Menyajikan Informasi dan Model Baju Muslimah terbaru serta Berbagai Artikel Menarik Lainnya

Senin, 03 April 2023

CINTA DALAM DOA

 CINTA DALAM DOA

Oleh: Erna Putri Razali

 

Suasana sekolah terasa sunyi dan hening dengan kicauan burung-burung bernyanyi bersama sang surya yang masih malu-malu memancarkan cahayanya. Ketika itu jam menunjukkan pukul 06.45 WIB. Hari ini aku lah yang pertama tiba di sekolah. Tidak seperti biasanya aku yang pertama membuka pintu gerbang sekolah. Saat melewati ruangan kelas,  Tiba-tiba langkahku terhenti seketika saat melihat seorang gadis manis yang mengenakan jilbab putih hendak meletakkan tas selempangnya di atas meja. Padahal tangannya sudah bergerak untuk meletakkan tas diatas meja namun niatnya batal karena dia menyadari seorang cowok yang berada hampir berpapasan dengan pintu kelasnya sedang menatap ke arahnya. Si gadis spontan memerah mukanya karena cowok itu menatapnya dengan tatapan yang sangat lembut. Setiap kali gadis itu bertemu dengan cowok yang berkulit sawo matang tersebut selalu saling menatap. Entah apa arti tatapan itu? yang jelas si gadis itu tak pernah berani bicara lebih dekat dengan cowok yang terkenal alim itu sekaligus kakak kelasnya.

Gadis itu bernama Sabna Shabiraa. Ia gadis yang lumanyan cantik, manis, pendiam, pintar, alim dan baik hati. Ia termasuk cewek yang penakut saat berhadapan dengan cowok. Ia cewek yang sangat menjaga dedikasinya sebagai perempuan muslimah sejati dengan sifatnya yang bersahaja. Dia merupakan anak yatim yang sudah ditinggal ayahnya sejak berusia 8 tahun. Saat ini dia tinggal bersama pamannya. Namun dari itu dia tetap menjadi anak yang manis dan selalu mematuhi perintah orang tuanya. Sifatnya yang begitu lembut, ramah kepada siapa saja, santun tutur katanya dan dewasa dalam bersikap membuat semua orang menyukainya. Sabna nama panggilannya dia juga selalu menjadi juara kelas dari sejak kelas satu Sekolah Dasar. Yah, dia anak yang sangat cerdas dan disiplin dalam berbagai hal. Gadis manis ini selalu saja membuat orang di sekitarnya bahagia dengan kepribadiannya yang begitu mempesona. Tidak sedikit para orang tua menginginkan dia untuk jadi menantunya, padahal Sabna masih berusia belasan tahun. Demikian pula para pemuda di desanya banyak yang mencoba menaklukkan hati si bunga desa tersebut. Namun apa dinyana tak seorang pun yang berhasil. Aku salah satu sang penakluk bidadari itu. Banyak yang aku ingin ketahui tentang si gadis manis tersebut, secara tempat tinggal kami tidak terlalu jauh jaraknya. Entah kenapa aku begitu terpesona melihat dirinya. Kepribadiannya membuat hatiku meleleh, padahal aku juga banyak teman-teman cewek yang mendekatiku yang juga tidak kalah cantiknya. Tak sedikitpun membuat hatiku tergoda dengan mereka. Gadis yang bernama Sabna itu memang unik dan spesial daripada cewek-cewek yang pernah ku kenal.

Nama lengkapku adalah Arjit Murtadha. Aku sering juga dijuluki teman-temanku sebagai Arjit Singh sang penyanyi terkenal dari India dikarenakan aku juga memiliki suara emas dan sangat mudah meniru berbagai suara penyanyi-penyanyi terkenal. Hobiku memang menyanyi, mengaji dan berdakwah. Terkadang aku juga sering meniru dan mengikuti irama Qori-qori terkenal di dunia. Dengan kegemaranku seperti itulah teman-temanku sering menyebutku ustadz Arjit. Pembawaanku yang terkadang mirip ustadz membuatku sering berdakwah dengan teman-teman sepengajian. Meniru gaya dan mimik da’i-da’i kondang seperti KH. Zainuddin MZ, Abdullah Gymnastiar, Ustazd Abdul Somad dan banyak lagi lainnnya. Sehingga aku dianggap lebih sedikit alim oleh teman-temanku. Tidak jarang pula aku sering disuruh menjadi imam ketika shalat berjamaah diiringi dengan suaraku yang begitu merdu. Yah, aku sangat dikenal oleh teman-temanku sebagai qori dan sipemilik suara emas. Alhamdulillah, aku bersyukur atas apa yang telah Allah anugerahkan untukku. Dengan suara emas yang aku miliki aku sering mengikuti berbagai perlombaan-perlombaan MTQ, tahfizh, pidato bahkan pernah menciptakan sebuah grup nasyid. Dengan berbagai perlombaan tersebut membuat namaku semakin terkenal terutama di sekolah dan di sekitar tempat tinggalku. Prestasiku di sekolah juga lumanyan bisa diacungan jempol, selalu mendapat peringkat 3 besar sehingga membuat aku menjadi idola bagi kaum hawa (sssttt… kepedean dikit gapapa yak). Tapi itu tidak akan membuat hatiku terpikat kepada siapapun, kecuali kepada gadis manis yang masih menjadi incaran hatiku.

Sabna selalu menjadi salah tingkah bila Arjit menatapnya. Ia selalu menguasai dirinya bila merasakan salah tingkah itu. Saat istirahat tiba aku selalu menyempatkan diri melewati ruang kelas si gadis manis pujaan hatiku. Yah, aku merasa bagaikan magnet yang menarik diri agar selalu dekat dengannya, walau aku tau si gadis manis itu merasa malu disaat aku tatap. Terkadang aku bingung dengan perasaanku sendiri, dikala dekat dengan dia aku merasa hati deg-degan yang tak karuan dan ingin menatapnya lebih lama. Matanya yang sejuk dan sendu membuatku ingin terus berlama-lama menatapnya. Astagfirullah… Astagfirullah… Astagfirullah!. Apa yang telah kupikirkan. Seketika langkahku memutar arah menuju kantin untuk memadamkan perutku yang sudah keroncongan dari tadi dikarenakan lupa sarapan pagi.

“Berapa pak Burhan?” tanya Sabna.

“5000,- non”, jawab pak Burhan pemilik kantin.

Suara indah itu tidak asing lagi di telingaku. Langsung badanku berbalik arah mencari arah suara tersebut. Ternyata dia juga sedang menikmati secangkir es teh manis bersama Nora teman dekatnya di kantin pak Burhan tepatnya dibelakangku. Seketika aku ambil posisi dari samping untuk dapat menatap wajahnya sambil menikmati nasi goreng favorit segenap siswa SMAN 1 SETAPAK, jelas nasi goreng itu buatan istrinya pak Burhan.

Sabna dan Nora asik menikmati secangkir teh sesekali tertawa renyah sambil bercerita tentang pembahasan mata pelajaran sejarah tadi. Tanpa sadar Sabna menangkap sepasang mata yang sedang menatapnya dari samping. Di tengah keramaian begini, Arjit kembali tertangkap basah memandang Sabna tanpa berkedip sambil melempar senyum manisnya. Sabna tertegun, heran dan memandang Arjit dengan penuh pertanyaan yang melekat dipikirannya. Apa arti tatapan itu? Nora selalu berkata, Arjit itu menyukaimu diam-diam dan itu tandanya dia mencintaimu dengan memberikan sinyal cintanya dengan memandangmu tanpa berkedip. Begitulah menurut Nora. Jika memang Arjit menyukai Sabna, kenapa Arjit tidak pernah menyatakan perasaannya dari sejak dulu? Arjit selalu memandang Sabna dengan aneh dari sejak Sabna kelas satu SMP. Yah, Arjit sudah mulai menyukai dan merasakan cinta terhadap Sabna sejak SMP. Tapi Arjit hanya merasakan itu hanyalah perasaan seorang laki-laki remaja yang mulai meranjak dewasa atau dengan istilah cinta monyet. Saat itu Arjit sedang menduduki kelas tiga SMP. Arjit selalu memperhatikan Sabna dan selalu memandang Sabna saat di sekolah, saat istirahat di kantin, di tempat pengajian dan dimana saja dan kapan saja. Dia selalu memandang Sabna tanpa mendekati tanpa bicara sedikitpun, meski mereka selalu bertemu dikarenakan satu sekolahan. Mereka hanya mengenal nama, alamat saja itupun dari  cerita-cerita teman-temannya tentang kepribadian masing-masing. Tanpa ada pernah saling bertukar pikiran atau saling bercerita satu sama lain layaknya sepasang muda mudi yang sudah saling jatuh cinta. Mereka hanya diam dan diam saat berjumpa dan hanya bisa memandang tanpa alasan yang jelas.

Sabna masih terus memandang Arjit. Begitu pula dengan Arjit yang masih dengan tatapan teduhnya memandang Sabna. Seakan diantara mereka ada tarikan magnet yang tidak mau menoleh kearah lain. Arjit terus tersenyum hingga temannya memergokinya. “Terasa makin nikmat ya, menyantap nasi goreng sambil menatapi sang bidadari”. Ledek Andi teman dekatnya Arjit. Nasi goreng pun habis disantap tanpa disadari Arjit. Dengan wajah sedikit memerah, Arjit berusaha menguasai dirinya.

“Woii.. Bro.. dari tadi aku panggil-panggil kamu, gak noleh-noleh juga. Asyik trus menatap sang pujaan hati, sampai-sampai nasinya abis tak terasa lagi”. kata Andi dengan senyum nakalnya menggoda Arjit.

“Hushh.. apa-apaan sih kamu Ndi, diam aja kenapa? Nanti ketauan orang malu aku”. Bisik Arjit sambil menempelkan telunjuknya dibibirnya.

“Emangnya kenapa?”

“Kalau ketauan nanti teman-teman pada bicarain atau ngegosip aku sama Sabna, kan kasian Sabna nya jadi malu. Apa lagi aku tau dari cerita teman-temannya yang lain dia tu tipe cewek yang  taat beribadah, alim gitu, trus katanya dia gak mau pacaran. Dan aku pun maunya dia jadi milikku disaat yang tepat. Saat aku sudah mapan punya penghasilan dan sanggup menafkahinya”.

“Ohh.. gitu? Tapi Bro.. itu pemikiranmu sudah terlalu jauh, sampai-sampai mapan dan menafkahi segala. Kelamaan Bro.. Entar Sabna-nya keburu diambil orang”. Sahut Andi manggut-manggut.

“Saran aku nie ya Jit, kamu tuh nyatain cinta dulu ke Sabna. Kalau gak ntar di sambar orang lain, baru tau rasa lho... Siapa sih yang gak suka sama Sabna, cewek alim, pintar, baik dan manis lagi”. sambung Andi dengan tegasnya.

“Biarkan saja dulu, aku yakin sama Sabna dia bukan tipe cewek gampangan, yang mudah dipacari. Aku percaya sama dia. Saat ini aku mau konsentrasi dulu untuk ujian akhirku. Setelah itu, aku ingin nyatain perasaanku ke Sabna”.

“Lagakmu… lama amat kamu membiarkan Sabna bebas. Kamu yakin pasti mendapatkan hati Sabna.”

“Yakinlah. Justru itu aku sekarang ga mau ngebahas cinta-cintaan dulu, takut ga konsen saat ujian malah gak lulus. Jadi berantakan semua”.

“Truss.. kenapa kamu sering memandang dia?”

“Habis.. Dia itu menarik”

“Ah.. katanya mau konsen untuk belajar dan ujian malah memandang gadis pujaannya”.

“Biar tambah semangat”.

“Full spirit dong”.

“Yah, gitu lah”

Mereka terlibat pembicaraan yang nakal dan hangat. Meskipun dari nada-nada pikiran dari Arjit sepertinya dia masih meragukan perasaannya terhadap Sabna. Ia masih ingusan dan bersifat labil. Belum menemukan arti kedewasaan yang sebenarnya. Entah dari lulus SMA nanti dia menemukan arti cinta yang sebenarnya. Untuk sekarang biarlah dia bersenang-senang karena merasa jatuh cinta. Begitupula dengan Sabna. Dia sangat menyukai Arjit. Dikarenakan sosok Arjit yang tidak pernah neko-neko dengan cewek-cewek lain. Di mata Sabna, Arjit adalah tipe cowok yang diidamkannya, alim, suka belajar ilmu agama, pembawaannya tenang, dan baik hati. Menurut Sabna, Arjit cocok untuk dijadikan imamnya kelak. Dan ternyata keduanya punya visi yang sama yaitu tidak membuang-buang waktu mudanya dengan berpacaran dan perbuatan yang sia-sia sehingga mengantarkan mereka jatuh ke lembah kenistaan. Mereka sadar akan saling menjaga kehormatannya masing-masing. Terutama Sabna seorang wanita yang harus selalu menjunjung tinggi akhlak dan kehormatannya. Dia tidak mau merusak izzah dan iffah-nya dengan menjalin hubungan terlarang itu. Ketika anak-anak adam yang saling mencintai dan saling berpacaran satu sama lain maka akan timbulnya zina. Keinginan dan hasrat hati yang bergejolak ingin melakukan ini itu bahkan sampai ke hubungan biologis tanpa ada ikatan yang sah. Na’uzubillahiminzalik..!. Maka dari itu Sabna sebagai manusia biasa hanya bisa membatasi diri untuk tidak melakukan pacaran diusianya yang masih dini yang masih haus dengan ilmu dan pengetahuan. Meskipun rasa itu tetap menjelma dalam dirinya dan wajar sebagai wanita normal menyukai dan mencintai lawan jenisnya. Dia sudah jatuh cinta kepada Arjit sejak pertama kali Arjit memandangnya dengan aneh. Namun rasa cinta yang selalu merasuki jiwanya selalu ditumpahkan Sabna di atas sajadahnya. Iya, Sabna mencurahkan isi hatinya kepada sang khalik, sang maha pembolak balik hati, sang penggenggam hati setiap manusia. Sabna menumpahkan rasa cintanya kepada Arjit hanya dalam do’anya. Sabna telah menarik pandangannya dari Arjit dan kembali ke kelas bersama Nora temannya.

Arjit baru pertama kali merasakan jatuh cinta dan terbayang-bayang akan gadis pujaannya itu. Namun Arjit adalah tipe cowok yang setia yang tak mudah berpindah kelain hati. Arjit sangat yakin akan cintanya itu, cinta yang sejati menurutnya. Dan Sabna adalah tulang rusuknya. Arjit begitu tulus mencintai Sabna meski hanya secara diam-diam sampai menunggu tiba waktu yang tepat. Yah, waktu dimana dia bisa menjadi seorang pangeran sejati yang menjemput bidadarinya menunggangi kuda putih yang sudah berhiaskan tahta. Perasaan hati Arjit sekarang hanya ditumpahkan dalam doa kepada sang pemilik cinta yang sejati. Berharap akan ada sosok bidadari yang mencintainya setulus dia mencintai bidadari tersebut. Dan dia itu adalah Sabna Shabiraa sang pujaan hatinya yang sudah lama mengendap dalam relung jiwa hati Arjit Murtadha.

Dikala malam aku terus berdoa kepada sang pemilik cinta, mengharap cintaku dan cintanya tetap abadi. Jatuh cinta begitu indah rasanya bagaikan bunga-bunga bermekaran bertebaran di relung jiwa. Manisnya wajah itu membuatku tak bisa tidur semalaman, matanya yang sejuk nan sendu membuat aku pangling tak karuan. Lidahku kelu tak bisa berkata-kata disaat ku berhadapan dengannya. Hanya kepada-Mu Tuhan ku ungkapkan semua rasa ini dan aku tumpahkan perasaanku melalui tinta berwarna biru.

Cinta dalam Doa

Kumencintaimu dalam diam

Ku mencintaimu dalam doa

Karena diamku tersimpan kekuatan

Dan harapanku hanyalah doa

Cintaku hingga saat ini masih terjaga suci

Mungkin Allah akan membuat harapan ini menjadi nyata

Dikemudian hari

Aku terus menanti datangnya keajaiban

Untuk menjemputmu menjadi penjaga hati

Saat ini aku hanya berpasrah diri

Karena Allah lah sang pemilik hati

Doa yang selalu ku panjatkan saat dini hari

Karena wajah bidadariku yang selalu bersemi di hati

Aku ingin engkau adalah takdirku

Labuhan hati pertama dan terakhirku

 

Puisi ini mewakili semua perasaanku padanya. Dikala aku tak tau kemana harus mengadu untuk melampiaskan perasaan hatiku yang gundah gulana. Aku hanya dapat berkata melalui tinta, dapat berbicara melalui irama, dan dapat bercerita melalui karya. Dan hanya melampiaskan semuanya melalui doa semata. Aku yakin ini bukanlah obsesi untuk memilikinya, tapi inilah cinta yang sejati yang ingin aku pertahankan sampai tiba waktunya nanti. Allah telah menganugerahkan cinta itu kehatiku dan aku akan menjaga sebaik-baiknya. Dialah penyempurna separuh imanku. Dialah tulang rusukku yang harus aku jaga kelak. Ohh, Sabna Shabiraa namamu sudah sangat lama terukir dalam hatiku. Begitulah setiap malam aku lalui, sebelum mata ini terlelap tiada waktu aku mengingat dan menyebut namanya. Dalam doa terus kuselipkan nama sang bidadari hatiku.

Ujian Akhir Nasional telah berakhir sudah lama. Kini aku dan teman-teman seangkatanku menantikan saat-saat yang paling menegangkan yaitu menunggu detik-detik kelulusan. Semua anak kelas tiga sudah berkumpul di ruang aula. Kepala sekolah belum juga mengumumkan hasil kelulusan itu. Tampak mereka sedang kasak-kusuk di tengah aula yang teduh. Anak-anak tersebut menantikan waktu-waktu yang akan mengejutkan jantung agar tidak terlalu menegangkan. Mereka ribut sendiri dengan aktifitas masing-masing. Ada yang berwajah pucat pasi. Ada yang bersikap santai dan tenang tanpa ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Ada yang sudah menangis duluan sebelum pengumuman kelulusan diumumkan karena takut tidak lulus. Ada yang berwajah ceria. Bermacam-macam variasinya dan sangat menarik untuk ditonton. Di tengah lautan manusia yang sedang sibuk sendiri itu, aku tetap memikirkan sang bidadari yang sudah lama tidak kelihatan dikarenakan libur sekolah. Tak lama kemudian kepala sekolah tiba dalam ruangan yang dipenuhi lautan manusia tersebut. Kepala sekolah memberikan kata sambutan terlebih dahulu dan memberikan nasehat-nasehat yang baik untuk anak-anak kelas tiga itu. Kemudian pada ujung yang paling menegangkan, dari kata-kata Kepala Sekolah yang siap mengancam jantung untuk siap terkejut. Hasil pengumuman kelulusan akan diumumkan.

“Dari apa yang telah Bapak sampaikan kepada anak-anak sekalian. Semoga kalian menjadi anak yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama. Setelah Bapak mengumumkan hasil kelulusan ini, Bapak harapkan anak-anak sekalian dengan lapang dada menerima hasil keputusan tersebut. Hasil pengumuman kelulusan hari ini semuanya……..”

Kata-kata Kepala sekolah terputus mendadak dan Beliau memperhatikan wajah-wajah pucat dari para siswanya. Tanpa menunggu lama, Kepala Sekolah melanjutkan kata-katanya.

“Bapak mengumumkan semua anak kelas tiga yang Bapak sayangi ini… SEMUANYA LULUS SERATUS PERSEN!!!”

“Hore… kita lulus!” seru semuanya kompak kegirangan.

Arjit dan kawan-kawannya merasa sangat puas dan lega dengan hasil yang telah dicapainya hari ini. Arjit sujud syukur bersama Andi. Mereka sangat bahagia karena sudah lulus. Tahun mereka lah tahun pertama diadakan Ujian Nasional yang berbasis komputer. Hasil yang didapat siswa tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun yang lalu. Dulunya siswa berjuang secara manual dan bisa dibantu oleh gurunya dalam menyelesaikan ujian nasional, sedangkan tahun ini berbeda hanya bermain dengan kecerdasan otak serta kecanggihan teknologi yang langsung merekam nilai-nilai serta hasil yang mereka peroleh disertai standar nilai minimal secara nasional. Mereka yang mendapat dibawah nilai minimal dinyatakan tidak lulus. Maka dari itu Arjit dan kawan-kawan merasa sangat bahagia atas apa yang diperoleh di sekolahnya hari ini yaitu SERATUS PERSEN LULUS. Kebahagiaan mereka tiada tara. Mereka saling berpelukan dan jingkrak-jingkrak gembira. Sebagian sujud syukur. Ada yang berteriak senang. Ada yang menangis bahagia. Warna-warni ekspresi kegembiraan menambah semarak haru biru suasana kelulusan. Kehidupan baru akan mereka jelajahi demi masa depan yang cerah benderang.

Adzan Subuh pun berkumandang, bersama nyanyian merdu ayam telah membangunkan Sabna dari tidur nyenyaknya. Sabna segera beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Hari itu tampak seperti hari biasa yang dijalani. Tak terlintas pikiran apapun di kepala Sabna, kecuali dia memulai sekolah di hari pertama ajaran baru di kelas tiga SMA. Dan tentunya tak ada lagi lelaki yang diam-diam dia kagumi yang selalu menatap mata indahnya. Setelah semua siap Sabna pun hendak berangkat sekolah. Mengenakan tas selempang berwarna pink favoritnya dan segera berangkat karena takut tertinggal angkot. Gadis yang baru memasuki usia seventeen ini sangat menggemari boneka Hello Kitty. Saking sukanya dengan Hello Kitty banyak atribut-atribut Hello Kitty yang ia punya, mulai dari jam tangan, tas selempangnya, bantal tidur beserta hiasan kamar tidurnya dan lain-lain. Sesampai di sekolah, Sabna memasuki kelasnya, kelas III-IPA dengan perasaan biasa-biasa saja tak terlintas kalau sesuatu yang lain akan ia temui. Hhmmm, Sabna melihat ke kelasnya tampak hanya beberapa orang saja yang ada dikelasnya yang sedang sibuk merapikan tempat duduknya. Di sudut meja paling belakang terlihat Nora sobat kentalnya sedang cengar-cengir menatap sahabatnya yang manis itu sambil tersenyum penuh makna. Dengan penuh penasaran Sabna menghampiri sahabat kocaknya itu. Sebelum Sabna mengambil posisi duduknya disamping Nora. Nora terlebih dahulu menarik tangan Sabna untuk keluar kelas. Dan mereka menuju ke belakang sekolah. Setiba di tempat tongkrongan favorit keduanya, Nora mengeluarkan sebuah amplop berwarna putih untuk diserahkan ke Sabna.

“Ni.. untukmu”, kata Nora sambil menyerahkan sebuah amplop berwarna putih itu.

Sabna tertegun sesaat, “apa ini..?”

“Buka aja” balas Nora dengan penuh penasaran dengan isinya.

Lalu dengan hati–hati Sabna membuka amplop yang telah dibolak baliknya tanpa nama dan pengirim. Kertas ? Sepucuk Surat ? untukku ? batin Sabna. Gadis itu kemudian menekuk keningnya. Heran, Sabna membuka kertas berlapiskan amplop, sebelum ia membaca Sabna tambah tertegun karena ada sebuah tasbih berwarna pink dan diujung tasbih tersebut bertuliskan “Arjit Murtadha & Sabna Shabiraa”. “Ha? “. Sabna semakin penasaran dan hatinya terasa begitu bahagia. Entah kenapa tiba-tiba rasa rindu itu muncul seketika, rindu akan tatapan teduh matanya. Rindu ingin diperhatikannya. Sementara diantara kami tak pernah bertutur kata sekalipun baik secara langsung ataupun tidak. Sungguh hari yang amat sangat luar biasa untukku. Hari pertamaku sekolah di tahun ajaran baru aku mendapatkan satu kejutan yang sangat luar biasa. Meski bagi orang lain biasa-biasa saja. Sabna terus membatin karena saking kagetnya akan kejutan ini.

 “Cie-cie dapat surat cinta niyee... dari sang pangeran cinta, Haaahaa..”. goda Nora sambil menggelitik pinggangnya Sabna. Sabna hanya tersipu malu dengan godaan sobat kentalnya itu.

“Hayoo.. buruan dibaca dong suratnya, aku kan penasaran juga, hhaa haha..” tambah Nora sambil terus menggoda sahabatnya yang sedang dimabuk cinta itu.

Setelah amplop terbuka dengan sempuran, terlihatlah sepucuk surat dari kertas barwarna pink dan berbau wangi. “Memangnya surat harus kayak begini ya?” batin Sabna. Sabna lebih kaget lagi ketika membaca kalimat awal dari surat tersebut. Merasa tak percaya akan menerima surat semacam ini dan bingung dengan perasaannya yang begitu berbunga-bunga.

Dear Sabna Shabiraa”

 

Ukhti shalihahku...

Janganlah pernah berpacaran, jika kamu mencintai seseorang cukup cintai dia dalam diam seperti Fatimah Az-zahra yang pandai menyembunyikan sejuta rasa dalam hatinya...

 

 

Ukhti shalihahku...

Taukah kamu??? Kamu lebih bijak bila kamu tetap menjaga hati untuk orang yang telah Allah takdirkan untukmu...

Ukhti shalihahku...

Kamu indah bila tetap berada dijalan Allah tanpa memperhatikan godaan

dunia...

Kamu tetap menawan bila selalu menjaga keistiqamahanmu seperti saat

ini..

Kamu tetap bisa tegar tanpa ada pendamping harammu...

Kamu selalu akan menjadi wanita surga bidadari dunia…

Kuharap kamu terus menjadi berlian dimataku dan dimata semua orang.

Ukhti shalihahku...

Aku mengagumimu dari sejak dulu, meski kau tak tau apa-apa tentang hatiku. Sampai saat ini hatiku padamu tak pernah goyah, namun aku sadar cinta dan perasaanku ini belumlah tepat untuk kuungkapkan padamu. Aku sadar bahwa usia kita masih sangat belia untuk hal ini. Namun, aku tetap terus berusaha menyimpan dan menjaga hati ini untuk tetap suci tanpa ternoda. Semua curahan hatiku, kuungkapkan diatas sajadah kepada sang pemilik hati sesungguhnya. Aku akan menjemputmu kelak saat tiba waktunya. Aku terus memohon kepada Tuhan agar kamu akan menjadi bidadari surga yang setia menemaniku di dunia dan di akhirat kelak. Aku ingin kamu menjadi pendamping hidupku, yang setiap saat bisa kutatap wajah manismu dan sejuknya matamu. Yang selalu mendatangkan pahala disisi-Nya disetiap sentuhan kita. Dan akulah pangeran cintamu.

Ukhti shalihahku...

Jagalah hatimu untukku, bersandarlah kepada Allah. Cintaku dan cintamu kita tujukan kepada cintanya Allah. Ya Allah… Ku titipkan cinta ini hanya pada-Mu, jagalah hatiku dan hatinya dari rasa kecewa, hingga waktu itu tiba. Persatukanlah kami dalam restu dan Ridho-Mu. Aku yakin, jika dua orang sudah ditakdirkan untuk bersama, maka dari sudut bumi manapun meraka berasal pastilah mereka akan bertemu. Memang dihadapanmu aku malu memandangmu. Tetapi dihadapan-Nya aku terang-terangan meminta agar dijodohkan denganmu. Tak pernah sedikitpun terlupa, selalu ku sebut namamu dalam setiap do’aku. Ya Allah jagalah hatinya hanya untukku, meski ada jarak yang memisahkan kita.

Dalam menjalani hubungan, sakinah berarti mengandung makna ketenangan, mawaddah mengandung arti rasa cinta, rahmah itu mengandung arti kasih sayang. Jika tiga hal itu ada pada dirimu maka percayalah, keberkahan akan selalu mendampingimu. Cinta sejati tidak berakhir dengan kematian. Jika Allah SWT menghendaki, cinta itu akan berlanjut sampai ke surga.

 

 

Dari yang mengagumimu

 

“Arjit Murtadha”

 

Sepucuk surat dan sebuah tasbih berwarna pink dari Arjit Murtadha membuat lidahku kelu tak bisa berkata apa-apa. Rasanya seperti melayang ke udara bersama awan-awan putih selembut salju yang menjadi bantalanku, dan turun kembali ke bumi dengan pelangi indah warna-warni yang menjadi perosotanku. Hatiku dipenuhi dengan bunga-bunga yang warna-warni nan indah semerbak harum. Waaww... its amazing.

Bel masukpun berbunyi. Dengan hati yang bahagia Sabna dan Nora menuju ke kelasnya. Suasana hari itu tak akan pernah terulang kedua kali. Wajah Sabna yang putih kemerah-merahan makin bertambah elok dengan senyuman manis miliknya. Seakan keceriaan dan kebahagiaan hatinya tak pernah henti. Begitulah rasanya jatuh cinta.  Sesampai di rumah Sabna kembali tersenyum-senyum sendiri di kamar yang dipenuhi dengan gambar Hello Kitty nya sambil membaca dan mengulangi kata demi kata yang ditorehkan Arjit untuknya di kertas berwarna pink nan harum itu. Sungguh luar biasa bahagianya, Maha suci Allah yang telah menganugerahkan cinta di setiap hati manusia. Arjit sudah dua tahun berada di DKI Jakarta untuk melanjutkan studinya di perguruan tinggi kedinasan ternama di kota Metropolitan tersebut. Sedangkan Sabna di Banda Aceh melanjutkan studinya di sebuah Universitas Negeri di kotanya.

 

Dua tahun kemudian…

Rumah Sabna tampak diwarnai kebahagiaan yang mendalam di hari itu. Akad nikah yang syahdu dan resepsi pernikahan yang sederhana namun sangat sakral, dihadiri banyak tamu yang memberikan do’a restu kepada kedua mempelai, Sabna berharap kalau pernikahannya selalu di ridhai dan diberkahi oleh Allah Subhanahu Wata’ala.

Sabna tersenyum sendiri ketika mengingat kenangan masa-masa sekolah dulu dan surat cinta pertama yang membuatnya tersanjung terbang melayang ke langit ke tujuh. Setelah mengirim balasan surat dari Arjit, keduanya memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan soal cinta dan perasaan. Hanya berfokus pada pendidikan yang sedang dijalani masing-masing. Perasaan itu semua disimpan baik-baik dalam jiwa masing-masing dan serahkan kepada sang pemilik cinta yang hakiki. Sejak itu Arjit tidak pernah lagi bertemu dengan Sabna lagi. Kisah asmara yang sangat unik yang dilanda kedua anak adam ini. Rasa cinta yang menjelma didada keduanya saling memendam, saling diam sampai waktunya tiba. Sabna menyibukkan diri dengan kegiatan positifnya di kampus dan Arjit pun terus mengukir studinya di kota seberang. Allah yang punya kuasa atas segalanya, mereka dipersatukan kembali disaat sudah sukses dan mandiri serta sudah lebih dewasa dalam bersikap. Seperti niat yang telah di azzam-kan jauh di lubuk hatinya, Arjit yang gagah dan berwibawa datang untuk segera meminang gadis pujaan hatinya sejak dari dulu. Yah, Arjit sekarang jauh sangat berbeda dibandingkan ketika ia masih duduk kelas SMA. Badannya yang sudah agak berisi, kulitnya yang dulu sawo matang sekarang sudah menjadi kuning langsat mungkin juga pengaruh tinggal di kota Jakarta yang penuh polusi sehingga cahaya matahari tak langsung terkena kulitnya. Pria yang gemar memakai peci hitam sejak dulu dengan wajah alimnya yang ditumbuhi janggut tipisnya memberi kesan gaya ustadz –ustadz muda zaman now. Membuat Sabna semakin yakin akan siap mendampingi pangeran cintanya. Begitu pula sebaliknya saat berjumpa pertama kali dengan Sabna sang bidadarinya. Betapa terpesonanya Arjit melihat keanggunan Sabna yang semakin hari semakin memancar kecantikannya. Ditambah dengan senyum khasnya yang super manis serta tutur kata yang halus dan lembut membuat Arjit berkali-kali jatuh cinta lagi. Masyaa Allah…!! Subhanallah…!! Berkali-kali Arjit memuji Allah atas ciptaan-Nya yang begitu indah, seorang bidadari yang akan dikhitbahnya. Hatinya penuh dengan rasa syukur kepada Allah mendapatkan pendamping hidup yang diidam-idamkan selama ini. Sabna Shabiraa baginya adalah wanita surga bidadari dunia yang akan selalu mendampinginya dan berharap akan menjadi pasangan se-hidup se-surga.

Sabna menatap suaminya dan menunduk karena malu. Ada getaran yang dirasakan Sabna dalam hatinya. Tapi kali ini getaran itu memberi nuansa yang sangat indah dari pada dulu. Karena, kini ada nuansa pahala dan ibadah, bukan lagi bisikan-bisikan nafsu setan. Arjit juga menatap Sabna dengan senyuman yang penuh kebahagiaan. Dia menggenggam tangan Sabna yang kini adalah istrinya. Sabna mendengar suaminya berucap lirih “Alhamdulillah … “. Arjit menikmati suasana kamar pengantin yang semerbak wangi. Kami duduk di tepi ranjang. Aku puas-puaskan menikmati keelokan wajahnya, yang dulu hanya bisa kucuri-curi pandang dan menatap dari jarak jauh. Kini sang bidadari itu telah ada di pelukanku selamanya. Kami saling berpandangan saling menyelami. Terngiang dalam diri Sabda Nabi,

Sebaik-baik isteri adalah jika kamu memandangnya membuat hatimu senang, jika kamu perintah dia menaatimu, dan jika kamu tinggal maka dia akan menjaga untukmu harta dan dirinya.(H.R. Ibnu Jarir)

 

“Sabna sayang, kau cantik sekali, memandang wajahmu sangat menyenangkan!’ lirihku.

 Sabna tersenyum sambil melingkarkan kedua tangannya dileherku.

“Sayang, kau juga pria terbaik yang pernah kutemui. Kaulah cinta pertama dan terakhirku. Aku punya sebuah puisi untukmu. Maukah kamu mendengarnya?”.

Aku menganggukkan kepala. Kuperhatikan dengan seksama gerak bibirnya yang merah merekah tanpa olesan lipstik. Apa yang diucapkannya. Dia malah diam lama sekali lalu tersenyum. Aku gemes dibuatnya.

 

Dengarlah baik-baik kekasih halalku;

Langkah telah terjejaki,

Karena Allah kita mulakan

Dan menuju Allah kita muarakan

 

 

 

Dulu aku, dulu kamu

Dan sekarang menjadi kita

Semoga senantiasa menjadi teman hidup yang saling menasehati dalam

kebaikan

Saling melengkapi dalam kekurangan

Saling mengerti di setiap keadaan

 

Kasih terjalin begitu indah

Bagai bunga pagi nan merekah

Kau tenangkan hati yang gundah

Hingga yang redup kembali cerah

 

Aku selalu percaya

Jika Allah yang kita utamakan

Maka semua indah pada waktunya

Terimakasih telah datang menjemputku

Untuk memadu kehidupan

Dalam hal saling membutuhkan

Hingga jannah adalah tujuan

 

Wahai kekasih halalku

Setialah untuk menjadi panutan

Bimbinglah aku menuju Surga-Nya

Begitu besar harapan tercurah

Namamu slalu kusematkan dalam doa

Disetiap kali tangan menengadah

 

Semoga kelak dipersatukan lagi oleh Tuhan

Bersama menuju Surga yang dirindukan

 

Merajut mahligai kasih bersama

Rumah tangga yang berkarakter Surgawi

Layaknya yang diidamkan oleh setiap insan manusia

Dalam naungan Tuhan Yang Maha Esa

Semoga kita se-hidup se-Surga

 

Sabna wanita yang luar biasa bagiku. Selain pintar dalam ilmu pengetahuan, taat beribadah dan ternyata sangat romantis dan puitis sekali kata-katanya. Kupandangi lekat-lekat wajahnya sambil terus memuji keagungan Tuhan. Cantik dan manisnya wajah Sabna membuatku tak pernah bosan-bosan memandangnya. Masyaa Allah..! sungguh nikmat yang tiada tara memiliki isteri yang baik nan cantik jelita. Aku terus memuji asma Allah atas keindahan yang diberikan kepada isteriku dan menyatukan cinta kami berdua. Lalu Sabna menyandarkan kepalanya  ke dadaku. Kupasang bantal di kepala dan kurebahkan tubuhku ke sandaran tempat tidur kami yang dilapisi busa empuk. Kutarik tubuh Sabna rebahan ke dadaku. Aku bebas membelai-belai rambutnya atau memeluknya. Di sela-sela gorden jendela kamar kami seakan-akan bintang-bintang di langit sana berkedip-kedip seperti mata para bidadari yang mengerling cemburu kepada kami. Hati terasa sejuk dan bahagia. Inilah yang membedakan yang halal dan yang haram. Dan inilah buah dari kesabaran kami dalam mengendalikan nafsu untuk menghindari pacaran yang mendatangkan kemaksiatan. Bermesraan dengan perempuan yang halal, isteri yang sah adalah ibadah yang dipuji Tuhan. Sedangkan bermesraan dengan perempuan yang tidak halal adalah dosa yang dilaknat Tuhan. Sungguh bodohnya manusia yang menyia-nyiakan waktunya untuk memilih pintu dosa dan neraka. Sementara Tuhan telah membukakan pintu-pintu kenikmatan yang mendatangkan pahala yang luar biasa. Aku sangat bangga dan bahagia memiliki Sabna seutuhnya. Alhamdulillah ya Allah atas nikmat yang telah engkau anugerahkan kepada kami. Semoga cinta yang ada dalam diri kami dapat mengokohkan cinta kami kepada-Mu sang pemilik cinta yang hakiki. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SANG KAKAK BERHATI BIDADARI

Oleh : Erna Putri Razali

 

Gunung menjulang berpayung awan, pohon-pohon berjajar rapi dihiasi dengan hijaunya rerumputan yang menari-nari diiringi dengan riak ombak yang menghiasi alunan musik nan syahdu. Semilir  angin yang berhembus sepoi-sepoi menyejukkan jiwa yang gundah gulana. Seorang remaja putri yang baru saja menyelesaikan studinya di tingkat Sekolah Menengah Kejuruan. Ya, sekolah kejuruan yang ia pelajari selama ini. Namun, entah apa tujuan ia masuk ke sekolah tersebut..! mempunyai cita-citapun enggak.. Sambil menatap lepas ke arah pantai. Pandangan kosong. Pikirannya ga jelas kemana. Sementara di seberang sana remaja-remaja se-usianya yang baru menyelesaikan studinya merayakan kemenangan dan kebebasan yang menurut mereka bebas dari teguran guru BP dan aturan sana sini yang terikat jam sekian sampai sekian harus berada di gedung yang berhalaman cukup luas ber-labelkan putih abu-abu. 

Dia adalah Sinta Aprilia. Anak sulung dari lima bersaudara. Jarak usia masing-masing dari mereka tiga tahun lamanya. Sebagai anak sulung Sinta mempunyai sifat yang sangat luar biasa. Rasa tanggung jawab terhadap adik-adiknya melebihi orang tuanya. Meskipun dia masih berusia belia dan masih memiliki orang tua namun sempat-sempatnya dia memikirkan nasib keempat adik-adiknya. Terlintas sejenak percakapan Ayah dan Ibunya semalam. “Ibu.. anak-anak kita memiliki prestasi yang sangat baik di sekolahnya dan Sinta juga sudah lulus dari SMK nya”, Ucap Ayah. Dan saat itu Ibu langsung mengeluarkan airmata dan berkata, “tapi apa gunanya..? tak mungkin kita sanggup membiayai pendidikan kelima anak kita sampai ke perguruan tinggi. Sementara kita hanyalah buruh tani yang menggarap sawah-sawah orang, dan itu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan saja”, suara Ibu dengan serak tangis. Pada saat itu pula Sinta berjalan keluar dan berdiri dihadapan Ayah seraya berkata, “Ayah, aku sudah lulus SMK dan tidak mau kuliah, aku ingin bekerja”. Tapi sepertinya Ayah terlihat marah dan berkata, “Mengapa kamu bersikap lemah, Ayah akan membiayai kuliah kamu meskipun Ayah harus banting tulang untuk mencari uang”. Kemudian Ayah langsung pergi.

Sinta tetap bersikukuh untuk tidak melanjutkan kuliahnya. Walaupun Ayah berkata demikian hati kecilnya tidak tega melihat Ayahnya yang sudah renta dan Ibu yang sudah sering keluar masuk rumah sakit karena diabetesnya, harus banting tulang untuk membiayai dirinya dan adik-adiknya. Simple pikiran Sinta, “aku masih muda dan masih sehat kenapa tidak kuhabiskan waktu dan tenagaku untuk berbakti kepada kedua orang tuaku. Bukankah itu juga merupakan ibadah yang tak tertandingi nilainya, dan merupakan salah satu ciri anak yang shaliha yaitu meringankan beban pundak kedua orang tua.. yang telah bersusah payah membesarkanku hingga se-sempurna ini tanpa lecet dan cacat suatu apapun”.

Saat itu Sinta sudah bagaikan tulang punggung dalam keluarganya. Ayah dan Ibunya hanya pasrah dan terus melangitkan ribuan do’a tanpa henti untuk putra putrinya khususnya buat Sinta anak sulung yang lumanyan keras kepala namun hatinya bak bidadari. Terkadang sang Ayah berfikir bahwa putrinya telah dewasa dalam mengambil setiap keputusan. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam merasa sangat bangga dengan putra putrinya terutama Sinta. Dia benar-benar anak yang kuat, tegar dan bersemangat untuk kebaikan seluruh keluarganya, kadangkala lupa akan masa depannya sendiri. Dia adalah sosok seorang kakak yang sesungguhnya yang selalu melindungi adik-adiknya. Meskipun dia seorang wanita namun sangat berani dalam segala situasi. Terkadang sang Ayah sering menangisi Sinta karena selalu membanggakan hatinya. Dalam sujudnya di sepertiga malam Ayah selalu berdo’a kepada Yang Maha Kuasa untuk kebaikan dan kebahagiaan Sinta dan Adik-adiknya. Ayah dan Ibu bangga dengan kelima  putra-putrinya. Mereka merupakan anak-anak yang patuh dan mudah diajak kompromi. Ayah dan Ibu Sinta tetap bekerja seperti biasa sebagai buruh tani untuk menghidupi keluarganya. Sementara Sinta Sejak lulus SMK hingga sekarang banyak berganti-ganti pekerjaan, dia pernah bekerja sebagai karyawan disebuah industri kecil, bekerja menjadi pegawai honorer, bahkan pernah menjadi TKI di Negeri jiran Malaysia selama dua tahun. Dan berbagai pekerjaan lain digelutinya selama itu halal baginya. Dia adalah sosok pekerja keras yang pantang menyerah, bertanggung jawab dan sangat jeli memperhatikan tindak tanduk disetiap langkah yang dijalani adik-adiknya, “Aku tidak akan pernah membiarkan nasib adik-adikku melang-lang buana, mereka semua harus lebih sukses dari pada aku”, gumamnya dalam hati.

Dua tahun Sinta bekerja di negeri jiran, dia sukses membiayai kuliah adik pertamanya yaitu Dina. Sinta bertahan hidup di negeri seberang tanpa seorangpun kerabat yang dikenalnya. Hanya bermodalkan niat yang tulus serta tekad yang kuat untuk mencari nafkah disertai do’a dari orang tuanya. Meskipun orang tuanya tidak berpendidikan tinggi tapi mereka sungguh bijak dalam menyikapi setiap keputusan putra-putrinya. Pesan mereka kepada Sinta “Ingatlah anakku..... kehidupan ini selalu berjalan tak menentu maka jagalah dirimu, ingat selalu beribadah kepada Allah SWT dimana pun engkau berada, maka kamu akan mendapat kemuliaan dari-Nya. Anakku Sinta.... kehidupan sesusah apapun kamu harus tabah, dan selalu memberi serta saling membantu sesama. Karena orang yang selalu memberi dengan hati yang ikhlas maka dia adalah orang kaya, semoga perjalananmu selalu di berkahi Allah. Do’a Ayah dan Ibu selalu menyertaimu anakku Sinta sang bidadari hati.  Anakku.. Ayah tak dapat menjagamu 24 jam, kamu harus menjadi wanita yang kuat dan tegar. Bersandarlah kepada Allah apapun yang terjadi padamu jangan pernah berpaling daripada-Nya”. Teringat pesan Ayah, Sinta menangis tersedu-sedu membayangkan wajah kedua orang tuanya yang sudah tidak muda lagi. Ingin rasanya segera ku sulap mereka untuk menjadi raja dan ratu di keluarga kami. “Ya Allah… berkahilah disetiap keputusan dan langkah yang telah aku tempuh.. demi orang tua dan keluargaku.. Aamin Ya Rabb..” Pinta Sinta dikala merindukan sosok wajah Ayah dan Ibunya.

Dengan berkat doa orang tuanya dan usaha kerja keras Sinta membuahkan hasil yang manis. Dina lulus tes menjadi Pegawai Negeri Sipil di sebuah instansi pendidikan daerah. Sekarang Sinta sudah punya teman untuk melanjutkan misi selanjutnya yaitu membiayai kuliah adik keduanya dengan cara ‘patungan’ dengan Dina. Suatu malam Sinta dan keempat adiknya saling berbagi cerita satu sama lain seraya melepaskan rindu selama dua tahun. Sinta bertanya kepada adik keduanya yaitu Anggi.

“Nggi, kamu mau kuliah gak kayak kak Dina..?”

“Mau dong kak..apa lagi kayak kak Dina udah punya gaji sendiri, hheee”. Jawab Anggi sekenanya.

“Aku juga mau lah kak, mau merasakan bangku kuliah”. Tambah Anjas adik ketiganya.

“Aku juga dong kak, pengen kerja di kantoran, pengen jadi guru juga boleh kayak kak Dina, atau kerja di rumah sakit”. Celoteh adik bungsunya yang bernama Ardi.

Sinta begitu bangga dan terharu sampai matanya berkaca-kaca menatap satu persatu wajah-wajah adiknya itu, sambil tersenyum ia berkata;

“Baiklah adik-adikku sayang, kakak senang mendengar keinginan kalian dan punya cita-cita masing-masing. Tapi…?”. Sebelum melanjutkan kata-katanya, keburu di sanggah oleh adik bungsunya itu yang sangat manja melebihi dari ketiga adiknya yang lain.

“Tapi.. Ardi gak mau Kak Sinta pergi lagi. Lama banget, aku sedih..?”. sambil mengeluarkan airmatanya, seketika Sinta langsung memeluk adik bungsunya itu yang masih duduk di bangku SMP.

“Iyaiya, kakak gak pergi lagi kok, kita akan terus bersama-sama lagi di rumah ini, okey..?”. sambil menghapus air mata dari pipi adik laki-lakinya itu.

“Kak Sinta dan Kak Dina akan mendukung kalian bertiga untuk melanjutkan kuliah, tapi ada syaratnya..?”

“Apa syaratnya kak..?” Tanya Anjas buru-buru, adik ketiganya Sinta.

“Selama kuliah tidak ada kata pacaran. Kalian harus fokus menuntut ilmu. Contohnya seperti kak Dina”.

“Ookeee.. kakak..!” Jawab mereka serempak.

“Selama kalian kuliah, kalian tidak boleh membolos apa lagi bermalas-malasan bahkan nongkrong-nongkrong di warung-warung atau café-café. Kemudian kalian semua harus rajin belajar, berdoa dan saling membantu sesama. Terutama jagalah akhlak dan kesopanan kalian, karena setinggi apapun ilmu yang kalian miliki jika akhlaknya jelek maka hidupmu sia-sia. Kita harus bisa mengubah nasib kedua orangtua kita. Kita harus lebih maju selangkah dari mereka. Agar kita bisa disebut sukses dan dapat membuat mereka bahagia serta bangga memiliki anak-anak seperti kita. Selama ini mereka bekerja membanting tulang untuk menghidupi anak-anaknya. Kelak kita berusaha bisa membahagiakan keduanya tanpa mereka harus lagi bekerja menahan teriknya matahari di tengah sawah dalam keadaan tubuh yang makin renta untuk mencari sesuap nasi. Jadi kita harus semangat dan selalu berpositif thinking untuk perubahan hidup ini. Ini merupakan cobaan yang harus kita jalani dalam meniti kehidupan di masa depan yang lebih cerah”. Panjang lebar Sinta menasehati adik-adiknya, mereka semua terdiam patuh mendengar ceramah dari kakak sulungnya itu. Jam menunjukkan pukul 23.00 WIB. Masing-masing dari adik-adiknya Sinta menuju ke kamarnya. Lain halnya Dina, dia masih ingin mengobrol dengan kakaknya Sinta. Tiba-tiba Dina membuka pembicaraan, “selama ini kakak udah membanting tulang, kerja sana sini, termasuk membantu Ayah dan Ibu di sawah di terik panas matahari, kehujanan, tidur sering kemalaman untuk mengejar target uang biaya kuliah aku, terkantuk-kantuk dalam menyelesaikan orderan orang demi mencari uang untukku, itu semua kakak lakukan demi aku dan adik-adik. Allah telah memberikan yang terbaik bagi aku, sehingga dengan cepat aku bisa membantu meringankan beban kakak. Kalau bukan karna kakak nekad berhenti sekolah dan mencari nafkah, aku tak mungkin seperti ini. Kakak telah menanamkan dalam jiwa kami agar selalu mensyukuri apa yang kita miliki, kakak selalu mengajarkan kita agar saling memberi, kakak selalu memotivasi kita untuk tetap semangat dan selalu jujur dalam bersikap dan tidak pernah lupa untuk beribadah”. Tak terasa Sinta sampai berlinang airmata mendengar pembicaraan adiknya yang ternyata sudah dewasa dan sangat bijak. Seketika mereka berdua saling berpelukan dan menangis haru bersama-sama.

“Kak, aku punya permintaan sama kakak..”. Lirih Dina, sambil melepaskan pelukan seraya menghapus air mata keduanya.

“Apa itu..?” Jawab Sinta penasaran.

“Kakak harus melanjutkan kuliah lagi”. Pinta Dina

“Tapi bagaimana dengan adik-adik..?”

“Kakak gak usah khawatir, dulu kakak sendiri sanggup berjuang. Sekarang kita berdua harus lebih bisa. Apa lagi aku sudah mempunyai penghasilan tetap”. Dina meyakinkan Sinta sambil menatap mata sendu kakaknya dengan penuh kasih sayang.

“Baiklah kalau begitu”. Jawab Sinta dengan tersenyum.

 

Akhirnya Sinta kembali melanjutkan kuliah sesuai dengan permintaan adiknya Dina. Hari berganti minggu Bulan dan tahun pun ikut silih berganti. Sinta Aprilia, S.Pd. gelar yang disandangnya bagaikan mimpi disiang bolong. Dulu sekolah di kejuruan pertanian kini menggelar sarjana pendidikan. “Takdir yang menentukan arah hidupku. Sangat berbeda dengan anak-anak lainnya yang dari sejak dulu sudah menggantung cita-citanya setinggi langit. Sedangkan aku hanya memikirkan nasib masa depan adik-adikku dan kebahagiaan mereka. Tak sedikitpun merasa diri ini ingin bercita-cita menjadi seorang guru Sekolah Dasar. Bagiku ini adalah takdir hidup yang diberikan oleh Allah untukku. Sesungguhnya rencana Allah itu lebih indah”. Tersadar dari lamunan saat Dina berlari-lari sambil meneriak namaku dan memegang selembar surat kabar yang ternyata disana tercantum nama Sinta Aprilia, S.Pd. Kembali aku bersujud syukur atas nikmat yang Allah berikan untukku. Sungguh Allah maha kuasa. “Alhamdulillah… ! Aku lulus tes Pegawai Negeri Sipil”. Lirihku. Kini aku dan Dina lah yang saling bahu membahu menyekolahkan adik-adikku sampai menjadi sarjana semuanya.

Menjadi tulang punggung keluarga di usia muda membuatnya harus merelakan masa mudanya mencari nafkah untuk membiayai pendidikan adik-adiknya. Sungguh Sinta kakak yang sangat luar biasa sosok seorang wanita biasa berhati bidadari. Hatinya begitu lembut nan bersinar bak berlian permata meskipun jalan hidupnya begitu keras yang penuh dengan kerikil-kerikil tajam disertai onak duri berhamburan. Namun ia jalani dengan penuh semangat pantang menyerah. Yang terlihat dihadapannya adalah masa depan yang cerah bagi adik-adiknya tercinta. Dia membuktikan bahwa dia adalah sosok yang kuat dengan melewati segala hambatan. Dia selalu berkata kepada keempat adiknya, “Jadilah kalian orang yang sukses dan buat kakak bangga, kakak akan melakukan apapun untuk kalian” Dia adalah orang yang selalu berpikir tidak ada yang tidak bisa di lakukan selama itu untuk kebaikan keluarganya.

Tidak sedikit laki laki yang melamarnya, namun tetap ditolak olehnya karena dia masih ingin fokus untuk membiayai kebutuhan pendidikan adik-adiknya. Sinta tak sedikitpun pesimis akan jodohnya. Dan bukan berarti Sinta tak ingin memiliki jodoh layaknya pasangan-pasangan lain. Namun dia hanya berpasrah kepada Allah dan yakin akan takdir yang diberikan Allah. Biarlah Allah yang memilih yang terbaik untuknya. Semua akan indah pada waktunya dikala sudah menemukan yang pantas dan yang tepat. Rezeki itu punya alamat begitu pula dengan jodoh itu tak akan pernah tertukar. Lebih baik menunggu orang yang benar-benar kita harapkan daripada menghabiskan waktu dengan orang yang tidak tepat. Sinta selalu berazzam ‘luruskan niat, bulatkan tekad sempurnakan ikhtiar’. Hadiah itu tak selalu terbungkus dengan indah.. terkadang Allah membungkusnya dengan berbagai masalah namun didalamnya tetap ada bertuah. Dia ingat akan kata-kata Ayahnya, “Langkah, rezeki, pertemuan dan maut semua sudah diatur di lauhul mahfudz jauh sebelum kita dilahirkan, demikian pula dengan halnya jodoh”. Sinta yakin akan kekuasaan Allah dan Allah telah merencanakan yang terbaik untuknya dan masa depannya kelak.

Terkadang Sinta melakukan banyak pekerjaan dalam satu waktu agar dapat menghasilkan uang lebih yang membuatnya sering kelelahan. Namun dia tidak akan beristirahat sampai apa yang ingin dia capai terwujud. Dia adalah sosok yang sering memaksakan tubuhnya untuk bekerja berlebihan. Sinta bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi adik-adiknya. Dikala adik-adiknya lelah mereka selalu membayangkan wajah kakaknya yang super duper baik itu. “Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna, tapi aku melihat kakakku sebagai sosok yang sempurna. Meskipun terkadang sedikit cerewet dalam mengatur penampilanku. Tapi itu yang membuat aku rindu padanya di kala kami jauh. Aku berkata pada diriku.. aku akan menjadi seperti kakakku bahkan akan melebihinya dan aku akan membuatnya bangga. Saat aku lelah dengan pendidikanku, aku akan mengingatkan diriku tentang perjuangan kakak untuk pendidikanku dan itu akan membuatku melupakan rasa lelah dan bosanku”. Gumam Anjas yang jauh di rantau guna melaksanakan tugas yang telah diamanahkan untuknya yaitu sebagai petugas kesehatan. Kini semua adik-adik Sinta sudah dewasa dan sudah mempunyai penghasilan masing-masing. Kedua orang tuanya menaruh rasa bangga kepada kelima putra-putrinya itu. Kekompakan dan keharmonisan dalam keluarga yang di sajikan Sinta kepada adik-adiknya mengantarkan mereka menuju ke muara kesuksesan. Ayah dan Ibu mengeluarkan airmata bahagia menyaksikan kesuksesan kelima putra-putrinya.

Bagi adik-adiknya, Sinta adalah seorang wanita biasa berhati malaikat. Sinta adalah sang kakak berhati bidadari. Seorang kakak yang dapat menggantikan peran dan kewajiban mendidik adik-adiknya sampai menuju keberhasilan. Sikap yang ditunjukkan Sinta merupakan sikap yang  amat sangat terpuji dan membanggakan. Dia sanggup menggantikan kewajiban orang tuanya. Ayah dan Ibu sinta sangat terharu melihat kelima putra-putrinya telah sukses menjadi sarjana dan sudah bekerja serta mempunyai penghasilan yang tetap. Ini semua berkat kerja keras Sinta dan do’a kedua orang tuanya. Ayah dan ibunya menangis dan berkata, “Nak selama ini kami selalu berdo’a semoga segala aktivitas kalian di permudah oleh Allah, ternyata Allah telah mengabulkannya. Sinta.. engkau adalah anak terbaik. Engkau adalah bidadari di hati kami, engkau adalah berlian yang sangat berharga dititipkan Allah untuk keluarga ini. Hadirmu dihidupku bagaikan salju yang menyirami hati disetiap penatnya matahari. Kau lah pelipur lara yang selalu didambakan setiap orang tua. Semoga Allah meridhai disetiap langkah hidupmu. Perjuanganmu membuat Ayah dan Ibu terharu dan bangga, bahwa engkau adalah kakak yang terbaik buat adik-adikmu. Semoga Allah memudahkan keluarga kita dalam menempuh kehidupan selanjutnya”. Keduanya memeluk Sinta begitu erat dengan mengalirkan airmata menganak sungai. Suasana keluarga tersebut begitu haru biru melihat kesuksesan yang mereka raih. Kehidupan keluarga Sinta berubah 1800 terutama dalam hal ekonominya.

Kasih sayang yang diberikan Sinta kepada keluarganya begitu tulus dan suci sehingga mampu membuat orang yang disayanginya merasa bahagia dan mendewasakannya. Kasih sayang yang natural sangat perlu ditumbuhkan dalam hubungan kakak beradik. Persaudaraan hubungan darah ini akan berlangsung selamanya. Cinta kakak beradik adalah harta karun terbesar yang dimiliki setiap orang tua. Kasih sayang antara kakak beradik tidak akan pernah pudar walau apapun yang terjadi. Baik buruk yang ada pada mereka tetap juga darah daging kita. Maka dari itu jagalah dan cintailah keluarga kita selagi ada waktu dan kesempatan serta selalu mendoakannya agar selalu bersama-sama di kehidupan selanjutnya yaitu kehidupan yang kekal abadi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ISI TAK SEINDAH CASING

Oleh : Erna Putri Razali

 

Terkadang bagi sebagian orang kekayaan harta, pangkat dan jabatan adalah satu-satunya hal yang harus bahkan wajib untuk dihormati dan disegani. Dengan semuanya itu membuat dirinya bebas dalam bersikap dengan kemegahan dan kemewahan yang dimiliki serta kesombongan itu menjadi pakaian hidupnya. Seakan memandang rendah dan hina bagi si miskin. Sementara sebagian orang masih bisa hidup bahagia meski isi dompetnya makin hari makin menipis. Yang terpenting selalu bersyukur atas apa yang ia punya dan tidak perlu berlarut-larut dalam suatu masalah. Menikmati hidup apa adanya dan bersyukur atas takdir yang diberikan Allah, itulah yang terbaik bagi setiap manusia.

"Tiiiinn...nn!", suara klakson mobil Papa. “Iya Pa, bentar Pa”, sahutku dari dalam rumah sambil berlari keluar. Hari ini adalah hari pertamaku masuk pesantren. Sebenarnya aku tak begitu senang melanjutkan studiku mondok di pesantren “Shalihah” itu. Karena dipikiranku yang namanya pesantren itu adalah tempat berkumpulnya orang-orang yang kekayaannya dibawah rata-rata, dan jauh dari kemewahan serta tidak ada modis-modisnya. Kumuh, primitive begitulah penalaranku tentang pesantren. Setelah lulus Sekolah Dasar aku sangat berkeinginan masuk sekolah swasta favorit yang terkenal di kotaku. Berteman dengan anak-anak orang kaya, jalan-jalan ke Mall, berpenampilan ala kebarat-baratan, memakai pakaian bermerek, bebas menggunakan elektronik, bebas kemana-mana dan bla...bla…. Namun, keinginan Papa dan Mama untuk menyekolahkanku di pesantren mengagalkan semua keinginanku. Pesantren “Shalihah” ini adalah salah satu pesantren yang didiami semua santriwati (perempuan) saja yang lulus dari Sekolah Dasar atau sederajat.

Aku adalah anak yang jutek dan suka membanggakan kekayaan orang tua. Orang-orang tertentu yag berani menjadi teman-temanku, tentu se-level dong ya!. Namun begitu aku paling nurut dengan Pama Mamaku, apapun yang beliau suruh tak sedikit pun aku membantah, meski terkadang seringkali mendongkol dalam hati. Terutama saat disuruhnya shalat, belajar dan mengaji, itu hal yang paling ogah aku lakukan. Mungkin justru karena itu kali ya, Papa Mamaku mengasingkanku ke pondok. Hhmmm,, ya sudahlah nurut saja apa kata Papa Mama, daripada gak dikasih uang jajan dan gak dibeliin barang-barang yang kuinginkan. Toh, selama ini Papa Mama selalu nurut apapun keinginanku, termasuk liburan jalan-jalan ke luar negeri. Woww banget, seneng banget rasanya kala itu. Permintaanku yang paling besar ketika aku berusia 11 tahun. Itu adalah hadiah yang paling berkesan dari Papa dan Mama untukku. Padahal saat itu aku sekedar iseng saja minta jalan-jalan ke luar negeri, ternyata dikabuli juga oleh Papa Mama. Karena itulah aku selalu nurut apa kata Papa dan Mama.

Seminggu di PonPes “Shalihah” aku belum kerasan tinggal disini. Jauh sangat berbeda dengan kebiasaanku sehari-hari. Aku berkamar dengan dua anak perempuan lainnya bernama Erina dan Salsa. Erina adalah anak yang sangat anggun, lembut, ramah, sangat santun tutur bahasanya ditambah wajahnya yang cantik, putih mulus pula. Tapi sifatnya sangat sederhana, ya seperti yang kupikirkan selama ini. Jangan-jangan orang yang paling kaya disini itu adalah aku. Tapi gak apa-apa lah aku jadi bebas berekspresi karena aku adalah anak orang kaya raya dan paling kaya di pesantren ini. Jadi mereka-mereka semua bisa aku jadikan bawahan aku dan bisa saja aku suruh-suruh, gumamku dalam hati sambil tersenyum bahagia. Sedangkan Salsa adalah anaknya pendiam tapi jika diajak ngobrol jadi humoris juga, wajahnya biasa-biasa saja dan berkulit kuning langsat hampir sama dengan kulitku. Tapi karena mungkin aku tak pernah terkena matahari jadi kulitku sedikit lebih bersih darinya. Dilihat dari penampilannya Salsa termasuk berasal dari keluarga orang berpunya juga, ya minimal diatas Erina lah. Tapi yang jelas aku lah yang paling kaya di sini. Kedua orangtua Salsa adalah Pegawai Negeri Sipil, jadi lumanyanlah hidupnya dibandingkan Erina. Sedangkan Erina tidak pernah mau cerita tentang pekerjaan orang tuanya.

Saat ku Tanya, “Erin kerja orang tuamu apa? selalu dijawab Erina “Ayah Bunda Erin orang biasa kok Mel” sambil tersenyum manis. Mungkin dia malu kali ya ngaku kerja orang tuanya di depan kita, secara orang tua Salsa keduanya PNS dan kedua orang tua Amel anggota dewan, ledekku. Aku memang seringkali meledek Erina, yaa, walau begitu Erina hanya diam dan tetap tersenyum ramah. “Tapi gak apa-apa Erin (sambil melihat sinis), meski kamu lebih miskin dari kita berdua, kamu masih tetep kok jadi temen aku dan Salsa ya kan Sa”, sambil nyengir kearah Salsa. Salsa melotot padaku sambil menunjukkan ekspresi mengancam. “Iyaya dehh, maap..maap ya Erin” sambil jabat tangan. “gak apa-apa kok”, jawab Erina hanya mengangguk sambil tersenyum manis. Tapi sebenarnya aku suka liat Erina, cantik, manis, lembut, baik dan pintar lagi. Cuma ya satu itu dia anak orang miskin. Padahal aku paling parno sama orang miskin, karena bawaannya itu kumal, dekil dan gak ada bersih-bersihnya. Tapi Erina ini beda anaknya udah cantik, manis, ramah, baik, santun, putih bersih, pintar lagi. Bahkan jujur  aku akui dia cocok jadi Miss “Shalihah” di PonPes ini, dengan semua yang dia miliki kecuali harta. Tapi aku tetap harus pede untuk menjadi miss “Shalihah”. Toh aku juga pintar, walau sering juga nyontek sama Erina, tapi kan Erina mana berani ngaku kalau dia yang ngerjain tugas-tugasku. Toh, aku kan anak orang kaya raya disini. Secara fisik sih, semua juga pada tau Erina memang bidadarinya di PonPes ini. Tapi itu hanya dalam pikiran semua orang, gak ada yang berani ngaku di depan aku karena akulah orang kaya disini, semua juga tunduk padaku, gumamku dengan penuh keangkuhan.

Setiap enam bulan sekali PonPes “Shalihah” selalu mengadakan Miss “Shalihah”. Kriteria yang dinilai adalah terutama kemahiran dalam mengaji berirama dan tartil, hafalan beberapa surah di juz 30, hafalan beberapa hadist, kecerdasan pengetahuan di sekolah dalam beberapa mata pelajaran yang di uji, membaca kitab kuning serta terjemahannya, berpidato dalam 3 bahasa, dll. Tak terasa Amelia Pramana sudah enam bulan lamanya berada di PonPes “Shalihah”. Saat itu pula mereka mengikuti perlombaan demi perlombaan. Seminggu penuh mereka bersaing untuk mendapatkan gelar Miss “Shalihah”. Saat acara penyematan Miss “Shalihah” ini mereka akan mengadakan pesta besar-besaran di pesantren dengan mengundang semua orangtua santriwati dan pejabat-pejabat setempat serta tokoh-tokoh masyarakat sekitar. Hal yang sangat mengagumkan dan sangat membanggakan orangtua di kala penyematan Miss “Shalihah” tersebut. Selain hadiah yang fantastis mereka yang mendapatkan Miss “Shalihah” itu akan mendapatkan beasiswa selama mereka berada di PonPes “Shalihah” tersebut dan dibawakan berhaji bersama pimpinan Pondok Pesantren Shalihah”. Dan PonPes “Shalihah” adalah salah satu PonPes yang go Internasional. Tidak sedikit lulusan PonPes ini yang jebol ke Kairo Mesir untuk melanjutkan studinya. Setelah semua peserta mengikuti perlombaan dan persaingan ketat untuk mendapatkan gelar Miss “Shalihah”. Semua santriwati saling bahu membahu untuk membuat panggung nan megah dan meriah untuk acara puncaknya yaitu pengumuman terpilihnya Miss “Shalihah” terbaru.

Hari ini tiba saatnya acara puncak yaitu pengumuman Miss Shalihah” dari Pondok Pesantren Shalihah. Aku dan teman-temanku yang lain deg-degan menunggu panggilan nama-nama tersebut. Sementara disampingku terlihat seorang gadis bersahaja, anggun berwibawa, cantik manis parasnya, lembut dan ramah tutur katanya. Berpenampilan sederhana namun tetap indah dengan body-nya yang semampai sangat elegant dengan balutan gaun abu-abunya dan sangat sejuk dipandang mata dihiasi kerudung soft pink kesukaanya. Dia tidak lain adalah teman se-kamarku Erina Putri Qaleesya yang sering aku ledek, meski batinku sebenarnya tidak tegaan melihat kebaikan dan ketulusan hatinya. Hati dan wajahnya senada, baik kedua-duanya. Sejenak mengagetkanku dikala nama temanku dipanggil yaitu Salsa Nuradilla mendapat penghargaan juara harapan III. Aku semakin deg-degan mendengar nama salah satu temanku mendapat gelar Miss “Shalihah”, tapi mengapa bukan Erin atau Aku ya. Keringat dingin trus mengalir sambil memeluk dan memberi selamat kepada Salsa yang sudah mendapat juara harapan III. Tapi Erina tak seperti aku yang gugup gak jelas seperti ini, menunggu yang belum pasti berharap dengan penuh nafsu. Diam-diam aku makin salut dan kagum melihat kepribadian gadis jelita ini. Meski juga kadang-kadang aku ledek-kin, itulah sifat jelekku paling anti dengan orang miskin. Nama-nama sang juara terus mengalir terdengar ditelingaku. Tepuk sorak sorai yang merdu dan meriah dari para tamu dan undangan saat menyaksikan sang juara naik ke panggung beserta kedua orang tuanya membuatku makin kecil hati dan merasa iri, ingin rasanya berada dibarisan mereka. Lamunanku buyar seketika mendengar panggilan nama indah dan tak asing lagi ditelingaku ”Erina Putri Qaleesya” sang juara Miss “Shalihah” tahun ini yaitu tepatnya juara I (satu), Selamat kepada Erina Putri Qaleesya dan kami mohon kepada Erina dan kedua orang tuanya naik ke atas pentas untuk menerima penghargaan dari Pimpinan Pondok Pesantren “Shalihah”.

Tak sempat aku mengucapkan selamat kepada Erina, aku terlebih dulu bengong dan takjub melihat kedua orang tuanya. Seorang pria bertubuh gagah dengan balutan jas mewah dengan menggandeng wanita cantik yang memakai baju limited edition designer terkenal di dunia. Itu ternyata orang tua kandung Erina..? sambil berdiri melihat ketiganya berjalan beriringan keatas panggung, aku sampai bengong, melotot dan keheranan dengan mulut menganga tanpa kusadari. Karena selama ini Erina selalu aku ejek dengan kemiskinannya dan selama ini diapun tak pernah membawa nama hebat orang tuanya, tak pernah berbangga dengan kekayaan orang tuanya yang ternyata ayahnya adalah seorang pejabat Negara, dan ibunya adalah seorang pemilik butik ternama di kotanya dan juga sudah banyak cabang dimana-mana. Yaa.. aku pernah liat ibunya Erina, ketika mamaku membeli gaun langsung dari butik, dan ayahnya sesekali tampil juga di pemberitaan. Seketika aku lemas terduduk tak berdaya merasa berdosa dengan sikap dan tingkahku selama ini yang sok kaya, sok hebat, angkuh terutama kepada sahabatku sendiri. Setetes bulir bening dari mataku jatuh dipipi, menyesal dengan  keangkuhan dan sikap yang kubuat selama ini. Maafkan aku Erin, aku nyesal telah nyakitin kamu selama ini, aku menyesal telah mengejek dan mengatai kamu selama ini. Astaghfirullah,, ampuni hamba ya Allah, aku memang manusia tak tau diri, merasa diri lebih segala-galanya. Padahal diseberang sana bahkan disampingku masih banyak orang yang bergelimangan harta, namun mereka tak seangkuh dan sesombong aku. Erina adalah contoh terbaik buat aku, Erina sudah menyadarkanku bahwa kekayaan orang tua tidaklah patut untuk kita sombongkan, semestinya disyukuri atas apa yang telah kita dapatkan. Erina adalah sahabat yang special bagiku, dia telah menorehkan nasehat, pelajaran yang penting dan sangat berharga bagiku melalui tindak tanduknya, sikap dan tutur katanya. Akhlaknya sungguh luar biasa, pantesan dia sangat menggemari buku-buku kisah Rasulullah bahkan sebagian besar koleksi bukunya adalah tentang kehidupan Rasulullah. Sirah Nabawiyah itu adalah buku yang paling digemarinya. Erina memang pantas dijadikan contoh teladan di Pondok Pesantren ini. Erina sahabatku, kau pantas menyematkan Miss “Shalihah” itu. Aku bangga padamu, aku bangga menjadi sahabatmu, dan aku berharap kita bisa bersahabat tidak di dunia saja tapi juga di akhirat kelak kita sekamar begini, Aamiiin…! Setelah Erina turun dari panggung aku langsung menyambutnya dengan pelukan yang sangat erat, seketika air matapun bercucuran sambil meminta maaf kepadanya. Tapi seperti biasa, gadis cantik nan mulia itu membelai dan menghapus air mata sahabatnya dengan lembut sambil tersenyum manis. “Sedikitpun Erin tak menyimpan dendam dan amarah padamu Amel. Kita tetap bersahabat dan selalu begini selamanya”. Dengan penuh bahagia Amelia kembali memeluk erat sahabat baiknya seketika itu disusul oleh Salsa juga ikut berpelukan.

Seminggu setelah acara pembagian hadiah para santri diperbolehkan pulang karena menghadapi masa liburan menyambut bulan suci Ramadhan. Seperti biasa para orangtua santri sudah mengantri diparkiran untuk menjemput putri-putrinya. Demikian pula dengan Aku, Erina dan Salsa, juga sudah ditunggu oleh orang tua masing-masing. Sekarang aku sudah merasa betah dan kerasan di PonPes karena mendapat sahabat yang sangat baik. Rasanya tidak ingin berpisah lagi dan terus ingin belajar lebih lama lagi. Tapi tidak apalah cuma 40 hari liburnya setelah lebaran nanti kita bisa bersama-sama lagi. Empat puluh hari itu akan kuhabiskan waktu untuk kuceritakan semua kenangan aku selama di PonPes “Shalihah” ini. Khususnya aku ceritakan tentang sahabat sekamarku. Mungkin kalau aku tidak bertemu dengan Erina dan tidak sekamar dengannya, sampai sekarang sifatku tak pernah berubah. Ternyata persahabatan itu penting dan yang lebih penting itu memilih dan mempunyai sahabat yang paling baik akhlaknya. Jujur aku salut dan bangga dengan sahabatku yang satu ini ‘Erina Putri Qaleesya’ yang mampu dan sanggup mengubah kepribadianku yang dulunya angkuh dan sombong serta anti dengan orang miskin, sekarang menjadi sangat peduli kepada orang yang kurang mampu. Dari itu semua aku pelajari, bahwa jangan lah menilai seseorang dari luarnya saja tapi lihatlah isinya. Ambillah apa saja yang disampaikan selama itu baik untuk hidupmu dan jangan engkau lihat siapa yang menyampaikan meskipun dia orang tak berpunya. Harta, tahta dan popularitas bukanlah semata-mata untuk dihargai dan dibanggakan namun semuanya itu lenyap jika tidak disertai dengan kepribadian dan akhlak mulia. Nasehat yang selalu kuingat dari Erina adalah “janganlah pernah melihat orang dari sisi luarnya saja, dan jangan lah suka membangga-banggakan kekayaan apalagi kekayaan dari orang tua. Kita ini kan tidak punya apa-apa semua milik Allah bahkan termasuk orang tua kita beserta kekayaannya”. Perkataan Erina tersebut seakan menamparku dan membuatku sadar atas apa yang telah kulakukan selama ini.

Oleh karena itu, dalam segala hal utamakanlah isinya terlebih dahulu daripada bungkusannya. Setelah isinya bagus baru rawatlah bungkusannya agar luar dalam jadi sempurna. Janganlah selalu menyibukkan diri dengan memperbaiki casing, karena casing yang bagus belum tentu dapat menentukan isinya yang bagus pula. Kata-kata Erina menjadi hujjah bagiku, bahwa kesombongan dan keangkuhan itu akan berakhir pada penyesalan. Dan akhlak yang mulia itu adalah satu-satunya penyokong hidup yang aman dan damai. Kepribadian Erina membuatku lebih banyak lagi belajar tentang hidup ini, lebih bersyukur atas apa yang telah kudapatkan. Ternyata aku ini hanya sibuk dengan casing luarnya saja dan mengabaikan isinya. Pilihan mondok itu merupakan salah satu hadiah terbesar juga yang diberikan orang tuaku, meski awalnya aku tidak senang dengan pilihan tersebut. Tapi Ingatlah! Yang terbaik bagi kita belum tentu baik menurut Allah, dan Allah lah pemilik dan pemilih yang terbaik untuk hidup kita.

 

 

 

 

 

 

MANUSIA KALKULATOR

Oleh : Erna Putri Razali

 

Kehidupan yang dijalani oleh Ahmad Ar-Rifa’i tidak jauh berbeda dengan kehidupan anak-anak lainnya. Belajar, bermain, beribadah dan membantu orang tua, itulah keseharian yang kerap dilakukannya. Meski hidup yang serba kekurangan namun, akhlak dan budi pekerti itu yang sangat diutamakan dalam keluarga yang penuh dengan ketawadhu’an ini. Di sudut desa yang terpencil dengan bangunan tempat berteduh seadanya, yang penduduknya berpenghasilan dibawah rata-rata. Ahmad Ar-Rifa’i hidup dengan kedua orang tuanya dan abang yang 3 tahun lebih tua darinya. Mereka hidup sangat sederhana namun, tak ada sedikit pun merasa pesimis dalam menghadapi kehidupan yang  modern dengan teknologi yang serba canggih.

Dengan memiliki sifat tawadhu’nya Ahmad Ar-Rifa’i merupakan anak yang sangat disenangi oleh kerabat dan teman-temannya. Di Usianya yang 16 tahun, dia terkenal dikampungnya anak yang berotak briliant, kecerdasannya mencapai diatas rata-rata. Karena kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan, dan bermukim di pelosok desa terpencil, sehingga Ahmad Ar-Rifa’i jauh dari pemberitaan (tidak bisa terkenal layaknya anak-anak pintar yang berdomisili di kota-kota). 

Meskipun demikian kondisi keluarganya, Ahmad Ar-Rifa’i  tak pernah surut untuk terus semangat belajar dan belajar. Disamping itu juga orang tuanya ikut berusaha memenuhi kebutuhan ekonomi dengan menjadi buruh tani di desa tempat tinggalnya, serta dengan doa yang tak pernah kering dari lidah kedua orang tuanya. Abangnya sudah duluan berhenti belajar dikarenakan kondisi ekonomi keluarga yang makin terhimpit. Setelah lulus SMA, abangnya juga ikut membantu orang tua menjadi buruh tani untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

          Dalam bathin setiap orang tua, pasti menginginkan agar anak-anaknya menjadi orang sukses dan bahagia hidup dunia maupun akhirat, minimal lebih berutung dari padanya. Demikian pula yang di inginkan oleh kedua orang tua Ahmad Ar-Rifa’i. Dalam setiap sujud dan doa selalu diselipkan kata-kata untuk kebahagiaan dan kesuksesan anak-anaknya. “jangan sampai anak saya susah dan bodoh seperti saya” keinginan itu bagaikan cambuk bagi orang tua yang menaruh harapan bagi anak-anaknya agar tak bernasib sama. Satu anak sudah pasrah dengan kehidupan yang dijalaninya, harapan satu lagi ada pada Ahmad Ar-Rifa’i. Usaha dan doa terus dilakukan oleh kedua orang tuanya, karena mereka mengetahui bahwa Ahmad Ar-Rifa’i adalah anak yang sangat cerdas, bahkan dari kelas 1 SD sampai menjelang akhir SMA selalu mendapat juara kelas bahkan selalu terpilih menjadi juara umum di sekolahnya dengan jumlah nilai yang selalu tinggi. Dan bahkan, sering sekali mengikuti olimpiade-olimpiade yang diselenggarakan di sekolah-sekolah. Kerapkali membawa nama harum sekolahnya dimana pun dia mengikuti kompetisi.

Ahmad Ar-Rifa’i adalah salah satu siswa yang dibanggakan oleh guru-gurunya disamping dia anak yang santun dan ramah dengan siapapun. Karena nasehat orangtuanya yang sangat melekat pada dirinya adalah “selalu lah bersikap santun kepada siapapun, utamakan akhlakmu daripada ilmumu”. Itu adalah motto yang sangat dipegang oleh Ahmad Ar-Rifa’i. Disamping itu, Ahmad Ar-Rifa’i dikenal dengan sebutan manusia kalkulator, kata-kata itu di sematkan oleh teman-temannya. Karena dalam keseharian belajar di sekolah, pelajaran yang sangat dominan padanya adalah matematika dan fisika. Dalam hitung-hitungan Ahmad Ar-Rifa’i tidak pernah memakai kalkulator atau alat hitung lainnya, dia hanya mengandalkan otaknya saja, sehingga teman-temannya menyebut dia manusia kalkulator. Setiap pertanyaan gurunya dijawab dengan jelas, tepat dan sempurna hanya dengan mengandalkan otaknya saja. Ahmad Ar-Rifa’i melanjutkan sekolahnya sampai ketingkat SMA ini, hanya bermodalkan otak dan beasiswa yang diberikan oleh tuan tanah tempat ayah dan keluarganya mengais rezeki. 

          Dengan berkat doa yang tulus dari kedua orang tuanya, Ahmad Ar-Rifa’i  mendapat nilai tertinggi di sekolahnya dan juga mendapat beasiswa untuk melanjutkan studinya dari sebuah perguruan tinggi ternama di daerah Ibukota. Doa yang tak putus-putusnya dari orang tua dan usahanya dalam belajar membuat Ahmad Ar-Rifa’i menjadi anak yang genius dan berakhlak mulia. Dalam studinya dia selalu mendapatkan nilai cumlaude dan selalu membanggakan. Namun dari itu dia tumbuh menjadi lelaki yang sangat tawadhu’, Ibarat kata pepatah ‘semakin berisi semakin merunduk’.

          Setelah selesai studi pasca sarjananya Ahmad Ar-Rifa’i juga telah mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan ternama di Ibukota. Sehingga mereka sekeluarga sudah mendapat kehidupan yang sangat layak dari sebelumnya. Kedua Orang tua dan abangnya  segera di boyong oleh Ahmad Ar-Rifa’i tinggal bersamanya dengan menyediakan fasilitas yang serba mewah. Kendati seperti itu, Ahmad Ar-Rifa’i tak pernah luput dari desa yang telah mendidiknya menjadi manusia yang tawadhu’ dan rendah hati.

          Dengan kecerdasan otaknya sehingga dijuluki manusia kalkulator,  dia ingin membangun desanya menjadi desa yang maju dan menjadikan desa sejahtera mandiri. Ahmad Ar-Rifa’i memutar otaknya, dia menyulap desa terpencil dahulu kini menjadi desa yang sejahtera mandiri. Kekayaan yang dimiliki sekarang lebih banyak di manfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat di desanya, dengan salah satu cara membuka lowongan kerja kepada semua masyarakat di desa yang dikoordinir oleh abangnya sendiri. Kini ayah dan ibunya yang sudah sangat renta hanya dapat tersenyum manis menyaksikan kebijakan anaknya, menyaksikan kesuksesan putra kebanggaannya. Sesekali berlinang airmata haru bahagia menyaksikan dan sekaligus membayangkan kehidupan mereka dari sejak dulu hingga sekarang. Bersyukur kepada Allah yang telah melimpahkan rahmat kepada hamba-Nya yang mau terus berikhtiar dan berdoa dalam menjalani kehidupan yang fana ini. Mereka menghabiskan waktu dengan hanya beribadah saja di rumah dengan fasilitas yang serba mewah diberikan putra tercintanya.

          Disamping itu, Ahmad Ar-Rifa’i juga mendirikan sekolah-sekolah gratis kepada anak-anak miskin di desanya. Sekolah tersebut akan disediakan fasilitas yang cukup memadai bertaraf nasional. Dia salah satu guru yang mengajar di sekolah tersebut. Dan guru yang direkrut adalah guru-guru yang berkompeten. Niat tulus Ahmad Ar-Rifa’i dalam membina dan mengembangkan masyarakat desa tersebut menjadi kenyataan. SDM yang dihasilkan dari desa tempat kelahirannya tersebut akan berkualitas dan layak bersaing di kancah nasional. Cita-citanya sekarang adalah ingin menjadikan desa tersebut menjadi desa yang gilang gemilang yang dikenal seluruh dunia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

GURU ADALAH CITA-CITAKU

Oleh: Erna Putri Razali

 

25 November adalah Hari Guru Nasional. Dimana setiap tanggal tersebut selalu diperingati Hari Guru Nasional (HGN), biasanya dengan mengadakan upacara dan berbagai macam perlombaan-perlombaan. Setiap siswa dimana pun berada biasanya selalu mengadakan berbagai kejutan dengan memberi hadiah, kado, bunga, ucapan dan puisi serta berbagai bentuk apresiasi kepada gurunya tercinta. Begitu pula dengan aku sedang memikirkan apa yang akan aku hadiahkan kepada sosok pahlawan tanpa tanda jasa tersebut, mengingat tanggal 25 November hampir mendekati. Guru itu adalah sosok pahlawan yang tak pernah mengharapkan imbalan. Guru selalu setia dan tanpa lelah dalam memberikan ilmu kepada anak didiknya. Tanpa adanya guru mungkin aku bukanlah siapa-siapa. Tak bisa baca tulis dan tak mengenal huruf, serta tidak dapat membedakan mana yang hak dan yang bathil. Bagiku sosok guru itu tidaklah hanya sekedar pentransfer ilmu, namun beliau adalah orang tua kedua bagiku. Tempat aku berdialog, berbagi pengalaman, tempat curhat serta tempat aku bersosialisasi.

“Wayoo...!! sedang mikir apa?” Yati menepuk pundakku sambil mengagetkan aku.

“Apaan sih, kaget tau”. Jawabku dengan penuh kekesalan.

“Oh iya, kamu tau tidak. Sebentar lagi kan tanggal 25 November, sekolah kita akan memperingati hari guru. Kalau boleh tau guru Favorit kamu siapa? Dan kira-kira mau kasih kejutan apa untuk guru favoritmu”.

 

Teetttt.. tettt.. tett Bel tanda masuk berbunyi. Aku tidak sempat menjawab pertanyaan yang dilontarkan Yati tadi. Aku langsung bergegas masuk, karena pelajaran akan dimulai. Sambil berjalan menuju ruang kelas aku berkata kepada Yati, “Besok kita lanjutkan lagi pembahasan tadi ya?”. “Okey..!” jawab Yati singkat. Saat aku mengingat semua jasa guru. Aku teringat dengan sosok guru favoritku. Guru itu bernama Ibu Nirmala. Ibu Nirmala adala guru yang dinanti-nantikan kehadirannya. Banyak nasehat dan motivasi yang disampaikan beliau. Nasehat dan motivasi itu sangat berguna bagiku dan teman-teman semuanya. Terkadang aku sering merenung sendiri memikirkan kembali apa yang pernah disampaikan Ibu Guru yang berkacamata itu. “Apakah aku bisa menjadi orang yang sukses dan bermanfaat bagi orang banyak?”. Aku kembali intropeksi diri dengan mengingat kembali kata-kata ibu guru favoritku itu. Di luar sana banyak orang yang fisiknya tidak sempurna bisa sukses dan bermanfaat bagi orang lain. Apa lagi aku yang Allah anugerahkan fisik dengan sempurna. Kenapa aku tidak ber-positif thinking dengan berusaha dan berdoa. Aku tidak boleh menyerah dengan keadaan. Nasehat yang pernah diberikan bu Nirmala menjadi obor dan motivasi diriku dalam meraih cita-cita masa depan.

Aku mencoba merenungi semua kata-kata yang dilontarkan Ibu Nirmala. Hingga terbawa aku ke dalam lamunan yang tidak tahu akhirnya.

“Naa..Na..Ayanaaa” Yati memanggilku berkali-berkali dengan nada yang mulai kesal.

Aku bergegas melihatnya sambil berkata. “Ada apa Yati? Kenapa teriak-teriak begitu?”

“Aku memanggil kamu sedari tadi. Kamu belum menjawab pertanyaanku Na!! Siapa guru Favorit kamu?” Yati masih penasaran dengan jawabanku.

“Kan sudah aku bilang, besok kita lanjutkan lagi”, jelasku.

“Gak ah, kelamaan besok. Sekarang aja jawabnya, besok baru kita bahas tentang hadiah”. Desak Yati tidak sabar menunggu jawaban Ayana.

“Guru favorit aku Ibu Nirmala, Yati”

“Dia baik iya Na..”

“Tentu. Ibu Nirmala selalu menginspirasiku. Membuatku mengerti kenapa ilmu sangat berguna sekali di masa depan. Aku ingin menjadi guru seperti Ibu Nirmala. Namanya selalu dikenang selamanya”. Aku menatap Yati dengan senyuman.

Tibalah hari yang dinanti-nantikan oleh siswa yaitu peringatan Hari Guru Nasional. SD kami juga mengadakan hari bersejarah tersebut. Di lapangan semua murid-murid berkumpul, membentuk barisan, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne Guru setelah sebelumnya mendengarkan sambutan dari kepala sekolah. Kali ini pasukan pengibar bendera Merah Putih, dirigen lagu Indonesia raya, pembaca teks Proklamasi dilakukan oleh para guru. Setelah Peringatan Hari Guru selesai, murid-murid pun bersalaman dengan guru. Aku dan teman teman antre menanti giliran bersalaman dengan guru. Sebagian diantaranya memberikan sekuntum bunga, ucapan, secarik kertas berisi puisi tentang guru, dan berbagai jenis hadiah lainnya kepada guru. Suasana pun terlihat khidmad dan tertib.

Kegiatan belajar mengajar pun dilanjutkan kembali. Aku dan teman-teman bergegas masuk ke kelas untuk melanjutkan aksi kami masing-masing. Kami menunggu kedatangan guru favorit yaitu Ibu Nirmala. Setibanya beliau di kelas kami menyambut dengan nyanyian “Hymne Guru” :

Terpujilah wahai engkau, Ibu Bapak Guru

Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku

Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku

S’bagai prasasti t’rima kasihku ‘tuk pengabdianmu

Engkau bagai pelita dalam kegelapan

Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan

Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa

 

“Selamat Hari Guru.. Selamat berjuang wahai pahlawan pendidikan, kau bagaikan pelita dalam gulita”. Ucapku mewakili teman-teman sekelas sambil menyerahkan bingkisan kado berisi mukena cantik dari hasil tabunganku selama ini. Dan diikuti oleh sebagian teman-teman yang lain. Ibu Nirmala begitu terharu melihat keikhlasan kami dalam menyanyikan lagu Hymne Guru untuknya. Iya, beliau adalah guru kelas VI sekaligus wali kelas kami.

Dari sejak kecil aku mempunyai cita - cita dan berprofesi mulia yakni "GURU". Saat aku duduk dibangku kelas 1 Sekolah Dasar selalu mempunyai penilaian bahwa seorang guru adalah sosok termulia di dunia. Menjadi tauladan bagiku berseragam  rapi bertutur kata lembut, ikhlas dalam memberi, penuh kasih sayang terhadap semua orang, tanpa membedakan antara yang satu dengan yang lain. Dari sejak itulah aku semakin mantap untuk bercita-cita menjadi guru.

Hari berganti bulan berganti tahun diriku sudah lulus SMA. Saat menerima ijazah kelulusan SMA ayah dan bunda bertanya padaku.

"Kamu mau masuk kuliah ke mana ?" tanpa panjang lebar aku menjawab pertanyaan ayah dan bunda.

"Aku mau masuk kuliah ke universitas pendidikan biar aku bisa menjadi GURU yah, bun". Ayah dan bundaku bahagia dan bangga aku memilih universitas pendidikan. Mereka memelukku dengan erat penuh harapan diriku pasti menjadi guru. Mereka bergegas menyuruhku memilih universitas pendidikan terbaik. Ternyata mereka sangat mendukung semua keinginanku untuk menjadi seorang guru. Akhirnya aku mengikuti tes penerimaan mahasiswa baru di universitas pendidikan, selang beberapa bulan pengumuman kelulusan penerimaan mahasiswa universitas pendidikan. Tertera namaku paling atas lulus dengan nilai terbaik. Aku berusaha belajar dengan serajin mungkin sambil berdoa untuk mencapai nilai terbaik lulus dengan predikat sarjana terbaik. Semester 1 aku lewati dengan IPK terbaik di fakultas pendidikan SD dengan predikat cumlaude. Dengan nilai IPK terbaik (cumlaude) yang kuraih sehingga membuat namaku terkenal di fakultas dan kampungku.

Sampai di semester kedua pun aku masih bisa mempertahankan nilai IPK tertinggi (cumlaude). Aku sangat bersyukur atas prestasi yang telah kudapatkan serta bahagia bisa membuat Ayah dan Bunda bnagga kepadaku. Sehingga namaku semakin banyak diperbincangkan. Pun saat itu kebanyakan sekolah-sekolah negeri mengalami masa-masa pensiunan guru. Sehingga di sekolah-sekolah dilanda kekurangan guru. Termasuk sekolah yang dekat dengan tempat tinggalku. Malam berganti pagi yang indah cerah angin bertiup sepoi-sepoi nan sejuk penuh kebahagiaan. Ada sosok seorang lelaki dewasa berseragam rapih mengetuk pintu rumahku.

 "tok, tok, tok," ( suara di balik pintu )

" Assalamu’alaikum”, (suara sang lelaki berseragam). Tak lama kemudian bunda membuka pintu.

"Waalaikumsalam warahmatullahiwabarakatuh, anda bapak kepala sekolah di SD sebelah ya pak",  Maaf ada perlu apa ya pak ?" tanya Bundaku

"Saya mau bertemu dengan putri ibu, bolehkah?"

Bunda bergegas memanggilku untuk ke teras ngobrol dengan bapak kepala sekolah tersebut. Tak terasa detik berganti menit ke jam aku ngobrol dengan bapak kepala sekolah. Ternyata beliau menawarkan aku, apakah aku bersedia menjadi guru di SD sebelah saat tidak ada jam kuliah karena mendengar diriku termasuk mahasiswi terbaik di kampus dengan berbagai prestasi dan nilai cumlaude ku yang sudah mewabah seluruh dusun di kampungku itu. Aku kaget terdiam bahagia bisa ngajar di tempat SD ku dulu dalam hati bergumam  "aku masih semester dua tapi ada yang menawari ku menjadi guru, Alhamdulillah ya Allah”. Lirih ku. Ini sebuah mimpi anak SD menjadi kenyataan. Teringat kembali semangat dan nasehat dari guru favoritku sewaktu SD Ibu Nirmala, beliau pernah berkata “ guru adalah profesi yang sangat mulia terutama bagi kita seorang wanita. Guru bukanlah orang hebat, tapi orang hebat terlahir karena jasa para guru”. Sejak saat itu, aku ber-azzam dalam diriku untuk bercita-cita menjadi guru. Tanpa berfikir panjang tanpa bertanya lagi pada Ayah dan Bunda aku terima tawaran bapak kepsek SD sebelah almamaterku. Aku akan mengatur sedemikian rupa waktuku antara kerja dan kuliah. Kesempatan ini tak akan terulang untuk kedua kalinya. Sangat jarang terjadi hal seperti ini, diusia yang masih belia dan masih haus dalam menuntut ilmu, aku sudah dapat menghasilkan uang sendiri. Tanpa menadahkan tangan lagi kepada orang tua layaknya tenman-temanku saat ini. Aku sangat bersyukur kepada Allah atas apa yang telah diberikan-Nya.

Pagi cerah nan indah sang fajar tersenyum merekah secerah hatiku. Dengan bahagia aku bergegas memakai baju rapi, berkerudung coklat kekuning-kuningan berseragam PDH layaknya PNS-PNS lainnya. Bersepatu hitam menandakan kedisiplinan dan membawa tas mungil berwarna hitam senada warna sepatu, aku berkaca dalam hati bergumam, “aku bak guru favoritku saat dibangku SD Ibu Nirmala, yang sebentar lagi akan menjadi rekan kerjaku”.

Aku berjalan menuju gerbang SD saat seorang lelaki yang sudah beruban menyapaku dengan tersenyum, “tiga belas tahun yang lalu, kamu masuk sebagai peserta didik, kini kamu masuk sebagai pendidik” (sapaan satpam tersebut dengan penuh kebanggaan). Dengan tersenyum pula aku menjawab “iya pak, semua ini adalah takdir dari Allah, kita hanya manusia yang menjalankan semua skenario yang telah Allah tetapkan. Semoga saya menjadi selalu yang terbaik di mata-Nya”. “Aamiin ya Rabb”. Tambah satpam tersebut sambil mempersilahkan Ayana ke dalam. Aku melangkahkan kakiku ke sebuah ruangan yang berlabelkan ruang guru. Disana aku disambut dengan penuh kehangatan dan wajah yang sumringah oleh semua guru tanpa kecuali sang guru favoritku Ibu Nirmala. Kini aku sudah menjadi pengajar dan pendidik ditempat yang sama pula aku diajar dan dididik. “Mulai saat ini aku akan menikmati perjalanan hidupku, takdirku sekaligus cita-citaku yaitu sebagai guru”. Gumamku dalam hati. Guru itu ibarat lilin. Ia rela terbakar, demi menerangi masa depan murid-muridnya. Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Jasanya dikenang sampai akhir hayat. Peran guru sangatlah penting dalam dunia pendidikan. Guru tak dapat digantikan dengan secanggih apapun teknologi yang ada di dunia ini. Seorang guru bahkan rela mengesampingkan kepentingannya demi bisa merampungkan tugasnya menjadi abdi negara. Impian seperti apapun tidak akan mungkin terwujud tanpa sepak terjang guru yang mengenalkan abjad, panduan membaca, hingga terobosan baru menjelajahi cakrawala dunia yang luas. Ada tangis dan permohonan yang tidak sempat mereka ucapkan. Namun hal ini sudah dipahami oleh setiap muridnya. Jasamu guru tak dapat terbalaskan, engkau bak mentari menyinari bumi. “Orang hebat bisa melahirkan beberapa karya bermutu, tetapi guru yang bermutu dapat melahirkan ribuan orang-orang hebat”.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

JODOHKU BUKAN JODOHKU

Oleh: Erna Putri Razali

 

Sore itu tak seperti biasanya. Angin mengalun sendu dengan binar-binar senja yang sayup. Tak sengaja aku melihat sesosok pria berkacamata, berwajah tampan, berseragam putih yaitu baju kebesarannya namun tetap selalu rapi sedang duduk di sebuah taman disamping rumah sakit dekat kota tempat tugasnya. Aku terus mendekati dan duduk disamping tanpa sepengetahuannya. Dari gerak geriknya dia sangat sibuk dengan tugas-tugasnya itu.

 

“Vania..? kamu disini..?” tanya Furqan kaget.

 

“Aku menunggumu dari sejam tadi di tempat biasa, namun kamu tak kunjung datang jadi kuputuskan kutemuimu disini dan ternyata kamu ada di taman”. Jawabku dengan wajah yang kesal namun tetap manjah.

 

“Ya ampun sayang..? maaf ya, aku lupa. Tadi itu aku lagi berberes untuk keberangkatanku besok dan ini belum kelar-kelar kerjaannya”. Jelas Furqan dengan nada menyesalnya.

 

“Fur, kamu yakin mau ninggalin aku..!”

 

“Vania...? aku tidak meninggalkan kamu, tapi kan aku sebagai dokter harus mengabdi dan selalu bersedia dimanapun aku ditempat tugaskan, sebagai dokter aku juga harus menjaga kode etikku. Meskipun aku ditempatkan didaerah terpencil aku harus siap”.

 

“trus….gimana dengan aku..?”

 

“Vania..? dengarkan aku ya sayang, kamu itu sudah jadi tunanganku dan sebentar lagi setelah selesai kuliahmu kita akan nikah. Dan itu tinggal setahun lagi, iya kan”. Jelas Furqan sambil menatap calon isterinya dengan penuh kasih sayang.

 

“Tapi aku takut, Fur..?, nanti kamu disana kenapa-napa dan ….” Tiba-tiba lidahku kelu dan hatiku terisak sedih sekali sehingga tak dapat  melanjutkan kata-kata. Seketika Furqan membelai Vania sambil merebahkan kepala kekasihnya itu kepundaknya agar dapat melampiaskan semua kesedihannya.

 

“Kamu tidak perlu khawatir denganku, aku akan selalu setia padamu. Setelah kamu juga meraih gelar dokter kita akan langsung ke pelaminan untuk mengikat janji suci kita. Dan kita akan hidup bersama, Aku mencintaimu Vania”. Lirih Furqan sambil menghapus jejak airmata Vania.

 

“Benarkah itu Furqan..?, kamu gak akan berubah meski kita jauh ?” Ucap Vania sambil menatap Furqan dengan penuh haru.

 

“Iya sayang..!”. Furqan mengangguk mantap sambil menatap lekat wajah cantik tunangannya.

 

Pagi yang sejuk nan sendu dibawah rintikan hujan. Tangis Vania pecah sembari melepas kepergian sang kekasih untuk menunaikan tugas yang telah diamanahkan. Menjadi dokter di sebuah desa terpencil diseberang pulau yang jauh dengan segala kemoderenisasi. Apa hendak dikata sebagai dokter yang baik harus selalu siap mengabdi untuk bangsa dan negara di manapun berada. Air mata Vania terus bercucuran seiring langkah Furqan yang terus menjauh darinya. Dia merasa tak sanggup menjalani hari-harinya tanpa didampingi kekasih hatinya yang sudah 5 tahun setia menemaninya dalam suka dan duka. Setelah bus yang ditumpangi Furqan menjauh dan sudah tidak keliatan lagi, Vania kembali menangis sejadi-jadinya. Dibawah pohon di tepi jalan yang sepi. Hanya sesekali deru mobil lalu lalang. Dibawah rintik hujan semakin jadi. Vania melampiaskan semua kesedihannya yang biasanya selalu ditemani Furqan. Berat hati sebenarnya melepaskan kekasih hati yang selama ini selalu mendampinginya, sedih sekali hatinya, seperti ada daging yang menyumbat ditenggorokan dan dadanya sangat sesak. Air mata Vania terus mengalir. Bahkan walau dia berkata dalam hati untuk kuat, masih saja Vania mengharapkan Furqan selalu bersamanya dan tidak dipisahkan sedetikpun. Namun Vania menyadari dan yakin bahwa jodoh itu sudah Allah yang mengatur, jika Furqan jodohnya pasti dia akan kembali kepadanya dengan selamat. Vania sangat mencintai Furqan sehingga sangat takut kehilangan Furqan. Furqan adalah lelaki pertama yang dia cintai dan merupakan cinta pertamanya.

Setiap malam sebelum tidur Vania hanya bisa menatap foto mereka berdua. Di ponselnya tak ada foto lain selain foto mereka. “Aku ingin menjadi wanita yang baik agar pantas bersanding denganmu Furqan”. Gumamku dalam hati. Furqan adalah lelaki yang baik yang pernah dikenal Vania. Vania sangat yakin kalau Furqan adalah jodohnya, imamnya yang akan membimbingnya kelak dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Hari demi hari, bulan pun silih ikut berganti. Mereka tidak pernah putus kontak walau sehari pun. Dan saat-saat tiba di hari penghujung Desember, Vania merasa sangat bahagia bagaikan seorang anak manusia yang kembali dimabuk cinta, yang mengharapkan kekasihnya datang untuk menemuinya. Dikarenakan juga studinya selesai dan akan tiba sang pangeran hati menjemputnya untuk ke pelaminan. Terasa sangat tidak sabar untuk menantikan hari-hari tersebut. Akhir-akhir Nopember ini setiap hari Vania merasa sungguh sangat-sangat bahagia. Terkadang dia tersenyum-senyum sendiri dan sering bersenandung dalam kamar mandi yang selama ini sudah jarang dia lakukan. Kini wajah dan hati Vania kembali berseri-seri se-kayak bunga yang sedang bersemi. Seperti biasanya aku selalu menatap foto kami berdua yang terletak disudut meja belajarku. Terkadang sampai terbawa tidur sambil memeluk foto dalam bingkai yang berwarna putih dan pinggirannya berlukiskan mawar merah.

Keesokan harinya. Seperti biasa, sebelum beranjak dari tempat tidur ku tatap wajah tampan yang dihiasi kacamata itu. Dan betapa terkejutnya aku melihat foto dalam bingkai kesayanganku itu tak berada ditempat biasanya. Dan degh,, hatiku semakin takut, kacau tak karuan seketika menginjak beling dari bingkai foto kami berdua.  Hatiku bagaikan disambar petir. Kepalaku terasa pusing gak tau arah kemana. Pikiranku buntu. Aku semakin panik melihat kejadian ini. Apa yang terjadi ya Tuhan..? tak terasa air mataku berderai. Hatiku seketika tak tenang lagi. Pikiranku melayang ke Furqan. Seraya langsung kuraih ponsel untuk menghubungi Furqan. Tuuuuutt…tuuuuuttt…tuuuuuttt! (nomor yang anda tuju sedang tidak dapat menerima panggilan). Tubuhku langsung terjatuh dan lemas tak berdaya, lunglai bagai dilolosi satu persatu. Pandanganku kosong terasa air mata sudah kering tak bisa keluar lagi. Hatiku berkecamuk, campur aduk, gundah gulana. Pikiranku hanyalah Furqan seorang. Setengah jam aku seperti itu, tiba-tiba ponselku berdering. Secepat kilat kuhapus airmata yang mengalir dari sudut mataku, langsung kupelototi ponsel dan berharap sangat Furqan yang menghubunginya. Dan ternyata itu adalah orang tua Furqan yang sambil menangis terisak-isak mengatakan Furqan sudah tiada. Dia sudah meninggal sebelum subuh dikarenakan bus yang dia tumpangi jatuh ke jurang. Dari TKP sudah ditemukan identitas dan jenazah Furqan. Pihak keluarganya sudah mengurus semuanya dan segera dipulangkan jenazah Furqan ke rumah orang tuanya. Menurut penyelidikan polisi bus tersebut disopiri oleh orang yang sedang dalam keadaan mabuk sehingga ketika posisi bus melewati jurang dia hilang kendali.

Aku tak kuasa menahan air mata yang terus mengalir deras sampai aku tidak sadarkan diri. Perlahan aku buka mataku sedikit demi sedikit dan aku melihat ibu berada di sampingku.

“Vania.. kamu sudah sadar, Nak..?” tanya Ibuku dengan wajah sedihnya.

“Ibu.. aku dimana? Dimana Furqan bu..?” tanyaku kembali pecah tangisanku.

“Bersabarlah anakku.. ini cobaan untukmu sayangku..”. Jawab ibu sambil menitihkan airmata seraya memeluk putrinya yang terus menerus menangis tiada henti. Terasa ruangan kamarnya bagaikan diterpa badai yang menghantam seluruh isinya. Aku terdiam saat mendengar ucapan ibuku, hatiku perih, sedih, sakit tak tau rasanya. Pikiranku buntu, kosong, gelap semuanya. Airmataku tak terbendung lagi. Bibirku hanya berucap, “Furqan kenapa secepat ini kamu meninggalkanku. Kamu sudah berjanji untuk segera menikah denganku”. Tiba-tiba tangisku kembali pecah. Airmataku terus mengalir menganak sungai. Ibu dengan penuh kesabaran dan kelembutannya terus menghibur dan menasehatiku.

2 hari berlalu dan aku berkunjung ke makam Furqan, aku berharap kami bisa menghabiskan waktu bersama dan menua bersama-sama. Tetapi sekarang semua itu hanya angan-angan. Aku berjanji akan selalu mengenangmu. Furqan, rasanya aku belum ikhlas melepas kepergianmu, tenanglah di sana kekasih hatiku. Aku masih mencintaimu sampai saat ini. Dengan langkah yang masih lunglai serta wajah seakan hilang cahayanya, aku kembali melangkah pulang ditemani ayah dan ibuku.

Hari berganti hari, bulan pun ikut silih berganti. Aku terus mengurung diri dalam kamar. Tak ada sesuatupun yang dapat kulakukan. Aku bagaikan hilang kendali, hilang arah dan tanpa tujuan hidup. Separuh jiwaku pergi. Badanku semakin kurus dikarenakan selera nafsu makan pun hilang. Nanar mataku tak pernah kering dari tatapan foto pria berkacamata tersebut. Furqan masih dihatiku. Wajah tampan tersebut tak bisa secepat itu pergi dari hati dan pikiranku. Meski raganya telah jauh dan tak akan pernah kembali, namun jiwanya selalu di hatiku. Entah sampai kapan hal ini akan berubah seperti sedia kala. Vania adalah wanita periang, cerdas dan selalu berseri-seri. Saat ini ciri khas wanita cantik itu hilang dalam sekejap bagai ditelan bumi. Setiap hari teman-teman Vania secara bergantian ke rumah untuk menghiburnya. Terkadang mereka juga lelah melihat kondisinya yang tak pernah berubah. Namun, begitulah yang namanya sahabat yang selalu setia menemani dikala suka maupun duka seperti saat ini. Mereka tak pernah menyerah sampai Vania bisa kembali seperti sedia kala, wanita cerdas, cantik, periang dan selalu menebarkan senyum kepada siapapun. Sesekali teman-temannya juga menginap di rumah Vania untuk menemaninya dan bisa berbagi cerita. Terkadang mereka juga mengajak Vania jalan-jalan ke mall dan nonton bioskop. Ibunya pun tak pernah lalai dalam memberinya kekuatan/motivasi dan nasehat kepada puteri tercintanya. Malam itu, ibu dan ayah Vania mengajak liburan untuk beberapa pekan supaya bisa menggantikan suasananya. Mereka beranggapan supaya ada sedikit perubahan dalam diri puterinya itu. Vania menyetujui hal itu.

Selama berada di Villa keadaan Vania makin hari makin membaik. Sedikit demi sedikit Vania sudah bisa menerima kenyataan bahwa kekasihnya Furqan sudah tiada dan tidak mungkin kembali. Dia harus move on, harus kuat menghadapi kenyataan. Sekelumit nasehat dari ibunya kembali terbersit dalam hatinya, “Allah maha mengetahui atas apa yang Dia berikan dan cobaan itu sudah terukur untuk hamba-Nya. Allah sang maha baik dan memberi yang terbaik untuk hamba-Nya”. Seketika semangat Vania hampir 50% kembali. Segera bergegas ke dapur untuk mencari makanan. Terasa sangat lapar perutnya karena sudah berbulan-bulan nafsu makannya berkurang, begitu pula berat badannya menurun drastis. Ketika orang tua Vania melihat keadaan sang puteri tunggalnya semakin hari semakin membaik, mereka memutuskan untuk sementara waktu tinggal di Villa saja. Dan rumahnya di kota di kelola oleh pembantunya sekaligus menyuruhnya untuk merapikan semua kenangan Vania dan Furqan di simpan dalam satu tempat. Sebulan berlalu. Seperti biasa Vania berjalan-jalan pagi menikmati suasana pegunungan nan indah dan asri sambil berolahraga lari-lari kecil.

Tiba-tiba aku terjatuh terpeleset dan seketika ada yang menarik tanganku sembari membopongku perlahan. “maaf mba, anda tidak apa-apa”, tanya sosok pria tampan bertubuh gagah tersebut.

“mmm.. tiiitiidak Mas”, jawabku gugup, terpesona dengan ketampanannya. Seakan mengalahkan ketampanan Furqan.

“Terimakasih telah membantuku”. Tambahku dengan nada lembut dan tersipu malu, melihat gagahnya pria tersebut.

“Sama-sama mba”, balas pria berkulit putih sambil tersenyum manis.

“Emang saya sudah seperti mbak-mbak yak, hheee..!”, Candaku sambil mengerling kearahnya.

“Oh, tidak..tidak”, Spontan pria gagah itu menyela.

“Maaf.. namanya siapa..?” sambil mengulurkan tangannya kearahku.

“Vania, dan anda..?”

“Farhan, panggil saja saya Mas Farhan”. Dia menyuruhku sebut ‘Mas’ untuknya, mungkin karena dari perawakannya dia lebih dewasa dariku.

Sambil terus berjalan-jalan mengelilingi kebun, Vania dan Farhan saling berbagi cerita satu sama lain. Mereka saling berbicara tentang pribadi masing-masing. Entah kenapa Vania bisa begitu terbuka dengan lelaki yang baru dikenalinya. Dan sesekali mereka tertawa terkekeh-kekeh. Seakan beban yang dialami Vania selama ini telah dihapus oleh pria tampan dan berwajah alim itu. Hari berganti minggu hubungan mereka semakin akrab. Sepertinya Vania telah mulai membukakan hatinya kembali kepada lelaki lain. Kedua orang tua Vania merasa sangat bahagia melihat kedekatan Farhan dan Vania ketika diajak ke villanya Vania untuk jamuan makan malam.

Tiga bulan kemudian. Vania kembali beraktivitas seperti biasa. Dia sedang menikmati hidupnya menjadi dokter muda di salah satu rumah sakit di kotanya. Kehidupan Vania  kembali normal. Dia menjalani hari-harinya seperti layaknya wanita-wanita lain. Wanita muda berprofesi dokter. Vania sudah kembali seperti dulu lagi, dan teman-temannya merasa sangat bahagia akan hal itu. Bekerja, bermain, nge mall, bercanda, ketawa-ketiwi, makan-makan dan jalan-jalan bersama sahabatnya seperti dulu. Ketika makan malam bersama teman-temannya tiba-tiba handphone Vania berbunyi, dan seperti biasa Vania minta ijin dari teman-temannya untuk mengangkat panggilan tersebut. Dan ternyata ketika dilihat panggilan tersebut berasal dari lelaki yang sempat dikaguminya saat liburan beberapa bulan yang lalu. Degh,, hatinya langsung berdebar ntah kenapa rasa itu muncul tiba-tiba.

“Assalamu’alaikum…” suara dibalik ponselnya.

“Wwwa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh”. Suaraku gugup menjawab salam dari pria baik itu.

“Alhamdulillah, Maasya Allah.. lengkap sekali jawaban salamnya”

“Apakabar Vania..?”. Sapa Farhan lembut, selembut tatapannya ke Vania tempo dulu.

“Alhamdulillah baik, Mas Farhan apa kabar..”. Tanyaku kembali dengan pertanyaan yang sama karena gugup gak tau mau ngobrol apa. Vania merasa dirinya aneh karena sering gugup ketika berjumpa atau bahkan mengobrol dengan Farhan. “Jangan-jangan aku jatuh cinta lagi”. Gumamku dalam hati.

“Halloo… Vaniaa.. masih disana kah..?”

“Iya iyaa Mas, Vania masih dengar ni”. Jawabku kaget.

“Ohya, Mas mau nanya nie, Vania sibuk gak..?”

“Gak Mas”.

“Besok malam ketemuan yuk, saya mau cerita sesuatu sama Vania”.

“Boleh Mas, Insya Allah Vania bisa kok”. Jawabku dengan penuh penasaran apa yang akan di cerita Mas Farhan ke aku. “Jangan-jangan dia mau nembak aku lagi, aah gak-gak ah.. kegeeran banget aku nih”. Batinku. Tanpa disadarinya Vania sudah mengalami jatuh cinta kedua kalinya. Dan pria yang dia kagumi kali ini lebih sempurna dan lebih mapan lagi dibandingkan dengan Furqan yang dulu.

Keesokan malamnya. Vania begitu kaget ketika mendengar cerita Farhan, bahwa dirinya akan dijodohkan oleh orang tuanya. Farhan merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Saudara lelakinya sudah meninggal dunia sepuluh bulan yang lalu karena kecelakaan. Sementara Farhan tidak sempat melihat jenazah adiknya itu dikarenakan Farhan sedang berada di luar negeri menjalani bisnisnya. Farhan tidak tega menolak perjodohan tersebut. Sejak dia kembali ke tanah air satu-satunya teman dekat Farhan adalah Vania. Jadi Vania lah tempat yang dia percayai untuk mencurahkan semua perasaan hatinya. Mereka dipertemukan ketika sama-sama menikmati liburan di pegunungan. Dari sejak itu pula sepertinya Farhan juga menyukai wanita cantik berkerudung merah yang saat ini berada tepat dihadapan matanya. Farhan memandang Vania begitu dekat sehingga membuat Vania salah tingkah. Farhan sangat yakin akan hatinya. Dia merasa jatuh cinta kepada Vania sejak pertama kali melihatnya. Cinta itu adalah cinta pertama bagi Farhan. Farhan mengajak Vania ke rumah untuk memperkenalkannya kepada orang tua Farhan. Tapi Vania tidak berani dan menolaknya dengan halus karena sudah tahu bahwa orang tua Farhan mau menjodohkan Farhan dengan wanita lain. Sebenarnya hati Vania sangat senang ketika diajak berkenalan dengan orang tua lelaki idamannya itu. Saat malam itu pula Farhan menyatakan cintanya kepada Vania. Vania merasa sungguh sangat tersanjung kala itu. Wajahnya yang putih kemerah-merahan dengan balutan gamis yang berwarna merah muda membuat dia makin mempesona di mata Farhan. Matanya yang lentik lagi berbinar-binar seakan masa depan yang cerah akan segera menantinya. Lidah Vania terasa kelu tidak dapat berkata apa-apa. Vania menatap sepasang mata yang syahdu dihadapannya tanpa berkedip. Tatapan mata itu membuat hati Vania menjadi tenang dan nyaman. Hatinya sangat bahagia bagaikan bunga yang sedang bermekaran penuh warna warni, disertai dengan suasana restoran yang harmoni diiringi musik nan romantis. Saking bahagianya dia seakan tidak peduli dengan orang-orang disekitarnya yang sangat ramai.

Jam menunjukkan pukul 22.00 WIB. Farhan terkejut melihat plat mobil yang berada di halaman rumah Vania saat mengantarkan Vania pulang. Ternyata itu adalah mobil kedua orang tuanya. Ketika masuk ke rumah kembali dikagetkan oleh keempat orang tua tersebut yaitu orang tua Vania dan orang tua Farhan. Ternyata mereka sedang bermufakat untuk menjodohkan kedua putra putrinya itu. Orang tua Farhan sekaligus Furqan sudah terlanjur sayang kepada Vania. Mereka sudah menganggap Vania lebih dari menantu. Agar hubungan keluarga itu tidak terputus maka keduanya ingin menjodohkan kembali Farhan dengan Vania. Karena itu pula orang tua Farhan menyuruh anak sulungnya itu pulang ke Indonesia untuk melanjutkan bisnisnya di tanah air saja agar lebih dekat dengan orang tua. Farhan sangat sukses dengan bisnis yang digelutinya sampai ke luar negeri. Ternyata Farhan adalah abang kandung dari Furqan. Yang sekarang akan dijodohkan kembali dengan Vania.

Akhirnya setelah bermusyawarah, dua keluarga sepakat menikahkan kami. “Jadi… sekarang sudah jatuh cinta kan sama aku? Bisik Farhan manja di telingaku ditengah-tengah meriahnya acara resepsi pernikahan kami.”emmh.. pikir-pikir dulu lah”. Balasku mencebikkan bibir.

“uuhh..nakal..” dia mencubit pinggangku. Kami tertawa bersama. Bahagia? Sangat. Iya aku sudah jatuh cinta padamu batinku malu-malu. Terimakasih Tuhan. Ternyata dibalik musibah semuanya terdapat hikmah yang luar biasa melebihi seperti yang aku pikirkan. Ya Tuhan... bimbinglah aku dan Mas Farhan agar terus berada dalam lindungan dan ridha-Mu. Aku baru pertama kali merasakan bahagia yang tiada tara seperti ini. Aku sudah menjadi seorang isteri sekaligus permaisuri dari pangeran yang kucintai secara diam-diam. Engkau telah mengirimkan pria yang super baik dan sangat sabar seperti Farhan. Dan ternyata benar apa kata ibuku, Allah telah memberikan apa yang kubutuhkan dan bukan apa yang aku inginkan. Farhan mau memahamiku dan mempelajari semua sikapku. Seolah semua sifat baik pria ada padanya. Bagaimana aku tidak jatuh cinta kepadanya meski ini adalah cinta keduaku, namun ku berharap ini adalah cinta terakhirku.

 

“Terimakasih”

“Untuk apa Mas”

“Mau menerimaku menjadi suamimu”, sambil mencubit pipiku dengan gemas.

Aku mengaduh kemudian hendak membalas mencubit pinggangnya. Namun Mas Farhan berlari, aku mengejarnya.

“Mas tunggu, jangan lari. Curang, ih!”, aku merajuk

Mas Farhan berhenti lalu terbahak.

“Dasar manja”.

“Manja tapi kamu suka, kan..?” aku menggodanya.

Mas Farhan tersenyum lebar, Manis sekali. Senyum yang tulus tanpa paksaan.

Terimakasih ya Allah. Kehilangan Furqan bukan berarti aku mati dengan cinta. Tapi justru aku menemukan cinta sejati yaitu Farhan. “Mas Farhan aku akan menyayangi dan selalu mengabdi padamu”. Aku memeluk mas Farhan dengan sangat erat, rasanya tak ingin melepasnya. Jika Allah telah memilih sesuatu untukmu maka itulah yang terbaik pilihannya bagimu. Allah selalu memberi apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Begitu pula dengan jodoh. Jodohmu tidak akan tertukar dengan orang lain meski sangat jauh di rantau orang, Namun dengan mudahnya Allah pertemukan. Bersabarlah atas semua cobaan dan masalah yang menimpa dan terimalah takdir yang telah ditetapkan Allah. Sesungguhnya itulah yang terbaik untuk hidupmu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MERAJUT MIMPI

Oleh : Erna Putri Razali

 

“krekk krekk” Pintu kelas terbuka, pasti ada guru yang masuk. Gumamku dalam hati. Dari arah luar datanglah seorang laki-laki berkacamata berpakaian batik lengan panjang masuk ke ruang kelas. Beliau adalah guru kelas kami sekaligus guru idolaku. Suasana jadi hening yang tadinya ramai dan ricuh.

“Assalamu’alaikum”.

Serempak kami menjawab salam “Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh”. Kami semua duduk dengan rapi sambil menunggu materi pelajaran yang diberikan  Pak Herman. Kebetulan hari ini belajar pelajaran bahasa Indonesia. Pak Herman memberi tugas tentang menulis cita-cita. Sebagai siswa yang masih duduk kelas 6 SD tentu sangat banyak dan tinggi sekali cita-cita yang disebutkan. Mulai dari ingin menjadi presiden, ingin menjadi astraunot, ingin menjadi dokter, guru, tentara, polisi, pilot bahkan ingin menjadi pengusaha terkaya di dunia. Siapa sangka mereka yang masih kecil mempunyai mimpi yang cukup tinggi dan bisa berhayal sampai ke langit biru. Sementara setelah dewasa tak ada satu orang pun yang berani menyatakan hal demikian. Seakan mimpi-mimpi mereka sewaktu kecil bagaikan imajinasi belaka.

          Setelah selesai mengerjakan tugas yang diberikan Pak Herman. Satu persatu disuruh bacakan di depan kelas tentang karangan yang kami tulis. Tiba saatnya giliran aku. Lama sekali menunduk. Berulang kali Pak Herman menyebut namaku. Dan semua siswa melihat ke arahku. Karena tak ada respon dariku, akhirnya pak Herman datang mendekatiku. “Aditya.. kenapa kamu tidak mau maju nak..?”. tanya Pak Herman lembut. Itulah penyebabnya aku sangat mengidolakan beliau. Meski seorang laki-laki beliau tak pernah marah dengan muridnya. Aku tetap memilih diam. Karena aku tak berani membaca tulisan karanganku itu. Tak jarang teman-teman sekelasku mengejekku dikarenakan aku anak orang miskin yang sering bermimpi menjadi orang kaya. Karena sebelumnya kami pernah mengadakan tanya jawab dengan bu Ratna juga tentang cita-cita. Aku dengan bangganya menjawab ingin menjadi pengusaha kaya raya. Sementara teman-teman yang lain menertawakanku. Mereka menganggap cita-citaku itu semua hanyalah sebuah mimpi dan hayalan belaka. “Mana mungkin..?” ejek mereka. “Untuk bayar SPP aja harus nunggak beberapa bulan. Nah ini, udah bermimpi lagi ingin menjadi pengusaha kaya raya”. Cerca mereka sambil tertawa terbahak-bahak. Dari sejak itulah aku merasa minder dan gak berani mengungkapkan apa-apa lagi karena aku orang miskin.

“Adit.. kamu belum siap tugasmu ya..?”. Lanjut Pak Herman dengan penuh kesabarannya.

“kalau kamu belum siap tidak apa-apa, biar bapak panggil teman-teman yang lain dulu”. Kata Pak Herman.

“tugas saya sudah siap pak, tapi…?” jawab aku dengan masih muka tertunduk dan memulai membuka suara.

“tapi kenapa nak…?”

“saya gak mau baca pak, biar bapak aja yang baca”

“lho..kok kamu gak mau baca, biasanya paling seneng kalau disuruh ke depan”.

“saya malu pak, takut diejek teman-teman lagi. Cita-cita saya dianggap mimpi belaka dan gak mungkin tercapai. Karena saya orang miskin pak”. Jelas aku sambil menatap wajah Pak Herman dengan mata berkaca-kaca.

“oh itu masalahnya..”.

“Aditya.. dan juga anak-anak sekalian… siapapun kita boleh saja bermimpi dan mempunyai cita-cita. Baik itu orang miskin maupun orang kaya. Karena bermimpi atau bercita-cita itu gratis tidak dipungut biaya. Jadi jangan sampai gegara kita tumbuh dan berasal dari keluarga dengan kondisi di bawah garis kemiskinan membuat kita takut bermimpi, takut bercita-cita. Selama kita punya Allah, langitkan semua keinginan dan cita-cita kalian. Bermimpilah kalian, bercita-citalah kalian setinggi-tingginya. Belajar, berdoa serta sempurnakan dengan ikhtiar, insya Allah akan terkabul dan terpenuhi apa saja yang kalian inginkan. Yang terpenting adalah berhusnuzhon lah selalu kepada Allah SWT. Sangat banyak orang-orang terdahulu, ilmuwan-ilmuwan terdahulu yang berasal dari keluarga miskin tapi dengan semangat pantang menyerah membuat nama mereka terkenal seantero dunia. Jangan sampai hanya karena masalah ekonomi membuat kita surut dari keinginan dan cita-cita. Dan jangan karena masalah ekonomi juga kalian sampai memecahkan persahabatan satu sama lain, dengan menghina, mengejek dan menertawakannya. Kita tidak dapat menyangka di masa depan ternyata orang yang kalian hina ini akan menjadi orang yang hebat dikemudian hari. Sementara kalian yang asik menikmati kemewahan dari orang tua tidak bisa menjadi orang yang lebih mandiri. Bapak berdoa kepada Allah berharap kalian semua kelak akan menjadi orang yang sukses. Amin ya Rabbal ‘alamin… Tapi hari ini bapak minta kepada anak-anak sekalian jangan lah sekali-kali lagi mengejek atau menghina Aditya hanya karena dia terlahir dari orang tua yang ekonominya dibawah rata-rata. Dan bapak harap semuanya minta maaf serta bersalaman dengan Aditya”. Panjang lebar Pak Herman memberi nasehat kepada kami. Dan semua teman-teman meminta maaf dan menyalamiku secara tertib. Setelah hari itu aku kembali percaya diri untuk tampil apa adanya. Secara aku juga termasuk anak yang sering mendapat rangking di kelas.

          Angin malam yang berhembus dari balik dinding rumahku menusuk dingin ke dalam tulangku. Aku beringsut dari tempat tidur. Berjalan ke kamar mandi untuk mengambil wudhu’ dan melaksanakan dua rakaat qiyamul lail. Meski aku masih  tergolong kecil dan usia belia, ibadah itu sudah melekat pada diriku sejak ayah masih ada. Dan itu sudah menjadi tradisi di rumahku dengan selalu menghidupkan malam dengan qiyamul lail. Ya, aku seorang anak yatim sekaligus anak tunggal. Sekarang aku hanya tinggal berdua dengan ibuku. Meksipun ibu sebagai tukang cuci dan juga membantu-bantu di ladang orang. Kami bersyukur masih bisa menyambung hidup dan juga bisa membayar biaya sekolahku. Enam bulan sekali aku juga mendapat biaya siswa miskin dari sekolah. Uang tersebut aku gunakan hanya untuk membayar SPP sekolah.

          Adzan Maghrib berkumandang dari Mesjid yang letaknya tidak jauh dari pemukiman kami, hanya beberapa kilometer. Aku dan Ibuku berjalan kaki menuju ke sana serta beberapa teman-temanku. Sesampainya, langsung aku cepat-cepat wudhu’ dan merapatkan shaf paling depan. Setelah selesai, aku menunggu Ibu di depan. Sambil menikmati udara sejuk di subuh hari, aku sempat terngiang-ngiang pesan terakhir Pak Herman kepadaku saat mau istirahat kemarin siang di sekolah,“Nak beranilah bermimpi, rajutlah mimpimu setinggi langit  karena bermimpi tidak dipungut biaya, tunjukkan pada dunia kalau kamu hebat. Raihlah cita-citamu dan beranilah memperjuangkannya. Kamu harus percaya Allah akan selalu membukakan pintu-pintu harapan saat Dia menutup satu pintu di hadapan kita. Nyalakan mimpimu, iringi dengan doa kepada Allah dan teruslah berusaha. Insya Allah kamu akan sukses”. Lamunanku buyar disebabkan sentuhan ibuku dari belakang punggung, “Ayo Adit kita pulang”.

          Seusai pengumuman kelulusan, Aditya dipanggil oleh kepala sekolah. Ternyata di sana juga hadir Pak Herman sebagai guru kelasnya. Aditya di sambut dengan senyuman dari kedua wajah lelaki yang notabene sangat di segani di sekolah tersebut. Sambil menyerahkan sebuah amplop berwarna putih bapak kepala sekolah berkata, “selamat Aditya kamu mendapat beasiswa berprestasi sekaligus beasiswa kurang mampu”. Kata pak kepsek sambil menebar senyum bangga. Aditya kebingungan sambil melihat kearah Pak Herman yang berada di sampingnya. “maksudnya pak..?” tanya Aditya penasaran. “Iya nak Adit kamu bisa melanjutkan studimu ke jenjang selanjutnya secara gratis dan mendapat beasiswa”. Jelas Pak Herman dengan penuh keyakinan. Dengan mata berkaca-kaca Aditya langsung sujud syukur dan setelah itu mencium kedua tangan bapak-bapak tersebut. Aditya tidak dapat berkata-kata apa lagi. Ini sungguh suatu keajaiban yang tak disangka-sangkanya. “Alhamdulillah ya Allah.. atas rezeki dan nikmat yang telah engkau berikan”. Lirih Aditya dengan terbata-bata dikarenakan menahan isak tangis.

          Dengan bermodalkan beasiswa, doa dan usaha yang maksimal Aditya dapat melanjutkan studinya sampai ke perguruan tinggi. Dan dia tetap mempertahankan cita-citanya sejak SD dulu. Ingin menjadi pengusaha yang kaya raya agar dapat membantu orang-orang yang kurang mampu dengan cara membuka lapangan kerja dimana-mana. Dan itu di wujudkan oleh Aditya. Hadiah terindah yang diberikan kepada ibunya adalah meng-hajikannya. Tanpa kecuali untuk ayahnya yang telah meninggal juga diberikan hadiah dengan mem-badalkan haji. Dan Aditya juga membangun sebuah pesantren atas nama ayahnya agar itu menjadi sedekah jariyah ayahnya. Aditya telah menjadi orang yang sukses serta kaya raya namun tak ada sedikitpun kesombongan dalam dirinya. Tidak sedikit teman-temannya dulu bekerja padanya. Aditya tetap bersikap ramah kepada mereka, meskipun dia sudah menjadi orang hebat yang kaya raya. Setelah menikah dan mempunyai keluarga Aditya tetap menjalankan kebiasaannya seperti dulu bersama ibu yaitu menghidupkan malam dengan qiyamul lail. Kini kebiasaan itu diajarkan pula ke anak dan istrinya. Cerita dan nasehat yang didapat Aditya sejak kecil khususnya dari Pak guru Herman ditularkan ke anak-anaknya agar mereka semangat dalam menempuh cita-citanya, “janganlah takut bermimpi karena bermimpi itu tidak dipungut biaya, rajutlah mimpimu diiringi dengan doa dan ikhtiar yang sempurna". Janganlah takut untuk bermimpi dan bercita-cita setinggi angkasa. Yakinkan pada diri bahwa kita bisa meraihnya. Jika tidak hari ini, yakinlah bahwa Allah akan menyimpan mimpi dan cita-cita dalam suatu masa yang lain. Jangan lah bersedih karena mimpi dan cita-cita yang baik dan penuh kesungguhan hati akan menemukan waktu  yang tepat untuk menjadi nyata. “Selamat merajut mimpi, karena mimpi setengah dari cita-cita dan cita-cita setengah dari rencana dan rencana setengah dari kerja keras dan keja keras setengah dari keberhasilan”.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MY BROTHERS

Oleh: Erna Putri Razali

 

Dibawah cahaya pagi, kuceritakan pada matahari tentang kehidupanku yang tak sedikitpun merasa kekurangan meskipun ayah telah tiada. Ini merupakan berkat jawaban dari setiap doaku. Aku adalah anak perempuan satu-satunya dalam keluarga. Namaku Nawwara Atheera. Aku biasa dipanggil dengan sebutan Rara. Aku anak keempat alias anak bungsu dari empat bersaudara. Ketiga abang-abangku sangat menyayangiku. Abang yang pertama bekerja disebuah instansi pemerintah alias sebagai pegawai negeri sipil. Abang kedua sebagai pegawai honorer dan abang ketiga sebagai karyawan swasta. Meskipun ketiga abang-abangku tidak berpendidikan tinggi dan tidak pernah mengecap bagaimana rasanya duduk di bangku kuliah, tapi mereka sangat menginginkan aku menjadi orang yang sukses dengan mempunyai pendidikan yang tinggi. Secara aku ini mempunyai IQ yang rata-rata lebih tinggi dibandingkan abang-abangku. Itu bisa dilihat dari setiap tahun aku selalu menjadi juara kelas dari sejak sekolah dasar sampai saat ini kelas VII (kelas 1 SMP). Aku dikenal anak yang patuh, rajin, shaliha, disiplin dan pintar dalam berbagai hal. Meskipun ibuku sebagai single parent, beliau selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya terutama dalam hal pendidikan. Aku di sekolahkan dan juga di ngajikan. Terkadang banyak sekali kebutuhan yanng harus di selesaikan namun begitulah orang tua yang berjuang demi anak-anak yang mereka cintai, semuanya pun rela mereka lakukan. Karena itu aku juga sangat gigih untuk menuntut ilmu demi membahagiakan kedua orang tuaku. Nawwara Atheera alias Rara sudah memberikan torehan kebaikan kepada orangtuanya dan membanggakan ketiga abang-abangnya, selalu mendapat juara kelas dan juga selalu tampil ke depan jika ada sebuah hiburan dari siswa, baik puisi, bercerita ataupun lainnya. Sejumlah perlombaan yang diikuti selalu mendapatkan juara terbaik. Rara adalah anak yang memiliki hobby menulis mulai dari menulis puisi, cerpen, berita dan lain sebagainya. Tidak jarang Rara membawa piala bahkan penghargaan yang lumanyan fantastis dari berbagai pihak yang menyelenggarakan perlombaan tersebut. Bahkan Nawwara Atheera alias Rara ini pernah dimuat dimedia cetak atas prestasinya dalam menulis puisi dan cerpen. Namanya terpampang di halaman depan pada majalah remaja yang memuat berbagai tulisan yang berisi puisi dan cerpen. Seluruh keluarga dan pihak sekolah merasakan kebanggaan atas prestasi yang diraihnya. Namun Rara tidak pernah sombong dengan kelebihan yang dimilikinya itu dan ia selalu belajar bersungguh-sungguh serta tetap rendah hati. Sementara ketiga abang-abangnya pun sangat mendukung adik perempuan satu-satunya. Mereka rela bekerja keras untuk membiayai kebutuhan pendidikannya. Rara pernah bercerita tentang cita-citanya kepada abang-abangnya itu. Ia ingin sekali menjadi guru besar alias dosen dan memiliki murid-murid. Karena ia sangat ingin berbagi ilmu dengan orang lain. Nawwara Atheera juga ingin menjadi seorang ilmuwan ataupun profesor. Cita-citanya luar biasa membuat kaget ketiga abang-abangnya.  Dan itu juga membuat semangat abang-abangnya untuk bekerja lebih keras agar tercapai cita-cita adik perempuan semata wayangnya.

          Hidup memang penuh dengan lika-liku. Banyak cerita suka dan duka di dalamnya. Ayah Rara sudah meninggal sejak ia masih kecil tepatnya satu tahun usianya. Dan saat aku menginjak usia 11 tahun ibuku pun ikut menyusul ayah. Saat ibu meninggal aku merasa sangat sedih karena ibu adalah satu-satunya orang tempat aku berbagi cerita, tempat aku curhat dalam segala hal. Aku terasa sangat terpukul karena merasa sudah tidak ada lagi teman dalam berbagi. Tidak ada lagi tempat aku bermanja. Namun berkat motivasi dan nasehat ketiga abang-abangku, aku kembali bersemangat dalam meniti hidup. Aku kembali bermangat dalam belajar untuk mencapai cita-citaku. Meski ayah dan ibu sudah tiada tapi aku harus tetap kuat dan tegar untuk membuat mereka tersenyum di sana melihat kesuksesanku dan prestasi yang kuukir. Kini aku hidup untuk membuat keluargaku bahagia terutama abang-abangku. Mereka rela berkorban dan bekerja sekuat tenaga agar cita-citaku tercapai.

Demi menyekolahkanku abang sulungku pun belum menikah sampai saat ini. Padahal umurnya sudah 29 tahun. Abang keduaku berusia 26 tahun dan abang ketigaku berumur 24 tahun. Sebagaimana semangatnya mereka membiayai aku, begitu pula aku harus bersemangat dalam meraih cita-cita yang aku impikan. Abang-abangku bagaikan sosok pahlawan yang luar biasa bagiku. Setiap hari aku dimasakin, disiapin semua kebutuhan sekolahku. Aku merasa seperti masih ada ibu, tak kurang suatu apapun. Semua pekerjaan yang pernah ibu lakukan diambil alih oleh abang-abangku. Seakan mereka sudah mengatur semuanya dengan berbagi pekerjaan untuk mengurusiku. Dari mulai tidur sampai tidur lagi semua dibereskan oleh abang-abangku dan aku merasa tidak ada yang kurang suatu apapun. Tugasku hanyalah belajar dan belajar. Aku sangat bangga dengan abang-abangku. Mereka sosok pahlawan dalam keluargaku. Mereka sosok yang sempurna sebagai pengganti kedua orangtuaku. Semua tugas ayah dan ibu bisa digantikan oleh mereka. Terkadang aku merasa terharu melihat ketulusan abang-abangku dalam mengerjakan semua pekerjaan rumah juga dalam mengurusiku. Dalam doa selalu ku bermunajat kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk selalu diberikan kesehatan dan kelancaran rezeki serta jodoh yang baik untuk ketiga abang-abangku. “Ayah.. Ibu... berbahagialah engkau di sana.. engkau telah melahirkan anak-anak yang shalih lagi membanggakan. Aku berjanji akan menjadi anak yang terbaik bagimu, layaknya abang-abangku. Merekalah panutanku. Merekalah permata hatimu wahai ayah dan ibu..”. sejenak air mata berlinang mengenang keseharian tugas yang dilakukan ketiga abang-abangku. Mereka tak pernah mengeluh dan tak pernah lelah mengurus dan membiayaiku.  Aku disekolahkan di perguruan tinggi ternama sesuai dengan jurusan yang kupilih. Setelah aku meraih master abang sulungku mulai memikirkan pendamping hidupnya. Dan akhirnya ia menikah dan berkeluarga.

Kini aku mengajar disebuah perguruan tinggi negeri dan swasta sekaligus sebagai penulis. Cerita kisah hidupku menjadi inspirasi utama dalam menulis novel. Dan novel terlaris saat itu adalah ‘Kisah Hidup Nawwara Atheera’. Aku mulai dikenal sampai ke pelosok desa. Aku sangat bahagia dan bangga dapat memperkenalkan abang-abangku dalam novelku kepada semua orang. Dan mereka bisa menjadi inspirasi hidup bagi semua abang-abang di luar sana dalam melaksanakan tanggung jawabnya kepada adik perempuan, di kala ayah telah tiada. Aku dikenal sebagai dosen favorit disalah satu universitas dan aku juga dikenal sebagai penulis favorit bagi remaja-remaja putri. Sementara abang-abangku sangat puas dengan hasil yang mereka capai. Adik perempuannya tumbuh menjadi wanita yang bersahaja, pintar dan shaliha serta sukses dalam berkarir. Saat ini aku juga sudah menikah dengan lelaki pilihanku seorang profesor muda nan shalih. Dan aku juga dikaruniai sepasang buah hati yang cerdas dan sangat lucu. Kini aku sangat bahagia dengan keluarga baruku. Ini semua kudapat berkat kerja keras dan usaha dari perjuangan abang-abangku. Abangku yang pertama juga sudah menikah dengan dikaruniai 3 orang anak laki-laki dan perempuan. Mereka juga hidup bahagia serta karir yang dicapai abang pertamaku semakin gemilang. Abangku yang kedua juga sudah diangkat menjadi pegawai negeri sipil di sebuah instansi pemerintah dan juga sudah memiliki keluarga barunya. Sementara abangku yang ketiga sudah duluan di panggil Allah sebelum melihat aku  sukses begini.

Kala itu abangku yang nomor tiga membelikan laptop untukku. Dia harus membanting tulang untuk memenuhi kebutuhanku itu. Dia terlalu pendiam namun sangat pengertian dalam segala hal. Padahal aku tak pernah meminta untuk dibelikan laptop. Semua tugas-tugas aku bawakan ke rental untuk diketik. Saat itu, ketika aku ke rental tak sengaja abangku melihat aku pulang dengan berjalan kaki menuju angkutan umum. Dan tiba-tiba ada kendaraan yang melaju sangat kencang hampir menabrakku. Seketika abangku yang nomor tiga itu berlari sekuat tenaga untuk mendorongku ke pinggir dan “Braaaakkk...!” badan abangku terpelanting dengan sangat kuat membentur trotoar dan terinjak lagi oleh truk. Aku sangat kaget, hatiku hancur dan airmataku mengalir menganak sungai. Lidahku kelu tak dapat berucap sepatah katapun. Aku sangat shock melihat kejadian tersebut. Sampai kapanpun aku tak dapat melupakan kejadian tersebut. Abangku mengorbankan jiwa raganya untuk aku tetap dapat menghirup udara yang bebas ini.  Sebulan kemudian abangku yang pertama dan kedua menghadiahkanku sebuah motor matic untukku. Sehingga aku tak perlu lagi menunggu angkutan umum untuk ke kampus. Dan setelah beberapa minggu kemudian datang seorang pemilik toko elektronik untuk memberikan sebuah laptop yang ternyata itu adalah hadiah dari abangku yang nomor tiga. Pemilik toko elektronik tersebut bercerita tentang laptop yang dibeli abangnya Rara. Sebulan lebih pemilik toko elektronik menunggu kedatangan abangnya Rara untuk mengambil laptop karena cicilannya telah lunas. Laptop ini dibeli untuk Rara agar dapat menunjang belajarnya semakin mudah tanpa harus bersusah payah ke rental. Itu didapat dengan menyicil dari hasil jerih payahnya.

“saya baru tahu kalau pemilik laptop ini meninggal karena kecelakaan, dan hari itu pula jatahnya dia ambil laptop di toko kami”. Jelas pemilik toko elektronik. Kembali Rara berlinang air mata mengingat jasa Abangnya itu. Rara sangat bangga dan bahagia mempunyai abang-abang yang luar biasa dalam hidupnya. “Sampai kapanpun aku tak akan pernah melupakan jasa-jasa ketiga abang-abangku. Aku sukses seperti ini karena abang-abangku. Aku bahagia dengan hidupku karena mereka. Ya Allah bahagiakanlah hidup abang-abangku. Ya Allah lapangkanlah kubur ayah dan ibuku yang telah berhasil mendidik anak-anaknya menjadi pahlawan yang tangguh seperti abang-abangku. Ya Allah lapangkan kubur abangku. Berikan ia tempat yang layak di sisi-Mu. Aamin Ya Rabbal ‘Alamin.”. Gumamnya dalam hati.

Dalam meniti kehidupan tidaklah selalu mudah seperti apa yang kita bayangkan. Tentu banyak jurang yang terjal yang selalu menanti. Musibah dan cobaan selalu datang silih berganti. Hanya hati dan iman yang kokoh yang siap selalu menampungnya. Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa langit itu selalu biru, bunga selalu mekar dan matahari selalu bersinar, tapi ketahuilah bahwa Tuhan selalu memberi pelangi disetiap badai, senyum disetiap air mata, dan jawaban disetiap doa. Hidup terus berjalan sama seperti sinar matahari yang selalu datang setiap pagi. Menyiratkan kegembiraan dan harapan baru. Dalam hidup ini, jadilah seperti Matahari, kamu mungkin terbenam, namun besok kamu akan terbit kembali. Bangkit dan bersinar lagi!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PERPUSTAKAAN MINI DI SUDUT DESA

Oleh : Erna Putri Razali

 

Hobbyku membaca. Aku paling senang membaca. Aku paling suka belajar dengan teman-teman, karena asyik banget kalau belajar bersama. Aku, Ayla, Ega dan Ratna selalu mengadakan belajar kelompok setiap minggu. Seminggu dua kali kami belajar, kadang-kadang belajar di rumah aku, kadang di rumah Ega, Ayla dan Ratna begilir secara bergantian.  Tapi yang paling sering adalah di rumahku. Karena di rumahku ada perpustakaan mini yang dibuat oleh Bundaku. Bundaku adalah seorang guru Sekolah Dasar. Aku adalah anak satu-satunya dari Ayah dan Bunda. Karena Bundaku hobi membaca, Ayah juga hobi membaca maka diciptakanlah sebuah perpustakaan mini disudut teras rumahku. Dari kebiasaan Ayah dan Bundakulah, aku menjadi senang dengan yang namanya membaca dan kini sudah menjadi hobiku. Di sana tersedia banyak sekali buku-buku terutama buku cerita. Mulai dari dongeng, komik, cerpen, novel relegi, buku tentang cerita 25 Nabi, tersedia juga beberapa ensiklopedia dan bahkan buku-buku kisah perjuangan Rasulullah SAW serta banyak juga lainnya. Bundaku juga suka gabung-gabung dengan kami disaat kami mengadakan belajar kelompok. Bunda juga sering mengajari kami jika kami kesulitan dalam mengerjakan tugas. Aku bangga dengan Bundaku. Bunda selain sebagai ibu kandungku, Bunda juga sebagai guru les privatku dan teman-teman. Meski Bunda seorang guru SD tapi Bunda sungguh pintar dan cerdas dalam mengajari kami semua pelajaran tingkat SMA. Aku dan teman-temanku salut sama Bunda. “Pintar banget Bundanya Kanaya” kata teman-temanku. Setiap hari minggu Bunda juga mengadakan  les privat gratis untuk anak-anak yang kurang mampu. Mereka bisa belajar banyak dengan Bunda. Bundaku sangat menyayangi anak-anak. Aku ingin jadi seperti Bunda, yang selalu berguna untuk orang lain dan selalu dibanggakan oleh keluarganya termasuk aku.

Suatu hari, aku bernostalgia dengan teman-temanku membicarakan kembali tentang cita-cita kami semasa dibangku SD. Kebetulan hari itu kami tidak diberikan tugas/PR dari sekolah. Tetapi kami tetap mengadakan belajar bersama. Meskipun tidak ada PR, aku  dan teman-temanku hanya membaca-baca buku cerita saja.

“Rat, kamu pengen jadi apa sih,” kata Ayla.

”aku pengen jadi astronot karena aku penasaran banget dengan apa yang ada di bulan ” jawab Ratna. Penasaran dengan bulan, apakah sama bulan yang kita lihat dari bumi dengan bulan yang langsung kita tempati itu? Ratna juga memikirkan tentang kekuasaan Allah yang begitu dahsyatnya. Kenapa ada bulan? Untuk apa bulan? Allah sungguh hebaattt, dengan segala ciptaannya. Ratna sangat berharap  jika suatu saat ia jadi astronot, ia akan menciptakan (menulis) sebuah buku tentang bulan yang judulnya ‘Aku Penasaran dengan Bulan’. Dilanjutkan Ega dengan santainya

“aku ingin jadi dokter. Aku ingin sekali jadi dokter yang selalu bermurah hati dan murah senyum. Jadi, pasiennya gak takut. Karena pengalamanku dulu waktu kelas 1 SD, gigiku sakit terus papa mamaku mengajak ke rumah sakit. Pas lihat dokternya serem banget, udah item gak ramah, gak senyum-senyum   lagi aku takut,, akhirnya aku lari deeh. Haahaaa… “. Mereka tertawa ria mendengar cerita Ega. Jadi aku ingin jadi dokter yang bisa membuat pasiennya nyaman dan tenang. Dengan itu juga dapat mempercepat kesembuhan pasien. Setelah aku jadi dokter nanti, aku ingin sekali mengobati orang-orang miskin, anak yatim dan orang–orang yang terkena musibah lainnya, seperti kejadian tsunami beberapa tahun yang lalu. Cobaa.. kalau aku sudah jadi dokter saat itu..! Trus Ayla  pengen jadi apa? Tanyaku.

“Ayla ingin sekali jadi petani sukses. Ayla merasa sangat sedih melihat orang-orang di kampungnya. Sebagian besar orang-orang di kampunngnya  adalah petani yang hanya bekerja untuk  mencari sesuap nasi. Karena kebutuhan diandalkan pada hasil padinya. Mereka hanya menjadi buruh tani, sawah  yang mereka garap adalah sawah orang lain. Jadi, mereka hanya bisa hidup pas-pasan  dengan hasil panennya malahan kadang-kadang tidak cukup dengan itu. Jadi, seandainya nanti aku menjadi petani sukses, aku akan memberi/mengusahakan semua keperluan sawah  mereka dengan gratis  seperti pupuk, traktor  dsb”. Kata Ayla dengan penuh keyakinan.

Akhirnya giliran aku yang menceritakan cita-citaku. Aku tidak ingin punya cita-cita setinggi langit seperti  kalian. Aku hanya ingin seperti Bundaku. Aku ingin menjadi guru.  Karena guru selain pewaris nabi, guru itu tugasnya mengajar dan mendidik. Jadi guru itu selalu haus dengan ilmu pengetahuan. Guru itu di gugu dan ditiru. Guru itu tidak pernah berhenti belajar dan terus belajar sampai akhir hayat. Dan yang lebih bangga lagi guru itu punya murid yang selalu dikenang sampai kapanpun. Apa lagi jika menjadi guru favorit bagi muridnya. Sementara salah satu diantara puluhan bahkan ratusan murid pasti ada diantaranya yang mau mengamalkan apa yang pernah diajarkan guru. Dan niscaya itu akan menjadi amal serta pahala jariyah ketika guru itu telah tiada. Kata bundaku, guru bukan orang hebat tapi orang hebat semuanya berasal dari guru. Aku sangat bangga jika menjadi guru sampai aku berani mengatakan seperti itu kepada teman-temanku. Namun demikian, aku juga bangga kepada teman-temanku yang mempunyai  cita-cita tinggi dan semulia itu. Tapi diantara semuanya cita-cita yang selalu kami impikan adalah membangun perpustakaan mini ini menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Aku harap kita berempat yang akan mengabadikan perpustakaan mini ini menjadi sesuatu. Semoga cita-cita kita ini akan menjadi kenyataan. Aaamiin… jawab kami serentak.

“Naya, kita lanjut lagi yuk belajar pelajaran kimia dirumahmu. Aku gak paham soal yang dibahas Pak Rusdi tadi”. Ajak Ega sambil menarik tanganku.

“Iyaya, nanti ba’da dzuhur kalian ke rumahku deh”. Jawabku tenang.

“Bundamu sibuk gak Nay..?” sela Ayla.

“Kayaknya gak deh, seperti biasa Bunda kan adakan les privat buat anak didiknya”.

“Okedeh, ntar kan kita bisa minta bantuan ke Bundamu ya Nay..”. Lanjut Ratna.

“Siip, Insya Allah”. Ucapku sambil mengacungkan jempol ke teman-temanku. Seraya beranjak dari tempat duduk dan pulang menuju ke rumah masing-masing. Letak rumah mereka tidak jauh dari lokasi sekolahnya. Sementara rumahku yang agak jauh dari sekolah. Karena rumahku di perbatasan antara desa dengan kota. Sedangkan rumah teman-temanku semuanya berada di tengah-tengah kota. Jadi jarak rumah ke sekolah sangat mudah dijangkau oleh mereka. Terkadang saat cuacanya bersahabat mereka juga sering berjalan kaki ke sekolah. Aku sering diantar jemput oleh Ayah ataupun Bunda. Kadang-kadang sering juga di antar jemput oleh sopir sekaligus penjaga kebun. Rumahku memiliki kebun yang lumanyan luas sehingga butuh penjaga untuk merawat tanaman-tanaman Ayah. Ayahku selain bekerja sebagai Wiraswasta, beliau juga sangat hobi berkebun sehingga mengangkat salah satu karyawannya untuk dijadikan penjaga kebun sekaligus antar jemput aku ke sekolah.

          Detik-detik perpisahan kami dengan Ayla telah tiba. Sangat sedih rasanya berpisah dengan salah satu sahabat yang sejak SD kita terus bersama. Main, belajar, bersenda gurau dan bahkan berantem bersama tanpa ada tersakiti satu sama lain. Ya, kami berempat tidak pernah saling memusuhi satu sama lain. Meskipun berasal dari berbeda orang tua namun kami bisa hidup bersama, bisa saling berbagi di saat suka maupun duka. Mungkin karena aku adalah anak tunggal sehingga bisa begitu akrab sama teman-temanku bahkan bagaikan saudara sekandung. Ayla melanjutkan studinya di Bandung karena ikut orangtuanya. Papanya dipindah tugaskan ke kota Bandung. Sekarang kami tinggal bertiga. Meskipun sudah kuliah dan memilih jurusan yang berbeda, namun kebiasaan kami untuk ngumpul di rumahku itu tetap terjaga. Terkadang seminggu sekali atau dua minggu sekali tergantung jadwal kuliah masing-masing.

          Disela-sela perbincangan Ayah dan Bunda. Tiba-tiba aku teringat kejadian tadi siang ketika aku pulang dari kampus. Di persimpangan lampu merah terdapat banyak anak-anak yang putus sekolah. Mengapa tidak? Disaat anak-anak lainnya belajar dan duduk di kelas menerima pelajaran dari guru-gurunya. Mereka dengan bersusah payah serta bercucuran keringat meminta-minta di jalanan. Dengan disengati sinar matahari menyengat kulit hingga gosong mereka mengamen untuk mendapatkan recehan. Tersentuh hatiku saat kulihat pemandangan yang sangat tidak enak dipandang mata. Perjuangan hidup yang sangat keras hanya untuk mendapat sesuap nasi. Disisi lain kulihat mereka saling berebut makanan sisa tanpa mengenakan pakaian hanya saja celana pendek yang telah usang dan compang camping. Seketika buliran bening jatuh dipipiku. Sedih, sangat sedih. Aku bersyukur terlahir dari keluarga yang serba berkecukupan. Hidup di ruangan ber-AC tanpa pernah merasakan sengatan sinar mentari.  Kuceritakan semua itu kepada Ayah dan Bunda, tak terasa buliran bening itu kembali mengalir dari sudut mataku.

“Ayah.. Bunda.. gimana kalau kita ajak anak-anak tersebut belajar sama Aku dan Bunda. Kita bangun sebuah perpustakaan kecil di sudut desa sana. Bukunya kan banyak banget nih, kita bawa saja semuanya ke sana. Kita jadikan semacam sekolah atau les privat seperti yang telah Bunda lakukan dulu. Buktinya anak-anak yang kurang mampu dulu Bunda ajar sudah berhasil kan. Minimal mereka sudah bisa baca tulis, berhitung dan lain sebagainya. Setidaknya mereka sudah bisa punya modal untuk menjalani hidupnya terutama dalam mencari pekerjaan. Bahkan satu murid Bunda itu sudah bekerja dikantoran meskipun sekedar bantu-bantu mengetik. Trus kita kasih mereka tempat tinggal semacam perumahan gitu lho Bunda. Mau kan Ayah.. bantuin bangun tempatnya”.

Ayah mengangguk bangga melihat sang puterinya yang tumbuh semakin dewasa dalam pemikirannya. “Baik lah Nak, besok Ayah suruh dua orang karyawan Ayah untuk mengumpulkan anak-anak jalanan tersebut”. Ucap Ayah sambil membelai kepala puterinya yang cantik itu.

“Benerkah Ayah..? Aku sayang Ayah dan Bunda”. Sambil memeluk kedua orang tuanya. Ayah dan Bunda Kanaya tersenyum bangga kepada puterinya itu. Jiwa sosialnya itu turun dari kedua orangtuanya.

          Seminggu kemudian. Kanaya dan Bunda menghabiskan akhir pekannya ke Perpustakaan mini yang letaknya di sudut desa. Jarak yang ditempuh Kanaya dan Bundanya hanya 30 menit dengan mengendarai mobil. Meskipun Kanaya tinggal di kota, namun letak rumah mereka tepat di perbatasan desa dengan kota. Jadi mereka sangat peka akan kehidupan di desa tersebut. Anak yang dikumpulkan dari jalanan tersebut berjumlah lima orang. Dan mereka semua adalah laki-laki berusia kira-kira berkisar sembilan sampai dua belas tahun.  Ternyata mereka merupakan anak yatim piatu. Ayah Kanaya menugaskan dua orang karyawannya untuk memantau anak-anak tersebut. Mereka bertugas mengurus semua kebutuhan hidup kelima anak tersebut. Dan tugas belajarnya langsung dibimbing oleh Kanaya dan Bundanya. Perpustakaan mini yang dulu Kanaya nikmati hanya bersama teman-temannya kini sudah lebih bermanfaat untuk mereka yang membutuhkan. Tidak sedikit anak-anak yang kurang mampu lainnya belajar membaca di perpustakaan mini milik Kanaya. Namanya tetap perpustakaan mini meskipun sekarang sudah di perluas oleh Ayahnya Kanaya supaya lebih leluasa dalam bergerak. Perpustakaan mini itu sudah hampir seperti perpustakaan wilayah atau perpustakaan yang ada di kampus-kampus. Buku-bukunya sudah semakin banyak mulai dari buku pelajaran sampai buku-buku cerita lainnya.

          Enam tahun kemudian. Kelima anak tersebut diajak bekerja oleh Ayahnya Kanaya sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing. Mereka sudah hidup selayaknya seperti orang-orang pada umumnya. Sudah bisa mandiri dan mencari nafkah dengan cara halal dan terhormat. Mereka berlima sangat menghormati Kanaya dan keluarganya terutama Ayah Kanaya yang begitu baik mengangkat derajat mereka. Kelimanya dididik dengan penuh kasih sayang oleh Bunda Kanaya. Mereka sangat berterimakasih kepada keluarga Kanaya. Sekarang Kanaya melanjutkan usaha dan kebaikan Ayah Bundanya yaitu mendirikan sekolah gratis disamping perpustakaan mini miliknya. Semua orang miskin di desa tersebut sangat bangga dan berterimakasih kepada Kanaya dan keluarganya. Dengan adanya perpustakaan mini tersebut mereka yang tadinya malas membaca menjadi rajin membaca. Dari tadinya tidak ada bahan belajar menjadi mudah dalam mencari bahan-bahan untuk keperluan sekolahnya. Bahkan sebagian warga yang  tuna aksara, sekarang sudah melek dan mengenal huruf-huruf dan angka-angka serta sudah bisa membaca/menulis dengan lancar. Kanaya berhasil mewujudkan cita-citanya waktu SD dulu yaitu memimpikan sekolah gratis melalui perpustakaan mini miliknya itu. Sekarang perpustakaan mini itu sudah disulap Kanaya menjadi lebih mewah. Tidak luput juga dari bantuan ketiga temannya. Sekarang mereka sudah sukses semua sesuai dengan keahliannya masing-masing tanpa kecuali Kanaya yang sangat sukses dari segala sisi. Perpustakaan mini yang dulu berada disudut teras rumah Kanaya kini disulap Kanaya beserta ketiga sahabatnya menjadi sebuah perpustakaan yang mewah full AC dilengkapi dengan semua jenis buku. Dari buku pelajaran sampai buku-buku cerita lainnya.

Sebagian dari karyawan Ayah Kanaya termasuk kelima anak jalanan itu bekerja mengelola perpustakaan mini milik Kanaya. Dan banyak juga karyawan-karyawan baru yang direkrut dari pemuda dan pemudi di desa terpencil itu. Hadirnya perpustakaan mini tersebut membuat masyarakat desa terpencil itu bagaikan mendapat nikmat dan karunia yang luar biasa. Mereka yang dulunya haus dan buta dengan pengetahuan kini sudah dapat mengenyam pendidikan secara gratis dan nyaman senyaman anak-anak orang ellit di luar sana. Betapa tidak, ruangan membaca dan belajar didesain sangat indah dan mewah disertai semprotan AC nan sejuk dan segar. Perpustakaan mini itu dibangun begitu luas oleh Ayah Kanaya dan dilanjutkan polesan oleh Kanaya sendiri. Disamping itu donatur untuk perawatannya yaitu Ayla, Ega dan Ratna. Mereka adalah sahabat Kanaya dari kecil. Sekaligus itu adalah cikal bakal perpustakaan dikala mereka kecil dulu. Kini dikembangkan oleh Kanaya untuk dimanfaatkan oleh masyarakat-masyarakat desa yang rata-rata kurang mampu baik dari segi ekonomi maupun sosialnya. Perpustakaan mini tersebut kini sudah menjadi trending topik di kota tempat tinggalnya. Banyak pengunjung yang mengunjungi perpustakaan mini itu. Tak terkecuali para dosen dan orang-orang penting lainnya. Setelah sampai berita ditelinga ketiga sahabatnya Kanaya, mereka memutuskan untuk menjadi donatur tetap dalam mengelola dan membangun perpustakaan mini itu. Kanaya dan ketiga sahabatnya juga sering mengadakan reunian di perpustakaan mini itu. Bahkan mereka membuat ruangan khusus berempat untuk mengadakan pertemuan sambil sesekali mengenang masa kecil dulu. Tak disangka perpustakaan mini yang dibuat Bunda untuk Kanaya dan teman-teman sudah menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat bagi orang lain. Dan itu akan menjadi sedekah jariyah bagi keluarga Kanaya dan juga ketiga sahabatnya. Aku sangat puas dan bahagia bisa membantu orang-orang yang sangat membutuhkan. Perpustakaan mini ku yang dulunya terdapat di sudut teras rumah kini menjadi perpustakaan mini nan megah dan mewah.

 

SI CORONA BERSAMA RAMADHAN

Oleh : Erna Putri Razali

 

Pada 11 Maret 2020 lalu, World Health Organization (WHO) sudah mengumumkan status pandemi global untuk penyakit virus corona 2019 atau yang juga disebut corona virus disease 2019 (COVID-19). Virus Corona alias COVID-19 yang telah ditetapkan sebagai pendemi global ini pertama kali ditemukan di Wuhan, Tiongkok. Dalam istilah kesehatan, pandemi berarti terjadinya wabah suatu penyakit yang menyerang banyak korban, serempak di berbagai negara. Sementara dalam kasus COVID-19, badan kesehatan dunia WHO menetapkan penyakit ini sebagai pandemi karena seluruh warga dunia berpotensi terkena infeksi penyakit COVID-19.

Gejala virus Corona diantaranya demam tinggi, sesak napas, batuk kering, sakit tenggorokan, sakit kepala, nyeri dada, dan dibeberapa kasus ada yang sakit perut, tidak nafsu makan serta diare. Masyarakat haruslah  meningkatkan daya imun tubuh dengan disiplin menerapkan pola hidup sehat. Resiko terkena virus Corona bisa diminimalisir dengan sering mencuci tangan dengan bersih, menghindari menyentuh wajah, hidung, atau mulut, menghindari kontak langsung atau berdekatan dengan orang yang sakit, menutup hidung dan mulut ketika bersin atau batuk, sementara hindari keramaian,  menjaga jarak dengan orang lain, menggunakan masker.

Solusi awal untuk menghindari virus ini adalah menyayangi tubuh dengan kembali menerapkan pola hidup sehat yaitu dengan makan makanan yang bergizi, bersih dan sehat serta menjaga lingkungan agar terlihat bersih. Penularan penyakit ini sangat cepat melalui kontak fisik dengan orang yang terinfeksi virus. Corona telah memakan banyak korban termasuk Indonesia. Oleh karena itu, semua manusia dibuat dalam kecemasan oleh salah satu makhluk ciptaan Allah yang tak tampak oleh kasat mata ini. Meski namanya begitu indah namun, sifatnya sangatlah menakutkan sehingga bisa membuat manusia terdiam dan menutup diri. Hadirnya Corona di muka bumi membuat bumi sejenak seakan beristirahat dari segala aktivitas manusia, seakan dunia telah sepi.

Ramadhan 24 April 2020 (bertepatan 1441 Hijriah) tiba, namun Corona tetap saja setia menanti. Tak ada tanda-tanda bahwa si Corona ingin pergi. Bahkan di akhir Ramadhan mau berkemas diri, Corona masih saja tetap bersikukuh menelusuri disetiap negeri. Dalam kegelisahan dan kecemasan diri, menjalani ibadah tetaplah terus di update setiap hari. Setiap manusia tidak mau menyia-nyiakan waktu spesial ini, Ramadhan adalah tamu yang selalu dinanti dalam setahun sekali. Namun, cerita tahun ini sangatlah berbeda dari tahun-tahun yang lalu. Kedatangan Si Corona yang masih betah saat ini membuat umat manusia sangatlah bersedih, merasa sangat terusik dengan penyambutan tamu istimewa kami. Ramadhan merupakan tamu istimewa dan sangat spesial bagi segenap umat muslim di dunia. Kehadirannya selalu disambut dengan kemeriahan dan hati yang suci. Kali ini dikeruhkan dengan terlebih dahulu hadirnya si Corona, sehingga kami beribadah di rumah, kerja di rumah dan belajar di rumah. Seakan ketakutan menghadapi dunia luar. Siapakah sebenarnya dirimu wahai Corona ? kami tak pernah mengharapkan kedatanganmu. Dan kau pun datang mengusik ketenangan beribadah kami. Kebiasaan dalam beribadah di bulan Ramadhan berubah drastis dengan hadirnya Corona.

Ramadhan telah tiba, banyak orang menyambut dengan gembira. Demikian pula yang dirasakan oleh keluarga Rania Kayra Qaleesya. Rania adalah nama panggilannya. Gadis yang shaliha hidup dalam keluarga yang berkecukupan namun sangat dermawan. Sama halnya dengan kedua kakak dan seorang adik laki-lakinya. Mereka tumbuh dengan tradisi relegius yang selalu ditanamkan oleh kedua orang tuanya. Norma-norma agama sangat di utamakan dalam segala ativitasnya. Gadis cantik berusia 18 tahun ini sangat bertanggung jawab dalam tugas dan kewajiban-kewajibannya khususnya dalam hal ibadah. Putri dari pengusaha dermawan ini mengelola sebuah organisasi kemanusiaan yang dibantu beberapa temannya.

Kebiasaan Rania dalam mengelola organisasi membuat dia lebih dikenal dibanding kakak-kakaknya. Sifat dermawan gadis ini diturunkan dari ayahnya, dan support ayahnya lah yang membuat dia terus berlanjut bersosial lebih tinggi. Rania dikenal dikalangan teman-temannya sebagai gadis yang humble, santun, religius dan sangat memperhatikan tata krama dalam bersikap. Keindahan wajah dan tutur katanya mencerminkan hatinya yang sangat lembut dan penuh kasih sayang. Ibarat kata, ‘luar dalam, lahir bathin’ baik dimiliki gadis cantik ini. Jadi, tidak heran jika banyak orang yang menyukai dan senang kepadanya. Baik itu dari kalangan anak-anak, orang tua, dewasa, laki-laki dan perempuan. Kehadirannya selalu dinanti teman-temannya.

Saat Ramadhan tiba Rania dan temannya di organisasi seringkali melakukan aksi sosialnya seperti, berbagi takjil (makanan) saat berbuka, dan berbagi makanan saat sahur tiba. Itu dilakukan Rania saat dia berumur 16 tahun sampai saat ini. Dan kerapkali menjelajahi kampung-kampung di pelosok-pelosok untuk mencari warga-warga yang hidupnya masih serba kekurangan. Mereka mendata lalu memberikan santunan sesuai dengan kebutuhannya. Santunan yang diberikan itu berasal dari donatur ayahnya dan keluarga ayah Rania. Tak luput pula santunan tersebut berasal dari Rania dan teman-teman organisasinya. Mereka mempunyai program yang bernama ‘subuh bersedekah’, artinya sedekah yang khusus ditabung pada waktu subuh setiap harinya dalam bentuk celengan masing-masing. Rania dan teman-teman menabung selama setahun  khusus untuk di berikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Aksi tersebut dilakukannya setiap setahun sekali yaitu khusus bulan Ramadhan dengan cara blusukan langsung ke tempat tersebut.

Aksi sosial dan kerja mulia yang dilakukan Rania dan teman-teman terhenti seketika saat bulan Ramadhan kali ini. Sedih bercampur haru mengingat saudara-saudara yang se-iman dan se-agama yang melaksanakan ibadah Ramadhan dalam keadaan perut melilit akibat kelaparan yang dilanda. Seketika airmata menetes di pipi yang yang mulus dan kemerah-merahan itu. Gadis ayu berparas jelita itu sangat lembut hatinya, seketika mengenang perjalanan aksi sosial bersama teman-temannya. Kehidupan mereka tak seberuntung dia dan keluarganya. Ada tersirat rasa ingin mengangkat mereka dari kumuhan yang berlumpurkan genangan-genangan air yang tak berselokan. Terkadang terbersit dalam hati, dimanakah para pejabat negeri yang tak menghiraukan jeritan rakyatnya. Dimanakah pengusaha-pengusaha hebat di negeri ini yang tak pernah mendengar pilu hati rakyat kecil. “Ah, andai aku jadi pengusaha yang kaya raya…? Aku akan tuntaskan kemiskinan di negeri ini’. Tersentak seketika dari lamunannya, saat azan maghrib berkumandang, tiba saatnya berbuka puasa bersama keluarga.

Saat berkumpul di ruang makan, Rania menikmati jamuan makan malamnya bersama keluarga. Dibalik hatinya yang paling dalam terdapat secercah perasaan kagum, bahagia dan bangga melihat orang tuanya. Ayahnya seorang pengusaha yang penyayang lagi dermawan, yang hidupnya tidak pernah luput daripada sedekah dimanapun dan kapanpun itu, sehingga bisa menjadi contoh teladan bagi Rania dan saudaranya.  Ibunya Rania adalah seorang guru Sekolah Dasar yang sangat berdedikasi di tempatnya dan merupakan guru teladan bagi semuanya. Meski sudah tidak muda lagi ibu Rania masih sangat sejuk dipandang mata dan kecantikannya masih jelas terlihat. Semacam kata orang-orang ibunya Rania awet muda, cantiknya gak ilang-ilang meski anak-anaknya sudah dewasa. Memang Rania adalah full fotocopy dari ibunya, cantik lahir dan bathin.

Rutinitas keluarga Rania beribadah tarawih di Mesjid, tadarus bersama, i’tikaf di tempat yang mulia, tak di jalaninya tahun ini, semua itu karena Corona. Corona oh corona kapankah engkau enyah di muka bumi ini. Kendati demikian ibadah yang biasa Rania lakukan selama bulan Ramadhan tetap istiqamah dijalankan, meski semuanya di rumah saja. Rania beribadah di rumah bersama keluarga, belajar bersama dengan keluarga dan juga bekerja di rumah. Bahkan untuk melakukan buka puasa bersama dengan keluarga besar dan kerabat pun tak dialaminya tahun ini. Sedih rasanya namun Rania memahami hal ini, semua pasti ada hikmahnya.

Disela-sela menantikan saat Isya tiba, Rania dan keluarga saling bercengkrama dan berbagi cerita bersama. Dalam hal tersebut Rania menyampaikan niat mulianya kepada Ayah dan anggota keluarga lainnya. Rania mengajak keluarganya untuk membuat sebuah celengan di rumah tepatnya di ruang tempat mereka shalat berjamaah (Mushalla di dalam rumah). Kebiasaan Rania dan keluarga di rumah selalu shalat berjamaah. Nah, di sana nanti (celengan yang dimaksud) setiap kita akan menyumbangkan atau masukkan uang ke dalam celengan tersebut sebelum melakukan shalat dengan jumlah uang seikhlasnya dan di waktu shalat subuh saja. Namanya ‘subuh bersedekah’, karena Rania pernah dengar ceramah ketika ikut pengajian tentang kedahsyatan sedekah di waktu subuh. Keutamaan sedekah di waktu Subuh itu adalah, didoakan Malaikat, bahwa siapa pun yang melaksanakan sedekah subuh maka baginya diberi kemudahan rezeki. Dilipat gandakan hartanya, dihapuskan dosanya, menolak bala dan terhindar dari su'ul khotimah. Nanti setelah uangnya banyak kita sumbangkan kepada yang membutuhkan, seperti yang telah Rania lakukan dengan teman-teman. Usul Rania tersebut disambut respon yang sangat positif oleh ayah dan keluarganya. Bahkan ayahnya berkata “ayah bangga punya anak seperti ini, gadis cantik, shaliha dan dermawan lagi” sambil mencubit lembut hidung mancungnya. Serentak kedua kakak dan sibungsu memeluk erat adik mereka yang sangat jelita itu, di susul pelukan hangat dari sang ibu sambil meneteskan airmata dipipi yang lembut miliknya. Serta merta ayah juga ikut memeluk dari belakang punggung sang ibu. Terasa sangat harmonis dan sakinahnya keluarga tersebut. Keluarga yang diidam-idamkan oleh segenap umat.

Rania mengajak ‘subuh bersedekah’ kepada anggota keluarganya karena setelah dilihat betapa bermanfaatnya uang yang ditabung Rania dan teman-temannya untuk disumbangkan kepada orang yang membutuhkan itu. Rania melakukan aksi ‘subuh bersedekah’ bersama teman-temannya ternyata belum pernah diceritakan kepada anggota keluarganya. Sedekah subuh memiliki keutamaan dibandingkan sedekah pada waktu lainnya. Saat sebagian orang masih terlelap, kamu sudah sibuk meraih ridha Allah SWT dengan bersedekah. Tak selalu berupa uang, sedekah subuh juga bisa dilakukan dengan berzikir, membagi makanan, mengajar ngaji, atau melakukan kebajikan lain yang bersifat sosial. Sedekah subuh dimulai sejak azan subuh sampai terbit fajar. Lakukan sedikit demi sedikit sampai kamu bisa konsisten setiap hari. Kini amalan tersebut sudah menjadi tradisi dan terus istiqamah dalam keluarga Rania.

Nah, kali ini karena tidak bisa melakukan aksi bersedekah dengan cara blusukan ke kampung-kampung akibat covid-19 ini, sehingga membuat Rania lebih banyak waktu di rumah bersama anggota keluarganya. Dan ide dia tersebut dapat dicurahkan kepada keluarganya. Insya Allah sumbangan kita Ramadhan depan bisa lebih banyak lagi dari biasanya karena dengan bertambahnya tabungan dari keluarga Rania. Mungkin ini salah satu hikmah corona tidak bisa kemana-kemana dan tetap di rumah saja. Sedekah di Ramadhan tahun ini kita bagikan sembako-sembako yang disalurkan kepada korban covid-19 dan untuk paramedis yang berada di garda terdepan. Meski di rumah saja Rania tetap istiqamah dalam melakukan aksi sosialnya bersama teman-temanya yaitu melalui jarak jauh. Sembako-sembakonya itu diminta salurkan melalui ojol yang datang ke rumahnya.

“Masyaa Allah…!! nikmat banget rasanya, seneng, dan gembira banget rasanya bisa buka puasa bareng keluarga tercinta”. Itu yang dirasakan Rania pada saat buka puasa bersama keluarga di Ramadhan pertama. Hikmah lainnya yang didapat Rania pada Ramadhan kali ini adalah bisa full beribadah bareng bersama keluarga dan sahur bersama. Sedangkan dulu Rania lebih banyak menghabiskan waktunya di luar bersama teman-temannya dalam rangka aksi sosial bersedekah dengan cara blusukan ke kampung-kampung. Kini lebih banyak punya waktu bercanda bersama, saling berbagi cerita dan memasak bersama di rumah. Indahnya hidup ini jika setiap cobaan yang menimpa kita disikapi dengan bijak dan selalu tetap bersyukur atas apa yang diberikan oleh Allah sang maha kuasa.

“Kendati demikian Rania juga sangat merindui shalat berjamaah di Mesjid, bisa berkumpul-kumpul lagi dengan sahabat dan kerabatnya, bisa kuliah belajar bersama, dan makan bersama serta reuni buka bareng bersama alumni yang dulunya seringkali setiap tahun diadakan. Tapi apa hendak dikata, kondisi bumi kita belum pulih dengan wabah Corona. Ya Allah berikan kesembuhan bumi kami dari wabah Corona ini. Jauhkan kami dari segala wabah penyakit. Allahummal fa’nal ghola’ wal bala’ wal waba’, Fii dun’ya khossoh Fi baladina Indonesia (Ya Allah hindari kami dari kekurangan pangan, cobaan hidup, dan wabah penyakit, di dunia khususnya di Negara kami Indonesia). Hasbunallah wanikmal wakil (cukuplah Allah sebagai penolong kami). Cukuplah sekali ini saja kami menikmati Ramadhan bersama Corona. Semoga kami dapat mengambil ibrah dan manfaat dari cobaan ini. Dan selalu sadar akan nikmat yang telah Engkau berikan ya Allah”.  Ungkap Rania sambil menutup diary warna Pink-nya yang bersampulkan gambar model muslimah dihiasi gembok merah muda.

Seketika gadis belia itu mengambil wudhuk untuk melakukan 2 rakaat shalat tahajud untuk memulai harinya. Dilanjutkan dengan sahur bersama, subuh berjamaah di rumah dan tadarus bersama keluarga tercinta. Sampai tiba waktu shalat dhuha, mereka terus melakukan ibadah Ramadhan secara bersama-sama. Rutinitas tersebut dilakukan secara terus menerus dan semakin istiqamah sampai di luar bulan Ramadhan sekalipun. Begitulah kehidupan keluarga Rania di bulan Ramadhan bersamaan dengan hadirnya corona. Si corona datang dalam bulan Ramadhan ini tidak selalu berdampak buruk bagi sebagian orang. Tergantung siapa yang menyikapinya dan bagaimana cara menyikapinya.

Ramadhan bersama corona ternyata juga membuat banyak manfaat bagi semuanya. Si Corona datang menyadarkan sebagian orang yang telah lalai dalam dunia, lupa akan dosa-dosa yang telah lalu. Lalai dengan gemerlapnya keindahan dunia yang fana. Semoga Allah memberikan hidayah kepada orang-orang yang telah lalai dalam perintah-Nya. Amin ya rabbal ‘alamin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TUKANG BECAK BERGELAR DOKTER

Oleh : Erna Putri Razali

 

Amran, sama halnya dengan tukang becak lainnya. Selalu mangkal dipersimpangan bersama abang-abang tukang becak lainnya. Dia lah abang becak yang paling muda usianya. Sejak ayahnya sakit-sakitan Amran sering menggantikan posisi ayahnya mencari nafkah untuk keluarganya, disamping ia tetap melanjutkan sekolah. Amran masih duduk dibangku kelas satu SMP. Ibunya Amran sebagai ibu rumah tangga juga sering menjajakan makanan di jalan-jalan bersama adik perempuannya untuk menambah-nambah kebutuhan biaya sekolah Amran. Kedua orang tua Amran bukan lah orang yang berpendidikan, mereka hanya lulus Sekolah Dasar. Maka dari itu kedua orang tua Amran menginginkan Amran dan adiknya menjadi orang sukses dan berpendidikan tinggi. Karena hanya berprofesi sebagai tukang becak kehidupan Amran dan keluarganya sangatlah sederhana dan bahkan bisa dikatakan kurang. Mereka tinggal di sebuah rumah kontrakan yang mungkin cuma layak disebut kamar. Tapi bagi mereka itu sudah lebih dari cukup. Tidak ada yang istimewa dari kehidupan sehari harinya. Pagi-pagi Amran ke sekolah dengan becaknya. Ketika pulang sekolah lanjut untuk mencari penumpang sampai sore hari dia baru pulang ke rumah, setiap hari seperti itu.

Namun demikian ada hal yang menarik dan yang membuat Amran berbeda dari tukang becak lainnya bahkan dari kebanyakan orang-orang. Amran mempunyai sifat yang sangat jujur serta selalu menjaga shalat diawal waktu dan selalu dia lakukan di Mesjid secara berjamaah. Kendati ia masih sangat belia, Amran mengikuti jejak ayahnya. Itu adalah kebiasaan dan nasehat yang diajarkan Ayahnya Amran. Dari kecil Amran sudah membiasakan diri shalat tepat waktu secara berjamaah di Mesjid bersama ayahnya. Dan itu sudah menjadi kebiasaannya sehari-hari dimanapun dia berada, ia selalu menyempatkan untuk shalat tepat waktu. Seiring berjalannya waktu ayah Amran tak tertolong dari penyakit yang dideritanya. Dan ia menghembuskan nafas terakhir dengan membawa penyakit yang tak kunjung sembuh dikarenakan kekurangan ekonomi yang dilanda keluarga mereka. Kesedihan yang amat mendalam menyelimuti Amran dan keluarganya. Dua tahun berjalan, kini Amran telah masuk ke sekolah menengah atas. Untuk terus melanjutkan studinya dia harus lebih rajin lagi dalam mencari nafkah. Apalagi kini adiknya juga sudah masuk sekolah dasar. Amran akan menjadi tulang punggung keluarganya. Ia harus tabah, kuat dan tegar dalam menjalani hidup untuk adik dan ibunya. Meskipun demikian Amran tetap semangat dan terus menjadi pribadi yang baik dan jujur serta menjaga shalat di awal waktu secara berjamaah. Itu terus ia lakukan setiap hari.

Sayangnya kadang penghasilan dari membecak ini sering kali hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari saja, sehingga Amran mesti memutar otak untuk mendapatkan tambahan uang, tapi modalnya tidak ada. Hanya becak yang ia punya. Amran hanya dapat mencari nafkah dari hasil membecak saja. Suatu hari Amran berfikir ingin mengganti tempat mangkalnya yaitu yang lebih dekat dengan Mesjid. Meskipun penumpang tak ada tapi ia bisa terus menjaga shalatnya secara berjamaah diawal waktu. Itulah motto hidup Amran. Menjadi pribadi yang jujur dan menjaga shalat lima waktu. Kebetulan tempat mangkal Amran yang baru dekat dengan hotel berbintang.

Ketika pulang sekolah dan menggantikan seragam putih abu-abu, Amran langsung menuju ke tempat mangkalnya itu. Jalanan macet tak bisa dilewati mobil. Tapi Amran tidak merasakan kemacetan itu dikarenakan becaknya bisa melewati jalan pintas. Tiba-tiba ditengah jalan ada seorang bapak-bapak yang buru-buru jalan kaki menyetop becaknya Amran. Si Bapak meminta tolong kepada Amran untuk mengantarkannya, karena tiba-tiba ban mobilnya kempes sekaligus jalanan pun macet parah. Mobilnya ditinggal bersama sopir dan dia harus segera tiba di kantor karena ada meeting mendadak. Lalu Amran mengantarkan bapak tersebut ke tempat bekerjanya di sebuah lokasi gedung mewah, tentu tempatnya orang-orang kaya bekerja. Pikir Amran sejenak. Setelah mengantarkan si bapak tersebut Amran kembali menuju ke tempat mangkalnya. Saat menunggu-nunggu penumpang, sekilas terbayang wajah lesu almarhum ayahnya. Amran merasa sangat prihatin dan sedih karena akibat kekurangan ekonomi ayahnya tak terselamatkan. Dalam hatinya ber-azzam “aku harus bisa melawan kemiskinan ini, aku akan bercita-cita menjadi dokter agar tidak ada nasib yang sama dengan ayahku”. Seketika menerawang melihat kanan kiri, Amran melihat sebuah tas berwarna hitam di dalam becaknya. Langsung Amran membuka tas dan ternyata isinya berupa uang dollar yang kira-kira berjumlah 100 miliyar. Betapa kagetnya Amran melihat uang sebanyak itu, jantungnya hampir copot. Jangankan memegang melihatpun tak pernah. Buru-buru Amran menutup kembali tas tersebut. Pikirannya tak karuan semacam ada jin jahat dan jin baik sedang bertengkar menggoda iman dan kejujuran Amran. Namun Amran tetap bersikukuh ingin mengembalikan uang tersebut. Meski merasa mendapatkan rezeki nomplok, ia tak lantas gelap mata. “ini pasti milik bapak yang rapi dan gagah tadi”, gumam Amran. Seketika Amran mencari kembali jalan menuju ke sebuah gedung mewah tadi siang saat ia mengantarkan seorang bapak-bapak. Sesampainya di sana Amran malah di usir oleh satpam. Setelah berusaha ngomong dengan satpam maksud dan tujuan ia ke sana, akhirnya Amran hanya bisa menyerahkan tas tersebut melalui satpam. Azan pun berkumandang Amran bergegas menuju ke Mesjid untuk melaksanakan kewajibannya sebagai hamba Allah yang taat dan selalu bersyukur walau dalam keadaan bagaimanapun. Setelah menunaikan shalat ashar Amran selalu menadahkan tangannya kepada Yang Maha Kuasa dan melangitkan doa untuk kedua orang tuanya.

Keesokan harinya Amran kembali lagi melakukan rutinitas seperti biasa. Ke sekolah bersama adiknya dan dilanjutkan dengan membecak. Tak ada rasa lelah dan putus asa di hati sang pemuda shalih tersebut. Dengan penuh keikhlasan ia meniti hari sebagai tulang punggung dari keluarganya sejak ayah telah tiada. Hari ini terasa sangat terik terasa hawa panas menggerogoti kerongkongannya. Sebotol air putih menyejukkan dahaganya yang tiba-tiba disodorkan oleh seorang ibu-ibu setengah baya yang bernampilan bak wanita sosialita. Beliau meminta untuk di antar ke salah satu tempat perbelanjaan seraya menyodorkan sebotol minuman kepada Amran saat Amran memegang-megang tenggorokannya. Ibu tersebut baru keluar dari dalam hotel beserta asistennya. Amran mengambil minuman yang diberikan ibu tersebut sambil mengucapkan terimakasih. Dan Amran merasa aneh sambil bertanya,

“gak salah bu.. naik becak..?”. Amran tidak yakin sama sekali dengan melihat penampilan mewah ibu tersebut yang masih sangat cantik meski sudah tidak muda lagi.

“nggak dek, jalanan macet biar mobil tinggal di hotel aja sekalian sopir saya juga istirahat”. Jawab si ibu dengan ramah.

Maka diantar lah si ibu bersama asistennya tadi ke pusat perbelanjaan yang dia minta. Amran pun mengayuh becak masih dalam keadaan tak percaya dan kaget.

Di tengah perjalanan terdengarlah suara adzan dari Mesjid. Amran langsung belokkan becak ke pelataran parkir Mesjid. Si ibu pun heran dengan apa yang dia lakukan. “kenapa berhenti dek ?" tanya si ibu

"iya bu, sudah adzan. Saya shalat ashar dulu ya bu.. ibu turun di sini saja, tokonya sudah dekat kok bu, 100 meter lagi dari Mesjid ini. Ibu gak usah bayar juga nggak apa apa". jelas Amran dengan tenangnya.

"tanggung dek, lagian saya takut nyasar. Saya belum pernah ke kota ini. Lagian saya juga mau keliling-keliling dek. Ternyata asik juga naik becak sore-sore gini" kata si ibu sambil tersenyum.

"kalau ibu mau saya antar lagi, saya shalat dulu ya bu.." kata Amran ramah dan tetap menjaga kesantunannya dikala menghadapi orang yang lebih dewasa.

Setelah selesai shalat Amran pun kembali menuju becaknya dan ternyata si ibu dan asistennya masih nunggu di becak. Kemudian di antarkanlah si ibu tadi keliling-keliling kota dan berhenti di pusat perbelanjaan.

“tunggu disini ya dek, nanti antarkan saya lagi ke hotel”. Kata si Ibu.

“baik ibu, nanti kalau pas ibu balik ke becak saat Maghrib ibu tunggu aja dulu di sini ya bu, ”. jelas Amran.

Setelah shalat maghrib sesuai dengan janjinya Amran mengantarkan kembali si Ibu ke hotel. Di dalam perjalanan si Ibu bertanya kepada Amran.

“masih sekolah dek..?”

“masih bu..”. jawab Amran singkat.

“kenapa mau narik becak.. orang tuamu dimana..?”. Lanjut si Ibu ingin tau tentang Amran. Dan penasaran dengannya, seorang pemuda yang seharusnya menghabiskan waktu mudanya dengan senang- senang. Namun yang dilakukan Amran mencari nafkah serta yang paling dikagumi si ibu ketaatannya dalam beribadah. Disiplinnya dalam menjaga waktu shalat. Sementara dirinya yang sudah jauh berbeda umur dengannya masih saja sering menunda-nunda waktu shalat bahkan melalaikannya demi kepentingan pekerjaan dan meeting dimana-mana. Sebaliknya dengan Amran demi shalat di awal waktu dia berani meninggalkan penumpang di becak. gak peduli dibayar atau tidak. “Subhanallah..? sungguh mulianya hati anak ini..”. Si ibu membatin.

“Ayah saya sudah meninggal bu, tiga tahun yang lalu. Saya membantu ibu mencari nafkah untuk kebutuhan kami sehari-hari dan biaya sekolah. Ibu saya sebagai ibu rumah tangga juga menjajakan makanan di pinggir-pinggir jalan”. Jelas Amran. Seketika si Ibu mengeluarkan airmata mendengar Amran menceritakan kisah hidupnya.

“kamu masih sekolah dek..”. tanya si Ibu dengan suara yang agak serak karena menahan sedih saat mendengar ceritanya Amran.

“masih bu.. kelas tiga SMA”.

“kamu punya cita-cita apa dek..?”. Lanjut si Ibu.

“jadi malu saya bu...”

“kok malu..”

“saya malu bu, menceritakan cita-cita saya ke ibu. Secara saya gak mungkin menggapai cita-cita yang saya inginkan. Gak punya uang saya bu.. hheee”. Kata Amran sambil tertawa terkekeh-kekeh.

“tapi bolehkan dek, saya tau cita-cita adek”.

“mmm… iya bu, boleh. Saya bercita-cita ingin menjadi dokter bu. Saya ingin sekali mengobati orang-orang sakit yang tidak mampu secara gratis. Karena saya tidak mau orang lain merasakan seperti yang ayah saya rasakan. Karena keterbatasan biaya nyawa ayah tak terselamatkan”. Kenang Amran dengan mata berkaca-kaca.

“Masyaa Allah.. sungguh mulia hatimu dek..”. Puji si Ibu dengan suara seraknya, lagi-lagi menahan sedih mendengar cerita perjuangan hidup pemuda shalih itu.

“trus.. rumahmu dimana..?”. Lanjut si Ibu.

“waduuh.. emangnya kenapa bu..?”. Tanya Amran penasaran.

“saya mau kenal sama ibumu dan keluargamu”.

“ya ampun, jangan bu.. gak usah bu... Rumah saya jauh bu, lagian di rumah saya gak ada apa-apa kok”. Jelas Amran.

Si ibu terus memaksa. Setelah menunggu si ibu shalat jamak maghrib dan isya di hotel mereka pun pergi ke rumah Amran. Sementara Amran juga baru balik dari Mesjid guna melaksanakan kewajibannya seperti biasa. Malam itu juga si ibu ke rumah Amran. Tapi kali ini Amran naik becak sendiri dan si ibu membuntuti becaknya Amran dengan mobil mewah milik pribadinya. Sesampai di kontrakan Amran. Si ibu begitu kaget melihat rumahnya yang sangat kecil tapi kok berani tidak dibayar demi shalat. Saking penasarannya si ibu memberanikan diri untuk bertanya.

"dek...kok berani nggak dibayar waktu di Mesjid tadi ?"

"rezeki itu bukan dari pekerjaan kita ibu, rejeki itu datangnya dari Allah, saya yakin itu. makanya kalau Allah memanggil, kita harus dateng. Kalau kita lari dari rezekinya untuk mengejar Allah dan memenuhi panggilan-Nya, maka rezeki itu akan mengejar kita" kata Amran polos. Si ibu pun lantas terdiam sambil meneteskan airmata mendengar kata-kata Amran. Dia masih muda belia tapi mempunyai sifat yang bijak dan luar biasa.

Sesudah dikenalkan dan ngobrol banyak dengan ibunya Amran. Si ibu pun pamit sambil meminta Amran mengantarkannya kembali minggu depan.

"Insya Allah saya siap bu.." kata Amran dengan penuh semangat.

Si ibu pun pamit sambil memberi ongkos becak dalam bentuk amplop berwarna putih kepada Ibunya Amran. Setelah si ibu pergi, Amran membuka amplop tersebut dan ternyata isinya 2 juta rupiah. Amran dan keluarganya pun kaget dan bersyukur atas apa yang telah Allah berikan melalui si ibu tadi. Ibunya Amran langsung bersujud syukur atas nikmat yang Allah berikan. “Alhamdulillah ya Nak.. uang ini bisa kita bayar SPP Amran yang sudah jatuh tempo”. Ucap ibu sambil terisak haru. “iya bu..”. jawab Amran singkat sambil memeluk ibunya.

Seminggu kemudian sesuai dengan tempat dan waktu Amran mendatangi hotel tempat si ibu janjikan. Setelah bertanya pada satpam, Amran  tidak diperbolehkan masuk. Satpam tidak percaya ada tamu hotel bintang 5 janjian sama tukang becak. Namun Amran tidak memaksa dia kembali ke becaknya yang ia parkir tidak jauh dari hotel. Naah... itu pula yang sering sekali kita lakukan. Kita melihat orang dari penampilan luarnya saja. Padahal Allah tidak pernah melihat pangkat, jabatan, pekerjaan, warna kulit bahkan bentuk fisik mereka. Allah hanya melihat ketaqwaan dan hati hamba-Nya. Karena penasaran Amran gak masuk-masuk ke lobby hotel. Akhirnya si ibu keluar dan melihat Amran sedang tertidur di becaknya. Kali ini si ibu datang berdua dengan suaminya. Ternyata si ibu sudah menceritakan semua kepada suaminya itu tentang Amran.

“kenapa gak masuk dek..?”. kata si Ibu sambil membangunkannya.

“gak boleh sama satpam bu..”. jawab Amran singkat.

“Dek, kenalin ini suami ibu…”. Si ibu mengenalkan suaminya kepada Amran.

Sambil mengulurkan tangannya menyalami si bapak yang tampan berpakaian rapi nan gagah berdiri disamping isterinya yang tak kalah cantik bak bidadari. Tiba-tiba keduanya saling bertatapan lama seakan pernah berjumpa sebelumnya. Amran tentu masih sangat mengenal wajah si bapak tersebut. Si bapak berkata sambil menunjuk ke arah Amran, “kamu laki-laki yang pernah ngantar saya waktu itu kan..?”

“iya pak..?”

“ya ampun.. dek. Saya minta maaf saking terburu-burunya saya karena takut terlambat meeting, saya jadi lupa mau ngasi ongkos becaknya. Ketika saya kembali kamunya sudah tidak ada lagi”.

“tidak apa-apa pak, saya ikhlas kok bantuin bapak”. Jawab Amran sambil tersenyum.

“Oh iya.. ini Ma, laki-laki yang pernah Papa ceritakan ke Mama. Dia anak yang sangat jujur mau mengembalikan tas Papa yang isinya uang ratusan milyar”. Jelas si bapak kepada istrinya.

“ternyata dunia ini sempit ya Pa, pemuda yang kita bicarakan adalah orang yang sama”. Ucap si Ibu Sambil tersenyum melihat Amran dan suaminya.

Kedua suami istri tersebut sama-sama mengambil pelajaran yang sangat berharga dari kisah tukang becak yang masih belia namun begitu jujur, shalih dan disiplin dalam menjaga shalat lima waktunya. Seketika sepasang suami istri ini juga melakukan perubahan seperti apa yang Amran lakukan. Shalat selalu berjamaah dan diawal waktu. Mereka berfikir selama ini selalu disibukkan dengan kegiatan duniawi saja, terlalu mengejar dunia. Sering menunda-nunda shalat hanya karena takut terlambat meeting. Sementara keduanya adalah merupakan pengusaha-pengusaha besar, tentu jika masalah finansial tak perlu diragukan lagi. Sejak saat itu mereka sudah istiqamah dan fokus dalam melaksanakan ibadah serta shalat di awal waktu.

“Oh ya, Amran saya panggil kamu Nak Amran saja ya.. secara usia kamu beda tipis dengan putri ibu”. Ucap si Ibu sambil mengajak Amran masuk ke mobilnya untuk diajak jalan-jalan.

“boleh bu..”.  jawab Amran sambil tersenyum manis.

Amran sebenarnya makin penasaran mau diajak kemana dia sama si bapak dan ibu yang baik hati ini. Ingin bertanya namun Amran mengurungkan niatnya. Dia pasrah dibawa kemana saja. Sesampai di sebuah rumah yang sangat mewah menurut Amran. Mobil yang terkesan mewah pula itu pun berhenti. Si bapak dan si ibu mengajak Amran masuk melihat-lihat keadaan rumah tersebut.

          “kamu suka Amran..?” tanya si Ibu.

          “maksudnya bu…?” Amran balik tanya penasaran.

          “rumah ini untuk kamu dan keluargamu Amran..” Lanjut si bapak.

          “mmmmh.... ttttaapii… pak..bu.. saya gak ngerti..?”. saking gugupnya Amran gak percaya dengan kata-kata si ibu dan si bapak.

          “iya nak Amran rumah ini kami beli untuk kamu dan keluargamu”. Jelas si bapak sambil menyerahkan sertifikat rumah, mobil beserta buku tabungan untuk biaya pendidikan Amran dan adiknya. Amran kagetnya luar biasa terasa mau pingsan dan jantungnya mau copot mendengar kalimat yang diucapkan si bapak yang baik hati itu. “Alhamdulillah ya Allah.. atas nikmat rezeki yang telah engkau anugerahkan kepada kami”. Amran seketika bersujud syukur dan terus memuji-muji Allah. Sambil meneteskan air mata tidak hentinya Amran mengucap syukur kepada Allah dan tanpa sadar memeluk si bapak dengan sangat erat sambil mengucapkan termakasih berkali-kali. Dengan mata berkaca-kaca si ibu berkata, "rezeki ini bukan dari saya dan suami saya, ini rezeki dari Allah  untukmu nak Amran kami hanyalah perantaranya”.

"hadiah ini belum seberapa dibandingkan kebaikan dan kejujuran kamu anak Amran dan kamu sangat pantas menerima rezeki seperti ini karena kamu anak yang shalih selalu menjaga shalat diawal waktu dan itu menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi saya dan istri saya. Mudah- mudahan kita semua bisa istiqomah menjaga shalat di awal waktu ya nak" tambah si bapak dengan penuh kekaguman melihat keshalihan Amran. Sikap dan akhlak Amran dapat meluluhkan hati mereka. Akhirnya mereka pun kembali ke hotel namun sebelumnya mampir di Mesjid untuk shalat ashar berjamaah. Setelah shalat Ashar kemudian mereka menjemput keluarga Amran dan berkemas-kemas untuk menempati rumah barunya. Keluarga Amran sangat bersyukur dan bahagia atas nikmat yang diperolehnya. Sesungguhnya setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Maka dari itu janganlah risau seperti apapun yang kini tengah kita jalani. Ikutilah jalur yang telah Allah persembahkan dan nikmati prosesnya yang penting sempurnakan ikhtiar. Jangan lah mengeluh di saat sebagian rencana-Nya tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.

         

Enam tahun kemudian. Di sebuah rumah sakit swasta yang terkesan cukup besar dengan peralatan yang serba canggih. Di sanalah sekarang Amran bertugas yang dulunya wara wiri disepanjang jalan menarik penumpang bersama becak bututnya. Di tengah teriknya mentari seakan tak terasa lagi panas dan hujan kedinginan. Seakan badan sudah kebal dengan keadaan itu. Kini Amran telah tercapai cita-citanya menjadi seorang dokter. Namun pekerjaan membecak itu juga tetap dilakoninya disaaat sesekali menjenguk anak buahnya. Iya, selain sukses menjadi dokter spesialis jantung Amran juga sukses menjadi pengusaha becak. Sementara adiknya Amran juga sedang menyelesaikan gelar dokternya. Kehidupan Amran berubah seratus persen lebih baik. Ia terus selalu berbuat baik dan selalu istiqamah dalam shalatnya. Seperti janjinya dulu ketika dia telah menjadi dokter akan membuka pengobatan gratis kepada orang-orang yang kurang mampu. Ditempat tinggalnya dulu, kini dibangun sebuah klinik pengobatan gratis oleh dokter Amran spesialis jantung. Siapa sangka sikap jujur ternyata mampu mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik dari sebelumnya. Oleh karena itu selalu lah berprasangka baik kepada Allah. Jika Allah yang kita utamakan maka semua akan indah sesuai janjinya.

 

                    

 

 

 

 

REZEKI SUDAH TERTAKAR,  

JODOH TAK PERNAH TERTUKAR

Oleh : Erna Putri Razali

 

“Ya benar. Janji Allah itu tidak akan meleset sedikitpun. Allah telah berjanji akan memberikan rezeki kepada semua makhluk-Nya di seluruh muka bumi. Akan tetapi janji ini tidak dengan “cek kosong”, tidak hanya dengan berleha-leha serta berdiam diri di rumah. Namun seseorang akan mendapatkan rezeki jikalau mau berusaha, berjalan dan bertebaran di seluruh penjuru bumi serta disempurnakan dengan berdo’a. Karena Allah menciptakan bumi dan seisinya untuk kemakmuran manusia. Siapa yang mau berusaha dan bekerja ialah yang akan mendapat rezeki dan rahmat dari Allah SWT”. Khutbah Jum’at yang disampaikan khatib kemarin terus terngiang-ngiang di telinga Hilman. Sampai-sampai tak sengaja sambil berjalan di pinggir perumahan jalan menuju ke rumah kontrakannya, Hilman tersandung dengan batu sehingga mengenai badan seorang bapak paruh baya. Beliau seorang tuna netra yang sering mangkal di pinggir jalan perumahan Elite, sambil berjualan buah-buahan segar. Seketika langsung Hilman menghampiri si Bapak tersebut.

“Bapak tidak apa-apa Pak..?” tanya Hilman dengan tergesa-gesa.

“Tidak Mas, saya tidak apa-apa”. Jawab lembut si Bapak.

“Saya mau beli buah, Pak..”

“Boleh. Ini Mas buahnya, 5000-, ya?”

“Terimakasih, Pak”. Jawab Hilman singkat sambil berfikir. “Bapak ini saja yang tidak bisa melihat begitu semangat mencari rezeki. Kenapa aku yang masih muda dan sehat wal’afiat menyerah begitu saja ya..”  gumamnya.

Lalu secara spontan aku bertanya kepada si bapak.

“Pak. Kalau ada orang kasih uangnya 2000,- terus langsung pulang bagaimana ya pak atau mungkin Bapak ngasi kembalian lebih. Bagaimana itu Pak..? Terus nanti bapak rugi dong?”

“Allah ga akan salah alamat kasih rejeki Mas. Kalo sekarang saya harus rugi, saya yakin Allah pasti lagi nyiapin rejeki lain buat saya.. rezeki setiap kita ini sudah ditakar oleh Allah SWT. Alkisah seorang laki-laki yang bosan dengan kekayaannya. Sehingga beliau berpuluh-puluh juta menyumbangkan harta miliknya. Tiada hari tanpa membagi- bagikan uang kepada orang lain. Tapi uangnya tak pernah berkurang sedikitpun. Bahkan terus bertambah dari hari ke hari. Akhirnya pada suatu hari dia menemui seseorang yang dikenal bijak di negerinya. Beliau itu sering di sapa dengan sebutan Tuan Guru. Dia curahkan semua perihalnya tentang harta yang dimilikinya. Dia tidak sanggup kelak di akhirat ketika dihisab hartanya sungguh berlimpah ruah. Dan orang kaya juga telat masuk Surga dikarenakan terlalu lama dihisab mengenai hartanya. Ia ingin sekali menjadi orang miskin. Karena dia berpikir seyogyanya orang yang kekurangan itu lebih mendekatkan diri kepada Allah. Sementara orang yang bergelimang harta hanyut dalam kekayaannya dan lalai dengan keindahan dunia yang berusia hanya sebatas umur kita. Lalu si laki-laki tersebut diberikan saran oleh Tuan Guru.

“Coba kamu nekat melakukan suatu hal kepada sang Raja, ketika beliau sedang shalat berjamaah”. Kata Tuan Guru.

“Apa yang harus saya lakukan Tuan Guru?” Tanya Si Laki-laki itu.

“Jumat depan kamu harus cari tahu di mana biasanya Raja Shalat Jum’at. Lalu kamu harus berdiri tepat di belakangnya”.

Si laki-laki makin penasaran dengan ide Tuan Guru yang tidak masuk akal tersebut.

“Lalu saya harus melakukan apa Tuan Guru ?”

“Kamu pukul kepala Raja dengan sangat keras”.

“Hanya itu saja Tuan Guru?”

“Iya”.

Si laki-laki tersebut dengan mudahnya mencari tahu tentang kebiasaan Sang Raja melaksanakan shalat Jum’atnya. Dengan mengelontarkan puluhan juta untuk membayar orang mencari informasi dan keberadaan sang Raja. Sesegera mungkin si laki-laki tersebut menyusul Sang Raja. Tepat seperti yang diarahkan Tuan Guru. Laki-laki tersebut berdiri di belakang Raja. Setelah selesai shalat Jum’atnya, si laki-laki tersebut memukul kepala sang Raja dengan sangat keras sampai mahkotanya terjatuh ke bawah.  Seketika itu pula ajudan dan pengawal Raja menangkap laki-laki tersebut dan memenjarakannya. Sungguh senang dan bahagia hati si laki-laki itu. Karena dia merasa sudah dipenjara dan akan menjadi orang miskin. Esok harinya Raja mendatangi si laki-laki itu dan mengucapkan terimakasih serta diberikan hadiah ratusan juta untuknya. Karena Raja merasa berhutang budi kepada si laki-laki itu. Kalau dia tidak memukul kepala Raja tentu Raja akan kesakitan bahkan bisa meninggal dunia karena di gigit kalajengking yang ada dalam mahkotanya.

“Jadi Mas, jika kita memang ditakdirkan Allah menjadi orang kaya atau sebaliknya. Maka bagaimanapun caranya tetap kita dalam lingkaran takdir Yang Maha Kuasa. Rezeki kita sudah ditakar oleh Allah sesuai dengan kemmapuan yang kita miliki. Begitu pula dengan jodoh tidak akan pernah tertukar. Semua akan diberikan sesuai dengan kepribadian kita. Bukankah isteri kita itu adalah tulang rusuk kita sendiri. Jika kita ingin jodoh yang baik, maka perbaikilah dirimu agar jodohmu selaras denganmu. Skenario telah Allah tuliskan jauh sebelum kita dilahirkan, kita hanya menjadi pemainnya. Jadilah kita pemain yang terbaik di mata Allah, agar mendapat hadiah yang setimpal yaitu Surganya Allah”. Hilman begitu terpesona mendengar cerita dari si Bapak tuna netra itu. Banyak hikmah yang dapat di ambil dari perjalanannya hari ini.

“Subhanallah, gemetar hati mendengarnya”. Gumam Hilman sambil mengurut dadanya. Seakan jiwanya tenteram dan semangat hidup semakin membara.

Setelah mendengar cerita yang begitu panjang lebar, Hilman kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumahnya. Hatinya begitu tak karuan antara senang dan gelisah tak menentu. Terasa jiwa kembali di-charger saat mendengar nasehat dan cerita dari si Bapak tuna netra itu. Orang yang punya kekurangan pun masih giat mencari rezeki, kok yang punya kelebihan seperti aku masih malas-malasan tidak mau berusaha lebih giat lagi.

Sejenak dia mengenang sosok perempuan berhijab rapi, memiliki wajah yang sangat rupawan, berkulit putih bersih tentunya sangat cerdas yang ditaksirnya diam-diam. Dia adalah Athiya Anindya, putri bungsu dari 3 bersaudara hidup bersama ayahnya. Ibunya telah meninggal dunia saat Athiya dilahirkan. Kedua kakaknya sudah menikah dan tinggal bersama keluarganya masing-masing. Athiya sering ketemu Hilman disaat mereka sama-sama ke perpustakaan untuk mencari buku referensi. Kala itu Hilman sedang sibuk-sibuknya menyelesaikan tesis, sementara Athiya adalah salah satu mahasiswa kedokteran yang sebentar lagi juga menyelesaikan studinya dan segera menyandang gelar dokter. Wajah gadis itulah yang selalu terbayang-bayang dan mengganggu tidurnya Hilman. Pernah di suatu ruang perpustakaan saat mencari buku referensi untuk menyusun tesis. Hilman nekad menyatakan cintanya. Dengan sangat bersahaja Athiya mengatakan. “saya tidak mau pacaran Mas?, kalau Mas senang dengan saya, silahkan datang ke rumah menjumpai Ayah saya?”. Jawab Athiya dengan lembut dan santun sambil menyerahkan alamat rumahnya kepada Hilman.

Dengan bermodalkan nekad, Hilman mendatangi rumah Athiya dan menjumpai Ayahnya. Tak seperti yang Hilman bayangkan. Ternyata Ayahnya Athiya sangat killer ketika ada lelaki yang ingin serius dengan putri bungsunya itu.

“Kamu punya apa untuk melamar putri saya?”. Tanya Ayah Athiya tegas.

“Ssss..saya sedang menyelesaikan magister saya, Pak?”. Jawab Hilman

gugup.

“Lalu usaha kamu apa?”. Lanjut Ayahnya Athiya tetap dengan gayanya yang

gagah.

“Saya punya warung kelontong, Pak?”. Jawab Hilman seraya menundukkan kepalanya.

“Kamu tahu suami-suami dari kedua kakaknya Athiya alias menantu 

menantu saya. Mereka adalah pengusaha-pengusaha yang sangat sukses dan terkenal di kota ini. Sedangkan kamu... baru mau selesai Magister dan punya warung kelontong mau melamar anak saya?”

Dengan semakin menunduk wajah Hilman memerah menahan malu atas perkataan ayahnya Athiya. Sementara Athiya mengintip dibalik tembok pembatas ruang tamu dengan ruang keluarga. Terasa hatinya sedih dan kecewa melihat sikap ayahnya terhadap Hilman. Merasa sangat tidak adil baginya dibandingkan dengan kedua kakak-kakaknya. Dengan mata berkaca-kaca Athiya segera berlari masuk ke kamar. Sementara Hilman langsung minta izin pamit pulang dengan membawa segenggam kekecewaan.

Hilman kembali fokus menyelesaikan sidang tesisnya. Setelah selesai acara wisuda Magisternya, Hilman ingin mengenang masa-masa terindah saat pertama kali jumpa dengan Athiya yaitu di sebuah ruang baca di perpustakaan dekat kampusnya. Tiba-tiba ia ingin mengunjungi perpustakaan tersebut sekalian mengembalikan sebagian buku yang dipinjamnya. Di sudut meja baca ada seorang gadis berjilbab biru hanya terlihat bagian samping wajahnya saja yang diduga Hilman itu adalah Athiya, namun Hilman enggan menemuinya. Dia kelihatan sangat serius berbicara melalui ponselnya. Kalimat yang sempat terdengar oleh Hilman adalah “Tapi.. siapa yang menemani Athiya berangkat ke daerah terpencil tu, Yah..?. Athiya belum pernah ke sana”..... Hilman segera keluar dari ruangan tersebut.

“Mas Hilman..?”. Suara lembut itu menyapaku.

Segera aku membalikkan badan mencari arah suara tersebut. Terlihat seorang gadis cantik dan semakin menawan dengan balutan gamis berwarna biru muda di hiasi wajah dengan kerudung biru pula.

“Athiya..!”. Sapaku dengan penuh kerinduan melihat wajah cantiknya.

“Selamat ya, Mas?”. Ucap Athiya sambil mengulurkan tangannya.

“Ooh iyaya... terimakasih..!” Sambil ku raih tangan mulusnya itu.

“Kamu bagaimana kabarnya? selamat juga ya.. sudah meraih gelar dokter..? ga apa-apa kan meski sudah terlambat, Hhee..” Candaku.

Athiya hanya tersenyum manis sambil mengangguk.

“Besok saya mau berangkat ke daerah, Mas. Saya ditugaskan ke daerah terpencil. Hanya sendiri pula, ngeri-ngeri sedap juga ya Mas ke daerah sana”. Curhat Athiya kepada Hilman.

Dugaan Hilman benar kalau Athiya butuh bantuan untuk menemaninya ke daerah terpencil itu.

“eemmm... kalau Athiya tidak berani kenapa tidak ajak ayah untuk menemani”. Tanya Hilman mencoba memberi solusi.

“Ayah sedang di luar negeri, Mas. Minggu depan baru balik, Saya berdua dengan bibi di rumah. Jelas Athiya.

 

Di rumah kontrakannya Hilman tinggal seorang diri. Dia sejak kecil sudah menjadi yatim dan ketika berusia 12 tahun ibunya pun meninggal dunia. Setelah lulus dari SMA Hilman menjual peninggalan orangtuanya yaitu rumah, sawah dan kebun untuk melanjutkan studinya di kota. Sebagian dari warisan orangtuanya itu digunakan untuk usahanya yaitu berjualan kelontong. Karena tidak ada sanak saudaranya lagi di desa, Hilman ingin menetap di kota dan berkarir di sana.

 

Ketika malam tiba, Hilman kembali teringat percakapannya tadi siang bersama Athiya. Hilman merasakan Athiya butuh bantuannya, tapi bagaimana caranya. Karena diantara keduanya tidak ada hubungan apa-apa. Terbersit di hati dan terbayang dipikirannya, wajah Athiya yang menari-nari di pelupuk matanya. Kenapa rindu ini muncul lagi..? Setelah sekian lama berusaha untuk melupakannya. Karena Hilman merasa tidak sederajat dan tidak se-level dengan Athiya. Baginya Athiya itu ibarat bintang di langit yang cahayanya kelap kelip, indah mempesona. Dan ia hanya bisa memandangnya saja. Athiya bagaikan bulan purnama yang sinarnya menerangi semua manusia. Aku siapa lah.. hanya seorang anak yatim piatu yang tidak mempunyai modal hidup. Aku mencintainya bagaikan pungguk merindukan bulan. Kenang Hilman dengan hati yang penuh dengan kesedihan.

Setelah shalat subuh. Seperti biasa Hilman berlari-lari pagi. Tidak seperti biasanya pagi itu terasa jalan sangat sepi. Namun Hilman tetap menikmatinya dengan terus berlari-lari disepanjang jalan. Di tengah perjalanan dia mendengar teriakan seorang perempuan minta tolong. Hilman terus berlari mencari suara minta tolong tersebut. Dan ternyata suara itu adalah suaranya Athiya yang sedang di sandra oleh dua orang preman. Semua uang dan perhiasan Athiya dirampok dan karena Athiya melawan untuk membela diri, Kaki dan tangannya sebelah kiri cedera sehingga Athiya tidak dapat berjalan. Akhirnya Hilman membopong Athiya dan membawanya ke rumah sakit terdekat untuk segera ditangani oleh dokter. Seminggu berlalu Athiya di rumah sakit. Hilman sangat telaten mengurusi dan merawat Athiya dengan  dibantu oleh bibinya. Setelah diperbolehkan pulang oleh dokter, Athiya diantarkan ke rumah oleh Hilman. Athiya kembali sehat seperti sediakala. Saat Ayahnya pulang, Athiya menceritakan semua peristiwa yang terjadi pada dirinya kepada ayahnya.

Terlintas nasehat dan cerita dari Bapak penjual buah tuna netra dulu yang pernah Hilman jumpai. Yang paling terekam dalam otaknya adalah ‘rezeki seseorang sudah ditakar oleh Allah sesuai dengan kemampuannya dan jodoh itu tidak akan pernah tertukar’. Saat teringat kata-kata dari bapak tuna netra itu, kembali hatiku sejuk bagaikan tersiram dengan es salju. Motivasi ingin memiliki Athiya kembali membara. Cinta yang sudah lama ingin ia lupakan dikarenakan tidak sederajat, kini mulai bersemi kembali. Aku akan membuktikan kepada ayahnya, bahwa aku pantas bersanding dengan Athiya. Hilman mulai lebih serius lagi dalam usaha kelontongnya dengan membangun tokonya lebih luas dan besar serta memasukkan modal lebih banyak lagi melalui pinjaman koperasi.  Ilmu dalam berbisnis sudah ia dapatkan dibangku perkuliahan bahkan sudah mencapai masternya. Motivasinya terdapat dari kata-kata si bapak penjual buah tuna netra yang dulu pernah ketemu dan Hilman pernah curhat kepada beliau. Karena mendengar kata-katanya begitu menyentuh dan menyemangati hidup Hilman. Hilman memberanikan diri bercerita tentang gadis yang dicintainya, namun harus bermodalkan kekayaan. Sementara dia hanya hidup sebatang kara tanpa ada tempat untuk mengadu keluh kesah. Sehingga si Bapak tersebut melanjutkan kata-kata motivasi kepada Hilman yang bahwa Rezeki, jodoh, maut, sudah diatur oleh Allah jauh sebelum kita dilahirkan ke dunia ini. Jodoh kita tidak pernah tertukar. Kalau memang dia bagian tulang rusukmu, maka ia akan kembali kepadamu dengan berbagai cara yang diatur oleh Allah SWT. Rezeki pun sudah tertakar sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Jangan pernah khawatirkan itu semua. Tugas kita hanyalah ikhtiar, berdoa dan menyadari bahwa sampai kapan pun tiga hal ini tidak akan pernah tertukar. Takdir itu tidak perlu dicari, dia akan hadir jika saatnya datang. Artinya tugas kita di bumi ini adalah menjalankan takdir, bukan mempercepat takdir atau memperlambat takdir. Yang dapat mengubah takdir hanyalah doa. Maka Mas Hilman perbanyaklah berdo’a disamping terus menyempurnakan ikhtiar. “Usaha, ikhtiar dan berdo’a akan aku sempurnakan untuk mendapatkan sesuatu yang kuimpikan, terutama kamu adik Athiya Anindya”. Gumamnya dalam hati sambil tersenyum-senyum bahagia.

Lambat laun usaha Hilman terus melejit. Toko yang dulunya hanya satu sekarang sudah menjadi lima cabang. Seketika itu, ia kembali teringat dengan si Bapak penjual buah tuna netra itu. Hilman ingin kembali berjumpa dengan beliau. Didatanginya si Bapak tersebut di tempat yang pernah ia temui. Setelah ia berkeliling komplek dan bertanya kepada beberapa penghuni komplek perumahan Elite itu, tidak ada yang kenal dengan si Bapak tersebut. Dan bahkan sejak didirikan perumahan tersebut tidak ada yang berjualan disekitarnya kata salah seorang penghuni komplek perumahan Elite itu. Keinginan Hilman untuk membawanya ke rumah dan menjadikan beliau bagian dari anggota keluarganya gagal. Akhirnya Hilman pulang dengan membawa rasa kecewa. Sesampai di rumah, ia kaget melihat sosok lelaki yang sudah beruban namun tetap gagah berdiri di depan rumahnya. Jantung Hilman hampir copot ketika melihat dengan jelas wajah ayah Athiya sedang berada di rumahnya.

“Assalamu’alaikum, Pak..?”

“Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh”

“Apakabar Nak Hilman?” Tanya Ayah Athiya.

“Baik Pak. Mari silahkan masuk, Pak”. Jawab Hilman santun sambil mempersilahkan masuk Ayahnya Athiya.

“Begini Nak Hilman, tujuan bapak datang kemari adalah ingin mengajak Nak Hilman tinggal bersama Bapak dan menjadikan Nak Hilman menantu saya, apakah Anak Hilman bersedia menjadi suami Athiya?”. Tanya Ayah Athiya dengan tegas namun lembut tanpa basa basi.

“Aaa..pa. Pak, saya tidak salah dengar kan Pak?”. Jawab Hilman kaget terasa jantungnya mau copot kedua kali. Hilman merasa dirinya bagaikan mimpi di siang bolong mendengar pembicaraan ayah Athiya.

“Sebenarnya Nak Hilman, sebelum Bapak berangkat ke LN, Bapak sudah berkeinginan ingin menjumpai Nak Hilman, untuk menyatakan ini semua. Tetapi karena Bapak harus berangkat tiba-tiba. Makanya jadi tertunda. Dulu ketika Nak Hilman ke rumah untuk melamar Athiya putri saya bukannya saya tidak setuju, tapi saya ingin Athiya menyelesaikan kuliahnya dulu dan memberikan kesempatan kalian berdua menjadi lebih dewasa dalam bersikap tidak terburu-buru dalam mengambil setiap keputusan. Disamping itu banyak lelaki lain yang ingin melamar putri bungsu saya. Semuanya sama saya perlakukan. Namun, yang sangat berbekas di hati saya Cuma kamu Nak, dikarenakan akhlak kamu sangat baik dengan Athiya. Dan disertai lagi dengan cerita cinta putri saya. Ternyata Athiya mencintai kamu Nak Hilman. Oiya, sebelumnya Bapak mau berterimakasih telah menolong dan mengurusi putri saya ketika dia kerampokan. Bapak juga minta maaf ya Nak, telah merepotkan kamu dan mohon maaf juga atas sikap Bapak dulu ketika kamu datang untuk melamar Athiya. Hilman merasa sangat bahagia mendengar semua kata-kata dari calon mertuanya itu. Subhanallah..Walhamdulillah..Allahu Akbar..!! Hilman sujud syukur dan berkali-kali memuji keagungan Tuhan yang telah memberikan kebahagiaan yang tiada tara.

Usaha Hilman terus melejit. Hilman sudah menjadi pengusaha yang sangat sukses. Sementara itu ia juga membantu usaha dan bisnis-bisnis dari mertuanya itu. Hilman berjanji tidak akan meninggalkan ayah mertuanya sendirian. Dia akan menemani mertuanya selamanya. Ayah Athiya semakin bangga dengan akhlak yang dimiliki Hilman. Meskipun menantu-menantu yang lain juga baik dan sukses, tapi mereka semua terlalu disibukkan dengan pekerjaannya. Hanya setahun sekali mereka menjenguk ayahnya. Itupun jika punya kesempatan. Maka dari itu, ayahnya Athiya tidak mau terulang lagi pada Athiya. Keinginan ayahnya agar suami dari Athiya mau tinggal dan hidup bersamanya serta mempunyai kepribadian dan akhlak yang baik. Ternyata itu ada pada Hilman Kinan. Hilman sangat yakin, jika kita bersungguh-sungguh dan tetap me-nomorsatukan Allah dalam segala hal, maka tidak pernah ada kekecewaan. Allah telah mengatur alam dan seisinya, tentu apapun yang dihidupkan akan mendapatkan rezekinya masing-masing sesuai dengan kesanggupan yang dimilikinya. ‘Rezeki sudah tertakar, jodoh tidak pernah tertukar’. Kata-kata itu sudah menjadi motto dalam hidupnya Hilman.

 

 

 

 

 

 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : CINTA DALAM DOA

0 komentar:

Posting Komentar