Sha, dosennya guanteng banget.. Coba deh lihat ke depan.” Ucap Nadira lagi.

“Bentar... bentar aku ambil bolpoin dan binderku dulu.” jawab Ayesha sambil membuka-buka tasnya. Dia masih tidak tertarik dengan sosok yang dikagumi sahabatnya itu, eh mungkin malah teman-teman sekelasnya bahkan sekampusnya itu, karena sekilas Ayesha mendengar kasak kusuk dari sebelah kanan kirinya yang bilang kalau dosennya ganteng. Tidak lama kemudian terdengar suara deheman dari depan.

“Sudah siap dimulai?”

“Sudah Paaaaakk.” jawab teman-teman. Tumben teman-temannya kompak banget, batin Ayesha yang masih sibuk mengeluarkan binder dan mematikan HP-nya yang tadi lupa di non-aktifkan.

Assalamu’alaikum, selamat pagi semua,” kata dosen itu.

“Wa’alaikumsalam. Pagi Paaak.” Teman-teman menjawab semangat. Kompak banget sih mereka ya.

Setelah selesai menyiapkan peralatan kuliahnya, Ayesha segera mengalihkan perhatiannya ke depan. Betapa kagetnya Ayesha saat melihat sosok yang berdiri di depan kelasnya.

Itukan....

Seketika juga Ayesha ingat kejadian tiga tahun lalu, saat dirinya masih menjadi mahasiswa baru.

 

Flashback..........

Waktu itu adalah hari orientasi bagi MABA di kampus barunya. Saat itu bagi para MABA diberi tugas untuk meminta tanda tangan pada kakak kelasnya alias senior. Seperti halnya siang ini, saat istirahat sholat dan makan siang, para mahasiswa baru memanfaatkan kesempatan yang ada, termasuk salah satunya Ayesha, mahasiswa baru jurusan Akuntansi. Banyak teman-teman yang mencari seniornya untuk diminta tanda tangan. Saat berada di lantai dua kampusnya, Ayesha melihat seorang laki-laki berkacamata, berpostur tinggi, kulitnya putih bersih serta brewokan, jika dipandang sekilas hampir mirip pria yang berasal dari Pakistan serta ia menggunakan seragam ospek. Pria tersebut sedang menempel selembar kertas di papan pengumuman yang bersebelahan dengan papan mading. Melihat kesempatan yang ada, Ayesha pun menghampirinya.

“Permisi Kak, boleh saya minta tanda tangannya?”

Pria itu menoleh dan kaget tapi tidak lama kemudian tersenyum dan beradu pandang dengan Ayesha. Seraya jantung Ayesha hampir copot saat menatap mata pria tersebut. “Astaghfirullah...” batin Ayesha. Seakan-akan Ayesha sangat mengenal bola mata yang menatapnya penuh kehangatan. Namun, buru-buru Ayesha menghapus lintasan wajah dan mata seniornya itu.

“Oh, ya..ya, sini bolpoinnya,” katanya.

Dia lalu meminta buku Ayesha dan memberikan tanda tangannya. Tidak lupa di bawah tanda tangannya ditulis namanya sendiri, K. Syahreza Putra. P

Apa beliau dosen disini? Berarti waktu itu...

Tapi kenapa saat itu ia memakai seragam ospek yang dipakai kakak-kakak senior ? Atau beliau adalah dosen baru kah? Ayesha masih terkejut dengan apa yang dilihatnya.

“Heh malah melamun ? terpesona ya ?” bisik Nadira ditelinganya.

“Ng..nggak lah”

“Habis sih diperhatiin bengong aja gitu, aku ngajak ngomong, kamunya malah melamun”

“Dia dosen baru Ra?” tanya Ayesha pelan.

“Nggak tau, aku juga baru liat”

“Ehem..” Tiba-tiba terdengar suara berdehem dari depan lagi.

“Bisa fokus ya” katanya lagi. Kata-katanya seperti menegur Ayesha yang masih terlihat kaget, karena saat mengucapkan kalimat ini dosen didepan berbicara sambil melihat ke arah Ayesha.

“Hari ini pertama kali saya masuk di kelas kalian ya?”

“Iya Pak”

“Ada yang kaget ?”

“Kaget Pak, nggak nyangka kampus ini  memiliki dosen yang ganteng banget seperti bapak” jawab Mila dengan percaya diri. Mila adalah salah satu teman Ayesha yang memang memiliki tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi. Jawaban yang disampaikan Mila tentu membuat teman-teman yang lain semakin heboh.

“Sudah-sudah tenang dulu ya. Kita perkenalan dulu okey?” ucap beliau lagi

“Okey siapp pak”

“Nama saya Reza, lengkapnya K. Syahreza Putra. P.” sambil menulis di papan tulis.

“Cukup nama saja kan?” Canda Pak Reza sambil tertawa.

“Yaahh,, kok nama saja sih pak” Ucap Mila lagi.

“Oke.. kalian mau tanya apa lagi, tapi jangan banyak-banyak ya, ntar kita habis waktu dengan perkenalan saja?” jawabnya lagi

“Umur?”

“Hobby?”

“Alamat?”

“Makanan Favorite?”

“Dan yang paling penting statusnya dong Pak?”

“Banyak sekali pertanyaannya. Baiklah nanti akan saya jawab satu persatu saat kita break nanti yaa..” Ucapnya sambil tersenyum. Jangan heran, yang bertanya mayoritas cewek-cewek semua. Sedangkan Ayesha? Dia lebih memilih diam saja.

“Pak untuk status dijawab sekarang terus dong pak?” ucap Nada.

“Ehmm... status ya? Kenapa?

“Ya agar kami bisa memetakan diri apa masih punya kesempatan untuk deket dengan bapak” Jawab Mila tanpa filter. Ya ampun nih bocah.

“Okee. status saya masih single. Doakan ya semoga segera berubah status saya ya?!” Semuanya langsung mengaminkan doa dari pak Reza.

“Memang bapak sudah ada calon ?” tanya Mila lagi.

“Emm.. In sya Allah sepertinya saya menemukannya,” sambil melirik kearah Ayesha.

Ayesha yang melihatnya langsung gugup dan deg-degan. Ayesha sendiri sangat bingung sejak melihat pria itu jantungnya selalu berdebar-debar. Apalagi sekarang ini ia sudah berada di depannya. Ia merasa saat menatapnya seakan-akan sudah mengenal sudah lama.

Kok melihatnya ke arahku.

Astaghfirullah.... jangan baper dong Sha, batinnya.

“Apa bapak dosen baru disini?,” tanya Angga. 

Pak Reza pun tersenyum ramah.

“Saya bukan dosen baru disini. Oh iya, mungkin baru untuk kalian ya. Saya baru saja kembali dari studi saya di luar, jadi baru bertemu kalian di semester enam ini. Ehm... tapi saya sepertinya masih melihat kalian waktu masa orientasi. Kalau tidak salah, kalian pernah diberi tugas untuk minta tanda tangan ke senior bukan?”

Degh...apa maksudnya ini. semoga beliau lupa ya Allah..

“Iya Pak, dulu pernah. Tapi bapak bukan salah satu yang diminta tanda tangan kan Pak?” tanya Angga lagi.

“Kenapa bertanya seperti itu?”

“Ya, kalau lihat Bapak pakai seragam seperti kakak senior pasti bapak tidak keliatan seperti dosen.”

“Kalau benar ada, bagaimana?”

“Hah, masa sih Pak” jawab Hendri kaget. Ayesha yang mendengarnya hanya menunduk malu jika mengingat kejadian itu, sedangkan teman-teman yang lain tertawa mendengar jawaban dari Pak Reza. Seolah tahu apa yang dirasakan Ayesha, Pak Reza pun mengalihkan pembicaraannya ke topik yang lain.

“Sudah ya kita lanjutkan lagi. Saya akan menjelaskan tentang mata kuliah yang saya ampu di kelas kalian. Termasuk sekilas tentang materi yang akan kita pelajari bersama dan kontrak kerja belajar selama satu semester ke depan”

***

 

‘Universitas Hijau Muda’ merupakan kampus baru yang didirikan sekitar lebih kurang lima tahun  yang lalu. Kampus tersebut merupakan milik sang CEO muda yang memimpin beberapa perusahaan, baik yang ada di luar negeri maupun di dalam negeri. Kini ia telah berhasil mendirikan sebuah universitas yang bernama ‘Universitas Hijau Muda’ atau disingkat UHM. Universitas tersebut diberi nama hijau karena tempatnya yang rindang banyak pepohonan dan sangat asri. Muda bermakna jiwa pemiliknya yang masih sangat muda saat ini. Di usia yang masih cenderung belia sudah mampu mengembangkan usaha dari warisan orang tuanya.

 

***

 

 

“Rencana Allah untukmu adalah lebih baik dari rencanamu. Terkadang Allah menghalangi rencanamu dengan mendatangkan berbagai cobaan untuk menguji kesabaranmu. Maka perlihatkan kesabaran yang indah, karena tidak lama engkau akan melihat sesuatu yang membuatmu gembira.”

             

             [Tahajud Cinta, EPR]

 

 

 

 

 

 

 

 

TC 11

Pengagum Rahasia

 

Sore hari sekembalinya Ayesha dari kampus, dia langsung masuk kamar untuk mengistirahatkan badannya. Tiba-tiba terdengar suara dering panggilan dari ponsel nya. Dilihatnya layar dari benda pipih yang ada di atas nakas samping tempat tidurnya.

 

Unknown number is calling.......

“Pasti hanya miscall doang..” gumamnya. Ayesha telah terbiasa dengan panggilan unknown number itu. Ia tidak mengambil pusing hanya karena nomor tak dikenal itu, selama ia tidak terganggu. Bahkan sejak sering masuk panggilan dari unknown number, Ayesha sudah bisa membuka hatinya kepada orang lain karena banyak nasehat-nasehat dari pemilik unknown number itu. Ayesha berdoa dalam tahajudnya untuk dipertemukan dengan seseorang yang bisa membimbingnya ke jalan yang lebih baik. Tidak lupa juga ia menyelipkan doa untuk pemilik unknown number  itu agar dapat dipertemukan secara langsung karena Ayesha ingin mengucapkan terimakasih kepadanya yang telah mengubah hari-harinya menjadi lebih berwarna dibandingkan sebelum-sebelumnya. Saat Ayesha bertanya tentang siapa pemilik unknown number, ia menjawab “suatu saat di waktu yang tepat kita pasti akan ketemu.” Selalu dan selalu itu jawabannya. Akhirnya Ayesha pasrah dengan pertanyaannya, dan ia hanya menerima saja apa yang dikatakan sang pemilik unknown number itu.

Tiba-tiba masuk pesan dari Whatshapp-nya.

Aku.. salah satu pengagum rahasiamu.

Aku.. yang menatapmu dari kejauhan penuh harap.

Aku.. yang selalu mendoakan akan kebahagiaanmu dari sejak aku menengenalimu.

Aku.. yang hanya mampu meneteskan air mata ketika rindu menyerbu.

Aku.. yang menangisimu sambil tertawa.

Aku.. yang ingin berada disisimu dalam keadaan apapun.

Aku.. yang ikhlas melihatmu bahagia.

Aku.. hanya mampu diam dikala kamu tak menghiraukanku

Aku.. yang selalu menyebut namamu dalam sujud tahajud-ku.

Aku.. yang berharap kamulah yang menjadi takdirku.

Aku.. yang berharap kamu menjadi cinta pertama dan terakhirku.

Untukmu yang selalu kusebut dalam doa, izinkan aku menjadi bagian dari hidupmu

 

                        (Pengagum Rahasiamu)

 

Jantung Ayesha berdetak kencang. Jari-jarinya terasa lemas. Dia sama sekali tidak menyangka kalau unknown number-nya itu bisa nge-chat dia dengan kata-kata seperti itu. Biasanya yang dikirim selalu tausiyah, nasehat agama dan selalu mengingatkan Ayesha agar selalu istiqamah dengan tahajudnya disertai dengan penanda ‘pengagum rahasia’. Tetapi hari ini kalimat yang dikirim seakan-akan dia sudah sangat lama memantau dan mengenal Ayesha. Seketika kepala Ayesha pusing dan matanya berkunang-kunang memikirkan siapa sebenarnya pengagum rahasia-nya itu. Ayesha terlihat sangat shock. Akhirnya ia pingsan diatas tempat tidurnya.

***

 

Tok tok tok

“Sayang... sarapan dulu nak? Ntar makanannya keburu dingin lho,” ucap Indah dibalik pintu.

“Iya Mi, ini Sha sudah mau siap berangkat kuliah,” jawab Ayesha  dengan senyuman manisnya.

Mereka menikmati sarapan dengan khidmat. Setelah mengakhiri makannya Hermawan menatap putrinya dengan senyum yang mengembang.

“Bagaimana kuliahmu Nduk?”

“Aman Bi, Sha seneng banget bisa kuliah dikampus itu. Tidak terasa Sha  udah masuk semester enam lho, Bi.”

Alhamdulillah.. Abi seneng dengarnya?”

“Oh iya Bi, Mi.. Sha  belum cerita ya tentang dosen baru kami. Dia ganteng, muda dan pinter banget, ehmm....” Sebelum melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba ponsel Ayesha berbunyi dan tertera nama Nadira di layar benda pipih milik Ayesha tersebut.

 

Nadira  : (Assalamu’alaikum, Sha lagi dimana?)

Ayesha : (Wa’alaikumsalam, di rumah nih!)

Nadira  : (Aku nebeng sama kamu boleh ke kampus?)

Ayesha : (Bolehh.. emang motormu kemana?)

Nadira  : (Ntar deh, aku ceritain di kampus, buruan ya..?

   kita kan ada kuis hari ini)

Ayesha : (Wokehh,, iyaya. Aku tutup dulu ya)

Nadira  :  (Assalamu’alaikum)

Ayesha :  (Wa’alaikumsalam)

 

“Ummi, Abi.. Sha  berangkat duluan yaa..”

“Assalamu’alaikum.” Ucap Ayesha sambil menyalami tangan Hermawan dan Indah Lestari.

Wa’alaikumsalam warahmatullah..” Jawab mereka serempak. Setelah menyelesaikan sarapan pagi dengan orang tuanya, Ayesha bergegas berangkat ke kampus dikarenakan hari ini ia akan ada kuis dengan Pak Muhammad dosen mata kuliah Agama.  

                                                ***

 

Alhamdulillah.. selesai juga kuis kita hari ini”

“Iya. Eh, Ra.. emang kenapa dengan motormu?”

“Mas Andre tu pinjem motorku semalem, katanya sebentar ke rumah temennya. Sampe pagi belum pulang-pulang.”

“Oh, gitu ceritanya. Terus nanti biar aku saja yang nganterin kamu yaa..?”

 

Drrrttt..

“Eh, ada Whatshapp nih dari Mas Andre..”

Mas Andre : Sorry gemoy, Mas baru pulang nih..   

                       motor sudah di antar ke kampus ya? Kunci    

                       Mas titip di Pos Satpam, Mas berangkat ke  

                       kampus dulu yaa..

Nadira         : Iya, Mas.. Mas ke kampus pakai apa?

Mas Andre : Bareng sama Ikhsan sampe ke bengkel.

Nadira          : Oke, Mas.. hati-hati di jalan.. bye!

Mas Andre : Salam kali, Assalamu’alaikum..

Nadira         : Ups! Sorry Mas-ku.. Wa’alaikumsalam..

 

“Kayaknya ga perlu Sha, makasih ya.. motorku sudah dianter tuh sama Mas Andre di parkiran.”

“Yups”

Waktu sudah menunjukkan waktu dzuhur. Disitu Ayesha dan teman-temannya bergegas menuju musholla untuk melaksanakan shalat dzuhur. Mereka dengan semangatnya menuju musholla. Bukan hanya sekedar shalat dzuhur, mereka juga memanfaatkan waktu dzuhur ini untuk sekedar ngadem dan istirahat setelah beberapa jam mengikuti mata kuliah. Karena mushalla memiliki full-AC dan sangat nyaman. Selesai mengambil wudhuk Ayesha bergegas masuk kedalam musholla kembali. Ayesha mulai melaksanakan kewajibannya itu sebagai muslimah sejati. Ayesha shalat di shaf ketiga. Shaf pertama dan kedua diisi oleh laki-laki yang sedang melaksanakan shalat. Musholla tersebut saat itu belum memiliki pembatas semacam kain atau gorden untuk membatasi laki-laki dan perempuan melaksanakan shalat. Alhasil, Ayesha bergabung dengan laki-laki saat melaksanakan shalat.

Selesai shalat...

Assalamu’alaikum warahmatullah...”

Assalamu’alaikum warahmatullah...”

Tuntas Ayesha mengucap salam diakhir, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya yang dibaluti mukena berwarna biru muda kesukaan Ayesha.

Ketika Ayesha melihat kedepan, ke shaf paling depan..

 

Degh !!

Disitu ada Pak Reza yang terlihat baru selesai melaksanakan shalat. Pak Reza yang memakai baju koko putih dan celana panjang hitam itu duduk masih dengan posisi duduk tahiyat akhir. Ayesha benar-benar kaget. Ketika Pak Reza menoleh kesekitar, Ayesha buru-buru mengangkat kedua tangannya dan berdoa. Berdoa dengan posisi kedua tangan menangkup wajahnya sehingga wajahnya tidak terlihat. Dan yang Ayesha doakan saat ini adalah ..

“Ya Allah... Astaghfirullah... Ya Allah.. ampuni dosa-dosa hamba ya Allah..  jangan sampe Pak Reza liat.. jangan sampe.. deg-degan Astaghfirullah...

Sepenggal doa Ayesha yang masih sebisa mungkin menetralkan detak jantungnya. Ayesha bahkan sesak menahannya. Rasanya sampai-sampai takut kalau orang-orang sadar kalau Ayesha sedang merasa deg-degan tak karuan. Setelah itu Ayesha memberanikan diri memperhatikan Pak Reza. Tiba-tiba Pak Reza bangun melewati Ayesha, disitu Ayesha sontak menundukkan kepalanya tapi setelah Pak Reza lewat Ayesha langsung melirik ketempat Pak Reza berlaju.

Subhanallah..” batin Ayesha bermuhasabah. Ayesha kira Pak Reza akan keluar karena sudah selesai shalat. Tapi ternyata Pak Reza melewati Ayesha untuk mengambil Al-Qur’an di dalam lemari yang letaknya disebelah Ayesha. Entah kenapa Ayesha merasa.. Kagum.. sekali lagi. Dan lagi lagi.. Ayesha kagum pada Pak Reza. Ya.. sejak pertama kali bertemu dengan Pak Reza diam-diam Ayesha mengaguminya. Rasa itu hampir sama dengan rasa kagum kepada Kavindra cinta pertamanya dulu. Ayesha sering merasa deg-degan tak karuan. Ia merasa bingung dan bimbang sendiri, ada apa gerangan dengan dirinya. Sementara beliau adalah orang asing baginya. Ayesha sendiri sudah merasa hatinya selama ini kosong, seakan tak ada tempat lagi bagi laki-laki yang bisa meluluhkan hatinya.

 “Kenapa aku selalu deg-degan ya, saat ketemu dengan beliau. Padahal sebelumnya belum pernah ketemu deh.. tapi...” gumam Ayesha. Sebelum sempat ia melanjutkan kata-katanya tiba-tiba dikejutkan oleh temannya Nadira.

“Hehhhh.. ngelamun aja” Ayesha terkaget ketika Nadira menepuk bahunya.

“Kamu kenapa? dari tadi aku perhatiin melamun terus?”

“Ng-nggak ada apa-apa kok, Ra?” jawab Ayesha sambil merapikan kembali mukenanya dan kembali ke ruang kelasnya.

“Nggak ada apa-apa kok dari tadi melamun. Doain apa sih, kok lama banget.. jangan-jangan ngedoain Pak Reza ya..?”

Degh.. Apa Nadira tahu ya dari tadi aku merhatiin Pak Reza dan diam-diam aku kagum sama beliau, tapi kan hanya sekedar kagum.

“Hehh.. malah bengong lagi. Aku bercanda kali. Kalau bener pun ga apa-apa sih. Aku masih terdiam, masih gak nyangka kenapa akhir-akhir ini aku bisa seperti ini. Bingung sendiri dan sering deg-degan dengan dosen baru itu.

“Sudah Sha, kembali ke laptop”  Nadira mengajakku untuk kembali konsentrasi ke mata kuliah sembari menirukan kata-kata dari artis komedi Indonesia yang terkenal itu.

“Eh, kamu ngerasa nggak sih dari tadi kamu diliatin terus sama Pak Reza,” Nadira menyenggolku pakai sikunya.

Hah... masa sih. Aku kok nggak sadar kalau sudah ada Pak Reza di depan kelas.

“Hah.. ngawur kamu. Eh, sudah dari tadi ya Ra Pak Reza masuknya?” tanyaku sambil melihat ke depan, dan tidak sengaja pandangan kami bertemu.

Astaghfirullah... bagaimana aku bisa konsentrasi kalau begini.

“Sudah...lah, sejak dua jam yang lalu. Nggak.. nggak dong baru sekitar lima menitan. Bercanda,” Nadira menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya kearah Ayesha karena Ayesha mencoba mencubit Nadira.

Hah.. berarti lumanyan lama juga aku melamun ya.

Ayesha mencoba untuk konsentrasi lagi dengan mengikuti presentasi dari salah satu kelompok temannya. Selama presentasi dibuka sesi tanya jawab terkait dengan materi yang disampaikan. Lima puluh menit kemudian, presentasi pun berakhir. Masih tersisa sekitar tiga puluh menit lagi sebelum perkuliahan berakhir.

“Ada yang mau ditanyakan lagi atau mungkin perlu penjelasan dari materi yang telah dipresentasikan teman-teman kalian?”

Pak Reza memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk bertanya. Biasanya beliau memang memberikan waktu setelah presentasi berakhir, untuk tanya jawab atau menjelaskan materi yang mungkin perlu diperdalam lagi. Tiba-tiba ada suara salah satu mahasiswa teman Ayesha yang mengacungkan tangan. Seketika kami semua melihatnya. Ternyata Mila, teman kami yang memang sejak awal memiliki ketertarikan dengan dosen kami Pak Reza.

“Saya mau tanya Mas eh... Pak?” Kami tahu kalau dia memang sengaja memanggil Mas ke Pak Reza.

“Huuuu... modus lo Mil” celetuk salah satu temanku. Dan Mila pun tertawa.

“Silahkan....  Mila mau tanya apa?”

“Ehmm... kalau tidak terkait dengan materi boleh tidak pak?”

“Memangnya kamu mau bertanya apa?”

“Ehmm.. tentang bapak?”

“Maksudnya? Tentang saya bagaimana?”

“Iya tentang bapak. Tapi menurut saya, pertanyaan saya ini mewakili teman-teman saya kok pak, hanya mereka nggak berani tanya. Bagaimana pak, boleh?”

“Oh, silahkan selama tidak mengganggu privasi saya”

“Begini pak, mau tanya kriteria istri bapak itu seperti apa ya?” Setelah melontarkan pertanyaannya, secara bersamaan teman-teman sekelasku tertawa dan bersorak, sedangkan si penanya sendiri malah ikut tertawa bangga.

Pak Reza terlihat menghela nafasnya. Ayesha sendiri sudah deg-degan tak karuan. Tidak lama kemudian Pak Reza melihatku sekilas dan menjawab pertanyaan Mila.

“Ehmm... sebelum saya jawab, kenapa kamu bertanya tentang kriteria istri saya?”

“Ya... mewakili teman-teman pak, siapa tahu kami masuk dalam kriteria bapak” Mila menjawabnya dengan penuh semangat.

“Oke.. saya minta maaf kalau jawaban saya nanti agak panjang dan menyita waktu kalian. Karena saya seorang muslim, maka kriteria seorang istri saya tentu mengikuti anjuran Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadist riwayat Bukhari, wanita itu dinikahi karena 4 hal: hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Pilihlah yang memiliki agama, maka kalian akan beruntung.” Nah, dari hadist diatas, sudah jelas bagaimana kriteria istri saya. Saya akan memilih wanita yang agamanya baik. Kenapa? memilih wanita karena agama yang baik niscaya akan beruntung. Saya juga membaca dari sebuah buku, sangat manusiawi memang, jika seseorang memilih  pasangan melalui fisiknya terlebih dahulu. Karena pada dasarnya manusia menyukai keindahan. Bahkan menurut imam Al-Ghazali, menganjurkan untuk melihat kebaikan fisiknya terlebih dahulu dan sisi kecantikan dan ketampanannya. Walaupun demikian kita tidak boleh menelantarkan agama karena mementingkan fisik dan rupa, termasuk kekayaan dan nasabnya. Jadi seandainya nanti saya menemukan wanita yang shalihah, cantik, kaya dan nasabnya baik.. itu adalah rezeki dan anugerah terindah yang Allah berikan kepada saya. Begitu Mila, sudah jelas ya. Sepertinya untuk berdiskusi tentang hal seperti ini ada yang lebih kompeten membahasnya. Kalian bisa diskusi dengan Pak Muhammad, dosen mata kuliah agama. Saya rasa cukup sampai disini dulu. Kita bertemu kembali pekan depan. Saya mohon maaf jika banyak kesalahan. Tetap semangat belajarnya. Assalamu’alaikum...”

Reza pun menutup kuliah hari itu. Dia mohon ijin untuk undur diri dari kelas.

Sebelum meninggalkan ruangan, pak Reza mengirim pesan kepada seseorang melalui ponselnya.

 

***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Kagum itu merupakan hal yang wajar maka merahasiakannya merupakan hal yang sangat mulia. Jodoh itu ibarat ‘Alif Lam Mim’ ayat pertama surah Al-Baqarah, artinya yaitu ‘hanya Allah yang tahu’. ”

 

[Tahajud Cinta, EPR]

 

 

TC 12

Siapakah Malaikat Itu?

 

Setelah selesai kuliah siang ini, Ayesha menuju ruang dosen. Dia melihat dari luar kalau Pak Reza sedang ada bimbingan dengan mahasiswa. Bagaimana Ayesha bisa tahu? Karena pintunya yang dibiarkan terbuka. Ayesha melirik arloji ditangannya, pukul 11.00 WIB. Ayesha lalu duduk di kursi panjang yang ada dilorong depan ruang dosen. Dia melihat mahasiswa disebelahnya, mbak Rina, kakak tingkatnya, mahasiswa semester delapan. Mungkin mau bimbingan juga.

“Dek ?” Sapa Rina

“Eh iya..iya mbak?”

“Mau ketemu Pak Reza juga?” Rina bertanya padanya.

“Iya mbak”

“Sudah Janjian.”

“Sudah mbak”

“Eh, kamu kan belum skripsi, ada janji apa dengan Pak Reza”

Waduh, harus jawab apa aku?”

“Oh itu mbak, kebetulan saya mau ngasi tugas.. kemarin saya gak masuk,” jawabku was-was. Cukup deg-degan juga sebenarnya, untuk apa ya sebenarnya aku dipanggil ke ruang pak Reza. Dan apa hubungannya si pengagum rahasia itu dengan Pak Reza. Kalau tidak sebegitu penasarannya aku dengan dia, mana mau mengantri di depan ruang beliau seperti ini.

“Kuliah apa?”

“Manajemen Keuangan mbak.” Kakak tingkatnya itu menganggukkan kepalanya.

“Ehm... Dek menurutmu Pak Reza itu bagaimana?” tanyanya lagi. Dan sungguh pertanyaan ini cukup membuat Ayesha kaget. Ayesha juga sangat bingung dengan suasana hatinya sejak awal bertemu dengan pak Reza. Padahal selama ini hatinya seakan sudah kebal dan tertutup rapat dengan yang namanya laki-laki.

“Maksudnya bagaimana ya mbak?” tanya Ayesha bingung.

“Kamu tahu kan kalau Pak Reza itu masih single?”

“Iya mbak, saya  tahu”

“Jadi menurutmu beliau gimana?” Ayesha makin penasaran dengan pertanyaan seniornya itu.

“Ya kalau menurut saya beliau baik, pintar juga masih muda.” Jawab Ayesha apa adanya. Ayesha memang melihatnya seperti itu.

“Tau gak dek, aku itu jadi semangat banget untuk segera nyelesain skripsiku. Salah satunya karena pak Reza. Apalagi setelah beliau kembali mengajar disini dan ditambah lagi, beliau jadi dosen pembimbingku.”

Duarrr.... Ayesha sangat kaget dengan perkataan tersebut. Memang dia tidak terlalu akrab dengan Rina, hanya dekat sebatas kakak adik tingkat saja. Mungkin umurnya juga tidak beda jauh dikarenakan Ayesha sudah menganggur setahun.

“Dulu waktu selesai S-1 dari luar negeri beliau sempat mengajar sebentar, Pak Reza ini menjadi dosen idola lho, eh, sekarang juga iya. Gimana nggak seneng coba? Diajar sama dosen ganteng, cerdas, jomblo, masih muda, pengusaha sukses pula dan denger-denger kampus ini miliknya beliau lho. Hebat kan dek? tapi sayangnya kita gak ada kuliah lagi bareng beliau tapi syukur deh dapat dosen pembimbing beliau. Kadang punya keinginan bisa jadi pendamping hidupnya begitu dek, makanya aku ingin cepet-cepet lulus.” Ayesha yang mendengarkan hanya diam saja, nggak tahu harus merespon apa. Tiba-tiba mahasiswa yang bimbingan didalam, keluar dari ruangan pak Reza dan mempersilahkan Rina untuk masuk.

“Ya sudah ya dek, aku masuk dulu” pamitnya kepada Ayesha.

“Iya mbak, silahkan.”

Ayesha melihat kakak tingkatnya itu masuk. Sekitar lima menitan berlalu ada pesan masuk di ponselnya. Ayesha melihat siapa yang mengirim pesan.

Degh!!

Pengagum Rahasia: Assalamu’alaikum. Maaf ya, harus

                                      tunggu lama. Sebentar saya selesaikan ini.

Ayesha begitu kaget saat membaca pesannya itu. Sampai-sampai tangannya bergetar.. Sementara yang ia ketahui nomor ponsel yang berID-kan  Pengagum Rahasia tersebut hanya untuk memberi nasehat buat Ayesha dan menjadikan alarm untuk shalat tahajudnya. Cuma itu. Nah, sekarang kenapa seakan-akan pak Reza yang mengirim pesan tersebut. Atau ada si pengagum rahasia didalamnya.. atau temannya pak Reza.. Ah, siapakah malaikat itu?

“Ya ampuuun... jangan-jangan... Pak Reza.. si Pengagum Rahasia itu,” batin Ayesha.

“Lantas dari mana beliau mengetahui tentang aku selama ini.. siapa sebenarnya beliau..? ya Allah..,” Ayesha terus bergumam dengan beribu-ribu pertanyaan dalam benaknya. Saat kepala Ayesha diserang ribuan pertanyaan, tiba-tiba..

 

Drrrt..Drrrt...

Pengagum Rahasia:

Kamu kaget yaa.. maaf ya selama ini saya tidak menampakkan wujud saya ke kamu, sehingga kamu    begitu penasaran dengan saya. Apalagi saat ini. Nanti setelah  dzuhur saya tunggu kamu di ruang saya dan akan saya jelaskan semuanya.

Ayesha bukannya senang tapi makin galau bercampur penasaran. Siapa dia sebenarnya? Siapa malaikat itu yang telah sangat baik untuknya? Siapa Pengagum Rahasia yang ia cari-cari selama ini? Meskipun tak pernah mendengar suaranya apalagi bertemu orangnya, Ayesha merasa dia sangat berjasa atas dirinya. Yang telah membuat Ayesha bisa move on kembali dari kehidupan yang begitu kelam dan sedih. Nasehat dan motivasi dari Pengagum Rahasia-nya itu bisa mengembalikan keceriaan Ayesha seperti dulu dan yang terpenting tahajud-nya sudah istiqamah.

“Apakah hari ini Allah mengabulkan salah satu doanya? Yaitu dipertemukan dengan Pengagum Rahasia-nya.” Rasanya Ayesha sudah tidak sabaran ingin melihat orangnya lebih dekat dan mendengar dengan seksama ceritanya itu. Selama ini saat Ayesha berdekatan dengan pak Reza, jantungnya selalu berdebar-debar tak karuan. Terkadang Ayesha sendiri salah tingkah terhadapnya.

Ayesha : Baik

Dengan penuh penasaran dan deg-degan Ayesha membalas pesan singkatnya itu. Sementara didalam ruang dosennya, Reza sedang memberikan bimbingan skripsi Rina, kakak kelasnya Ayesha. Saat akan konsultasi, Reza meminta ijin ke mahasiswanya untuk mengirim pesan. Siapa lagi kalau bukan Ayesha. Reza kelihatan tersenyum. Dan hal ini membuat mahasiswanya penasaran.

“Maaf... Pak Reza kok senyum-senyum sendiri?” Kalau sudah kenal baik dengannya, Reza memang dosen yang menyenangkan. Tapi kalau belum, Reza terlihat tegas walaupun dalam kondisi tertentu.

“Kelihatan ya?”

“Sangat Pak. Ehm... Bapak sedang bahagia?”

“Iya”

“Ehm...Bapak belum menikah kan?” mahasiswa itu bertanya lagi.

“Kenapa?”

“Ya siapa tahu selama ini Bapak menempuh studi, sudah menikah begitu Pak”

“Doain saja ya.”

“Berarti yang mengirim pesan tadi bukan istrinya kan Pak?” mahasiswa itu tetap saja bertanya, untuk menutupi rasa cemasnya.

“Calon istri. In sya Allah. Ya sudah, kita lanjutkan diskusi tentang skripsimu tadi.” jawabnya tegas. Mahasiswa itupun langsung terdiam, tentu saja kaget, karena pernyataan dosennya yang terakhir sudah menunjukkan tidak ada kesempatan lagi baginya. Tapi dia harus segera bangkit untuk tetap konsentrasi kembali dan menjalani bimbingan konsultasi siang ini.

***

 

Setelah selesai shalat dzuhur, Ayesha pun naik lagi ke lantai dua, menuju ruang dosen. Dia melihat dari kaca yang ada di pintu, kalau penghuninya kosong.

Mungkin baru shalat. Batinnya.

Ayesha pun duduk di kursi panjang depan ruang dosen sambil memainkan gawainya. Kampus sudah cukup sepi jika siang hari. Nanti akan ramai lagi kalau sudah habis ashar, karena ada mahasiswa kelas sore. Sejak pertemuan pertamaku dengannya, aku terasa sudah jatuh cinta lagi pada seseorang. Entahlah.. kurasa seperti itu karena jantungku berdetak sangat cepat dan rasanya sangat nyaman, berbeda jika aku dekat dengan laki-laki lain. Aku pun terasa bingung dengan perasaanku sendiri, dan.. rasanya aku juga malu dengan statusku ini. Kalaupun suatu saat  ia menerimaku namun apakah ia akan menerima dengan statusku sekarang..? aahh,, entahlah.. ya Allah..

Tidak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki. Terdengar suara deheman yang membuyarkan lamunan Ayesha.

“Sudah dari tadi? Masuk yuk” Ayesha pun mendongakkan kepalanya. Ayesha melihat sosok badan yang kekar yang berjalan membelakanginya dan menuju ke sebuah ruangan. Dari suaranya tadi Ayesha menebak bahwa yang barusan lewat itu adalah pak Reza.

“Tunggu-tunggu, kenapa dia masuk kedalam situ? Bukannya itu ruang direktur? atau jangan-jangan pak Reza adalah...,” belum selesai melanjutkan pertanyaannya tiba-tiba masuk pesan di Whatshapp-nya.

Pengagum Rahasia : Saya tunggu di dalam

Ayesha berjalan menuju ruang yang di pintunya bertuliskan ‘Direktur’.  Jantung Ayesha berdetak lebih cepat begitu ia berdiri didepan ruangan tersebut. Entah apa alasannya, ia seperti ingin bertemu dengan idolanya saja. Mungkin karena belum siap mengetahui tentang siapa sebenarnya orang yang ia temui ini. Ayesha mencoba menghela napas pelan. Perlahan tangannya mengetuk pintu. Awalnya pelan, sangat pelan, namun masih belum ada suara dari dalam sana. Lambat-lambat, ketukan tangan Ayesha mulai keras, namun hasilnya tetap sama.

Apakah salah ruangan? pikirnya.

Akhirnya Ayesha memilih membuka pintu yang ternyata tidak dikunci. Dan hal pertama yang ia lihat adalah seorang pria berjas hitam  membelakanginya duduk di kursi yang terkesan mewah  sedang berbicara dengan seseorang lewat ponselnya. Ayesha berdiri tegak. Retina matanya menelusuri sekeliling ruangan itu yang terkesan cukup mewah dan megah.

“Pantesan tidak terdengar ketukan pintu tadi, ternyata beliau sedang menerima telpon,” gumamnya.

“Silahkan duduk.”

“Kaa...vinn...” Ayesha begitu kaget dan syok saat melihat sosok pria yang berada tepat dihadapannya. Seakan apa yang ada didepannya saat ini terasa tidak percaya dan bagaikan mimpi. Mengapa tidak? Kavindra Syahreza Putra Pratama yang dia kenal dulu seakan sudah ditelan bumi. Tidak ada kabar berita apapun lagi. Dan lost contact.

“Aku gak salah liat ? beneran ini Kavindra ?”

“Iya Sha, Aku Kavindra teman dekatmu dulu, dan akulah pengagum rahasiamu selama ini.”

“Jadi.. kamu juga menyamar sebagai pak Reza..? Ayesha memerhatikan wajah Kavindra dengan seksama, bagaimana tidak? Selama ini pak Reza yang ia kenal adalah brewokan dan berkacamata.

“Aku tidak menyamar Sha, hanya saja aku kurang mengurus diriku sendiri sejak aku berpisah denganmu, tujuan hidupku selama ini hanyalah mendekatkan diri kepada Allah dan berbakti kepada kedua orang tuaku. Dan untuk melupakanmu aku menyibukkan diri dengan bisnis/usahaku dan perusahaan Papa.

“Ya ampun Kavin, aku gak nyangka kita bisa dipertemukan kembali seperti ini, aaku.. ga tahu harus berkata apa, ntah sedih ataupun bahagia..” Ayesha terisak karena tidak menyangka orang yang dia harapkan bertemu selama ini merupakan cinta pertamanya.

Maafkan aku yang tidak berani menampakkan wujudku padamu. Aku hanya ingin menunggu kamu, Sha. Menunggu kapan kamu siap kembali menerimaku kembali, menerima cintaku, menerima menjadi pendamping hidupmu, Batin Kavindra.

“Aku bahagia Vin, seneeng.. banget melihat kamu sudah sangat berubah dan sukses seperti ini. Oh iya, sudah punya anak berapa, Vin?.” Saking bahagianya Ayesha bertanya seakan mengesampingkan perasaannya dan lupa bahwa yang dihadapannya itu adalah dosennya sendiri.

“Anak...?”

“Iya.”

“Istri pun belum, kok punya anak sih.”

“Jangan boong ah, kenalin dong sama istrinya? Pasti cantik banget kan, dan beruntung banget deh dia punya suami kayak kamu.”

“Serius Sha, aku belum menikah. Bukannya saat pertama aku ngajar di kelas kamu sudah aku cerita semuanya tentang statusku.”

“Oh iya, Vin.. hmm.. aku baiknya manggil kamu siapa yaa.. kan kamu dosen aku saat ini.”

“Kalau di kampus panggil Pak Reza aja sama seperti yang lain, tapi kalau diluar kampus mau panggil siapa aja bole kok.. mau panggil Kavindra, mau panggil mas juga boleh.” Ucap Kavindra sambil terkekeh.

“Iiih kamu ini, masak manggil mas sih, kita kan seumuran.”

“Gak lah, tua-an aku setingkat dari kamu, secara kamu katanya lebih cepat masuk sekolah dulu kan ya.”

“Oh iya ya.”

“Btw, aku mau ngucapin terimakasih sama kamu”

“Untuk apa?”

“Berkat penyamaranmu sebagai pengagum rahasia-ku, aku sudah bisa move on, sudah kembali menjadi Ayesha yang dulu, makasih ya Vin..”

“Itu juga berkat semangat dan usaha dari diri kamu juga Sha, kamu wanita yang hebat dan kuat.. tidak berlarut-larut dalam kesedihan, tugasku hanya memberi motivasi dan nasehat-nasehat saja.”

”Emmm..”

“Oh iya, kamu ngapain di ruang direktur ?”

“Hmm.. sebenarnya ini ruanganku juga, Sha.”

What..? maksudnya ?”

“Iya, kampus ini milikku. Khusus aku dirikan di kota  kelahiranmu. Meskipun aku tidak bisa memilikimu, tapi aku ingin terus mengenang kota dan tempat asal kamu, Sha.”

Maa syaa Allah.. Kavin.. hebatt dan keren banget kamu bisa se-sukses ini.. tapii.. alasan kamu itu maksudnya gimana ?”

“Hmm... sebelum Kavindra melanjutkan kata-katanya, ponselnya berbunyi...

“   ........  ”

“Ayesha.. kapan-kapan kita ngobrol-ngobrol lagi ya.. masih banyak yang harus aku ceritain ke kamu, ini aku harus pergi ada urusan mendesak, Assalamu’alaikum...”

Dengan tergesa-gesa Kavindra meninggalkan Ayesha di ruangan tersebut sendiri. Sementara yang ditinggal merasa bingung dengan tingkah pak dosen sekaligus teman masa lalunya itu.

***

 

Sore ini sekembalinya Ayesha dari Kampus, dia langsung masuk kamar. Seperti biasa sambil istirahat ia membaca buku favorite-nya ‘La Tahzan karya DR. ‘Aidh Al Qarni’. Menurutnya semua isi dalam buku tersebut sangat bermanfaat untuk menjadi salah satu penyemangat hidupnya. Keinginan ia membeli buku tersebut merupakan rekomendasi dari si pengagum rahasia-nya. Ah, ternyata ia adalah Kavindra, sahabat sekaligus cinta pertamanya. Pantesan ia sangat tahu apa yang Ayesha mau. Buku itu salah satu yang telah membuat dirinya semakin sabar atas semua ujian dalam hidupnya. Hari ini cukup melelahkan baginya namun ia juga sangat bahagia karena sudah terkabulkan doanya yaitu dipertemukan dengan pengagum rahasianya selama ini. Ayesha kembali membaca buku ‘La Tahzan’ untuk mengademkan pikirannya karena terasa sangat lelah setelah melewati tugas-tugas kuliahnya.

Tiba-tiba terdengar suara dering panggilan dari ponsel-nya. Ayesha melihat siapa yang meneleponnya. Dilihatnya layar dari benda pipih yang diatas nakas samping tempat tidurnya.

unknown number is calling .....

Melihat nomor yang tidak dikenal, Ayesha ragu mengangkatnya. Karena terus berdering, akhirnya Ayesha mengangkatnya.

Rendy   : (Assalamu’alaikum, Ayesha ?)

Ayesha : (Wa’alaikumsalam. Iya benar, ini siapa ya ?)

Rendy   : (Aku Rendy, mahasiswa Teknik Sipil.)

Ayesha : (Rendy? Teknik Sipil? Ayesha berusaha

                  mengingat nama-nama temannya, tapi gagal).

Rendy  : (Iya, kamu pasti belum kenal, makanya aku ajak  

                 kenalan).

Ayesha : (Oh, begitu. Tapi kamu tahu aku dari mana ?)

Rendy : (Tiga hari lalu aku lihat kamu lagi jalan di depan Apotek, sama temanmu kalau nggak salah. Kebetulan kamu pakai jaket Akuntansi yang sama dengan punya temanku. Aku tanya, terus dia nunjukin foto angkatan kalian, akhirnya bisa tahu namamu)

Ayesha : (Temanku siapa ya)

Rendy   : (Dimas)

Ayesha : (Oh, Dimas. Iya bener, dia temenku).

Rendy  : (Ehm.. boleh kan Sha saya kenal kamu. Maksudku

                 jadi teman dulu)

Ayesha : (Boleh saja, kan berteman boleh dengan siapa saja)

Rendy   : (Kamu ada waktu nggak kalau kita ketemuan ?)

Ayesha : (Untuk apa ?)

Rendy   : (Ya aku ingin kenal kamu lebih dekat)

Ayesha : (Aku nggak tahu, bisa apa tidak. Ehm, maaf Ren aku

                 nggak bisa lama-lama. Ini lagi ada Ummi di sini. Maaf

                 ya).

Rendy  : (Iya nggak pa pa. Nanti dilanjut lagi)

Setelah menutup teleponnya, Ayesha baru sadar ada Ummi di sampingnya. Entah sejak kapan Indah berdiri di sampingnya. Ayesha menoleh ke arah Umminya sambil tersenyum.

“Sejak kapan Ummi di sini ?”

“Baru saja kok sayang, siapa tadi yang nelpon ?”

“Teman Mi”

“Oh iya Nak, Ummi sama Abi rencana mau ke rumah sakit mau jenguk atasan kantornya Abi yang lagi sakit, kamu mau ikut ?”

“Maaf, Mi.. tapi Sha  masih sangat lelah sepulang dari kampus. Mau istirahat aja, Mi.”

“Baiklah, Ummi sama Abi berangkat dulu ya sayang,” sambil membelai rambut putrinya.

“Iya, Mi. Hati-hati ya Mi.”

“Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam”

 

***

 

 

 

 

 

 

 

 

“Kalau memang sudah ditetapkan sebagai rezekimu atau sebagai jodohmu, maka meskipun ribuan orang yang menghalangi tetap akan sampai juga padamu”

 

[Tahajud Cinta, EPR]

 

 

 

 

 

 

TC 13

Butir-butir Cinta

 

Di sebuah ruang, kamar VVIP rumah sakit CENDEKIA, berbaring laki-laki berusia 57 tahun. Dia mulai sakit beberapa hari yang lalu. Entah apa penyebabnya. Karena selama ini dia baik-baik saja. Istrinya terus menangis saat melihat suaminya yang gagah dulu lemah tak berdaya seperti itu.

Saat pak Hermawan dan Pak Jehan Pratama berbincang-bincang didalam kamar, istri pak Hermawan dan istri pak Jehan berbincang-bincang diluar kamar.

“Maaf Pak Jehan, saya baru bisa menjenguknya sekarang,” Ucap pak Hermawan.

“Tidak apa-apa Pak Hermawan, terimakasih sudah datang menjenguk saya,” balas Pak Jehan dengan tersenyum. 

“Bagaimana keadaan pak Jehan ?” tanya Pak Hermawan prihatin.

“Rasanya, umur sudah tidak lama lagi Pak,” jawab Pak Jehan dengan pesimis.

“Jangan bicara seperti itu Pak. Pak Jehan harus kuat,” kata Pak Hermawan memberi semangat.

“Pak Hermawan, hubungan kita sudah sangat dekat. Bahkan sudah seperti saudara. Saya tidak bertemu dengan orang, teman, ataupun sahabat sebaik pak Hermawan. Saya ingin terus dan selamanya menjadi saudara pak Hermawan. Kalau saya pergi nanti, hubungan kita hanya akan tinggal kenangan,” ujar pak Jehan panjang lebar.

“Pak Jehan pasti sembuh, jangan bicara yang tidak-tidak, Pak,” kata pak Hermawan.

“Saya berharap kita bisa menjadi keluarga yang sesungguhnya. Sebelum saya pergi, saya masih ingin menikahkan Kavindra dengan Ayesha. Apalagi kita sama-sama sudah tahu tentang hubungan mereka saat SMA dulu. Namun saya juga tidak mau egois lagi dalam masa depan mereka. Saya juga tidak mau lagi mengulang kesalahan yang sama seperti dulu. Ayesha anak yang baik, dia pantas bahagia dan berhak memilih dengan siapa dia berdampingan. Saya sudah menganggap Ayesha seperti anak kandung saya.” Kata pak Jehan sedih.

“Kita berdoa saja pak, semoga Nak Kavin dan putri saya berjodoh. Saya yakin dengan putra bapak, dia anak yang cerdas. Dan dia sudah sangat mengenal putri saya,” Ucap Pak Hermawan dengan penuh keyakinannya.

In sya Allah semoga bisa berjalan dengan lancar dan sesuai dengan yang kita inginkan,” lanjut pak Jehan.

“Aamiiin ya Allah”

“Apakah Kavin pernah juga ngomong sama pak Hermawan kalau dia masih mencintai Ayesha?,” tanya Pak Jehan.

“Iya pak. Nak Kavin sudah menceritakan semuanya kepada saya, termasuk keinginannya untuk melamar Ayesha. Namun ia juga sangat memahami kondisi Ayesha. Nak Kavin hanya menunggu waktu yang tepat untuk hari tersebut dengan cara ia terus mendekati Ayesha secara perlahan,” jelas pak Hermawan panjang lebar.

Alhamdulillah, semoga hari bahagia itu masih sempat saya rasakan ya pak...” ucap pak Jehan.

In sya Allah Pak Jehan. Yang terpenting saat ini adalah kesembuhan pak Jehan dan semoga Allah berikan kesehatan selalu kepada bapak.” Doa pak Hermawan.

“Aamiin Ya Allah.”

***

Kavindra hari ini tidak masuk kampus. Ia membagi waktunya untuk ngajar dan ke kantor, dikarenakan papanya harus perawatan intensive. Kavindra membagi waktunya dua hari dalam seminggu untuk ke kampus dan dua hari ke kantor, selebihnya ia gunakan untuk menjaga papanya di rumah sakit.

Setelah bertemu klien, siang itu Kavindra menjenguk papanya yang masih berada di rumah sakit. Setiap wanita yang berpapasan dengannya entah itu perawat, dokter atau anggota pasien langsung jatuh cinta dengan ketampanan dan kegagahan tubuh Kavindra. Apalagi saat ini ia sedang merasakan benih-benih cinta mulai bersemi kembali, seakan wajahnya selalu dihiasi dengan senyuman. Dan tubuhnya pun sudah kembali terawat termasuk wajahnya yang dulunya brewokan dan rambutnya kelihatan gondrong. Kini.. semua sudah berubah. Kavindra kembali menjadi Kavindra yang Ayesha kenal dulu. Ketampanan Kavindra sudah kembali seratus persen. Sehingga membuat setiap wanita terpesona memandangnya.

Kavindra ke rumah sakit masih menggunakan kemeja navy dengan setelan jas hitam dan dasi melilit di lehernya. Setelah sampai di ruang papanya, Kavindra segera duduk disamping papanya. 

“Bagaimana keadaan papa?” tanya Kavindra dengan lembut dan menggenggam tangan papanya dengan kedua tangannya.

“Semakin lemah. Papa rasanya sudah tidak kuat lagi Vin.” Jawab Jehan.

“Papa jangan ngomong begitu dong, Pa. Papa harus kuat, papa harus sembuh. Pokoknya aku akan berusaha sebaik mungkin untuk kesembuhan papa.” Ucap Kavindra menyakinkan papanya.

“Trus gimana hubungan kamu dengan Ayesha?”

“Baru mulai pendekatan, Pa. Mohon doanya ya Pa, semoga Ayesha kembali membukakan pintu hatinya untuk Kavin.” Jawab Kavindra dengan penuh harap.

“Iya, Nak. Semoga semuanya dilancarkan sebelum papa pergi dari dunia ini.”

“Papa jangan ngomong seperti itu. Aku yakin papa akan sembuh. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk kesehatan papa.” Ucap Kavindra mantap. Lalu Kavindra keluar dari kamar menelepon seseorang untuk segera mencari dokter terbaik di Indonesia bahkan dokter terbaik di dunia untuk papanya.

***

 

Drrrrtt ...

Terdengar ponsel Ayesha beberapa kali berbunyi. Saat itu Ayesha sedang melaksanakan shalat subuh. Setelah menyelesaikan shalat dan rutinitas subuh-nya, Ayesha ingat chat WA terakhir dari pengagum rahasia-nya yang begitu membuat hatinya tak karuan dan berdetak lebih kencang. Ayesha pun lalu mengambil ponsel-nya. Dia liat tiga panggilan tak terjawab dan satu pesan masuk. Ayesha membuka pesan masuknya. Dari Pengagum Rahasia. Ternyata nomor tersebut belum digantikan namanya oleh Ayesha.

Pengagum Rahasia : Assalamu’alaikum. Selamat pagi Sha.

                                        Sudah subuh belum?

Ayesha                      : Wa’alaikumsalam. Alhamdulillah sudah   

                                       Vin.. Maaf tadi baru shalat.

                                       Terimakasih sudah dibangunkan.

Tidak  butuh waktu lama ada pesan masuk lagi.

Pengagum Rahasia : Alhamdulillah. Sama-sama Sha.

                                         Assalamu’alaikum

Ayesha                     : Wa’alaikumsalam

Ayesha masih saja menatap benda pipih miliknya yang berada di tangannya. Ia segera menggantikan nama pada nomor kontak pengagum rahasia menjadi Kavindra. Sebenarnya ia masih penasaran kepada Kavindra tentang pesan yang diterimanya tempo hari sebelum mereka bertemu di ruang direktur.

Apa maksud pesan panjang lebar yang pernah dikirimnya itu ? Kata-katanya itu membuat hatiku terobrak abrik! Apakah Kavin masih mencintaiku ?

Astaghfirullah..! Ampuni hamba-Mu yang lemah iman ini..!

Di sepertiga malam ini mereka sama-sama bangun untuk melaksanakan shalat tahajud. Meskipun tanpa ada kesepakatan diantara mereka, namun mereka menginginkan sesuatu yang sama pula dalam sujud tahajudnya yaitu:

‘Jika dia bukan jodohku maka jauhkan dia dari pikiranku dan bila dia jodohku maka dekatkanlah dia  ya Allah.., jika dia benar untukku, dekatkanlah hatinya dengan hatiku. Jika dia bukan milikku, damaikanlah hatiku dengan ketentuan-Mu’.

Karena mendoakan adalah cara mencintai paling rahasia.  Jodoh itu adalah rahasia Allah. Jangan lah berharap jodoh itu pada manusia tapi berharap lah kepada sang pembolak hati Allah SWT.

***

 

Kebetulan hari ini hari minggu, jadi Ayesha sedikit santai. Setelah shalat subuh, rencananya dia mau bersih-bersih rumah dan memasak. Tepat pukul 07.00, Umminya mengajak Ayesha belanja ke pasar. Ayesha dan Umminya membeli berbagai macam sayuran dan beberapa cemilan.

Sesampai di rumah, Abi sudah menunggu di teras belakang dan minta untuk dibuatkan teh panas. Ayesha pun membuatkan teh panas dan sedikit cemilan untuk dibawa ke teras belakang. Di sana sudah menunggu Abi dan Umminya. Setelah selesai meletakkan teh dan cemilan keatas meja, Ayesha diminta duduk. Ayesha pun duduk bersebelahan dengan Umminya.

“Gimana Nduk, kuliahmu?”

“Baik Bi, semua lancar-lancar aja”

“Oh iya Abi, Ummi.. Sha  belum sempat cerita kan tentang dosen baru kami.”

“Memang kamu punya dosen baru?” tanya Ummi.

“Iya, Mi. Awalnya Sha  pernah jumpa beliau saat masa ospek di kampus. Dan sempat Sha  minta tanda tangan sama beliau. Sha  pikir beliau adalah senior kami. Ternyata setelah itu sudah tidak pernah kelihatan lagi di kampus. Nah, ketika Sha  masuk semester enam ini, malah beliau yang jadi dosen kami. Minggu kemarin malah Sha  diajak ketemuan sama beliau. Abi, Ummi tahu siapakah beliau itu?

Abi dan Umminya saling berpandangan.

“Ternyata dosen baru itu adalah Kavindra lho Bi, Mi..”

“Kavindra? teman kamu waktu SMA dulu?” tanya Ummi pura-pura kaget.

“Iya, Mi”

Maa syaa Allah... luar biasa,” puji Abi.

“Hebat sekali Kavindra ya nak,” lanjut Ummi.

“Dan yang paling keren lagi Mi, Bi.. itu kampus milik dia lho.. aku bangga punya teman seperti dia. Sukses dia sekarang. Sudah pintar, sifatnya makin dewasa, ganteng pula, sikapnya sangat sopan dengan semua orang dan nggak sombong lagi,” Cerita Ayesha  panjang lebar dengan penuh antusias.

“Jadi Kavindra sekarang sudah beda banget ya sayang dengan yang dulu?,” tanya Ummi.

“Iya, Mi. Sifat baiknya sih tetap, seperti dulu. Tapi akhlaknya sekarang sangat mempesona. Lelaki seperti itu yang Sha  dambakan Ummi.. Abi..,” pinta Ayesha  secara tiba-tiba sambil merebahkan kepalanya ke pundak Umminya.

“Semoga kalian berjodoh ya, nduk?,” ucap Abi sambil tersenyum mengelus puncak kepala Ayesha  yang dilapisi hijabnya.

“Emang kamu punya perasaan terhadap Kavindra sayang?,” selidik Ummi.

“Ehm... ntahlah Mi. Akhir-akhir ini Sha  bingung dengan perasaan sendiri.”

“Bingung kenapa? apakah ada yang mengganggu pikiranmu ?” lanjut Ummi lagi.

“Justru itu Mi, Sha  kayak sering kepikiran gitu ke Kavin, apalagi saat ketemu dia. Hati Sha  gak karuan,” jelas Ayesha  ke Umminya dengan nada yang sangat manja.

“Emang kamu sudah siap menikah lagi sayang?,” tanya Ummi lagi.

“Ehm.. sebenarnya sih belum, Mi. Tapi kalau dapet yang sempurna seperti itu ya nggak masalah,” ucap Ayesha.

“Beneran nih..? kalau nanti malem langsung di lamar sama orang seperti Kavindra, apa kamu langsung mau menerimanya?,” tanya Ummi menyakinkan sambil berkedib ke Abi.

“Iiihh... Ummi sama Abi kok sudah serius banget sih..?, kan Sha  Cuma berangan-angan lho..?, Sha  cuma curhat kok,”  Sewot Ayesha.

“Kalau angan-angan kamu jadi kenyataan gimana Nduk..?,” Tanya Abi lagi.

“Ehmm..nggak tahu ah, Abi,” jawab Ayesha  sekenanya. Ayesha bingung sendiri dengan kata-katanya yang spontan keluar begitu saja dari mulutnya. Dengan muka memerah menahan malu Ayesha beranjak bangun dari sandaran Umminya.

“Ummi dan Abi doakan.. semoga kamu dapat yang kamu inginkan ya sayang, In sya Allah kamu berjodoh dengan Kavindra.” Ucap Ummi mantap.

Sementara wajah putih Ayesha semakin bersemu merah. Ia seakan sudah salah berucap tadinya, sehingga membuat kedua orang tuanya salah paham atas kata-katanya. Namun ia juga tidak bisa lagi memendam rasanya sendiri semakin dalam terhadap Kavindra. Seakan butir-butir cinta yang sudah lama tenggelam, kini muncul kembali dengan sangat indah. Hati Ayesha seakan berbunga-bunga dikala mengingat wajah lelaki yang bernama Kavindra. Ayesha kembali jatuh cinta pada lelaki yang pernah ia lupakan dulu. Dalam hati kecil Ayesha mengatakan jika ia memang sudah menaruh hati padanya. Ia merasa sangat membutuhkan orang seperti Kavindra dalam hidupnya. Ayesha merasa sangat berhutang budi atas kebaikan Kavindra selama ini. Kavindra menyembunyikan namanya selama ini karena ia benar-benar ikhlas membantu Ayesha  bangkit dalam keterpurukannya.

“Aduhai jikalau saja saat ini kau menyampaikan lamaranmu kepadaku, maka aku akan langsung mengatakan: “Iya!”

‘Ah,.. ya Rabbi ampuni hamba-Mu yang lemah iman ini.’ Desis hatinya bimbang.

 

***

 

 

“Hanya engkaulah pelabuhan terakhirku. Kapalku telah usang berkelana hingga ke ujung dunia untuk menemukan keindahan hatimu. Kamu adalah alasanku untuk tersenyum.”

 

             [Tahajud Cinta, EPR]

 

 

 

TC 14

Dosenku Idolaku

 

Ayesha sedang di kantin bersama dengan Nadira. Mereka lagi menunggu kuliah jam kedua. Saat sedang makan baksonya, terdengar gawainya bergetar. Ayesha memang memode silent ponselnya karena tadi sedang kuliah. Dan sekarang getarannya berulang-ulang, pertanda ada panggilan masuk. Ayesha juga belum sempat membuka ponselnya dari tadi. Ayesha agak lama mengangkatnya. Dia pikir siapa sih telepon terus, dari nomor tidak dikenal lagi. Nadira yang lagi makan risih dengar HP Ayesha getar terus.

“Angkat itu Sha, risih aku dari tadi getar terus, makan jadi nggak konsen. Siapa tahu penting.” gerutu Nadira.

“Sebentar, sekalian aku habisin.” ujar Ayesha.

Setelah selesai makan. Ayesha melihat riwayat lima panggilan yang masuk ke gawainya. Ternyata nomor tak dikenal. Siapa ya ?!

“Kenapa ?” tanya Nadira. Ayesha lalu menunjukkan layar Ponsel-nya.

“Telepon balik aja, mana tahu penting itu orang, sudah nelpon berulang kali,” saran Nadira. Belum juga Ayesha menjawab, ponsel-nya berdering lagi. Ayesha langsung mengangkatnya.

Ayesha    : (Assalamu’alaikum)

Kavindra : (Wa’alaikumsalam.. Sha, ini aku Kavin.. pakai

                    nomor kantor. Kamu dimana ?)

Ayesha    :  (ehm,, baru di kantin pak).

Agak ragu Ayesha menjawabnya karena kaget dengan suara Kavindra dan juga ia belum siap untuk menceritakan semuanya kepada Nadira tentang siapa Kavindra alias pak Reza dosen favorite segenap umat terkhusus mahasiswi kampus UHM.

Kavindra : (Bisa ke ruangan saya sekarang)

Ayesha    : (In sya Allah.. bisa pak)

Setelah selesai, Ayesha pamit ke Nadira  untuk ke ruangan Pak Reza. Sampai didepan ruangan, Ayesha mengucapkan salam, dia langsung diminta untuk  masuk dan duduk dihadapan Pak Reza.

“Sha, kita kalau di kampus seperti biasa aja ya.. kamu tetap panggil saya dengan sebutan Pak Reza biar sama dengan yang lain”

“Baik Pak..”

“Jangan kaku juga gitu dong..”

“Kalau sedang berdua begini nggak apa-apa kali ya, kamu panggil saya Kavin.”

“Tapi, nanti kalau tiba-tiba ada yang dengar gimana ?”

“Ehm, iyaya juga ya”

“Saya setuju seperti saran yang bapak katakan tadi.”

“Okey. Oh iya, hari ini saya tidak bisa masuk kelas. Jadi saya minta bantu kamu untuk memberi tugas kepada teman-teman ya ?”

“Kalau boleh tahu kenapa bapak nggak bisa masuk ?”

“Ehm, orang tua saya masuk rumah sakit”

Innalillah.. siapa yang sakit?, Papa Jehan ? atau Mama Diana ?” tanya Ayesha panik.

“Papa, Sha”

“Ya Ampun Vin.. aku ikut prihatin ya.. semoga Papa lekas sembuh.” Ucap Ayesha sedikit berteriak.

“Huusstt,” Kavindra menempelkan telunjuknya di bibir sebagai tanda Ayesha tidak meninggikan suaranya agar tidak didengar orang lain.

‘Apa jangan-jangan yang dijenguk Abi dan Umminya kemarin itu di rumah sakit, Papanya Kavin’ Batin Ayesha.

“Ya sudah, sekarang kamu masuk kelas dan ini soal kuis yang harus kalian kerjakan.” Ucap Kavindra seraya memberikan tugas-tugas kepada Ayesha.

“Baik Pak. Saya permisi. Assalamu’alaikum.” Pamit Ayesha sambil berlalu keluar ruangan dosennya.

Di ruangan kelas. Semua mahasiswa sedang mengerjakan tugas kuis yang baru diberikan oleh pak Reza melalui Ayesha.

“Sha, emangnya pak Reza kemana ya?,” celetuk Mila.

“Ehm, beliau katanya sedang ada urusan mendadak,” jawab Ayesha seadanya.

“Yaah, jadi nggak semangat dech hari ini,” tambah Nada.

“Kenapa lo, Nad,” lanjut Nadira.

“Yaelah.. si Dira kagak paham, mana ada semangat kita-kita.. kalau dosen paling guanteeng sejagad raya tidak hadir sehari saja,” Jawab Mila seenaknya. Lantas tertawa. Entah kenapa Ayesha begitu cemburu mendengar komentar itu. Ia jadi heran sendiri kenapa akhir-akhir ini sering kepikiran Kavindra dan timbul rasa cemburu disaat ada wanita lain yang lebih perhatian terhadap Kavindra. Ayesha cepat-cepat menyingkirkan perasaannya.

***

 

“Hei, kamu melamun?,” Tanya Nadira mengagetkan Ayesha.

“Eh, iya kenapa Ra”

“Kamu kenapa sih ?”

“Ah, enggak kok, nggak kenapa-napa.”

“Kamu kok sering banget dipanggil Pak Reza sih Sha?” tanya Nadira saat mereka berjalan menuju tempat parkir.

“Masa sih, kayak biasa saja”

“Tapi... kalau aku liat, beneran deh. Kayak ada sesuatu dimata pak Reza terhadap kamu, Sha.”

“Perasaan kamu aja kali”

“Tapi nggak pernah gitu diajak ngobrol-ngobrol apa ?”

“Pernah,” jawab Ayesha jujur.

“Tentang apa ?”

“Ya macam-macam”

“Yang jelas sih Sha” Desak Nadira.

“Sudah ah, ayo pulang” ajak Ayesha.

 

***

 

Setelah mampir sebentar di kampus UHM untuk menunaikan tugasnya sebagai dosen sekaligus juga dapat melepaskan rasa rindunya kepada seseorang, Kavindra kembali ke rumah sakit untuk menjenguk Papanya tercinta. Disana terlihat seorang wanita paruh baya yang sedang menyuapi makan suaminya tercinta yang terlihat masih terbaring lemah.

“Gimana kabarnya hari ini Pa ?,” tanya Kavindra singkat lalu mencium punggung tangan Pak Jehan. Dilanjutkan mencium pula punggung wanita yang disampingnya.

Alhamdulillah, sudah lumanyan dari kemarin,” jawab Pak Jehan lesu.

“Papa harus semangat ya Pa, nggak usah mikir yang macem-macem. Untuk saat ini yang harus papa pikirkan kesehatan papa.” Ucap Kavindra.

“Kamu nggak ngajar hari ini Vin, atau ke kantor ?,” tanya Diana.

“Nggak Ma, aku mau jagain papa aja hari ini. Tadi pagi-pagi ke kampus bentar buat ngasih kuis untuk mahasiswa. Dan di kantor sudah aku suruh handle sama Riko sekretarisku.” Jelas Kavindra.

“Ehmm.. kamu nggak kangen tuh, kalau nggak ke kampus..? katanya ada bidadari cantik di sana..” Ledek Diana.

“Iihh, Mama bisa aja deh. Mohon doanya ya Mah, semoga Ayesha bisa membuka hatinya untuk aku.”

“Kamu usahanya dong yang lebih kuat lagi. Mama dan Papa akan bantu doanya sayang..”

“Iya Mah, pasti lah.. In sya Allah”

Pak Jehan tersenyum bahagia mendengar percakapan antara anak dan ibunya tersebut. Seakan telah men-charger kembali kesehatannya bahkan semakin membaik dari biasanya. Pak Jehan sangat menginginkan agar Kavindra segera menikah dan jika boleh memilih jodohnya adalah Ayesha. Namun dalam hal ini Pak Jehan dan keluarga tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi seperti yang pernah terjadi kepada Gilang kakaknya.

 

***

 

 

 

 

 

 

 

“Dalam diam, aku memperjuangkan cintamu dalam doaku. Ketika Allah menginginkan dua hati bersatu, Dia akan menggerakkan keduanya, bukan hanya satu. Susah bagimu, tapi mudah bagi Allah.”

 

[Tahajud Cinta, EPR]

 

 

 

TC 15

Surat Cinta

 

Perempuan itu menatap ponsel yang baru saja berdering. Pertanda ada pesan masuk.

“Ayesha, tolong bukakan pintu rumahmu. Disana ada sebuah amplop berwarna putih. Tolong bacakan segera isi suratnya. Terimakasih.”

Ayesha sangat penasaran dengan surat yang dimaksud. Dengan penuh penasaran dan perasaan harap-harap cemas ia membukakan pintu rumah dan mengambil amplop tersebut lalu kembali ke kamar dan membaca isinya.

Kepada

Sang Bidadari Hati (Ayesha Kirana Mikayla)

Assalamualaikum Ayesha..

Doaku mengawali isi surat ini, semoga yang menulis surat ini dan yang membaca surat ini diampuni dosa-dosanya oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Jika mengharapkan cinta seseorang adalah berdosa semoga diampuni oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Jika menulis surat demi cinta adalah dosa maka semoga Allah ‘Azza wa Jalla mengampuni orang yang menulisnya. Sebelumnya aku minta maaf telah lancang mengutarakan isi hatiku.. Jujur aku tidak bisa melupakanmu dari dulu sampai detik ini.. Maka dari itu aku justru lebih memilih kuliah di luar negeri untuk benar-benar menjauhimu. Ragaku memang jauh denganmu tapi jiwa dan hatiku tetap dan selalu bersamamu. Akhirnya aku kembali hanya untuk dapat selalu melihat dirimu.. melihat senyummu, tawa dan keceriaanmu. Kebahagiaanmu merupakan motivasi dalam hidupku. Hatiku padamu masih sama seperti dulu. Dalam doaku selalu namamu yang kusebut agar kau selalu diberikan kebahagiaan bersamanya.

Namun, saat ku tahu engkau sudah sendirian seperti saat ini, seakan jiwaku meronta untuk segera memilikimu, menjagamu serta menghiburmu setiap saat. Dalam sujud tahajudku selalu namamu yang kupinta, agar engkau kelak menjadi bidadariku di dunia dan akhirat. Sungguh, aku tak bisa melupakanmu Ayesha... Aku pernah mencoba membuka hatiku untuk wanita lain, tapi itu percuma Ayesha, ikatan tanpa cinta akan menyakitkan salah satunya. Maka dari itu..

Izinkan aku untuk menjadi penggantinya.

Izinkan aku agar terus menatap dan melindungimu.

Izinkan aku selalu bisa membuatmu bahagia.

Izinkan aku menjadi teman curhatmu dikala suka maupun duka.

Izinkan aku untuk segera menghalalkanmu.

Izinkan aku menjadikanmu kekasih halalku.

Jika kamu setuju  aku tunggu balasan pesan Whatshapp-mu. Terimakasih.

 

Dari yang selalu mendoakanmu disetiap sujud Tahajudnya

(Kavindra Syahreza Putra Pratama, S.E., M.B.A.)

Tubuh Ayesha bergetar hebat. Rasa cinta dan damba pada Kavindra nyaris pupus kala itu, kini kembali bertunas bahkan kembali mekar berseri-seri. Wajah Kavindra yang begitu tulus kepadanya terbayang di pelupuk matanya. Kata-kata Kavindra dalam suratnya terngiang-ngiang kembali.

Izinkan aku untuk menjadi penggantinya.

Izinkan aku agar terus menatap dan melindungimu.

Izinkan aku selalu bisa membuatmu bahagia.

Izinkan aku menjadi teman curhatmu dikala suka maupun duka.

Izinkan aku untuk segera menghalalkanmu.

Izinkan aku menjadikanmu kekasih halalku.

Ayesha goyah. Hatinya oleng. Ia kembali terbayang-bayang wajah dan kata-kata Kavindra dalam suratnya itu. Detak jantung Ayesha berpacu semakin cepat saat membaca nama pengirimnya itu. Dialah dosenku yang kukagumi karena akhlaknya, dan dia adalah Kavindra cinta pertamaku dulu.. dia adik dari mantan suamiku.. ya Allah... ya Allah... takdir telah mempertemukanku lagi dengannya. Aku gak percaya ya Tuhan.. buliran bening dari bola matanya segera meluncur satu persatu tanpa harus di komando. Matanya berkunang-kunang, kepalanya seakan menanggung beban yang sangat berat. Bibirnya terkatup rapat. Suaranya seolah tertahan di kerongkongan. Menikah lagi? Dengannya? Ayesha sangat galau dengan isi surat tersebut. Bahkan ia tak pernah sedikitpun berfikiran untuk menikah lagi dengan Kavindra. Karena Kavindra merupakan adik iparnya. Baginya Kavindra itu adalah masa lalunya. Ia benar-benar seperti orang linglung yang tak tahu arah pulang. Apalagi saat ia mengetahui semuanya. Pengagum rahasianya dan dosennya itu adalah orang yang sama yaitu Kavindra orang yang sangat ia cintai sejak dulu. Jauh di lubuk hati Ayesha masih tersimpan nama Kavindra. Namun saat menikah dengan Gilang, ia berusaha menjadi istri yang baik dan shaleha yang hanya menjadikan satu-satunya nama suami di hatinya. Disaat Ayesha mencoba membuka hatinya kembali, disaat itu pula Kavindra kembali muncul. Dan benih-benih cinta yang dulunya terhalang kembali mekar tumbuh indah berseri. Mereka dipertemukan kembali disaat waktu yang tepat.

 

***

 

“Assalamu’alaikum, boleh duduk disini?”

Ayesha yang sedang membuka gawainya lantas mendongakkan kepalanya, melihat siapa yang menyapanya. Matanya mengernyit begitu melihat sosok laki-laki dihadapannya. Siapa? dia mencoba berpikir sepertinya tidak mengenal pria ini.

“Wa’alaikumsalam. Siapa ya?” Akhirnya Ayesha pun menanyakan nama orang itu.

“Boleh aku duduk dulu?” tanyanya sebelum menjawab pertanyaan Ayesha. Ayesha pun menoleh ke Nadira yang baru datang membawa dua mangkok bakso. Nadira pun mengangguk menyatakan persetujuannya. Yah, mereka, Ayesha dan Nadira sedang ada di kantin. Mereka menunggu kuliah jam kedua yang masih satu jam lagi.

“Boleh, silahkan” kata Ayesha akhirnya.

“Kenalin, aku Rendy. Anak Teknik Sipil”

Laki-laki itu mengenalkan dirinya.

“Kamu pasti yang namanya Ayesha kan?” dia bertanya ke Ayesha untuk memastikan kebenarannya.

“Iya benar. Kamu ...”

“Iyyap. Aku cowok yang sering whatshapp kamu” lanjut laki-laki bernama Rendy, sebelum Ayesha melanjutkan pembicaraannya.

Ayesha pun ingat, laki-laki yang sering WA dirinya, dan belum pernah dia jawab. Ya, Ayesha memang tidak pernah membalas chat siapapun yang nomornya tidak dia kenali. Ayesha sendiri belum sekalipun bertemu dengannya. Tapi.... dari mana dia tahu nomornya?

“Pasti kamu nggak tahu kan? Atau penasaran aku dapat nomor kamu dari mana?”

“Iya, kamu dapat nomor ponsel ku dari siapa?” Ayesha pun akhirnya bertanya.

“Waktu itu kamu pakai jaket akuntansi, dan aku tahu warna jaketmu sama dengan temanku yang kuliah disini.”

“Siapa temanmu itu?”

“Dimas, kamu kenal kan?”

“Oh iya kenal, kemarin sudah cerita juga kan ya. Tapi kenapa Dimas bisa memberi tahu nomorku padamu?” Ayesha masih saja penasaran.

“Ehmm... waktu kamu jalan bersama temanmu, kalau nggak salah kalian berhenti disebuah Apotek, saat itu aku sedang jalan pulang dan diam-diam aku ngambil gambarmu. Lantas aku nampain ke Dimas. Sekalian aku minta nomor kontakmu, Maaf ya nggak ijin.” Ayesha hanya mengangguk, sekilas mengingat-ingat saat ia ke Apotek bersama Nadira untuk membeli obat sakit perut temannya itu. Bingung harus bagaimana. Apa iya minta untuk dihapus?

“Eh, maaf Ren, kenapa kamu sampai kesini?”

“Ya nekat aja, lagian setiap aku WA nggak pernah kamu balas,” Rendy memberikan alasannya.

“Maaf” balas Ayesha lirih.

“Iya, nggak apa-apa. Santai aja.”

“Ehm, Sha aku ingin kenal lebih dekat sama kamu.” Nadira yang mendengar langsung berdehem, dan tidak lama ijin untuk pesan makanan yang lainnya. Walau sebenarnya dia sedang memberikan kesempatan untuk Ayesha bicara dengan Rendy. Nadira tahu pasti Ayesha akan marah, karena membiarkannya bicara berdua dengan laki-laki. Tapi karena sudah bersifat pribadi, dia memilih undur diri dan duduk tidak jauh dari tempat duduk Ayesha. Ayesha yang awalnya menolak, akhirnya bisa mengerti, setelah Nadira duduk tidak jauh darinya.

“Maksudnya?” Ayesha menanyakan ke Rendy maksud dari perkataannya.

“Terus terang, aku suka kamu sejak pertama kali melihatmu.” Pernyataan Rendy benar-benar membuatnya kaget. Dan tidak menyangka. Padahal ini baru pertama kalinya ia bertemu.

“Tapi Ren..?” Ayesha memberanikan diri untuk memanggil namanya.

“Kamu kaget ya? Aku memang nekat. Baru sekali saja ketemu sama kamu. Langsung bilang suka sama kamu. Sorry.”

Ayesha tampak menghela nafasnya. Ayesha bingung harus ngomong apa.

“Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang. Aku beri kamu waktu. Kita bisa saling mengenal dulu.” Sambungnya. Wahh, Aku tidak boleh memberi harapan padanya. Ini tidak boleh terjadi. Lagian ia belum tahu tentang statusku. Batinnya. Ayesha memberanikan diri untuk bicara, sebelum Rendy merasa Ayesha memberi harapan besar padanya.

“Sebelumnya aku minta maaf. Aku hargai rasa sukamu padaku. Tapi maaf aku tidak bisa membalas rasa itu.”

“Tapi kamu tidak harus menjawab sekarang, dan kita bisa mengenal satu sama lain terlebih dahulu, Sha,” Rendy masih saja mengejarnya.

“Tapi aku nggak bisa Ren, kalau kamu mau kita bisa berteman saja ya. Hanya sebatas teman,” Tegas Ayesha.

“Tapi kenapa, Sha? Apa alasannya?”

“Aku tidak bisa memberitahumu. Tapi yang jelas, aku tidak bisa menjalin hubungan lebih denganmu kecuali hanya sebatas teman. Maaf.” Tampak Rendy menghela nafasnya, kemudian melanjutkan bicaranya pada Ayesha.

“Ya sudah, aku hargai keputusanmu. Tapi kamu masih mau kan berteman denganku?”

“Masih Ren, kita tetap berteman ya”

“Ya sudah kalau begitu aku permisi dulu.

Assalamu’alaikum,” pamitnya.

Wa’alaikumsalam

Setelah itu, Rendy pun berdiri dan mengambil motornya diparkiran kampus.

***

 

Sudah dua hari Kavindra tidak ke kampus. Ke kantor pun hanya sekedar singgah saja sekedar menitipkan berkas dan pesan kepada Riko sekretarisnya. Kebetulan jalan menuju ke rumah sakit tempat papanya dirawat melewati kantornya. Sedangkan ke kampus harus membutuhkan waktu lebih kurang sembilan jam perjalanan melalui jalan tol (Jakarta-Yogyakarta). Kavindra benar-benar serius merawat papanya. Setelah ia berhasil menghubungi dokter yang terbaik di Indonesia, kesehatan papanya berangsur kembali membaik dari semula. Sesampai di rumah sakit seperti biasa Kavindra langsung masuk ke ruangan VVIP Kelas I yaitu ruang rawat Pak Jehan Pratama.

“Gimana keadaan Papa?” Tanya Kavindra pada papanya.

“Seperti yang kamu lihat Vin  papa semakin merasa lebih enakan” Jawab Pak Jehan dengan senyum yang mengembang. “Alhamdulillah Pa.. Kavin seneng banget dengarnya” ucap Kavindra lega.

“Kamu nggak masuk kantor sayang?” Tanya Diana.

“Tadi mampir sebentar Ma. Sekalian aku kasih Flashdisk untuk bahan presentasiku ke Riko buat meeting sama klien jam dua nanti” Jelas Kavindra ke Mamanya.

Diana hanya mengangguk saja.

Tok..tok.... Permisi,” Sapa Dokter.

“Silahkan Dok..,” Jawab Diana.

“Ijin Ibu, Mas.. saya periksa Bapak ?”

Diana dan Kavindra mengangguk berbarengan.

“Gimana kondisi Papa saya Dok?” Tanya Kavindra.

Alhamdulillah Mas, sudah baikan. Hanya butuh istirahat saja dan jangan banyak pikiran”  Jawab Dokter.

“Bapak.. obatnya diminum dengan rutin ya?” Lanjut Dokter memperingatkan Pak Jehan pasiennya. Dan Pak Jehan hanya mengangguk saja.

“Lalu kapan saya bisa pulang, Dok ?” Tanya Pak Jehan. “Hari ini sudah boleh pak, yang penting ingat pesan saya, istirahat yang cukup, jangan banyak pikiran dan minum obat yang teratur” Jelas Dokter dengan ramah.

“Kalau begitu saya permisi Bapak, Ibu, Mas” Lanjut Dokter kembali.

“Baik Dok, Terimakasih banyak”

 ***

Hari ini Ayesha sengaja berangkat lebih pagi. Dia ingin ke perpustakaan dulu sebelum kuliah dimulai. Ayesha berangkat pukul enam tiga puluh agar bisa masuk awal ke perpustakaan, maksudnya biar bukunya masih banyak, dan setelah itu lanjut kuliah di jam sepuluh. Sampai di perpustakaan, suasana masih sepi. Hanya ada beberapa mahasiswa yang mulai memilih buku untuk dibaca. Ayesha pun segera menitipkan tasnya, tidak lupa membawa laptop dan buku tulisnya.

Ayesha mulai mencari buku-buku untuk referensi kuliahnya. Semester enam ini, Ayesha mengambil mata kuliah metodologi penelitian, dimana mahasiswa membuat semacam proposal penelitian yang berisi tiga bab, mulai dari bab pendahuluan, berisi tentang latar belakang permasalahan, tujuan penelitian dan manfaat penelitian, bab dua berisi landasan teori dan bab tiga tentang metode penelitian. Ayesha ingat apa yang dikatakan dosennya, walaupun ini masih kuliah metodologi penelitian, tapi kerjakan seolah ini akan menjadi proposal skripsi besok. Jika proposalnya bagus, bisa dilanjut untuk diajukan menjadi skripsi. Jadi besok tidak memerlukan waktu lebih lama karena tidak mengulang dari awal lagi. Hal ini yang membuat Ayesha bersemangat untuk mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Ayesha sendiri saat ini sedang mencari buku untuk melengkapi landasan teori yang akan digunakannya. Sudah lima buku yang sudah dibawa Ayesha ke mejanya. Setelah meletakkan buku-bukunya, Ayesha mulai membuka bukunya sembari mengetik ke laptopnya. Saat sedang berkonsentrasi membaca bukunya, terdengar suara deheman di depannya. Ayesha pun mendongak untuk melihat, Ayesha kaget sekali.

Assalamu’alaikum” kata Dimas sambil duduk didepan Ayesha.

Wa’alaikumsalam” jawab Ayesha.

“Boleh duduk disini? Ganggu nggak kira-kira ?” Tanya Dimas

Jelas ganggu lah Dim, tapi ya mau gimana lagi. Apa ya harus ngusir?

“Eh, nggak apa-apa Dim, silahkan duduk aja”

“Kamu lagi cari buku apa?”

“Ini Dim, lagi cari buku tentang manajemen keuangan, tapi kayaknya sudah keduluan yang lainnya”

“Untuk bahan mata kuliah apa?”

“Metodologi Penelitian”

Dimas pun terlihat menganggukkan kepalanya.

“Rajin banget sih mahasiswi yang satu ini”

“Pa-an sih, Dim.. biasa saja kali”

“Eh, Sha.. ngomong-ngomong sorry ya..?”

“Untuk apa?”

“Aku nggak ijin kamu kalau sudah ngasih nomor HP mu ke Rendy”

“Iya, nggak apa-apa. Lagian kan sudah terlanjur juga” Jawab Ayesha sambil tertawa.

“Kemarin Rendy ke sini ya?”

“Iya, kok kamu tau ?”

“Memang nekat itu anak. Sudah aku bilang lho Sha, nggak usah main-main kalau sama Ayesha, saingannya berat”

“Heh... maksudnya apa ?! saingan.... saingan apa?”

“Lhah kan emang berat saingannya Rendy, perlu aku sebutkan”

“Siapa?”

“Pak Reza”

Ayesha membelalakkan matanya, kaget.

“Kok bisa kamu bilang Pak Reza ?”

“Ya bisa lah Sha, kayaknya Pak Reza naksir sama kamu”

Sebenarnya aku juga sempat naksir ke kamu Sha, tapi setelah dilihat-lihat saingannya Pak Reza, aku lebih baik mundur. Berat saingannya. Batin Dimas.

“Ck... nggak usah macam-macam. Dari mana kamu tahu kalau Pak Reza naksir sama aku?”

“Ya taulah Sha, aku kan juga cowok. Sesama laki-laki itu tau lagi Sha, mana yang suka atau nggak. Coba aja dibandingin, kalau lagi diskusi, gimana respon Pak Reza ke Mila dan kamu, beda Sha, pandangan matanya kelihatan. Terus saat kamu lagi ngobrol sama cowok lain Pak Reza nampak tuh cemburunya. Tapi kalau nggak, ya nggak papa. Nggak usah kamu masukin ke hati ya.. Ntar baper lagi kamunya. Hahaaha” Dimas tertawa terbahak-bahak. Ayesha pun mendelik tajam ke Dimas yang mengejeknya. Wajah Ayesha bersemu merah seketika.

Sorry-sorry Sha, bercanda.. tu kan mukanya merah.. Lagian kalau beneran beliau suka sama kamu kan bersyukur tuh Sha. Aku yakin beliau itu orang yang sangat baik, santun pula akhlaknya dan sudah pasti kamu nggak mungkin diajak main-main, pasti langsung dinikahinya.”

“Btw.. Pak Reza kemana ya, kok sudah tiga hari nggak masuk..”

“Yah.. mana kutau. Aku kan sama juga kayak kamu.”

Sebenarnya Ayesha juga bertanya-tanya kenapa Pak Reza nggak ada kabar apapun setelah mengirimi pesan WA dan surat kepadanya. Sampai saat ini belum ia balas. Seingatnya setelah hari itu, beliau juga tidak miscall-miscall lagi disepertiga malam sebagai pengingat tahajud-nya.

“Oh iya, kemarin kamu nolak Rendy ya ?”

Dimas mengalihkan pembicaraannya. Akhirnya Ayesha lega karena Dimas nggak ngebahas-bahas lagi tentang Pak Reza.

“Kok kamu tau?” Ayesha pun bertanya.

“Kemarin dia cerita, katanya ada hal dari kamu yang tidak bisa nerima dia”

“Tapi Rendy nggak apa-apa kan Dim?” Ayesha akhirnya bertanya, khawatir jika penolakannya kemarin memberikan akibat buruk.

“Ya pas pulang dari sini, kelihatan banget kecewanya. Tapi kan sejak awal sudah aku kasi tau tentang kamu, yang nggak mau pacaran begitu. Jadi pas kemarin kamu tolak, dia bisa nerima. Ya butuh waktu sih, tapi aku yakin, dia bisa.”

“Maaf ya Dim, sudah membuat temanmu tidak nyaman”

“Santai aja Sha, nggak apa-apa”

“Ya sudah, kalau gitu kamu lanjut saja nyari bukunya. Aku duluan ya mau ke kantin. Laper. Belum sarapan nih.”

Setelah Dimas keluar dari perpustakaan, Ayesha  kembali melanjutkan kegiatannya sebelum waktunya masuk kelas.

 

***

 

 

 

 

 

 

“Mencintaimu dalam diam dan doa adalah caraku untuk memintamu kepada Allah. Ku titipkan cinta ini hanya pada-Mu, jagalah hatiku dan hatinya dari rasa kecewa, hingga waktu itu tiba. Persatukanlah kami dalam restu dan Ridho-Mu”

 

[Tahajud Cinta, EPR]

 

 

 

 

 

TC 16

Khitbah

 

Setelah melewati hari yang melelahkan seharian penuh, akhirnya Ayesha bisa beristirahat lega di kamar kesayangannya. Seketika ingatannya kembali kekata-kata yang pernah Dimas ucapkan tadi pagi di ruang perpustakaan. Dan Ayesha mengambil benda pipih miliknya yang berada diatas nakas. Ia kembali membuka pesan yang pernah ia terima tiga lalu.

‘Apa yang harus aku jawab’

Ceklek !

Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Nampak Umminya Ayesha di pintu.

“Sayang.. kamu sudah pulang ?”

“Eh, Ummi... kenapa, Mi ?”

“Tumben telat pulang.. hampir maghrib gini..”

“Iya Mi, tadi banyak tugas di kampus”

“Kamu melamun ya..? kenapa ? cerita ke Ummi”

“Ehm... Ayesha  bingung Mi”

“Bingung kenapa ?”

Lantas Ayesha menunjukkan pesan WA yang sedang dibacanya tadi.. serta surat yang pernah dikirimi Kavindra kepadanya. Lalu Indah membacanya dengan seksama pesan WA dan suratnya.

“Pengagum Rahasia ?” Tanya Indah bingung.

“Iya Ummi.. pengagum rahasianya itu ternyata Kavin.” Jelas Ayesha.

“Lantas surat ini ?” tanya Indah lagi.

“Iya... dari Kavin juga” Jawab Ayesha

“Lalu apa yang kamu bingungkan sayang.. bukannya kamu juga menaruh hati padanya..”

“Iya sih, Mi.. tapii...”

“Tapi kenapa Nduk.. kamu harus segera memutuskan siapa yang kamu pilih untuk menjadi pendamping hidupmu. Jika Abi hitung dalam  dua tahun ini sudah lima kali kamu menolak lamaran. Dan lamaran itu tidak dari orang sembarangan.” Jawab Hermawan tiba-tiba muncul didepan pintu kamar Ayesha.

“Abi disini ? sejak kapan ?”

“Sejak kalian membahas surat dan pesan dari pengagum rahasia.. saking seriusnya sampai-sampai nggak sadar ada Abi disini. Abi pikir kemana ini rumah kok sepi.” Jelas Abi terkekeh.

“Sayang bagaimana pun kamu harus tetap melanjutkan hidupmu bersama pasangan yang kamu cintai. Kamu masih muda.. cantik.. pintar lagi.. putri kesayangan Ummi” Bujuk Indah sambil memeluk wajah sendu putrinya.

“Tadi malam ada seseorang yang datang lagi untuk melamarmu. Abi kenal baik dengannya. Dia lulusan pesantren. Tapi untuk kali ini keputusan ada di tanganmu, Nduk. Sebab engkau sudah besar, sudah berpendidikan,” Ucap Hermawan sambil duduk tepat disamping Ayesha.

Ayesha merasa sangat bersyukur, dengan kejadian yang pernah ia jalani beberapa waktu silam, membuat kedua orang tuanya menjadi lebih bijak dalam memilih pasangan hidupnya, lebih sabar, demokratis dan sangat terbuka sekarang ini. Terimakasih ya Allah.. ternyata dibalik musibah pasti ada hikmahnya.

“Sekarang.. kamu bersih-bersih dulu. Ummi dan Abi menunggu di ruang mushalla ya.. kita shalat maghrib berjamaah.” Cuaca diluar sana hujan begitu deras dan suara petir sangat keras. Sehingga membuat pak Hermawan melaksanakan shalat maghrib di rumah saja. Biasanya beliau selalu berjamaah ke mesjid yang berjarak sekitar dua kilometer dari rumahnya.

***

 

Ayesha tersadar dari lamunannya. Waktu terus berjalan.

“Bisa jadi keraguan itu datangnya dari setan yang tidak menginginkan kebaikan pada ummat manusia.” Ayesha berdiri. Melangkah ke arah cermin dan memandang wajahnya sendiri. Ia lalu berseru pada wajah yang ada di cermin, “Ayesha, kamu harus mantap! Kamu tidak boleh ada keraguan apa lagi mundur. Bukankah Kavindra adalah cinta pertamamu? bukankah kamu juga mendambakannya? kamu sudah jatuh cinta kedua kali pada orang yang sama. Apa lagi yang kamu cari? move on Ayesha? jangan sia-siakan orang sebaik Kavindra yang telah mengangkatmu dari keterpurukan. Kavindra ikhlas menerimamu apa adanya? Kalau kamu mencari manusia yang sempurna, kamu tidak akan mendapatkannya diatas muka bumi ini! Semua ummat manusia memiliki aib, kekurangan,  salah dan dosa-dosa! Tak ada yang sempurna. Ayesha, kamu harus yakin keputusanmu menaruh hati padanya sudah benar!

Seketika Ayesha mengambil ponselnya, lalu mengirim pesan sesuatu.

***

 

Setelah menunaikan shalat subuh. Seperti biasa Ayesha membantu Umminya memasak. Kebetulan hari Sabtu Ayesha agak santai karena jadwal kuliahnya di mulai jam sepuluh.  Abi juga tidak masuk kantor. Ayesha meminta pendapat dan nasehat dari orang tuanya. Ia telah menjawab dan membalas chat WA dari Kavindra. Bahwa ia telah menerima pinangan Kavindra. Abi dan Umminya kelihatan sangat lega dan bahagia atas keputusan mantap yang telah diambil putrinya. Kemudian Hermawan dan Indah Lestari menceritakan semua tentang Kavindra yang benar-benar ingin mendapatkan Ayesha kembali. Jadi keduanya sudah lebih dahulu mengetahui itu semua, jauh sebelum Kavindra mengajar di kampusnya Ayesha. Kavindra pula yang menyarankan ke Hermawan dan Indah agar Ayesha dapat melanjutkan kuliahnya lagi di kampus yang baru ia dirikan itu yaitu Universitas Hijau Muda (UHM) dan kampus tersebut adalah miliknya Kavindra Syahreza Putra Pratama.

Suatu malam Kavindra mengajak kesebuah restoran untuk mengadakan pertemuan antara Hermawan, Indah, Diana dan Jehan Pratama. Ia menceritakan semuanya kepada mereka tentang hubungannya dengan Ayesha sewaktu mereka masih SMA dan perasaannya terhadap Ayesha dari dulu sampai sekarang belumlah berubah. Namun Kavindra tidak egois dalam hal perasaan, ia berusaha mendekati Ayesha dengan caranya sendiri, secara natural, dan membuat Ayesha bisa kembali jatuh cinta kepadanya. Kavindra akan sabar menanti Ayesha sampai kapanpun. Kavindra kembali mendekati Ayesha dengan cara menjadi dosen di kampusnya. Dan itu semua telah disetujui oleh Hermawan dan Indah beserta Diana dan Jehan. Dua keluarga tersebut menginginkan tetap menjalin hubungan keluarga. Tetapi mereka tidak mau terulang lagi kesalahan yang sama seperti dulu. Mereka percaya kepada anak-anaknya dalam menata masa depan yang indah.

Kavindra sengaja membangun kampus di kota kelahiran Ayesha  yaitu Yogyakarta agar sewaktu-waktu dapat berkunjung ke rumah Ayesha dan keluarganya. Kavindra juga tak menyangka ternyata takdir memihak kepadanya untuk menyatukan kembali Ayesha dengan Kavindra. Keluarga Pratama kembali ingin mengkhitbah Ayesha untuk Kavindra. Apalagi setelah Kavindra menceritakan masa lalunya dengan Ayesha yang ternyata mereka saling mencintai satu sama lain dan cinta mereka sangat terjaga sampai saat ini tanpa ternodai.

                               ***

 

Sore itu dengan pembacaan surat Al Fatihah ikatan pertunangan Ayesha Kirana Mikayla dengan Kavindra Syahreza Putra Pratama resmi sudah. Peristiwa itu disaksikan oleh tokoh-tokoh terpenting dari dua keluarga dan para pemuka agama di masyarakat daerah tersebut. Ayesha tampak anggun  dengan balutan jilbab dan jubah panjangnya berwarna biru muda. Kecantikannya dipuji oleh keluarga Kavindra. Diana Syahputri, Mamanya Kavindra, yang tergolong wanita yang tidak mudah memuji kecantikan orang orang lain, saat itu tidak mampu untuk menahan pujiannya. Ayesha semakin cantik dan dewasa. Cantik parasnya dan juga cantik akhlaknya.

“Pa, calon menantu kita ini kecantikannya sungguh alami ya.” Bisik Bu Diana kepada Pak Jehan, suaminya. Padahal Ayesha juga pernah menjadi menantunya dulu. Tapi Diana sungguh terpesona dengan wajah dan akhlaknya Ayesha.

Pak Jehan Pratama mengangguk pelan.

Kavindra tampak gagah dengan koko biru tuanya. Jika disandingkan dengan Ayesha pastilah pakaian keduanya akan tampak sangat serasi. Sore itu Kavindra mampu menghipnotis seluruh anggota keluarganya tidak terkecuali Ayesha. Sungguh sangat gagah dan tampan.

“Padahal tidak ada kesepakatan kok baju Ayesha dan Nak Kavin bisa serasi ya.” Seru Pak Hermawan sambil tersenyum.

“Ini namanya benar-benar jodoh Pak Hermawan,” Sahut Bu Diana.

“Sudah ada kontak batin yang memadukan, bukankah begitu Kavin?” Sambung Pak Jehan sambil melirik Kavindra. Kavindra hanya tersenyum. Ayesha menunduk memandang lantai. Kalimat-kalimat itu semakin meneguhkan keyakinannya bahwa inilah sejarah hidupnya. Bahwa Kavindra adalah bagian dari sejarah masa depannya.

“Oh iya, Pak Jehan sudah sehat kembali ya?” tanya Pak Hermawan.

Alhamdulillah Pak Hermawan. Saya sudah sehat kembali seperti sediakala. Apalagi ketika saya mendengar berita bahagia ini, seakan saya melupakan semua rasa sakit yang dahulu.” Jawab Pak Jehan panjang lebar sambil terkekeh-kekeh.

Alhamdulillah”

Semuanya tertawa bahagia.

Sore itu juga disepakati hari, waktu dan tempat akad nikah. Setelah dialog penuh kehangatan tercapai kesepakatan bahwa akad dan pesta walimahan diadakan di daerah tempat kelahiran Ayesha. Sementara di Jakarta hanya acara semacam syukuran yang diadakan disebuah hotel berbintang. Yang menarik sebelum hari akad dan walimahan disepakati, Ayesha Kirana Mikayla mengajukan syarat kepada Kavindra jika tetap ingin menikahinya. Ayesha belajar dari pengalaman sebelumnya. Ia tidak mau hal tersebut terulang lagi kepadanya. Karena hal itu membuat ia sungguh sakit dan tidak sanggup menjalaninya lagi. Ayesha sadar ia hanya wanita biasa yang lemah iman.

“Saya punya syarat yang syarat ini menjadi bagian dari sahnya akad nikah. Artinya farji saya halal diantaranya jika syarat saya ini dipenuhi oleh Mas Kavin.” Kata Ayesha di majelis musyawarah itu. Dan itu pertama kali ia menyebut kata ‘Mas’ untuk Kavindra.

“Apa syaratnya?” Tanya Kavindra.

“Saya mau dinikahi dengan syarat selama saya hidup dan saya masih bisa menunaikan kewajiban saya sebagai istri Mas Kavin tidak boleh menikah dengan perempuan lain!" Dengan tegas Ayesha menjelaskan syarat yang diinginkannya.

Kalimat yang diucapkan itu cukup membuat kaget Kavindra dan keluarganya. Kavindra menyetujui syarat yang diajukan oleh Ayesha. Kavindra sangat mengerti akan permintaan Ayesha. Dan Kavindra juga pernah membaca sebuah kitab Al Mughni karya Ibnu Qudamah juz ke -7 halaman 93.

Imam Ibnu Qudamah ketika berbicara tentang syarat dalam nikah sebagaimana termaktub dalam kitab Al Mughni : Yang wajib dipenuhi adalah syarat yang manfaat dan faidahnya kembali kepada isteri. Misalnya sang suami tidak akan mengeluarkannya dari rumahnya atau dari kampungnya, tidak bepergian dengan membawanya atau tidak akan menikah atasnya. Syarat seperti ini wajib ditepati oleh suami untuk isteri, jika suami tidak menepati maka isteri berhak minta dihapuskan nikahnya. Hal seperti ini diriwayatkan dari Umar bin Khattab ra, dan Saad bin Abi Waqqash, Mu'awiyah, dan Amru bin Ash ra. Hal ini juga difatwakan oleh Umar bin Abdul Aziz, Jabir bin Zaid, Thawus, Auzai dan Ishaq.'

Kavindra dan keluarganya sangat paham akan perasaan Ayesha. Selain syarat tersebut merupakan syarat yang menjadi sebab akad nikah yang harus dipenuhi sesuai permintaan Ayesha. Namun dalam hal itu para ulama juga banyak yang memilih pendapat bahwa perempuan boleh mengajukan syarat sebelum akad nikah bahwa suaminya tidak akan menikahi perempuan lain. Dan sang suami wajib memenuhi syarat itu selama dia menerima syarat itu ketika akad nikah.

“Saya hanya ingin seperti Fatimah yang selama hidupnya berumah tangga dengan Ali bin Abi Thalib tidak dimadu oleh Ali. Sungguh saya tidak mengharamkan poligami. Tapi inilah syarat yang saya ajukan. Karena saya hanyalah salah satu wanita yang sangat lemah iman. Jika diterima syarat yang saya ajukan, maka akad nikah segera dirancang untuk dilaksanakan. Jika tidak, ya tidak apa-apa.” Tutur Ayesha panjang lebar dengan wajah sendunya dan mata berkaca-kaca.

Sore itu juga berita telah resminya Ayesha Kirana Mikayla bertunangan dengan Kavindra Syahreza Putra Pratama dosen yang dikagumi segenap mahasiswi UHM langsung menyebar di seantero Yogyakarta. Segenap wanita-wanita cantik di Jakarta dan sekitar kampus UHM merasakan impian mereka untuk bersanding dengan pengusaha muda tampan, kaya raya serta santun tersebut pupus. Beberapa senior dan beberapa pemuda desa yang menaruh hati dan harap kepada Ayesha menelan ludah kekecewaan.

***

Bu Diana belum mengganti gaun yang ia kenakan dalam acara pertunangan putranya. Selepas maghrib ia langsung mengajak Kavindra jalan-jalan mengelilingi kota Yogyakarta. Mereka hanya berdua. Pak Jehan dan yang lain memilih istirahat di hotel. Mobil Toyota Land Cruiser melaju tenang menyusuri Jalan Malioboro. Inilah destinasi pertama yang menjadi surga belanja yang tak kenal sepi. Tiap hari, ribuan wisatawan maupun warga lokal memadati nadi Jogja ini. Berbagai hasil kerajinan, batik, benda-benda seni, makanan khas, hingga barang-barang antik digelar disepanjang bahu jalan berkoridornya. Ketika menyusuri Jalan Malioboro bagian selatan, pasar yang sudah ada sejak tahun 1758 ini pasti akan menarik perhatian. Pasar Beringharjo ini tetap eksis meskipun pasar-pasar modern lain kian menjamur di Jogja. Berhentilah sebentar, coba saja mencicipi ragam kuliner yang dijual disana. Pecel kembang turi yang langka pasti menggoda selera. Setelah itu kita bisa berbelanja, mulai dari batik, jejamuan, hasil kerajinan hingga pakain pengantin yang harganya jutaan bisa kita temukan. Yogyakarta termasuk dalam kota sepuluh besar di Indonesia.

“Vin, kamu bahagia?” Tanya Bu Diana sambil memandang gurat wajah putranya yang sumringah.

“Iya bahagialah Ma. Aku bahagia banget malah.”

“Mama juga bahagia banget Kavin, karena kembali memiliki menantu seperti Ayesha. Anaknya manis, santun, dan punya kepribadian yang sangat baik. Jaman sekarang ini susah lho Vin, mendapat wanita seperti dia.” Tutur Diana panjang lebar memuji calon menantunya itu.

“Iya Ma. Justru karena Ayesha memiliki kepribadian yang baik sehingga membuat aku tidak bisa melupakannya” terang Kavindra.

“Ngomong-ngomong aku baru inget lho Mah.. perkataan  Mama beberapa tahun yang lalu.. saat peresmian Property Pratama yang diberikan kepada Mas Gilang. Ketika itu Mama memperkenalkanku dengan Ayesha sebagai kakak ipar, dan Mama sempat berkata kalau suatu saat aku bisa memiliki istri yang cantik dan baik seperti Ayesha. Dan hari ini Allah kabulkan itu Ma.. ternyata bener ya Mah.. kalau kata-kata itu bisa jadi doa. Dan terkabul sekarang doa Mama.”

“Benerkah..? Mama pernah ngomong begitu ke kamu?”

“Iya Ma.. Makasih ya Ma doanya.”

“Semoga Allah selalu menganugerahkan kebahagiaan yang tiada tara untukmu anakku dan semoga rumah tanggamu nanti kokoh dan barakah, Kavin”

“Aamiin.” Malam itu mereka menikmati panorama malam dikawasan Malioboro. Kavindra minta Mamanya menemaninya makan gudeg dan minum wedang ronde di pojok barat alun-alun Selatan.

“Wah gudeg dan wedang ronde nya enak ya Vin”

“Iya Ma”

“Nanti kalau kamu sudah jadi pengantin baru. Ajaklah Ayesha jalan-jalan malam seperti ini. Akan terasa sangat romantis Vin. Setelah itu ajaklah bermalam di hotel berbintang lima. Pasti itu akan membuat Ayesha semakin cinta padamu Kavin.” Kata Bu Diana sambil tersenyum pada putra kesayangannya.

“Ah Mama, sudah membayangkan yang indah-indah.”

“Ya, bayangkan lah yang indah-indah itu. Karena memang yang indah-indah itu hak para pengantin baru. Dan Mama pernah dengar, bahwa bahwa Rasulullah meminta kepada para perjaka agar menyertai isterinya yang selama tujuh hari saat pengantin baru. Jika isterinya itu seorang gadis. Tujuannya ya katanya agar bisa mereguk keindahan-keindahan bersama sedalam-dalamnya, seromantis-romantisnya, agar cinta di antara

keduanya benar-benar berakar mendarah daging. Dan

dengan itu mawaddah dan rahmah lebih mudah tercipta.”

“Waahh, Mama sudah kayak ustadzah aja.”

“Lho, gini-gini Mama kan juga pernah mengenyam ilmu dari pesantren lho Vin, dan sudah pasti jadi ustadzah pertama bagimu.” Keduanya tersenyum. Imajinasi keindahan berkelebat-kelebat dalam pikirannya. Keanggunan Ayesha dalam balutan serba biru kembali hadir dipelupuk matanya.

 

***

 

 

 

 

 

 

Jangan di kejar, sejauh apapun dia pergi jika dia memang jodohmu maka dia akan kembali kepadamu. Karena jodoh datang di waktu yang tepat, jangan samakan dirimu dengan orang lain, tidak ada kata terlambat untuk menikah.

            

             [Tahajud Cinta, EPR]

 

 

 

 

TC 17

Ikatan Suci

 

Minggu ini benar-benar hectic. Ujian Akhir Semester dan persiapan pernikahan yang harus dilalui bersamaan oleh Ayesha. Sebenarnya tidak teralu banyak yang harus disiapkan karena besok hanya akad dulu dan resepsinya menyusul setelah Ayesha sidang. Surat-surat  untuk kelengkapan nikah sudah dibantu oleh Abinya yang  kebetulan mempunyai teman sekaligus tetangga yang bekerja di Kemenag.

Memang sesuai rencana, mereka akan menikah setelah usai Ujian Akhir Semester ini. Selama ujian, tidak jarang Kavindra menanyakan ke Ayesha tentang materi apa yang belum jelas atau membutuhkan referensi apa untuk membantu belajarnya. Dengan dalih ingin membantu, tapi ada sisi modusnya. Secara Ayesha sudah berani terang-terangan ngobrol dengan Kavindra.

Kavindra : Assalaamu’alaikum. Gimana ujiannya hari ini?  

    Lancar? Ada yang bisa dibantu untuk besok pagi?

Ayesha menghela nafasnya. Sudah bisa ditebak, pesan Kavindra baru saja masuk. Dan selama ujian berlangsung, tepatnya tujuh hari ujian, selalu saja mengirimkan pesan yang sama. Ayesha sendiri heran, bagaimana Kavindra bisa hafal betul mata kuliah yang dia ambil semester ini. Ya, Kavindra semakin protektif dan semakin berani menanyakan segala hal kepada Ayesha semenjak ia telah resmi menjadi calon istrinya. Sebaliknya Ayesha masih saja tetap ‘jual mahal’ meskipun ia juga sangat mengidamkan lelaki tersebut.

Ayesha     : Wa’alaikumsalam. Alhamdulillah, lancar.

                     Alhamdulillah untuk materi besok sudah ada, buku

                    catatan dan buku referensinya. Terimakasih

                    sekali atas tawarannya.

Ayesha tetap memberi jawaban yang sama.

Kavindra :  Alhamdulillah kalau begitu, Proposalnya sudah

                     dikumpulkan?

Ayesha    : Sudah Pak

Kavindra : Lho.. kok Pak sih. Mas dong..?

Ayesha   :  Iya. Pak, Ehh Mas

Kavindra alias Pak Reza memang tahu hari ini batas terakhir pengumpulan proposal penelitian. Beberapa hari yang lalu, Pak Reza meminta Ayesha untuk mengirimkan proposal yang dibuatnya melalui email. Kata beliau sebelum dikumpulkan ke dosen pembimbing, Pak Reza ingin meneliti proposal miliknya. Ayesha tahu Pak Reza saat ini juga menjadi dosen pembimbing proposal di kelas lain di semester yang sama dengan Ayesha. Setelah diteliti, ternyata masih ada beberapa bagian yang harus diperbaiki dan itu semua sudah diberi tanda berwarna merah. Agar mudah diketahui. Tentu setelah dikoreksi oleh Pak Reza, proposalnya menjadi lebih baik lagi. Entah harus bersyukur atau tidak dengan hal seperti ini, tapi katanya  beliau anti previllege. Lha ini namanya apa yaa...hahaha.. apa mungkin karena khusus untuk calon istri kali ya. Entah lah.

Eits, tapi ini tidak berlaku untuk mata kuliah beliau ya.. Pak Reza tetap profesional untuk hal tersebut.

Kavindra :  Kalau persiapan minggu depan bagaimana

Ayesha    :  Memang minggu depan ada apa ya Pak

Kavindra :  Lho.. kok Pak lagi

Ayesha    : Tapi kan.. ini kan urusan kampus, jadi manggilnya

                    Pak saja

Kavindra :  Ya sudahlah. Senyaman kamu saja lah

Ayesha sengaja bertanya seperti itu untuk menguji Pak Reza.

Kavindra :  Memang kamu lupa ya.. minggu depan ada acara

                      apa? Saya kok nggak yakin ya

Ayesha   :   Ehm..

Kavindra :  Mau saya ingatkan? Minggu depan kita MENIKAH.

                      Bagaimana sudah ingat kan?

      Kamu tanya seperti itu, malah bikin saya nggak

     sabar ingin segera menghalalkan kamu, Sha.

Semenit.. dua menit.. tidak ada balasan dari Ayesha.

Kavindra :   Sha.. bales dong?

Ayesha    :   Iya Pak

Kavindra :  Terus bagaimana persiapannya?

Ayesha    :   In sya Allah, sudah hampir rampung Pak,

                      Alhamdulillah banyak yang bantuin, Abi Ummi

                      dan  saudara.

Kavindra :  Btw, jika butuh bantuan, bilang saya ya.. in sya

                      Allah saya bantu.

Ayesha    :  Iya Pak

Kavindra :  Nggak sabaran banget untuk hari H

Tidak ada balasan lagi, Pak Reza pun mengirimkan pesan lagi.

Kavindra :  Ayesha.. bales dong pesennya. Jangan di read 

                    doang

Ayesha   :   Bapak Reza yang terhormat, saya masih ada ujian

                      ini satu lagi. Saya mau belajar. Butuh konsentrasi.

                      Mohon jangan diganggu.

Kavindra : Hahaha.. iya baik.. calon istri yang tercinta.

                    Selamat belajar ya, semoga sukses ujiannya)

Ayesha membaca pesan terakhir dari Pak Reza dengan hati deg-degan.

***

 

Alhamdulillah, Ayesha bisa bernafas lega, akhirnya ujian semesternya selesai juga. Paling tidak, ada satu hal sudah mengurangi kegalauan pikiran dan hatinya. Tinggal satu momen penting dalam hidupnya, yaitu menikah. Ya... tinggal seminggu lagi ia akan menikah dengan dosennya sendiri sekaligus pria pilihan hatinya, cinta pertamanya.. rasanya bagaikan mimpi.

Hari ini Ayesha memang sengaja akan memberitahukan langsung kepada Nadira tentang Kavindra alias Pak Reza yang mereka kenal itu dan sekaligus mengundang dia untuk datang lebih cepat ke acara nikahannya. Ayesha ingin menceritakan kisah cintanya dengan Kavindra sejak dulu semasa SMA, hanya untuk Nadira saja. Ayesha tidak memberitahukan ke teman-teman yang lain, bukan berarti ia menikah secara diam-diam. Hanya saja Ayesha belum siap untuk menghadapi respon dari teman-teman di kampusnya.

“Ra, habis ini kamu ada agenda nggak?”

Tanya Ayesha saat bertemu dengan Nadira usai ujian yang terakhir tadi.

“Nggak ada, pulang ke kosan saja, memang kenapa?”

“Makan yuk?” ajak Ayesha

“Hah... tumben, biasanya paling males lo kita ngajak nongki”

“Kan ngerayain selesainya ujian akhir kita”

“Hmm.. iya..ya.. tapi di traktir ya hehe”

“Okey, khusus hari ini aku traktir deh, kamu bebas mau pilih makan dimana?”

“Oke, yuk”

Akhirnya mereka sampai ke tempat makan yang dituju. Sampai disana suasana ramai mungkin bersamaan dengan jam makan siang. Tempat makan yang berada disekitar kampus tentu saja banyak dipadati para mahasiswa.

“Tumben nih kamu traktir aku tiba-tiba, pasti ada sesuatu” ucap Nadira setelah mereka duduk disalah satu meja. Untungnya mereka mendapat meja dipojok.

“Nggak ada apa-apa kok. Kamu kan tau kalau aku memang baik hehe”

“Halah, nggak percaya aku, to the point aja. Kayak nggak kenal kamu ajah.”

Mereka memang sudah bersahabat sejak lama. Dipertemukan saat ospek dan sering berada di kelompok yang sama sejak jaman ospek dan sering mengerjakan tugas-tugas kuliah secara bersama-sama sehingga membuat mereka semakin dekat. Tidak sekali dua kali mereka saling berkunjung ke rumah masing-masing. Nadira sering menginap di rumah Ayesha terutama saat mengerjakan tugas sampai malam, dan Ayesha juga sering bermain ke kosan Nadira. Ayesha  juga pernah ke rumah Nadira di Surabaya. Orang tua mereka sudah saling mengenal.

“Aku mau nikah” Ucap Ayesha akhirnya. Nadira yang mendengarnya langsung tertawa cukup kencang sampai orang yang duduk disekitarnya menoleh kearah mereka.

“Ya Allah Sha, jangan bercanda lah hahaaha” ucap Nadira sambil masih tertawa.

“Aku serius Ra”

“Hah.. kamu beneran serius mau nikah?” tanya Nadira setelah selesai menertawakan Ayesha. Ayesha pun menganggukkan kepalanya.

“Sama siapa ??? kamu dijodohin lagi ??” Tanyanya lagi.

“Nggak”

“Trus.. nikah sama siapa Sha? bukannya kamu nggak mau terulang lagi seperti yang dulu ?” Nadira mulai serius.

“Sama Pak Reza”

“Haahhh...” Jawab Nadira sampai ternganga.

“Sudah tutup tuh mulut, nanti lalatnya masuk.” Ujar Ayesha

“Pak Reza dosen kita? Kamu serius Sha?”

“Iya, Pak Reza dosen kita.”

“K. Syahreza Putra P, SE., M.B.A. ??”

Ucap Nadira sampai menyebutkan nama lengkap pak Reza sekaligus gelarnya.

“Hafal banget kamu Ra?”

“Hehe.. ya iyalah dosen sejuta mahasiswa lho ini Sha?”

“Itu namanya masih kurang lengkap Ra”

“Trus nama lengkapnya siapa dong?”

“Kavindra Syahreza Putra Pratama, S.E., M.B.A. alias Kavindra nama panggilannya”

“Hah.. jangan kamu bilang itu Kavindra temenmu waktu SMA dulu”

“Iya.. dialah Kavindra temenku saat SMA” ujar Ayesha sambil menganggukkan kepalanya.

Saat Nadira mulai berteman akrab dengan Ayesha, semua cerita masa lalu Ayesha diceritakan kepada Nadira. Tidak sesentipun ia lewatkan. Jadi tidak heran jika Nadira mengetahui semuanya tentang hidup Ayesha dan ia sangat bersimpati dan sangat mengagumi akan sifat dan akhlaknya Ayesha.

“Ya Allah.. Sha, Allah maha baik. Allah kembali pertemukan kalian dengan caranya sendiri,” Ucap Nadira haru dengan mata yang berkaca-kaca sambil mengenggam tangan Ayesha erat.

 

Ayesha juga ikutan terharu dengan sikap sahabatnya itu.

“Allah tak pernah tidur dalam mengawasi setiap hambanya, buah kesabaran itu sangatlah manis, dan buah kesabaran itu adalah kebahagiaan.” Lanjut Nadira yang ntah dari mana dapat potongan kalimat nasehat tersebut.

“Sudah kayak Mama Dedeh ajah kamu Ra”

“Gini-gini juga bisa sesekali jadi ustadzah dan paham agama lho.. Btw, kamu nikahnya kapan emangnya ?”

“Minggu depan”

“Hah.. bener-bener kamu tuh Sha, tega banget, berita bahagia disembunyiin sendiri” Sungutnya.

“Aku baru ngasih tahu kamu aja kok Ra, temen-temen yang lain belum. Lagian minggu depan itu hanya akad dulu. Untuk walimahannya menyusul.”

“Kenapa emangnya ?”

“Aku belum siap, apalagi aku nikah sama dosen sendiri. Mereka kan nggak tahu apa-apa tentang kami, dan aku belum siap dengan tanggapan temen-temen di kampus”

“Kamu nggak percaya diri? apa yang kurang dari kamu? cantik, sholehah, pintar, baik pula. Menurutku apa yang ada di dirimu benar-benar sudah mengimbangi beliau kok.”

“Iya sih, tapi aku belum siap aja. Lagian aku kan janda..,” kata Ayesha sambil tertunduk.

In sya Allah sebentar lagi status kamu berubah, Sha. Kamu jangan nggak semangat gitu toh. Lagian Pak Reza nggak masalah kan? Bahkan bucin banget dia sama kamu, dia tulus sama kamu, Sha.”

“Iya sih Ra. Karena beliau lah aku bisa seperti ini, dan beliaulah yang menjadi pengagum rahasia itu Ra”

“Hah.. jadi selama ini pak Reza kah yang selalu menyemangatimu dan menasehati kamu Sha secara diam-diam?”

“Iya.” Ayesha mengangguk pelan.

“Ya Allah.. Ayesha.. beruntung banget kamu Sha, mendapat lelaki yang begitu baik dan sholeh plus pintar lagi. Semoga kalian bener-bener berjodoh dunia akhirat.

“Aamiiin”

“Tumben kamu dari tadi ngomongnya dewasa banget Ra.” Nadira yang dipuji pun terbatuk-batuk.

“Btw ceritanya gimana sampai Pak Reza ngajak kamu nikah?”

“Panjang ceritanya Ra, kita makan dulu yuk, laper ini”

Akhirnya mereka makan terlebih dahulu. Setelah selesai mereka kembali bercerita tentang perjalanan cinta Ayesha dengan Kavindra alias pak Reza.

***

 

Matahari  memerah   di  ufuk  barat. Tak  lama  lagi akan masuk keperaduannya. Burung-burung  beterbangan kembali kesarangnya. Para  petani yang sehari hari menggarap  sawah tampak berjalan di    pematang  untuk pulang. Kavindra mengemudikan mobilnya dengan tenang. Hari ini Kavindra agak terlambat pulang dari kampus dikarenakan menyiapkan tugas-tugas kuliah untuk kelas lainnya. Rencananya ia akan mengambil cuti selama seminggu sebelum menikah dan seminggu setelah menikah. Mobil itu melintas di depan pasar-pasar dan terus menuju kearah timur.  Melewati kampus UHM. Terus lurus ke timur masuk  jalan Merdeka. Hari sudah menjelang petang. Lampu-lampu jalan sudah menyala. Azan maghrib tak lama   lagi akan bergema.

“Assalamualaikum”

Terdengar suara salam dari pintu yang menghubungkan garasi dengan ruang keluarga.

Wa’alaikumsalam” Jawab Pak Jehan dan Bu Diana secara bersamaan.

Kavindra masuk segera menyalami kedua orang tuanya.

“Baru nyampe Nak?” Tanya Diana

“Iya Ma”

“Sudah sholat?” Lanjut Pak Jehan

“Belum Pa. Kavin kedalam dulu Ma Pa. Mau bersih-bersih dulu terus shalat maghrib”

Setelah selesai bersih-bersih dan melaksanakan kewajibannya sebagai muslim sejati. Kavindra kembali ke ruang tengah menyampari kedua orang tuanya yang sedang santai menikmati cemilan pisang goreng dan teh hangat. Terasa sangat cocok dengan keadaan cuaca di luar sana sangat dingin.

“Wuih.. enak tuh Ma cemilannya,” Ujar Kavindra sambil duduk di samping Mamanya dan langsung mencomot pisang goreng yang dihidangkan Bi Midah.

“Sudah makan kamu Vin?” Tanya Mama.

“Udah tadi Ma. Sore tadi diajak nge bakso sama dosen-dosen di kampus” Jawab Kavindra.

“Silahkan diminum Mas Kavin” Bi Midah mempersilahkan Kavindra mium teh yang dibuatnya.

“Terimakasih Bik”

“Oh iya Vin.. Gimana persiapan pernikahan kamu dengan Ayesha. Kamu bantuin Ayesha lah” Tanya Pak Jehan.

“Hampir 90% Pa, Kemarin sempat Kavin chat Ayesha. Katanya banyak yang bantuin kok Pa,” Jawab Kavindra sambil tersenyum bahagia.

Alhamdulillah kalau begitu”

“Mama perhatikan sepertinya kamu sangat berbeda dalam beberapa hari ini, Vin?”

“Berbeda gimana sih Ma”

“Lebih cerah dan semakin ganteng saja kamu Nak. Nggak seperti biasanya”

“Ah, Mama bisa ajah. Bukannya aku memang ganteng dari sononya ya kan Pa..”

“Iya dong. Anak siapa dulu” Puji Pak Jehan lagi.

“Bukannya itu wajah-wajah pengantin baru ya?” Ledek Bu Diana lagi.

“Mama ih, ngeledek mulu dari tadi”

“Emangnya kenapa sih sayang, kan nggak apa-apa. Sudah seharusnya kamu bahagia. Apalagi mendapat calon istri seperti Ayesha. Sudah cantik, baik, sholeha dan pinter lagi”

Alhamdulillah. Doain ya Ma, semoga acaranya lancar sampai hari H. Oh iya, Papa gimana kondisi badannya?”

Alhamdulillah sudah sangat sehat. Apalagi setelah memutuskan tanggal pernikahan kamu dengan Ayesha, seakan kondisi badan Papa semakin membaik dan sehat”

Alhamdulillah.. bahagia Kavin dengarnya”

Disela-sela menikmati camilan mereka saling bertukar pikiran untuk acara pernikahan Kavindra dengan Ayesha. Diselingi dengan candaan serta godaan untuk Kavindra sehingga membuat malam berlalu begitu saja. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Kavindra dan kedua orang tuanya masuk ke kamarnya masing-masing untuk kembali mengistirahatkan tubuhnya. Kavindra dan kedua orang tuanya sudah berada di Yogyakarta seminggu sebelum acara pernikahan. Mereka menginap di apartemen milik keluarga Pratama. Saat Kavindra mendirikan kampus UHM ia juga membangun sebuah apartemen untuk keluarganya yang terletak tidak jauh dari kampus miliknya.

***

 

Hari ini benar-benar tiba. Hari H pernikahannya dengan Kavindra Syahreza Putra Pratama. Ayesha masih merasa seperti mimpi. Masih tidak menyangka bahwa dirinya menikah lagi dan dengan mantan adik ipar sekaligus cinta pertamanya dan sekarang dosennya sendiri. Ayesha juga tidak mengira akan terjadi pernikahan kedua kali dalam hidupnya. Kali ini ia berharap inilah pernikahan terakhirnya. Mereka akan melangsungkan akad nikah di Mesjid seberang rumahnya. Cukup banyak yang hadir untuk memberikan doa restu pada pernikahan mereka berdua.

Ruang dalam mesjid diberikan pembatas kain yang dihias apik, dengan bunga-bunga yang indah membuat kesan yang lebih santai. Meja kecil berada dipaling depan, ditengah-tengah pembatas antara tamu laki-laki dan perempuan. Akad nikah dilakukan dengan lesehan diatas karpet berwarna biru.

Tamu dari pihak laki-laki sudah datang. Tampak Kavindra datang didampingi ayah disebelah kanan dan ibu disebelah kiri. Memakai jas berwarna hitam serasi dengan celana dan dasinya membuat Kavindra terlihat gagah dan sangat tampan. Terlihat beberapa rombongan dari pihak Kavindra, mungkin sekitar tiga puluhan. Kedatangan rombongan dari pihak laki-laki disambut hangat oleh keluarga pihak mempelai perempuan. Mereka pun diajak untuk memasuki mesjid. Rombongan laki-laki dan perempuan segera diarahkan untuk duduk sesuai dengan tempat yang telah disediakan, laki-laki dan perempuan duduk secara terpisah.

Bau cinta begitu  dekat.  Aromanya  terhisap  masuk sampai ke sumsum jiwa. Efeknya luar biasa. Menyegarkan badan, menajamkan pikiran. Itulayang  dirasakan oleh  Kavindra menjelang ijab qabulnya dengaAyesha Kirana Mikayla.

Acara pun dimulai, Kavindra maju untuk duduk berhadapan dengan Hermawan. Diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh Kavindra sendiri. Kavindra membacakan surah Ar-Rahman dengan hafalan yang lancar dan begitu merdu suaranya disertai dengan tanda baca Al-Quran yang tepat pula. Semua orang terharu serta berdecak kagum mendengar lantunan ayat suci Al-Quran yang dibawakan oleh Kavindra, tak terkecuali Ayesha yang secara tiba-tiba meneteskan air mata karena terharu dan benar-benar kagum serta tidak menduga dengan apa yang dilihatnya. Sebegitu berubahnya Kavindra yang dilihatnya sekarang. Kavindra yang sudah berubah menjadi sosok pria serta imam yang didambakannya selama ini. Setelah selesai membaca ayat suci Al-Quran, Kavindra bersiap untuk mengucapkan ijab qabulnya. Tampak Hermawan menghela nafasnya sebelum berjabat tangan dengan Kavindra.

“Ananda Kavindra Syahreza Putra Pratama Bin Jehan Pratama. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya Ayesha Kirana Mikayla binti Hermawan dengan emas 200 gram dan seperangkat alat shalat dibayar tunai”

“Saya terima nikah dan kawinnya Ayesha Kirana Mikayla binti Hermawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.” Ucap Kavindra mantap dengan penuh haru dan bahagia.

 “Sah,” ucap penghulu dan tamu undangan yang hadir menyaksikan acara akad nikah tersebut. Mereka serempak mengucapkan hamdalah. Setelah itu dilanjutkan dengan pembacaan doa yang langsung dipimpin oleh bapak penghulu.

Barakalallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fiil khairin, (Mudah-mudahan Allah memberkahi engkau dalam segala hal (yang baik) dan mempersatukan kamu berdua dalam kebaikan).

Setelah doa selesai, Ayesha pun diantar maju ke depan untuk menandatangani berkas-berkas. Ayesha didudukkan disebelah Kavindra. Tidak hentinya Kavindra menatap wajah istrinya yang baru saja duduk disebelahnya. Mengenakan gamis cream dengan hiasan renda dibeberapa bagian membuat Ayesha benar-benar terlihat anggun mempesona. Mahkota kecil yang menjadi hiasan diatas hijabnya serta bunga melati yang menjuntai indah dibagian samping kanannya. Riasan make up yang minimalis benar-benar membuat kecantikan Ayesha terpancar. Apalagi Ayesha jarang sekali berdandan. Jadi sekalinya berdandan wajahnya tampak pangling.

“Mas.. mas itu lho istrinya mau salaman” tegur pembawa acara. Kavindra yang menyadarinya langsung tertawa dan mengulurkan tangannya untuk dicium Ayesha. Mereka saling merasakan tangan masing-masing dingin. Setelah itu, Kavindra meletakkan tangannya diatas kepala Ayesha untuk berdoa lalu mencium keningnya lama.. sampai harus diingatkan kedua kalinya oleh pembawa acara. Sesaat setelah mencium keningnya, Kavindra membisikkan kalimat-kalimat yang membuat wajah Ayesha semakin merah merona.

“Aku lega akhirnya tiba juga hari yang sudah lama dinanti-nantikan. Dan aku benar-benar jatuh cinta padamu, Istriku”

Pukul 12.00 tepat acara selesai, keluarga Kavindra pun berpamitan. Setelah melaksanakan shalat Dzuhur di Mesjid, Kavindra masuk ke kamar Ayesha. Ayesha terlihat duduk di pinggir kasur dan gelisah.

Assalamualaikum” ucap Kavindra saat memasuki kamar Ayesha.

Wa..Wa’alaikumsalam” balas Ayesha dengan gugup. Setelah ijab qabul tadi Ayesha kelihatan sangat gugup saat berhadapan dengan Kavindra. Kavindra yang melihat itu tersenyum lalu duduk disebelah istrinya.

“Ehmm..ehm.. saya mau lepas bunga ini dulu”

“Oh.. mau dibantuin nggak?”

“Bo..boleh”

Akhirnya Kavindra membantu Ayesha untuk melepaskan aksesoris yang ada dihijabnya.

“Sha,  pentulnya banyak banget ya ?

“I..Iya”

“Kamu nggak terkena kan.. maksudnya tertusuk gitu?”

“Nggak kok”

“Siapa tadi yang masangin ini semua?”

“Mba Ninda, anak temennya Ummi”

“Ooh.. Ohiya, kamu sudah shalat ?”

“Belum, eh, saya sedang tidak shalat”

Terlihat ada perubahan di wajah Kavindra.

“Kenapa?”

“Oh.. nggak apa-apa. Berarti saya masih berpuasa lah ya” Canda Kavindra sambil tertawa.

“Maksudnya?”

“Nggak.. nggak apa-apa kok”

Ayesha sepertinya langsung ngeh dengan apa yang dimaksud suaminya. Sehingga membuatnya langsung menunduk malu.

Kavindra memperhatikan Ayesha yang menunduk malu.

“Nggak usah malu.. sama suami sendiri”

“Ehm.. saya ijin ke kamar mandi dulu ya?”

Saat akan berdiri, tiba-tiba Kavindra menarik Ayesha sampai terduduk dipangkuannya. Jarak wajah mereka sangat dekat, bahkan Ayesha bisa merasakan nafas dari suaminya. Tatapan Kavindra kepadanya membuat Ayesha menunduk.

“Kamu cantik,” bisik laki-laki itu membuat Ayesha salah tingkah. Pipinya memanas menahan malu.

“Kamu bisa saja Mas...” Balas Ayesha dengan wajah tersipu malu.

“Kamu bilang apa tadi sayang.. sesaat Kavindra terkejut dengan panggilan baru dari istrinya. Baru dua kali ini ia dipanggil ‘Mas’ oleh Ayesha.

Ayesha ingin mencairkan suasana agar terlihat lebih santai dan harmonis. Ia akan menjadi istri seperti yang diidamkan oleh Kavindra. Ayesha ber-azzam ini adalah pernikahannya yang terakhir. Ayesha berusaha setiap saat selalu siap menjadi istri yang baik dan sholeha untuk suaminya.

“Apa? Memang aku  ngomong apa tadi?” Ayesha balik tanya dengan ekspresi bingung.

“Coba dong, ulang. ‘Mas Kavin sayang’ gitu coba,” ledeknya.

“Ah, Mas udahlah jangan asyik ngeledek aja.” Timpal Ayesha dengan wajah cemberutnya.

“Cemberut saja masih kelihatan manisnya, gimana aku  enggak cinta dan susah lupain kamu,” celetuk Kavindra membuat Ayesha salah tingkah disertai dengan pelukan hangat dari suaminya itu.

“Ish.. gombal! Sudah ah, lepas.”

Bukannya melonggarkan pelukan justru semakin mengeratkan pelukannya dan dengan gencar menggoda istrinya. Bahkan laki-laki itu tak segan mengecup kening Ayesha. Karena Ayesha hanya diam saja, kembali ia melanjutkan kata-katanya.

“Kamu pakai pelet apa sih, kok aku secinta ini sama kamu.” Ayesha melotot mendengar pertanyaan suaminya itu. Disertai mulutnya yang geram mendengar pertanyaan konyol suaminya.

“Tanya saja sama mbah dukunnya.” Balas Ayesha dengan kesal. Kavindra terkekeh pelan.

Tiba-tiba ekspresi Kavindra berubah menjadi serius. Ditatapnya setiap inci dan begitu intens wajah sang kekasih halalnya yang menumbuhkan ribuan pahala dari sisi-Nya. Kavindra sangat beruntung mendapatkan istri seperti Ayesha yang sangat menggemaskan dan disertai dengan sifat rendah hati, membuatnya jatuh cinta berkali-kali. Keduanya kembali dipertemukan dikala mereka sudah mantap jiwa dan raga dalam berumah tangga. Mantap dalam hal ilmu agama dan kini keduanya sangat religius. Kavindra pantas menjadi imam yang diidam-idamkan oleh kaum hawa disertai dengan karir yang gemilang wajah yang tampan, cerdas dan berwibawa. Kavindra menjadi pengusaha sukses di perusahaan milik papanya. Sekarang Kavindra lah pewaris tunggal keluarga Pratama.

 

***

 

 

Dan ternyata rencana Allah itu jauh lebih indah dibandingkan dengan rencana kita manusia. Jodoh itu tak pernah tertukar. Sejauh apapun tulang rusuk dan pemiliknya terpisah, keduanya akan kembali bersama. Yang terpenting Allah-lah yang harus utamakan.

 

                [Tahajud Cinta, EPR]

 

 

 

 

TC 18

Nyanyian Cinta

 

“Widiiih pengantin baru ni ya?” ucap Nadira saat menghampiri Ayesha di kursi yang ada dikoridor kampus.

Astaghfirullah, ngagetin saja.”

“Cie..cie.. yang pengantin baru melamun niyee?”

“Heh siapa yang melamun, lagi baca draft skripsi juga. Eh, jangan keras-keras dong nanti ada teman yang denger”

“Oh.. jadi kamu belum nyebarin berita bahagia ini? masih dirahasiakan?”

“Enggak dulu ah, ntar saja kalau sudah nyebarin undangan.”

“Terus kapan dong walimahannya”?

In sya Allah dua minggu lagi, tunggu selesai sidangnya. Jadi kan bisa aman itu.”

“Aman apanya. Aman biar cepet jadi mahmud nih.. haha”

“Iiiihh.. kamu nyebelin deh Ra”

“Maaf deh.. maaf..  Btw, kamu mau bimbingan sama siapa?”

“Pak Arman. Kamu?”

“Bu Santi”

Saat mereka sedang berbincang-bincang terdengar obrolan beberapa orang yang sedang menuju ke arah mereka berdua.

“Sha, tuh suamimu” ujar Nadira sambil mencolek lengan Ayesha.

“Apaan sih” Tapi Ayesha akhirnya menengok juga.

Dilihatnya Pak Reza berjalan dengan beberapa mahasiswi.

“Selamat ya Pak atas pernikahannya.”

“Kalau boleh tahu istrinya orang mana ya pak? Kok nggak ditampilin mukanya sih pak.”

“Biasanya kan orang-orang kalau sudah jadi pengantin baru sering  lho pak pasang-pasang snap/status WA atau berbagi di media sosial.”

“Boleh dong Pak kenalan sama istrinya?”

“Beruntung banget ya pak istri bapak punya suami seperti bapak.”

“Wah, banyak yang patah hati lho Pak, saat tau Pak Reza nikah.”

Mahasiswi tersebut melemparkan banyak pertanyaan terhadap dosen favoritnya itu. Sementara Kavindra alias Pak Reza menanggapinya hanya dengan senyuman saja. Beberapa kalimat yang Ayesha denger dari mereka. Tapi Ayesha melihat sikap Kavindra hanya biasa saja saat menanggapi berbagai pertanyaan dari mahasiswinya. Tidak disangka didepan Ayesha duduk, Kavindra justru berhenti. Ayesha sudah gugup dan kelabakan.

Ya Ampun.. kenapa harus berhenti sih, seharusnya lanjut jalan saja. Batinnya.

Kavindra tersenyum cerah ke Ayesha.

“Pagi Ayesha. Pagi Nadira.”

“Pagi Pak” ujar mereka berdua.

“Ayesha, sudah ketemu Pak Arman?” tanyanya

“Ehm.. be belum Pak. Kayaknya belum datang deh”

“Oh.. nanti coba saya lihat ya.”

“I..iya Pak, terimakasih.”

“Bapak kayaknya kenal banget ya sama Ayesha?” kata Ririn, salah satu mahasiswa yang tadi berbincang dengan Pak Reza. Ririn seangkatan dengan Ayesha juga hanya beda kelas saja. Dia baru saja mengajukan judul seminarnya. Ayesha selangkah lebih maju dari teman-temannya. Ia dapat menyelesaikan kuliah sarjananya dalam kurun waktu tiga tahun. Meskipun ia sempat menganggur, namun tidak menutup kemungkinan untuk umurnya. Ia masih dapat mengejar ketertinggalannya.

“Oh iya, kenal sekali. Kan mahasiswa saya juga”

“Tapi aneh saja Pak, kayaknya lebih perhatian begitu Pak. Beda dengan mahasiswa lain.”

Waduh mati aku. Batin Ayesha

“Perasaan kamu saja itu”

“Oh iya kali ya Pak”

Alhamdulillah... Batin Ayesha.

“Ya sudah, ditunggu bentar ya. Saya cek Pak Arman dulu, apa beliau sudah tiba?” ucap Kavindra sambil berjalan menuju ruangannya.

“Ciee.. cuit..cuit.. Sedepnya... rasanya nikah sama dosen sendiri?” kata Nadira sambil mencolek lengan Ayesha.

“Apaan sih”

“Eh, kamu itu masih ngutang lho sama aku ya. Kisah  cinta kalian harus ceritain ke aku sampe tuntas, pokoknya kapan aja ada waktu aku siap dengerin.”

“Iya-iya”

***

“Ini sudah dikoreksi sama Pak Reza ya kan?”

“Maksudnya Pak?”

“Saya sudah tahu kamu istrinya Pak Reza.”

“I..iya Pak” Jawab Ayesha gugup.

“Maaf Pak, besok-besok lagi biar tidak usah dikoreksi Pak Reza.”

“Eh, tidak apa-apa. Saya justru seneng lho. Kalau beliau mau mengoreksi justru memudahkan pekerjaan saya. Jadi tidak perlu banyak revisi lagi. Tapi enggak mungkin juga langsung saya acc begitu saja, tetap ada koreksi dari saya.”

“Iya Pak.”

“Untuk bab 1 ini sudah oke, hanya perlu kamu perdalam lagi permasalahan yang ini.” tunjuk Pak Arman sambil mencoret-coret skripsi Ayesha.

“Nanti coba kamu tambahkan teori dari buku ini ya.” Pak Arman menunjukkan salah satu judul buku.

“Kamu bisa cari di perpustakaan. Besok kalau sudah siap, bisa kembali ke saya lagi. Tapi jangan lupa WA saya dulu ya. Oiya, sudah ke Bu Sari?”

“Belum Pak, rencana setelah dari bapak.”

“Ya sudah. Segini dulu saja. Salam untuk Pak Reza ya.” ucap Pak Arman sambil tertawa.

“Ya Pak, nanti saya sampaikan. Kalau begitu saya permisi dulu. Terimakasih waktunya Pak. “Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam”

Setelah dari bimbingan, Ayesha langsung ke perpustakaan. Kebetulan Ayesha masih sedang datang bulan sehingga ia terus melanjutkan mencari-cari buku yang dibutuhkannya meskipun waktu Dzuhur telah tiba.  Saking seriusnya, Ayesha tidak menyadari ada beberapa pesan yang masuk ke WA-nya.

Drrrrrtttt...

Tanpa melihat siapa yang menelepon. Ayesha langsung mengangkatnya.

Ayesha     : (Assalamu’alaikum)

Kavindra : (Wa’alaikumsalam... Sibuk banget ya sayang..?)

Ayesha     :  (Ah, eh... Mas yang nelpon?)

Kavindra : (Ya ampun Shaa.. segitunya.. sampai-sampai

                     yang nelpon pun enggak dilihat lagi namanya)

Ayesha     : (M..maaf Mas...)

Kavindra  :  (Lagi di perpus ya sayang.. sudah makan siang?)

Ayesha     : (Iya. Belum Mas..)

Kavindra : (Belum??) Kavindra langsung berdecak sambil melihat jam dipergelangan tangannya.

(Ini sudah jam dua siang lho sayang.. Mas tunggu kamu di ruangan. Enggak pakai lama!) ucap Kavindra diseberang sana. Ayesha langsung membereskan buku-bukunya.

Setibanya di ruangan Kavindra. Ayesha melihat makan siangnya sudah tertata di atas meja. Akhirnya Ayesha makan siang di ruangan Kavindra. Saat makan, Kavindra memajukan tangannya kepinggir mulut Ayesha.

“Kenapa?” tanpa dijawab, Kavindra menunjukkan nasi yang ada dipinggir mulut Ayesha.

“Oh iya, kalau lagi kerja jangan sampe lupa makan, Nanti sakit lho? Kalau kamu sakit kan saya juga yang repot.”

“Oh.. jadi Mas merasa direpotin saya ya..” jawab Ayesha serius dengan wajah cemberut.

“Enggak begitu sayang.. malah seneng direpotin sang bidadari hati.”  ucap Kavindra sambil membelai wajah mulus miliknya Ayesha.

“Senyum dong bidadariku.. biar suasana ruangan ini cerah dan sejuk dengan keindahan senyummu.” lanjut Kavindra menggoda istrinya.

“Iiih... Mas bisa aja deh. Gombal.”

“Ngegombal sama istri sendiri kan nggak dosa bahkan dapat pahala berlipat-lipat. Lagian Mas ngomong yang sebenarnya kok.. memang istrinya Mas Macan kok.”

“Apaa..? Macan..? Mas jahat..” sewot Ayesha.

“Kenapa kok sewot dibilang Macan. Manis dan cantik kan.. I Love You Ayesha sayang.” goda Kavindra lagi seraya mengedipkan sebelah matanya.

“Iiiih.. Mas ah. Aku  kan jadi malu.” seketika wajah Ayesha memerah.

Kavindra lalu menyalakan musik dari laptopnya, lagu Cinta Luar Biasa dari Andmesh Kamaleng mengalun merdu didalam ruangan tersebut. Menambah suasana menjadi syahdu. Ehm..

Keduanya membisu..

Waktu pertama kali

Kulihat dirimu hadir

Rasa hati ini inginkan dirimu

Hati tenang mendengar

Suara indah menyapa geloranya hati ini tak ku sangka

Rasa ini tak tertahan

Hati ini selalu untukmu

Terimalah lagu ini dari orang biasa

Tapi cintaku padamu luar biasa

Aku tak punya bunga

Aku tak punya harta

Yang kupunya hanyalah hati yang setia tulus padamu

Hari hari berganti

Kini cintapun hadir

Melihatmu memandangmu bagai bidadari

Saat sampai lirik ini, Kavindra menatap Ayesha sangat dalam seakan cinta mereka semakin tumbuh dan bersemi. Volume lagu itu pun agak dikecilkan oleh Kavindra.

“Sudah selesai makannya?” Kavindra memecahkan keheningan diantara mereka.

“Sudah Mas.” Jawab Ayesha.

“Kita pulang bareng ya. Sudah mau sore, besok dilanjutkan lagi tugasnya. Mas bantuin ya sayang.”

“Makasih Mas.”

***

            Langit  cerah.   Ufuk  barat   memerah.  Angin  berhembus. Daun  mangga  jatuh.  Senja  bertasbih.  Burung-burung  pulang ke  sangkarnya   dengan   bertasbih. Alunan suara azan yang merdu mengantarkan kedua insan tersebut dalam pikirannya masing-masing.

“Sayang.. kita mampir dulu ke mesjid terdekat ya.. Mas enggak mau telat Ashar. Karena kita langsung ke Jakarta.”

Ayesha hanya menganggukkan kepalanya.

“Kok diem aja sih sayang, capek ya?”

“Ayesha hanya melengos.”

“Kenapa hmm...” ucap Kavindra sambil mengelus pipi Ayesha.

“Merah loh pipinya.” goda Kavindra. Ayesha masih mode diamnya.

“Aku cium lagi lho nanti kalau diam saja.” ucap Kavindra sambil mendekat ke telinga Ayesha.

“Mas ih... ini di jalan lho ya, nanti kalau ketahuan sama polisi bisa ditilang.”

“Ya biarin aja, lagian juga sama istri sendiri.”

Kavindra lalu membelokkan mobilnya ke pelataran parkir Mesjid. Setelah parkir, Kavindra menitipkan jam tangan dan kunci mobilnya ke Ayesha. Berhubung Ayesha sedang berhalangan, ia menunggu di serambi mesjid.

“Yuk, udah selesai.” ajak Kavindra sambil mendekat ke tempat Ayesha duduk.

Subhannallah, ganteng banget suamiku ini, dengan rambut yang masih tampak basah karena wudhuk benar-benar menambah kadar ketampanannya.

“Ehm..” Kavindra berdehem. Ayesha tersentak kaget karena ketahuan melihat suaminya. Waduh ketahuan.

“Ganteng ya suaminya.” Godanya.

“Apaan sih.” ucap Ayesha sambil memukul lengan suaminya.

Beberapa jam kemudian. Mereka tiba disebuah rumah yang sangat mewah dan megah. Kavindra memasukkan mobilnya ke garasi. Kavindra turun dari mobil diikuti Ayesha. Sementara Ayesha bingung dan asing dengan tempatnya itu. Ayesha memandang sekeliling rumah itu. Mewah dan megah. Itu yang terbersit dalam benaknya.

“Ini rumah siapa Mas?”

“Kok sepi, Mas?”

“Tentu saja. Ini rumah kamu, tepatnya rumah kita sayang. Hadiah pernikahan kita. Ini hadiah untuk kamu Ayesha Kirana Mikayla istriku tercinta.”

 

“Ttapi Mas.. ini enggak berlebihan? Rumahnya terlalu besar lho mas untuk kita berdua.”

“Enggak sayang.. ini tidak ada apa-apanya dibandingkan cinta mas ke kamu. Lagi pula siapa bilang rumah ini hanya berpenghuni kita berdua. Nanti akan diramaikan oleh anak-anak kita lho sayang. Kita bikin anak yang banyak ya cinta..  sambil mengedipkan sebelah matanya ke Ayesha.”

“Iiih.. mas genit ah.” sambil mencubit lengan suaminya.

“Ayo.. kita masuk sayang.”

Kavindra langsung menggendong mesra istrinya tercinta dengan membawa masuk kedalam rumahnya yang mewah nan megah itu. Saat masuk ke kamar, suasana menjadi awkward. Setelah dari kamar mandi, Ayesha melihat Kavindra sudah duduk ditepi ranjang. Ayesha bingung harus melakukan apa karena merasa suasana rumah yang baru dan asing, sampai Kavindra menariknya untuk duduk disebelahnya.

“Kok nggak di buka jilbabnya sayang? Malam ini kita nginap disini ya?”

“Tapi Mas.. Aku belum ngabari Abi sama Ummi. Ntar mereka khawatir lho.”

“Itu gampang sayang.. sudah beres kok. Tadi setelah shalat ashar sudah mas WA Abi. Kalau kita langsung ke Jakarta nginap di rumah baru kita dan sekalian weekend.

“Jadi Abi sama Ummi sudah mengetahui semuanya?”

“Iya”

“Iiih.. mas kebiasaan deh, suka ngasi-ngasi surprise

“Tapi seneng kaan..”

“Hmm..”

“Sini Mas buka hijabnya.” Ayesha hanya menunduk malu. Lalu Kavindra pun membuka hijab Ayesha. Meskipun sudah beberapa kali melihat Ayesha tanpa berhijab, namun ia benar-benar terkesima melihat pesona kecantikan istrinya itu.

“Kamu cantik sekali.” bisik Kavindra yang membuat kulit Ayesha meremang.

“Rambutmu panjang dan mmm... wangi. Mas suka aromanya.” ucap Kavindra sambil menghirup dan membelai rambut panjang Ayesha.

“Sambil istirahat kita cerita-cerita yuk, tapi sambil tiduran.” ajak Kavindra. Ayesha pun hanya mengikutinya. Ayesha meletakkan guling di tengah-tengah mereka.

“Kamu tidurnya pakai guling?” tanya Kavindra sambil mengambil guling itu dan melemparnya kebawah tempat tidur.

“Kok dilempar sih?” bukannya menjawab pertanyaan malah balik bertanya.

“Sekarang kan sudah ada guling baru, bisa meluk balik lagi.” Ayesha yang mendengar hanya bisa tersipu malu.

“Boleh meluk nggak?” tanya Kavindra.

“Nggak boleh.” jawab Ayesha.

“Memang nggak boleh?” sambil menjawab Kavindra justru semakin mengeratkan pelukannya.

“Mas ih.. bantalnya kan disana. Sesak ini. Mas tidur di bantalku lho ya ini.” Kavindra hanya tersenyum dan tetap memeluk istrinya erat sambil menciumi pipinya dengan gemas.

“Nggak papa, tidur yuk.”

“Mas geser dong, katanya mau cerita-cerita dulu.”

“Cerita-ceritanya bisa besok-besok aja, sudah yuk tidur sudah malem.”

Gimana bisa tidur coba? Meluknya gini amat.

 

***

 

 

“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istrinya. Tertawa, bermain dan bercandalah dengan istrimu, karena itu adalah sunnah.

Ketika suami istri saling memandang satu sama lain dengan penuh cinta dan kasih sayang, maka Allah memandang keduanya dengan tatapan kasih sayang”

 

[Tahajud Cinta, EPR]

 

 

 

 

 

 

 

TC 19

Hari Bahagia

 

Beberapa minggu kemudian..

Sudah seminggu ini Ayesha belajar mempersiapkan diri untuk menghadapi sidang skripsinya. Kavindra meminta untuk mempresentasikan skripsi itu dihadapannya. Hampir setiap hari kegiatan ini mereka lakukan di ruang kerja rumah mereka, dan waktu sidang yang tinggal besok pagi semakin membuat Ayesha tegang. Seperti malam ini Ayesha kembali belajar bersama suaminya.

“Kenapa sayang?” tanya Kavindra melihat istrinya yang nampak tegang.

“Ya Allah Mas, aku presentasi di depan mas saja sudah deg-degan kayak gini. Ini saja sudah latihan berhari-hari. Gimana besok ya, nggak bayangin kalau dibantai di ruang sidang?” ucap Ayesha dengan nada khawatir.

Kavindra tersenyum lalu mendekat dan mengelus rambut istrinya. Dipeluknya Ayesha dari sisi kanan tubuhnya.

“Jangan tegang, harus percaya diri ya. Kamu itu cerdas lho sayang bisa selesain kuliah hanya tiga tahun. Istri siapa dulu dong.” sambil mengelus lembut pipi istrinya.

“Oh iya tau nggak sayang..  mas itu selalu ingat nasehat dosen mas dulu. Beliau bilang kenapa para mahasiswa itu kalau sidang skripsi pada ketakutan, bahkan karena tegangnya membuat mereka justru lupa apa yang harus disampaikan.”

“Mas sih nggak merasakan?” potong Ayesha.

“Sssst.. bibirnya ini lho.” ucap Kavindra sambil mengecup singkat bibir istrinya. Ayesha yang kaget langsung menepuk lengan Kavindra.

“Dengerin dulu sayang. Siapa bilang nggak merasakan? Mas kan juga pernah menjadi mahasiswa. Jadi apa yang kamu rasain sekarang sudah pernah Mas rasain. Jadi dulu yang membuat mas akhirnya lancar sekali dalam sidang karena ingat kata dosen mas. Beliau bilang kalau skripsi itu kan kita yang membuat, dari awal sampai akhir. Dan karena kita yang menyusun maka sewajarnya kita juga paham isinya. Nah, kenapa dosen penguji itu bertanya? Ya karena mereka ingin tahu isi dari skripsi kita, bukan kayak kata kamu tadi apa? Pembantaian ya.” kata Kavindra sambil tertawa.

“Habis kata para senior yang sudah sidang suasana disana menegangkan banget.”

“Tegang itu wajar tapi jangan sampai menguasai diri. Efeknya yang tidak bagus untuk diri sendiri. Seperti apa yang mas katakan tadi, ketegangan yang berlebihan bisa membuat lupa apa yang seharusnya disampaikan padahal semuanya sudah dipersiapkan dengan baik. Memang dari segi apa yang menakutkan? Tadi mas lihat kamu lancar-lancar saja bahkan sudah menguasai materi dengan sangat baik. Mas jujur lho ini, obyektif sebagai dosen.”

“Ya semuanya mas, ada yang bilang menakutkan saat ditanya tentang latar belakang atau pas landasan teori begitu, tapi ada juga yang takut karena yang ditanyakan metode penelitiannya, ya macam-macamlah, setiap senior yang cerita pasti memiliki pengalaman sendiri-sendiri.”

“Sekarang mas mau tanya, dulu yang mengajukan judul siapa? Mahasiswa atau dosen? Ehm.. gini deh nggak usah jauh-jauh, contohnya kamu saja.”

“Mahasiswa ehm maksudnya.”

“Kenapa kamu mengajukan judul itu?”

“Ya karena aku melihat ada latar belakang permasalahan dari variabel pada subyek penelitian itu.”

“Itu kamu tahu sendiri. Jadi kamu kan yang melihat ada permasalahan disana. Berarti yang tahu lebih dulu juga mahasiswa yang bersangkutan? Dosen pembimbing menyetujui karena itu memang perlu untuk diteliti lebih lanjut.” Ayesha lalu menganggukkan kepalanya.

“Ehm.. tahu nggak mas. Di kampus ada desas desus lho tentang mas”

“Desas-desus apa?”

“Ehm.. tapi mas harus janji dulu, jangan marah ya?”

“Ya lihat dulu dong, ngegosip apa sih?”

“Ya sudah nggak jadi kalau begitu.” kata Ayesha sambil berdiri.

“Eits... nggak boleh pergi dulu. Nggak boleh ngegosip di WA lagi lho ya, sini duduk lagi.” Kata Kavindra sambil menarik pinggang istrinya sampai terduduk lagi.

“Memang desas desus apa lagi? Tentang mas?”

“Mau tau aja atau mau tau banget?” goda Ayesha.

“Awas lho ya.” ucap Kavindra sambil menggelitiki istrinya.

“Sudah.. sudah Mas...” kata Ayesha kegelian.

“Mau bilang nggak?”

“Iya..iya tapi sudah dulu geli aku  mas.” Kavindra berhenti menggelitik istrinya tapi langsung sigap mendekapnya.

“Ih.. mas lepasin ah.” rengek Ayesha.

“Enggak.. ntar kamu lari.”

“Enggak.. nggak aku nggak lari. Bener deh. Ini mas kenceng banget lho.” akhirnya Kavindra melonggarkan dekapannya.

“Bagaimana?” tanya Kavindra.

“Jadi gini, kata teman-teman di kampus itu, ada beberapa dosen yang ditakuti saat sidang.” Ayesha berhenti sejenak.

“Terus?” tanya Kavindra penasaran.

“Ehm... salah satunya mas.” Kata Ayesha lirih.

“Kata mereka lagi, kata mereka lho, ehm.. mas itu ganteng-ganteng srigala begitu.” lanjutnya.

Kavindra yang mendengarnya lalu tertawa terbahak-bahak.

Astaghfirullah... temen-temenmu itu lho -yang ada-ada aja.” kata Kavindra masih sambil tertawa.

“Sudah ah aku mau tidur dulu.” ucap Ayesha kesal saat melihat suaminya yang masih terus tertawa.

“Eits.. kenapa sih? Kok malah kesel? Seharusnya kan mas yang kesel kok malah kamu yang marah sih -yang?”

“Habis nya mas ih dibilangin kok malah tertawa terus.”

“Iya..iya maaf ya..yuk.” kata Kavindra sambil merangkul isrinya.

“Yuk kemana?” tanya Ayesha polos.

“Lhah tadi katanya mau tidur, bagaimana sih nyonya Kavindra Syahreza Putra Pratama ini? jadi nge-blank ya karena suaminya ganteng-ganteng srigala hahaha.” kata Kavindra sambil tertawa. Ayesha yang mendengarnya lalu mendengus pelan dan berjalan mendahului suaminya yang masih harus mematikan lampu ruang kerjanya.

***

 

Akhirnya hari yang menegangkan itu tiba. Setelah belajar tadi malam. Ayesha dan Kavindra memutuskan untuk istirahat. Semalam Ayesha tidak bisa tidur dengan tenang dan Kavindra yang menyadari kegelisahan istrinya itu lalu memeluknya sampai pagi. Pagi harinya pun Ayesha sudah terlihat gelisah. Kavindra yang melihat sikap istrinya lalu menyiapkan sarapan sederhana yang biasanya disiapkan oleh istrinya. Tapi khusus pagi ini, Kavindra yang menyiapkannya.

“Ayo makan dulu sayang.” ajak Kavindra yang melihat istrinya tampak hanya mengaduk makanannya sambil membaca draft skripsinya.

 “Nggak enak ya.” Tanya Kavindra lagi.

“Eh.. enak kok mas. Maaf ya Mas, aku nggak bisa nyiapin sarapannya.”

“Sini.”

“Apa?” Tanya Ayesha dengan kening berkerut.

Draft-nya diletakkan dulu, kamu harus sarapan.”  Ayesha yang baru menyadari kalau piringnya sudah berpindah tempat didepan suaminya, bahkan suaminya juga sudah menyiapkan sesendok makanan didepan mulutnya. Kavindra lalu mengambil draft yang diberikan Ayesha dan meletakkannya disebelahnya.

“Ayo dibuka mulutnya, setegang apapun kamu, harus tetap sarapan ya.” Ayesha pun menurut dan menerima suapan dari suaminya.

“Sudah mas.. aku kenyang.”

“Dua suap lagi.” Kata Kavindra tidak mau dibantah. Akhirnya Ayesha pun menurut.

Setelah selesai sarapan mereka pun berangkat bersama dari apartemen menuju ke kampus. Setelah weekend kemarin Kavindra langsung kembali ke Yogyakarta dan tidak menginap di rumah mertuanya, melainkan tidur di apartemen milik keluarganya agar Ayesha lebih fokus belajar. Lokasinya pun tidak jauh dari kampus miliknya.

Sesampainya di parkiran kampus. Ayesha bergegas turun dari mobil setelah mencium tangan suaminya. Saat tangan kiri membuka handle pintu, Kavindra menahan lengan kanannya. Ayesha pun menengok. Kavindra lalu menarik kepala istrinya dan mencium bibir istrinya cepat. Ayesha terkesiap kaget. “Mas, nanti ketahuan!” Kavindra hanya tersenyum santai menanggapi istrinya yang terlihat kaget.

In sya Allah enggak sayang, parkir masih sepi kok.”

“Tapi nanti kalau ada _”

“Sssst.. udah ah, mas Cuma mau bilang jangan terlalu tegang, mas yakin kamu pasti bisa.” Ucap Kavindra sambil mengelus kepala istrinya.

“Aaamiin. Makasih ya mas doa dan semangatnya. Kalau begitu Aku turun dulu ya.” pamit Ayesha. Kavindra menganggukkan kepalanya.

Begitu sampai di depan ruang sidang, ternyata beberapa temannya sudah datang untuk memberikan semangat. Sekitar setengah jam kemudian Ayesha sangat bersyukur sekali bisa menjawab semua pertanyaan yang diajukan dosen pengujinya, artinya Ayesha sukses dalam mengikuti sidang. Betapa bersyukurnya Ayesha saat mengingat bagaimana suaminya mendampingi dan mengarahkannya selama skripsi sampai sidang.

Setelah selesai, Ayesha pun membuka pintu ruang sidang. Bahagianya Ayesha melihat teman-temannya sudah menunggu dan menyambutnya dengan pelukan dan buket bunga. Ucapan selamat pun mengalir dari mereka. Saat sedang bercengkerama dengan teman-temannya, bahu Ayesha ditepuk oleh salah satu temannya yang bernama Sinta. Ayesha lalu bertanya,

“Kenapa Sin?”

“Balik badan gih Sha, ada someone spesial ini.” ucap Sinta sambil senyum-senyum. Ayesha pun berbalik dan melihat Kavindra yang sudah berdiri sambil tersenyum lebar sembari membawa sebuket bunga mawar merah yang indah. Kavindra lalu melangkah maju dan memberikan buket bunganya itu kepada Ayesha “Congratulation sayang. I’am so proud of you.”

Thanks mas” ucap Ayesha sambil menerima sebuket bunga dari suaminya.

“Peluk...peluk.” Tiba-tiba terdengar suara riuh dari teman-temannya.

“Bener ini nggak apa-apa?” tanya Kavindra sambil tersenyum jahil.

“Nggak pa pa deh pak, kita merem ya teman-teman.” ucap Angga yang diikuti tawa teman-temannya. Kavindra pun langsung maju dan memeluk Ayesha. Sorak sorai teman-temannya begitu terdengar riuh dipenjuru lantai dua kampus itu.

***

 

Ayesha dan Kavindra sudah di mobil sekarang, bersiap pulang ke rumah setelah semua hadiah kelulusan yang berasal dari teman-temannya dimasukkan ke dalam mobil. Ayesha sungguh bahagia hari ini, sesuatu yang ia tunggu-tunggu dan gelisahkan beberapa minggu lalu, akhirnya selesai dengan hasil yang memuaskan. Ia sekarang fokus untuk acara walimahan dan wisudanya.

“Mas.. kok teman-teman sudah pada tau semua ya tentang pernikahan kita ?” tanya Ayesha  tiba-tiba.

“Memangnya kamu malu ya kalau mereka tau.”

“Nggak lah mas, tapi...”

“Nggak usah dilanjutkan sayang.” potong  Kavindra sambil menempelkan telunjuknya dibibir manis istrinya.

“Tadi Sinta ke ruang mas untuk konsultasi, jadi sekalian dia nanyain hubungan kamu dengan mas. Dia penasaran dengan siapa mas menikah. Rupanya pak penghulu kita itu pamannya Sinta. Saat ia berkunjung ke rumah pamannya kebetulan berkas-berkas kita terjatuh di depan Sinta dan ia ikutan ngutip. Dan saat ia liat di sana tercantum nama kita berdua, karena penasaran ia tanya ke pamannya.

“Paman, yang nikah ini siapa?” tanya Sinta ke pamannya.

“Pak Kavindra, seorang CEO muda yang sukses.” kata pamannya.

“Tapi.. kok namanya mirip nama dosen kami ya..” tanya Sinta bingung.

 “Oh iya, denger-denger beliau juga mendirikan sebuah kampus di kota ini.”

“Paman tahu nama kampusnya apa?”

“Itu paman yang enggak tau.”

.”....”

Ternyata Sinta juga sempat melihat kita tadi pagi saat kamu turun dari mobil. Akhirnya mas ceritain saja terus sama dia kalau kamu istri mas. Setelah itu mas nggak tau lagi, apa mungkin dia cerita ke teman-teman yang lain. Gitu sayang ceritanya.”

“Ooh gitu...”

“Kan ga pa pa sayang.. lagian kita kan  sudah jadi suami istri yang sah. Jadi ngapain ditutupi lagi.”

“Iya mas.”

“Btw kamu laper nggak sayang?”

“Laper dong mas.. kan energi aku sudah terkuras abis tadi.. he he.”

“Terus mau makan apa bidadari surgaku.”

“Ish mas ah...”

“Jadi merah kan mukanya. Si macan mas.. manis dan cantik..” Rayu Kavindra sambil mengelus pipi mulus miliknya Ayesha.

“Maaaasss.... gombal mulu sih ah.” jawab Ayesha sambil mencubit manja lengan suaminya.

“Aauuuww.. ampuun nyonya Bos...” ucap Kavindra kaget dengan cubitan istrinya.

“Mas.. Aku  laperr.”

“Oh iya, mau makan apa cintaku?”

“Aku kepingin Mie Sop Iga.”

“Oke.. kita cari tempat Mie Sop Iga yang paling enak di kota ini ya sayang.”

Akhirnya Kavindra mengarahkan mobilnya ke arah sebuah caffe miliknya pak Haji Salim. Disana banyak menu yang tersedia. Andalannya adalah Mie Sop Iga, Mie Sop Iganya memang sudah sangat dikenal terutama dikalangan mahasiswa sekitarnya. Untungnya mereka datang saat belum waktunya makan siang, jadi warungnya belum penuh. Jangan tanya setelah ini pasti sudah susah untuk mencari tempat duduk.

“Mas, boleh tambah nggak?” Kavindra sedang makan pun kaget tapi kemudian dia berpikir mungkin istrinya benar-benar lapar karena baru selesai ujian skripsi.

“Boleh, mas pesenin ya.” Ayesha pun langsung habis dua porsi Mie Sop Iga. Setelah selesai makan dan keluar menuju parkir mobil, Ayesha menahan lengan suaminya lagi.

“Mas, Aku  pengen beli ice cream itu deh, kayaknya seger banget. Tungguin ya.” Kavindra hanya menganggukkan kepalanya, kemudian mengikuti langkah istrinya. Sambil berjalan Kavindra membayangkan saat-saat istrinya hamil nanti yang ingin makan ini ingin makan itu. Istilahnya ngidam gitu ya.. Terasa asyik juga membayangkan hari-hari yang membahagiakan tersebut. Kavindra senyum-senyum sendiri saat membayangkan hal tersebut. Ya  Allah... semoga Engkau segerakan hari yang membahagiakan itu.. Aamiiin ya Rabb.

“Mas...mas...” Kata Ayesha sambil menggoyangkan lengan suaminya.

“Eh,... sudah ya.”

“Mas melamun ya.”

“Enggak kok, yuk pulang.” Ajak Kavindra sambil merangkul istrinya.

Sesampainya di rumah, mereka berdua langsung masuk kamar, dipeluknya suaminya dengan erat. Kavindra yang kaget  langsung berbisik di telinga istrinya.

“Kenapa?”

“Makasih ya mas, berkat bantuan mas aku bisa menyelesaikan skripsi ini dengan tepat waktu. Makasih juga mas selalu sabar dengerin keluh kesahku, mas yang selalu ada setiap aku  butuh kapanpun. Makasih banget.” Ucap Ayesha sambil menatap suaminya.

“Iya, sama-sama sayang. Tau nggak sayang, mas rasanya bangga banget liat kamu lulus lebih cepat dari waktu yang telah ditentukan. Makasih ya sayang. Meskipun udah menjadi seorang istri, kamu tetap semangat mengerjakan skripsi dan mas juga minta maaf pasti banyak membuatmu sakit hati selama minta bimbingan sama mas.”

“Nggak kok mas, pokoknya aku yang makasih banget.” Ucap Ayesha sambil berkaca-kaca.

“Jangan nangis dong sayang, sudah sarjana lho?”

“Ih mas ini lho, Aku kan bener-bener terharu... Oh iya mas pekan depan acara walimahan kita kan ya.”

“Oh iyaya sayang.. hampir lupa saking fokusnya ke sidang kamu sayang.”

“Untuk undangan kawan-kawan di kampus sudah tersebar semua belum mas.”

“Tadi barusan siap sidang kamu, mas langsung minta tolong sama Sinta dkk untuk nyebarin undangan kita sayang.”

“Makasih ya sayang?”

“Ah istri mas ini makasih mulu.. Ya udah, sekarang kamu bersih-bersih dulu, terus istirahat ya sayang. Kan capek seharian tadi.” ucap Kavindra sambil mengecup lembut kening Ayesha.

***

 

Iringan selawat melalui alat musik saxophone terdengar menggema didalam gedung ini. Kavindra yang berdiri diatas karpet merah didampingi kedua orang tuanya menunggu kedatangan Ayesha yang berjalan tidak jauh dari hadapannya. Senyum Kavindra tidak berhenti melihat kehadiran istrinya yang hari itu luar biasa cantik di matanya. Dicampur dengan rindu yang berat membuat hatinya kian membuncah. Tidak sabar rasanya untuk segera memeluk istrinya jika tidak mengingat sekarang sedang berada di tempat umum.

Setibanya di depan suaminya, Ayesha meraih tangan Kavindra untuk dicium. Sebuket bunga yang dipegangnya pun diserahkan. Sembari memberikan bunga, Kavindra memandangi wajah istrinya sambil berbisik “Mas kangen banget sama kamu sayangku.” Mendengar perkataan suaminya, Ayesha tersenyum. Kavindra lalu mencium kening sang istri. Selesai mencium kening istrinya, Kavindra memberikan lengannya untuk digandeng oleh Ayesha. Keduanya pun melanjutkan jalan menuju pelaminan.

Suasana gedung pun tertata apik. Nuansa putih tulang sangat terasa, banyak tatanan bunga disetiap sudut ruangan. Di depan pelaminan terdapat banyak kursi yang berjajar rapi, mungkin sekitar sepuluh baris dengan masing-masing baris terdiri dari dua belas kursi dengan lorong ditengahnya. Para tamu yang akan memberikan ucapan selamat berada disebelah kiri barisan kursi. Sebelah kanan ruangan terdapat meja-meja dengan kursi yang melingkarinya. Sajian makanan berada dibelakangnya. Jadi para tamu yang hadir dipastikan dapat duduk semua jika melihat kursi yang disediakan.

“Ayesha... selamat yaa.” teriak teman-teman kuliahnya. Berbondong-bondong mereka naik ke pelaminan. Satu persatu mereka mengucapkan selamat dan mendoakan kedua mempelai. Sebagian teman-temannya ada juga yang geram dengan sikap Ayesha yang menutupi rapat tentang pernikahannya selama ini.

“Foto bareng dong.” ajak Sinta. Mereka pun segera menempatkan diri disamping kiri kanan dan depan kedua mempelai. Mereka berfoto beberapa kali. Setelah selesai mereka menyalami pengantin itu lagi.

“Sekali lagi selamat ya, semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah, moga cepet kasih ponaan ya buat aku.” bisik Nadira sambil meluk erat sahabatnya itu.

“Aamiiin.” Kita idem ya Sha... apapun yang dibisik Nadira tu tadi ke kamu semoga cepet dikabulin yak.” ucap Mila.

“Selamat ya Pak Reza alias Pak Kavindra. Semoga bahagia.” ucap Nada.

“Doakan kami ya pak semoga kami cepet menyusul” ucapnya lagi.

“Aamiiin, semoga kalian semua cepat menyusul. Terimakasih sudah hadir.” Jawab Kavindra.

“Iya Pak, sama-sama.” Jawab mereka kompak.

Keberadaan mereka sekarang pasti terlihat heboh, bagaimana tidak? Ada sekitar lima puluh orang yang maju ke pelaminan bersamaan disatu waktu. Tingkah mereka saat berfoto bersama dan jangan lupakan suara tawa bahagia mereka karena melihat temannya sendiri yang menikah dengan dosen idola serta pemilik kampus favorite-nya sekaligus juga seorang CEO muda yang sukses. Diam-diam Ayesha tersenyum bahagia melihat teman-temannya bisa menghadiri acara resepsi ini dengan wajah yang juga memancarkan kebahagiaan seperti dirinya.

“Pak Reza.. Ayesha.. kami kebawah dulu ya.” Ucap Angga.

“Oh iya, makasih sudah datang. Silahkan dinikmati apa yang ada ya.” Jawab Kavindra sambil tertawa. Ayesha pun mengangguk sambil tersenyum.

“Pak Reza tau aja.” kata Angga diikuti tawa teman-temannya. Setelahnya mereka pun turun berbaur dengan tamu undangan yang lainnya. Suasana pesta berlangsung sangat khidmat dan meriah. Lagu-lagu romantis juga terus mengalun indah dari penyanyi yang mengiringi suasana pesta tersebut. Kavindra terus merangkul istrinya yang terlihat begitu cantik dan anggun bagaikan princes dibaluti gaun panjang berwarna biru muda yang senada dengan jas mewah miliknya Kavindra. Mereka berdua bagaikan raja dan ratu layaknya dicerita-cerita dongeng. Indah dan sangat bahagia.

 

***

 

Hari ini jalanan menuju kampus Hijau Muda sedang ramai. Banyak kendaraan yang berlalu lalang. Dengan wajah yang berseri-seri mereka mengantarkan kelulusan putra-putrinya menjadi seorang sarjana. Tidak terkecuali Ayesha yang didampingi oleh orang-orang tercinta.

Pukul satu siang acara sudah selesai, para wisudawan pun sudah keluar dari gedung. Ayesha keluar dengan wajah yang berseri-seri. Akhirnya tiba hari  dimana gelar kelulusan sarjana dia dapatkan.

“Sha, ayo foto dulu yuk,” ajak teman seangkatannya.

“Om, tante, pak Reza, Ayesha kami pinjam sebentar yaa, hehe.”

“Ya, silahkan,” kata Kavindra.

Bersama dengan teman sejurusan dan seangkatan yang wisuda hari ini, Ayesha berfoto.

“Selamat ya, Sha”

“Makasih yaa,”

“Selamat yaa,”

“Selamat ya, Risma,”

“Selamat Dinda,”

“Makasih.”

Semuanya berpamitan setelah saling mengucapkan selamat dan menemui teman atau keluarganya yang sudah menunggu. Setelah berpisah dengan Risma, Dinda dan teman-temannya, Ayesha kembali ke tempat awal.

“Sayang, kamu capek? Minum dulu ya?” Kavindra memberikan sebotol air mineral untuk istri tercinta.

“Makasih, Mas.” balas Ayesha sambil duduk dan meminum minuman yang diberikan Kavindra suaminya.

Assalamu’alaikum Mas Kavin?”

Wa’alaikumsalam, Haii.. Rendy apakabar?

Ayesha tersentak kaget mendengar suara dan nama Rendy.

Alhamdulillah Mas..baik.”

“Kamu juga diwisuda hari ini? selamat yaa?” ucap Kavindra bahagia.

“Makasih, Mas” balas Rendy.

“Mas Reno mana? Enggak ikutan?” tanya Kavindra.

“Mas Reno sudah meninggal karena kecelakaan tunggal dua bulan yang lalu, Mas.” lirih Rendy dengan mata berkaca-kaca.

Innalillahi wa innailaihi rajiun.

“Oh iya.. ngomong-ngomong Mas Kavin siapa yang diwisuda?” Tanya Rendy.

“Istri saya. Kenalkan.” Ucap Kavindra.

Ayesha yang tadinya duduk segera berdiri dan menangkupkan kedua tangannya di dada.

“Ayeshaa..” ucap Rendy kaget.

“Kalian saling kenal?” Tanya Kavindra.

“Emm.. iya, Mas. Rendy ini kawannya Dimas. Jadi kita pernah jumpa saat ia ke kampus kita.. Ya kan Ren? Jelas Ayesha kepada suaminya.

“Iiya.. Mas..” Jawab Rendy terbata-bata.

“Mas, kenal dari mana sama Rendy? Tanya Ayesha.

“Mas satu angkatan kuliah di Amerika dengan Reno, kakaknya Rendy yang tadi kita ceritakan." ucap Kavindra.

“Ooh.. begitu. Ternyata dunia ini sempit yaa.

Btw.. selamat ya Ren atas kelulusannya.. Barakallah fii Ilmi.” Ujar Ayesha.

“Makasih, Sha. Selamat juga atas pernikahan dan wisudanya yaa..” Balas Rendy.

“Makasih Ren.” Ucap Ayesha sambil tersenyum.

“Kalau begitu saya pamit dulu ya, Sha.. Mas Kavin?” Ujar Rendy sambil menyalami Kavindra dan kedua orang tua Kavin dan Ayesha.

“Ini untukmu Sayang.. selamat atas kelulusannya ya..” Ucap Kavindra sambil memberikan sebuah buket dengan bunga mawar merah ditengah lengkap dengan boneka Teddy bear graduation. Ayesha sangat bahagia dengan semua yang telah disajikan oleh Kavindra suaminya. Lalu Ayesha menyalami dan memeluk suaminya dengan penuh kasih sayang. Saat Kavindra memeluk Ayesha, ia berbisik tepat ditelinga istrinya.

“Ntar malem, mas kasih hadiah spesial buat kamu ya sayang.. I love you istriku..” Ucap Kavindra menggoda istrinya. Seketika wajah Ayesha memerah menahan malu, karena kata-kata itu terdengar juga oleh orang tua dan mertuanya itu.

“Mas!” bisik Ayesha sembari mencubit pinggang suaminya.

“Aw! Aw! Sayang, ih. Bercanda bercanda,” ucap Kavindra setengah berteriak lalu merangkul istrinya.

Setelah acara foto-foto bersama keluarga, Ayesha dan keluarganya menuju mesjid untuk melaksanakan shalat dzuhur dan lalu mampir kesebuah restoran mewah untuk menikmati makan siang bersama. Dalam sebulan ini, Ayesha benar-benar merasakan bahagia yang sangat luar biasa. Semua impiannya telah terwujud, ‘Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?’.

***

“Kesabaran itu pasti mengalahkan hari yang terberat sekalipun. Kebahagiaan tidak akan pernah sampai kepada mereka yang gagal menghargai apa

yang sudah mereka miliki.”

 

[Tahajud Cinta, EPR]

TC 20

Dzikir Cinta

 

Kring! Kring!

03.00 am.

Dering jam weker itu berhenti tepat setelah seorang wanita mematikannya. Kedua netra dengan bulu mata lentik itu mengerjap saat sinar lampu remang-remang menancap indra penglihatan. Setelah shalat Isya tadi Ayesha langsung tertidur pulas. Tubuhnya benar-benar pegal setelah seharian merayakan hari wisudanya. Ayesha menoleh kesamping tidurnya, seorang laki-laki dengan wajah yang tampan masih tertidur pulas. Tangannya yang kekar memeluk tubuh Ayesha yang ramping. Ayesha masih tidak menyangka jika sampai saat ini dirinya bangun disuguhi pemandangan seindah ini.

Terimakasih, Mas. Sudah berjuang begitu banyak. Sudah sangat sabar menantiku.

Pelan Ayesha menggerakkan jari telunjukknya ke wajah Kavindra, menelusuri dua alis tebal Kavindra yang begitu pas menempel di matanya yang tajam. Hidung mancung dan bibir tipis kemerahan. Nyaris sempurna. Kavindra bergerak saat tersadar jika tidurnya sedang diganggu istrinya.

“Kenapa sayang?” Tanya Kavindra masih dengan kedua mata terpejam. Suaranya yang berat dan serak sukses membuat jantung Ayesha berdebar.

 “Ga ada apa-apa Mas.” Ayesha terkaget karena membuat suaminya terbangun. Ayesha kembali tidur sambil berbalik badan memeluk guling. Dan saat itu pula Kavindra kembali memeluk Ayesha dari belakang dengan sangat erat.

“Hey, cantik bangun yuk, shalat tahajud bareng Mas.” bisik Kavindra tepat di telinga Ayesha.

“Bentar lagi ya Mas, badan Aku  masih pegel-pegel nih.”

“Utututu humairahku tersayang sini-sini Mas gendong ke kamar mandi, ntar selesai tahajud Mas pijitin ya sayang?”

“Ehh, nggak mas.. aku ambil wudhuk dulu ya mas.” langsung terbangun dengan kagetnya.

“Ya udah, kamu duluan yang wudhuk biar Mas yang siapin alat-alat shalatnya ya sayang.”

“Iya Mas” Ayesha tersenyum dengan sangat manis. Bahagia sekali mendapatkan suami yang begitu penyayang terhadapnya.

Setelah selesai shalat tahajud.

Kavindra berdoa dengan suara yang lirih:

“Ya Allah, terimakasih Engkau telah memberikan nikmat baik dalam hidup hamba. Terimakasih telah menakdirkan wanita shalihah untuk menjadi tulang rusuk hamba. Sungguh, aku sangat mencintainya, Rabbi. Jagalah cinta kami, kuatkan iman kami, luruskan niat kami, selalu lindungi kami di jalan yang Engkau ridhai. Ya muqallibal quluub tsabbit qalbi ‘ala diinik”

Aaamiin Ya Rabbal ‘alamiin” jawab Ayesha dengan penuh haru.

Kavindra lalu membalikkan badan seraya disambut Ayesha menyalami tangan suaminya dan menciumnya.

“Terimakasih Mas.. sudah sangat baik untuk aku.” Ucap Ayesha sambil terisak haru.

 Lalu Kavindra merangkul dan memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang.

Alhamdulillah ya Allah telah menganugerahkan seorang imam yang begitu baik dan penyayang untuk hamba. Terimakasih, Mas” ucap Ayesha lagi saat dalam pelukan Kavindra.

Sesaat kemudian Kavindra melonggarkan pelukannya.

“Kenapa? kamu masih ngantuk ya cantik?” tanya Kavindra kepada Ayesha dengan tatapan yang penuh cinta.

“Iya Mas, masih ngantuk” Jawab Ayesha manja.

“Ya udah, sini manis bobo di pangkuan mas.. Mas mau ngaji dulu, ntar mas bangunin kalau sudah adzan subuh.”

Tanpa dikomando lagi Ayesha tersenyum bahagia dan langsung  tidur di pangkuan suaminya.

Kavindra terus menerus menatap wajah Ayesha yang sudah terlelap di pangkuannya. Dengan lembut Kavindra membelai puncak kepala Ayesha yang masih dibaluti mukenanya yang berwarna putih tulang. Wajah naturalnya begitu manis dan sendu saat ditatap membuat hati Kavindra begitu sejuk dan bahagia. Kavindra sangat beruntung dan bersyukur mendapat istri seperti Ayesha, wanita idamannya sejak dulu.

Terimakasih, ya Allah.. telah menakdirkan kepadaku perempuan se-shalihah istriku. Terimakasih ya Allah telah menyatukan kami dalam ikatan cinta yang sah. Semoga cinta kami terus menguat seiring berjalannya waktu sampai ke jannah-Mu kelak.

Terimakasih sayang.. telah menerimaku menjadi suami dan imammu. Semoga aku terus mengukir kebahagiaan dalam hidupmu. Dan semoga cinta kita terus terjaga selamanya. Ana Ukhibbuki Fillah, ya Zaujati. Kembali mengecup puncak kepala istrinya.

***

 

04.40 am.

Sayup suara kokok ayam milik tetangga terdengar membuat Kavindra berhenti melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dan meletakkan mushaf Al-Qur’an kembali diatas nakas. Sebelumnya ia membangunkan istrinya yang masih tertidur pulas dalam pangkuannya.

“Sayang.. bangun sudah mau subuh” ucap Kavindra sambil mengelus lembut pipi manis Ayesha.

“Jam berapa sekarang?” Ayesha mencoba bangun dan matanya masih segaris.

“Jam lima kurang sepuluh menit”

“Hah, beneran?” Ayesha mengucek mata melihat jam yang terpajang diatas nakas samping Al-Qur’an yang di letakkan Kavindra.

“Mas mau jamaah ke Mesjid ya.. terlambat nggak sayang?”

“Nggak dong”

Secepat kilat Ayesha menyiapkan baju koko, sarung serta sajadah yang akan Kavindra gunakan untuk shalat subuh berjamaah di Mesjid. Sementara Kavindra sedang di kamar mandi untuk membersihkan diri.

“Mas berangkat dulu ya sayang. Assalamu’alaikum.”

“Mas, tunggu dulu.” Ayesha menyusul suaminya keluar kamar.

“Kenapa?”

“Lupa belum salim, hehe” Ayesha mengambil tangan Kavindra dan menciumnya.

“Wa’alaikumsalam.”

Pemandangan seperti ini adalah hal yang Kavindra selalu syukuri. Menjadi suami dari Ayesha adalah anugerah terindah yang Allah hadiahkan untuknya. Ayesha adalah wanita yang shalihah dan berbakti kepadanya. Istrinya itu adalah wanita yang kuat, selalu mendukung Kavindra dan berusaha untuk tetap berfikir positif meskipun waktu yang tidak baik. Kavindra mengelus kepala Ayesha dan menciumnya dengan lembut.

“Mas berangkat ke mesjid dulu ya Zaujati

Setelah Kavindra berangkat, Ayesha melaksanakan shalat subuh sendiri di mushalla rumahnya. Memanjangkan syukur kepada Allah yang telah melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya.

“Ya Allah, terimakasih Engkau telah memberikan nikmat baik dalam hidup hamba. Terimakasih telah menakdirkan lelaki shalih untuk menjadi imamku. Sungguh, aku sangat mencintai suamiku. Jagalah selalu cinta kami ya Rabbi. Semoga kekuatan cinta kami bisa membuat iman kami semakin kuat dan semakin tinggi kepada-Mu ya Rabb. Rabbana aatina Fiddunya hasanah, Wa fil akhirati hasanah Waqina ‘adzabannar.”

Sebelum Kavindra kembali dari Mesjid, Ayesha sudah lebih dulu menyiapkan sarapan pagi untuk mereka berdua. Menu untuk bekal sarapan adalah ayam penyet dengan sambal terasi. Waktu itu dirinya dan Kavindra sedang makan bersama disalah satu caffe, karena rasanya yang nagih Kavindra jadi ingin dimasakin sendiri oleh sang istri.

Assalamu’alaikum”

Kavindra membuka pintu utama. Ia berjalan kearah dapur yang menjadi sumber berisik pagi ini. Diam-diam Kavindra memperhatikan istrinya yang kerepotan menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Ayesha selalu lucu kalau sedang fokus begitu.

“Argh!” Ayesha berteriak saat cabe yang digoreng meletus dan minyak panas mengenai wajahnya. Melihat istrinya tampak kesakitan, dengan rasa penuh khawatir Kavindra menghampiri.

“Kenapa sayang?”

Kavindra mendekati Ayesha yang berdiri diam dan menutupi wajahnya.

“Ayesha, kenapa?”

“Sayaaaaang,” Kavindra menyentuh pundak Ayesha dengan lembut, “kamu kenapa sayang?”

Memerlukan sedikit waktu untuk Ayesha mau melepaskan telapak tangannya. Sampai Kavindra melihat wajah istrinya memerah.

“Ada apa?” tanya Kavindra sekali lagi saat Ayesha sudah mulai tenang.

“Pipi aku  kecipratan minyak goreng.”

“Coba mas liat.”

Kavindra menghela nafas melihat pipi Ayesha yang memerah karena minyak panas. Untuk mengabdi menjadi istri yang baik sampai harus seperti ini.

“Duduk dulu, sayang. Biar mas obati dulu pipinya.”

Ayesha menuruti kata suaminya untuk duduk di kursi, sedangkan Kavindra mengambil salep di kotak obat.

“Memangnya kenapa bisa kamu kecipratan minyak?”

“Tadi aku goreng cabe mau buat sambel terasi untuk ayam penyet, tapi cabenya meletus.”

“Lain kali kalau goreng cabe ditutup ya wajannya. Biar wajah kamu tetap cantik.”

Ayesha mengerutkan kening bingung. “Jadi maksud Mas Kavin sekarang Aku jelek?”

“Mas nggak bilang begitu loh, kamu sendiri yang menyimpulkan sendiri," Kavindra duduk disamping Ayesha, “Diem dulu, ditahan protesnya!” sela Kavindra saat Ayesha hendak kembali bersuara.

Kavindra mengelus dengan lembut pipi Ayesha. Istrinya ini begitu cantik meskipun tidak memakai skincare apapun. Lama Kavindra terdiam sampai akhirnya dia mendekat dan mengecup lembut pipi Ayesha. Aroma wangi vanilla milik Ayesha membuat Kavindra betah mendekap sang istri.

“Mas modus ya?”

“Eum...” Kavindra kembali duduk tegap, “Nggak papa modus sama istri sendiri, kan udah halal.”

“Katanya tadi mau ngobatin pipi aku, tapi kok malah dicium.”

“Malah itu tadi obat paling manjurnya. Coba masih sakit nggak pipinya?”

Ayesha menahan senyum. Obat yang diberikan Kavindra sangat manjur membuat jantungnya berulah. Serasa Ayesha dibawa terbang oleh kenyataan. Meskipun bukan pengantin baru lagi, Kavindra berhasil membuat Ayesha merasa dicintai.

“Itu kan langsung sembuh,” goda Kavindra saat melihat istrinya salah tingkah, “Sini Mas kasih salep dulu biar cepat sembuh.”

“Mas punya puisi ini buat kamu sayang..” ucap Kavindra.

“Lagi masak kok maen-maen baca puisi sih, Mas”

“Biar kamunya semangat. Dengar yaa..”

 

Mencintaimu adalah inginku.

Memilikimu adalah dambaku.

Meski jarak jadi pemisah, hati tak akan bisa terpisah. Tidak ada yang mampu membuat hati ini tersentuh, kecuali dirimu sayang,

Karena kamulah bidadari terindah dalam hidupku.

Seketika wajah Ayesha memerah dan hatinya begitu berdesir-desir mendengar ungkapan hati yang tulus dari suaminya.

“Bagaimana bagus nggak puisinya?” tanya Kavindra sambil membelai wajah mulus istrinya.

Ayesha mengangguk pelan sambil tersenyum manis sekali.

“Sekarang biar Mas yang lanjut masak ya, kamu diem saja disitu,” titah Kavindra pada Ayesha setelah mengobati luka di pipi Ayesha.

“Memangnya Mas bisa ngulek sambel?”

“Jangan anggap Mas nggak bisa masak ya. Dulu itu kalau di Malang, Mas sering masak buat Bibi, Eyang, Mama dan Papa.”

Kavindra menggulung lengan baju koko sampai siku. Kemudian memasukkan bumbu yang sudah digoreng ke dalam wadah untuk dia hancurkan. Ayesha tersenyum diam-diam. Lucu sekali melihat Kavindra masak dengan masih memakai sarung dan koko. Menambah kesan suami idaman baginya.

“Oh ya, Mas bisa masak apa saja?”

“Banyak. Bisa nasi goreng, mie goreng, nasi uduk. Nanti Mas sempetin ya masakin kamu biar merasakan bagaimana enaknya masakan Chef Kavindra.”

“Diih, begitu?”

 “Iya lah.”

“Apa jaminannya kalau nanti nggak enak?”

“Mas temenin kamu belanja bulanan.”

“Sepakat.”

Girang sekali mendapatkan kesempatan yang membahagiakan.

Kavindra selalu sibuk dengan perannya sebagai direktur perusahaan dan juga sesekali menyambangi kampus yang didirikannya. Sejak menikahi Ayesha, Kavindra sudah lebih fokus di perusahaannya dan tidak lagi mengajar. Di kampus sudah ia berikan tanggungjawab kepada sahabat kepercayaannya bernama Didy Kusuma. Ia merupakan teman akrab saat menimba ilmu di Amerika. Selain cerdas Didy merupakan salah satu laki-laki yang shalih dan jujur.

“Ayam penyet sudah siap!”

Kavindra menyajikan ayam penyet buatannya diatas meja.

“Bagus banget pakai dihias segala. Chef Juna nggak bakalan nangis liat ini.”

Kavindra tertawa mendengarnya.

“Gimana, enak? Ada yang kurang?”

Melihat ekspresi Ayesha yang diam saja, membuat Kavindra was-was jika bumbu yang dibuat nggak enak. Pasalnya Kavindra sudah lama tidak memasak. Teringat saat ia kelas X SMA terakhir ia memasak bersama bibi dan eyangnya.

“Eum... rasanya itu, kek... gimana yaa,” Ayesha berekspresi layaknya selebgram yang sedang mereview makanan.

“Gimana, sayang?” Kavindra tidak sabar.

Melihat suaminya seperti sekarang membuat Ayesha gemas saja. Dia mencubit hidung mancung Kavindra, “Ini enak banget sayang. Yakin deh, kamu bakal menang kalau ikut Master Chef, pasti banjir pujian dari juri terutama Chef Juna.”

“Masa?” Kavindra menyendok sambel terasi dan ayam penyet dan mencicipinya. Benar, tidak terlalu buruk.

“Ya udah, selamat makan ya, istriku tercinta. Makan yang banyak!” Kavindra menyiapkan nasi ke piring Ayesha.

“Selamat makan juga suamiku tercinta”

Pagi hari ini sangat indah untuk dua orang yang saling mencintai. Ayesha berharap semoga momen seperti ini akan selalu dia rasakan setiap hari sampai tua nanti bersama Kavindra.

***

“Bersungguh-sungguh memperbaiki diri. Berjuanglah meningkatkan kualitas diri. Maka lihatlah, kelak akan kau temukan cinta yang berkualitas”

 

               [Tahajud Cinta, EPR]

TC 21

Terbang ke Singapura

 

Tiga bulan kemudian...

Kavindra pergi ke rumah sakit sendiri dan meninggalkan Ayesha di rumah Pak Jehan. Dengan begitu Ayesha tidak akan kesepian karena di rumah itu ada pembantu. Di rumah sakit keadaan Pak Jehan sudah lebih baik dari kemarin sehingga ia sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Kavindra senang dengan membaiknya keadaan papanya. Tapi ia juga khawatir karena tulang pada bagian kakinya patah akibat terpeleset di kamar mandi.

Sore hari Kavindra keluar dari rumah sakit. Kebetulan pak Jehan sudah diperbolehkan pulang oleh dokter yang menanganinya. Kavindra mengantar pulang papa dan mamanya sambil menjemput Ayesha disana. Ditengah perjalanan Kavindra melihat sebuah mobil misterius sedang mengikuti dibelakangnya. Kavindra lalu menambah kecepatan mobilnya tanpa menghiraukan mobil tersebut.

“Hati-hati Kavin.. jangan ngebut?”

“Iya Ma.”

“Oh iya Vin.. kamu dan Ayesha tidak menunda kehamilan kan sayang?”

“Nggak lah Ma”

“Bagus kalau begitu, mama sama papa sudah sangat menginginkan cucu lho. Iya kan Pa..” ucap mama Diana sambil mengiyakan ke suaminya.

Pak Jehan hanya mengangguk lemah lalu tersenyum singkat.

“Bantu doanya ya Ma”

“Pasti dong nak.”

Sesampainya di rumah, pak Jehan kembali beristirahat. Sementara Bu Diana mempersiapkan perlengkapan-perlengkapanya untuk berangkat ke Singapura.

                                    ***

 

Ayesha sudah siap menunggu kepulangan Kavindra dari rumah sakit bersama orang tuanya. Saat Kavindra tiba, Ayesha segera masuk kedalam mobil dan Kavindra melajukan mobilnya pulang ke rumah mereka.

“Mas gimana kondisi papa?” Tanya Ayesha penasaran.

Alhamdulillah sayang sudah membaik. Tensinya juga sudah normal. Tapi tulang kakinya patah” Jelas Kavindra sedih.

“Ya ampun mas, lalu gimana?”

“Ya.. rencana Papa mau dibawa ke Singapura”

“Kapan rencana mau dibawa Mas?”

“Lusa. Sekarang kita ke kantor Imigrasi ngurus paspor kamu ya sayang.. kamu juga ikut ke Singapura”

“Yey akhirnya aku bisa keluar negri.” Seru Ayesha kegirangan sambil memeluk Kavindra dari samping.

“Kok yey sih.. Alhamdulillah dong sayang...”

Alhamdulillah.”

“Yang berangkat lusa itu cuma Papa, Mama dan Mas dulu sayang, ntar baru kamu nyusul ya.”

“Kenapa aku nggak berbarengan aja Mas?”

“Iya. Karena Mas harus fokus dulu sama papa.. ntar Mas balik lagi untuk jemput kamu. Kita bulan madu lagi di sana ya sayang.” Jelas Kavindra sambil mencubit hidung mancung istrinya dengan gemes.

“Iish, Mas ini ah.. kayak penganten baru saja.”

***

 

Keesokan harinya Kavindra kembali ke rumah sakit mengurus sesuatu yang diperlukan untuk keberangkatan papanya ke Singapura. Ayesha membantu mama Diana mengepak pakaian di rumah untuk dibawa ke Singapura besok.

“Mama jaga kesehatan ya disana? Kalo ada apa-apa mama langsung hubungi Mas Kavin.” Ujar Ayesha khawatir pada mertuanya.

“Kamu nggak perlu khawatir Sha. Mama membawa satu pembantu mama kesana. Kamu fokus sama program kehamilan kamu saja. Semoga sebelum papa pulang ke Indonesia, kamu sudah hamil.” Ujar Bu Diana sambil tersenyum. Wajah Ayesha pun memerah menahan malu. Sudah seharusnya keluarga Pratama sangat menantikan keturunan dari putra semata wayangnya itu. Sejak meninggalnya Gilang, Kavindra lah satu-satunya harapan dan pewaris keluarga Pratama.

“Iya Ma..” Jawab Ayesha sambil tersenyum.

Sore hari Kavindra menjemput Ayesha di rumah Pak Jehan lalu mengajaknya pulang. Sesampainya di rumah, Ayesha memasukkan barang-barang yang diperlukan Kavindra selama di Singapura kedalam koper.

“Berapa hari Mas Kavin disana?” Tanya Ayesha sambil memilih pakaian yang akan dibawa Kavindra.

“Mungkin dua hari. Tergantung kondisi papa sich. Oiya packing juga barang kamu yang diperlukan. Nanti malam mas antar pulang ke rumah Abi.” Jawab Kavindra sambil merebahkan tubuhnya di ranjang.

“Iya Mas.” Jawab Ayesha.

Jam delapan malam mereka berangkat ke rumah pak Hermawan. Karena sudah malam Kavindra juga menginap disana.

“Mas jangan lama-lama perginya?” Ujar Ayesha saat bersiap-siap untuk tidur dipelukan Kavindra.

“Kenapa? sudah kangen?” Tanya Kavindra sambil tersenyum.

“Bukan. Aku sudah terbiasa tidur dipeluk mas Kavin. Aku  merasa nyaman.” Jawab Ayesha.

“Manjanya istriku” ujar Kavindra lalu mencium kening isterinya lalu turun ke bibir Ayesha. Kedua insan itu   kembali bertasbih menyempurnakan ibadah mereka  sebagai hamba-hamba Allah yang mengikuti sunnah para nabi dan rasul yang mulia. Malam begitu indah. Rembulan mengintip malu dibalik pepohonan. Rerumputan bergoyang-goyang bertasbih dan bersembahyang.

Selesai shalat subuh, Kavindra membaca Al - Qur'an disimak oleh isterinya tersayang. Setengah  juz ia baca dengan tartil dan penuh penghayatan. Ayesha  tampak begitu ranum dan segar. Senyumnya mengembang ketika suaminya selesai membaca Al-Qur'an.

“Mau apa pagi ini sayang?” Tanya Ayesha.

“Terserah kamu aja sayang.” Jawab Kavindra sambil mengecup kembali kening istrinya sebelum melepas mukenanya.

“Baiklah. Kalo gitu aku ke dapur dulu ya mas, bantu-bantu Ummi.” Ucap Ayesha sambil membuka mukena dan meletakkannya dengan rapi kembali ditempatnya.

Setelah sarapan Kavindra, Ayesha, Pak Hermawan dan Bu Indah ke rumah sakit bersama. Disana semua orang sudah menunggu kedatangan Kavindra. Seorang dokter dan seorang perawat akan mendampingi keberangkatan mereka ke Singapura. Kini Pak Jehan, dokter, perawat, Bu Diana dan pembantunya berangkat menaiki mobil ambulans. Sedangkan Kavindra, Ayesha, Pak Hermawan dan Bu Indah menaiki mobil pribadi Kavindra.

Sesampainya di bandara pesawat yang telah disiapkan Kavindra sudah siap berangkat. Perawat dan dokter mendorong brankar Pak Jehan masuk kedalam pesawat.

Bu Diana berpamitan dengan pak Hermawan, Bu Indah dan Ayesha. Begitu juga dengan Kavindra. Ayesha meneteskan airmata. Ini pertama kalinya Ayesha ditinggal jauh sama Kavindra selama menikah. Sebelum berangkat ke rumah sakit tadi pagi, Kavindra memberikan kartu kredit dan debit pada Ayesha.

“Mas cepet pulang....” Ucap Ayesha sambil memeluk Kavindra.

In sya Allah sayang, itu pasti. Mas juga udah nggak bisa jauh-jauh lagi dari bidadariku ini.” Bisik Kavindra di telinga Ayesha sambil tersenyum. Wajah Ayesha pun memerah.

“Kamu akhir-akhir ini terlalu manja dan cengeng sayang?” Ujar Kavindra sambil menyeka air mata Ayesha.

“Aku sayang Mas Kavin..”

“Mas juga sangat menyayangimu istriku..” balas Kavindra sambil mengecup kening Ayesha. Lalu Ayesha membalas dengan mencium tangan Kavindra. Setengah jam kemudian pesawat yang ditumpangi Kavindra dan keluarganya lepas landas. Ayesha menyaksikan dengan dada yang sesak. Ia pun menangis dipelukan umminya. Setelah itu mereka pulang menggunakan mobil Kavindra.

***

 

Di perusahaan Riko berada di ruangan Kavindra untuk menggantikan pekerjaan Kavindra. Ia duduk di kursi Kavindra dan melihat foto Ayesha di meja Kavindra. Riko memandangi wajah Ayesha disalah satu bingkai foto. “Kamu cantik, Kavin sangat beruntung bisa  memilikimu Ayesha.” Gumam Riko sambil tersenyum lalu meletakkan foto itu kembali ketempatnya.

“Astaghfirullah.” Gumam Riko kembali setelah tersadar dengan hal yang salah terlintas dipikirannya. Ternyata dulu Riko juga sempat menaruh hati pada Ayesha. Hanya kalah cepat dan kalah saing dengan bosnya itu.

Setelah melihat-lihat beberapa foto Ayesha disana tiba-tiba Riko menyenggol sebuah bingkai foto Ayesha bersama teman-temannya sewaktu di kampus yang ditengahnya berada Kavindra yang notabene dosen mereka dulu. Riko melihat seorang wanita yang berada disamping Ayesha. Sambil mengerutkan kening seakan-akan ia mengingat-ingat wajah wanita tersebut. “Bukankah dia yang pernah menumpahkan minumannya saat acara pesta pernikahan Kavindra dan Ayesha? Iya-iya bener.. dia orangnya. Ternyata temannya Ayesha.. di lihat-lihat cantik juga.” Gumamnya.

***

 

Sesampainya Kavindra dan rombongan di bandara Singapura, ambulans sudah menanti mereka. Kavindra sudah mempersiapkan segalanya sebelum berangkat ke Singapura melalui koneksinya. Sesampai di rumah sakit Pak Jehan diperiksa secara menyeluruh. Setelah itu dokter dari Indonesia membicarakan tentang keadaan Pak Jehan selama dirawat di Indonesia kepada dokter yang akan merawat Pak Jehan selama di Singapura. Selama Pak Jehan diperiksa, Kavindra duduk di kursi ruang tunggu sambil membuka email dari Filia dan Riko asistennya. Ia sesekali memandangi foto Ayesha yang ada di ponselnya sambil tersenyum. Sementara itu Bu Diana dan pembantunya langsung menuju apartemen yang disewa Kavindra.

Keesokan harinya Kavindra memesan ticket untuk pulang ke Indonesia secara online. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Ayesha. Jam dua siang Kavindra terbang ke Indonesia setelah pamit dengan papa dan mamanya. Jam lima sore Kavindra pulang ke rumah Ayesha menggunakan taksi karena mobilnya dibawa pulang pak Hermawan kemarin. Setelah sampai di rumah Ayesha, Kavindra segera mengajak Ayesha pulang ke rumahnya. Ia ingin melepaskan rindu berdua dengan istri tercintanya.

***

 

Satu minggu kemudian....

Kavindra dan Ayesha sedang mengepak pakaian untuk mengunjungi Pak Jehan dan Bu Diana di Singapura besok. Ayesha sangat senang karena ini pertama kalinya ia naik pesawat dan menginjakkan kakinya ke luar negeri.

“Mas.. berapa hari kita di sana?” Tanya Ayesha untuk mempersiapkan berapa pakaian yang akan dibawa.

“Satu minggu cukup sayang untuk sekalian kita liburan.”

“Oke.. cukup sayang.”

“Kalau sudah selesai segera tidur ya sayang. Besok kita berangkat pagi.”

“Iya Mas”

Ayesha pun mempercepat pekerjaannya sambil dibantu suaminya supaya bisa segera tidur dan bangun lebih cepat.

***

 

Pukul 03.00 am.

Pagi terasa dingin dan benar-benar membuat Ayesha mual.

“Ueekkk” sambil berlari ke kamar mandi.

“Sayaaang.. kamu kenapa?” tiba-tiba Kavindra juga terbangun dan menyusul Ayesha ke kamar mandi. Kavindra mengurut-urut leher Ayesha.

“Kayanya aku masuk angin deh, mas.” Kavindra memeriksa dahi Ayesha.

“Sayang kamu pucat dan badanmu agak sedikit panas.”

“Gapapa sayang. Aku  hanya masuk angin. Ntar juga ilang.”

“Beneran kamu gapapa sayang. Kamu istirahat lagi gih!. Masih terlalu pagi ini.”

“Hmmm” Ayesha memeluk Kavindra sangat kencang. Kavindra pun membalas pelukan istrinya itu dengan sangat lembut dan membelai rambut panjang istrinya.

“Istirahat ya sayang, mas shalat tahajud dulu ya.” Ujar Kavindra sambil mengecup dahinya.

“Ikuutt” Jawab Ayesha manja sambil memoyongkan bibirnya.

“Ya udah ayo.. Emang sanggup sayang?”

Ayesha mengangguk.

“Mas gendong ke kamar mandi ya manis.”

Ayesha kembali mengangguk sambil tersenyum bahagia.

Setelah selesai tahajud mereka berdoa bersama-sama, seperti biasa Kavindra kembali melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan Kavindra menyuruh Ayesha kembali tidur sambil menunggu adzan subuh. Ketika adzan subuh Kavindra kembali mendekati istrinya dan mendekatkan punggung telapak tangannya ke dahi Ayesha. “Sudah tidak panas lagi,” gumam Kavindra. Hari ini Kavindra tidak berjamaah ke Mesjid karena ia harus segera berangkat ke bandara pagi-pagi.

“Sayang.. bangun cantik.. kita shalat subuh berjamaah yuk”

“Iya, Mas.” Ayesha segera bangun dan menuju ke kamar mandi untuk berwudhuk.

Setelah melaksanakan kewajiban sebagai hamba Allah. Kedua insan kembali mengangkat tangannya untuk bermunajat kepada Allah SWT. Setelah rutinitas subuhnya, Kavindra mendekati Ayesha yang masih dibaluti mukena yang berwarna abu-abu dan berkata..

“Ya Humaira.. aku ingin kamu yang akan mendampingiku sampai ke syurganya Allah.” sambil mengecup keningnya.

“Aamiiin.. Aku juga mas, Ana Uhibbuka fillah.”

“Sekarang kamu mandi duluan ya sayang. Kita siap-siap ke bandara.”

“Iya Mas.”

Kavindra dan Ayesha pergi ke bandara menggunakan taksi. Ayesha merasa deg-degan sekaligus senang. Ini pengalaman pertamanya menaiki pesawat. Saat Kavindra menggandeng tangan Ayesha, Kavindra merasakan tangan Ayesha sangat dingin.

“Kamu kenapa sayang..” Tanya Kavindra. Ayesha meringis garing.

“Aku  takut mas.” Jawab Ayesha

“Ada mas sayang.. jangan takut ya. Tenang aja.” Balas Kavindra sambil tersenyum dan tetap menggandeng tangan Ayesha hingga naik kedalam pesawat.

Didalam pesawat, Ayesha memeluk lengan Kavindra dengan sangat erat dan menyandarkan kepalanya pada bahu Kavindra. Ia merasa sedikit mual karena terlalu gugup. Tidak berapa lama pesawat pun mendarat. Kavindra dan Ayesha turun dari pesawat. Ayesha terus memeluk lengan suaminya dengan sangat senang.

“Mas.. Aku seneng banget.”

Alhamdulillah..”

Kavindra dan Ayesha meninggalkan bandara menuju apartemen menggunakan taksi. Kavindra ingin istirahat dulu sebelum ke rumah sakit.  Sesampai di apartemen, pembantu Bu Diana sudah menyiapkan makanan untuk Kavindra dan Ayesha karena Kavindra sudah mengabari Bu Diana sebelumnya bahwa ia akan menjenguk papanya hari ini.

“Mau makan dulu sayang?” Tanya Kavindra pada Ayesha saat memasuki apartemen.

“Nanti aja mas. Aku pengen istirahat. Aku mual lagi mas. Mungkin mabok perjalanan kali ya.” Jawab Ayesha lalu duduk di sofa menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa.

“Bi, tolong bikinin minuman jahe panas ya!” Ucap Kavindra pada pembantunya.

“Iya, Mas..” Jawab pembantunya lalu pergi ke dapur.

“Ayo sayang kita ke kamar. Biar bisa istirahat dengan nyaman.” Ajak Kavindra lalu membantu Ayesha berdiri.

“Mas aku nggak kuat. Sudah ingin muntah.” Ucap Ayesha saat sampai didepan kamar. Kavindra segera mengangkat tubuh Ayesha dan membawanya kedalam kamar mandi. Ayesha pun mengeluarkan semua isi perutnya. Kavindra membantu memijat tengkuk Ayesha.

“Kamu sakit sayang?” Tanya Kavindra saat melihat Ayesha sudah tidak muntah lagi.

“Mungkin masuk angin dan mabok perjalanan Mas..”

“Biar Mas kerokin ya sayang.” Sambil membuka pakaian Ayesha.

“Sekalian dipijit ya Mas, Aku  capek banget.”

“Hmmmm.. iya sayang.. apa sih yang enggak untuk bidadariku.” Goda Kavindra. Lalu keluar kamar untuk meminta minyak angin pada pembantunya. Tidak berapa lama Kavindra kembali ke kamar.

Setelah menutup pintu ia mengerokin dan memijit punggung Ayesha.

 

Tok tok tok.. pintu kamarnya diketuk seseorang.

“Mas Kavin minuman jahenya sudah jadi.” Ucap pembantunya dari balik pintu.

“Bawa masuk, Bi!.” Perintah Kavindra.

Pembantu itu pun masuk membawa minuman jahe panas yang diminta Kavindra dan menaruhnya di meja. Ia melihat Kavindra sedang memijit punggung Ayesha yang kemerahan setelah dikerokin Kavindra.

“Eleuh eleuh Mas Kavin segitu sayangnya sama istrinya. Nggak nyangka sifatnya yang cool banget seperti kulkas dulu bisa seperhatian itu pada istrinya.” Gumam Bi Midah setelah keluar dari kamar Kavindra. Setelah selesai memijit Ayesha, Kavindra memberikan minuman jahe pada Ayesha supaya mualnya berkurang. Setelah itu mereka tidur untuk melepaskan penat setelah melakukan perjalanan jauh.

***

 

Sore hari Kavindra dan Ayesha pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Pak Jehan setelah istirahat dan makan di apartemen. Sesampainya di rumah sakit, Kavindra segera menuju kamar Pak Jehan seperti minggu lalu. Tapi ternyata Pak Jehan sudah dipindahkan ke kamar lain karena kamar itu sedang direnovasi. Kavindra pun kembali ke lobby rumah sakit menuju meja informasi untuk menanyakan dimana Pak Jehan dipindahkan. Ayesha mengikuti dibelakang Kavindra.

“Di ruang mana pasien bernama Jehan Pratama dipindahkan?” Tanya Kavindra pada wanita yang menjaga meja informasi menggunakan bahasa Inggris.

“Ruang Alamanda nomor 2 lantai 7. Lift-nya disebelah sana Pak.” Jawab wanita itu setelah mengecek di komputernya sambil menunjuk lift disudut lobby dengan menggunakan bahasa Inggris juga tentunya.

Kavindra pun mengerti dan segera menuju lift yang dimaksud wanita itu. Ayesha mengikuti Kavindra masuk kedalam lift. Sesampai dilantai 7, pintu lift terbuka. Kavindra dan Ayesha keluar dari pintu lift dan melihat petunjuk didepan mereka. Setelah menemukan ruangan Pak Jehan, Kavindra mengetuk pintu ruangan itu takutnya salah kamar. Tidak berapa lama pintu pun terbuka dan muncullah Bu Diana.

Assalamu’alaikum Ma...” Ucap Kavindra sambil mencium punggung tangan bu Diana. Begitu juga dengan Ayesha.

“Ayo masuk. Papa sudah menunggu dari tadi...” balas Bu Diana mempersilahkan Kavindra dan Ayesha masuk.

Saat Kavindra dan Ayesha masuk, mereka melihat pak Jehan sedang duduk. Ini suatu kemajuan karena sebelumnya Pak Jehan hanya bisa berbaring di ranjang.

“Bagaimana keadaan Papa sekarang?” Tanya Kavindra saat sudah duduk di kursi samping ranjang Pak Jehan.

Alhamdulillah Vin, sudah lebih baik.” Jawab Pak Jehan dengan suara yang masih lemas.

“Jam berapa selesai operasinya, Ma..?”

“Kemarin jam delapan malam.”

Tiba-tiba Ayesha menjadi pusing dan ingin muntah. Ia segera masuk ke dalam kamar mandi dan mengeluarkan isi perutnya.

“Ayesha hamil ya..” Tanya Pak Jehan.

“Enggak Pa... hanya masuk angin karena mabuk perjalanan.” Jawab Kavindra sambil menyusul Ayesha ke kamar mandi.

“Mudah-mudahan bukan hanya masuk angin saja, semoga itu pertanda baik untuk kalian ya nak.” Harap Pak Jehan.

“Aamiiin”

“Kavin ajaklah istrimu pulang untuk istirahat. Kasian dia masih kecapean. Lagian Papa sudah lebih baik sekarang.” Ujar Pak Jehan pada Kavindra sambil tersenyum.

Kavindra pun menuruti saran papanya. Ia juga kasian sama Ayesha yang muntah-muntah terus dari tadi siang. Setelah keluar dari ruangan Pak Jehan, Kavindra mengajak Ayesha ke UGD. Kavindra ingin memeriksakan Ayesha apakah ada yang salah dengan perutnya.

“Ngapain kita kesini Mas?” Tanya Ayesha saat sudah sampai didepan UGD.

“Memeriksakanmu. Wajahmu pucat terlalu banyak muntah.” Jawab Kavindra.

“Aku nggak mau. Aku nggak papa Mas. Aku hanya butuh istirahat aja.” Balas Ayesha menolak. Sejujurnya ia sangat takut dengan jarum suntik.

“Ya sudah ayo pulang.” Ajak Kavindra lalu mengajak Ayesha naik taksi yang berjajar didepan rumah sakit.

 

***

 

           

 

 

 

 

 

 

 

“Sesekali berhentilah sekedar untuk bersantai. Bukan untuk terlena, namun membangun semangat untuk perjuangan berikutnya”

                         

                          [Tahajud Cinta, EPR]

 

TC 22

Ngidam

 

Setelah pulang dari rumah sakit dan makan malam, Ayesha dan Kavindra beristirahat di kamarnya.

“Sayang.. kalau kamu masih mual dan pusing, jalan-jalannya ditunda saja dulu ya?” Ucap Kavindra.

“Iya Mas.. tapi kenapa ya mas.. kok Aku  sering banget mual dalam beberapa hari ini.”

“Jangan-jangan kamu beneran hamil lho sayang..”

“Hmmm..”

“Besok kita pulang ke Indonesia aja ya sayang. Kamu lagi gak enak badan jadi perlu banyak istirahat.”

Ayesha hanya mengangguk dan menurut saja apa kata suaminya.

Keesokan harinya..

Saat Kavindra dan Ayesha bersiap-siap untuk berangkat ke bandara, Ayesha sudah membayangkan akan naik pesawat lagi dan itu membuatnya merasa mual. Ia pun menutup mulutnya dan berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya. Kavindra pun menyusulnya.

“Kamu kenapa sayang?” Tanya Kavindra didepan pintu kamar mandi.

“Aku sudah terbayang-bayang akan naik pesawat. Jadi tiba-tiba saja merasa mual Mas.” Jawab Ayesha setelah mengelap mulutnya dengan tissue.

“Gimana sekarang sayang.. sudah enakan?” Tanya Kavindra sambil mengelus punggung istrinya.

Ayesha hanya mengangguk.

“Kita berangkat sekarang ya.. nanti jangan ketinggalan pesawat.” Ajak Kavindra.

Kini mereka menuju bandara menggunakan taksi. Sesampainya di Bandara Indonesia Ayesha merasa sangat lemas. Sebelum naik pesawat tadi ia sudah muntah berkali-kali. Kavindra sangat kasihan dengan Ayesha. Setelah turun dari pesawat, ia segera mengajak Ayesha naik taksi untuk pulang ke rumah.

Setelah sampai di rumah Ayesha segera merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Kavindra memesankan makanan di aplikasi G-food untuk mengisi perut Ayesha yang kosong.

“Sayang.. lain kali kita jalan-jalannya nggak usah naik pesawat ya.. sepertinya kamu nggak bisa naik pesawat deh.” Ujar Kavindra sambil duduk ditepi ranjang.

“Hmmmm. Aku  mau tidur. Mas Kavin mandi sana. Baunya bikin Aku  mual.” Balas Ayesha  lalu menarik selimut dan memejamkan matanya.

“Masa’ sih aku bau? Perasaan sama saja seperti biasanya.” Gumam Kavindra sambil menciumi ketiaknya. Kavindra makin bingung dengan tingkah istrinya yang enggak karuan. Bentar-bentar ngambek, sewot, kadang manjanya berlebihan.

Setelah itu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah Kavindra mandi dan berganti pakaian, tidak berapa lama anggota G-food datang dengan membawa makanan di tangannya. Setelah menerima makanan, Kavindra pergi ke dapur lalu memindahkannya ke piring dan membawanya ke kamar.

“Sayang.. bangun..” Panggil Kavindra membangunkan Ayesha supaya makan. Ayesha pun membuka matanya.

“Ada apa Mas?” Tanya Ayesha sambil mengernyitkan dahinya.

“Ayo makan dulu..” Jawab Kavindra. Ayesha pun duduk dan melihat makanan di piring yang di pegang Kavindra dan tampaklah nasi dengan kuah soto.

“Aku nggak mau Mas.. Aku kepingin nasi goreng Mas...” Rengek Ayesha.

“Ini sudah malam sayang.. Biasanya kamu suka soto? Ayo Mas suapi, buka mulutnya.” Balas Kavindra. Ayesha pun membuka mulutnya dan memakan soto itu disuapi Kavindra.

“Sayang.. setelah ini Mas ke mesjid ya. Kamu shalat maghrib dulu setelah itu istirahat lagi ya sayang.” Ujar Kavindra sambil mengecup kening istrinya dengan lembut. Setelah makan dan menyuapi Ayesha, Kavindra segera bersiap-siap untuk shalat maghrib ke masjid.

***

Siang hari setelah bosan menonton televisi, Ayesha pergi ke halaman belakang untuk menghirup udara segar. Karena disana banyak pohon yang rindang dan berbagai macam tanaman bunga. Kebetulan hari ini adalah Minggu sehingga Kavindra tidak ke kantor. Karena kondisi Ayesha yang sering lemas begini Kavindra berencana untuk tidak masuk kantor beberapa hari dan segera menghubungi Riko untuk meng-handle semuanya. Kavindra ingin menemani Ayesha saja di rumah.

Saat Ayesha mendongak, ia melihat buah mangga bergelantungan di pohonnya. Tiba-tiba air liurnya keluar dan berkumpul didalam mulutnya.

“Uuuhh... bikin rujak mangga kayaknya enak banget nich. Tapi bagaimana ngambilnya ya?” Gumam Ayesha sambil cemberut.

“Ada yang bisa dibantu mbak?” Tanya Bi Siti pembantu yang ada di rumah orang tuanya Kavindra. Bi Siti diajak Kavindra untuk bantu-bantu di rumahnya selama Ayesha kurang sehat.

“Saya mau mangga itu Bi..” Jawab Ayesha sambil menunjuk mangga diatas pohon.

“Tenang Mbak. Sebentar saya panggilkan Kang Asep di depan..” Balas Bi Siti. Kang Asep tukang kebun yang ada di rumah Kavindra, yang mengurus kebun, taman dan halaman rumah Kavindra. Ayesha pun mengacungkan kedua jempolnya pada Bi Siti dan tersenyum senang. Tidak berapa lama Kang Asep masuk ke kebun halaman belakang lalu memanjat pohon mangga.

“Mau yang sebelah mana Mbak?” Tanya Kang Asep pada Ayesha.

“Yang diatas itu Kang. Naik sedikit ya?” Jawab Ayesha sambil menunjuk mangga diatas Kang Asep.

“Yang ini saja ya Mbak, biar gampang ngambilnya?” Ujar Kang Asep pada Ayesha.

“Nggak mau. Aku maunya yang diatas itu Kang...” Balas Ayesha. Kang Asep pun manjat lagi hendak mengambil mangga yang dimaksud Ayesha.

“Alaamaaakk.... semutnya banyak amat yak?” Gumam Kang Asep. Ia pun segera memetik mangga itu dan semutnya berlarian ke tangannya.

“Sini Kang lempar!” Ujar Bi Siti yang menunggu di bawah. Kang Asep pun melempar mangga itu ke bawah tepatnya ke arah Bi Siti. Siti menerimanya dan kaget jejeritan.

“Ya ampun banyak amat semutnya kyaaak!” Jerit Bi Siti lalu membuang mangga itu ke tanah sambil mencak-mencak. Ayesha tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya.

Kavindra yang baru keluar dari kamar mandi mendengar keributan diluar jendela kamarnya. Kebetulan balkon kamar Kavindra dan Ayesha menghadap ke halaman belakang. Ia pun berjalan menuju balkon.

“Ada apa sih berisik banget?” Tanya Kavindra sambil mengelap rambutnya yang basah setelah habis keramas.

“Mbak Ayesha minta mangga Mas..” Jawab Bi Siti.

“Ayo bikin rujak mangga Mas!” Ajak Ayesha.

“Oke juga.” Balas Kavindra lalu segera turun ke bawah.

Ayesha dan Bi Siti segera masuk ke dapur. Kang Asep kembali ke halaman rumah membersihkan taman bunga. Bi Siti membuat bumbu, sedangkan Ayesha yang mengupas mangganya. Saat Kavindra turun semuanya sudah siap.

“Mmmm asem banget...” Gumam Kavindra sambil nyengir-nyegir dan segera memuntahkan kembali mangga yang dimakannya.

“Enak kok. Seger banget!” Balas Ayesha sambil memasukkan irisan buah mangga muda ke mulutnya. Bi Siti yang hanya melihat saja air liurnya ikut mengalir.

‘Ini doyan apa ngidam? Asem begitu dia enak banget makannya.’ Batin Bi Siti sambil nyengir-nyengir bayangin rasa asamnya mangga muda.

“Ayoo Mas dimakan lagi.” Ajak Ayesha.

“Nggak ah, Mas ogah asem gitu dibilang enak. Sebenarnya kamu ini ngidam atau apa sih sayang?” Tanya Kavindra penasaran melihat perubahan yang signifikan pada istrinya. Setelah menghabiskan rujak mangga mudanya, Ayesha dan Kavindra kembali keatas untuk istirahat.

***

“Pernikahan bukanlah akhir dari sebuah cerita, melainkan membuka lembaran baru dan merupakan titik awal dari sebuah perjalanan panjang. Menikah adalah ibadah terpanjang dalam hidup”

 

               [Tahajud Cinta, EPR]

TC 23

                                  Hamil

 

Disepertiga malam Kavindra selalu bertahajud dan bermunajat kepada Allah SWT. Ia sangat bersyukur atas kehidupan yang Allah berikan kepadanya. Allah maha baik. Setelah memberikan orang tua yang selalu menyayanginya dan sekarang ia diberikan hadiah yang luar biasa yaitu seorang istri yang shalihah, cantik, cerdas dan sangat imut menurutnya. Setelah bercerita dan mengadu semua tentang hidupnya kepada sang pemberi hidup, Kavindra memalingkan wajahnya dan melihat sosok wajah yang sangat anggun meski tidak berhias sekalipun. Tidak lain adalah Ayesha istrinya tercinta, sekilas Kavindra tersenyum bahagia melihat istrinya yang tidur sangat nyenyak, sambil mengelus pipi mulus milik Ayesha. Kali ini ia tidak tega membangunkan istrinya untuk tahajud bersama dikarenakan kondisi Ayesha yang masih kurang sehat. Kavindra kasian melihat kondisi istrinya yang sangat berubah beberapa minggu ini. Ia berencana untuk mengajaknya ke dokter untuk memastikan kondisinya baik-baik saja.

ࣖ ÙˆَالْاِÙƒْرَامِ الْجَÙ„ٰÙ„ِ ذِÙ‰ رَبِّÙƒَ اسْÙ…ُ تَبٰرَÙƒَ

Artinya : “Maha suci nama Tuhanmu Pemilik   

                 Keagungan dan Kemuliaan”.

اْلعَظِÙŠْÙ…ُ اللهُ صَدَÙ‚َ Artinya : "Maha benar Allah yang Maha Agung".

Saat adzan subuh berkumandang, Kavindra mengakhiri ayat terakhir dari surah Ar-Rahman.

Saat itu pula Ayesha merasa sangat mual. Ia pun segera bangun dan berlari kedalam kamar mandi. Huek... huek... huek... Ayesha memuntahkan isi perutnya hingga perutnya terasa sakit. Ia hanya memuntahkan air berwarna kekuningan karena lambungnya belum terisi makanan apapun.

“Pahit dan asam sekali...” Gumam Ayesha setelah membasuh dan mengusap bibirnya. Kavindra lalu menghampiri Ayesha kedalam kamar mandi.

“Sayang.. kamu sakit?” Tanya Kavindra.

“Nggak tahu Mas. Tiba-tiba mual. Mungkin kebanyakan makan rujak mangga muda kemarin.” Jawab Ayesha sambil memegangi perutnya.

“Sayang.. wajahmu semakin pucat..” Kavindra mengkhawatirkan kondisi istrinya.

“Mas, bau tubuh mas nggak enak.. Mas mandi deh sana. Aku makin mual.” Balas Ayesha lalu memuntahkan isi perutnya lagi.

Kavindra makin bingung dengan kondisi Ayesha yang makin hari makin aneh. “Kenapa Ayesha  selalu menyalahkan bau tubuhku ya..” Gumam Kavindra yang tidak merasa dirinya bau badan sambil memijit tengkuk Ayesha yang sedang muntah.

“Mas.. maaf ya.. aku  nggak ngerti.. kenapa setiap kali deket dengan Mas terasa mual dan mau muntah.” Ujar Ayesha setelah membasuh mulutnya.

“Sekarang kamu wudhuk dulu ya sayang.. kita shalat subuh berjamaah di rumah. Mas hari ini mau temenin kamu saja jadi nggak ke Mesjid.” Ucap Kavindra.

“Iya Mas.” Jawab Ayesha.

Setelah selesai shalat subuh, Kavindra menyampaikan keinginannya untuk membawa Ayesha ke dokter.

“Sayang kamu siap-siap ya. Kita ke rumah sakit hari ini.”

“Aku nggak mau Mas..” Rengek Ayesha.

“Sayang.. kamu sudah tiap hari lho muntah-muntah.. wajahnya pun makin pucat itu. Mungkin ada yang tidak beres dengan hidung dan syaraf-syaraf kamu sayang. Kita periksa ya.” Jelas Kavindra.

“Nggak mau. Aku nggak mau ke rumah sakit Mas!” Tolak Ayesha lalu melangkahkan kakinya hendak kembali ke tempat tidur. Tapi tangannya ditarik Kavindra.

“Hey mau kemana? Ayo mandi.” Ujar Kavindra sambil membuka mukena Ayesha lalu mengangkat tubuhnya ke dalam bathup. Setelah itu melucuti pakaiannya dan mandi bersama.

***

 

Setelah sarapan pagi, Kavindra beneran mengajak Ayesha ke rumah sakit. Ia ingin Ayesha di periksa secara menyeluruh supaya tahu apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh Ayesha. Ayesha benar-benar tidak bisa menolak dan mengelabui Kavindra kali ini. Terpaksa ia pun ikut ke rumah sakit untuk memeriksa tubuhnya. Sesampainya di parkiran rumah sakit, jantung Ayesha sudah berdebar-debar karena kali ini ia ke rumah sakit bukan untuk menjenguk orang sakit, melainkan untuk memeriksa tubuhnya sendiri.

Belum diperiksa, tapi Ayesha sudah membayangkan yang tidak-tidak. Ia membayangkan kalau ia mengidap penyakit kanker otak, tumor hidung, maag kronis, dan penyakit yang berbahaya lainnya.

“Kyaaaak! Tidak tidak tidak!!” Teriak Ayesha di dalam mobil sambil menaruh kedua tangannya dimasing-masing telinganya. Kavindra kaget melihat tingkah istrinya itu.

“Kamu kenapa sayang?” kok teriak-teriak begitu.” Tanya Kavindra sambil melepas sabuk pengamannya.

“Aku  takut mas..” Rengek Ayesha.

“Nggak usah takut sayang? Ada mas disamping. Tenang ya sayang?” Ucap Kavindra sambil membelai puncak kepala istrinya.

Setelah itu mereka turun dari mobil dan masuk ke pintu utama rumah sakit.

***

 

Saat masuk ke lobby rumah sakit, Kavindra menyuruh Ayesha duduk di kursi tunggu, sedangkan ia mengambil nomor antrian di komputer. Di layar komputer Kavindra memilih medical check up lalu mengeklik tombol OK. Setelah itu keluarlah nomor antrian yang menunjukkan angka 12. Kavindra mengambilnya lalu duduk disamping Ayesha. Ayesha merasa sangat gugup. Tangannya terasa dingin karena ketakutan. Kavindra melihat kekhawatiran Ayesha. Ia pun memegang tangan Ayesha untuk menenangkannya.

“Jangan takut ya sayang? Kalau pun nanti kamu dinyatakan sakit parah, Mas akan berusaha menyembuhkanmu dan Mas tetap mencintaimu sayang. Mas akan mencari dokter terhebat diseluruh dunia untukmu istriku.” Hibur Kavindra sambil tersenyum memandang Ayesha dengan penuh kasih sayang.

“Makasih Mas..” Ujar Ayesha

Dua puluh menit kemudian, nomor antrian Ayesha dipanggil untuk melakukan pendaftaran. Ayesha berdiri dan kemudian duduk di meja pendaftaran.

“Diisi dulu ya Mbak formulirnya...” Ucap pegawai yang melayani Ayesha di meja pendaftaran.

Ayesha pun mengisi nama, tempat dan tanggal lahir, status perkawinan, serta alamat ia tinggal. “Keluhannya apa mbak?” Tanya pegawai rumah sakit itu pada Ayesha.

“Mmmm mual dan muntah Mbak. Apa penyakit lambung saya kambuh ya mbak, tapi aneh kalo deket dengan suami rasanya mual buanget.” Jawab Ayesha.

“Sudah berapa lama?” Tanya pegawai itu lagi.

“Kurang lebih semingguan ini Mbak.” Jawab Ayesha lagi.

“Kapan hari pertama menstruasi terakhirnya Mbak?” Tanya pegawai wanita itu lagi.

“Lupa mbak, pokoknya minggu ini harusnya sudah menstruasi lagi.” Jawab Ayesha.

“Kalau begitu saya alihkan ke poli kandungan saja ya Mbak, dari yang saya lihat keluhannya sepertinya mbak Ayesha sedang hamil. Untuk memastikannya biar nanti diperiksa dokter dulu.” Ujar pegawai rumah sakit pada Ayesha.

“Iya mbak” Jawab Ayesha.

Setelah membayar uang pendaftaran, Ayesha menarik tangan Kavindra ke ruangan dimana poli kandungan berada. Ayesha menyerahkan lembar pendaftaran pada perawat didepan pintu poli lalu duduk di kursi tunggu seperti pasien yang lain. Kavindra membaca tulisan di depan pintu poli yang bertuliskan “POLI KANDUNGAN DAN GINEKOLOGI”. Ia merasa bingung, karena tadi ia mengambil nomor antrian untuk medical check up.

“Kenapa kesini sayang? Kamu hamil?” Tanya Kavindra pada Ayesha.

“Kata Mbak yang didepan tadi disuruh kesini. Mungkin pemeriksaannya yang dimulai dari sini dulu Mas..” Jawab Ayesha. Kavindra pun mengangguk mengerti. Tidak berapa lama ponsel Kavindra berdering. Kavindra pun mengeluarkannya dari saku dan melihat ID pemanggil lalu menjauh dari keramaian.

Kavindra : (“Assalamu’alaikum, ada apa Rik?”)

Riko         : (“Wa’alaikumsalam.. Maaf mengganggu pak.

                   Saya lupa ngabarin bapak, kalau hari ini

                   bapak ada meeting jam sembilan pagi.”)

Kavindra : (“Oh iya, Rik. Untuk beberapa hari ini tolong

                   kamu dan Filia yang handle saja semuanya

                   urusan kantor ya? Termasuk meeting hari ini.

                   Laporannya saya tunggu di e-mail. Istri saya

                   sedang kurang sehat saya mau temenin istri

                   dulu.”)

Riko        : (“Baik Pak. Semoga bu Ayesha lekas

                  sembuh.”)

Kavindra : (“Aamiiin.. terimakasih doanya”)

Setelah memutuskan panggilan telepon dengan Riko. Kavindra kembali ke kursinya.

“Masih lama ya sayang?” Tanya Kavindra pada Ayesha.

“Ya iyalah mas... kan masih banyak ibu-ibu hamil yang duduk disini sebelum kita datang?” Ujar Ayesha yang sudah mulai bosan menunggu.

“Yang sabar ya sayang.. Orang sabar itu di sayang Allah..” Ucap Kavindra menenangkan Ayesha.

Kavindra sangat bingung melihat perubahan psikis istrinya selama ini. Kadang-kadang marah, tiba-tiba kesal sendiri, terus dikit-dikit sedih dan terkadang manjanya berlebihan.

***

Tiga jam berlalu, tapi nama Ayesha belum di panggil juga. Hingga akhirnya hanya dia dan Kavindra yang tersisa di kursi tunggu. Ketika pasien terakhir keluar dari ruang periksa, nama Ayesha pun akhirnya dipanggil juga. Ia dan Kavindra masuk ke ruang periksa poli kandungan. Setelah masuk, Kavindra dan Ayesha duduk di kursi depan dokter. Dokter membaca data Ayesha terlebih dahulu.

“Keluhannya hanya mual dan muntah saja?” Tanya dokter pada Ayesha.

“Iya Dok.” Jawab Ayesha.

“Sudah berapa lama menikah?” Tanya dokter lagi.

“Hampir empat bulan.” Jawab Kavindra.

“Silahkan naik ke tempat tidur. Saya periksa dulu ya...” Ujar dokter kandungan pada Ayesha sambil berdiri dan berjalan kesamping tempat tidur.

Ayesha naik ke tempat tidur dibantu seorang perawat. Tangan dan kaki Ayesha terasa sangat dingin karena terlalu gugup.

“Permisi ya Mbak...” Ujar perawat itu lalu menyingkap gamis Ayesha keatas dan menuangkan gel ke perut Ayesha. Ayesha merasakan gel itu dingin di perutnya.

Dokter pun menggeser alat USG nya kekanan, kekiri, keatas, dan kebawah sekaligus mengabadikannya. Setelah itu dokter duduk kembali ke kursinya, sedangkan perawatnya membersihkan gel di perut Ayesha. Setelah duduk di kursinya, dokter menulis hasil dari pemeriksaannya di kertas. Ayesha yang sudah dibersihkan segera turun dari tempat tidur dan duduk kembali disamping Kavindra.

“Jadi istri saya sebenarnya sakit apa Dok?” Tanya Kavindra tidak sabar.

“Sakit?” Tanya dokternya heran sambil membetulkan letak kacamatanya.

“Iya. Kenapa dia muntah terus-terusan?” Jawab Kavindra.

“Jadi kalian berdua tidak tahu kalau ada janin di sana? Istri Anda hamil Pak.” Jawab Dokter itu.

Alhamdulillah.. jadi istri saya hamil dok? Sayang.. kamu hamil?” Ujar Kavindra kaget dan bahagia atas kehamilan Ayesha.

“Iya. Selamat ya untuk kalian berdua. Usianya masih empat mingguan. Harap dijaga dengan sangat hati-hati.” Ucap Dokter itu sambil tersenyum lalu menyalami Kavindra dan Ayesha.

“Terimakasih Dok.” Jawab Kavindra sambil tersenyum sangat bahagia. Ayesha hanya terharu bahagia, Akhirnya pikirannya jadi tenang dengan bayangan penyakit yang macam-macam.

***

Sore hari asisten rumah tangga yang dipesan Kavindra dari yayasan datang. Mereka ibu-ibu berusia 40 dan 45 tahun. Setelah memencet bel dua kali barulah pintu terbuka dan tampaklah wajah tampan Kavindra diambang pintu.

Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam.. Maaf.. ibu-ibu siapa ya?” Tanya Kavindra sopan saat melihat dua orang ibu-ibu didepan pintu rumahnya.

“Kami asisten rumah tangga dari yayasan yang Bapak pesan.” Jawab salah satu dari mereka.

“Oh, silahkan masuk!” Ujar Kavindra mempersilahkan mereka masuk ke ruang tamu. Mereka pun masuk dan duduk di sofa ruang tamu.

“Boleh tau nama ibu siapa?” Tanya Kavindra pada salah satu dari mereka.

“Saya Suriani biasa dipanggil Ani Pak.” Jawab wanita yang berusia 45 tahun.

“Saya Marianti biasa dipanggil Yanti.” Jawab wanita berusia 40 tahun.

“Okey.. tugas ibu-ibu seperti pekerjaan rumah tangga pada umumnya dan juga menjaga istri saya yang sedang hamil.” Ujar Kavindra pada Ani dan Yanti.

“Baik Pak.” Jawab Ani dan Yanti secara bersamaan.

“Ayo kebelakang. Saya tunjukkan kamar kalian.” Ujar Kavindra lalu berdiri dan diikuti Ani dan Yanti.

“Oh iya, tolong jangan lupa memasak untuk malam ini ya? Kami biasa makan malam pukul tujuh malam.” Ujar Kavindra sebelum pergi setelah mengantar Ani dan Yanti ke kamar mereka.

“Baik Pak.” Jawab Ani dan Yanti bersamaan.

Setelah mengantar Ani dan Yanti ke kamar mereka, Kavindra kembali ke kamar lantai atas dimana Ayesha berada.

“Sayang.. dibawah ada dua orang pembantu baru. Kalau kamu butuh apa-apa panggil saja mereka ya? Mulai sekarang kamu tidak perlu memasak lagi dan nggak usah ngapa-ngapain lagi. Kamu istirahat aja ya sayang..” ujar Kavindra.

“Banyak amat Mas dua orang. Kan masih ada Bi Siti ART dari rumah Mama Papa..” Jawab Ayesha.

“Bi Siti sudah Mas suruh balek ke rumah Mama Papa buat bersih-bersih rumah. Kan kasian rumah nggak ada yang ngurus. Bi Midah lagi di Singapura nemenin mama.” Ujar Kavindra.

“Hmm..”

“Mas cari dua orang pembantu sekaligus untuk bantu-bantu kamu sayang.. pokoknya kamu harus fokus untuk jagain kandungan kamu. Nggak boleh capek-capek lagi ya sayang. Mas nggak mau terjadi apa-apa sama kamu apalagi anak kita.”

“Iya Mas.” Balas Ayesha sambil tersenyum.

***

 

Malam hari Ani dan Yanti sedang menyiapkan makan malam di dapur. Mereka bingung harus memasak  berapa porsi karena mereka tidak tahu berapa jumlah penghuni di rumah Kavindra.

“Yan, kita masak berapa banyak ya?” Tanya Ani pada Yanti.

“Nggak tau Mbak. Tadi Pak Kavindra bilangnya ‘istriku’. Mungkin penghuni rumah ini hanya 2 orang mbak.” Jawab Yanti mengira-ngira.

“Mmmm kamu bener juga.” Balas Ani lalu mengeluarkan bahan-bahan yang ada di kulkas dan memasaknya.

Setengah jam kemudian Ayesha dan Kavindra menuruni tangga untuk menikmati makan malam mereka. Kavindra berjalan sambil memeluk bahu Ayesha. Ayesha juga merasa penasaran dengan asisten rumah tangga mereka yang baru. Sesampainya di meja makan, Kavindra dan Ayesha segera duduk sambil menanti makanan yang disajikan.

“Selamat malam Pak.. Bu...” Sapa Yanti yang sedang menaruh makanan diatas meja makan.

“Hmmm.” Gumam Kavindra.

“Malam juga Bi. Bibi namanya siapa kalau boleh tau?” tanya Ayesha ingin tahu sambil tersenyum.

“Yanti Bu.” Jawab Yanti sambil tersenyum juga lalu kembali ke dapur.

“Kalau Bibi yang satunya namanya siapa Mas?”Tanya Ayesha pada Kavindra.

“Ani apa Ina begitu kalau nggak salah. Mas lupa. Ayo makan sayang sebelum dingin makanannya.” Jawab Kavindra mengajak Ayesha untuk segera makan.

Setelah makan, Kavindra mengajak Ayesha kembali untuk beristirahat di kamar. Di dapur Ani dan Yanti sedang membersihkan dapur dan meja makan.

“Mbak, istri Pak Kavindra cantik banget ya?” Tanya Yanti.

“Iya. Sepertinya sudah cantik baik lagi, hhee.” Jawab Ani.

“Beruntung lah kita mbak kalau majikan kita orang baik.” Lanjut Yanti lagi.

Alhamdulillah, Yan.” Lanjut Ani.

Mereka saling bertatapan dan tersenyum bersama.

Di lantai atas Kavindra dan Ayesha sedang bersantai di kamarnya. Ayesha duduk sambil memeluk lengan Kavindra dari samping.

“Mas...” Panggil Ayesha.

“Hmmm.” Gumam Kavindra membalas panggilan Ayesha. Ayesha tidak sadar dari tadi Kavindra sedang memandangi wajahnya. Saat mendongak kearah Kavindra. Ayesha mengerutkan dahinya merasa heran. Ia berpikir apakah ada sesuatu di wajahnya. Ia pun mengusap wajahnya berharap menghapus apa yang menempel di wajahnya. Kavindra melihat kelakuan Ayesha pun tersenyum.

“Mas Kavin kenapa ngeliatin aku seperti itu?” Tanya Ayesha pada Kavindra dengan cemberut.

“Mas ingin mengamati wajah istriku dengan seksama.” Jawab Kavindra sambil tersenyum dan menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Ayesha kebelakang telinganya.

“Tumben? Kenapa?” Tanya Ayesha merasa heran.

“Kamu semakin cantik sayang semenjak hamil dan juga semakin berisi.” Jawab Kavindra jujur.

“Mas Kavin ngatain Aku  gendut?” Tanya Ayesha tidak terima dikatain ’semakin berisi’. Kavindra pun tertawa mendengar pernyataan Ayesha.

“Nggak sayangku. Dulu kamu terlalu kurus. Sekarang sudah ideal. Jangan terlalu sensitif. Ambil positifnya supaya kamu tidak stress. Kasian nanti jagoan Mas.” Ucap Kavindra sambil mengelus perut ratanya Ayesha.

“Beneran ya Mas.. Aku  masih tetap cantik kan. Mas masih cinta kan sama Aku?” Rengek Ayesha sambil memeluk Kavindra dengan erat.

“Tentu lah sayang.. Mas selalu cinta dan sayang sama kamu. Eh, jangan kenceng-kenceng meluknya.. kasian anak Mas itu terjepit.” Goda Kavindra sambil mencubit gemes pipi mulusnya Ayesha lalu menciumnya sekilas.

“Ya udah sayang.. ayo kita tidur sudah malam.” Ajak Kavindra sambil menarik selimut sampai ke dada Ayesha.

“Iya Mas.” Jawab Ayesha menuruti kata suaminya.

Ayesha dan Kavindra pun berbaring dan memejamkan matanya.

***

Pagi hari..

Riko tiba di rumah Kavindra. Saat memencet bel rumah Kavindra yang keluar adalah Yanti. Riko pun bertanya-tanya siapa wanita yang baru ia lihat di rumah Kavindra hari ini. Karena Kavindra memang belum menceritakan pada Riko bahwa ia telah mengambil pembantu baru.

“Mau cari siapa Mas?” tanya Yanti pada Riko dengan sopan.

“Pak Kavindra, saya sudah ada janji semalam.” Jawab Riko dengan sopan.

“Silahkan masuk Mas. Saya panggilkan Pak Kavindra dulu.” Balas Yanti mempersilahkan Riko masuk dan duduk di sofa.

Setelah mempersilahkan Riko masuk, Yanti naik ke lantai atas dan menuju pintu kamar Kavindra. Ia sudah tahu dimana kamar Kavindra dan Ayesha karena kemarin ia sudah membersihkan lantai atas.

“Pak Kavin, ada tamu yang sedang mencari Anda.” Ujar Yanti setelah mengetuk pintu kamar Kavindra.

Tidak berapa lama pintu kamar terbuka dan tampaklah Ayesha yang terkesan seperti baru bangun tidur mengucek matanya dan merapikan rambutnya yang berantakan lalu menguncirnya keatas menampakkan lehernya yang putih bersih. Saat ini Ayesha jarang memakai hijab di rumah, karena menurutnya di rumah hanya ada suaminya dan dua orang pembantu perempuan.

“Ada apa Bi?” Tanya Ayesha saat melihat Yanti di depan pintu kamarnya.

“Ada tamu yang mencari Pak Kavin Bu.” Jawab Yanti sopan.

“Siapa?” Tanya Ayesha lagi ingin tahu.

“Waduh nggak tahu Bu. Tadi lupa tanya. Tapi katanya sudah janjian sama Pak Kavin.” Jawab Yanti lagi.

“Oh pasti itu Mas Riko. Ya sudah Bi Yanti tolong buatkan minum ya. Mas Kavin masih mandi. Terimakasih ya Bi.” Balas Ayesha sambil menutup pintu kamarnya.

Yanti pun mengiyakan dan menuruni tangga lalu pergi ke dapur. Tak lama kemudian Kavindra pun turun tangga ke ruang tamu menemui Riko.

“Rik, ayo masuk ke ruang kerja saya.” Ajak Kavindra pada Riko. Riko mengangguk sopan dan berjalan mengikuti dibelakang Kavindra.

Setelah memakai hijab Ayesha pergi ke dapur untuk minum air putih dan memberitahu Yanti untuk mengantar minuman ke ruang kerja Kavindra di lantai atas. Setelah itu Ayesha kembali ke kamarnya untuk mandi.

Didalam ruang kerja, Riko memberikan amplop berwarna coklat berisi uang 10 juta seperti yang diminta Kavindra semalam. Ia juga memberikan berkas penting yang harus ditanda tangani Kavindra hari ini.

“Masukkan masing-masing 2,5 juta kedalam amplop ini.” Ujar Kavindra sambil menyerahkan 2 buah amplop pada Riko yang ia ambil dari dalam laci.

“Ini untuk apa Pak?” Tanya Riko ingin tahu.

“Menggaji kedua pembantu baru saya. Yang satu minta gaji dimuka untuk membayar daftar ulang sekolah anaknya yang baru masuk SMP. Jadi saya gaji sekalian keduanya biar tidak ada rasa iri diantara mereka.” Balas Kavindra sambil membuka berkas lalu membacanya.

“Oh jadi yang tadi itu pembantu baru bapak? Pantesan saya tidak pernah melihatnya.” Ujar Riko mulai paham sambil memasukkan uang kedalam amplop yang diberikan Kavindra.

“Iya. Saya mengambil sekaligus 2 supaya bisa menjaga istri saya secara bergantian. Ayesha sekarang hamil.” Balas Kavindra tanpa memandang Riko dan tetap fokus memandang kearah berkasnya.

Tidak berapa lama Yanti masuk untuk mengantar minuman dan menaruhnya diatas meja kerja Kavindra. Setelah itu ia keluar dan menutup kembali pintu ruang kerja Kavindra.

***

 

 

 

 

 

 

 

“Anak-anak itu amanah, hanya boleh dididik sesuai keinginan yang menitipkan, bukan sesuai

 hawa nafsu kita”

 

[Tahajud Cinta, EPR]

 

TC 24

Sebuah Firasat

 

Kavindra memang sangat percaya kepada Riko. Selain menjadi asisten pribadinya Riko sudah dianggap sebagai sahabat bahkan saudaranya. Jadi hampir semua cerita hidup Kavindra diketahui Riko dan Riko pun sangat memegang kepercayaan yang diberikan Kavindra. Meskipun Kavindra menganggap Riko sebagai saudara dan sahabatnya, Riko juga tidak semena-mena dalam bersikap bahkan dalam melakukan segala hal. Ia tetap sopan, menghargai dan menghormati Kavindra. Sudah sangat banyak jasa yang diberikan keluarga Kavindra kepada Riko.

Riko merupakan anak yatim piatu dan dia tidak mempunyai saudara kandung. Pak Jehan telah membiayainya kuliah sampai sarjana dan kini ia telah menjadi asisten pribadinya Kavindra. Riko telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa akan terus membantu keluarga Pratama sampai kapanpun. Bahkan ia rela mempertaruhkan nyawanya demi keluarga Pratama. Karena keluarga itulah yang telah mengangkat derajatnya sampai menjadi seperti saat ini. Baginya Pak Jehan dan keluarganya adalah sang penyelamat hidupnya disaat orang lain menjauhinya.

Riko berasal dari keluarga yang serba kekurangan. Ayahnya suka mabuk-mabukan dan ibunya adalah korban dari keganasan ayahnya sendiri. Ibunya meninggal di tangan ayahnya. Saat polisi menangkap ayah Riko, ia berlari sempoyongan di jalan raya hingga tewas ditabrak truk.

Riko sangat sedih membayangkan kehidupannya yang begitu kelam. Nasibnya terlunta-lunta saat sebelum bertemu dengan pak Jehan. Jika ia tidak bertemu dengan pak Jehan entah bagaimana nasibnya sekarang. Awalnya ia sempat iri melihat kehidupan Kavindra yang serba berkecukupan. Namun, hal tersebut sirna begitu saja ketika melihat perlakuan mereka begitu baik dan perhatian kepadanya. Pak Jehan memenuhi semua kebutuhan Riko tanpa membeda-bedakan dengan Kavindra. Karena sifat baik dan mulia yang ditunjukkan Pak Jehan dan keluarganya membuat Riko menjadi pribadi yang lebih bersahaja.

***

 

Setelah kepergian Riko, Kavindra masuk ke dalam kamarnya dengan membawa amplop coklat berisi uang 5 juta. Ia akan memberikan uang itu pada Ayesha untuk belanja pembantunya setiap hari. Kavindra tahu Ayesha tidak pernah menggunakan kartu debit dan kredit yang ia berikan, sehingga ia memberikan uang cash itu pada Ayesha.

“Ini apa Mas?” Tanya Ayesha setelah menerima amplop yang diberikan Kavindra.

“Bukalah.” Jawab Kavindra. Ayesha pun membukanya dengan hati-hati dan betapa terkejutnya Ayesha melihat uang yang begitu banyak didalam amplop.

“Ini uang apa Mas?” Tanya Ayesha pada Kavindra.

“Uang belanja harian. Sekarang kita punya ART. jadi biarkan mereka yang berbelanja, kamu tinggal memberi uang pada mereka.” Jawab Kavindra menjelaskan.

“Okey.” Balas Ayesha lalu memasukkan uang itu kedalam almari.

Malam hari Kavindra dan Ayesha turun kebawah untuk makan malam. Kavindra membawa dua amplop berisi uang untuk Bi Ani dan Yanti. Saat Bi Ani menaruh makanan diatas meja makan, Kavindra memberikan uang itu pada Bi Ani.

“Terimakasih Pak.” Ucap Bi Ani senang.

“Tolong panggilkan Bi Yanti juga Bi.” Ujar Ayesha pada Bi Ani.

Setelah Yanti datang, Kavindra memberikan amplop berisi uang. Yanti menerima amplop itu dan merasa bingung karena baru kerja 2 hari tapi ia sudah menerima gaji.

“Pak, apa saya dipecat? Apa salah saya?” Tanya Yanti sudah hampir menangis. Ayesha yang melihat Yanti hampir menangis karena menerima gaji dimuka jadi tertawa lucu.

“Tidak. Karena Bi Ani minta gaji  dimuka, jadi Bi Yanti juga menerima gaji dimuka biar adil.” Jawab Kavindra dengan santai.

“Oh begitu. Terimakasih Pak Kavin.” Balas Yanti lalu kembali ke kamarnya untuk menyimpan uangnya.

***

Seperti biasa Kavindra bangun tahajud sendirian tanpa membangunkan Ayesha. Ia sangat tidak tega melihat Ayesha sering muntah-muntah. Setelah  melantunkan beberapa ayat Al-Qur’an. Adzan subuh pun berkumandang, lalu membangunkan Ayesha untuk subuh berjamaah. Setelah selesai shalat subuh berjamaah di rumah, Kavindra segera mandi dan berganti pakaian. Setelah itu ia mengambil kopernya yang ada diatas almari lalu membuka almari dan mengambil beberapa pakaian lalu memasukkannya kedalam koper. Ia akan terbang ke Singapura hari ini setelah mendapat kabar bahwa Pak Jehan sudah bisa pulang ke Indonesia dan kondisinya sudah membaik.

Ayesha yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Kavindra, tiba-tiba matanya berkaca-kaca dan hatinya terasa sangat sedih.

“Mas... Aku  ikuutt..” Rengek Ayesha.

“Jangan sayang.. kamu sedang hamil. Nanti kamu mabok lagi dan kelelahan, kasian anak kita.” Balas Kavindra khawatir kalau Ayesha muntah-muntah lagi, itu akan mengurangi berat badannya yang akan memengaruhi nutrisi ke anaknya. Ayesha pun cemberut karena Kavindra tidak mengajaknya. Kavindra yang melihat Ayesha cemberut segera menghampirinya.

“Mas segera kembali sayang.. jangan ngambek ya manis? Kasian anak kita,” Ujar Kavindra sambil merapikan rambut Ayesha. Ayesha pun mengangguk mengerti.

Setelah itu Ayesha mandi dan berganti pakaian lalu turun bersama Kavindra untuk sarapan pagi. Setelah sarapan, Ayesha mengantar Kavindra sampai di halaman rumah karena taksi yang dipesan Kavindra  secara online sudah datang.

“Hati-hati ya Mas, jaga dirimu baik-baik,” Ujar Ayesha pada Kavindra dengan sedih.

“Iya sayang.. kamu juga jaga diri dan anak kita. I Love You,” Balas Kavindra lalu mengecup kening Ayesha dan memeluknya dengan erat. Ayesha pun membalas pelukan Kavindra lebih erat. Entah kenapa Ayesha merasa tidak ingin Kavindra pergi. Setelah melepaskan pelukan suaminya Ayesha lalu mencium punggung tangan Kavindra. Kavindra mengelus puncak kepala Ayesha dengan lembut.

Saat taksi melaju menjauh dari rumah, Ayesha menyaksikan kepergian Kavindra sambil menitikkan air matanya.

“Mas, aku  harap kamu baik-baik saja dan pulang dengan selamat,” gumam Ayesha sebelum masuk kedalam rumah.

***

Didalam pesawat, Kavindra sudah merasa rindu dengan Ayesha. Ia melihat keluar jendela dan membayangkan senyum manja Ayesha. Ia juga membayangkan perut Ayesha yang akan membesar nanti pasti sangat lucu sekali. Kavindra pun tersenyum sendiri membayangkannya. Tidak berapa lama kemudian hujan turun sangat lebat karena sedari tadi awan hitam memang sudah bergelantungan di langit. Kavindra pun memejamkan matanya untuk beristirahat sejenak.

Sementara itu Ayesha sedang duduk di balkon kamarnya dilantai atas sambil membaca buku yang dibelikan Kavindra kemarin. Ayesha menatap langit dan melihat hujan turun seperti sedang menangis. Ia tiba-tiba teringat dengan Kavindra yang sedang berangkat ke Singapura. Ayesha pun masuk kedalam kamar dan menutup pintu balkon karena udara diluar mulai terasa dingin. Ia turun kelantai bawah dan menuju ke dapur untuk membuat teh hangat. Saat ia menuang air mendidih kedalam gelas, tiba-tiba gelas itu pecah dan terjatuh kelantai bersama dengan airnya. Ayesha mundur supaya tidak mengenai kakinya.

“Ada apa ini, kenapa perasaanku tiba-tiba enggak enak?” Gumam Ayesha sambil menyentuh dadanya.

Yanti yang mendengar gelas pecah segera keluar dari dalam kamarnya dan melihat Ayesha di dapur. Ia segera menghampiri Ayesha dan melihat gelas pecah dilantai.

“Bu Ayesha kenapa enggak panggil saya?” Tanya Yanti pada Ayesha.

“Enggak apa-apa Bi, saya bisa sendiri. Hanya mau membuat teh saja, enggak tahu tiba-tiba gelasnya pecah,” jawab Ayesha masih dengan ekspresi masih terkejut dan merasa gelisah.

“Ya sudah, Bu Ayesha duduk di meja makan saja. Biar saya yang membuat tehnya,” Balas Yanti.

Ayesha pun patuh dan duduk di meja makan lalu mengeluarkan ponselnya yang ada di sakunya. Ia melihat layar ponselnya berharap Kavindra mengirim pesan atau meneleponnya saat sudah sampai di Bandara Singapura, tapi nyatanya tidak ada kabar apapun dari Kavindra. Setelah membuatkan teh untuk Ayesha, Yanti menaruh teh itu diatas meja makan. Setelah itu ia membersihkan pecahan gelas yang ada dilantai. Ayesha meminum tehnya dengan tatapan kosong memikirkan Kavindra.

Sementara itu di perusahaan sedang menerima karyawan baru, karena ada salah satu karyawan yang sudah  resign dari perusahaan untuk menikah dan ikut suaminya ke luar negeri. Kavindra sudah menghubungi Riko dan Filia supaya membimbing karyawan baru tersebut. Ia adalah temannya Ayesha yaitu Nadira Safira. Nadira diterima di perusahaan ‘Pratama Sejahtera’ merupakan permintaan dari Ayesha. Kavindra menyetujuinya. Kavindra juga mengetahui kualitas IQ-nya Nadira. Karena ia juga pernah menjadi mahasiswa nya dulu. Ketika sudah memasuki waktunya untuk makan siang, Riko mengajak Nadira untuk makan siang bersama.

“Ayo makan siang,” Ajak Riko pada Nadira.

“Iya Mas,” Balas Nadira lalu berdiri dan berjalan menuju kantin.

Di kantin, semua mata melihat kearah Nadira, karena bagi mereka sosok Nadira sangat asing di perusahaan ‘Pratama Sejahtera’.

“Mau pesan apa?” Tanya Riko pada Nadira saat sampai di kantin.

“Es jeruk sama salad buah saja Mas,” Jawab Nadira pada Riko.

“Ya sudah, carilah tempat duduk dulu, biar saya saja yang memesannya,” Balas Riko lalu pergi untuk memesan makanan.

***

 

Saat makan bersama, Riko sesekali memandangi wajah Nadira. Ia teringat saat acara pesta pernikahan Kavindra, gadis inilah yang tidak sengaja menumpahkan minuman di jas nya. Lalu Riko mencoba mengenang kembali saat-saat itu.

“Nadira masih ingat saat acara pesta pernikahan Ayesha dengan Pak Kavin?” Tanya Riko.

“Mmm.. Nadira mencoba mengingat-ingat kembali kejadian sekitar empat bulan yang lalu.

“Ohiya iya Mas, Dira inget.. jadi itu Mas Riko?”.

“Maaf ya Mas.. Dira enggak sengaja menumpahkan minuman saat itu.” Ucap Nadira penuh penyesalan.

“Udaaah.. nggak apa-apa kok, justru karena pertemuan itu kita bisa kembali bertemu saat ini, ya kan?” Ujar Riko dengan tersenyum.

Setelah makan bersama, kini Nadira dan Riko kembali ke kantor.

Hari berganti sore, sore berganti malam, namun tidak ada kabar apapun dari Kavindra. Ayesha mencoba menghubungi nomor ponsel Kavindra berkali-kali sejak tadi sore, tapi sayangnya operator yang menjawabnya mengatakan kalau nomor ponsel Kavindra sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan.

Ayesha semakin panik dan gelisah. Ia mondar mandir didalam kamarnya memikirkan apa yang harus ia lakukan. Ayesha jarang sekali menonton televisi, ia lebih suka didalam kamarnya sambil membaca buku, sehingga ia tidak tahu kabar apapun yang disiarkan stasiun televisi hari ini. Untuk mengatasi kegelisahannya, Ayesha mengambil buku seputar kehamilan yang dibeli Kavindra kemarin di meja nakas. Ia naik ketempat tidur sambil bersandar pada sandaran tempat tidur lalu menyelonjorkan kakinya dan menutupi kakinya dengan selimut karena udara terasa sangat dingin kali ini. Ayesha terbiasa dipeluk Kavindra, sehingga ia merasakan kehangatan selalu di tubuhnya. Kali ini Kavindra tidak ada disampingnya ditambah lagi hujan turun lebat diluar rumah.

Ayesha membaca buku itu berharap bisa mengalihkan pikirannya yang sedang cemas, tapi nyatanya ia tetap gelisah memikirkan Kavindra yang tidak ada kabar sama sekali sejak tadi pagi. Hingga akhirnya Ayesha tertidur sambil memeluk bukunya. Ayesha pun bermimpi melihat Kavindra dalam keadaan menggigil kedinginan disuatu tempat yang tidak ia kenal. Ayesha m engernyitkan dahinya untuk memastikan yang ia liat bener-bener Kavindra suaminya.

“Mas Kavin!” Seru Ayesha memanggil Kavindra.

Kavindra pun menoleh kearah Ayesha lalu tersenyum lembut dengan mata sayu dan bibirnya yang putih pucat. Ayesha hendak menghampiri Kavindra, tapi mereka dipisahkan oleh sebuah sungai yang sangat lebar, tidak ada jembatan ataupun jalan untuk menuju kesana.

“Mas Kavin kenapa disini? Ayo kita pulang, Mas,” Ajak Ayesha dengan mata berkaca-kaca. Ia sangat sedih melihat Kavindra dalam keadaan seperti ini.

“Pulanglah, Mas tidak apa-apa, kamu tenang sayang jangan mengkhawatirkan Mas. Jagalah anak kita dengan baik. Aku mencintaimu Ayesha,” Jawab Kavindra dengan tersenyum.

“Mas Kavin! Mas...” Seru Ayesha belum selesai tiba-tiba ia terbangun dari tidurnya.

“Mas Kavin, kamu dimana Mas?” gumam Ayesha lirih lalu menitikkan air matanya.

Ayesha pun mengambil ponselnya di nakas berharap ada kabar dari Kavindra, tapi tidak ada pesan ataupun missed call dari Kavindra. Ayesha semakin panik dan bingung ditambah dengan mimpinya yang aneh.

“Ya Tuhan, jagalah suami hamba di manapun ia berada,” gumam Ayesha sambil menyentuh dadanya yang terasa sesak sekali.

Ayesha pun mengambil foto berbingkai yang berdiri diatas nakas. Itu adalah foto prewedding mereka beberapa bulan yang lalu. Ayesha membelai wajah Kavindra di foto itu dengan jari telunjuknya.

“Mas, Aku  merindukanmu,” gumam Ayesha lalu memeluk foto itu dadanya sambil memejamkan matanya, air mata pun lolos dari pelupuk mata Ayesha membasahi pipinya.

***

 

Malam hari disebuah bandara di Pulau Sumatera, Kavindra sedang duduk di kursi lobby bersama ratusan penumpang lain. Karena cuaca memburuk, sehingga pesawat yang ditumpangi Kavindra mendarat sementara disalah satu bandara di Pulau Sumatera.

Kavindra merasa kedinginan karena tidak membawa jaket di kopernya. Hujan turun sangat deras ditambah dengan angin badai. Ia ingin memberi kabar Ayesha atau papanya yang ada di Singapura, tapi sayangnya baterai ponselnya habis karena ia belum sempat mengisi baterai ponselnya tadi pagi. Semua saluran komunikasi terputus karena cuaca yang sangat buruk, sehingga semua penumpang tidak bisa menghubungi kerabatnya juga.

Tidak lama kemudian ada seseorang yang menyodorkan segelas kopi didepan wajah Kavindra. Kavindra pun mendongak dan melihat seorang wanita tersenyum padanya sambil membawa 2 gelas kopi dikedua tangannya.

“Minumlah! Sepertinya kamu kedinginan,” Ujar wanita itu. Kavindra pun menerimanya dan wanita itu duduk disamping Kavindra.

“Terimakasih,” Ucap Kavindra setelah menerima segelas kopi itu sambil tersenyum.

Kavindra melirik wanita yang duduk disampingnya itu sambil meminum kopinya. Wanita itu cantik, tinggi, putih, dan sepertinya belum menikah. Wanita itu tahu bahwa Kavindra sedang memandanginya, ia pun menoleh dan tersenyum. Kavindra yang terpergok sedang memandanginya jadi malu dan tersenyum canggung.

“Namaku Nayla,” Ujar wanita itu memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya pada Kavindra.

“Kavindra,” balas Kavindra sambil menangkupkan kedua tangannya di dada.

“Maaf, Pak Kavindra mau ke Singapura juga?” Tanya Nayla.

“Iya, menjemput orang tua,” Jawab Kavindra jujur.

“Apa mereka sedang berlibur?” Tanya Nayla lagi.

“Tidak, papa sedang sakit dan dirawat di rumah sakit. Karena sudah sembuh saya hendak menjemputnya, tapi malah seperti ini,” balas Kavindra sambil mengangkat kedua bahunya.

“Oh begitu, saya turut senang atas kesembuhan orang tua Pak Kavin,” Ujar Nayla sambil tersenyum pada Kavindra.

“Terimakasih,” Balas Kavindra singkat.

“Mmm bisakah kita bertukar nomor ponsel?” Tanya Nayla lagi berharap Kavindra menyetujuinya.

“Maaf, ponsel saya sedang mati kehabisan baterai,” Balas Kavindra.

“Oh, kalau begitu sebutkan saja nomor ponsel Pak Kavin, biar saya yang menyimpannya, nanti saya yang menghubungi Pak Kavin," Tawar Nayla sedikit memaksa. Kavindra pun memberikan nomor ponselnya pada Nayla dan Nayla menyimpannya. Setelah itu mereka berpisah karena cuaca sudah membaik, sehingga penumpang bisa naik ke pesawat kembali untuk melanjutkan perjalanannya.

***

 

Pagi hari Ayesha menghubungi Nadira untuk menanyakan nomor ponsel Riko. Ia ingin bertanya pada Riko barangkali mendapatkan kabar dari Kavindra. Nadira pun memberikan nomor ponsel teman kerjanya di kantor pada Ayesha. Sejak bekerja di perusahaan Kavindra, Nadira sudah sangat dekat dengan Riko. Riko pun memberi perhatian penuh dan tertarik pada Nadira.

Saat Riko sedang berganti pakaian, tiba-tiba ponselnya berdering. Ia melihat layar ponselnya dan melihat nomor asing disana. Ia ragu-ragu untuk menerimanya, tapi karena sudah berdering beberapa kali, akhirnya ia pun menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.

(“Hallo. Assalamu’alaikum,”) sapa Riko.

(“Wa’alaikumsalam... Mas Riko, ini Ayesha,”) Ujar Ayesha di seberang telepon.

(“Ada apa Bu Ayesha?”) Tanya Riko heran karena tiba-tiba Ayesha meneleponnya pagi-pagi sekali.

(“Apa Mas Riko tahu kabarnya Mas Kavin?”) Tanya Ayesha langsung ke intinya.

(“Memangnya ada apa dengan pak Kavin?”) Tanya Riko lagi.

(“Dari kemarin Mas Kavin nggak ada kabar sama sekali Mas.”) Jawab Ayesha lalu terisak tangis.

(“Sabar ya Bu, Pak Kavin pasti baik-baik saja. Saya akan mencari informasi tentang pak Kavin. Nanti saya akan memberi kabar ke ibu. Maaf Bu Ayesha, jangan menangis lagi,”) Balas Riko mengkhawatirkan kondisi Ayesha.

(“Terimakasih Mas Riko,”) Ucap Ayesha lalu memutuskan sambungan teleponnya.

Riko pun merasa heran, dari kemarin Kavindra memang belum menghubunginya sama sekali. E-mail pun belum ada yang dibalas. Ia mencoba menghubungi nomor ponsel Kavindra tapi tidak aktif. Ia pun akhirnya menghubungi pihak penerbangan pesawat yang ditumpangi Kavindra, hingga ia pun mendapatkan informasi bahwa pesawat yang ditumpangi Kavindra mendarat darurat disalah satu bandara di Pulau Sumatera.

***

 

Sesampai di kantor Riko berpapasan dengan Nadira saat keluar dari lift utama. Sambil berjalan menuju ruang utama Nadira menanyakan perihal tentang Ayesha sahabatnya.

“Mm.. Mas Riko, Dira penasaran kenapa ya Ayesha minta nomor Mas tadi pagi.” Tanya Nadira khawatir dengan Ayesha.

“Oh, ternyata Bu Ayesha minta nomor dari kamu ya,” Tanya Riko kembali.

“Iya Mas, maaf ya enggak minta ijin duluan sama Mas. Dira pikir karena Mas Riko sudah kenal sama Ayesha. Jadi ya Dira kasi aja terus, hehe..” Jawab Nadira ngeles.

“Enggak apa-apa kok Ra, malah saya pikir bu Ayesha dapat dari mana nomor saya.” Balas Riko.

Btw kalau boleh tahu, kenapa ya Mas kok pagi-pagi Ayesha nelpon Mas.”

“Bu Ayesha menanyakan kabar pak Kavin yang tidak ada kabar seharian, setelah saya tanyakan kepihak penerbangannya, ternyata pesawatnya mendarat darurat di Pulau Sumatera,” Jawab Riko sambil membukakan pintu untuk Nadira.

“Oh, jadi begitu ceritanya,” Balas Nadira sambil manggut-manggut mengerti.

“Ya sudah.. sekarang enggak penasaran lagi kan buk..” Canda Riko pada Nadira.

“Mmm..” Nadira mengangguk sambil tersenyum manis pada Riko.

“Selamat bekerja calon Ibu Negara?” Ujar Riko sambil tersenyum penuh makna pada Nadira dan langsung berbalik keluar ruangan menuju ruangannya sendiri.

“Hah... Mas Riko.... Mas Riko..” Nadira kaget dengan ucapan Riko barusan dan menggeleng-gelengkan kepalanya lantas tersenyum bahagia.

Setelah sampai di ruangannya Riko kembali menghubungi Ayesha untuk memberitahukan kejadian yang sebenarnya.

“Tapi kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi?” Tanya Ayesha masih khawatir.

“Saya juga tidak tahu Bu masalah itu, mungkin baterainya habis atau ponselnya hilang,” Jawab Riko seadanya.

“Ya sudah terimakasih infonya, selamat pagi, Asssalamu’alaikum,” Balas Ayesha lalu memutuskan sambungan teleponnya.

Setelah Ayesha memutuskan sambungan teleponnya,  Riko menatap layar ponselnya yang sambungan teleponnya terputus. Pikirannya melayang kepada Pak Kavindra. Sebenarnya hati kecilnya sangat khawatir dengan kondisi Kavindra yang tidak diketahui kabarnya.

Sementara itu, setelah memutuskan sambungan teleponnya dengan Riko dan tidak mendapatkan informasi yang memuaskannya, Ayesha menghubungi Ibu Diana mama mertuanya berharap Riko sudah tiba di Singapura dan sedang bersama mama dan papanya. Ternyata mama dan papanya sudah menunggu kedatangan Kavindra dari kemarin di apartemen, tapi Kavindra tidak kunjung datang hingga pagi ini. Ayesha pun menghembuskan nafasnya dengan kasar melalui mulutnya lalu menaruh ponselnya di nakas dan beristighfar. Setelah itu ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhuk dan shalat Dhuha dua rakaat serta berdoa untuk suaminya agar selalu dalam lindungan Allah SWT. “Dimana kamu Maass.... Aku  rindu.. Aku  khawatir dengan Mas.. Ya Allah.. lindungi suami hamba dimanapun ia berada,” gumam Ayesha diakhir doanya sambil menitikkan air mata setetes demi setetes. Setelah selesai berdoa, Ayesha membukakan mukenanya dan meletakkan kembali peralatan shalatnya diatas nakas dengan rapi lalu berjalan keluar kamarnya untuk sarapan dilantai bawah.

Tidak berapa lama ponsel Ayesha bergetar, sayangnya Ayesha tidak mengetahuinya karena ia sudah duduk di meja makan untuk sarapan pagi. Sementara disebuah bandara Singapura, Kavindra sedang menempelkan ponsel di telinganya berharap Ayesha segera menerima panggilan teleponnya, tapi hingga panggilan kelima tidak ada jawaban dari Ayesha. Ia sudah sangat merindukan istri manisnya itu karena dari kemarin ia tidak bisa menghubungi Ayesha gara-gara baterai ponselnya habis. Sesampainya di Bandara, ia segera mengisi baterai ponselnya yang habis dan menghubungi Ayesha, sayangnya Ayesha tidak segera menjawab.

“Kemana kamu sayang? Kenapa tidak menerima panggilan telepon Mas?” Gumam Kavindra lalu memasukkan ponsel kedalam sakunya. Tiba-tiba Nayla menepuk bahu Kavindra dari belakang. Kavindra pun terkejut dan menoleh kebelakang.

“Hallo Pak Kavin,” Sapa Nayla sambil tersenyum kegirangan.

“Iya, maaf Mbak ada apa?” Tanya Kavindra heran.

“Tidak ada apa-apa Pak, hanya saja tadi saya melihat Pak Kavindra, jadi saya sapa begitu Pak,” Jawab Nayla sok akrab.

“Oh ya sudah, saya pergi dulu kalau begitu, maaf Mbak, Assalamu’alaikum,” Balas Kavindra lalu buru-buru menarik kopernya. Nayla pun menyaksikan kepergian Kavindra dengan tersenyum gemas.

“Ganteng banget sih, dan kelihatannya baik banget,” gumam Nayla.

***

 

“Ada yang lebih menyedihkan dari menunggu, yaitu saling menunggu tapi tak saling tahu.

Cinta sejati adalah ketika kamu masih membahagiakan dirinya walaupun dia tidak bersamamu”

 

[Tahajud Cinta, EPR]

TC 25

Melepas Rindu

 

Sesampai dia apartemen, Kavindra memencet bel pintu apartemen. Tidak berapa lama Bi Midah membukakan pintu. Kavindra pun masuk lalu mencium punggung tangan papa dan mamanya yang sedang duduk di sofa. Kavindra sangat senang melihat papanya sudah sehat kembali dan kakinya sudah bisa digerakkan dengan sempurna, ia pun memeluk papanya dengan erat.

“Dari mana saja kamu nak? Dari kemarin kami menunggumu,” Tanya Pak Jehan pada Kavindra.

“Maaf Pa, kemarin pesawat mendadak mendarat di Pulau Sumatera karena cuaca buruk, baterai ponselku juga habis. Karena cuaca buruuk itu, semua saluran telekomunikasi dan listrik tidak berfungsi,” Jawab Kavindra menjelaskan pada Pak Jehan setelah duduk di sofa samping pak Jehan.

“Oh jadi seperti itu, pantas saja papa berkali-kali meneleponmu tapi tidak bisa,” Balas Pak Jehan.

“Apa kita kembali sekarang?” Tanya Kavindra pada kedua orang tuanya.

“Istirahatlah dulu, kamu baru sampai. Bagaimana kamu sudah menghubungi Ayesha? Bagaimana kabarnya? Apa kandungan baik-baik saja?” Tanya Bu Diana dengan antusias.

“Kemarin dia juga menghubungi mama.” Sambung Pak Jehan. Kavindra pun terkejut, ia baru ingat kalau belum memberi kabar pada Ayesha dari kemarin. Ia yakin kalau Ayesha sangat khawatir sekarang. Ia pun segera mengeluarkan ponsel dari sakunya lalu mencari kontak “Istriku” dan menekan tombol untuk memanggil.

“Bagaimana Vin?” Tanya Bu Diana heran karena Kavindra tidak menjawab pertanyaannya tapi malah menghubungi seseorang.

“Kavin belum menelepon Ayesha dari kemarin Ma,” jawab Kavindra sambil menempelkan ponsel di telinganya.

“Kamu itu bagaimana sih nak? Pasti dia sangat khawatir Vin,” balas Bu Diana ikut mengkhawatirkan Ayesha.

Sementara itu Ayesha di rumahnya sedang berada di dapur membuat kue bersama Yanti. Karena terlalu asyik membuat kue, Ayesha pun lupa dengan ponselnya yang terus berdering di kamarnya yang berada dilantai atas. Sekarang giliran Kavindra yang khawatir dengan Ayesha karena dari tadi pagi Ayesha tidak menjawab teleponnya. Ia menjadi cemas dan takut terjadi apa-apa dengan Ayesha. Sudah lima belas kali Kavindra menghubungi Ayesha, tapi tidak ada jawaban sama sekali. Akhirnya Kavindra menghubungi Riko. Hanya Riko satu-satunya orang yang diandalkan saat ini. Saat Kavindra menelepon, Riko sedang berada di ruang kantor Kavindra bersama Nadira. Karena semua kerjaan Kavindra di handle oleh Riko. Riko juga membimbing Nadira dalam segala hal. Saat ponsel Riko berdering, Riko pun segera menerima panggilan itu saat melihat nama ‘Pak Kavindra’ tertera dilayar ponselnya.

“Hallo.. Assalamu’alaikum,” Sapa Riko dengan semangat karena Riko memang sedang menunggu kabar dari Kavindra.

“Wa’alaikum salam.... Rik, tolong pergi ke rumah saya! Lihat keadaan Ayesha,” Perintah Kavindra.

“Maaf Pak, memangnya ada apa dengan Bu Ayesha. Kenapa bapak begitu panik?” Tanya Riko dengan santai.

“Saya meneleponnya sejak tadi pagi tapi tidak ada jawaban sama sekali. Saya takut terjadi apa-apa sama dia, tolong saya Rik. Sekarang terus ke rumah saya!” balas Kavindra panik.

“Baiklah pak, saya sekarang ke rumah bapak. Saya ajak Nadira ya Pak. Agar tidak sendirian kesana.” balas Riko tenang.

“Oke-oke Rik, Terimakasih,” Ujar Kavindra sebelum memutuskan sambungan teleponnya.

Setelah memasukkan ponselnya kedalam sakunya, Riko mengajak Nadira untuk pergi ke rumah Kavindra, Nadira kegirangan karena sudah sangat rindu dengan sahabatnya itu. Akhirnya Riko dan Nadira pergi berdua ke rumah Kavindra. Didalam mobil Nadira duduk di kursi penumpang sambil memainkan ponselnya. Ia merasa kurang nyaman terlalu sering dekat dengan Riko karena belum ada hubungan apa-apa. Namun sebenarnya hati mereka sudah ada ketertarikan satu sama lain. Riko memperhatikan Nadira dari kaca spion yang ada didepannya secara diam-diam, ia pun tersenyum dan tersipu malu.

Cantik juga gadis ini, batin Riko.

Astaghfirullah..” gumamnya lagi

Karena terlalu asyik dengan ponselnya, Nadira tidak tahu sedari tadi Riko memperhatikannya dari kaca spion.

***

Sesampainya Riko di rumah Kavindra, ia segera memencet bel pintu rumah Kavindra. Bi Ani yang sedang bersih-bersih diruang tamu langsung membukakan pintunya dan mempersilahkan masuk Riko dan Nadira. Nadira dan Riko masuk ke rumah langsung menuju ke dapur dan melihat Ayesha sedang asyik membuat kue bersama Yanti.

“Ayesha!” Panggil Nadira sambil berjalan mendekati dapur. Ayesha menoleh saat mendengar Nadira memanggil namanya. Ia terkejut karena tiba-tiba Nadira sudah berada di rumahnya bersama Riko.

“Ada apa, kenapa kamu bisa di sini?” Tanya Ayesha penasaran.

“Tadi Pak Kavin menelepon dan mengkhawatirkan  Bu Ayesha karena Pak Kavin sudah berkali-kali menelepon tapi enggak direspon Ibu,” Jawab Riko menjelaskan maksud dan tujuan mereka ke rumahnya.

“Oh iya, ponsel saya di kamar atas, sejak sarapan pagi saya belum melihat ponsel saya,” balas Ayesha lalu memasukkan kue kedalam mulut Nadira yang sedang duduk di meja makan untuk mencicipi kue buatannya. Nadira yang merasakan enak kue buatan sahabatnya itu lalu ia pun mengambil kue yang sudah matang diatas meja ikut menyuapi Ayesha. Akhirnya mereka berdua menikmati kue buatan Ayesha. Sementara Riko yang sedari tadi berdiri tidak ada yang menghiraukan segera berdehem sambil melipat tangan di dadanya.

“Eh ada Mas Riko juga,” Ujar Nadira saat melihat kearah Riko yang tengah berdiri. Riko pun berjalan mendekat dan ikut duduk di meja makan juga.

“Silahkan dicicipi Mas kuenya,” Ujar Ayesha sambil menyodorkan kue pada Riko. Riko pun mengambil kure itu lalu memasukkan kue kedalam mulutnya. Tidak berapa lama ponsel Riko berdering dan tampaklah nama ‘pak Kavindra’ pada layar ponselnya, Riko pun terkejut lalu tersedak. Ia lupa tujuan utama ia ke rumah Kavindra adalah melihat keadaan Ayesha untuk dilaporkan pada Kavindra bukan untuk mencicipi kue buatan Ayesha. Ayesha segera menuangkan air putih pada gelas lalu memberikannya pada Riko. Setelah meminum airnya, Riko menerima panggilan dari Kavindra.

“Hallo.. Assalamu’alaikum,” sapa Riko sambil mengelap bibirnya dengan jarinya.

“Wa’alaikumsalam... Rik, bagaimana keadaan Ayesha?” Tanya Kavindra.

“Bu Ayesha baik-baik saja Pak,” jawab Riko.

“Tolong berikan ponselmu padanya,” Perintah Kavindra.

Riko pun memberikan ponselnya pada Ayesha. Ayesha segera menerimanya dengan antusias karena dari kemarin ia juga mengkhawatirkan keadaan Kavindra.

“Assalamu’alaikum Mas...,” Ucap Ayesha menyapa Kavindra.

“Wa’alaikumsalam... kenapa kamu tidak menerima panggilan telepon Mas sayang? Kamu kemana saja? Mas khawatir dengan kamu dan anak kita?” Tanya Kavindra dengan tidak sabar.

“Maaf mas.. ponsel Aku  di kamar Mas, Aku  sedang membuat kue bersama Bi Yanti di dapur,” Jawab Ayesha menjelaskan situasinya.

“Ya sudah.. yang penting kamu dan kandunganmu baik-baik saja kan sayang? Kabari Mas ya kalau ada apa-apa?” balas Kavindra merasa lega.

“Iya Mas, Aku minta maaf sekali lagi.  Alhamdulillah Aku  dan kandunganku baik-baik saja Mas.” Jawab Ayesha lagi.

“Oh iya.. kapan Mas Kavin pulang?” Tanya Ayesha lagi dengan manja.

In sya Allah.. besok Mas pulang sayang,” balas Kavindra sambil tersenyum.

“Aku kangen,” Ucap Ayesha sambil tersenyum. Ia lupa kalau ponsel yang ia pakai adalah ponsel milik Riko.

“Ehm-ehm,” Dehem Riko merusak suasananya kemesraan Ayesha dan Kavindra.

Ayesha pun tersadar lalu tersenyum malu.

“Mas, nanti telepon ke ponsel Aku aja ya, yang punya ponsel sepertinya iri. Hahaha,” Ujar Ayesha mengakhiri percakapannya dengan Kavindra. Kavindra pun menyetujuinya. Setelah menerima ponsel dari Ayesha, Riko segera memasukkan ponselnya kedalam sakunya lalu berdiri hendak kembali ke perusahaan.

“Dira, kamu tetap disini apa ikut kembali ke perusahaan?” tanya Riko pada Nadira.

“Ikut ke perusahaan Mas, kan masih ada PR dari Mas Riko yang belum Dira selesaikan. Tapi aku mau membawa kue ini ya Sha,” Jawab Nadira sambil tersenyum malu.

Ayesha pun membungkus sebagian kuenya dan memberikannya pada Nadira.

***

Didalam mobil, Riko memberanikan diri untuk bertanya pada Nadira supaya tidak penasaran lagi.

“Ra...” Panggil Riko tiba-tiba.

“Iya Mas,” Sahut Nadira sambil menoleh kearah Riko yang sedang fokus mengemudi.

“Mmm... apa kamu sudah punya pacar?” Tanya Riko sedikit malu.

“Kenapa?” Tanya Nadira heran.

“Tidak apa-apa, hanya ingin tahu saja,” balas Riko tersenyum canggung.

“Oh,” balas Nadira lalu melanjutkan makan kuenya tanpa menjawab pertanyaan dari Riko.

Eh kok Cuma ‘oh’ doang enggak dijawab, batin Riko kecewa.

***

 

Riko dimintakan Kavindra untuk menemani Ayesha ke bandara untuk menjemput dirinya dan kedua orang tua Kavindra. Ayesha duduk di kursi lobby menanti kedatangan Riko dengan sabar. Tidak berapa lama muncullah sosok Kavindra, Pak Jehan, Bu Diana dan Bi Midah dari pintu kedatangan. Ayesha segera menghambur ke arah Kavindra dengan semangat dan memeluknya. Kavindra pun menyambut pelukan Ayesha dengan membentangkan kedua tangannya.

“Mas, aku kangen banget,” Ujar Ayesha dipelukan Kavindra.

“Iya, Mas juga sayang,” balas Kavindra sambil tersenyum dan mengecup kening Ayesha.

Pak Jehan dan Bu Diana tersenyum sambil geleng-geleng melihat kelakukan Ayesha yang seperti anak kecil. Setelah melepaskan rindu dengan suaminya, lalu Ayesha mencium punggung tangan Pak Jehan dan Bu Diana lalu memeluk kedua orang tuanya itu. Setelah itu mereka keluar dari bandara bersama-sama menuju area parkir. Riko membantu Bi Midah membawa barang bawaan mereka. Kavindra berjalan sambil memeluk Ayesha dan tersenyum senang.

Sesampainya di rumah Pak Jehan, Bi Siti sudah menyiapkan makanan untuk menyambut kedatangan mereka. Sudah lama Pak Jehan tidak menginjakkan kakinya di rumah itu, ia melihat ke sekeliling lalu tersenyum. Ia merasa bersyukur akhirnya bisa sembuh dari sakitnya dan rindu dengan rutinitas keseharian di rumahnya. Mereka berlima pun akhirnya makan bersama seperti keluarga besar yang sedang merayakan suatu pesta. Riko juga sudah dianggap bagian dari keluarga Pratama sejak dulu.

“Om, Tante.. terimakasih jamuan makan siangnya. Saya pamit pulang  dulu?” Ujar Riko kepada Pak Jehan dan Bu Diana.

“Kenapa buru-buru?” Tanya Pak Jehan pada Riko.

“Iya Om, sudah sore, saya harus ke perusahaan sebentar sebelum pulang,” jawab Riko dengan sopan.

Akhirnya Pak Jehan pun mengerti dan mengizinkan Riko pulang. Setelah kepergian Riko, Pak Jehan dan Bu Diana masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat, begitu juga dengan Ayesha dan Kavindra mereka  juga masuk ke kamar untuk beristirahat.

Didalam kamar, Ayesha membuka hijabnya lalu membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur diikuti Kavindra. Kavindra memiringkan tubuhnya menghadap Ayesha lalu merapikan anak rambut Ayesha dan menyisipkannya di telinga Ayesha.

“Mas, kenapa kemarin-kemarin Mas tidak menghubungi aku?” Tanya Ayesha meminta penjelasan.

“Baterai ponsel Mas habis sayang, jadi Mas tidak bisa menghubungi kamu. Saat Mas meneleponmu malah kamu tidak menerima panggilan teleponnya,” Jawab Kavindra dengan tenang.

“Kenapa tidak menelepon ke telepon rumah?” Tanya Ayesha lagi.

“Apa kamu pernah mendengarnya berdering? Sudah lama telepon rumah error, jadi Mas tidak menelepon ke telepon rumah. Tadinya Mas juga mau melihat keadaanmu lewat CCTV rumah, tapi sepertinya internet sedang bermasalah, jadi Mas tidak bisa melakukannya. Maafkan Mas ya sayang, jangan marah ya?” Ujar Kavindra dengan lembut.

“Hmm,” gumam Ayesha sambil memejamkan matanya.

Kavindra pun memegang pipi Ayesha lalu mencium bibirnya dengan lembut. Kemudian Kavindra membelai rambut Ayesha hingga mereka tertidur bersama dengan saling berpelukan.

***

 

 

 

“Merindukan seseorang adalah bagian dari mencintai mereka. Jika kamu tidak pernah berpisah, kamu tidak akan pernah benar-benar tahu seberapa kuat cintamu. Tak ada satupun hari atau waktu yang kulewatkan tanpa merindukanmu”

 

[Tahajud Cinta, EPR]

 

 

 

TC 26

Bayi Kembar

 

Malam hari Nayla keluar dari dalam kamar mandi menggunakan handuk kimono ditubuhnya dan handuk kecil melilit di kepalanya. Ia duduk ditepi tempat tidur lalu mengambil ponselnya yang ada diatas tempat tidur. ia memandangi layar ponsel ditangannya dan tersenyum. Setelah itu ia membuka kontak dan mencari nama Kavindra lalu mengirim sebuah pesan.

Nayla : Hai, aku Nayla. Kamu sedang apa?

Nayla tersenyum sendiri sambil memeluk ponsel di dadanya. Ia membaringkan tubuhnya ketempat tidur dan berharap Kavindra akan segera membalas pesannya. Ia memandangi layar ponselnya beberapa kali untuk melihat apakah Kavindra sudah membalas pesannya.

Sementara itu di rumah Pak Jehan, Kavindra dan Ayesha sedang tidur berpelukan dibawah selimut. Tiba-tiba ponsel Kavindra berbunyi menandakan ada pesan masuk. Kavindra yang mendengar ponselnya berbunyi segera membuka matanya dan mengambil ponsel diatas nakas dengan satu tangan tanpa melepas pelukannya dari tubuh Ayesha dengan pelan-pelan supaya Ayesha tidak terbangun. Setelah shalat maghrib Ayesha tertidur lagi karena bawaan hamil, sedangkan Kavindra memang masih sangat lelah jadi tertidur juga berbarengan Ayesha. Kavindra membuka pesan itu dan tampaklah nama Mama.

Mama: Kavin, sudah waktunya makan malam, apa kamu enggak mau keluar kamar?

Setelah membaca pesan itu, Kavindra menaruh ponselnya kembali lalu memandangi wajah Ayesha yang sedang tertidur lelap. Ia tidak tega untuk membangunkan Ayesha, tidurnya terlihat sangat nyenyak sekali. Kavindra pun membiarkan Ayesha hingga tidak lama kemudian Ayesha membuka matanya.

“Jam berapa sekarang Mas?” Tanya Ayesha sambil mengusap matanya.

“Delapan malam,” Jawab Kavindra sambil tersenyum.

“Aku  laper Mas,” Rengek Ayesha.

“Ayo bangun sayang.. bersih-bersih dulu sambil wudhuk terus lalu kita shalat isya berjamaah. Setelah itu kita turun untuk makan,” balas Kavindra sambil membuka selimut dan mengangkat tubuh Ayesha lalu menggendongnya kedalam kamar mandi. Ayesha yang tiba-tiba digendong tentu saja terkejut.

“Mas, aku  bisa jalan sendiri!” Seru Ayesha mencak-mencak digendong Kavindra, tapi Kavindra tidak melepaskannya hingga sampai di bathup lalu menurunkan Ayesha di sana.

Sementara itu Filia sekretaris Kavindra baru saja bangun dari tidurnya. Ia merasa sangat lelah hari ini, sehingga ketika ia pulang dari bekerja ia pun tertidur. Saat ia membuka matanya ia melihat jam di ponselnya lalu melihat ada tanda pesan masuk. Ia membuka pesan dari nomor asing itu.

+62 856 xxx xxx : Hai, aku Nayla. Kamu sedang apa?

Nayla? Apa dia Nayla temanku waktu SMA dulu?” gumam Filia sambil mengingat-ingat temannya yang bernama Nayla.

Filia: Aku baru bangun tidur.

Setelah membalas pesan dari Nayla, Filia menaruh ponselnya pada meja riasnya lalu masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang belum mandi sejak tadi sore. Sementara itu, Nayla yang mendengar ponselnya berdering tentu saja segera  membuka pesan yang baru masuk ke ponselnya. Ia membaca balasan pesan dari Filia yang ia anggap itu balasan dari Kavindra. Ia merasa sangat senang karena pesannya mendapat balasan, tapi ia kecewa karena pesan itu tidak bertanya balik padanya. Nayla pun cemberut lalu meletakkan ponselnya kembali.

Sejujurnya Kavindra tidak pernah memberikan nomor ponselnya pada orang lain. Di ponselnya hanya menyimpan nomor keluarganya, Riko, Filia, dan beberapa orang terdekat saja. Selain itu, ia akan menyerahkannya pada Filia sekretarisnya. Kavindra juga tidak memberikan nomor ponsel pribadinya pada Nayla, tapi yang ia berikan nomor ponsel Filia.

***

Setelah shalat Isya berjamaah, Kavindra dan Ayesha menikmati makan malam hanya berdua saja karena Pak Jehan dan Bu Diana sudah makan malam terlebih dahulu saat mereka shalat Isya tadi. Seperti biasa Ayesha mengambilkan makanan untuk Kavindra lalu menaruh piring itu diatas meja depan Kavindra. Kavindra mengambil sendok lalu menyendok makanan diatas piring dan menyodorkannya ke depan mulut Ayesha. Ayesha yang sedang mengambil makanan, tiba-tiba disodori makanan di depan mulutnya jadi merasa heran. Ia melihat kearah Kavindra dengan tatapan seolah-olah bertanya.

“Buka mulutmu sayang!” perintah Kavindra. Ayesha pun memanyunkan bibirnya lalu membuka mulutnya lebar-lebar dengan terpaksa, ia merasa kesal dengan Kavindra yang selalu memaksa saat makan. Setelah Ayesha membuka mulutnya, Kavindra memasukkan makanan kedalam mulut Ayesha. Ayesha pun mengunyah makanannya dengan cemberut.  

Pak Jehan dan Bu Diana menyaksikan kemesraan mereka dari ruang keluarga sambil menonton televisi. Kavindra tahu itu, tapi ia tidak menghiraukannya. Sudah dua hari ia tidak bertemu Ayesha, hari ini ia ingin memanjakan istri manisnya itu. Setelah menyuapi Ayesha, Kavindra memasukkan makanan kedalam mulutnya sendiri dengan sendok yang sama. Setelah makan malam, Kavindra dan Ayesha berpamitan pulang pada Pak Jehan dan Bu Diana.

***

Pagi-pagi Nayla mengirim pesan lagi pada Filia yang ia anggap Kavindra.

Nayla: Selamat Pagi

Filia yang sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja segera membuka tasnya saat mendengar ponselnya berdering. Ia membuka pesan yang masuk pada ponselnya dan membalasnya.

Filia : Pagi juga

Nayla senang sekali pesannya mendapat balasan dengan cepat. Ia pun membalas pesan itu lagi.

Nayla : Sedang apa?

Filia    : Bersiap-siap  berangkat kerja.

Nayla : Semangat ya kerjanya (menambahkan

              emoticon smile)

Filia mengernyitkan dahinya saat membaca pesan terakhir dari Nayla.

“Perhatian banget dia, ada apa ini?” gumam Filia lalu memasukkan ponsel kedalam tasnya dan berangkat kerja. Sementara itu Nayla senang bukan main. Ia berpikir Kavindra selain tampan, ia juga seorang lelaki pekerja keras.

***

Ayesha sedang membantu Kavindra bersiap-siap untuk  berangkat bekerja. Ayesha memasang jas dan dasi di leher Kavindra sambil mendongak karena Kavindra lebih tinggi dari tubuh Ayesha. Kavindra pun menunduk dan mendekatkan wajahnya pada Ayesha lalu mengecup bibirnya. Ayesha terkejut lalu menatap mata Kavindra dan tersenyum malu. Setelah selesai membantu Kavindra bersiap-siap, kini Ayesha dan Kavindra turun kebawah untuk sarapan bersama. Di dapur Bi Ani dan Bi Yanti sedang menyiapkan sarapan bersama. Saat Kavindra dan Ayesha sudah duduk di meja makan, Bi Ani menghampiri Kavindra.

“Pak, maaf beberapa hari ini saya tidak masuk bekerja karena anak saya sedang sakit,” Ujar Bi Ani meminta maaf.

“Iya Bi, tidak apa-apa. Semoga anaknya lekas sembuh.” Jawab Kavindra dengan santai.

Setelah Bi Ani kembali ke dapur untuk menghidangkan makanan keatas meja makan dibantu Yanti. Tiba-tiba Kavindra teringat sesuatu. Ia belum memeriksa kandungan Ayesha bulan ini. Padahal moment ini sudah sangat ia nanti-nantikan untuk mengetahui perkembangan anak yang ada didalam kandungan Ayesha.

“Sayang.. kita ke rumah sakit ya?” Ujar Kavindra tiba-tiba.

“Kenapa, Mas Kavin sakit?” Tanya Ayesha heran karena Kavindra tiba-tiba mengajaknya ke rumah sakit.

“Memeriksakan kandunganmu,” jawab Kavindra lalu menyeruput minumannya.

“Ooooohh periksa kandungan,” Balas Ayesha sambil memegangi perutnya.

“Iya, aku ingin memeriksakannya setiap bulan,” ujar Kavindra sambil tersenyum dan ikut membelai perut Ayesha dengan lembut.

“Okey Mas,” Ucap Ayesha setuju.

Setelah itu mereka memulai sarapannya. Setelah sarapan Kavindra melajukan mobilnya membawa Ayesha ke rumah sakit untuk memeriksa kandungannya.

***

Sesampainya di area parkir, Ayesha dan Kavindra turun dari mobil lalu berjalan ke rumah sakit sambil bergandengan tangan. Ayesha merasa gugup setiap menginjakkan kakinya ke rumah sakit, apalagi yang akan diperiksa adalah dia sendiri. Kavindra menenangkannya dengan menggenggam tangan Ayesha erat-erat. Ayesha memandang kearah Kavindra, Kavindra pun memandang Ayesha tersenyum.

“Tanganmu dingin sekali sayang? Kenapa?” Tanya Kavindra saat merasakan dingin pada telapak tangan Ayesha.

“Mmm... Aku deg-degan, Mas,” Jawab Ayesha dengan gugup.

“Tidak usah takut, ada Mas disini,” Balas Kavindra sambil tersenyum dan menepuk punggung tangan Ayesha yang ia genggam. Ayesha pun ikut tersenyum dan mengangguk.

Setelah mendaftar dan antri, akhirnya kini giliran Ayesha untuk diperiksa. Ayesha naik keatas tempat tidur lalu seorang perawat menaikkan gamis Ayesha hingga ke dada. Setelah itu perawat itu menuangkan gel diatas perut Ayesha, lalu Dokter kandungan memeriksa kandungan Ayesha dengan alat USG. Kavindra mendampingi Ayesha disamping tempat tidur sambil memegangi tangan Ayesha yang terasa dingin sejak tadi. Ia ikut menyaksikan tampilan gambar yang tertera pada layar komputer meskipun tidak mengerti  gambar apa itu, yang ia lihat hanyalah gumpalan kacang kecil. Setelah memeriksa Ayesha dengan alat USG, Dokter kandungan menjelaskan perihal tentang kandungan Ayesha. Dokter mengatakan bahwa Ayesha sedang mengandung bayi kembar, tapi itu masih belum terlalu jelas karena usia kandungan Ayesha masih delapan minggu. Kavindra merasa sangat senang mendengarnya.

Selama perjalanan pulang Kavindra tersenyum tiada henti. Ia memegangi tangan kanan Ayesha dan berkali-kali mencium punggung tangan Ayesha. Ia sangat berterimakasih karena Ayesha dapat mengandung bayi kembar. Ayesha juga berpikir bagaimana bisa ia mengandung bayi kembar, sedangkan ia tidak memiliki saudara kembar, begitu juga dengan Kavindra.

“Mas,” Panggil Ayesha  tiba-tiba.

“Iya,” Sahut Kavindra sambil tetap fokus mengemudi.

“Apa kamu punya saudara kembar?” Tanya Ayesha ingin tahu.

“Iya, kakak kandungnya papa. Tapi mereka dua-duanya sudah meninggal,” Jawab Kavindra dengan santainya.

“Meninggal kenapa?” Tanya Ayesha lagi semakin ingin tahu.

“Kecelakaan,” Balas Kavindra singkat.

“Oh begitu, pantesan aku bisa hamil kembar,” gumam Ayesha mengerti.

Sesampainya di halaman rumah, Ayesha mencium punggung tangan Kavindra sebelum turun dari mobil dan Kavindra mencium kening Ayesha.

“Banyak-banyak istirahat ya,” Ujar Kavindra pada Ayesha sebelum Ayesha turun dari mobilnya.

“Iya Mas, Mas Kavin hati-hati ya mengemudinya, jangan ngebut,” balas Ayesha sambil tersenyum.

“Iya,” jawab Kavindra lembut seraya membelai puncak kepala Ayesha dengan kasih.

Setelah Ayesha turun dari mobil dan masuk kedalam rumah, Kavindra melajukan mobilnya menuju perusahaan. Saat ditengah perjalanan, Kavindra mengisi bahan bakar mobilnya disebuah SPBU. Ia membuka kaca mobilnya untuk berbicara dan membayar pada petugas yang mengisi bahan bakar mobilnya. Tidak jauh dari lokasi Kavindra, Nayla juga sedang mengisi bahan bakar motornya. Ia terkejut saat melihat Kavindra didalam sebuah mobil, ia ingin mendekat tapi sayangnya Kavindra sudah melajukan moobilnya keluar dari SPBU. Setelah selesai Nayla mengisi dan membayar bahan bakar motornya, ia melajukan motornya untuk mengejar mobil Kavindra, namun sayangnya Kavindra terlalu cepat melajukan mobilnya sehingga Nayla tidak dapat mengejarnya.

“Sial!” Umpat Nayla karena tidak dapat mengejar mobil Kavindra. Akhirnya ia pun melajukan motornya ke kampus karena ia ada urusan siang ini.

***

Ketika Riko sampai di lobby perusahaan, ia melihat Nadira hendak masuk kedalam lift. Riko pun mengejarnya dan ikut masuk kedalam lift yang sama dengan Nadira. Nadira melihat Riko dengan heran karena tiba-tiba Riko masuk kedalam lift dengan tergesa-gesa.

“Mas Riko kenapa?” Tanya Nadira saat pintu lift sudah tertutup.

“Tidak apa-apa. Hanya ingin mengejarmu,”Balas Riko sambil ngos-ngosan.

“Kenapa mengejar saya?” tanya Nadira lagi sambil mengernyitkan dahinya tidak mengerti.

“Tumben kamu terlambat ke perusahaan?” Tanya Riko setelah mengatur napasnya.

“Oh itu karena tadi macet Mas,” Jawab Nadira santai, karena merasa tidak telat-telat banget.

Tidak berapa lama pintu lift terbuka. Nadira keluar dan berjalan kearah ruangan kantornya, dan Riko mengikutinya. Nadira duduk di kursinya, Riko pun duduk di kursi depan Nadira.

“Kenapa Mas” Tanya Nadira sambil mengerutkan dahinya.

“Tidak ada apa-apa, hanya saja saya ingin mengajakmu makan diluar,” Jawab Riko seraya tersenyum malu-malu.

“Liat nanti dulu ya Mas,” jawab Nadira menggantung.

“Oh ya sudah kalau begitu, saya ke ruangan dulu,” balas Riko kecewa.

“Tapi... akan saya usahain,” Imbuh Nadira sambil tersenyum saat Riko sudah diambang pintu. Riko pun berbalik dan tersenyum pada Nadira.

“Saya tunggu kabarnya,” Ujar Riko senang. Setelah itu ia keluar dari ruangan Nadira dan menutup pintunya.

***

Dua bulan kemudian...

Di rumah Kavindra dan Ayesha. Bi Yanti dan Bi Ani sedang sibuk bersih-bersih rumah. Makanan dan minuman sudah tersedia diatas meja makan. Ayesha pun menyeruput susunya terlebih dahulu sambil menunggu Kavindra turun. Tidak lama kemudian Kavindra turun dan sarapan bersama Ayesha seperti biasanya. Setelah makan bersama, Kavindra meluncur ke rumah Pak Jehan.

“Mas.. ini kan bukan jalan ke rumah Papa?” tanya Ayesha penasaran.

“Iya sayang.. sebelum kita ke rumah Papa kita ke rumah sakit dulu ya?” Ujar Kavindra sambil membelai puncak kepala Ayesha yang dilapisi hijab berwarna ungu. Setelah memarkirkan mobilnya, Kavindra dan Ayesha segera menuju ke tempat pendaftaran poli.

“Memang siapa yang sakit Mas?” Tanya Ayesha lagi.

“Enggak ada yang sakit sayang, Mas ingin melihat anak kembar kita. Ayo USG...” Ucap Kavindra sambil tersenyum.

Astaghfirullah.. kirain apa Mas,” balas Ayesha sambil tersenyum bahagia.

Setelah melakukan pendaftaran dan antrian yang begitu panjang, akhirnya kini giliran Ayesha untuk diperiksa. Dulu saat diperiksa Ayesha merasa gugup dan takut, tapi sekarang ia sudah terbiasa. Ia juga ingin melihat bagaimana janin kembarnya yang kini sedang berkembang didalam rahimnya.

“Selamat ya Pak, Bu, bayi kalian kembar berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Mereka sehat dan berkembang sesuai usianya,” Ucap dokter kandungan yang memeriksa Ayesha.

Ayesha tersenyum senang sambil menggenggam tangan Kavindra yang ikut mendampinginya saat diperiksa. Begitu juga dengan Kavindra, ia sangat bahagia karena sekalinya punya anak langsung dikasih dua dan itupun berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Ia sudah sangat tidak sabar ingin memberitahukan kabar ini pada papanya. Ia sangat yakin kalau papanya akan sangat bahagia mendengarnya.

***

Sesampainya di rumah Pak Jehan, Kavindra dan Ayesha segera masuk kedalam rumah setelah mengucapkan salam dan mencium punggung tangan kedua orang tuanya.

“Ada apa ini.. tumben ke rumah papa tidak dikabari duluan?” Tanya Pak Jehan.

Kavindra menggandeng Pak Jehan dan mengajaknya duduk di sofa. Sedangkan Ayesha diajak Bu Diana ke dapur, karena tadi ia membuat kue dan belum sempat mencicipinya.

“Anak Kavin Pa...” Ucap Kavindra terputus saking gembiranya.

“Kenapa dengan anakmu Vin?” tanya Pak Jehan tidak mengerti.

“Anak Kavin kembar laki-laki dan perempuan Pa.. Alhamdulillah, Kavin seneeeng banget Pa..” Ucap Kavindra dengan wajah yang berbinar-binar.

Maa syaa Allah... Papa ikut seneng Vin ...” Pak Jehan memeluk tubuh Kavindra. Begitu juga dengan Kavindra.

***

 

 

“Semenjak kau hadir, hanya ada pelangi di dalam hidupku. Kehadiran seseorang tanpa disadari menjadi sumber kebahagiaan yang berharga”

 

[Tahajud Cinta, EPR]

 

 

 

TC 27

Pengantin Baru

 

Malam Minggu Riko sedang melihat bayangannya didepan kaca didalam kamarnya. Ia tampil yang terbaik malam ini. Sementara Nadira didalam kamarnya sedang duduk didepan meja riasnya. Ia menanti kedatangan Riko. Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Ia menempelkan telapak tangan pada dadanya dan merasakan debaran jantung di dadanya.

“Ada apa ini? Kenapa rasanya berdebar-debar?” gumam Nadira saat menyentuh dadanya. Tidak lama kemudian Riko sampai didepan rumah Nadira, tepatnya didepan rumah Andre kakak kandungnya Nadira. Ya, sejak meninggal kedua orang tuanya akibat kecelakaan tunggal tiga tahun yang lalu, Nadira tinggal bersama Andre kakak kandungnya. Nadira sempat ngekos saat ia kuliah. Begitu selesai kuliah ia menumpang tinggal bersama Andre dan Sinta serta keponakannya yang masih berusia empat tahun bernama Annisa.

Ketika keluar dari mobilnya, Riko menghirup nafas dalam-dalam melalui hidungnya lalu menghembuskannya dengan kasar melalui mulutnya. Ia berjalan menghampiri pintu rumah Nadira lalu memencet belnya. Setelah memencetnya dua kali muncullah Annisa membukakan pintu.

“Cali siapa Om?” Tanya Annisa dengan bahasa cedalnya.

“Ini pasti Annisa kan?” Tanya Riko balik. Riko sudah banyak tahu tentang keluarganya Nadira. Termasuk keponakannya itu, banyak hal yang ia ceritakan ke Riko tentang tingkah lucu keponakannya.

“Iya, Om. Om ciapa cih.. kok enggak kenal Aca? (Panggilan nama Annisa).” Tanya Annisa lagi.

“Om temen tantenya Aca, Tante Diranya ada?” Ujar Riko sambil berjongkok sejajar dengan tubuh mungilnya Annisa. Tidak lama kemudian Andre muncul dari dalam kamar karena mendengar ada obrolan diluar. Andre lalu berdehem, Riko menjadi salah tingkah sendiri karena terlalu gugup. Untung ada Annisa yang lucu sehingga dapat mencairkan suasana.

“Papa.. ada temen tante Dila nih” Ucap Annisa dengan bahasa cedalnya.

“Kok Oomnya enggak disuruh masuk Nak?” Ujar Andre sambil mempersilahkan Riko masuk.

“Mas ...” Sapa Riko lalu mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Andre. Andre pun menerimanya.

“Riko, temennya Nadira di kantor?” Tanya Andre memastikan teman lawan jenisnya Nadira yang sering ia ceritakan.

“Iya Mas...” Balas Riko sopan.

Sementara itu, Annisa dengan lincahnya langsung mengetuk pintu kamar Nadira dan memberitahukan bahwa ada oom yang mencarinya. Nadira pun keluar dari dalam kamarnya. Ia sangat yakin kalau itu Riko yang datang. Nadira melihat Andre sedang berbincang-bincang dengan Riko. Ia pun menghampirinya.

“Mas Riko maaf ya ...” Ucap Nadira sambil menyatukan kedua telapak tangan di dadanya. Riko mengernyitkan dahinya tidak mengerti.

Kenapa Nadira masih belum ganti baju? Batin Riko. Nadira hanya berpakaian gamis biasa dengan jilbab bergonya.

“Kak Andre melarang kita makan diluar, jadi malam ini kita makan di rumah...” Imbuh Nadira menjelaskan. Andre mendengarkan sambil tersenyum.

“Oh iya tidak apa-apa...” balas Riko seraya tersenyum.

“Silahkan masuk Mas, anggap rumah sendiri ...” ucap Nadira mempersilahkan Riko dengan sopan dan mengajaknya ke ruang makan. Andre berdiri dan Riko mengikutinya. Di ruang makan, tampak Sinta sedang mempersiapkan makanan. Andre duduk diikuti Nadira, Sinta, Annisa dan Riko. Setelah itu mereka mulai makan ditengah keheningan, sesekali terdengar celetukan kata-kata cedal dari Annisa. Riko merasa jantungnya deg-degan. Ini pertama kalinya ia makan malam di rumah seorang wanita. Sambil makan, Riko sesekali melirik Nadira yang sedang makan didepannya. Ia sangat salah tingkah berada di tengah-tengah keluarga Nadira. Setelah makan malam selesai, Andre membuka perbincangan.

“Riko... Anda serius dengan adik saya Nadira?” Tanya Andre tiba-tiba.

“Uhuk..uhuk...” Riko tersedak air ludahnya sendiri saat mendengar pertanyaan Andre. Ia pun menepuk-nepuk dadanya supaya batuknya reda. Ia merasa terkejut dengan pertanyaan Andre. Tadinya ia masih ingin PDKT dulu sama Nadira, tapi Andre sudah menanyakan ke hal yang serius. Riko pun bingung harus menjawab apa.

“I-iya Mas...” jawab Riko terbata-bata. Hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya saat ini. Ia terlalu gugup untuk mengeluarkan kata-kata yang lebih banyak dari itu.

“Kalau begitu saya tinggal dulu...” Ujar Andre lalu berdiri sambil menggendong Annisa yang baru saja duduk dipangkuannya. Andre meninggalkan Nadira dan Riko di ruang tamu. Sinta mengikuti Andre masuk kedalam kamar setelah beberes di dapur untuk segera beristirahat.

“Mas Riko apa-apaan?” Tanya Nadira sambil mengernyitkan dahinya saat Andre dan Sinta sudah pergi.

“Maaf Ra, saya terlalu gugup tadi. Sehingga reflek menjawab ‘iya’,” Jawab Riko sambil meringis.

“Ayo kita ngobrol di teras belakang Mas...” Ajak Nadira. Riko pun setuju.

“Beneran Mas Riko mau melamar Dira?” Tanya Nadira saat sudah duduk di kursi teras belakang rumahnya.

“Ya... mau gimana lagi? Saya sudah terlanjur bilang ‘iya’ sama kakak kamu Dira. Kalau saya batalkan nanti Kakak kamu tidak percaya lagi sama saya...” Jawab Riko pasrah.

“Mmm.. memang Mas Riko beneran suka sama Dira?” tanya Nadira memastikan keseriusan Riko.

“Iya, Ra. Saya sudah lama tertarik sama kamu. Tepatnya saat kita pertama kali jumpa diacara pesta pernikahan Pak Kavindra dan Bu Ayesha.”

Nadira hanya mengangguk.

“Tapi... kamu enggak punya pacar kan sekarang?” tanya Riko untuk memastikan.

“Enggak ada Mas...” Balas Nadira sambil menggelengkan kepalanya.

***

Dua bulan berlalu...

Riko telah melamar Nadira satu minggu setelah makan malam di rumah Andre waktu itu. Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Nadira dan Riko. Nadira merasa sangat deg-degan melihat saudara dan keluarganya sedang menerima hantaran dari keluarga Riko yaitu diwakili oleh keluarga besar Pratama. Karena memang Riko sudah dianggap bagian dari keluarga Pratama. Dari semalam Nadira tidak bisa tidur karena memikirkan hari yang paling spesial dalam hidupnya. Akad nikad diadakan di Mesjid. Setelah kata SAH terucap dibibir saksi. Sekarang saatnya Riko memberi mahar seperangkat alat shalat, uang tunai dan logam mulia 50 gram. Setelah acara akad nikah langsung dilanjutkan acara walimahan di tempat Nadira. Tepatnya di kediaman rumah Andre kakak kandungnya. Riko didandani pakaian adat khas Minang, karena ikut keluarga Nadira yang berasal dari tanah Minang. Saat melihat Riko dari kejauhan dia pun disambut oleh tari piring. Penari-penari itu menuntun Riko mendekat kepada Nadira. Semakin lama semakin mendekat, hati Nadira begitu berbunga-bunga sangat bahagia menantikan sang pujaan hati yang sangat tampan.  ‘Ini adalah bener-bener acara walimahan seperti yang aku impikan’, batin Nadira. Riko pun tersenyum kepadanya.

“Kamu sangat tampan Mas,” Ucap Nadira sambil tersenyum bahagia.

“Kamu juga sangat cantik sayang.” Balas Riko sambil menggandeng tangan Nadira berjalan menuju pelaminan.

Mereka pun duduk dan melihat tarian yang diiringi rabab. Banyak para tetamu yang datang untuk memberi restu kepada kedua mempelai yang sangat berbahagia.

Malam pertama menjadi suami istri, Nadira langsung diboyong Riko ke rumahnya. Rumah yang dibelikan pak Jehan untuk Riko dan langsung dibuat atas nama Riko saat ia masih kuliah.

“Dik Dira?” Riko memecahkan sepi.

“Iya Mas, kenapa” Ucap Nadira lirih.

“Makasih ya sayang sudah mau menjadi istriku,” Ujar Riko sambil mengelus tangan Nadira lalu menciumnya.

“Makasih juga sudah mau menjadi imamku,” balas Nadira sambil tersenyum yang tiba-tiba pipinya menjadi merah.

“Mas.. kamu tinggal sendirian ya di rumah sebesar ini?” Tanya Nadira mengalihkan topik.

“Dulu iya sayang.. tapi sekarang sudah ada temen. Tepatnya teman hidup, teman makan, teman tidur dan teman....” Riko tidak melanjutkan kalimatnya, namun  tiba-tiba Riko mengangkat tubuh Nadira dan menidurinya keatas ranjang yang dipenuhi warna hijau. Nadira benar-benar kaget dibuatnya. Pipinya seketika merah merekah akibat malu. Riko pun ikut tidur disampingnya dengan menggeser badannya kearah Nadira.

“Mas...kok deket-deket sih.” Ucap Nadira kesel menahan malu.

“Kamu itu istri aku sayang.” Riko pun memeluk Nadira. Nadira merasa sangat nyaman tapi juga deg-degan.

“Tenang saja malam ini kita hanya tidur.” Kata Riko sambil sedikit tertawa.

“Siapa juga yang mau macam-macam.” Nadira pun menyikutnya.

“Sstt ssstt sudah ayo tidur,” Riko pun memeluk Nadira dengan sangat erat. Entah karena terlalu lelah Nadira pun tertidur dalam pelukan suaminya itu.

***

 

 

“Tiada satu pun cara yang dapat menyatukan dua manusia yang sedang jatuh cinta kecuali menikah”

 

[Tahajud Cinta, EPR]

 

TC 28

Kecewa

 

Hari Minggu Nayla tidak masuk kuliah. Ia becermin didepan kaca dengan perasaan gugup. Berkali-kali ia berputar-putar didepan cermin takut kalau penampilannya ada yang kurang. Semalam sebelum tidur, Nayla mengirim pesan pada Filia yang ia kira selama ini adalah Kavindra. Selama ini menurutnya Kavindra selalu membalas chat-nya dan memberi kesempatan baginya. Karena itu ia memberanikan diri mengajak Filia bertemu disebuah caffe pada hari Minggu. Filia pun menyetujuinya karena memang sudah lama ia tidak bertemu dengan Nayla. Sesampainya Nayla di caffe, ia duduk di sebuah meja sambil menunggu kedatangan Filia dengan gugup. Beberapa kali ia berkaca pada layar ponselnya untuk memastikan kalau penampilannya tidak berantakan. Tidak lama kemudian ponselnya berbunyi. Ada pesan masuk dari Filia yang sudah berada ditempat parkir. Jantung Nayla berdebar-debar rasanya.

Filia    : Kamu dimana? Aku sudah sampai.

Nayla membalas pesan Filia dengan jantung berdebar-debar. Tangannya pun berkeringat dan gemetar.

Nayla : Aku sudah menunggumu didalam. Di meja

              nomor 12.

Filia    : Okey, aku akan segera kesana, tapi aku mau

              ke toilet dulu sebentar.

Setelah Filia keluar dari dalam kamar mandi, ia segera menuju ke meja nomor 12 seperti petunjuk yang diberikan Nayla. Saat ia sudah tiba didekat meja nomor 12, ia mengernyitkan dahinya saat melihat postur tubuh Nayla temannya sendiri, melainkan orang lain. Ia pun segera mengeluarkan ponselnya lalu menelepon Nayla yang mengiriminya pesan selama ini. Filia melihat orang di meja nomor 12 itu menerima panggilan telepon dengan semangat.

(“Hallo...”) Sapa Nayla dengan suara yang dibuat selembut mungkin saat melihat nama Kavindra dilayar ponselnya.

(“Kamu Nayla?”) tanya Filia sembari mengernyitkan dahinya. Begitu juga dengan Nayla ia merasa heran saat mendengar suara Filia.

(“Iya saya Nayla,”) Jawab Nayla gugup.

Siapa ini? Apa istrinya  Kavindra ya? Batin Nayla.   

Filia pun memutuskan sambungan teleponnya lalu menghampiri meja nomor 12.

“Kamu Nayla?” Tanya Filia lagi seraya duduk didepan Nayla. Nayla terkejut saat Filia tiba-tiba duduk didepannya dan menyapanya.

“I-iya,” Jawab Nayla sembari menatap Filia dengan gugup.

“Kamu dapat nomor ponsel saya dari mana?” tanya Filia. Nayla mengernyitkan dahinya tidak mengerti.

“Kamu kan yang mengajak saya ketemuan hari ini?” tanya Filia lagi.

“Loh? yang saya ajak ketemuan Mas Kavin, tapi kenapa yang datang kamu?” Tanya Nayla semakin bingung.

“Hah.. Pak Kavin?” Tanya Filia terkejut.

“Jadi kamu dapat nomor ponsel saya dari pak Kavin?” Imbuh Filia.

“Sebentar, sebenarnya kamu ini siapanya Kavindra?” Tanya Nayla meminta penjelasan.

“Saya Filia. Sekretarisnya Pak Kavindra.” Jawab Filia santai.

“Lalu Mas Kavinnya mana? Kok nggak datang? Malah kamu yang kemari.” Tanya Nayla kecewa.

“Pak Kavin di rumah lah,” Jawab Filia lalu melambaikan tangannya memanggil pelayan hendak memesan minuman.

“Kenapa dia tidak datang?” Tanya Nayla memaksa ingin tahu.

“Begini ya Dik. Aku tanya dulu, kamu dapat nomor aku dari Pak Kavin?” tanya Filia. Nayla mengangguk.

“Pak Kavin tidak pernah memberikan nomor ponsel pribadinya pada siapapun. Bahkan pada klien bisnisnya sekalipun. Beliau tidak mau kehidupan pribadinya terganggu. Jadi ketika ada yang meminta nomor ponselnya, beliau akan memberikan nomor saya (Filia) sebagai sekretarisnya,” Tutur Filia menjelaskan.

“Oh begitu...” sahut Nayla kecewa lalu menghembuskan nafas melalui hidungnya dengan kasar.

“Jadi yang selama ini berkirim pesan ke saya Mba Filia?” Tanya Nayla lagi untuk memperjelas.

“Iya!” balas Filia singkat.

“Kenapa enggak bilang? Tanya Nayla kecewa.

“Aku juga enggak tahu kalau kamu Nayla lain. Aku kira kamu Nayla teman sekelasku saat kuliah dulu,” Jawab Filia santai. Nayla cemberut. Ia merasa sia-sia dandan cantik dari tadi, tapi yang ia temui bukan Kavindra. Nayla sudah sangat berharap kepada Kavindra saat pertama kali bertemu agar bisa berjodoh dengannya. Apalagi setiap ia berkirim pesan, Filia yang dianggap Kavindra selalu membalas chatnya itu. Hatinya selalu berbunga-bunga saat melihat balasan chat dari Filia. Meskipun tidak ada kata-kata romantis diantara mereka, tapi Nayla sudah sangat senang bukan kepalang.

“Boleh saya minta nomor ponselnya Mas Kavin?” tanya Nayla lagi.

“Maaf, tidak bisa. Bisa-bisa saya dipecat kalau sampai nomor ponsel Pak Kavin menyebar,” tolak Filia dengan sopan. Nayla pun semakin cemberut karena laki-laki yang ia harapkan menjadi jodohnya ternyata susah untuk digenggam.

***

 

“Kekecewaan tidak memiliki tempat di hati

yang penuh rasa syukur”

 

              [Tahajud Cinta, EPR]

 

 

TC 29

Cobaan

 

Kini kehamilan Ayesha sudah memasuki 33 minggu. Artinya Kavindra dan Ayesha sedang menanti kelahiran bayi kembarnya itu. Sebelum ia melahirkan, Ayesha menginginkan Bu Indah tinggal di rumahnya. Saat melahirkan ia ingin didampingi suami dan ibu kandungnya sendiri.

Hari ini Ayesha dan Kavindra akan menjemput Bu Indah dan Pak Hermawan sekalian bersilaturrahim kepada kedua orang tuanya. Sudah lama mereka tidak mengunjunginya. Kavindra memenuhi semua kemauan Ayesha selama itu membuat hatinya senang dan bahagia.

Tentu saja Ayesha sangat senang. Ia pun membuat kue di dapur dibantu Bi Yanti dan Bi Ani untuk diberikan pada Bu Indah. Setelah kuenya matang Kavindra dan Ayesha pun berangkat. Selama perjalanan Kavindra mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Saat berhenti di lampu merah, ia mengecup pipi Ayesha yang sedikit tembem. Ayesha pun menoleh dan tersenyum padanya.

“Dilihat orang malu, Mas,” Ucap Ayesha pada Kavindra seraya menyentuh pipinya yang baru saja dicium.

“Tidak apa-apa manis.. kan cium istri sendiri dapat pahala,” Balas Kavindra dengan mengedipkan sebelah matanya.

“Aku mencintaimu,” Ucap Kavindra tiba-tiba seraya mengaitkan jemarinya dengan jemari Ayesha lalu menciumnya.

“Aku juga mencintaimu, Mas,” balas Ayesha seraya tersenyum dan mengeratkan jemarinya pada jemari Kavindra.

Dari arah yang berlawanan dengan mereka, seseorang sedang memperhatikan kemesraan mereka dari dalam mobilnya. Kebetulan mereka sama-sama berada di barisan paling depan saat menunggu lampu lalu lintas dari merah menjadi hijau. Ia merasa tidak suka dan cemburu dengan hidup mereka. Ia merasa Ayesha telah merebut semua impiannya untuk menjadi bagian dari keluarga Pratama dan menguasai semua hartanya.

“Kalau aku tidak bisa memilikinya, orang lain juga tidak boleh memilikinya, aku benci Ayesha. Kenapa hidupnya begitu beruntung,” gumam wanita itu dengan menyeringai jahat. Setelah lampu kuning menyala dan berubah menjadi hijau, wanita misterius itu segera menginjak gas dan melaju dengan kecepatan penuh ke arah mobil Kavindra. Ia tidak peduli dengan keselamatan dirinya sendiri. Kavindra baru saja menginjak gasnya. Tentu saja ia tidak siap dan terkejut. Ia pun membanting kemudi hingga menabrak mobil disamping kirinya. Wanita misterius itu pun mundur lalu menabrakkan mobilnya ke mobil Kavindra berkali-kali dengan kerasnya. Kecelakaan pun tidak terelakkan. Ayesha dan Kavindra kini bersimbah darah. Beberapa orang segera mengerubungi mobil Kavindra yang ringsek. Kavindra yang masih setengah sadar menoleh kearah Ayesha yang tidak sadarkan diri. Ia menangis melihat istrinya dengan keadaan seperti itu. Ia tidak mau kehilangan istri dan anak kembarnya yang akan segera lahir. Ia mengulurkan tangannya dengan pelan-pelan kearah Ayesha. Belum sempat tangannya menggapai Ayesha, tiba-tiba pandangannya gelap dan ia pun tidak sadarkan diri. Ya Allah... tolong selamatkan anak dan istri saya. Ucap Kavindra dalam hati. Hatinya menangis karena tidak bisa melindungi dan menyelamatkan istri sekaligus buah hati yang ada dalam kandungannya. Beberapa orang membuka paksa pintu mobil Kavindra yang kacanya sudah pecah. Setelah pintu mobil terbuka, mereka segera mengeluarkan Kavindra dan memeriksa nafas serta nadi untuk memastikan apakah masih hidup atau sudah meninggal.

Kavindra membuka matanya dan melihat bahwa kini ia berada di rumah sakit. Ia memegangi kepalanya yang terasa sakit.

“Aaaah,” pekik Kavindra.

Bu Diana yang sedang duduk di sofa segera menghampirinya. Sudah dua hari Kavindra berbaring dan tidak sadarkan diri.

“Alhamdulillah... akhirnya kamu sadar nak,” Bu Diana mengucap  syukur seraya memencet tombol yang ada di samping tempat tidur Kavindra untuk memanggil dokter dan perawat.

“Dimana Ayesha? Bagaimana keadaan anakku, Ma?” Tanya Kavindra pada mamanya dengan tidak sabar.

“Tenang Vin... kamu baru sadar. Biar dokter memeriksamu dulu,” ujar Bu Diana menenangkan Kavindra. Tidak lama kemudian dokter dan perawat pun datang untuk memeriksanya. Setelah memastikan tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan, dokter dan perawat itu pun pergi.

“Dimana  Ayesha, Ma?” Dia baik-baik saja kan? Bagaimana dengan anakku?” Tanya Kavindra lagi dengan tidak sabar dan khawatir.

“Sabar Vin...” ucap Bu Diana dengan lirih menenangkan Kavindra dan mengusap airmatanya.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Kavindra semakin penasaran.

“Istrimu koma,” jawab Bu Diana dengan menangis. Ia tidak tega mengatakannya pada Kavindra. Ia juga tidak tega melihat Ayesha yang berada di ruang ICU dengan berbagai alat kesehatan yang dipasangkan pada tubuh Ayesha.

“Bagaimana dengan anakku?” Tanya Kavindra dengan menitikkan airmata. Jujur ia tidak sanggup mendengar berita buruk yang akan didengar, tapi ia ingin tahu kepastiannya.

“Anakmu sudah lahir, tapi...” Bu Diana menggantungkan kalimatnya.

“Tapi apa, Ma?” Tanya Kavindra dengan tidak sabar dan memegangi kedua lengan mamanya.

“Tapi mereka premature karena belum waktunya untuk dilahirkan,” jawab Bu Diana dengan bibir bergetar menahan tangis. Ia sudah melihat wujud cucunya yang masih mungil-mungil. Ia ingin mendekap dan memeluk bayi-bayi itu, tapi dokter melarangnya dan menaruh mereka didalam inkubator untuk mendapatkan perawatan intensif.

“Aku ingin melihat mereka, Ma,” Ujar Kavindra seraya mencoba bangkit.

“Sebentar Mama panggilkan perawat supaya membantumu bangun,” Ucap Bu Diana lalu keluar sebentar untuk memanggil perawat beserta kursi roda. Tidak lama kemudian bu Diana masuk dengan seorang perawat yang tengah mendorong kursi roda. Kemudian perawat itu membantu Kavindra yang masih lemah duduk di kursi roda. Setelah itu ia mendorongnya keluar menuju ruang perinatal dan bu Diana mengikuti dibelakang mereka. Kini Kavindra melihat bayi-bayi mungil itu dari luar kaca bayi dengan duduk di kursi roda. Ia membelai kaca itu seakan-akan sedang membelai kedua anaknya. Ia merasa bahagia karena istrinya koma dan anaknya lahir premature. Ia pun menitikkan air mata. Ia merasa gagal menjadi suami dan papa yang baik untuk keluarga kecilnya. Setelah melihat kedua anaknya, Kavindra pergi ke ruang ICU dimana Ayesha berada. Sebenarnya anggota keluarga tidak diperbolehkan masuk, tapi Kavindra memohon untuk diizinkan melihat istrinya. Ia berjanji hanya melihatnya sebentar. Ia sangat rindu dengan senyum istrinya yang setiap hari menemani hari-harinya.

Kini Kavindra diizinkan masuk dengan baju steril menempel pada tubuhnya. Ia memegang tangan Ayesha yang tidak bergerak dan mencium tangan itu serta menempelkan pada pipinya.

“Sayang ... bangunlah ...” Ucap Kavindra lirih dengan tubuh bergetar dan menangis. Air matanya jatuh dan membasahi pipi serta tangan Ayesha yang ada di pipinya. Ia tidak tega melihat istrinya yang terkulai tidak berdaya. Hatinya sangat sakit. Andai saja ia bisa menggantikan posisi istrinya, ia akan sangat bersedia. Anak-anaknya membutuhkan ibunya dari pada ayahnya.

 “Sayang... maafkan aku. cepatlah bangun. Aku merindukanmu,” Ucap Kavindra dengan bahu bergetar.

“Tidakkah kamu ingin melihat anak-anak kita? Mereka sangat lucu-lucu. Mereka membutuhkanmu, sayang. Bangunlah...” Ujar Kavindra seraya membelai pipi Ayesha.

“Ayo kita merawat mereka bersama-sama. Kita belum membuat nama untuk mereka. Kamu mau memberi mereka dengan nama siapa?” tanya Kavindra dengan berlinang air mata dan bahunya bergetar. Ia sudah membayangkan betapa bahagia hari-harinya saaat kedua anaknya berlarian didalam rumah tangga dan memanggil dirinya dengan sebutan papa dan Ayesha dengan sebutan mama. Sungguh keluarga impian yang sangat sempurna. Setetes bulir bening pun keluar dari mata Ayesha dan menetes di samping matanya.

Aku mendengarmu, Mas. Aku ingin memelukmu dan anak-anak kita, tapi aku tidak bisa. Seluruh tubuhku terasa sangat sakit. Maafkan aku tidak bisa menjadi istri dan ibu yang baik. Kata Ayesha dalam hati.

 

Kalau nanti aku pergi dan tidak lagi disisimu, aku akan selalu menunggumu di keabadian. Aku akan selalu menunggu dan merindukanmu. Sebutlah namaku selalu di hatimu dan doamu. Jangan pernah lupakan aku. Aku mencintaimu, Mas. Imbuhnya.

 

Aku tidak akan pergi jauh, aku akan selalu ada di hatimu. Kamu juga akan selalu ada di hatiku. Aku sangat berterimakasih kepada Tuhan yang maha kuasa karena telah mempertemukan dan menyatukan kita. Meskipun aku tidak bisa merawat anak kita bersama-sama, aku sudah bahagia bisa mengandung dan melahirkan mereka untukmu. Jagalah mereka dengan baik untukku. Ucap Ayesha dalam hati.

Kavindra yang melihat air mata Ayesha menetes segera mengusapnya dengan lembut. Air matanya pun semakin deras melihat istrinya yang biasanya riang dan sering tersenyum kini hanya bisa menangis dan berbaring tidak berdaya. Ia ingin memeluk tubuh istrinya, tapi banyak alat kesehatan yang menempel pada tubuh Ayesha. Ia hanya bisa melihat dan merasakan sakit di dalam hatinya.

***

Kavindra pun segera memanggil perawat yang tidak jauh darinya. Ia meminta agar istrinya segera diperiksa. Ia berharap istrinya segera sadar dan bisa melihat anak mereka.

“Sus tolong periksa istri saya. Dia menangis,” Ucap Kavindra dengan semangat seraya mengusap air matanya dengan punggung tangannya. Perawat itu mendekat dengan tersenyum. “Sabar ya, pak. Kami tadi sudah memeriksanya sebelum Pak Kavindra datang kesini. Istri Anda menitikkan air mata itu karena merespon setiap kata-kata yang Anda lontarkan padanya. Meskipun istri Anda koma dan tidak bergerak, tapi dia bisa mendengar semua yang Anda ucapkan,” Jelas perawat itu pada Kavindra. Kavindra pun memandang istrinya kembali. Dan lagi-lagi bulir bening keluar dari pelupuk mata Ayesha yang terpejam.

“Sayang, kamu mendengarkanku kan? Cepatlah bangun. Anak-anak kita membutuhkanmu sayang,” Ucap Kavindra memberikan semangat pada Ayesha. Ayesha hanya meresponnya dengan air mata yang ia teteskan disetiap ucapan Kavindra.

“Pak Kavindra tolong segera kembali ke kamar Anda untuk beristirahat. Supaya keadaan Anda juga segera pulih,” Ucap seorang perawat yang tadi mengantarnya. Kavindra mengangguk lalu berpamitan pada Ayesha. Sebelum pergi Kavindra mengecup punggung tangan Ayesha dengan lembut. Seorang perawat segera mendorong kursi roda Kavindra menjauhi ranjang Ayesha. Kavindra menoleh ke belakang untuk melihat istrinya hingga ia tidak bisa melihat istrinya lagi.

***

Setiap hari Kavindra mengunjungi bayinya di ruang perinatal dan istrinya di ruang ICU. Kedua bayi kembar itu lahir dengan cara operasi caesar pasca kecelakaan. Saat sampai di rumah sakit, dokter dan perawat segera memeriksa kandungan Ayesha. Saat mereka mengetahui bahwa bayi itu masih hidup, mereka segera melakukan operasi caesar untuk menyelamatkannya. Bayi-bayi itu lahir di usia 33 minggu. Karena mereka kembar, tentu saja berat badan mereka hanya 1900 gram untuk yang berjenis kelamin laki-laki dengan panjang 73 cm, sedangkan yang perempuan hanya 1800 gram dengan panjang 71 cm.  Kebanyakan bayi prematur yang lahir pada usia kandungan 33 minggu memiliki resiko kesehatan yang tinggi, misalnya masalah pernapasan, kesulitan mengatur suhu tubuh, dan penyakit kuning. Selain masalah tersebut, mereka juga beresiko tinggi mengalami masalah perkembangan belajar dan perilaku. Karena itu mereka memerlukan perawatan intensif.

Setiap hari si kembar selalu ditimbang untuk mengetahui perkembangan berat badan mereka. Karena tidak mendapatkan ASI (Air Susu Ibu), mereka diberikan susu formula khusus BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) supaya berat badannya cepat naik keberat badan normal.

Kavindra melihat mereka yang menggeliat dan terkadang menguap dari luar kaca ruang perawatan intensif. Ia tersenyum bisa melihat anaknya, tapi hatinya sakit melihat mereka tidak bisa berada dipelukan ibunya.

Sudah dua minggu berlalu. Kondisi Ayesha tidak ada perubahan sama sekali. Setiap hari Kavindra menjenguknya untuk memberikan semangat. Bu Indah setiap hari menangisi Ayesha didepan ruang ICU. Ia masih tidak percaya putri semata wayangnya mengalami musibah setragis ini.

***

Hari ini Riko baru bisa menjenguk Kavindra ke rumah sakit karena sibuk di perusahaan mengurus perusahaan ‘Pratama Sejahtera’. Untungnya ia tidak sendiri sekarang ini, Nadira ikut terjun membantunya. Mereka sangat tahu bagaimana kondisi psikis Kavindra saat ini. Tidak mungkin ia bisa mengurus pekerjaan di tengah musibah yang menimpa anak dan istrinya. Saking stresnya, bahkan ia tidak memikirkan untuk mengusut penyebab kecelakaan yang menimpanya.

“Bagaimana keadaan pak Kavin?” Tanya Riko pada Kavindra yang berbaring setengah duduk diatas tempat tidurnya.

“Alhamdulillah, saya sudah lebih baik,” Jawab Kavindra datar. Wajahnya terlihat sangat sedih dengan kantung mata dibawah matanya. Kavindra memang kurang tidur akhir-akhir ini. Ia hanya bisa berdoa disepertiga malam untuk kesehatan istri dan anak-anaknya. Seperti biasa setiap malam Kavindra selalu shalat tahajud dan bermunajat kepada sang pencipta untuk selalu diberikan kesehatan dan kesembuhan untuk istri dan anak-anaknya. Hanya itu saja doa yang diulang-ulang dan dipanjatkan disetiap sujud tahajudnya.

“Saya sudah mengurus semuanya, Pak. Di perusahaan saya dibantu Nadira,” Ucap Riko pada Kavindra.

“Terimakasih,” Balas Kavindra. Rasanya ia sudah tidak peduli lagi dengan perusahaan yang ia miliki.

“Saya juga sudah mengurus dan mengusut yang menyebabkan bapak kecelakaan,” Imbuh Riko. Kavindra pun menatap lekat Riko.

“Apa hasilnya?” Tanya Kavindra ingin tahu.

“Itu bukan sebuah kecelakaan, tapi memang sebuah kesengajaan,” Jawab Riko menjelaskan.

“Siapa pelakunya?” Tanya Kavindra semakin penasaran dengan geram.

“Clara. Polisi sudah menyelidiki rekaman kamera CCTV dan mengecek keadaan mobil Clara. Tidak ada masalah dengan mobil itu, bahkan remnya pun tidak blong,” tutur Riko.

“Clara?!. Siapa dia!” Tanya Kavindra geram sambil mengingat-ingat nama wanita yang tidak pernah ia kenal.

“Mantan istri Pak Gilang. Tepatnya istri kedua Pak Gilang.” Jelas Riko.

“Bukannya dia sudah di penjara?” Tanya Kavindra lagi dengan nada yang masih geram saat ia sudah mengingat wanita tersebut.

“Iya. Enam bulan yang lalu ia sudah bebas, ada yang menjaminnya. Dan... ternyata setelah diperiksa kejiwaannya, dia memiliki gangguan mental. Selain karena efek samping dari obat-obatan terlarang yang pernah ia konsumsi, ia juga terobsesi untuk menguasai harta kekayaan dari keluarga Pratama serta ia juga menaruh dendam yang sangat besar terhadap Bu Ayesha karena menurut dia Ayesha telah berhasil menguasai kekayaan Pratama.” Jelas Riko panjang lebar sambil memperlihatkan rekaman video pengakuan dari Clara saat di introgasi oleh pihak kepolisian. Kavindra yang mendengar cerita Riko sangat geram dan penuh amarah atas kelakuan Clara mantan istri saudaranya itu. Namun ia masih bisa menguasai emosinya. Kavindra beristighfar berkali-kali.

“Sekarang dimana dia?” Tanya Kavindra dengan menatap tajam Riko.

“Sedang menjalani rehabilitasi di rumah sakit jiwa,” Jawab Riko. Kavindra pun menghembuskan napas dengan kasar melalui hidungnya. Kavindra terkesan sangat murka atas kelakuan si Clara, namun ia tetap berusaha untuk mengendalikan emosinya. Seandainya Clara dirawat di rumah sakit yang sama dengannya, ia akan mencekik Clara hingga mati sekarang juga. Disaat ia akan meraih kebahagiaan dengan kelahiran anaknya, perempuan itu malah membuat masalah hingga istrinya koma dan anaknya lahir prematur.

Astaghfirullahal ‘azhim,” Kavindra beristighfar berulang kali sambil mengusap wajah dengan tangannya.

***

 

Satu bulan berlalu

Keadaan si kembar sudah stabil dan diperbolehkan untuk dibawa pulang. Karena rumah sakit sarangnya penyakit, Kavindra pun membawa pulang si kembar dengan dua orang perawat untuk menjaga mereka. Bu Diana dan Bu Indah pun kini ikut tinggal di rumah Kavindra untuk ikut menjaga si kembar. Sampai saat ini keadaan Ayesha masih tetap sama. Tidak ada kemajuan sama sekali. Setiap hari Kavindra tinggal di rumah sakit. Bahkan ia menyewa sebuah kamar VVIP untuk beristirahat. Sesekali ia pulang untuk menengok si kembar dan menggendongnya. Ia sangat bahagia bisa menggendong anaknya dalam dekapannya. Ia menitikkan airmatanya saat melihat bayi-bayi itu menjulurkan lidahnya untuk mencari susu. Andai Ayesha tidak koma, mungkin saat ini bayi-bayi itu bisa menyusu pada ibunya. Andai ia tidak keluar rumah waktu itu, mungkin saat ini mereka berempat sudah hidup bahagia. Andai Mas Gilang tidak pernah menjalin hubungan dengan Clara, mungkin kecelakaan itu tidak pernah terjadi.

Andai, andai, andai, semua itu berputar-putar di kepala Kavindra. Ia pun menangis menyesali semuanya, tapi ia juga tahu ini semua takdir Allah. Ia yakin semua pasti akan indah pada waktunya. Semua yang terjadi pasti ada hikmahnya.

‘Ya Allah... sembuhkanlah istriku.. panjangkan umurnya.. berikanlah kebahagiaan untuk istriku Ayesha... Lindungilah anak-anakku... Ridhailah keluarga kami ya Rabb....’ Lirih Kavindra dalam hati sambil menangis sekencang-kencangnya. Seakan Kavindra sudah tidak ada lagi senyum di wajahnya. Tiada hari tanpa air mata saat mengingat dan menatap istrinya terbaring tak berdaya.

***

 

Sepuluh bulan kemudian...

Keadaan Ayesha tetap sama, bahkan sekarang tubuhnya semakin kurus. Begitu juga dengan Kavindra. Karena Ayesha koma, tidak ada yang mengurusnya seperti dulu. Setiap hari ia mondar mandir rumah sakit, perusahaan dan rumah. Kavindra sesekali pulang untuk melihat si kembar yang kini sudah bisa merangkak dan sesekali terjatuh saat belajar berjalan. Bu Diana dan Bu Indah kewalahan mengejar mereka yang semakin aktif bergerak kesana kemari. Kavindra pun memperkerjakan dua orang babysitter untuk menjaga mereka karena perawat yang ia sewa sudah kembali ke rumah sakit setelah si kembar berusia tiga bulan. Meskipun dulu mereka lahir dengan keadaan prematur, tapi sekarang tubuh mereka sehat dan gembul karena Kavindra memperkerjakan ahli gizi untuk memasak makanan mereka. Setiap hari selalu diberi makanan yang bergizi seimbang dan sehat untuk anak-anaknya Kavindra. Mereka sangat telaten dalam mengurus si kembar.  Selain itu, Kavindra juga membeli susu formula import berkualitas tinggi untuk menunjang gizi dan kecerdasan mereka. Pak Jehan dan Pak Hermawan juga sering menjenguk mereka di rumah Kavindra. Mereka sangat senang karena kini sudah menjadi kakek, dan sesekali mereka menginap di rumah Kavindra.

“Dokter, sampai kapan istri saya seperti ini?” Tanya Kavindra saat menjenguk istrinya dengan mata berkaca-kaca setiap kali melihat keadaan istrinya yang berbaring tidak berdaya.

“Kami tidak bisa memastikannya, Pak,” Jawab dokter yang menangani keadaan Ayesha.

“Apa yang terjadi kalau alat-alat itu dilepas dari tubuh istri saya?” Tanya Kavindra.

“Istri Anda akan meninggal. Karena itu satu-satunya alat yang membuatnya masih bisa hidup sampai saat ini,” Jawab dokter dengan sedih karena tidak bisa membuat pasiennya sembuh sudah hampir setahun.

Kavindra pun menghirup napas dalam-dalam dengan memejamkan matanya. Air matapun lolos dari pelupuk matanya. ia tidak akan bisa hidup kalau istrinya meninggal.

“Dokter, saya ingin istri saya dirawat di rumah. Saya akan membeli alatnya berapapun harganya,” Ucap Kavindra dengan sungguh-sungguh.

“Tapi... harga alat ini sangat mahal, Pak. Dan rumah sakit kami membelinya dari luar negeri,” Tutur dokter itu yang bernama Rinaldi.

“Saya tidak akan mempermasalahkan biaya dan harganya. Berapapun itu akan saya beli,” Ujar Kavindra. Ia tidak peduli berapapun biaya yang akan ia keluarkan untuk bisa menyembuhkan istrinya.

“Baiklah. Kami akan mempersiapkannya dalam waktu dua minggu, Pak. Karena kami harus memesan alatnya terlebih dahulu dari Amerika,” Balas Dokter Rinaldi.

“Terimakasih, Dok,” Ucap Kavindra seraya mengusap air matanya.

***

Dua minggu kemudian

Kini Ayesha sudah berada di rumahnya. Kavindra menyewa 4 dokter jaga dan 4 orang perawat untuk menjaga Ayesha secara bergantian terbagi menjadi 4 shift. Semua dokter dan perawat itu setiap hari pulang dan bergantian menjaga Ayesha. Kavindra senang akhirnya kini mereka berempat bisa berkumpul di rumah mereka. Dengan begini ia bisa melihat istri sekaligus anak-anaknya dalam waktu yang bersamaan. Akhir-akhir ini ia bekerja dari rumah dengan Riko yang bekerja di perusahaan. Setiap hari Kavindra selalu menyeka tubuh Ayesha dengan tangannya sendiri. Ia merawat dan membersihkan tubuh Ayesha dengan sabar dan telaten. Setiap melakukan itu mata Kavindra selalu berkaca-kaca.

“Sayang... kapan kamu bangun? Anak kita sudah besar. Mereka butuh mamanya,” ucap Kavindra pada Ayesha dengan lirih dan akhirnya bulir bening pun keluar dari matanya dan menetes membasahi dada Ayesha.

Setelah itu Kavindra keluar dari kamar itu untuk bekerja di ruang kerjanya. Tanpa Kavindra tahu air mata keluar dari pelupuk mata Ayesha.    

 

Satu bulan kemudian

Hari ini adalah hari ulang tahun si kembar. Tepat setahun sudah Ayesha koma. Mereka sudah bisa berjalan dan sudah bisa berbicara meskipun masih cedal. Kavindra membelikan kue tart untuk mereka berdua. Masing-masing kue tart itu bertuliskan ‘Kinaan’ dan ‘Kishaan’. Itulah nama yang diberikan Kavindra untuk si kembar. Kinaan Auroraa Putri Pratama dan Kishaan Albaraa Putra Pratama. Sebenarnya ia ingin berdiskusi terlebih dahulu dengan Ayesha untuk memberikan nama pada si kembar, tapi istrinya tak kunjung sadar dari komanya hingga satu tahun lamanya. Namun demikian Kavindra juga menyelipkan nama tengah Ayesha pada huruf awal nama kedua anaknya (yaitu Ki dari kata ‘Kirana’), dan tetap diujungnya disematkan nama keluarga besar Kavindra yaitu Pratama.

Kini Kinaan sudah cantik dengan gaun berwarna merah cerah pada tubuhnya dan pita di rambutnya. Sedangkan Kishaan memakai tuksedo warna putih. Mereka seperti raja dan ratu. Semua pakaian si kembar di urus Nadira. Setiap bulan Nadira selalu mengunjungi Ayesha sekalian untuk berbelanja keperluan si kembar dengan Riko yang membantunya. Nadira sudah menganggap Ayesha tidak hanya sebatas sahabat, namun mereka sudah seperti saudaranya. Selain ikhlas membantu Ayesha, Nadira juga menganggap itu semua sebagai ucapan terimakasih kepada Ayesha atas  kebaikannya selama ini.

Pesta kecil-kecilan itu diadakan di ruang keluarga dan hanya dihadiri orang-orang terdekat saja. Semua anggota keluarga sudah hadir di ruangan itu. Pak Jehan, Bu Diana, Pak Hermawan, Bu Indah, Nadira, Riko dan Kavindra. Selain itu ada para maid, babysitter, dokter, dan perawat yang menjaga Ayesha. Kini mereka di ruang tengah sedang merayakan ulang tahun si kembar bersama-sama. Setelah bernyanyi lagu ‘Selamat Ulang tahun’, Kishaan dan Kinaan meniup lilinnya dibantu Kavindra. Semua orang bertepuk tangan dengan riuh. Di dalam kamar, Ayesha menitikkan air matanya. Ia bisa mendengar betapa serunya pesta itu. Namun, ia tidak bisa menghadiri pesta itu. Ia merasa sedih karena tidak bisa berada disisi kedua anaknya.

Selamat ulang tahun, sayangnya mama. Maafkan mama yang tidak bisa menemani kalian. Maafkan mama yang tidak bisa merawat dan menjaga kalian. Semoga kalian panjang umur, sehat selalu dan semoga Allah selalu menjaga kalian berdua anak-anakku.  Doa Ayesha untuk keduan anaknya didalam hati.

Tidak lama kemudian Kavindra masuk kedalam kamar Ayesha dengan menggandeng kedua anaknya. Mereka berfoto bersama Ayesha yang berbaring diatas tempat tidur. Kavindra, Kishaan, Kinaan tersenyum bahagia, sedangkan Ayesha menangis didalam hatinya. Ia ingin sekali memeluk dan mencium kedua anaknya, tapi tidak bisa.

“Oke. Siap ya?” Ujar Riko yang memegang kamera.

“Satu... dua... tiga!” Riko memberi aba-aba lalu mengambil gambar mereka sebanyak mungkin karena Kishaan dan Kinaan tidak bisa diam. Setelah pesta berakhir semua orang pulang ke rumah masing-masing. Si kembar tidur di kamar dengan Bu Diana dan Bu Indah yang menemani mereka.

 

***

 

“Simpanlah harapanmu dalam setiap untaian doa. Lalu jadikan nyata dengan berjuang dan tawakkal pada-Nya. Hanyalah doa yang dapat mengubah takdir”

 

“Mengeluh tidak akan memperbaiki keadaan. Semangat buat hari ini! Jalani dengan ikhlas

 dan penuh rasa sabar.

 

[Tahajud Cinta, EPR]

TC 30

Tahajud Cinta

 

Setelah shalat tahajud Kavindra berdoa seperti biasa, memohon kepada Yang Maha Kuasa atas kesembuhan istrinya. Setelah itu Kavindra melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an disamping Ayesha tidur sambil menunggu waktunya subuh. Setelah melaksanakan shalat subuh di kamar dimana Ayesha terbaring, Kavindra  mengenggam tangan Ayesha lalu menciumnya dan membelainya dengan sangat lembut. Ia duduk di kursi samping tempat tidur Ayesha.

“Sayang... kapan kamu bangunnya.” Mas sangat merindukanmu sayangku. Ya humaira.. maafkan suamimu,” Ujar Kavindra kembali mencium punggung tangannya Ayesha.

“Anak kita sudah berusia satu tahun. Itu artinya kamu sudah koma selama satu tahun lamanya. Kapan kamu bangun? Mereka sangat cantik dan tampan. Kami merindukanmu sayang?” Imbuh Kavindra dengan lirih. Ia pun menengadahkan kepalanya dan melihat foto pernikahan mereka yang digantungkan di dinding kamar itu.

“Sayang, rasanya baru kemarin kita menikah. Aku bahagia denganmu sayang. Aku harap kamu tidak pernah meninggalkanku. Aku ingin selalu bersamamu sampai kapanpun. Duniaku sangat indah rasanya saat kamu masuk kedalam hidupku, bahkan sampai detik ini hanya namamu yang terukir indah di hatiku. Sekarang aku merasa sendiri. Meskipun kamu ada disampingku, tapi aku tidak bisa merasakan kehidupan yang seperti dulu. Aku sangat merindukanmu, Sayang ...”Ucap Kavindra lalu memeluk tubuh Ayesha dan menangis. Tubuhnya bergetar dan menangis tersedu-sedu. Ia sudah tidak kuat lagi menahan kesedihannya selama satu tahun.

“Andai aku bisa menggantikanmu. Aku sangat bersedia dengan senang hati, Sayang...lebih baik aku yang koma daripada aku harus melihatmu seperti ini,” Ucap Kavindra dengan menangis di dada Ayesha.

Ayesha pun menangis didalam hatinya. Ia pun sama. Ia juga sangat merindukan suaminya yang selalu menjahilinya, menggodanya, mencumbuinya dan memanjakannya. Setetes bulir bening pun keluar dari matanya dan mengalir kesamping matanya.

***

 

Enam bulan kemudian

Siang hari Kinaan dan Kishaan bermain di ruang tengah bersama Bu Diana, tiba-tiba Kishaan memukul kepala Kinaan karena mengambil mainan yang ia pegang. Kinaan pun menangis dengan histeris karena merasa sakit. Bu Diana pun segera menggendongnya dan membawanya ke dapur untuk membuat susu. Kishaan bermain sendiri lalu berdiri dan berjalan masuk kedalam kamar Ayesha. Ia naik kursi yang ada disamping tempat tidur Ayesha lalu memukul tangan Ayesha. Perawat yang menjaga Ayesha sedang tertidur di sofa.

“Ma...” panggilnya dengan cedal. Ia bisa tahu Ayesha adalah mamanya karena setiap hari Kavindra mengajak mereka masuk kedalam kamar Ayesha dan memberitahu mereka bahwa Ayesha adalah mama mereka. Seketika Ayesha membuka matanya dengan melotot. Jari-jarinya mulai bergerak. Saat ia mendengar Kinaan menangis, hatinya tergugah untuk ingin segera bangun dan melihat anaknya yang tengah menangis. Tidak lama kemudian Kishaan datang dan memukulnya.

“Ma ...” panggil Kishaan lagi seraya menaruh kepalanya di lengan Ayesha. Air mata Ayesha pun mengalir dari pelupuk matanya. Ia berusaha keras untuk menggerakkan tangannya. Ia ingin membelai kepala Kishaan untuk pertama kalinya.

***

 

Perawat yang menjaga Ayesha pun terbangun saat mendengar suara Kishaan memanggil Ayesha. Ia segera menghampiri tempat tidur Ayesha untuk menurunkan Kishaan dari atas kursi. Tiba-tiba ia melotot dan terkejut saat melihat mata Ayesha yang terbuka lebar. Ia pun segera menggendong Kishaan lalu menghubungi dokter yang kebetulan sedang izin hari ini.

(“Hallo ...”) Sapa dokter Rinaldi.

(“Dok, Bu Ayesha sadar,”) Ucap perawat yang bernama Retno itu.

(“Serius?”) Tanya dokter Rinaldi tidak percaya.

(“Iya, Dok,”) Jawab Retno dengan sungguh-sungguh.

(“Baiklah. Saya akan segera ke sana. Kamu cek tekanan darahnya terlebih dahulu,”) Perintah dokter Rinaldi sebelum memutuskan sambungan teleponnya.

Sambil menunggu dokter Rinaldi datang, perawat itu membawa Kishaan keluar dari dalam kamar Ayesha. Bu Diana baru saja kembali dari dapur dan menggendong Kinaan yang minum susu dari botol. Bu Indah sedang pulang hari ini, sedangkan babysitter si kembar sedang makan rujak bersama dengan Yanti dan Bi Ani.

“Ada apa dengan Kishaan?” Tanya Bu Diana saat melihat Kishaan di gendongan perawat itu.

“Ia masuk kedalam kamar Bu Ayesha dan... sekarang bu Ayesha ssadar,” Ucap perawat itu.

“Apa? Ayesha sadar? Allahu Akbar..”Bu Diana kaget saking tidak percaya. Ia pun segera masuk kedalam kamar Ayesha dan melihat Ayesha tengah melepas sungkup oksigen yang ada di hidungnya.

“Alhamdulillah... Ayesha!” seru bu Diana terharu dan tiba-tiba tangisnya pecah. Ia menitikkan air mata. Air mata kebahagiaan. Ia sangat tahu bagaimana sedih dan menderitanya Kavindra selama ini. Hanya saja Kavindra menutupi dan memendamnya sendiri. Bu Diana sering mendengar Kavindra menangis disepertiga malamnya. Setiap malam tanpa absen sekali pun ia selalu menangis dan memohon kepada Allah agar istrinya sembuh seperti sediakala. Hatinya pun ikut teriris saat melihat anaknya menderita. Kinaan yang masih berada di gendongan bu Diana melihat Diana yang sedang menangis dengan heran. Karena melihat Bu Diana menangis, Kinaan pun ikut menangis.

“Cup... cup... Sayang... Grandma tidak menangis,” Ucap Bu Diana dengan tersenyum.

Perawat itu pun menurunkan Kishaan di sofa karena akan memeriksa Ayesha. Bu Diana juga duduk di sofa itu untuk menjaga Kinaan dan Kishaan sambil menunggu Ayesha selesai diperiksa.

Setelah Ayesha diperiksa, bu Diana mengajak kedua cucunya menghampiri Ayesha. Ayesha melihat kedua anaknya dengan berlinang air mata. Ini pertama kalinya ia melihat buah hatinya. Ia merasa sangat bahagia karena Allah masih memberi kesempatan untuk hidup dan melihat anak yang selama ini didalam kandungannya.

Ayesha mengulurkan tangannya ingin membelai anaknya. Namun, Kishaan dan Kinaan takut dan bersembunyi dibelakang bu Diana. Ayesha pun tersenyum.

Tidak lama kemudian Kavindra keluar dari ruang kerjanya dan melangkahkan kakinya menuruni anak tangga untuk melihat Ayesha di kamar lantai bawah. Saat ia berada di ambang pintu kamar Ayesha, ia terkejut dan tertegun melihat Ayesha sudah membuka matanya. Tetesan bulir bening pun keluar dari pelupuk matanya. Kavindra langsung sujud syukur tepat didepan pintu kamar Ayesha, lalu segera menghampiri Ayesha dan memeluknya.

“Sayang...”  gumam Kavindra di dada Ayesha dengan berderai air mata. Bu Diana dan Retno pun menangis haru melihat Kavindra memeluk Ayesha dengan erat seperti itu. Kishaan dan Kinaan melihat Kavindra dengan mata bulat mereka merasa heran.

“Pa...” panggil mereka serempak sambil menarik celana Kavindra. Kavindra pun melepas pelukannya pada tubuh Ayesha lalu berjongkok dan memeluk kedua anaknya.

“Mama sudah bangun, Sayang...” ucap Kavindra pada Kishaan dan Kinaan lalu mengecup pipi mereka berkali-kali. 

***

Tidak berapa lama kemudian dokter Rinaldi datang dan segera memeriksa Ayesha. Setelah dipastikan semuanya baik-baik saja, dokter pun melepas semua alat yang selama ini dipasangkan pada tubuh Ayesha agar bisa bertahan hidup. Ayesha menatap Kavindra yang kini tengah menatapnya. Mata mereka pun bertemu.

“Mas... “ ucap Ayesha dengan lirih. Itulah kata yang diucapkan Ayesha pertama kalinya setelah 18 bulan koma. Kavindra pun tersenyum dan bibirnya bergetar. Ia menangis haru melihat istrinya kini telah sadar dari komanya. Ayesha pun menangis melihat Kavindra yang kurus, berewok dan tidak terurus. Setelah itu ia melihat Kishaan dan Kinaan yang menatapnya dengan malu-malu dan takut bersembunyi dibelakang Kavindra. Kavindra pun menggandeng tangan mereka lalu menaikkan mereka keatas tempat tidur disisi kiri dan kanan Ayesha.

“Ini Mama,” Ucap Kavindra. Kishaan dan Kinaan pun memandang Ayesha lalu memanggilnya ‘Mama’ bersamaan. Ayesha pun menangis mendengar anaknya memanggilnya ‘Mama’. Ia merasa sangat bahagia.

***

 

Enam bulan kemudian

Kavindra sudah memakai kemejanya lalu berjongkok didepan Ayesha yang duduk ditepi tempat tidur. Ayesha memasang dasi di leher Kavindra seperti dulu dengan tersenyum. Kavindra mendekat hendak mencium bibir Ayesha, tiba-tiba Kishaan dan Kinaan masuk kedalam kamar mereka.

“Mama!” seru mereka serempak lalu menghambur ke Ayesha dan memeluknya.

“Ayo cepat!” ajak mereka seraya menarik tangan Ayesha masing-masing di tangan kiri dan kanan Ayesha.

“Iya ... iya ...” ucap Ayesha seraya berdiri lalu mengikuti kedua anaknya. Kavindra mencebikkan bibirnya karena kedua anaknya mengabaikannya. Kemudian ia tersenyum karena kini ia merasa bahagia. Ia bisa melihat senyum dan tawa istrinya seperti dulu lagi. Apalagi dengan si kembar yang kini sudah berusia dua tahun. Mereka berempat pun masuk kedalam mobil lalu menuju hotel milik Kavindra.

Di hotel itu akan diadakan pesta ulang tahun si kembar yang kedua tahun serta doa bersama atas kesembuhan Ayesha. Semua orang sudah hadir disana. Pak Jehan, Bu Diana, Pak Hermawan, Bu Indah, Nadira, Riko, Andre, Sinta, Annisa, para pegawai, para pembantu, dan semua klien Kavindra, tidak lupa juga Kavindra mengundang beberapa Ustadz yang akan memimpin doa untuk keselamatan keluarganya. Semua orang menyambut kedatangan Kavindra, Ayesha dan si kembar. Pesta ulang tahun Kishaan dan Kinaan kali ini diadakan Kavindra dengan besar-besaran di aula hotel. Sekaligus ia mengadakan syukuran atas sadarnya Ayesha dari koma. Setelah pembacaan doa oleh Ustadz Ahmad Fauzan, semua orang dipersilahkan untuk mencicipi jamuan yang telah disediakan oleh pihak hotel milik keluarga Pratama.

Di sela-sela menikmati makanan/minuman para tetamu menyaksikan perayaan ulang tahun si kembar, Kishaan dan Kinaan  pun meniup lilin kue ulang tahun mereka masing-masing dengan bantuan Kavindra dan Ayesha diiringi musik ‘mabruk alfa mabruk’. Semua orang bertepuk tangan dengan riuh. Ayesha menitikkan air matanya karena terlalu bahagia. Ia juga yang memintakan pada Kavindra agar kembali dirayakan ulang tahun si kembar berbarengan dengan syukuran atas kesembuhan dari komanya. Ayesha mencium pipi Kishaan dan Kinaan bergantian lalu memeluk mereka mereka disisi kanan dan kirinya. Begitu juga dengan Kavindra memeluk mereka bertiga.

Setelah acara doa bersama dan pesta ulang tahun selesai, Kavindra mengajak Ayesha dan si kembar naik ke atap hotel. Di sana sudah ada sebuah helikopter baru beserta dengan pilotnya. Kavindra mengajak mereka naik helikopter itu dan terbang ke Bali. Sementara itu Clara di rumahnya duduk diatas kursi roda sedang menonton televisi acara ulang tahun Kishaan dan Kinaan. Karena diadakan besar-besaran, sehingga banyak stasiun televisi yang meliput acara itu dan menyiarkannya secara langsung. Clara merasa geram dan marah melihat kebahagiaan Ayesha dengan keluarga besar Pratama. Ia pun menjerit histeris dengan memegangi kedua sisi kepalanya. Kecelakaan dengan Kavindra dua tahun yang lalu membuat cacat pada kakinya.

***

Sesampainya di rumah, Kavindra dan Ayesha menggendong si kembar yang sudah tertidur sampai ke kamar. Sepertinya mereka sangat kelelahan karena perjalanan liburan mereka Bali – Jakarta, si kembar terus diperebutkan dan terus diciumi. Kishaan dan Kinaan merupakan anak-anak yang sangat menggemaskan bagi mereka. Si kembar adalah anugerah terindah yang diberikan Allah untuk melengkapi keluarga kecilnya. Kavindra sangat bersyukur sudah diamanahkan Allah permata yang sangat berharga kepadanya yaitu Ayesha istri yang shaleha, Kishaan dan Kinaan yang selalu membuatnya selalu bahagia.

Malam ini, bulan purnama bersinar dengan indahnya bahkan Ayesha sangat terpukau melihatnya dari atas balkon. Bibirnya menciptakan senyuman manis karena sebenarnya, ia sangat suka dengan bulan purnama. Tiba-tiba ada sebuah tangan kekar yang melingkar dipinggangnya, lalu di susul sebuah kecupan di pipinya.

“Jangan melamun sayang,” Ucap Kavindra saat memeluk istrinya dari belakang.

“Siapa yang melamun?” Tanya Ayesha.

“Ya kamu lah,” Jawab Kavindra.

“Aku  enggak melamun kok,” ucap Ayesha membela dirinya.

“Hmm.. Iya deh, terserah apa kata istriku.” Kavindra kembali mencium pipi Ayesha, lalu beralih mencium lehernya.

“Kita bobok yuk, aku ngantuk banget,” ajak Kavindra.

“Ya udah Mas Kavin duluan saja. Aku masih belum ngantuk,” ucap Ayesha tapi matanya masih fokus memandang bulan.

“Apa bulan itu lebih menarik dari suami kamu?” Tanya Kavindra.

“Bukan gitu Mas... aku memang belum ngantuk kok,” jelas Ayesha.

“Ya udah kalo gitu, kamu temenin aku tidur ya,” pinta Kavindra.   

“Nanti aja deh,” balas Ayesha.

Kavindra mulai kesal dengan istrinya yang sudah berani menolak ajakannya. Sebuah ide pun muncul dan ia langsung menggendong istrinya ala bridal style menuju ke ranjang mereka. Kavindra membaringkan Ayesha, lalu menyandarkan kepalanya dipangkuan istrinya. Ia juga meletakkan tangan Ayesha dikepalanya agar dielus-elus.

“Aku mau dielus-elus sama kamu,” Pinta Kavindra.

“Manja banget sih, padahal anaknya sudah dua,” ejek Ayesha tapi tangannya mengelus lembut kepala suaminya.

“Gapapa dong sayang, jarang-jarang kan aku manja sama kamu,” ucap Kavindra.

Ayesha masih setia mengelus kepala suaminya. Kavindra memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut dari istrinya.

“Kamu tahu enggak, kalo kita lagi berdua gini, rasanya kayak pengantin baru,” ucap Kavindra.

“Masa berdua seperti ini adalah masa paling indah dan aku sangat merindukannya. Aku bisa manja-manjaan sama kamu, peluk-peluk kamu, bahkan mencium bidadariku sepuasnya,” lanjutnya. Kavindra bangkit dari tidurnya untuk menatap wajah cantik istrinya. Tangannya juga mengelus pipi istrinya dengan lembut.

“Terimakasih,” ucap Kavindra.

“Untuk apa?” Tanya Ayesha.

“Terimakasih karena kamu sudah menjadi istri dan ibu yang baik bagi anak-anak kita. Terimakasih atas cinta dan kasih sayang kamu untuk kami,” Jawab Kavindra. Ayesha hanya tersenyum saja sembari menganggukkan kepalanya. Ia tidak tahu harus berkata apa atas ucapan Kavindra barusan.

I love you my wife. I love you so much.” Kavindra mencium seluruh wajah Ayesha dan terakhir, ia mencium bibir istrinya cukup lama dengan penuh cinta.

Gilang bukanlah jodoh Ayesha. Semesta memiliki skenario paling indah untuk hamba-Nya yang bersabar. Dan ternyata jodoh Ayesha adalah Kavindra Syahreza Putra Pratama. Pemuda pertama yang Ayesha sebut namanya dalam doa setelah Abi dan Ummi. Cinta pertama yang dia jaga melalui untaian doa dalam sujud tahajudnya.  Jika cinta itu belum waktunya, maka jangan katakan untuk saling menunggu satu sama lain, melainkan langitkan doa kepada Pemilik Hati agar dipilihkan yang terbaik untuk pantas ditunggu.

*****

Seberapa besar kesabaranmu dalam menghadapi masalah, tergambar jelas dari seperti apa sikap tenangmu. Karena sabar dan menyerah itu dua hal yang berbeda, sikapilah dengan bijak. Sabar itu ilmu tingkat tinggi. Belajarnya setiap hari, latihannya setiap saat, ujiannya sering mendadak, sekolahnya seumur hidup”

 

             [Tahajud Cinta, EPR]

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : TAHAJUD CINTA

0 komentar:

Posting Komentar