CINTA DALAM DOA
Oleh: Erna Putri Razali
Suasana sekolah terasa sunyi dan hening
dengan kicauan burung-burung bernyanyi bersama sang surya yang masih malu-malu
memancarkan cahayanya. Ketika itu jam menunjukkan pukul 06.45 WIB. Hari ini aku
lah yang pertama tiba di sekolah. Tidak seperti biasanya aku yang pertama
membuka pintu gerbang sekolah. Saat melewati ruangan kelas, Tiba-tiba langkahku terhenti seketika saat
melihat seorang gadis manis yang mengenakan jilbab putih hendak meletakkan tas
selempangnya di atas meja. Padahal tangannya sudah bergerak untuk meletakkan
tas diatas meja namun niatnya batal karena dia menyadari seorang cowok yang
berada hampir berpapasan dengan pintu kelasnya sedang menatap ke arahnya. Si gadis
spontan memerah mukanya karena cowok itu menatapnya dengan tatapan yang sangat
lembut. Setiap kali gadis itu bertemu dengan cowok yang berkulit sawo matang
tersebut selalu saling menatap. Entah apa arti tatapan itu? yang jelas si gadis
itu tak pernah berani bicara lebih dekat dengan cowok yang terkenal alim itu
sekaligus kakak kelasnya.
Gadis itu bernama Sabna Shabiraa. Ia gadis
yang lumanyan cantik, manis, pendiam, pintar, alim dan baik hati. Ia termasuk
cewek yang penakut saat berhadapan dengan cowok. Ia cewek yang sangat menjaga
dedikasinya sebagai perempuan muslimah sejati dengan sifatnya yang bersahaja.
Dia merupakan anak yatim yang sudah ditinggal ayahnya sejak berusia 8 tahun.
Saat ini dia tinggal bersama pamannya. Namun dari itu dia tetap menjadi anak
yang manis dan selalu mematuhi perintah orang tuanya. Sifatnya yang begitu lembut,
ramah kepada siapa saja, santun tutur katanya dan dewasa dalam bersikap membuat
semua orang menyukainya. Sabna nama panggilannya dia juga selalu menjadi juara
kelas dari sejak kelas satu Sekolah Dasar. Yah, dia anak yang sangat cerdas dan
disiplin dalam berbagai hal. Gadis manis ini selalu saja membuat orang di sekitarnya
bahagia dengan kepribadiannya yang begitu mempesona. Tidak sedikit para orang
tua menginginkan dia untuk jadi menantunya, padahal Sabna masih berusia belasan
tahun. Demikian pula para pemuda di desanya banyak yang mencoba menaklukkan
hati si bunga desa tersebut. Namun apa dinyana tak seorang pun yang berhasil.
Aku salah satu sang penakluk bidadari itu. Banyak yang aku ingin ketahui
tentang si gadis manis tersebut, secara tempat tinggal kami tidak terlalu jauh
jaraknya. Entah kenapa aku begitu terpesona melihat dirinya. Kepribadiannya
membuat hatiku meleleh, padahal aku juga banyak teman-teman cewek yang mendekatiku
yang juga tidak kalah cantiknya. Tak sedikitpun membuat hatiku tergoda dengan
mereka. Gadis yang bernama Sabna itu memang unik dan spesial daripada
cewek-cewek yang pernah ku kenal.
Nama lengkapku adalah Arjit Murtadha.
Aku sering juga dijuluki teman-temanku sebagai Arjit Singh sang penyanyi
terkenal dari India dikarenakan aku juga memiliki suara emas dan sangat mudah
meniru berbagai suara penyanyi-penyanyi terkenal. Hobiku memang menyanyi,
mengaji dan berdakwah. Terkadang aku juga sering meniru dan mengikuti irama
Qori-qori terkenal di dunia. Dengan kegemaranku seperti itulah teman-temanku
sering menyebutku ustadz Arjit. Pembawaanku yang terkadang mirip ustadz membuatku
sering berdakwah dengan teman-teman sepengajian. Meniru gaya dan mimik
da’i-da’i kondang seperti KH. Zainuddin MZ, Abdullah Gymnastiar, Ustazd Abdul
Somad dan banyak lagi lainnnya. Sehingga aku dianggap lebih sedikit alim oleh
teman-temanku. Tidak jarang pula aku sering disuruh menjadi imam ketika shalat
berjamaah diiringi dengan suaraku yang begitu merdu. Yah, aku sangat dikenal
oleh teman-temanku sebagai qori dan sipemilik suara emas. Alhamdulillah, aku
bersyukur atas apa yang telah Allah anugerahkan untukku. Dengan suara emas yang
aku miliki aku sering mengikuti berbagai perlombaan-perlombaan MTQ, tahfizh,
pidato bahkan pernah menciptakan sebuah grup nasyid. Dengan berbagai perlombaan
tersebut membuat namaku semakin terkenal terutama di sekolah dan di sekitar
tempat tinggalku. Prestasiku di sekolah juga lumanyan bisa diacungan jempol, selalu
mendapat peringkat 3 besar sehingga membuat aku menjadi idola bagi kaum hawa
(sssttt… kepedean dikit gapapa yak). Tapi itu tidak akan membuat hatiku
terpikat kepada siapapun, kecuali kepada gadis manis yang masih menjadi incaran
hatiku.
Sabna selalu menjadi salah tingkah bila Arjit menatapnya.
Ia selalu menguasai dirinya bila merasakan salah tingkah itu. Saat istirahat
tiba aku selalu menyempatkan diri melewati ruang kelas si gadis manis pujaan
hatiku. Yah, aku merasa bagaikan magnet yang menarik diri agar selalu dekat
dengannya, walau aku tau si gadis manis itu merasa malu disaat aku tatap.
Terkadang aku bingung dengan perasaanku sendiri, dikala dekat dengan dia aku
merasa hati deg-degan yang tak karuan dan ingin menatapnya lebih lama. Matanya
yang sejuk dan sendu membuatku ingin terus berlama-lama menatapnya. Astagfirullah…
Astagfirullah… Astagfirullah!. Apa yang telah kupikirkan. Seketika langkahku
memutar arah menuju kantin untuk memadamkan perutku yang sudah keroncongan dari
tadi dikarenakan lupa sarapan pagi.
“Berapa pak Burhan?” tanya Sabna.
“5000,- non”, jawab pak Burhan pemilik kantin.
Suara indah itu tidak asing lagi di telingaku.
Langsung badanku berbalik arah mencari arah suara tersebut. Ternyata dia juga
sedang menikmati secangkir es teh manis bersama Nora teman dekatnya di kantin
pak Burhan tepatnya dibelakangku. Seketika aku ambil posisi dari samping untuk
dapat menatap wajahnya sambil menikmati nasi goreng favorit segenap siswa SMAN
1 SETAPAK, jelas nasi goreng itu buatan istrinya pak Burhan.
Sabna dan Nora asik menikmati secangkir teh sesekali
tertawa renyah sambil bercerita tentang pembahasan mata pelajaran sejarah tadi.
Tanpa sadar Sabna menangkap sepasang mata yang sedang menatapnya dari samping.
Di tengah keramaian begini, Arjit kembali tertangkap basah memandang Sabna
tanpa berkedip sambil melempar senyum manisnya. Sabna tertegun, heran dan
memandang Arjit dengan penuh pertanyaan yang melekat dipikirannya. Apa arti
tatapan itu? Nora selalu berkata, Arjit itu menyukaimu diam-diam dan itu
tandanya dia mencintaimu dengan memberikan sinyal cintanya dengan memandangmu
tanpa berkedip. Begitulah menurut Nora. Jika memang Arjit menyukai Sabna,
kenapa Arjit tidak pernah menyatakan perasaannya dari sejak dulu? Arjit selalu
memandang Sabna dengan aneh dari sejak Sabna kelas satu SMP. Yah, Arjit sudah
mulai menyukai dan merasakan cinta terhadap Sabna sejak SMP. Tapi Arjit hanya
merasakan itu hanyalah perasaan seorang laki-laki remaja yang mulai meranjak
dewasa atau dengan istilah cinta monyet. Saat itu Arjit sedang menduduki kelas
tiga SMP. Arjit selalu memperhatikan Sabna dan selalu memandang Sabna saat di
sekolah, saat istirahat di kantin, di tempat pengajian dan dimana saja dan
kapan saja. Dia selalu memandang Sabna tanpa mendekati tanpa bicara sedikitpun,
meski mereka selalu bertemu dikarenakan satu sekolahan. Mereka hanya mengenal
nama, alamat saja itupun dari
cerita-cerita teman-temannya tentang kepribadian masing-masing. Tanpa
ada pernah saling bertukar pikiran atau saling bercerita satu sama lain
layaknya sepasang muda mudi yang sudah saling jatuh cinta. Mereka hanya diam
dan diam saat berjumpa dan hanya bisa memandang tanpa alasan yang jelas.
Sabna masih terus memandang Arjit. Begitu pula dengan
Arjit yang masih dengan tatapan teduhnya memandang Sabna. Seakan diantara
mereka ada tarikan magnet yang tidak mau menoleh kearah lain. Arjit terus
tersenyum hingga temannya memergokinya. “Terasa makin nikmat ya, menyantap nasi
goreng sambil menatapi sang bidadari”. Ledek Andi teman dekatnya Arjit. Nasi
goreng pun habis disantap tanpa disadari Arjit. Dengan wajah sedikit memerah,
Arjit berusaha menguasai dirinya.
“Woii.. Bro.. dari tadi aku panggil-panggil kamu, gak
noleh-noleh juga. Asyik trus menatap sang pujaan hati, sampai-sampai nasinya
abis tak terasa lagi”. kata Andi dengan senyum nakalnya menggoda Arjit.
“Hushh.. apa-apaan sih kamu Ndi, diam aja kenapa? Nanti
ketauan orang malu aku”. Bisik Arjit sambil menempelkan telunjuknya dibibirnya.
“Emangnya kenapa?”
“Kalau ketauan nanti teman-teman pada bicarain atau
ngegosip aku sama Sabna, kan kasian Sabna nya jadi malu. Apa lagi aku tau dari
cerita teman-temannya yang lain dia tu tipe cewek yang taat beribadah, alim gitu, trus katanya dia
gak mau pacaran. Dan aku pun maunya dia jadi milikku disaat yang tepat. Saat
aku sudah mapan punya penghasilan dan sanggup menafkahinya”.
“Ohh.. gitu? Tapi Bro.. itu pemikiranmu sudah terlalu
jauh, sampai-sampai mapan dan menafkahi segala. Kelamaan Bro.. Entar Sabna-nya
keburu diambil orang”. Sahut Andi manggut-manggut.
“Saran aku nie ya Jit, kamu tuh nyatain cinta dulu ke Sabna.
Kalau gak ntar di sambar orang lain, baru tau rasa lho... Siapa sih yang gak suka
sama Sabna, cewek alim, pintar, baik dan manis lagi”. sambung Andi dengan
tegasnya.
“Biarkan saja dulu, aku yakin sama Sabna dia bukan tipe
cewek gampangan, yang mudah dipacari. Aku percaya sama dia. Saat ini aku mau
konsentrasi dulu untuk ujian akhirku. Setelah itu, aku ingin nyatain perasaanku
ke Sabna”.
“Lagakmu… lama amat kamu membiarkan Sabna bebas. Kamu
yakin pasti mendapatkan hati Sabna.”
“Yakinlah. Justru itu aku sekarang ga mau ngebahas
cinta-cintaan dulu, takut ga konsen saat ujian malah gak lulus. Jadi berantakan
semua”.
“Truss.. kenapa kamu sering memandang dia?”
“Habis.. Dia itu menarik”
“Ah.. katanya mau konsen untuk belajar dan ujian malah
memandang gadis pujaannya”.
“Biar tambah semangat”.
“Full spirit dong”.
“Yah, gitu lah”
Mereka terlibat pembicaraan yang nakal dan hangat.
Meskipun dari nada-nada pikiran dari Arjit sepertinya dia masih meragukan
perasaannya terhadap Sabna. Ia masih ingusan dan bersifat labil. Belum
menemukan arti kedewasaan yang sebenarnya. Entah dari lulus SMA nanti dia
menemukan arti cinta yang sebenarnya. Untuk sekarang biarlah dia
bersenang-senang karena merasa jatuh cinta. Begitupula dengan Sabna. Dia sangat
menyukai Arjit. Dikarenakan sosok Arjit yang tidak pernah neko-neko dengan
cewek-cewek lain. Di mata Sabna, Arjit adalah tipe cowok yang diidamkannya,
alim, suka belajar ilmu agama, pembawaannya tenang, dan baik hati. Menurut Sabna,
Arjit cocok untuk dijadikan imamnya kelak. Dan ternyata keduanya punya visi
yang sama yaitu tidak membuang-buang waktu mudanya dengan berpacaran dan
perbuatan yang sia-sia sehingga mengantarkan mereka jatuh ke lembah kenistaan.
Mereka sadar akan saling menjaga kehormatannya masing-masing. Terutama Sabna
seorang wanita yang harus selalu menjunjung tinggi akhlak dan kehormatannya.
Dia tidak mau merusak izzah dan iffah-nya dengan menjalin hubungan
terlarang itu. Ketika anak-anak adam yang saling mencintai dan saling
berpacaran satu sama lain maka akan timbulnya zina. Keinginan dan hasrat hati
yang bergejolak ingin melakukan ini itu bahkan sampai ke hubungan biologis
tanpa ada ikatan yang sah. Na’uzubillahiminzalik..!. Maka dari itu Sabna
sebagai manusia biasa hanya bisa membatasi diri untuk tidak melakukan pacaran
diusianya yang masih dini yang masih haus dengan ilmu dan pengetahuan. Meskipun
rasa itu tetap menjelma dalam dirinya dan wajar sebagai wanita normal menyukai
dan mencintai lawan jenisnya. Dia sudah jatuh cinta kepada Arjit sejak pertama
kali Arjit memandangnya dengan aneh. Namun rasa cinta yang selalu merasuki
jiwanya selalu ditumpahkan Sabna di atas sajadahnya. Iya, Sabna mencurahkan isi
hatinya kepada sang khalik, sang maha pembolak balik hati, sang penggenggam
hati setiap manusia. Sabna menumpahkan rasa cintanya kepada Arjit hanya dalam
do’anya. Sabna telah menarik pandangannya dari Arjit dan kembali ke kelas
bersama Nora temannya.
Arjit baru pertama kali merasakan jatuh
cinta dan terbayang-bayang akan gadis pujaannya itu. Namun Arjit adalah tipe
cowok yang setia yang tak mudah berpindah kelain hati. Arjit sangat yakin akan
cintanya itu, cinta yang sejati menurutnya. Dan Sabna adalah tulang rusuknya.
Arjit begitu tulus mencintai Sabna meski hanya secara diam-diam sampai menunggu
tiba waktu yang tepat. Yah, waktu dimana dia bisa menjadi seorang pangeran
sejati yang menjemput bidadarinya menunggangi kuda putih yang sudah berhiaskan
tahta. Perasaan hati Arjit sekarang hanya ditumpahkan dalam doa kepada sang
pemilik cinta yang sejati. Berharap akan ada sosok bidadari yang mencintainya
setulus dia mencintai bidadari tersebut. Dan dia itu adalah Sabna Shabiraa sang
pujaan hatinya yang sudah lama mengendap dalam relung jiwa hati Arjit Murtadha.
Dikala malam aku terus berdoa kepada
sang pemilik cinta, mengharap cintaku dan cintanya tetap abadi. Jatuh cinta
begitu indah rasanya bagaikan bunga-bunga bermekaran bertebaran di relung jiwa.
Manisnya wajah itu membuatku tak bisa tidur semalaman, matanya yang sejuk nan
sendu membuat aku pangling tak karuan. Lidahku kelu tak bisa berkata-kata
disaat ku berhadapan dengannya. Hanya kepada-Mu Tuhan ku ungkapkan semua rasa
ini dan aku tumpahkan perasaanku melalui tinta berwarna biru.
Cinta dalam
Doa
Kumencintaimu
dalam diam
Ku mencintaimu
dalam doa
Karena diamku
tersimpan kekuatan
Dan harapanku
hanyalah doa
Cintaku hingga
saat ini masih terjaga suci
Mungkin Allah
akan membuat harapan ini menjadi nyata
Dikemudian
hari
Aku terus
menanti datangnya keajaiban
Untuk
menjemputmu menjadi penjaga hati
Saat ini aku
hanya berpasrah diri
Karena Allah
lah sang pemilik hati
Doa yang
selalu ku panjatkan saat dini hari
Karena wajah
bidadariku yang selalu bersemi di hati
Aku ingin
engkau adalah takdirku
Labuhan hati
pertama dan terakhirku
Puisi ini mewakili semua perasaanku
padanya. Dikala aku tak tau kemana harus mengadu untuk melampiaskan perasaan
hatiku yang gundah gulana. Aku hanya dapat berkata melalui tinta, dapat
berbicara melalui irama, dan dapat bercerita melalui karya. Dan hanya
melampiaskan semuanya melalui doa semata. Aku yakin ini bukanlah obsesi untuk memilikinya,
tapi inilah cinta yang sejati yang ingin aku pertahankan sampai tiba waktunya
nanti. Allah telah menganugerahkan cinta itu kehatiku dan aku akan menjaga
sebaik-baiknya. Dialah penyempurna separuh imanku. Dialah tulang rusukku yang
harus aku jaga kelak. Ohh, Sabna Shabiraa namamu sudah sangat lama terukir
dalam hatiku. Begitulah setiap malam aku lalui, sebelum mata ini terlelap tiada
waktu aku mengingat dan menyebut namanya. Dalam doa terus kuselipkan nama sang
bidadari hatiku.
Ujian Akhir Nasional telah berakhir
sudah lama. Kini aku dan teman-teman seangkatanku menantikan saat-saat yang
paling menegangkan yaitu menunggu detik-detik kelulusan. Semua anak kelas tiga
sudah berkumpul di ruang aula. Kepala sekolah belum juga mengumumkan hasil
kelulusan itu. Tampak mereka sedang kasak-kusuk di tengah aula yang teduh.
Anak-anak tersebut menantikan waktu-waktu yang akan mengejutkan jantung agar
tidak terlalu menegangkan. Mereka ribut sendiri dengan aktifitas masing-masing.
Ada yang berwajah pucat pasi. Ada yang bersikap santai dan tenang tanpa ada
sesuatu yang mengganggu pikirannya. Ada yang sudah menangis duluan sebelum
pengumuman kelulusan diumumkan karena takut tidak lulus. Ada yang berwajah
ceria. Bermacam-macam variasinya dan sangat menarik untuk ditonton. Di tengah
lautan manusia yang sedang sibuk sendiri itu, aku tetap memikirkan sang
bidadari yang sudah lama tidak kelihatan dikarenakan libur sekolah. Tak lama
kemudian kepala sekolah tiba dalam ruangan yang dipenuhi lautan manusia
tersebut. Kepala sekolah memberikan kata sambutan terlebih dahulu dan
memberikan nasehat-nasehat yang baik untuk anak-anak kelas tiga itu. Kemudian
pada ujung yang paling menegangkan, dari kata-kata Kepala Sekolah yang siap
mengancam jantung untuk siap terkejut. Hasil pengumuman kelulusan akan
diumumkan.
“Dari apa yang telah Bapak sampaikan kepada anak-anak
sekalian. Semoga kalian menjadi anak yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama.
Setelah Bapak mengumumkan hasil kelulusan ini, Bapak harapkan anak-anak
sekalian dengan lapang dada menerima hasil keputusan tersebut. Hasil pengumuman
kelulusan hari ini semuanya……..”
Kata-kata Kepala sekolah terputus mendadak dan Beliau
memperhatikan wajah-wajah pucat dari para siswanya. Tanpa menunggu lama, Kepala
Sekolah melanjutkan kata-katanya.
“Bapak mengumumkan semua anak kelas tiga yang Bapak sayangi ini… SEMUANYA
LULUS SERATUS PERSEN!!!”
“Hore… kita lulus!” seru semuanya kompak kegirangan.
Arjit dan kawan-kawannya merasa sangat puas dan lega
dengan hasil yang telah dicapainya hari ini. Arjit sujud syukur bersama Andi.
Mereka sangat bahagia karena sudah lulus. Tahun mereka lah tahun pertama
diadakan Ujian Nasional yang berbasis komputer. Hasil yang didapat siswa tahun
ini sangat berbeda dengan tahun-tahun yang lalu. Dulunya siswa berjuang secara
manual dan bisa dibantu oleh gurunya dalam menyelesaikan ujian nasional,
sedangkan tahun ini berbeda hanya bermain dengan kecerdasan otak serta kecanggihan
teknologi yang langsung merekam nilai-nilai serta hasil yang mereka peroleh
disertai standar nilai minimal secara nasional. Mereka yang mendapat dibawah
nilai minimal dinyatakan tidak lulus. Maka dari itu Arjit dan kawan-kawan
merasa sangat bahagia atas apa yang diperoleh di sekolahnya hari ini yaitu
SERATUS PERSEN LULUS. Kebahagiaan mereka tiada tara. Mereka saling berpelukan
dan jingkrak-jingkrak gembira. Sebagian sujud syukur. Ada yang berteriak
senang. Ada yang menangis bahagia. Warna-warni ekspresi kegembiraan menambah
semarak haru biru suasana kelulusan. Kehidupan baru akan mereka jelajahi demi
masa depan yang cerah benderang.
Adzan Subuh pun berkumandang, bersama nyanyian merdu ayam
telah membangunkan Sabna dari tidur nyenyaknya. Sabna segera beranjak ke kamar
mandi untuk mengambil air wudhu. Hari itu tampak seperti hari biasa yang
dijalani. Tak terlintas pikiran apapun di kepala Sabna, kecuali dia memulai
sekolah di hari pertama ajaran baru di kelas tiga SMA. Dan tentunya tak ada
lagi lelaki yang diam-diam dia kagumi yang selalu menatap mata indahnya. Setelah
semua siap Sabna pun hendak berangkat sekolah. Mengenakan tas selempang
berwarna pink favoritnya dan segera berangkat karena takut tertinggal angkot.
Gadis yang baru memasuki usia seventeen ini sangat menggemari boneka Hello
Kitty. Saking sukanya dengan Hello Kitty banyak atribut-atribut Hello
Kitty yang ia punya, mulai dari jam tangan, tas selempangnya, bantal tidur
beserta hiasan kamar tidurnya dan lain-lain. Sesampai di sekolah, Sabna
memasuki kelasnya, kelas III-IPA dengan perasaan biasa-biasa saja tak terlintas
kalau sesuatu yang lain akan ia temui. Hhmmm, Sabna melihat ke kelasnya tampak
hanya beberapa orang saja yang ada dikelasnya yang sedang sibuk merapikan
tempat duduknya. Di sudut meja paling belakang terlihat Nora sobat kentalnya
sedang cengar-cengir menatap sahabatnya yang manis itu sambil tersenyum penuh
makna. Dengan penuh penasaran Sabna menghampiri sahabat kocaknya itu. Sebelum
Sabna mengambil posisi duduknya disamping Nora. Nora terlebih dahulu menarik
tangan Sabna untuk keluar kelas. Dan mereka menuju ke belakang sekolah. Setiba
di tempat tongkrongan favorit keduanya, Nora mengeluarkan sebuah amplop
berwarna putih untuk diserahkan ke Sabna.
“Ni.. untukmu”, kata Nora sambil menyerahkan sebuah amplop
berwarna putih itu.
Sabna tertegun sesaat, “apa ini..?”
“Buka aja” balas Nora dengan penuh penasaran dengan
isinya.
Lalu dengan hati–hati Sabna membuka amplop yang telah
dibolak baliknya tanpa nama dan pengirim. Kertas ? Sepucuk Surat ? untukku ? batin
Sabna. Gadis itu kemudian menekuk keningnya. Heran, Sabna membuka kertas
berlapiskan amplop, sebelum ia membaca Sabna tambah tertegun karena ada sebuah
tasbih berwarna pink dan diujung tasbih tersebut bertuliskan “Arjit Murtadha
& Sabna Shabiraa”. “Ha? “. Sabna semakin penasaran dan hatinya terasa
begitu bahagia. Entah kenapa tiba-tiba rasa rindu itu muncul seketika, rindu
akan tatapan teduh matanya. Rindu ingin diperhatikannya. Sementara diantara
kami tak pernah bertutur kata sekalipun baik secara langsung ataupun tidak.
Sungguh hari yang amat sangat luar biasa untukku. Hari pertamaku sekolah di tahun
ajaran baru aku mendapatkan satu kejutan yang sangat luar biasa. Meski bagi
orang lain biasa-biasa saja. Sabna terus membatin karena saking kagetnya akan
kejutan ini.
“Cie-cie dapat surat cinta niyee... dari sang
pangeran cinta, Haaahaa..”. goda Nora sambil menggelitik pinggangnya Sabna.
Sabna hanya tersipu malu dengan godaan sobat kentalnya itu.
“Hayoo.. buruan dibaca dong suratnya,
aku kan penasaran juga, hhaa haha..” tambah Nora sambil terus menggoda
sahabatnya yang sedang dimabuk cinta itu.
Setelah amplop terbuka dengan sempuran,
terlihatlah sepucuk surat dari kertas barwarna pink dan berbau wangi. “Memangnya surat harus kayak begini ya?”
batin Sabna. Sabna lebih kaget lagi ketika membaca kalimat awal dari surat
tersebut. Merasa tak percaya akan menerima surat semacam ini dan bingung dengan
perasaannya yang begitu berbunga-bunga.
“Dear Sabna Shabiraa”
Ukhti shalihahku...
Janganlah pernah berpacaran, jika kamu mencintai seseorang
cukup cintai dia dalam diam seperti Fatimah Az-zahra yang pandai menyembunyikan
sejuta rasa dalam hatinya...
Ukhti shalihahku...
Taukah kamu??? Kamu lebih bijak bila kamu tetap menjaga hati
untuk orang yang telah Allah takdirkan untukmu...
Ukhti shalihahku...
Kamu indah
bila tetap berada dijalan Allah tanpa memperhatikan godaan
dunia...
Kamu tetap
menawan bila selalu menjaga keistiqamahanmu seperti saat
ini..
Kamu tetap
bisa tegar tanpa ada pendamping harammu...
Kamu selalu
akan menjadi wanita surga bidadari dunia…
Kuharap kamu
terus menjadi berlian dimataku dan dimata semua orang.
Ukhti shalihahku...
Aku mengagumimu dari sejak dulu, meski kau tak tau apa-apa
tentang hatiku. Sampai saat ini hatiku padamu tak pernah goyah, namun aku sadar
cinta dan perasaanku ini belumlah tepat untuk kuungkapkan padamu. Aku sadar
bahwa usia kita masih sangat belia untuk hal ini. Namun, aku tetap terus
berusaha menyimpan dan menjaga hati ini untuk tetap suci tanpa ternoda. Semua
curahan hatiku, kuungkapkan diatas sajadah kepada sang pemilik hati
sesungguhnya. Aku akan menjemputmu kelak saat tiba waktunya. Aku terus memohon
kepada Tuhan agar kamu akan menjadi bidadari surga yang setia menemaniku di
dunia dan di akhirat kelak. Aku ingin kamu menjadi pendamping hidupku, yang
setiap saat bisa kutatap wajah manismu dan sejuknya matamu. Yang selalu
mendatangkan pahala disisi-Nya disetiap sentuhan kita. Dan akulah pangeran
cintamu.
Ukhti shalihahku...
Jagalah hatimu untukku, bersandarlah kepada Allah. Cintaku
dan cintamu kita tujukan kepada cintanya Allah. Ya Allah… Ku titipkan cinta ini
hanya pada-Mu, jagalah hatiku dan hatinya dari rasa kecewa, hingga waktu itu
tiba. Persatukanlah kami dalam restu dan Ridho-Mu. Aku yakin, jika dua orang
sudah ditakdirkan untuk bersama, maka dari sudut bumi manapun meraka berasal
pastilah mereka akan bertemu. Memang dihadapanmu aku malu memandangmu. Tetapi
dihadapan-Nya aku terang-terangan meminta agar dijodohkan denganmu. Tak pernah sedikitpun
terlupa, selalu ku sebut namamu dalam setiap do’aku. Ya Allah jagalah hatinya
hanya untukku, meski ada jarak yang memisahkan kita.
Dalam menjalani hubungan, sakinah berarti mengandung makna
ketenangan, mawaddah mengandung arti rasa cinta, rahmah itu mengandung arti
kasih sayang. Jika tiga hal itu ada pada dirimu maka percayalah, keberkahan
akan selalu mendampingimu. Cinta sejati tidak berakhir dengan kematian. Jika
Allah SWT menghendaki, cinta itu akan berlanjut sampai ke surga.
Dari yang mengagumimu
“Arjit
Murtadha”
Sepucuk surat dan sebuah tasbih berwarna
pink dari Arjit Murtadha membuat
lidahku kelu tak bisa berkata apa-apa. Rasanya seperti melayang ke udara
bersama awan-awan putih selembut salju yang menjadi bantalanku, dan turun
kembali ke bumi dengan pelangi indah warna-warni yang menjadi perosotanku. Hatiku
dipenuhi dengan bunga-bunga yang warna-warni nan indah semerbak harum. Waaww...
its amazing.
Bel masukpun berbunyi. Dengan hati yang bahagia Sabna dan
Nora menuju ke kelasnya. Suasana hari itu tak akan pernah terulang kedua kali.
Wajah Sabna yang putih kemerah-merahan makin bertambah elok dengan senyuman
manis miliknya. Seakan keceriaan dan kebahagiaan hatinya tak pernah henti.
Begitulah rasanya jatuh cinta. Sesampai
di rumah Sabna kembali tersenyum-senyum sendiri di kamar yang dipenuhi dengan
gambar Hello Kitty nya sambil membaca dan mengulangi kata demi kata yang
ditorehkan Arjit untuknya di kertas berwarna pink nan harum itu. Sungguh luar biasa bahagianya, Maha suci Allah
yang telah menganugerahkan cinta di setiap hati manusia. Arjit sudah dua tahun
berada di DKI Jakarta untuk melanjutkan studinya di perguruan tinggi kedinasan
ternama di kota Metropolitan tersebut. Sedangkan Sabna di Banda Aceh
melanjutkan studinya di sebuah Universitas Negeri di kotanya.
Dua tahun kemudian…
Rumah Sabna tampak diwarnai kebahagiaan yang mendalam di hari
itu. Akad nikah yang syahdu dan resepsi pernikahan yang sederhana namun sangat
sakral, dihadiri banyak tamu yang memberikan do’a restu kepada kedua mempelai,
Sabna berharap kalau pernikahannya selalu di ridhai dan diberkahi oleh Allah Subhanahu
Wata’ala.
Sabna tersenyum sendiri ketika mengingat kenangan
masa-masa sekolah dulu dan surat cinta pertama yang membuatnya tersanjung
terbang melayang ke langit ke tujuh. Setelah mengirim balasan surat dari Arjit,
keduanya memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan soal cinta dan perasaan.
Hanya berfokus pada pendidikan yang sedang dijalani masing-masing. Perasaan itu
semua disimpan baik-baik dalam jiwa masing-masing dan serahkan kepada sang
pemilik cinta yang hakiki. Sejak itu Arjit tidak pernah lagi bertemu dengan Sabna
lagi. Kisah asmara yang sangat unik yang dilanda kedua anak adam ini. Rasa
cinta yang menjelma didada keduanya saling memendam, saling diam sampai
waktunya tiba. Sabna menyibukkan diri dengan kegiatan positifnya di kampus dan
Arjit pun terus mengukir studinya di kota seberang. Allah yang punya kuasa atas
segalanya, mereka dipersatukan kembali disaat sudah sukses dan mandiri serta sudah
lebih dewasa dalam bersikap. Seperti niat yang telah di azzam-kan jauh di lubuk hatinya, Arjit yang gagah dan berwibawa datang
untuk segera meminang gadis pujaan hatinya sejak dari dulu. Yah, Arjit sekarang
jauh sangat berbeda dibandingkan ketika ia masih duduk kelas SMA. Badannya yang
sudah agak berisi, kulitnya yang dulu sawo matang sekarang sudah menjadi kuning
langsat mungkin juga pengaruh tinggal di kota Jakarta yang penuh polusi
sehingga cahaya matahari tak langsung terkena kulitnya. Pria yang gemar memakai
peci hitam sejak dulu dengan wajah alimnya yang ditumbuhi janggut tipisnya memberi
kesan gaya ustadz –ustadz muda zaman now.
Membuat Sabna semakin yakin akan siap mendampingi pangeran cintanya. Begitu
pula sebaliknya saat berjumpa pertama kali dengan Sabna sang bidadarinya.
Betapa terpesonanya Arjit melihat keanggunan Sabna yang semakin hari semakin
memancar kecantikannya. Ditambah dengan senyum khasnya yang super manis serta
tutur kata yang halus dan lembut membuat Arjit berkali-kali jatuh cinta lagi.
Masyaa Allah…!! Subhanallah…!! Berkali-kali Arjit memuji Allah atas ciptaan-Nya
yang begitu indah, seorang bidadari yang akan dikhitbahnya. Hatinya penuh
dengan rasa syukur kepada Allah mendapatkan pendamping hidup yang
diidam-idamkan selama ini. Sabna Shabiraa baginya adalah wanita surga bidadari
dunia yang akan selalu mendampinginya dan berharap akan menjadi pasangan
se-hidup se-surga.
Sabna menatap suaminya dan menunduk karena malu. Ada
getaran yang dirasakan Sabna dalam hatinya. Tapi kali ini getaran itu memberi
nuansa yang sangat indah dari pada dulu. Karena, kini ada nuansa pahala dan
ibadah, bukan lagi bisikan-bisikan nafsu setan. Arjit juga menatap Sabna dengan
senyuman yang penuh kebahagiaan. Dia menggenggam tangan Sabna yang kini adalah
istrinya. Sabna mendengar suaminya berucap lirih “Alhamdulillah … “. Arjit
menikmati suasana kamar pengantin yang semerbak wangi. Kami duduk di tepi
ranjang. Aku puas-puaskan menikmati keelokan wajahnya, yang dulu hanya bisa
kucuri-curi pandang dan menatap dari jarak jauh. Kini sang bidadari itu telah
ada di pelukanku selamanya. Kami saling berpandangan saling menyelami.
Terngiang dalam diri Sabda Nabi,
Sebaik-baik
isteri adalah jika kamu memandangnya membuat hatimu senang, jika kamu perintah
dia menaatimu, dan jika kamu tinggal maka dia akan menjaga untukmu harta dan
dirinya.(H.R. Ibnu Jarir)
“Sabna sayang, kau cantik sekali, memandang wajahmu sangat
menyenangkan!’ lirihku.
Sabna tersenyum
sambil melingkarkan kedua tangannya dileherku.
“Sayang, kau juga pria terbaik yang pernah kutemui. Kaulah
cinta pertama dan terakhirku. Aku punya sebuah puisi untukmu. Maukah kamu
mendengarnya?”.
Aku menganggukkan kepala. Kuperhatikan dengan seksama
gerak bibirnya yang merah merekah tanpa olesan lipstik. Apa yang diucapkannya.
Dia malah diam lama sekali lalu tersenyum. Aku gemes dibuatnya.
Dengarlah baik-baik kekasih halalku;
Langkah telah
terjejaki,
Karena Allah
kita mulakan
Dan menuju
Allah kita muarakan
Dulu aku, dulu
kamu
Dan sekarang
menjadi kita
Semoga
senantiasa menjadi teman hidup yang saling menasehati dalam
kebaikan
Saling
melengkapi dalam kekurangan
Saling mengerti
di setiap keadaan
Kasih terjalin
begitu indah
Bagai bunga
pagi nan merekah
Kau tenangkan
hati yang gundah
Hingga yang
redup kembali cerah
Aku selalu
percaya
Jika Allah
yang kita utamakan
Maka semua
indah pada waktunya
Terimakasih
telah datang menjemputku
Untuk memadu
kehidupan
Dalam hal
saling membutuhkan
Hingga jannah
adalah tujuan
Wahai kekasih
halalku
Setialah untuk
menjadi panutan
Bimbinglah aku
menuju Surga-Nya
Begitu besar
harapan tercurah
Namamu slalu
kusematkan dalam doa
Disetiap kali
tangan menengadah
Semoga kelak
dipersatukan lagi oleh Tuhan
Bersama menuju
Surga yang dirindukan
Merajut
mahligai kasih bersama
Rumah tangga
yang berkarakter Surgawi
Layaknya yang
diidamkan oleh setiap insan manusia
Dalam naungan
Tuhan Yang Maha Esa
Semoga kita se-hidup
se-Surga
Sabna wanita yang luar biasa bagiku. Selain pintar dalam
ilmu pengetahuan, taat beribadah dan ternyata sangat romantis dan puitis sekali
kata-katanya. Kupandangi lekat-lekat wajahnya sambil terus memuji keagungan
Tuhan. Cantik dan manisnya wajah Sabna membuatku tak pernah bosan-bosan
memandangnya. Masyaa Allah..! sungguh nikmat yang tiada tara memiliki isteri
yang baik nan cantik jelita. Aku terus memuji asma Allah atas keindahan yang
diberikan kepada isteriku dan menyatukan cinta kami berdua. Lalu Sabna
menyandarkan kepalanya ke dadaku. Kupasang
bantal di kepala dan kurebahkan tubuhku ke sandaran tempat tidur kami yang
dilapisi busa empuk. Kutarik tubuh Sabna rebahan ke dadaku. Aku bebas
membelai-belai rambutnya atau memeluknya. Di sela-sela gorden jendela kamar
kami seakan-akan bintang-bintang di langit sana berkedip-kedip seperti mata
para bidadari yang mengerling cemburu kepada kami. Hati terasa sejuk dan
bahagia. Inilah yang membedakan yang halal dan yang haram. Dan inilah buah dari
kesabaran kami dalam mengendalikan nafsu untuk menghindari pacaran yang
mendatangkan kemaksiatan. Bermesraan dengan perempuan yang halal, isteri yang
sah adalah ibadah yang dipuji Tuhan. Sedangkan bermesraan dengan perempuan yang
tidak halal adalah dosa yang dilaknat Tuhan. Sungguh bodohnya manusia yang
menyia-nyiakan waktunya untuk memilih pintu dosa dan neraka. Sementara Tuhan
telah membukakan pintu-pintu kenikmatan yang mendatangkan pahala yang luar
biasa. Aku sangat bangga dan bahagia memiliki Sabna seutuhnya. Alhamdulillah ya
Allah atas nikmat yang telah engkau anugerahkan kepada kami. Semoga cinta yang
ada dalam diri kami dapat mengokohkan cinta kami kepada-Mu sang pemilik cinta
yang hakiki.
SANG KAKAK BERHATI BIDADARI
Oleh : Erna Putri Razali
Gunung menjulang berpayung awan, pohon-pohon berjajar rapi
dihiasi dengan hijaunya rerumputan yang menari-nari diiringi dengan riak ombak
yang menghiasi alunan musik nan syahdu. Semilir
angin yang berhembus sepoi-sepoi menyejukkan jiwa yang gundah gulana.
Seorang remaja putri yang baru saja menyelesaikan studinya di tingkat Sekolah
Menengah Kejuruan. Ya, sekolah kejuruan yang ia pelajari selama ini. Namun,
entah apa tujuan ia masuk ke sekolah tersebut..! mempunyai cita-citapun enggak..
Sambil menatap lepas ke arah pantai. Pandangan kosong. Pikirannya ga jelas
kemana. Sementara di seberang sana remaja-remaja se-usianya yang baru
menyelesaikan studinya merayakan kemenangan dan kebebasan yang menurut mereka
bebas dari teguran guru BP dan aturan sana sini yang terikat jam sekian sampai
sekian harus berada di gedung yang berhalaman cukup luas ber-labelkan putih
abu-abu.
Dia adalah Sinta Aprilia. Anak sulung dari lima
bersaudara. Jarak usia masing-masing dari mereka tiga tahun lamanya. Sebagai
anak sulung Sinta mempunyai sifat yang sangat luar biasa. Rasa tanggung jawab
terhadap adik-adiknya melebihi orang tuanya. Meskipun dia masih berusia belia
dan masih memiliki orang tua namun sempat-sempatnya dia memikirkan nasib
keempat adik-adiknya. Terlintas sejenak percakapan Ayah dan Ibunya semalam.
“Ibu.. anak-anak kita memiliki prestasi yang sangat baik di sekolahnya dan
Sinta juga sudah lulus dari SMK nya”, Ucap Ayah. Dan saat itu Ibu langsung
mengeluarkan airmata dan berkata, “tapi apa gunanya..? tak mungkin kita sanggup
membiayai pendidikan kelima anak kita sampai ke perguruan tinggi. Sementara
kita hanyalah buruh tani yang menggarap sawah-sawah orang, dan itu hanya cukup
untuk memenuhi kebutuhan makan saja”, suara Ibu dengan serak tangis. Pada saat
itu pula Sinta berjalan keluar dan berdiri dihadapan Ayah seraya berkata,
“Ayah, aku sudah lulus SMK dan tidak mau kuliah, aku ingin bekerja”. Tapi
sepertinya Ayah terlihat marah dan berkata, “Mengapa kamu bersikap lemah, Ayah
akan membiayai kuliah kamu meskipun Ayah harus banting tulang untuk mencari
uang”. Kemudian Ayah langsung pergi.
Sinta tetap bersikukuh untuk tidak melanjutkan kuliahnya.
Walaupun Ayah berkata demikian hati kecilnya tidak tega melihat Ayahnya yang
sudah renta dan Ibu yang sudah sering keluar masuk rumah sakit karena
diabetesnya, harus banting tulang untuk membiayai dirinya dan adik-adiknya.
Simple pikiran Sinta, “aku masih muda dan masih sehat kenapa tidak kuhabiskan
waktu dan tenagaku untuk berbakti kepada kedua orang tuaku. Bukankah itu juga
merupakan ibadah yang tak tertandingi nilainya, dan merupakan salah satu ciri
anak yang shaliha yaitu meringankan beban pundak kedua orang tua.. yang telah
bersusah payah membesarkanku hingga se-sempurna ini tanpa lecet dan cacat suatu
apapun”.
Saat itu Sinta sudah bagaikan tulang punggung dalam
keluarganya. Ayah dan Ibunya hanya pasrah dan terus melangitkan ribuan do’a
tanpa henti untuk putra putrinya khususnya buat Sinta anak sulung yang lumanyan
keras kepala namun hatinya bak bidadari. Terkadang sang Ayah berfikir bahwa
putrinya telah dewasa dalam mengambil setiap keputusan. Dalam lubuk hatinya
yang paling dalam merasa sangat bangga dengan putra putrinya terutama Sinta.
Dia benar-benar anak yang kuat, tegar dan bersemangat untuk kebaikan seluruh
keluarganya, kadangkala lupa akan masa depannya sendiri. Dia adalah sosok
seorang kakak yang sesungguhnya yang selalu melindungi adik-adiknya. Meskipun
dia seorang wanita namun sangat berani dalam segala situasi. Terkadang sang
Ayah sering menangisi Sinta karena selalu membanggakan hatinya. Dalam sujudnya
di sepertiga malam Ayah selalu berdo’a kepada Yang Maha Kuasa untuk kebaikan
dan kebahagiaan Sinta dan Adik-adiknya. Ayah dan Ibu bangga dengan kelima putra-putrinya. Mereka merupakan anak-anak
yang patuh dan mudah diajak kompromi. Ayah dan Ibu Sinta tetap bekerja seperti
biasa sebagai buruh tani untuk menghidupi keluarganya. Sementara Sinta Sejak
lulus SMK hingga sekarang banyak berganti-ganti pekerjaan, dia pernah bekerja
sebagai karyawan disebuah industri kecil, bekerja menjadi pegawai honorer,
bahkan pernah menjadi TKI di Negeri jiran Malaysia selama dua tahun. Dan
berbagai pekerjaan lain digelutinya selama itu halal baginya. Dia adalah sosok
pekerja keras yang pantang menyerah, bertanggung jawab dan sangat jeli
memperhatikan tindak tanduk disetiap langkah yang dijalani adik-adiknya, “Aku
tidak akan pernah membiarkan nasib adik-adikku melang-lang buana, mereka semua
harus lebih sukses dari pada aku”, gumamnya dalam hati.
Dua tahun Sinta bekerja di negeri jiran, dia sukses
membiayai kuliah adik pertamanya yaitu Dina. Sinta bertahan hidup di negeri seberang
tanpa seorangpun kerabat yang dikenalnya. Hanya bermodalkan niat yang tulus
serta tekad yang kuat untuk mencari nafkah disertai do’a dari orang tuanya.
Meskipun orang tuanya tidak berpendidikan tinggi tapi mereka sungguh bijak
dalam menyikapi setiap keputusan putra-putrinya. Pesan mereka kepada Sinta
“Ingatlah anakku..... kehidupan ini selalu berjalan tak menentu maka jagalah
dirimu, ingat selalu beribadah kepada Allah SWT dimana pun engkau berada, maka
kamu akan mendapat kemuliaan dari-Nya. Anakku Sinta.... kehidupan sesusah
apapun kamu harus tabah, dan selalu memberi serta saling membantu sesama. Karena
orang yang selalu memberi dengan hati yang ikhlas maka dia adalah orang kaya,
semoga perjalananmu selalu di berkahi Allah. Do’a Ayah dan Ibu selalu
menyertaimu anakku Sinta sang bidadari hati.
Anakku.. Ayah tak dapat menjagamu 24 jam, kamu harus menjadi wanita yang
kuat dan tegar. Bersandarlah kepada Allah apapun yang terjadi padamu jangan
pernah berpaling daripada-Nya”. Teringat pesan Ayah, Sinta menangis
tersedu-sedu membayangkan wajah kedua orang tuanya yang sudah tidak muda lagi.
Ingin rasanya segera ku sulap mereka untuk menjadi raja dan ratu di keluarga
kami. “Ya Allah… berkahilah disetiap keputusan dan langkah yang telah aku
tempuh.. demi orang tua dan keluargaku.. Aamin Ya Rabb..” Pinta Sinta dikala
merindukan sosok wajah Ayah dan Ibunya.
Dengan berkat doa orang tuanya dan usaha kerja keras Sinta
membuahkan hasil yang manis. Dina lulus tes menjadi Pegawai Negeri Sipil di
sebuah instansi pendidikan daerah. Sekarang Sinta sudah punya teman untuk
melanjutkan misi selanjutnya yaitu membiayai kuliah adik keduanya dengan cara
‘patungan’ dengan Dina. Suatu malam Sinta dan keempat adiknya saling berbagi
cerita satu sama lain seraya melepaskan rindu selama dua tahun. Sinta bertanya
kepada adik keduanya yaitu Anggi.
“Nggi, kamu mau kuliah gak kayak kak Dina..?”
“Mau dong kak..apa lagi kayak kak Dina udah punya gaji
sendiri, hheee”. Jawab Anggi sekenanya.
“Aku juga mau lah kak, mau merasakan bangku kuliah”.
Tambah Anjas adik ketiganya.
“Aku juga dong kak, pengen kerja di kantoran, pengen jadi
guru juga boleh kayak kak Dina, atau kerja di rumah sakit”. Celoteh adik
bungsunya yang bernama Ardi.
Sinta begitu bangga dan terharu sampai matanya
berkaca-kaca menatap satu persatu wajah-wajah adiknya itu, sambil tersenyum ia
berkata;
“Baiklah adik-adikku sayang, kakak senang mendengar
keinginan kalian dan punya cita-cita masing-masing. Tapi…?”. Sebelum
melanjutkan kata-katanya, keburu di sanggah oleh adik bungsunya itu yang sangat
manja melebihi dari ketiga adiknya yang lain.
“Tapi.. Ardi gak mau Kak Sinta pergi lagi. Lama banget,
aku sedih..?”. sambil mengeluarkan airmatanya, seketika Sinta langsung memeluk
adik bungsunya itu yang masih duduk di bangku SMP.
“Iyaiya, kakak gak pergi lagi kok, kita akan terus
bersama-sama lagi di rumah ini, okey..?”. sambil menghapus air mata dari pipi
adik laki-lakinya itu.
“Kak Sinta dan Kak Dina akan mendukung kalian bertiga
untuk melanjutkan kuliah, tapi ada syaratnya..?”
“Apa syaratnya kak..?” Tanya Anjas buru-buru, adik
ketiganya Sinta.
“Selama kuliah tidak ada kata pacaran. Kalian harus fokus
menuntut ilmu. Contohnya seperti kak Dina”.
“Ookeee.. kakak..!” Jawab mereka serempak.
“Selama kalian kuliah, kalian tidak boleh membolos apa
lagi bermalas-malasan bahkan nongkrong-nongkrong di warung-warung atau
café-café. Kemudian kalian semua harus rajin belajar, berdoa dan saling
membantu sesama. Terutama jagalah akhlak dan kesopanan kalian, karena setinggi
apapun ilmu yang kalian miliki jika akhlaknya jelek maka hidupmu sia-sia. Kita
harus bisa mengubah nasib kedua orangtua kita. Kita harus lebih maju selangkah
dari mereka. Agar kita bisa disebut sukses dan dapat membuat mereka bahagia
serta bangga memiliki anak-anak seperti kita. Selama ini mereka bekerja
membanting tulang untuk menghidupi anak-anaknya. Kelak kita berusaha bisa
membahagiakan keduanya tanpa mereka harus lagi bekerja menahan teriknya
matahari di tengah sawah dalam keadaan tubuh yang makin renta untuk mencari
sesuap nasi. Jadi kita harus semangat dan selalu berpositif thinking untuk
perubahan hidup ini. Ini merupakan cobaan yang harus kita jalani dalam meniti
kehidupan di masa depan yang lebih cerah”. Panjang lebar Sinta menasehati
adik-adiknya, mereka semua terdiam patuh mendengar ceramah dari kakak sulungnya
itu. Jam menunjukkan pukul 23.00 WIB. Masing-masing dari adik-adiknya Sinta
menuju ke kamarnya. Lain halnya Dina, dia masih ingin mengobrol dengan kakaknya
Sinta. Tiba-tiba Dina membuka pembicaraan, “selama ini kakak udah membanting
tulang, kerja sana sini, termasuk membantu Ayah dan Ibu di sawah di terik panas
matahari, kehujanan, tidur sering kemalaman untuk mengejar target uang biaya
kuliah aku, terkantuk-kantuk dalam menyelesaikan orderan orang demi mencari
uang untukku, itu semua kakak lakukan demi aku dan adik-adik. Allah telah
memberikan yang terbaik bagi aku, sehingga dengan cepat aku bisa membantu
meringankan beban kakak. Kalau bukan karna kakak nekad berhenti sekolah dan
mencari nafkah, aku tak mungkin seperti ini. Kakak telah menanamkan dalam jiwa
kami agar selalu mensyukuri apa yang kita miliki, kakak selalu mengajarkan kita
agar saling memberi, kakak selalu memotivasi kita untuk tetap semangat dan
selalu jujur dalam bersikap dan tidak pernah lupa untuk beribadah”. Tak terasa
Sinta sampai berlinang airmata mendengar pembicaraan adiknya yang ternyata
sudah dewasa dan sangat bijak. Seketika mereka berdua saling berpelukan dan
menangis haru bersama-sama.
“Kak, aku punya permintaan sama kakak..”. Lirih Dina,
sambil melepaskan pelukan seraya menghapus air mata keduanya.
“Apa itu..?” Jawab Sinta penasaran.
“Kakak harus melanjutkan kuliah lagi”. Pinta Dina
“Tapi bagaimana dengan adik-adik..?”
“Kakak gak usah khawatir, dulu kakak sendiri sanggup
berjuang. Sekarang kita berdua harus lebih bisa. Apa lagi aku sudah mempunyai
penghasilan tetap”. Dina meyakinkan Sinta sambil menatap mata sendu kakaknya
dengan penuh kasih sayang.
“Baiklah kalau begitu”. Jawab Sinta dengan tersenyum.
Akhirnya Sinta kembali melanjutkan kuliah sesuai dengan permintaan
adiknya Dina. Hari berganti minggu Bulan dan tahun pun ikut silih berganti.
Sinta Aprilia, S.Pd. gelar yang disandangnya bagaikan mimpi disiang bolong.
Dulu sekolah di kejuruan pertanian kini menggelar sarjana pendidikan. “Takdir
yang menentukan arah hidupku. Sangat berbeda dengan anak-anak lainnya yang dari
sejak dulu sudah menggantung cita-citanya setinggi langit. Sedangkan aku hanya
memikirkan nasib masa depan adik-adikku dan kebahagiaan mereka. Tak sedikitpun
merasa diri ini ingin bercita-cita menjadi seorang guru Sekolah Dasar. Bagiku
ini adalah takdir hidup yang diberikan oleh Allah untukku. Sesungguhnya rencana
Allah itu lebih indah”. Tersadar dari lamunan saat Dina berlari-lari sambil
meneriak namaku dan memegang selembar surat kabar yang ternyata disana
tercantum nama Sinta Aprilia, S.Pd. Kembali aku bersujud syukur atas nikmat yang
Allah berikan untukku. Sungguh Allah maha kuasa. “Alhamdulillah… ! Aku lulus
tes Pegawai Negeri Sipil”. Lirihku. Kini aku dan Dina lah yang saling bahu
membahu menyekolahkan adik-adikku sampai menjadi sarjana semuanya.
Menjadi tulang punggung keluarga di usia muda membuatnya
harus merelakan masa mudanya mencari nafkah untuk membiayai pendidikan
adik-adiknya. Sungguh Sinta kakak yang sangat luar biasa sosok seorang wanita
biasa berhati bidadari. Hatinya begitu lembut nan bersinar bak berlian permata meskipun
jalan hidupnya begitu keras yang penuh dengan kerikil-kerikil tajam disertai
onak duri berhamburan. Namun ia jalani dengan penuh semangat pantang menyerah.
Yang terlihat dihadapannya adalah masa depan yang cerah bagi adik-adiknya
tercinta. Dia membuktikan bahwa dia adalah sosok yang kuat dengan melewati
segala hambatan. Dia selalu berkata kepada keempat adiknya, “Jadilah kalian
orang yang sukses dan buat kakak bangga, kakak akan melakukan apapun untuk
kalian” Dia adalah orang yang selalu berpikir tidak ada yang tidak bisa di
lakukan selama itu untuk kebaikan keluarganya.
Tidak sedikit laki laki yang melamarnya, namun tetap
ditolak olehnya karena dia masih ingin fokus untuk membiayai kebutuhan
pendidikan adik-adiknya. Sinta tak sedikitpun pesimis akan jodohnya. Dan bukan
berarti Sinta tak ingin memiliki jodoh layaknya pasangan-pasangan lain. Namun
dia hanya berpasrah kepada Allah dan yakin akan takdir yang diberikan Allah.
Biarlah Allah yang memilih yang terbaik untuknya. Semua akan indah pada waktunya
dikala sudah menemukan yang pantas dan yang tepat. Rezeki itu punya alamat
begitu pula dengan jodoh itu tak akan pernah tertukar. Lebih baik menunggu
orang yang benar-benar kita harapkan daripada menghabiskan waktu dengan orang
yang tidak tepat. Sinta selalu berazzam ‘luruskan niat, bulatkan tekad
sempurnakan ikhtiar’. Hadiah itu tak selalu terbungkus dengan indah.. terkadang
Allah membungkusnya dengan berbagai masalah namun didalamnya tetap ada bertuah.
Dia ingat akan kata-kata Ayahnya, “Langkah, rezeki, pertemuan dan maut semua
sudah diatur di lauhul mahfudz jauh sebelum kita dilahirkan, demikian pula
dengan halnya jodoh”. Sinta yakin akan kekuasaan Allah dan Allah telah
merencanakan yang terbaik untuknya dan masa depannya kelak.
Terkadang Sinta melakukan banyak pekerjaan dalam satu
waktu agar dapat menghasilkan uang lebih yang membuatnya sering kelelahan.
Namun dia tidak akan beristirahat sampai apa yang ingin dia capai terwujud. Dia
adalah sosok yang sering memaksakan tubuhnya untuk bekerja berlebihan. Sinta
bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi adik-adiknya. Dikala adik-adiknya
lelah mereka selalu membayangkan wajah kakaknya yang super duper baik itu. “Di
dunia ini tidak ada manusia yang sempurna, tapi aku melihat kakakku sebagai
sosok yang sempurna. Meskipun terkadang sedikit cerewet dalam mengatur
penampilanku. Tapi itu yang membuat aku rindu padanya di kala kami jauh. Aku
berkata pada diriku.. aku akan menjadi seperti kakakku bahkan akan melebihinya
dan aku akan membuatnya bangga. Saat aku lelah dengan pendidikanku, aku akan
mengingatkan diriku tentang perjuangan kakak untuk pendidikanku dan itu akan
membuatku melupakan rasa lelah dan bosanku”. Gumam Anjas yang jauh di rantau
guna melaksanakan tugas yang telah diamanahkan untuknya yaitu sebagai petugas
kesehatan. Kini semua adik-adik Sinta sudah dewasa dan sudah mempunyai
penghasilan masing-masing. Kedua orang tuanya menaruh rasa bangga kepada kelima
putra-putrinya itu. Kekompakan dan keharmonisan dalam keluarga yang di sajikan
Sinta kepada adik-adiknya mengantarkan mereka menuju ke muara kesuksesan. Ayah
dan Ibu mengeluarkan airmata bahagia menyaksikan kesuksesan kelima
putra-putrinya.
Bagi adik-adiknya, Sinta adalah seorang wanita biasa
berhati malaikat. Sinta adalah sang kakak berhati bidadari. Seorang kakak yang
dapat menggantikan peran dan kewajiban mendidik adik-adiknya sampai menuju
keberhasilan. Sikap yang ditunjukkan Sinta merupakan sikap yang amat sangat terpuji dan membanggakan. Dia
sanggup menggantikan kewajiban orang tuanya. Ayah dan Ibu sinta sangat terharu
melihat kelima putra-putrinya telah sukses menjadi sarjana dan sudah bekerja
serta mempunyai penghasilan yang tetap. Ini semua berkat kerja keras Sinta dan
do’a kedua orang tuanya. Ayah dan ibunya menangis dan berkata, “Nak selama ini
kami selalu berdo’a semoga segala aktivitas kalian di permudah oleh Allah,
ternyata Allah telah mengabulkannya. Sinta.. engkau adalah anak terbaik. Engkau
adalah bidadari di hati kami, engkau adalah berlian yang sangat berharga
dititipkan Allah untuk keluarga ini. Hadirmu dihidupku bagaikan salju yang
menyirami hati disetiap penatnya matahari. Kau lah pelipur lara yang selalu
didambakan setiap orang tua. Semoga Allah meridhai disetiap langkah hidupmu.
Perjuanganmu membuat Ayah dan Ibu terharu dan bangga, bahwa engkau adalah kakak
yang terbaik buat adik-adikmu. Semoga Allah memudahkan keluarga kita dalam
menempuh kehidupan selanjutnya”. Keduanya memeluk Sinta begitu erat dengan
mengalirkan airmata menganak sungai. Suasana keluarga tersebut begitu haru biru
melihat kesuksesan yang mereka raih. Kehidupan keluarga Sinta berubah 1800
terutama dalam hal ekonominya.
Kasih sayang yang diberikan Sinta kepada keluarganya
begitu tulus dan suci sehingga mampu membuat orang yang disayanginya merasa
bahagia dan mendewasakannya. Kasih sayang yang natural sangat perlu ditumbuhkan
dalam hubungan kakak beradik. Persaudaraan hubungan darah ini akan berlangsung
selamanya. Cinta kakak beradik adalah harta karun terbesar yang dimiliki setiap
orang tua. Kasih sayang antara kakak beradik tidak akan pernah pudar walau
apapun yang terjadi. Baik buruk yang ada pada mereka tetap juga darah daging
kita. Maka dari itu jagalah dan cintailah keluarga kita selagi ada waktu dan
kesempatan serta selalu mendoakannya agar selalu bersama-sama di kehidupan
selanjutnya yaitu kehidupan yang kekal abadi.
ISI TAK SEINDAH CASING
Oleh : Erna Putri Razali
Terkadang bagi sebagian orang kekayaan harta, pangkat dan
jabatan adalah satu-satunya hal yang harus bahkan wajib untuk dihormati dan
disegani. Dengan semuanya itu membuat dirinya bebas dalam bersikap dengan
kemegahan dan kemewahan yang dimiliki serta kesombongan itu menjadi pakaian
hidupnya. Seakan memandang rendah dan hina bagi si miskin. Sementara sebagian
orang masih bisa hidup bahagia meski isi dompetnya makin hari makin menipis.
Yang terpenting selalu bersyukur atas apa yang ia punya dan tidak perlu
berlarut-larut dalam suatu masalah. Menikmati hidup apa adanya dan bersyukur
atas takdir yang diberikan Allah, itulah yang terbaik bagi setiap manusia.
"Tiiiinn...nn!", suara klakson mobil Papa. “Iya
Pa, bentar Pa”, sahutku dari dalam rumah sambil berlari keluar. Hari ini adalah
hari pertamaku masuk pesantren. Sebenarnya aku tak begitu senang melanjutkan
studiku mondok di pesantren “Shalihah”
itu. Karena dipikiranku yang namanya pesantren itu adalah tempat berkumpulnya
orang-orang yang kekayaannya dibawah rata-rata, dan jauh dari kemewahan serta
tidak ada modis-modisnya. Kumuh, primitive begitulah penalaranku tentang
pesantren. Setelah lulus Sekolah Dasar aku sangat berkeinginan masuk sekolah
swasta favorit yang terkenal di kotaku. Berteman dengan anak-anak orang kaya,
jalan-jalan ke Mall, berpenampilan ala kebarat-baratan, memakai pakaian
bermerek, bebas menggunakan elektronik, bebas kemana-mana dan bla...bla….
Namun, keinginan Papa dan Mama untuk menyekolahkanku di pesantren mengagalkan
semua keinginanku. Pesantren “Shalihah”
ini adalah salah satu pesantren yang didiami semua santriwati (perempuan) saja
yang lulus dari Sekolah Dasar atau sederajat.
Aku adalah anak yang jutek dan suka membanggakan kekayaan
orang tua. Orang-orang tertentu yag berani menjadi teman-temanku, tentu se-level dong ya!. Namun begitu aku paling
nurut dengan Pama Mamaku, apapun yang beliau suruh tak sedikit pun aku
membantah, meski terkadang seringkali mendongkol dalam hati. Terutama saat
disuruhnya shalat, belajar dan mengaji, itu hal yang paling ogah aku
lakukan. Mungkin justru karena itu kali ya, Papa Mamaku mengasingkanku ke
pondok. Hhmmm,, ya sudahlah nurut saja apa kata Papa Mama, daripada gak dikasih
uang jajan dan gak dibeliin barang-barang yang kuinginkan. Toh, selama ini Papa
Mama selalu nurut apapun keinginanku, termasuk liburan jalan-jalan ke luar
negeri. Woww banget, seneng banget rasanya kala itu. Permintaanku yang paling
besar ketika aku berusia 11 tahun. Itu adalah hadiah yang paling berkesan dari
Papa dan Mama untukku. Padahal saat itu aku sekedar iseng saja minta
jalan-jalan ke luar negeri, ternyata dikabuli juga oleh Papa Mama. Karena itulah
aku selalu nurut apa kata Papa dan Mama.
Seminggu di PonPes “Shalihah”
aku belum kerasan tinggal disini. Jauh sangat berbeda dengan kebiasaanku
sehari-hari. Aku berkamar dengan dua anak perempuan lainnya bernama Erina dan
Salsa. Erina adalah anak yang sangat anggun, lembut, ramah, sangat santun tutur
bahasanya ditambah wajahnya yang cantik, putih mulus pula. Tapi sifatnya sangat
sederhana, ya seperti yang kupikirkan selama ini. Jangan-jangan orang yang
paling kaya disini itu adalah aku. Tapi gak apa-apa lah aku jadi bebas
berekspresi karena aku adalah anak orang kaya raya dan paling kaya di pesantren
ini. Jadi mereka-mereka semua bisa aku jadikan bawahan aku dan bisa saja aku
suruh-suruh, gumamku dalam hati sambil tersenyum bahagia. Sedangkan Salsa
adalah anaknya pendiam tapi jika diajak ngobrol jadi humoris juga, wajahnya biasa-biasa
saja dan berkulit kuning langsat hampir sama dengan kulitku. Tapi karena
mungkin aku tak pernah terkena matahari jadi kulitku sedikit lebih bersih
darinya. Dilihat dari penampilannya Salsa termasuk berasal dari keluarga orang
berpunya juga, ya minimal diatas Erina lah. Tapi yang jelas aku lah yang paling
kaya di sini. Kedua orangtua Salsa adalah Pegawai Negeri Sipil, jadi
lumanyanlah hidupnya dibandingkan Erina. Sedangkan Erina tidak pernah mau
cerita tentang pekerjaan orang tuanya.
Saat ku Tanya, “Erin kerja orang tuamu apa? selalu dijawab
Erina “Ayah Bunda Erin orang biasa kok Mel” sambil tersenyum manis. Mungkin dia
malu kali ya ngaku kerja orang tuanya di depan kita, secara orang tua Salsa
keduanya PNS dan kedua orang tua Amel anggota dewan, ledekku. Aku memang
seringkali meledek Erina, yaa, walau begitu Erina hanya diam dan tetap
tersenyum ramah. “Tapi gak apa-apa Erin (sambil melihat sinis), meski kamu
lebih miskin dari kita berdua, kamu masih tetep kok jadi temen aku dan Salsa ya
kan Sa”, sambil nyengir kearah Salsa. Salsa melotot padaku sambil menunjukkan
ekspresi mengancam. “Iyaya dehh, maap..maap ya Erin” sambil jabat tangan. “gak
apa-apa kok”, jawab Erina hanya mengangguk sambil tersenyum manis. Tapi
sebenarnya aku suka liat Erina, cantik, manis, lembut, baik dan pintar lagi.
Cuma ya satu itu dia anak orang miskin. Padahal aku paling parno sama orang
miskin, karena bawaannya itu kumal, dekil dan gak ada bersih-bersihnya. Tapi
Erina ini beda anaknya udah cantik, manis, ramah, baik, santun, putih bersih,
pintar lagi. Bahkan jujur aku akui dia
cocok jadi Miss “Shalihah” di PonPes
ini, dengan semua yang dia miliki kecuali harta. Tapi aku tetap harus pede untuk menjadi miss “Shalihah”. Toh aku juga pintar, walau
sering juga nyontek sama Erina, tapi kan Erina mana berani ngaku kalau dia yang
ngerjain tugas-tugasku. Toh, aku kan anak orang kaya raya disini. Secara fisik
sih, semua juga pada tau Erina memang bidadarinya di PonPes ini. Tapi itu hanya
dalam pikiran semua orang, gak ada yang berani ngaku di depan aku karena akulah
orang kaya disini, semua juga tunduk padaku, gumamku dengan penuh keangkuhan.
Setiap enam bulan sekali PonPes “Shalihah” selalu mengadakan Miss “Shalihah”. Kriteria yang dinilai adalah terutama kemahiran dalam
mengaji berirama dan tartil, hafalan beberapa surah di juz 30, hafalan beberapa
hadist, kecerdasan pengetahuan di sekolah dalam beberapa mata pelajaran yang di
uji, membaca kitab kuning serta terjemahannya, berpidato dalam 3 bahasa, dll.
Tak terasa Amelia Pramana sudah enam bulan lamanya berada di PonPes “Shalihah”. Saat itu pula mereka
mengikuti perlombaan demi perlombaan. Seminggu penuh mereka bersaing untuk
mendapatkan gelar Miss “Shalihah”.
Saat acara penyematan Miss “Shalihah”
ini mereka akan mengadakan pesta besar-besaran di pesantren dengan mengundang
semua orangtua santriwati dan pejabat-pejabat setempat serta tokoh-tokoh
masyarakat sekitar. Hal yang sangat mengagumkan dan sangat membanggakan
orangtua di kala penyematan Miss “Shalihah”
tersebut. Selain hadiah yang fantastis mereka yang mendapatkan Miss “Shalihah” itu akan mendapatkan beasiswa
selama mereka berada di PonPes “Shalihah”
tersebut dan dibawakan berhaji bersama pimpinan Pondok Pesantren “Shalihah”. Dan PonPes “Shalihah”
adalah salah satu PonPes yang go Internasional.
Tidak sedikit lulusan PonPes ini yang jebol ke Kairo Mesir untuk melanjutkan
studinya. Setelah semua peserta mengikuti perlombaan dan persaingan ketat untuk
mendapatkan gelar Miss “Shalihah”.
Semua santriwati saling bahu membahu untuk membuat panggung nan megah dan
meriah untuk acara puncaknya yaitu pengumuman terpilihnya Miss “Shalihah” terbaru.
Hari ini tiba saatnya acara puncak yaitu pengumuman Miss “Shalihah” dari
Pondok Pesantren Shalihah. Aku dan teman-temanku yang lain deg-degan
menunggu panggilan nama-nama tersebut. Sementara disampingku terlihat seorang
gadis bersahaja, anggun berwibawa, cantik manis parasnya, lembut dan ramah
tutur katanya. Berpenampilan sederhana namun tetap indah dengan body-nya yang semampai sangat elegant dengan balutan gaun abu-abunya
dan sangat sejuk dipandang mata dihiasi kerudung soft pink kesukaanya. Dia tidak lain adalah teman se-kamarku Erina
Putri Qaleesya yang sering aku ledek, meski batinku sebenarnya tidak tegaan
melihat kebaikan dan ketulusan hatinya. Hati dan wajahnya senada, baik
kedua-duanya. Sejenak mengagetkanku dikala nama temanku dipanggil yaitu Salsa
Nuradilla mendapat penghargaan juara harapan III. Aku semakin deg-degan
mendengar nama salah satu temanku mendapat gelar Miss “Shalihah”, tapi mengapa bukan Erin atau Aku ya. Keringat dingin
trus mengalir sambil memeluk dan memberi selamat kepada Salsa yang sudah
mendapat juara harapan III. Tapi Erina tak seperti aku yang gugup gak jelas
seperti ini, menunggu yang belum pasti berharap dengan penuh nafsu. Diam-diam
aku makin salut dan kagum melihat kepribadian gadis jelita ini. Meski juga
kadang-kadang aku ledek-kin, itulah sifat jelekku paling anti dengan orang
miskin. Nama-nama sang juara terus mengalir terdengar ditelingaku. Tepuk sorak
sorai yang merdu dan meriah dari para tamu dan undangan saat menyaksikan sang
juara naik ke panggung beserta kedua orang tuanya membuatku makin kecil hati
dan merasa iri, ingin rasanya berada dibarisan mereka. Lamunanku buyar seketika
mendengar panggilan nama indah dan tak asing lagi ditelingaku ”Erina Putri
Qaleesya” sang juara Miss “Shalihah”
tahun ini yaitu tepatnya juara I (satu), Selamat kepada Erina Putri Qaleesya
dan kami mohon kepada Erina dan kedua orang tuanya naik ke atas pentas untuk
menerima penghargaan dari Pimpinan Pondok Pesantren “Shalihah”.
Tak sempat aku mengucapkan selamat kepada Erina, aku terlebih dulu bengong
dan takjub melihat kedua orang tuanya. Seorang pria bertubuh gagah dengan
balutan jas mewah dengan menggandeng wanita cantik yang memakai baju limited
edition designer terkenal di dunia. Itu ternyata orang tua kandung Erina..?
sambil berdiri melihat ketiganya berjalan beriringan keatas panggung, aku
sampai bengong, melotot dan keheranan dengan mulut menganga tanpa kusadari.
Karena selama ini Erina selalu aku ejek dengan kemiskinannya dan selama ini
diapun tak pernah membawa nama hebat orang tuanya, tak pernah berbangga dengan
kekayaan orang tuanya yang ternyata ayahnya adalah seorang pejabat Negara, dan
ibunya adalah seorang pemilik butik ternama di kotanya dan juga sudah banyak
cabang dimana-mana. Yaa.. aku pernah liat ibunya Erina, ketika mamaku membeli
gaun langsung dari butik, dan ayahnya sesekali tampil juga di pemberitaan.
Seketika aku lemas terduduk tak berdaya merasa berdosa dengan sikap dan
tingkahku selama ini yang sok kaya, sok hebat, angkuh terutama kepada sahabatku
sendiri. Setetes bulir bening dari mataku
jatuh dipipi, menyesal dengan keangkuhan
dan sikap yang kubuat selama ini. Maafkan aku Erin, aku nyesal telah nyakitin
kamu selama ini, aku menyesal telah mengejek dan mengatai kamu selama ini.
Astaghfirullah,, ampuni hamba ya Allah, aku memang manusia tak tau diri, merasa
diri lebih segala-galanya. Padahal diseberang sana bahkan disampingku masih
banyak orang yang bergelimangan harta, namun mereka tak seangkuh dan sesombong
aku. Erina adalah contoh terbaik buat aku, Erina sudah menyadarkanku bahwa
kekayaan orang tua tidaklah patut untuk kita sombongkan, semestinya disyukuri
atas apa yang telah kita dapatkan. Erina adalah sahabat yang special bagiku,
dia telah menorehkan nasehat, pelajaran yang penting dan sangat berharga bagiku
melalui tindak tanduknya, sikap dan tutur katanya. Akhlaknya sungguh luar
biasa, pantesan dia sangat menggemari buku-buku kisah Rasulullah bahkan
sebagian besar koleksi bukunya adalah tentang kehidupan Rasulullah. Sirah
Nabawiyah itu adalah buku yang paling digemarinya.
Erina memang pantas dijadikan contoh teladan di Pondok Pesantren ini. Erina
sahabatku, kau pantas menyematkan Miss “Shalihah”
itu. Aku bangga padamu, aku bangga menjadi sahabatmu, dan aku berharap kita
bisa bersahabat tidak di dunia saja tapi juga di akhirat kelak kita sekamar
begini, Aamiiin…! Setelah Erina turun dari panggung aku langsung menyambutnya
dengan pelukan yang sangat erat, seketika air matapun bercucuran sambil meminta
maaf kepadanya. Tapi seperti biasa, gadis cantik nan mulia itu membelai dan
menghapus air mata sahabatnya dengan lembut sambil tersenyum manis. “Sedikitpun
Erin tak menyimpan dendam dan amarah padamu Amel. Kita tetap bersahabat dan
selalu begini selamanya”. Dengan penuh bahagia Amelia kembali memeluk erat
sahabat baiknya seketika itu disusul oleh
Salsa juga ikut berpelukan.
Seminggu setelah acara pembagian hadiah para santri diperbolehkan pulang
karena menghadapi masa liburan menyambut bulan suci Ramadhan. Seperti biasa
para orangtua santri sudah mengantri diparkiran untuk menjemput putri-putrinya.
Demikian pula dengan Aku, Erina dan Salsa, juga sudah ditunggu oleh orang tua
masing-masing. Sekarang aku sudah merasa betah dan kerasan di PonPes karena
mendapat sahabat yang sangat baik. Rasanya tidak ingin berpisah lagi dan terus
ingin belajar lebih lama lagi. Tapi tidak apalah cuma 40 hari liburnya setelah
lebaran nanti kita bisa bersama-sama lagi. Empat puluh hari itu akan kuhabiskan
waktu untuk kuceritakan semua kenangan aku selama di PonPes “Shalihah” ini. Khususnya aku ceritakan
tentang sahabat sekamarku. Mungkin kalau aku tidak bertemu dengan Erina dan
tidak sekamar dengannya, sampai sekarang sifatku tak pernah berubah. Ternyata
persahabatan itu penting dan yang lebih penting itu memilih dan mempunyai
sahabat yang paling baik akhlaknya. Jujur aku salut dan bangga dengan sahabatku
yang satu ini ‘Erina Putri Qaleesya’ yang mampu dan sanggup mengubah
kepribadianku yang dulunya angkuh dan sombong serta anti dengan orang miskin,
sekarang menjadi sangat peduli kepada orang yang kurang mampu. Dari itu semua
aku pelajari, bahwa jangan lah menilai seseorang dari luarnya saja tapi
lihatlah isinya. Ambillah apa saja yang disampaikan selama itu baik untuk
hidupmu dan jangan engkau lihat siapa yang menyampaikan meskipun dia orang tak berpunya. Harta, tahta dan
popularitas bukanlah semata-mata untuk dihargai dan dibanggakan namun semuanya
itu lenyap jika tidak disertai dengan kepribadian dan akhlak mulia. Nasehat
yang selalu kuingat dari Erina adalah “janganlah pernah melihat orang dari sisi
luarnya saja, dan jangan lah suka membangga-banggakan kekayaan apalagi kekayaan
dari orang tua. Kita ini kan tidak punya apa-apa semua milik Allah bahkan
termasuk orang tua kita beserta kekayaannya”. Perkataan Erina tersebut seakan
menamparku dan membuatku sadar atas apa yang telah kulakukan selama ini.
Oleh karena itu, dalam segala hal utamakanlah isinya
terlebih dahulu daripada bungkusannya. Setelah isinya bagus baru rawatlah
bungkusannya agar luar dalam jadi sempurna. Janganlah selalu menyibukkan diri
dengan memperbaiki casing, karena casing yang bagus belum tentu dapat menentukan
isinya yang bagus pula. Kata-kata Erina menjadi hujjah bagiku, bahwa
kesombongan dan keangkuhan itu akan berakhir pada penyesalan. Dan akhlak yang
mulia itu adalah satu-satunya penyokong hidup yang aman dan damai. Kepribadian
Erina membuatku lebih banyak lagi belajar tentang hidup ini, lebih bersyukur
atas apa yang telah kudapatkan. Ternyata aku ini hanya sibuk dengan casing
luarnya saja dan mengabaikan isinya. Pilihan mondok itu merupakan salah satu
hadiah terbesar juga yang diberikan orang tuaku, meski awalnya aku tidak senang
dengan pilihan tersebut. Tapi Ingatlah! Yang terbaik bagi kita belum tentu baik
menurut Allah, dan Allah lah pemilik dan pemilih yang terbaik untuk hidup kita.
MANUSIA KALKULATOR
Oleh : Erna Putri Razali
Kehidupan yang dijalani oleh Ahmad Ar-Rifa’i tidak jauh
berbeda dengan kehidupan anak-anak lainnya. Belajar, bermain, beribadah dan
membantu orang tua, itulah keseharian yang kerap dilakukannya. Meski hidup yang
serba kekurangan namun, akhlak dan budi pekerti itu yang sangat diutamakan
dalam keluarga yang penuh dengan ketawadhu’an ini. Di sudut desa yang terpencil
dengan bangunan tempat berteduh seadanya, yang penduduknya berpenghasilan
dibawah rata-rata. Ahmad Ar-Rifa’i hidup dengan kedua orang tuanya dan abang
yang 3 tahun lebih tua darinya. Mereka hidup sangat sederhana namun, tak ada
sedikit pun merasa pesimis dalam menghadapi kehidupan yang modern dengan teknologi yang serba canggih.
Dengan memiliki sifat tawadhu’nya Ahmad Ar-Rifa’i
merupakan anak yang sangat disenangi oleh kerabat dan teman-temannya. Di
Usianya yang 16 tahun, dia terkenal dikampungnya anak yang berotak briliant,
kecerdasannya mencapai diatas rata-rata. Karena kondisi ekonomi keluarga yang
serba kekurangan, dan bermukim di pelosok desa terpencil, sehingga Ahmad
Ar-Rifa’i jauh dari pemberitaan (tidak bisa terkenal layaknya anak-anak pintar
yang berdomisili di kota-kota).
Meskipun demikian kondisi keluarganya, Ahmad
Ar-Rifa’i tak pernah surut untuk terus
semangat belajar dan belajar. Disamping itu juga orang tuanya ikut berusaha
memenuhi kebutuhan ekonomi dengan menjadi buruh tani di desa tempat tinggalnya,
serta dengan doa yang tak pernah kering dari lidah kedua orang tuanya. Abangnya
sudah duluan berhenti belajar dikarenakan kondisi ekonomi keluarga yang makin
terhimpit. Setelah lulus SMA, abangnya juga ikut membantu orang tua menjadi
buruh tani untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Dalam bathin setiap orang
tua, pasti menginginkan agar anak-anaknya menjadi orang sukses dan bahagia hidup
dunia maupun akhirat, minimal lebih berutung dari padanya. Demikian pula yang
di inginkan oleh kedua orang tua Ahmad Ar-Rifa’i. Dalam setiap sujud dan doa
selalu diselipkan kata-kata untuk kebahagiaan dan kesuksesan anak-anaknya.
“jangan sampai anak saya susah dan bodoh seperti saya” keinginan itu bagaikan
cambuk bagi orang tua yang menaruh harapan bagi anak-anaknya agar tak bernasib
sama. Satu anak sudah pasrah dengan kehidupan yang dijalaninya, harapan satu
lagi ada pada Ahmad Ar-Rifa’i. Usaha dan doa terus dilakukan oleh kedua orang
tuanya, karena mereka mengetahui bahwa Ahmad Ar-Rifa’i adalah anak yang sangat
cerdas, bahkan dari kelas 1 SD sampai menjelang akhir SMA selalu mendapat juara
kelas bahkan selalu terpilih menjadi juara umum di sekolahnya dengan jumlah
nilai yang selalu tinggi. Dan bahkan, sering sekali mengikuti
olimpiade-olimpiade yang diselenggarakan di sekolah-sekolah. Kerapkali membawa
nama harum sekolahnya dimana pun dia mengikuti kompetisi.
Ahmad Ar-Rifa’i adalah salah satu siswa yang dibanggakan
oleh guru-gurunya disamping dia anak yang santun dan ramah dengan siapapun.
Karena nasehat orangtuanya yang sangat melekat pada dirinya adalah “selalu lah
bersikap santun kepada siapapun, utamakan akhlakmu daripada ilmumu”. Itu adalah
motto yang sangat dipegang oleh Ahmad Ar-Rifa’i. Disamping itu, Ahmad Ar-Rifa’i
dikenal dengan sebutan manusia kalkulator, kata-kata itu di sematkan oleh
teman-temannya. Karena dalam keseharian belajar di sekolah, pelajaran yang
sangat dominan padanya adalah matematika dan fisika. Dalam hitung-hitungan
Ahmad Ar-Rifa’i tidak pernah memakai kalkulator atau alat hitung lainnya, dia
hanya mengandalkan otaknya saja, sehingga teman-temannya menyebut dia manusia
kalkulator. Setiap pertanyaan gurunya dijawab dengan jelas, tepat dan sempurna
hanya dengan mengandalkan otaknya saja. Ahmad Ar-Rifa’i melanjutkan sekolahnya
sampai ketingkat SMA ini, hanya bermodalkan otak dan beasiswa yang diberikan
oleh tuan tanah tempat ayah dan keluarganya mengais rezeki.
Dengan berkat doa yang
tulus dari kedua orang tuanya, Ahmad Ar-Rifa’i
mendapat nilai tertinggi di sekolahnya dan juga mendapat beasiswa untuk
melanjutkan studinya dari sebuah perguruan tinggi ternama di daerah Ibukota.
Doa yang tak putus-putusnya dari orang tua dan usahanya dalam belajar membuat
Ahmad Ar-Rifa’i menjadi anak yang genius dan berakhlak mulia. Dalam studinya
dia selalu mendapatkan nilai cumlaude dan selalu membanggakan. Namun dari itu
dia tumbuh menjadi lelaki yang sangat tawadhu’, Ibarat kata pepatah ‘semakin
berisi semakin merunduk’.
Setelah selesai studi pasca
sarjananya Ahmad Ar-Rifa’i juga telah mendapatkan pekerjaan di salah satu
perusahaan ternama di Ibukota. Sehingga mereka sekeluarga sudah mendapat
kehidupan yang sangat layak dari sebelumnya. Kedua Orang tua dan abangnya segera di boyong oleh Ahmad Ar-Rifa’i tinggal
bersamanya dengan menyediakan fasilitas yang serba mewah. Kendati seperti itu,
Ahmad Ar-Rifa’i tak pernah luput dari desa yang telah mendidiknya menjadi
manusia yang tawadhu’ dan rendah hati.
Dengan kecerdasan otaknya
sehingga dijuluki manusia kalkulator,
dia ingin membangun desanya menjadi desa yang maju dan menjadikan desa
sejahtera mandiri. Ahmad Ar-Rifa’i memutar otaknya, dia menyulap desa terpencil
dahulu kini menjadi desa yang sejahtera mandiri. Kekayaan yang dimiliki
sekarang lebih banyak di manfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat di desanya,
dengan salah satu cara membuka lowongan kerja kepada semua masyarakat di desa
yang dikoordinir oleh abangnya sendiri. Kini ayah dan ibunya yang sudah sangat
renta hanya dapat tersenyum manis menyaksikan kebijakan anaknya, menyaksikan
kesuksesan putra kebanggaannya. Sesekali berlinang airmata haru bahagia
menyaksikan dan sekaligus membayangkan kehidupan mereka dari sejak dulu hingga
sekarang. Bersyukur kepada Allah yang telah melimpahkan rahmat kepada hamba-Nya
yang mau terus berikhtiar dan berdoa dalam menjalani kehidupan yang fana ini.
Mereka menghabiskan waktu dengan hanya beribadah saja di rumah dengan fasilitas
yang serba mewah diberikan putra tercintanya.
Disamping itu, Ahmad
Ar-Rifa’i juga mendirikan sekolah-sekolah gratis kepada anak-anak miskin di
desanya. Sekolah tersebut akan disediakan fasilitas yang cukup memadai bertaraf
nasional. Dia salah satu guru yang mengajar di sekolah tersebut. Dan guru yang
direkrut adalah guru-guru yang berkompeten. Niat tulus Ahmad Ar-Rifa’i dalam
membina dan mengembangkan masyarakat desa tersebut menjadi kenyataan. SDM yang
dihasilkan dari desa tempat kelahirannya tersebut akan berkualitas dan layak
bersaing di kancah nasional. Cita-citanya sekarang adalah ingin menjadikan desa
tersebut menjadi desa yang gilang gemilang yang dikenal seluruh dunia.
GURU ADALAH CITA-CITAKU
Oleh: Erna Putri Razali
25 November adalah Hari Guru Nasional. Dimana setiap
tanggal tersebut selalu diperingati Hari Guru Nasional (HGN), biasanya dengan
mengadakan upacara dan berbagai macam perlombaan-perlombaan. Setiap siswa
dimana pun berada biasanya selalu mengadakan berbagai kejutan dengan memberi
hadiah, kado, bunga, ucapan dan puisi serta berbagai bentuk apresiasi kepada
gurunya tercinta. Begitu pula dengan aku sedang memikirkan apa yang akan aku
hadiahkan kepada sosok pahlawan tanpa tanda jasa tersebut, mengingat tanggal 25
November hampir mendekati. Guru itu adalah sosok pahlawan yang tak pernah
mengharapkan imbalan. Guru selalu setia dan tanpa lelah dalam memberikan ilmu
kepada anak didiknya. Tanpa adanya guru mungkin aku bukanlah siapa-siapa. Tak
bisa baca tulis dan tak mengenal huruf, serta tidak dapat membedakan mana yang
hak dan yang bathil. Bagiku sosok guru itu tidaklah hanya sekedar pentransfer
ilmu, namun beliau adalah orang tua kedua bagiku. Tempat aku berdialog, berbagi
pengalaman, tempat curhat serta tempat aku bersosialisasi.
“Wayoo...!! sedang mikir apa?” Yati menepuk pundakku
sambil mengagetkan aku.
“Apaan sih, kaget tau”. Jawabku dengan penuh kekesalan.
“Oh iya, kamu tau tidak. Sebentar lagi
kan tanggal 25 November, sekolah kita akan memperingati hari guru. Kalau boleh
tau guru Favorit kamu siapa? Dan kira-kira mau kasih kejutan apa untuk guru
favoritmu”.
Teetttt.. tettt.. tett Bel tanda masuk berbunyi. Aku tidak
sempat menjawab pertanyaan yang dilontarkan Yati tadi. Aku langsung bergegas
masuk, karena pelajaran akan dimulai. Sambil berjalan menuju ruang kelas aku
berkata kepada Yati, “Besok kita lanjutkan lagi pembahasan tadi ya?”. “Okey..!”
jawab Yati singkat. Saat aku mengingat semua jasa guru. Aku teringat dengan
sosok guru favoritku. Guru itu bernama Ibu Nirmala. Ibu Nirmala adala guru yang
dinanti-nantikan kehadirannya. Banyak nasehat dan motivasi yang disampaikan
beliau. Nasehat dan motivasi itu sangat berguna bagiku dan teman-teman
semuanya. Terkadang aku sering merenung sendiri memikirkan kembali apa yang
pernah disampaikan Ibu Guru yang berkacamata itu. “Apakah aku bisa menjadi
orang yang sukses dan bermanfaat bagi orang banyak?”. Aku kembali intropeksi
diri dengan mengingat kembali kata-kata ibu guru favoritku itu. Di luar sana
banyak orang yang fisiknya tidak sempurna bisa sukses dan bermanfaat bagi orang
lain. Apa lagi aku yang Allah anugerahkan fisik dengan sempurna. Kenapa aku
tidak ber-positif thinking dengan
berusaha dan berdoa. Aku tidak boleh menyerah dengan keadaan. Nasehat yang
pernah diberikan bu Nirmala menjadi obor dan motivasi diriku dalam meraih
cita-cita masa depan.
Aku mencoba merenungi semua kata-kata yang dilontarkan Ibu
Nirmala. Hingga terbawa aku ke dalam lamunan yang tidak tahu akhirnya.
“Naa..Na..Ayanaaa” Yati memanggilku berkali-berkali dengan
nada yang mulai kesal.
Aku bergegas melihatnya sambil berkata. “Ada apa Yati?
Kenapa teriak-teriak begitu?”
“Aku memanggil kamu sedari tadi. Kamu belum menjawab
pertanyaanku Na!! Siapa guru Favorit kamu?” Yati masih penasaran dengan
jawabanku.
“Kan sudah aku bilang, besok kita lanjutkan lagi”,
jelasku.
“Gak ah, kelamaan besok. Sekarang aja jawabnya, besok baru
kita bahas tentang hadiah”. Desak Yati tidak sabar menunggu jawaban Ayana.
“Guru favorit aku Ibu Nirmala, Yati”
“Dia baik iya Na..”
“Tentu. Ibu Nirmala selalu menginspirasiku. Membuatku
mengerti kenapa ilmu sangat berguna sekali di masa depan. Aku ingin menjadi
guru seperti Ibu Nirmala. Namanya selalu dikenang selamanya”. Aku menatap Yati
dengan senyuman.
Tibalah hari yang dinanti-nantikan oleh siswa yaitu
peringatan Hari Guru Nasional. SD kami juga mengadakan hari bersejarah
tersebut. Di lapangan semua murid-murid berkumpul, membentuk barisan,
menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne Guru setelah sebelumnya mendengarkan
sambutan dari kepala sekolah. Kali ini pasukan pengibar bendera Merah Putih,
dirigen lagu Indonesia raya, pembaca teks Proklamasi dilakukan oleh para guru. Setelah
Peringatan Hari Guru selesai, murid-murid pun bersalaman dengan guru. Aku dan
teman teman antre menanti giliran bersalaman dengan guru. Sebagian diantaranya
memberikan sekuntum bunga, ucapan, secarik kertas berisi puisi tentang guru,
dan berbagai jenis hadiah lainnya kepada guru. Suasana pun terlihat khidmad dan
tertib.
Kegiatan belajar mengajar pun dilanjutkan kembali. Aku dan
teman-teman bergegas masuk ke kelas untuk melanjutkan aksi kami masing-masing.
Kami menunggu kedatangan guru favorit yaitu Ibu Nirmala. Setibanya beliau di
kelas kami menyambut dengan nyanyian “Hymne Guru” :
Terpujilah
wahai engkau, Ibu Bapak Guru
Namamu akan
selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu
akan kuukir di dalam hatiku
S’bagai
prasasti t’rima kasihku ‘tuk pengabdianmu
Engkau bagai
pelita dalam kegelapan
Engkau laksana
embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot
pahlawan bangsa tanpa tanda jasa
“Selamat Hari Guru.. Selamat berjuang wahai pahlawan
pendidikan, kau bagaikan pelita dalam gulita”. Ucapku mewakili teman-teman
sekelas sambil menyerahkan bingkisan kado berisi mukena cantik dari hasil
tabunganku selama ini. Dan diikuti oleh sebagian teman-teman yang lain. Ibu
Nirmala begitu terharu melihat keikhlasan kami dalam menyanyikan lagu Hymne
Guru untuknya. Iya, beliau adalah guru kelas VI sekaligus wali kelas kami.
Dari sejak kecil aku mempunyai cita - cita dan berprofesi
mulia yakni "GURU". Saat aku duduk dibangku kelas 1 Sekolah Dasar
selalu mempunyai penilaian bahwa seorang guru adalah sosok termulia di dunia.
Menjadi tauladan bagiku berseragam rapi
bertutur kata lembut, ikhlas dalam memberi, penuh kasih sayang terhadap semua
orang, tanpa membedakan antara yang satu dengan yang lain. Dari sejak itulah
aku semakin mantap untuk bercita-cita menjadi guru.
Hari berganti bulan berganti tahun diriku sudah lulus SMA.
Saat menerima ijazah kelulusan SMA ayah dan bunda bertanya padaku.
"Kamu mau masuk kuliah ke mana ?" tanpa panjang
lebar aku menjawab pertanyaan ayah dan bunda.
"Aku mau masuk kuliah ke universitas pendidikan biar
aku bisa menjadi GURU yah, bun". Ayah dan bundaku bahagia dan bangga aku
memilih universitas pendidikan. Mereka memelukku dengan erat penuh harapan diriku
pasti menjadi guru. Mereka bergegas menyuruhku memilih universitas pendidikan
terbaik. Ternyata mereka sangat mendukung semua keinginanku untuk menjadi
seorang guru. Akhirnya aku mengikuti tes penerimaan mahasiswa baru di
universitas pendidikan, selang beberapa bulan pengumuman kelulusan penerimaan
mahasiswa universitas pendidikan. Tertera namaku paling atas lulus dengan nilai
terbaik. Aku berusaha belajar dengan serajin mungkin sambil berdoa untuk
mencapai nilai terbaik lulus dengan predikat sarjana terbaik. Semester 1 aku
lewati dengan IPK terbaik di fakultas pendidikan SD dengan predikat cumlaude. Dengan nilai IPK terbaik (cumlaude) yang kuraih sehingga membuat
namaku terkenal di fakultas dan kampungku.
Sampai di semester kedua pun aku masih bisa mempertahankan
nilai IPK tertinggi (cumlaude). Aku
sangat bersyukur atas prestasi yang telah kudapatkan serta bahagia bisa membuat
Ayah dan Bunda bnagga kepadaku. Sehingga namaku semakin banyak diperbincangkan.
Pun saat itu kebanyakan sekolah-sekolah negeri mengalami masa-masa pensiunan
guru. Sehingga di sekolah-sekolah dilanda kekurangan guru. Termasuk sekolah
yang dekat dengan tempat tinggalku. Malam berganti pagi yang indah cerah angin
bertiup sepoi-sepoi nan sejuk penuh kebahagiaan. Ada sosok seorang lelaki
dewasa berseragam rapih mengetuk pintu rumahku.
"tok, tok,
tok," ( suara di balik pintu )
" Assalamu’alaikum”, (suara sang lelaki berseragam).
Tak lama kemudian bunda membuka pintu.
"Waalaikumsalam warahmatullahiwabarakatuh, anda bapak
kepala sekolah di SD sebelah ya pak",
Maaf ada perlu apa ya pak ?" tanya Bundaku
"Saya mau bertemu dengan putri ibu, bolehkah?"
Bunda bergegas memanggilku untuk ke teras ngobrol dengan
bapak kepala sekolah tersebut. Tak terasa detik berganti menit ke jam aku
ngobrol dengan bapak kepala sekolah. Ternyata beliau menawarkan aku, apakah aku
bersedia menjadi guru di SD sebelah saat tidak ada jam kuliah karena mendengar
diriku termasuk mahasiswi terbaik di kampus dengan berbagai prestasi dan nilai cumlaude ku yang sudah mewabah seluruh
dusun di kampungku itu. Aku kaget terdiam bahagia bisa ngajar di tempat SD ku
dulu dalam hati bergumam "aku masih
semester dua tapi ada yang menawari ku menjadi guru, Alhamdulillah ya Allah”.
Lirih ku. Ini sebuah mimpi anak SD menjadi kenyataan. Teringat kembali semangat
dan nasehat dari guru favoritku sewaktu SD Ibu Nirmala, beliau pernah berkata “
guru adalah profesi yang sangat mulia terutama bagi kita seorang wanita. Guru
bukanlah orang hebat, tapi orang hebat terlahir karena jasa para guru”. Sejak
saat itu, aku ber-azzam dalam diriku
untuk bercita-cita menjadi guru. Tanpa berfikir panjang tanpa bertanya lagi
pada Ayah dan Bunda aku terima tawaran bapak kepsek SD sebelah almamaterku. Aku
akan mengatur sedemikian rupa waktuku antara kerja dan kuliah. Kesempatan ini
tak akan terulang untuk kedua kalinya. Sangat jarang terjadi hal seperti ini,
diusia yang masih belia dan masih haus dalam menuntut ilmu, aku sudah dapat
menghasilkan uang sendiri. Tanpa menadahkan tangan lagi kepada orang tua
layaknya tenman-temanku saat ini. Aku sangat bersyukur kepada Allah atas apa
yang telah diberikan-Nya.
Pagi cerah nan indah sang fajar tersenyum merekah secerah
hatiku. Dengan bahagia aku bergegas memakai baju rapi, berkerudung coklat
kekuning-kuningan berseragam PDH layaknya PNS-PNS lainnya. Bersepatu hitam
menandakan kedisiplinan dan membawa tas mungil berwarna hitam senada warna
sepatu, aku berkaca dalam hati bergumam, “aku bak guru favoritku saat dibangku
SD Ibu Nirmala, yang sebentar lagi akan menjadi rekan kerjaku”.
Aku berjalan menuju gerbang SD saat seorang lelaki yang
sudah beruban menyapaku dengan tersenyum, “tiga belas tahun yang lalu, kamu
masuk sebagai peserta didik, kini kamu masuk sebagai pendidik” (sapaan satpam
tersebut dengan penuh kebanggaan). Dengan tersenyum pula aku menjawab “iya pak,
semua ini adalah takdir dari Allah, kita hanya manusia yang menjalankan semua
skenario yang telah Allah tetapkan. Semoga saya menjadi selalu yang terbaik di
mata-Nya”. “Aamiin ya Rabb”. Tambah satpam tersebut sambil mempersilahkan Ayana
ke dalam. Aku melangkahkan kakiku ke sebuah ruangan yang berlabelkan ruang
guru. Disana aku disambut dengan penuh kehangatan dan wajah yang sumringah oleh
semua guru tanpa kecuali sang guru favoritku Ibu Nirmala. Kini aku sudah
menjadi pengajar dan pendidik ditempat yang sama pula aku diajar dan dididik.
“Mulai saat ini aku akan menikmati perjalanan hidupku, takdirku sekaligus
cita-citaku yaitu sebagai guru”. Gumamku dalam hati. Guru itu ibarat lilin. Ia
rela terbakar, demi menerangi masa depan murid-muridnya. Guru adalah pahlawan
tanpa tanda jasa. Jasanya dikenang sampai akhir hayat. Peran guru sangatlah
penting dalam dunia pendidikan. Guru tak dapat digantikan dengan secanggih
apapun teknologi yang ada di dunia ini. Seorang guru bahkan rela
mengesampingkan kepentingannya demi bisa merampungkan tugasnya menjadi abdi
negara. Impian seperti apapun tidak akan mungkin terwujud tanpa sepak terjang
guru yang mengenalkan abjad, panduan membaca, hingga terobosan baru menjelajahi
cakrawala dunia yang luas. Ada tangis dan permohonan yang tidak sempat mereka
ucapkan. Namun hal ini sudah dipahami oleh setiap muridnya. Jasamu guru tak
dapat terbalaskan, engkau bak mentari menyinari bumi. “Orang hebat bisa
melahirkan beberapa karya bermutu, tetapi guru yang bermutu dapat melahirkan
ribuan orang-orang hebat”.
JODOHKU BUKAN JODOHKU
Oleh: Erna Putri Razali
Sore itu tak seperti biasanya. Angin mengalun sendu dengan
binar-binar senja yang sayup. Tak sengaja aku melihat sesosok pria berkacamata,
berwajah tampan, berseragam putih yaitu baju kebesarannya namun tetap selalu
rapi sedang duduk di sebuah taman disamping rumah sakit dekat kota tempat
tugasnya. Aku terus mendekati dan duduk disamping tanpa sepengetahuannya. Dari
gerak geriknya dia sangat sibuk dengan tugas-tugasnya itu.
“Vania..? kamu disini..?” tanya Furqan kaget.
“Aku menunggumu dari sejam tadi di tempat biasa, namun kamu tak kunjung
datang jadi kuputuskan kutemuimu disini dan ternyata kamu ada di taman”.
Jawabku dengan wajah yang kesal namun tetap manjah.
“Ya ampun sayang..? maaf ya, aku lupa. Tadi itu aku lagi berberes untuk keberangkatanku
besok dan ini belum kelar-kelar kerjaannya”. Jelas Furqan dengan nada menyesalnya.
“Fur, kamu yakin mau ninggalin aku..!”
“Vania...? aku tidak meninggalkan kamu, tapi kan aku sebagai dokter harus
mengabdi dan selalu bersedia dimanapun aku ditempat tugaskan, sebagai dokter
aku juga harus menjaga kode etikku. Meskipun aku ditempatkan didaerah terpencil
aku harus siap”.
“trus….gimana dengan aku..?”
“Vania..? dengarkan aku ya sayang, kamu itu sudah jadi tunanganku dan
sebentar lagi setelah selesai kuliahmu kita akan nikah. Dan itu tinggal setahun
lagi, iya kan”. Jelas Furqan sambil menatap calon isterinya dengan penuh kasih
sayang.
“Tapi aku takut, Fur..?, nanti kamu disana kenapa-napa dan ….” Tiba-tiba
lidahku kelu dan hatiku terisak sedih sekali sehingga tak dapat melanjutkan kata-kata. Seketika Furqan
membelai Vania sambil merebahkan kepala kekasihnya itu kepundaknya agar dapat
melampiaskan semua kesedihannya.
“Kamu tidak perlu khawatir denganku, aku akan selalu setia padamu. Setelah
kamu juga meraih gelar dokter kita akan langsung ke pelaminan untuk mengikat
janji suci kita. Dan kita akan hidup bersama, Aku mencintaimu Vania”. Lirih
Furqan sambil menghapus jejak airmata Vania.
“Benarkah itu Furqan..?, kamu gak akan berubah meski kita jauh ?” Ucap
Vania sambil menatap Furqan dengan penuh haru.
“Iya sayang..!”. Furqan mengangguk mantap sambil menatap lekat wajah
cantik tunangannya.
Pagi yang sejuk nan sendu dibawah rintikan hujan. Tangis
Vania pecah sembari melepas kepergian sang kekasih untuk menunaikan tugas yang
telah diamanahkan. Menjadi dokter di sebuah desa terpencil diseberang pulau
yang jauh dengan segala kemoderenisasi. Apa hendak dikata sebagai dokter yang
baik harus selalu siap mengabdi untuk bangsa dan negara di manapun berada. Air
mata Vania terus bercucuran seiring langkah Furqan yang terus menjauh darinya. Dia
merasa tak sanggup menjalani hari-harinya tanpa didampingi kekasih hatinya yang
sudah 5 tahun setia menemaninya dalam suka dan duka. Setelah bus yang
ditumpangi Furqan menjauh dan sudah tidak keliatan lagi, Vania kembali menangis
sejadi-jadinya. Dibawah pohon di tepi jalan yang sepi. Hanya sesekali deru
mobil lalu lalang. Dibawah rintik hujan semakin jadi. Vania melampiaskan semua
kesedihannya yang biasanya selalu ditemani Furqan. Berat hati sebenarnya
melepaskan kekasih hati yang selama ini selalu mendampinginya, sedih sekali
hatinya, seperti ada daging yang menyumbat ditenggorokan dan dadanya sangat
sesak. Air mata Vania terus mengalir. Bahkan walau dia berkata dalam hati untuk
kuat, masih saja Vania mengharapkan Furqan selalu bersamanya dan tidak
dipisahkan sedetikpun. Namun Vania menyadari dan yakin bahwa jodoh itu sudah
Allah yang mengatur, jika Furqan jodohnya pasti dia akan kembali kepadanya
dengan selamat. Vania sangat mencintai Furqan sehingga sangat takut kehilangan
Furqan. Furqan adalah lelaki pertama yang dia cintai dan merupakan cinta
pertamanya.
Setiap malam sebelum tidur Vania hanya bisa menatap foto
mereka berdua. Di ponselnya tak ada foto lain selain foto mereka. “Aku ingin
menjadi wanita yang baik agar pantas bersanding denganmu Furqan”. Gumamku dalam
hati. Furqan adalah lelaki yang baik yang pernah dikenal Vania. Vania sangat
yakin kalau Furqan adalah jodohnya, imamnya yang akan membimbingnya kelak dalam
mengarungi bahtera rumah tangga.
Hari demi hari, bulan pun silih ikut berganti. Mereka
tidak pernah putus kontak walau sehari pun. Dan saat-saat tiba di hari
penghujung Desember, Vania merasa sangat bahagia bagaikan seorang anak manusia
yang kembali dimabuk cinta, yang mengharapkan kekasihnya datang untuk
menemuinya. Dikarenakan juga studinya selesai dan akan tiba sang pangeran hati
menjemputnya untuk ke pelaminan. Terasa sangat tidak sabar untuk menantikan
hari-hari tersebut. Akhir-akhir Nopember ini setiap hari Vania merasa sungguh
sangat-sangat bahagia. Terkadang dia tersenyum-senyum sendiri dan sering
bersenandung dalam kamar mandi yang selama ini sudah jarang dia lakukan. Kini
wajah dan hati Vania kembali berseri-seri se-kayak bunga yang sedang bersemi.
Seperti biasanya aku selalu menatap foto kami berdua yang terletak disudut meja
belajarku. Terkadang sampai terbawa tidur sambil memeluk foto dalam bingkai
yang berwarna putih dan pinggirannya berlukiskan mawar merah.
Keesokan harinya. Seperti biasa, sebelum beranjak dari
tempat tidur ku tatap wajah tampan yang dihiasi kacamata itu. Dan betapa
terkejutnya aku melihat foto dalam bingkai kesayanganku itu tak berada ditempat
biasanya. Dan degh,, hatiku semakin takut, kacau tak karuan seketika menginjak
beling dari bingkai foto kami berdua.
Hatiku bagaikan disambar petir. Kepalaku terasa pusing gak tau arah
kemana. Pikiranku buntu. Aku semakin panik melihat kejadian ini. Apa yang
terjadi ya Tuhan..? tak terasa air mataku berderai. Hatiku seketika tak tenang
lagi. Pikiranku melayang ke Furqan. Seraya langsung kuraih ponsel untuk
menghubungi Furqan. Tuuuuutt…tuuuuuttt…tuuuuuttt! (nomor yang anda tuju sedang
tidak dapat menerima panggilan). Tubuhku langsung terjatuh dan lemas tak
berdaya, lunglai bagai dilolosi satu persatu. Pandanganku kosong terasa air
mata sudah kering tak bisa keluar lagi. Hatiku berkecamuk, campur aduk, gundah
gulana. Pikiranku hanyalah Furqan seorang. Setengah jam aku seperti itu,
tiba-tiba ponselku berdering. Secepat kilat kuhapus airmata yang mengalir dari
sudut mataku, langsung kupelototi ponsel dan berharap sangat Furqan yang
menghubunginya. Dan ternyata itu adalah orang tua Furqan yang sambil menangis
terisak-isak mengatakan Furqan sudah tiada. Dia sudah meninggal sebelum subuh
dikarenakan bus yang dia tumpangi jatuh ke jurang. Dari TKP sudah ditemukan
identitas dan jenazah Furqan. Pihak keluarganya sudah mengurus semuanya dan
segera dipulangkan jenazah Furqan ke rumah orang tuanya. Menurut penyelidikan
polisi bus tersebut disopiri oleh orang yang sedang dalam keadaan mabuk
sehingga ketika posisi bus melewati jurang dia hilang kendali.
Aku tak kuasa menahan air mata yang terus mengalir deras sampai aku tidak
sadarkan diri. Perlahan aku buka mataku sedikit demi sedikit dan aku melihat ibu
berada di sampingku.
“Vania.. kamu sudah sadar, Nak..?” tanya Ibuku dengan
wajah sedihnya.
“Ibu.. aku dimana? Dimana Furqan bu..?” tanyaku kembali
pecah tangisanku.
“Bersabarlah anakku.. ini cobaan untukmu sayangku..”.
Jawab ibu sambil menitihkan airmata seraya memeluk putrinya yang terus menerus
menangis tiada henti. Terasa ruangan kamarnya bagaikan diterpa badai yang
menghantam seluruh isinya. Aku terdiam saat mendengar ucapan ibuku, hatiku
perih, sedih, sakit tak tau rasanya. Pikiranku buntu, kosong, gelap semuanya.
Airmataku tak terbendung lagi. Bibirku hanya berucap, “Furqan kenapa secepat
ini kamu meninggalkanku. Kamu sudah berjanji untuk segera menikah denganku”.
Tiba-tiba tangisku kembali pecah. Airmataku terus mengalir menganak sungai. Ibu
dengan penuh kesabaran dan kelembutannya terus menghibur dan menasehatiku.
2 hari berlalu dan aku berkunjung ke makam Furqan, aku
berharap kami bisa menghabiskan waktu bersama dan menua bersama-sama. Tetapi
sekarang semua itu hanya angan-angan. Aku berjanji akan selalu mengenangmu.
Furqan, rasanya aku belum ikhlas melepas kepergianmu, tenanglah di sana kekasih
hatiku. Aku masih mencintaimu sampai saat ini. Dengan langkah yang masih
lunglai serta wajah seakan hilang cahayanya, aku kembali melangkah pulang
ditemani ayah dan ibuku.
Hari berganti hari, bulan pun ikut silih berganti. Aku
terus mengurung diri dalam kamar. Tak ada sesuatupun yang dapat kulakukan. Aku
bagaikan hilang kendali, hilang arah dan tanpa tujuan hidup. Separuh jiwaku
pergi. Badanku semakin kurus dikarenakan selera nafsu makan pun hilang. Nanar
mataku tak pernah kering dari tatapan foto pria berkacamata tersebut. Furqan
masih dihatiku. Wajah tampan tersebut tak bisa secepat itu pergi dari hati dan
pikiranku. Meski raganya telah jauh dan tak akan pernah kembali, namun jiwanya
selalu di hatiku. Entah sampai kapan hal ini akan berubah seperti sedia kala.
Vania adalah wanita periang, cerdas dan selalu berseri-seri. Saat ini ciri khas
wanita cantik itu hilang dalam sekejap bagai ditelan bumi. Setiap hari
teman-teman Vania secara bergantian ke rumah untuk menghiburnya. Terkadang
mereka juga lelah melihat kondisinya yang tak pernah berubah. Namun, begitulah
yang namanya sahabat yang selalu setia menemani dikala suka maupun duka seperti
saat ini. Mereka tak pernah menyerah sampai Vania bisa kembali seperti sedia
kala, wanita cerdas, cantik, periang dan selalu menebarkan senyum kepada
siapapun. Sesekali teman-temannya juga menginap di rumah Vania untuk
menemaninya dan bisa berbagi cerita. Terkadang mereka juga mengajak Vania
jalan-jalan ke mall dan nonton
bioskop. Ibunya pun tak pernah lalai dalam memberinya kekuatan/motivasi dan
nasehat kepada puteri tercintanya. Malam itu, ibu dan ayah Vania mengajak
liburan untuk beberapa pekan supaya bisa menggantikan suasananya. Mereka
beranggapan supaya ada sedikit perubahan dalam diri puterinya itu. Vania
menyetujui hal itu.
Selama berada di Villa keadaan Vania makin hari makin
membaik. Sedikit demi sedikit Vania sudah bisa menerima kenyataan bahwa
kekasihnya Furqan sudah tiada dan tidak mungkin kembali. Dia harus move on, harus kuat menghadapi
kenyataan. Sekelumit nasehat dari ibunya kembali terbersit dalam hatinya,
“Allah maha mengetahui atas apa yang Dia berikan dan cobaan itu sudah terukur
untuk hamba-Nya. Allah sang maha baik dan memberi yang terbaik untuk
hamba-Nya”. Seketika semangat Vania hampir 50% kembali. Segera bergegas ke
dapur untuk mencari makanan. Terasa sangat lapar perutnya karena sudah
berbulan-bulan nafsu makannya berkurang, begitu pula berat badannya menurun drastis.
Ketika orang tua Vania melihat keadaan sang puteri tunggalnya semakin hari
semakin membaik, mereka memutuskan untuk sementara waktu tinggal di Villa saja.
Dan rumahnya di kota di kelola oleh pembantunya sekaligus menyuruhnya untuk
merapikan semua kenangan Vania dan Furqan di simpan dalam satu tempat. Sebulan
berlalu. Seperti biasa Vania berjalan-jalan pagi menikmati suasana pegunungan
nan indah dan asri sambil berolahraga lari-lari kecil.
Tiba-tiba aku terjatuh terpeleset dan seketika ada yang
menarik tanganku sembari membopongku perlahan. “maaf mba, anda tidak apa-apa”,
tanya sosok pria tampan bertubuh gagah tersebut.
“mmm.. tiiitiidak Mas”, jawabku gugup, terpesona dengan
ketampanannya. Seakan mengalahkan ketampanan Furqan.
“Terimakasih telah membantuku”. Tambahku dengan nada
lembut dan tersipu malu, melihat gagahnya pria tersebut.
“Sama-sama mba”, balas pria berkulit putih sambil
tersenyum manis.
“Emang saya sudah seperti mbak-mbak yak, hheee..!”,
Candaku sambil mengerling kearahnya.
“Oh, tidak..tidak”, Spontan pria gagah itu menyela.
“Maaf.. namanya siapa..?” sambil mengulurkan tangannya
kearahku.
“Vania, dan anda..?”
“Farhan, panggil saja saya Mas Farhan”. Dia menyuruhku
sebut ‘Mas’ untuknya, mungkin karena dari perawakannya dia lebih dewasa dariku.
Sambil terus berjalan-jalan mengelilingi kebun, Vania dan
Farhan saling berbagi cerita satu sama lain. Mereka saling berbicara tentang
pribadi masing-masing. Entah kenapa Vania bisa begitu terbuka dengan lelaki
yang baru dikenalinya. Dan sesekali mereka tertawa terkekeh-kekeh. Seakan beban
yang dialami Vania selama ini telah dihapus oleh pria tampan dan berwajah alim
itu. Hari berganti minggu hubungan mereka semakin akrab. Sepertinya Vania telah
mulai membukakan hatinya kembali kepada lelaki lain. Kedua orang tua Vania
merasa sangat bahagia melihat kedekatan Farhan dan Vania ketika diajak ke
villanya Vania untuk jamuan makan malam.
Tiga bulan kemudian. Vania kembali beraktivitas seperti
biasa. Dia sedang menikmati hidupnya menjadi dokter muda di salah satu rumah
sakit di kotanya. Kehidupan Vania
kembali normal. Dia menjalani hari-harinya seperti layaknya
wanita-wanita lain. Wanita muda berprofesi dokter. Vania sudah kembali seperti
dulu lagi, dan teman-temannya merasa sangat bahagia akan hal itu. Bekerja,
bermain, nge mall, bercanda,
ketawa-ketiwi, makan-makan dan jalan-jalan bersama sahabatnya seperti dulu.
Ketika makan malam bersama teman-temannya tiba-tiba handphone Vania berbunyi, dan seperti biasa Vania minta ijin dari
teman-temannya untuk mengangkat panggilan tersebut. Dan ternyata ketika dilihat
panggilan tersebut berasal dari lelaki yang sempat dikaguminya saat liburan
beberapa bulan yang lalu. Degh,, hatinya langsung berdebar ntah kenapa rasa itu
muncul tiba-tiba.
“Assalamu’alaikum…” suara dibalik ponselnya.
“Wwwa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh”. Suaraku
gugup menjawab salam dari pria baik itu.
“Alhamdulillah, Maasya Allah.. lengkap sekali jawaban
salamnya”
“Apakabar Vania..?”. Sapa Farhan lembut, selembut
tatapannya ke Vania tempo dulu.
“Alhamdulillah baik, Mas Farhan apa kabar..”. Tanyaku
kembali dengan pertanyaan yang sama karena gugup gak tau mau ngobrol apa. Vania
merasa dirinya aneh karena sering gugup ketika berjumpa atau bahkan mengobrol
dengan Farhan. “Jangan-jangan aku jatuh cinta lagi”. Gumamku dalam hati.
“Halloo… Vaniaa.. masih disana kah..?”
“Iya iyaa Mas, Vania masih dengar ni”. Jawabku kaget.
“Ohya, Mas mau nanya nie, Vania sibuk gak..?”
“Gak Mas”.
“Besok malam ketemuan yuk, saya mau cerita sesuatu sama
Vania”.
“Boleh Mas, Insya Allah Vania bisa kok”. Jawabku dengan
penuh penasaran apa yang akan di cerita Mas Farhan ke aku. “Jangan-jangan dia
mau nembak aku lagi, aah gak-gak ah.. kegeeran banget aku nih”. Batinku. Tanpa
disadarinya Vania sudah mengalami jatuh cinta kedua kalinya. Dan pria yang dia
kagumi kali ini lebih sempurna dan lebih mapan lagi dibandingkan dengan Furqan
yang dulu.
Keesokan malamnya. Vania begitu kaget ketika mendengar
cerita Farhan, bahwa dirinya akan dijodohkan oleh orang tuanya. Farhan merupakan
anak pertama dari dua bersaudara. Saudara lelakinya sudah meninggal dunia
sepuluh bulan yang lalu karena kecelakaan. Sementara Farhan tidak sempat
melihat jenazah adiknya itu dikarenakan Farhan sedang berada di luar negeri
menjalani bisnisnya. Farhan tidak tega menolak perjodohan tersebut. Sejak dia
kembali ke tanah air satu-satunya teman dekat Farhan adalah Vania. Jadi Vania
lah tempat yang dia percayai untuk mencurahkan semua perasaan hatinya. Mereka
dipertemukan ketika sama-sama menikmati liburan di pegunungan. Dari sejak itu
pula sepertinya Farhan juga menyukai wanita cantik berkerudung merah yang saat
ini berada tepat dihadapan matanya. Farhan memandang Vania begitu dekat
sehingga membuat Vania salah tingkah. Farhan sangat yakin akan hatinya. Dia
merasa jatuh cinta kepada Vania sejak pertama kali melihatnya. Cinta itu adalah
cinta pertama bagi Farhan. Farhan mengajak Vania ke rumah untuk
memperkenalkannya kepada orang tua Farhan. Tapi Vania tidak berani dan
menolaknya dengan halus karena sudah tahu bahwa orang tua Farhan mau
menjodohkan Farhan dengan wanita lain. Sebenarnya hati Vania sangat senang
ketika diajak berkenalan dengan orang tua lelaki idamannya itu. Saat malam itu
pula Farhan menyatakan cintanya kepada Vania. Vania merasa sungguh sangat
tersanjung kala itu. Wajahnya yang putih kemerah-merahan dengan balutan gamis
yang berwarna merah muda membuat dia makin mempesona di mata Farhan. Matanya
yang lentik lagi berbinar-binar seakan masa depan yang cerah akan segera
menantinya. Lidah Vania terasa kelu tidak dapat berkata apa-apa. Vania menatap
sepasang mata yang syahdu dihadapannya tanpa berkedip. Tatapan mata itu membuat
hati Vania menjadi tenang dan nyaman. Hatinya sangat bahagia bagaikan bunga
yang sedang bermekaran penuh warna warni, disertai dengan suasana restoran yang
harmoni diiringi musik nan romantis. Saking bahagianya dia seakan tidak peduli
dengan orang-orang disekitarnya yang sangat ramai.
Jam menunjukkan pukul 22.00 WIB. Farhan terkejut melihat
plat mobil yang berada di halaman rumah Vania saat mengantarkan Vania pulang.
Ternyata itu adalah mobil kedua orang tuanya. Ketika masuk ke rumah kembali
dikagetkan oleh keempat orang tua tersebut yaitu orang tua Vania dan orang tua
Farhan. Ternyata mereka sedang bermufakat untuk menjodohkan kedua putra
putrinya itu. Orang tua Farhan sekaligus Furqan sudah terlanjur sayang kepada
Vania. Mereka sudah menganggap Vania lebih dari menantu. Agar hubungan keluarga
itu tidak terputus maka keduanya ingin menjodohkan kembali Farhan dengan Vania.
Karena itu pula orang tua Farhan menyuruh anak sulungnya itu pulang ke
Indonesia untuk melanjutkan bisnisnya di tanah air saja agar lebih dekat dengan
orang tua. Farhan sangat sukses dengan bisnis yang digelutinya sampai ke luar
negeri. Ternyata Farhan adalah abang kandung dari Furqan. Yang sekarang akan
dijodohkan kembali dengan Vania.
Akhirnya setelah bermusyawarah, dua keluarga sepakat
menikahkan kami. “Jadi… sekarang sudah jatuh cinta kan sama aku? Bisik Farhan
manja di telingaku ditengah-tengah meriahnya acara resepsi pernikahan
kami.”emmh.. pikir-pikir dulu lah”. Balasku mencebikkan bibir.
“uuhh..nakal..” dia mencubit pinggangku. Kami tertawa
bersama. Bahagia? Sangat. Iya aku sudah jatuh cinta padamu batinku malu-malu.
Terimakasih Tuhan. Ternyata dibalik musibah semuanya terdapat hikmah yang luar
biasa melebihi seperti yang aku pikirkan. Ya Tuhan... bimbinglah aku dan Mas
Farhan agar terus berada dalam lindungan dan ridha-Mu. Aku baru pertama kali
merasakan bahagia yang tiada tara seperti ini. Aku sudah menjadi seorang isteri
sekaligus permaisuri dari pangeran yang kucintai secara diam-diam. Engkau telah
mengirimkan pria yang super baik dan sangat sabar seperti Farhan. Dan ternyata
benar apa kata ibuku, Allah telah memberikan apa yang kubutuhkan dan bukan apa
yang aku inginkan. Farhan mau memahamiku dan mempelajari semua sikapku. Seolah
semua sifat baik pria ada padanya. Bagaimana aku tidak jatuh cinta kepadanya
meski ini adalah cinta keduaku, namun ku berharap ini adalah cinta terakhirku.
“Terimakasih”
“Untuk apa Mas”
“Mau menerimaku menjadi suamimu”, sambil mencubit pipiku
dengan gemas.
Aku mengaduh kemudian hendak membalas mencubit
pinggangnya. Namun Mas Farhan berlari, aku mengejarnya.
“Mas tunggu, jangan lari. Curang, ih!”, aku merajuk
Mas Farhan berhenti lalu terbahak.
“Dasar manja”.
“Manja tapi kamu suka, kan..?” aku menggodanya.
Mas Farhan tersenyum lebar, Manis sekali. Senyum yang
tulus tanpa paksaan.
Terimakasih ya Allah. Kehilangan Furqan bukan berarti aku
mati dengan cinta. Tapi justru aku menemukan cinta sejati yaitu Farhan. “Mas
Farhan aku akan menyayangi dan selalu mengabdi padamu”. Aku memeluk mas Farhan
dengan sangat erat, rasanya tak ingin melepasnya. Jika Allah telah memilih
sesuatu untukmu maka itulah yang terbaik pilihannya bagimu. Allah selalu
memberi apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Begitu pula dengan
jodoh. Jodohmu tidak akan tertukar dengan orang lain meski sangat jauh di
rantau orang, Namun dengan mudahnya Allah pertemukan. Bersabarlah atas semua
cobaan dan masalah yang menimpa dan terimalah takdir yang telah ditetapkan
Allah. Sesungguhnya itulah yang terbaik untuk hidupmu.
MERAJUT MIMPI
Oleh : Erna Putri Razali
“krekk krekk” Pintu kelas terbuka, pasti ada guru yang
masuk. Gumamku dalam hati. Dari arah luar datanglah seorang laki-laki
berkacamata berpakaian batik lengan panjang masuk ke ruang kelas. Beliau adalah
guru kelas kami sekaligus guru idolaku. Suasana jadi hening yang tadinya ramai
dan ricuh.
“Assalamu’alaikum”.
Serempak kami menjawab salam “Wa’alaikumussalam warahmatullahi
wabarakatuh”. Kami semua duduk dengan rapi sambil menunggu materi pelajaran
yang diberikan Pak Herman. Kebetulan
hari ini belajar pelajaran bahasa Indonesia. Pak Herman memberi tugas tentang
menulis cita-cita. Sebagai siswa yang masih duduk kelas 6 SD tentu sangat
banyak dan tinggi sekali cita-cita yang disebutkan. Mulai dari ingin menjadi
presiden, ingin menjadi astraunot, ingin menjadi dokter, guru, tentara, polisi,
pilot bahkan ingin menjadi pengusaha terkaya di dunia. Siapa sangka mereka yang
masih kecil mempunyai mimpi yang cukup tinggi dan bisa berhayal sampai ke
langit biru. Sementara setelah dewasa tak ada satu orang pun yang berani
menyatakan hal demikian. Seakan mimpi-mimpi mereka sewaktu kecil bagaikan
imajinasi belaka.
Setelah selesai mengerjakan
tugas yang diberikan Pak Herman. Satu persatu disuruh bacakan di depan kelas
tentang karangan yang kami tulis. Tiba saatnya giliran aku. Lama sekali
menunduk. Berulang kali Pak Herman menyebut namaku. Dan semua siswa melihat ke
arahku. Karena tak ada respon dariku, akhirnya pak Herman datang mendekatiku.
“Aditya.. kenapa kamu tidak mau maju nak..?”. tanya Pak Herman lembut. Itulah penyebabnya
aku sangat mengidolakan beliau. Meski seorang laki-laki beliau tak pernah marah
dengan muridnya. Aku tetap memilih diam. Karena aku tak berani membaca tulisan
karanganku itu. Tak jarang teman-teman sekelasku mengejekku dikarenakan aku
anak orang miskin yang sering bermimpi menjadi orang kaya. Karena sebelumnya
kami pernah mengadakan tanya jawab dengan bu Ratna juga tentang cita-cita. Aku
dengan bangganya menjawab ingin menjadi pengusaha kaya raya. Sementara
teman-teman yang lain menertawakanku. Mereka menganggap cita-citaku itu semua
hanyalah sebuah mimpi dan hayalan belaka. “Mana mungkin..?” ejek mereka. “Untuk
bayar SPP aja harus nunggak beberapa bulan. Nah ini, udah bermimpi lagi ingin
menjadi pengusaha kaya raya”. Cerca mereka sambil tertawa terbahak-bahak. Dari
sejak itulah aku merasa minder dan gak berani mengungkapkan apa-apa lagi karena
aku orang miskin.
“Adit.. kamu belum siap tugasmu ya..?”. Lanjut Pak Herman dengan penuh
kesabarannya.
“kalau kamu belum siap tidak apa-apa, biar bapak panggil teman-teman yang
lain dulu”. Kata Pak Herman.
“tugas saya sudah siap pak, tapi…?” jawab aku dengan masih muka tertunduk
dan memulai membuka suara.
“tapi kenapa nak…?”
“saya gak mau baca pak, biar bapak aja yang baca”
“lho..kok kamu gak mau baca, biasanya paling seneng kalau disuruh ke
depan”.
“saya malu pak, takut diejek teman-teman lagi. Cita-cita saya dianggap
mimpi belaka dan gak mungkin tercapai. Karena saya orang miskin pak”. Jelas aku
sambil menatap wajah Pak Herman dengan mata berkaca-kaca.
“oh itu masalahnya..”.
“Aditya.. dan juga anak-anak sekalian… siapapun kita boleh saja bermimpi
dan mempunyai cita-cita. Baik itu orang miskin maupun orang kaya. Karena
bermimpi atau bercita-cita itu gratis tidak dipungut biaya. Jadi jangan sampai
gegara kita tumbuh dan berasal dari keluarga dengan kondisi di bawah garis
kemiskinan membuat kita takut bermimpi, takut bercita-cita. Selama kita punya
Allah, langitkan semua keinginan dan cita-cita kalian. Bermimpilah kalian,
bercita-citalah kalian setinggi-tingginya. Belajar, berdoa serta sempurnakan
dengan ikhtiar, insya Allah akan terkabul dan terpenuhi apa saja yang kalian
inginkan. Yang terpenting adalah berhusnuzhon lah selalu kepada Allah SWT.
Sangat banyak orang-orang terdahulu, ilmuwan-ilmuwan terdahulu yang berasal
dari keluarga miskin tapi dengan semangat pantang menyerah membuat nama mereka terkenal
seantero dunia. Jangan sampai hanya karena masalah ekonomi membuat kita surut
dari keinginan dan cita-cita. Dan jangan karena masalah ekonomi juga kalian
sampai memecahkan persahabatan satu sama lain, dengan menghina, mengejek dan
menertawakannya. Kita tidak dapat menyangka di masa depan ternyata orang yang
kalian hina ini akan menjadi orang yang hebat dikemudian hari. Sementara kalian
yang asik menikmati kemewahan dari orang tua tidak bisa menjadi orang yang lebih
mandiri. Bapak berdoa kepada Allah berharap kalian semua kelak akan menjadi
orang yang sukses. Amin ya Rabbal ‘alamin… Tapi hari ini bapak minta kepada
anak-anak sekalian jangan lah sekali-kali lagi mengejek atau menghina Aditya
hanya karena dia terlahir dari orang tua yang ekonominya dibawah rata-rata. Dan
bapak harap semuanya minta maaf serta bersalaman dengan Aditya”. Panjang lebar
Pak Herman memberi nasehat kepada kami. Dan semua teman-teman meminta maaf dan
menyalamiku secara tertib. Setelah hari itu aku kembali percaya diri untuk
tampil apa adanya. Secara aku juga termasuk anak yang sering mendapat rangking
di kelas.
Angin malam yang berhembus
dari balik dinding rumahku menusuk dingin ke dalam tulangku. Aku beringsut dari
tempat tidur. Berjalan ke kamar mandi untuk mengambil wudhu’ dan melaksanakan
dua rakaat qiyamul lail. Meski aku masih
tergolong kecil dan usia belia, ibadah itu sudah melekat pada diriku
sejak ayah masih ada. Dan itu sudah menjadi tradisi di rumahku dengan selalu
menghidupkan malam dengan qiyamul lail. Ya, aku seorang anak yatim sekaligus
anak tunggal. Sekarang aku hanya tinggal berdua dengan ibuku. Meksipun ibu
sebagai tukang cuci dan juga membantu-bantu di ladang orang. Kami bersyukur
masih bisa menyambung hidup dan juga bisa membayar biaya sekolahku. Enam bulan
sekali aku juga mendapat biaya siswa miskin dari sekolah. Uang tersebut aku
gunakan hanya untuk membayar SPP sekolah.
Adzan Maghrib berkumandang
dari Mesjid yang letaknya tidak jauh dari pemukiman kami, hanya beberapa
kilometer. Aku dan Ibuku berjalan kaki menuju ke sana serta beberapa
teman-temanku. Sesampainya, langsung aku cepat-cepat wudhu’ dan merapatkan shaf
paling depan. Setelah selesai, aku menunggu Ibu di depan. Sambil menikmati
udara sejuk di subuh hari, aku sempat terngiang-ngiang pesan terakhir Pak
Herman kepadaku saat mau istirahat kemarin siang di sekolah,“Nak beranilah
bermimpi, rajutlah mimpimu setinggi langit
karena bermimpi tidak dipungut biaya, tunjukkan pada dunia kalau kamu
hebat. Raihlah cita-citamu dan beranilah memperjuangkannya. Kamu harus percaya
Allah akan selalu membukakan pintu-pintu harapan saat Dia menutup satu pintu di
hadapan kita. Nyalakan mimpimu, iringi dengan doa kepada Allah dan teruslah
berusaha. Insya Allah kamu akan sukses”. Lamunanku buyar disebabkan sentuhan
ibuku dari belakang punggung, “Ayo Adit kita pulang”.
Seusai pengumuman
kelulusan, Aditya dipanggil oleh kepala sekolah. Ternyata di sana juga hadir
Pak Herman sebagai guru kelasnya. Aditya di sambut dengan senyuman dari kedua
wajah lelaki yang notabene sangat di segani di sekolah tersebut. Sambil
menyerahkan sebuah amplop berwarna putih bapak kepala sekolah berkata, “selamat
Aditya kamu mendapat beasiswa berprestasi sekaligus beasiswa kurang mampu”.
Kata pak kepsek sambil menebar senyum bangga. Aditya kebingungan sambil melihat
kearah Pak Herman yang berada di sampingnya. “maksudnya pak..?” tanya Aditya
penasaran. “Iya nak Adit kamu bisa melanjutkan studimu ke jenjang selanjutnya
secara gratis dan mendapat beasiswa”. Jelas Pak Herman dengan penuh keyakinan.
Dengan mata berkaca-kaca Aditya langsung sujud syukur dan setelah itu mencium
kedua tangan bapak-bapak tersebut. Aditya tidak dapat berkata-kata apa lagi.
Ini sungguh suatu keajaiban yang tak disangka-sangkanya. “Alhamdulillah ya
Allah.. atas rezeki dan nikmat yang telah engkau berikan”. Lirih Aditya dengan
terbata-bata dikarenakan menahan isak tangis.
Dengan bermodalkan
beasiswa, doa dan usaha yang maksimal Aditya dapat melanjutkan studinya sampai
ke perguruan tinggi. Dan dia tetap mempertahankan cita-citanya sejak SD dulu.
Ingin menjadi pengusaha yang kaya raya agar dapat membantu orang-orang yang
kurang mampu dengan cara membuka lapangan kerja dimana-mana. Dan itu di
wujudkan oleh Aditya. Hadiah terindah yang diberikan kepada ibunya adalah
meng-hajikannya. Tanpa kecuali untuk ayahnya yang telah meninggal juga
diberikan hadiah dengan mem-badalkan haji. Dan Aditya juga membangun sebuah
pesantren atas nama ayahnya agar itu menjadi sedekah jariyah ayahnya. Aditya
telah menjadi orang yang sukses serta kaya raya namun tak ada sedikitpun
kesombongan dalam dirinya. Tidak sedikit teman-temannya dulu bekerja padanya.
Aditya tetap bersikap ramah kepada mereka, meskipun dia sudah menjadi orang
hebat yang kaya raya. Setelah menikah dan mempunyai keluarga Aditya tetap
menjalankan kebiasaannya seperti dulu bersama ibu yaitu menghidupkan malam
dengan qiyamul lail. Kini kebiasaan itu diajarkan pula ke anak dan istrinya. Cerita
dan nasehat yang didapat Aditya sejak kecil khususnya dari Pak guru Herman
ditularkan ke anak-anaknya agar mereka semangat dalam menempuh cita-citanya,
“janganlah takut bermimpi karena bermimpi itu tidak dipungut biaya, rajutlah
mimpimu diiringi dengan doa dan ikhtiar yang sempurna". Janganlah takut
untuk bermimpi dan bercita-cita setinggi angkasa. Yakinkan pada diri bahwa kita
bisa meraihnya. Jika tidak hari ini, yakinlah bahwa Allah akan menyimpan mimpi
dan cita-cita dalam suatu masa yang lain. Jangan lah bersedih karena mimpi dan
cita-cita yang baik dan penuh kesungguhan hati akan menemukan waktu yang tepat untuk menjadi nyata. “Selamat
merajut mimpi, karena mimpi setengah dari cita-cita dan cita-cita setengah dari
rencana dan rencana setengah dari kerja keras dan keja keras setengah dari
keberhasilan”.
MY BROTHERS
Oleh: Erna Putri Razali
Dibawah cahaya pagi, kuceritakan pada matahari tentang
kehidupanku yang tak sedikitpun merasa kekurangan meskipun ayah telah tiada.
Ini merupakan berkat jawaban dari setiap doaku. Aku adalah anak perempuan
satu-satunya dalam keluarga. Namaku Nawwara Atheera. Aku biasa dipanggil dengan
sebutan Rara. Aku anak keempat alias anak bungsu dari empat bersaudara. Ketiga
abang-abangku sangat menyayangiku. Abang yang pertama bekerja disebuah instansi
pemerintah alias sebagai pegawai negeri sipil. Abang kedua sebagai pegawai
honorer dan abang ketiga sebagai karyawan swasta. Meskipun ketiga abang-abangku
tidak berpendidikan tinggi dan tidak pernah mengecap bagaimana rasanya duduk di
bangku kuliah, tapi mereka sangat menginginkan aku menjadi orang yang sukses
dengan mempunyai pendidikan yang tinggi. Secara aku ini mempunyai IQ yang
rata-rata lebih tinggi dibandingkan abang-abangku. Itu bisa dilihat dari setiap
tahun aku selalu menjadi juara kelas dari sejak sekolah dasar sampai saat ini
kelas VII (kelas 1 SMP). Aku dikenal anak yang patuh, rajin, shaliha, disiplin
dan pintar dalam berbagai hal. Meskipun ibuku sebagai single parent,
beliau selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya terutama
dalam hal pendidikan. Aku di sekolahkan dan juga di ngajikan. Terkadang banyak
sekali kebutuhan yanng harus di selesaikan namun begitulah orang tua yang
berjuang demi anak-anak yang mereka cintai, semuanya pun rela mereka lakukan.
Karena itu aku juga sangat gigih untuk menuntut ilmu demi membahagiakan kedua
orang tuaku. Nawwara Atheera alias Rara sudah memberikan torehan kebaikan
kepada orangtuanya dan membanggakan ketiga abang-abangnya, selalu mendapat
juara kelas dan juga selalu tampil ke depan jika ada sebuah hiburan dari siswa,
baik puisi, bercerita ataupun lainnya. Sejumlah perlombaan yang diikuti selalu
mendapatkan juara terbaik. Rara adalah anak yang memiliki hobby menulis mulai
dari menulis puisi, cerpen, berita dan lain sebagainya. Tidak jarang Rara
membawa piala bahkan penghargaan yang lumanyan fantastis dari berbagai pihak
yang menyelenggarakan perlombaan tersebut. Bahkan Nawwara Atheera alias Rara
ini pernah dimuat dimedia cetak atas prestasinya dalam menulis puisi dan
cerpen. Namanya terpampang di halaman depan pada majalah remaja yang memuat
berbagai tulisan yang berisi puisi dan cerpen. Seluruh keluarga dan pihak
sekolah merasakan kebanggaan atas prestasi yang diraihnya. Namun Rara tidak
pernah sombong dengan kelebihan yang dimilikinya itu dan ia selalu belajar
bersungguh-sungguh serta tetap rendah hati. Sementara ketiga abang-abangnya pun
sangat mendukung adik perempuan satu-satunya. Mereka rela bekerja keras untuk
membiayai kebutuhan pendidikannya. Rara pernah bercerita tentang cita-citanya
kepada abang-abangnya itu. Ia ingin sekali menjadi guru besar alias dosen dan
memiliki murid-murid. Karena ia sangat ingin berbagi ilmu dengan orang lain.
Nawwara Atheera juga ingin menjadi seorang ilmuwan ataupun profesor.
Cita-citanya luar biasa membuat kaget ketiga abang-abangnya. Dan itu juga membuat semangat abang-abangnya
untuk bekerja lebih keras agar tercapai cita-cita adik perempuan semata
wayangnya.
Hidup memang penuh dengan
lika-liku. Banyak cerita suka dan duka di dalamnya. Ayah Rara sudah meninggal
sejak ia masih kecil tepatnya satu tahun usianya. Dan saat aku menginjak usia
11 tahun ibuku pun ikut menyusul ayah. Saat ibu meninggal aku merasa sangat
sedih karena ibu adalah satu-satunya orang tempat aku berbagi cerita, tempat
aku curhat dalam segala hal. Aku terasa sangat terpukul karena merasa sudah
tidak ada lagi teman dalam berbagi. Tidak ada lagi tempat aku bermanja. Namun
berkat motivasi dan nasehat ketiga abang-abangku, aku kembali bersemangat dalam
meniti hidup. Aku kembali bermangat dalam belajar untuk mencapai cita-citaku.
Meski ayah dan ibu sudah tiada tapi aku harus tetap kuat dan tegar untuk
membuat mereka tersenyum di sana melihat kesuksesanku dan prestasi yang kuukir.
Kini aku hidup untuk membuat keluargaku bahagia terutama abang-abangku. Mereka
rela berkorban dan bekerja sekuat tenaga agar cita-citaku tercapai.
Demi menyekolahkanku abang sulungku pun belum menikah
sampai saat ini. Padahal umurnya sudah 29 tahun. Abang keduaku berusia 26 tahun
dan abang ketigaku berumur 24 tahun. Sebagaimana semangatnya mereka membiayai
aku, begitu pula aku harus bersemangat dalam meraih cita-cita yang aku impikan.
Abang-abangku bagaikan sosok pahlawan yang luar biasa bagiku. Setiap hari aku
dimasakin, disiapin semua kebutuhan sekolahku. Aku merasa seperti masih ada
ibu, tak kurang suatu apapun. Semua pekerjaan yang pernah ibu lakukan diambil
alih oleh abang-abangku. Seakan mereka sudah mengatur semuanya dengan berbagi
pekerjaan untuk mengurusiku. Dari mulai tidur sampai tidur lagi semua
dibereskan oleh abang-abangku dan aku merasa tidak ada yang kurang suatu
apapun. Tugasku hanyalah belajar dan belajar. Aku sangat bangga dengan
abang-abangku. Mereka sosok pahlawan dalam keluargaku. Mereka sosok yang
sempurna sebagai pengganti kedua orangtuaku. Semua tugas ayah dan ibu bisa
digantikan oleh mereka. Terkadang aku merasa terharu melihat ketulusan
abang-abangku dalam mengerjakan semua pekerjaan rumah juga dalam mengurusiku.
Dalam doa selalu ku bermunajat kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk selalu
diberikan kesehatan dan kelancaran rezeki serta jodoh yang baik untuk ketiga
abang-abangku. “Ayah.. Ibu... berbahagialah engkau di sana.. engkau telah
melahirkan anak-anak yang shalih lagi membanggakan. Aku berjanji akan menjadi
anak yang terbaik bagimu, layaknya abang-abangku. Merekalah panutanku.
Merekalah permata hatimu wahai ayah dan ibu..”. sejenak air mata berlinang
mengenang keseharian tugas yang dilakukan ketiga abang-abangku. Mereka tak
pernah mengeluh dan tak pernah lelah mengurus dan membiayaiku. Aku disekolahkan di perguruan tinggi ternama
sesuai dengan jurusan yang kupilih. Setelah aku meraih master abang sulungku
mulai memikirkan pendamping hidupnya. Dan akhirnya ia menikah dan berkeluarga.
Kini aku mengajar disebuah perguruan tinggi negeri dan
swasta sekaligus sebagai penulis. Cerita kisah hidupku menjadi inspirasi utama
dalam menulis novel. Dan novel terlaris saat itu adalah ‘Kisah Hidup Nawwara Atheera’. Aku mulai dikenal sampai ke pelosok
desa. Aku sangat bahagia dan bangga dapat memperkenalkan abang-abangku dalam
novelku kepada semua orang. Dan mereka bisa menjadi inspirasi hidup bagi semua
abang-abang di luar sana dalam melaksanakan tanggung jawabnya kepada adik
perempuan, di kala ayah telah tiada. Aku dikenal sebagai dosen favorit disalah
satu universitas dan aku juga dikenal sebagai penulis favorit bagi
remaja-remaja putri. Sementara abang-abangku sangat puas dengan hasil yang
mereka capai. Adik perempuannya tumbuh menjadi wanita yang bersahaja, pintar
dan shaliha serta sukses dalam berkarir. Saat ini aku juga sudah menikah dengan
lelaki pilihanku seorang profesor muda nan shalih. Dan aku juga dikaruniai
sepasang buah hati yang cerdas dan sangat lucu. Kini aku sangat bahagia dengan
keluarga baruku. Ini semua kudapat berkat kerja keras dan usaha dari perjuangan
abang-abangku. Abangku yang pertama juga sudah menikah dengan dikaruniai 3
orang anak laki-laki dan perempuan. Mereka juga hidup bahagia serta karir yang
dicapai abang pertamaku semakin gemilang. Abangku yang kedua juga sudah
diangkat menjadi pegawai negeri sipil di sebuah instansi pemerintah dan juga
sudah memiliki keluarga barunya. Sementara abangku yang ketiga sudah duluan di
panggil Allah sebelum melihat aku sukses
begini.
Kala itu abangku yang nomor tiga membelikan laptop
untukku. Dia harus membanting tulang untuk memenuhi kebutuhanku itu. Dia
terlalu pendiam namun sangat pengertian dalam segala hal. Padahal aku tak
pernah meminta untuk dibelikan laptop. Semua tugas-tugas aku bawakan ke rental
untuk diketik. Saat itu, ketika aku ke rental tak sengaja abangku melihat aku
pulang dengan berjalan kaki menuju angkutan umum. Dan tiba-tiba ada kendaraan
yang melaju sangat kencang hampir menabrakku. Seketika abangku yang nomor tiga
itu berlari sekuat tenaga untuk mendorongku ke pinggir dan “Braaaakkk...!”
badan abangku terpelanting dengan sangat kuat membentur trotoar dan terinjak lagi
oleh truk. Aku sangat kaget, hatiku hancur dan airmataku mengalir menganak
sungai. Lidahku kelu tak dapat berucap sepatah katapun. Aku sangat shock
melihat kejadian tersebut. Sampai kapanpun aku tak dapat melupakan kejadian
tersebut. Abangku mengorbankan jiwa raganya untuk aku tetap dapat menghirup
udara yang bebas ini. Sebulan kemudian
abangku yang pertama dan kedua menghadiahkanku sebuah motor matic untukku.
Sehingga aku tak perlu lagi menunggu angkutan umum untuk ke kampus. Dan setelah
beberapa minggu kemudian datang seorang pemilik toko elektronik untuk
memberikan sebuah laptop yang ternyata itu adalah hadiah dari abangku yang
nomor tiga. Pemilik toko elektronik tersebut bercerita tentang laptop yang
dibeli abangnya Rara. Sebulan lebih pemilik toko elektronik menunggu kedatangan
abangnya Rara untuk mengambil laptop karena cicilannya telah lunas. Laptop ini
dibeli untuk Rara agar dapat menunjang belajarnya semakin mudah tanpa harus
bersusah payah ke rental. Itu didapat dengan menyicil dari hasil jerih
payahnya.
“saya baru tahu kalau pemilik laptop ini meninggal karena kecelakaan, dan
hari itu pula jatahnya dia ambil laptop di toko kami”. Jelas pemilik toko
elektronik. Kembali Rara berlinang air mata mengingat jasa Abangnya itu. Rara
sangat bangga dan bahagia mempunyai abang-abang yang luar biasa dalam hidupnya.
“Sampai kapanpun aku tak akan pernah melupakan jasa-jasa ketiga abang-abangku.
Aku sukses seperti ini karena abang-abangku. Aku bahagia dengan hidupku karena
mereka. Ya Allah bahagiakanlah hidup abang-abangku. Ya Allah lapangkanlah kubur
ayah dan ibuku yang telah berhasil mendidik anak-anaknya menjadi pahlawan yang
tangguh seperti abang-abangku. Ya Allah lapangkan kubur abangku. Berikan ia
tempat yang layak di sisi-Mu. Aamin Ya Rabbal ‘Alamin.”. Gumamnya dalam hati.
Dalam meniti kehidupan tidaklah selalu
mudah seperti apa yang kita bayangkan. Tentu banyak jurang yang terjal yang
selalu menanti. Musibah dan cobaan selalu datang silih berganti. Hanya hati dan
iman yang kokoh yang siap selalu menampungnya. Tuhan tidak pernah menjanjikan
bahwa langit itu selalu biru, bunga selalu mekar dan matahari selalu bersinar,
tapi ketahuilah bahwa Tuhan selalu memberi pelangi disetiap badai, senyum
disetiap air mata, dan jawaban disetiap doa. Hidup terus berjalan sama seperti
sinar matahari yang selalu datang setiap pagi. Menyiratkan kegembiraan dan
harapan baru. Dalam hidup ini, jadilah seperti Matahari, kamu mungkin terbenam,
namun besok kamu akan terbit kembali. Bangkit dan bersinar lagi!
PERPUSTAKAAN MINI DI SUDUT DESA
Oleh : Erna Putri Razali
Hobbyku membaca. Aku paling senang membaca. Aku paling
suka belajar dengan teman-teman, karena asyik banget kalau belajar bersama.
Aku, Ayla, Ega dan Ratna selalu mengadakan belajar kelompok setiap minggu.
Seminggu dua kali kami belajar, kadang-kadang belajar di rumah aku, kadang di
rumah Ega, Ayla dan Ratna begilir secara bergantian. Tapi yang paling sering adalah di rumahku.
Karena di rumahku ada perpustakaan mini yang dibuat oleh Bundaku. Bundaku
adalah seorang guru Sekolah Dasar. Aku adalah anak satu-satunya dari Ayah dan
Bunda. Karena Bundaku hobi membaca, Ayah juga hobi membaca maka diciptakanlah
sebuah perpustakaan mini disudut teras rumahku. Dari kebiasaan Ayah dan
Bundakulah, aku menjadi senang dengan yang namanya membaca dan kini sudah
menjadi hobiku. Di sana tersedia banyak sekali buku-buku terutama buku cerita.
Mulai dari dongeng, komik, cerpen, novel relegi, buku tentang cerita 25 Nabi,
tersedia juga beberapa ensiklopedia dan bahkan buku-buku kisah perjuangan
Rasulullah SAW serta banyak juga lainnya. Bundaku juga suka gabung-gabung
dengan kami disaat kami mengadakan belajar kelompok. Bunda juga sering
mengajari kami jika kami kesulitan dalam mengerjakan tugas. Aku bangga dengan
Bundaku. Bunda selain sebagai ibu kandungku, Bunda juga sebagai guru les
privatku dan teman-teman. Meski Bunda seorang guru SD tapi Bunda sungguh pintar
dan cerdas dalam mengajari kami semua pelajaran tingkat SMA. Aku dan
teman-temanku salut sama Bunda. “Pintar banget Bundanya Kanaya” kata
teman-temanku. Setiap hari minggu Bunda juga mengadakan les privat gratis untuk anak-anak yang kurang
mampu. Mereka bisa belajar banyak dengan Bunda. Bundaku sangat menyayangi
anak-anak. Aku ingin jadi seperti Bunda, yang selalu berguna untuk orang lain
dan selalu dibanggakan oleh keluarganya termasuk aku.
Suatu hari, aku bernostalgia dengan teman-temanku
membicarakan kembali tentang cita-cita kami semasa dibangku SD. Kebetulan hari
itu kami tidak diberikan tugas/PR dari sekolah. Tetapi kami tetap mengadakan
belajar bersama. Meskipun tidak ada PR, aku
dan teman-temanku hanya membaca-baca buku cerita saja.
“Rat, kamu pengen jadi apa sih,” kata Ayla.
”aku pengen jadi astronot karena aku penasaran banget
dengan apa yang ada di bulan ” jawab Ratna. Penasaran dengan bulan, apakah sama
bulan yang kita lihat dari bumi dengan bulan yang langsung kita tempati itu?
Ratna juga memikirkan tentang kekuasaan Allah yang begitu dahsyatnya. Kenapa
ada bulan? Untuk apa bulan? Allah sungguh hebaattt, dengan segala ciptaannya.
Ratna sangat berharap jika suatu saat ia
jadi astronot, ia akan menciptakan (menulis) sebuah buku tentang bulan yang
judulnya ‘Aku Penasaran dengan Bulan’. Dilanjutkan Ega dengan santainya
“aku ingin jadi dokter. Aku ingin sekali jadi dokter yang
selalu bermurah hati dan murah senyum. Jadi, pasiennya gak takut. Karena
pengalamanku dulu waktu kelas 1 SD, gigiku sakit terus papa mamaku mengajak ke
rumah sakit. Pas lihat dokternya serem banget, udah item gak ramah, gak
senyum-senyum lagi aku takut,, akhirnya
aku lari deeh. Haahaaa… “. Mereka tertawa ria mendengar cerita Ega. Jadi aku
ingin jadi dokter yang bisa membuat pasiennya nyaman dan tenang. Dengan itu
juga dapat mempercepat kesembuhan pasien. Setelah aku jadi dokter nanti, aku
ingin sekali mengobati orang-orang miskin, anak yatim dan orang–orang yang
terkena musibah lainnya, seperti kejadian tsunami beberapa tahun yang lalu.
Cobaa.. kalau aku sudah jadi dokter saat itu..! Trus Ayla pengen jadi apa? Tanyaku.
“Ayla ingin sekali jadi petani sukses. Ayla merasa sangat
sedih melihat orang-orang di kampungnya. Sebagian besar orang-orang di
kampunngnya adalah petani yang hanya
bekerja untuk mencari sesuap nasi.
Karena kebutuhan diandalkan pada hasil padinya. Mereka hanya menjadi buruh
tani, sawah yang mereka garap adalah
sawah orang lain. Jadi, mereka hanya bisa hidup pas-pasan dengan hasil panennya malahan kadang-kadang
tidak cukup dengan itu. Jadi, seandainya nanti aku menjadi petani sukses, aku
akan memberi/mengusahakan semua keperluan sawah
mereka dengan gratis seperti
pupuk, traktor dsb”. Kata Ayla dengan
penuh keyakinan.
Akhirnya giliran aku yang menceritakan cita-citaku. Aku
tidak ingin punya cita-cita setinggi langit seperti kalian. Aku hanya ingin seperti Bundaku. Aku
ingin menjadi guru. Karena guru selain
pewaris nabi, guru itu tugasnya mengajar dan mendidik. Jadi guru itu selalu
haus dengan ilmu pengetahuan. Guru itu di gugu dan ditiru. Guru itu tidak
pernah berhenti belajar dan terus belajar sampai akhir hayat. Dan yang lebih
bangga lagi guru itu punya murid yang selalu dikenang sampai kapanpun. Apa lagi
jika menjadi guru favorit bagi muridnya. Sementara salah satu diantara puluhan
bahkan ratusan murid pasti ada diantaranya yang mau mengamalkan apa yang pernah
diajarkan guru. Dan niscaya itu akan menjadi amal serta pahala jariyah ketika
guru itu telah tiada. Kata bundaku, guru bukan orang hebat tapi orang hebat
semuanya berasal dari guru. Aku sangat bangga jika menjadi guru sampai aku
berani mengatakan seperti itu kepada teman-temanku. Namun demikian, aku juga
bangga kepada teman-temanku yang mempunyai
cita-cita tinggi dan semulia itu. Tapi diantara semuanya cita-cita yang
selalu kami impikan adalah membangun perpustakaan mini ini menjadi sesuatu yang
bermanfaat bagi orang lain. Aku harap kita berempat yang akan mengabadikan
perpustakaan mini ini menjadi sesuatu. Semoga cita-cita kita ini akan menjadi
kenyataan. Aaamiin… jawab kami serentak.
“Naya, kita lanjut lagi yuk belajar pelajaran kimia
dirumahmu. Aku gak paham soal yang dibahas Pak Rusdi tadi”. Ajak Ega sambil
menarik tanganku.
“Iyaya, nanti ba’da dzuhur kalian ke rumahku deh”. Jawabku
tenang.
“Bundamu sibuk gak Nay..?” sela Ayla.
“Kayaknya gak deh, seperti biasa Bunda kan adakan les
privat buat anak didiknya”.
“Okedeh, ntar kan kita bisa minta bantuan ke Bundamu ya
Nay..”. Lanjut Ratna.
“Siip, Insya Allah”. Ucapku sambil mengacungkan jempol ke
teman-temanku. Seraya beranjak dari tempat duduk dan pulang menuju ke rumah
masing-masing. Letak rumah mereka tidak jauh dari lokasi sekolahnya. Sementara
rumahku yang agak jauh dari sekolah. Karena rumahku di perbatasan antara desa
dengan kota. Sedangkan rumah teman-temanku semuanya berada di tengah-tengah
kota. Jadi jarak rumah ke sekolah sangat mudah dijangkau oleh mereka. Terkadang
saat cuacanya bersahabat mereka juga sering berjalan kaki ke sekolah. Aku
sering diantar jemput oleh Ayah ataupun Bunda. Kadang-kadang sering juga di
antar jemput oleh sopir sekaligus penjaga kebun. Rumahku memiliki kebun yang
lumanyan luas sehingga butuh penjaga untuk merawat tanaman-tanaman Ayah. Ayahku
selain bekerja sebagai Wiraswasta, beliau juga sangat hobi berkebun sehingga
mengangkat salah satu karyawannya untuk dijadikan penjaga kebun sekaligus antar
jemput aku ke sekolah.
Detik-detik perpisahan kami
dengan Ayla telah tiba. Sangat sedih rasanya berpisah dengan salah satu sahabat
yang sejak SD kita terus bersama. Main, belajar, bersenda gurau dan bahkan
berantem bersama tanpa ada tersakiti satu sama lain. Ya, kami berempat tidak
pernah saling memusuhi satu sama lain. Meskipun berasal dari berbeda orang tua
namun kami bisa hidup bersama, bisa saling berbagi di saat suka maupun duka.
Mungkin karena aku adalah anak tunggal sehingga bisa begitu akrab sama
teman-temanku bahkan bagaikan saudara sekandung. Ayla melanjutkan studinya di
Bandung karena ikut orangtuanya. Papanya dipindah tugaskan ke kota Bandung.
Sekarang kami tinggal bertiga. Meskipun sudah kuliah dan memilih jurusan yang
berbeda, namun kebiasaan kami untuk ngumpul di rumahku itu tetap terjaga.
Terkadang seminggu sekali atau dua minggu sekali tergantung jadwal kuliah
masing-masing.
Disela-sela perbincangan
Ayah dan Bunda. Tiba-tiba aku teringat kejadian tadi siang ketika aku pulang
dari kampus. Di persimpangan lampu merah terdapat banyak anak-anak yang putus
sekolah. Mengapa tidak? Disaat anak-anak lainnya belajar dan duduk di kelas
menerima pelajaran dari guru-gurunya. Mereka dengan bersusah payah serta
bercucuran keringat meminta-minta di jalanan. Dengan disengati sinar matahari
menyengat kulit hingga gosong mereka mengamen untuk mendapatkan recehan.
Tersentuh hatiku saat kulihat pemandangan yang sangat tidak enak dipandang
mata. Perjuangan hidup yang sangat keras hanya untuk mendapat sesuap nasi.
Disisi lain kulihat mereka saling berebut makanan sisa tanpa mengenakan pakaian
hanya saja celana pendek yang telah usang dan compang camping. Seketika buliran
bening jatuh dipipiku. Sedih, sangat sedih. Aku bersyukur terlahir dari
keluarga yang serba berkecukupan. Hidup di ruangan ber-AC tanpa pernah
merasakan sengatan sinar mentari.
Kuceritakan semua itu kepada Ayah dan Bunda, tak terasa buliran bening
itu kembali mengalir dari sudut mataku.
“Ayah.. Bunda.. gimana kalau kita ajak
anak-anak tersebut belajar sama Aku dan Bunda. Kita bangun sebuah perpustakaan
kecil di sudut desa sana. Bukunya kan banyak banget nih, kita bawa saja
semuanya ke sana. Kita jadikan semacam sekolah atau les privat seperti yang
telah Bunda lakukan dulu. Buktinya anak-anak yang kurang mampu dulu Bunda ajar
sudah berhasil kan. Minimal mereka sudah bisa baca tulis, berhitung dan lain
sebagainya. Setidaknya mereka sudah bisa punya modal untuk menjalani hidupnya
terutama dalam mencari pekerjaan. Bahkan satu murid Bunda itu sudah bekerja
dikantoran meskipun sekedar bantu-bantu mengetik. Trus kita kasih mereka tempat
tinggal semacam perumahan gitu lho Bunda. Mau kan Ayah.. bantuin bangun
tempatnya”.
Ayah mengangguk bangga melihat sang puterinya yang tumbuh semakin dewasa
dalam pemikirannya. “Baik lah Nak, besok Ayah suruh dua orang karyawan Ayah
untuk mengumpulkan anak-anak jalanan tersebut”. Ucap Ayah sambil membelai
kepala puterinya yang cantik itu.
“Benerkah Ayah..? Aku sayang Ayah dan Bunda”. Sambil memeluk kedua orang
tuanya. Ayah dan Bunda Kanaya tersenyum bangga kepada puterinya itu. Jiwa
sosialnya itu turun dari kedua orangtuanya.
Seminggu kemudian. Kanaya
dan Bunda menghabiskan akhir pekannya ke Perpustakaan mini yang letaknya di
sudut desa. Jarak yang ditempuh Kanaya dan Bundanya hanya 30 menit dengan mengendarai
mobil. Meskipun Kanaya tinggal di kota, namun letak rumah mereka tepat di
perbatasan desa dengan kota. Jadi mereka sangat peka akan kehidupan di desa
tersebut. Anak yang dikumpulkan dari jalanan tersebut berjumlah lima orang. Dan
mereka semua adalah laki-laki berusia kira-kira berkisar sembilan sampai dua
belas tahun. Ternyata mereka merupakan
anak yatim piatu. Ayah Kanaya menugaskan dua orang karyawannya untuk memantau
anak-anak tersebut. Mereka bertugas mengurus semua kebutuhan hidup kelima anak
tersebut. Dan tugas belajarnya langsung dibimbing oleh Kanaya dan Bundanya.
Perpustakaan mini yang dulu Kanaya nikmati hanya bersama teman-temannya kini
sudah lebih bermanfaat untuk mereka yang membutuhkan. Tidak sedikit anak-anak
yang kurang mampu lainnya belajar membaca di perpustakaan mini milik Kanaya.
Namanya tetap perpustakaan mini meskipun sekarang sudah di perluas oleh Ayahnya
Kanaya supaya lebih leluasa dalam bergerak. Perpustakaan mini itu sudah hampir
seperti perpustakaan wilayah atau perpustakaan yang ada di kampus-kampus.
Buku-bukunya sudah semakin banyak mulai dari buku pelajaran sampai buku-buku
cerita lainnya.
Enam tahun kemudian. Kelima
anak tersebut diajak bekerja oleh Ayahnya Kanaya sesuai dengan kemampuan mereka
masing-masing. Mereka sudah hidup selayaknya seperti orang-orang pada umumnya.
Sudah bisa mandiri dan mencari nafkah dengan cara halal dan terhormat. Mereka
berlima sangat menghormati Kanaya dan keluarganya terutama Ayah Kanaya yang
begitu baik mengangkat derajat mereka. Kelimanya dididik dengan penuh kasih
sayang oleh Bunda Kanaya. Mereka sangat berterimakasih kepada keluarga Kanaya.
Sekarang Kanaya melanjutkan usaha dan kebaikan Ayah Bundanya yaitu mendirikan
sekolah gratis disamping perpustakaan mini miliknya. Semua orang miskin di desa
tersebut sangat bangga dan berterimakasih kepada Kanaya dan keluarganya. Dengan
adanya perpustakaan mini tersebut mereka yang tadinya malas membaca menjadi
rajin membaca. Dari tadinya tidak ada bahan belajar menjadi mudah dalam mencari
bahan-bahan untuk keperluan sekolahnya. Bahkan sebagian warga yang tuna aksara, sekarang sudah melek
dan mengenal huruf-huruf dan angka-angka serta sudah bisa membaca/menulis
dengan lancar. Kanaya berhasil mewujudkan cita-citanya waktu SD dulu yaitu
memimpikan sekolah gratis melalui perpustakaan mini miliknya itu. Sekarang
perpustakaan mini itu sudah disulap Kanaya menjadi lebih mewah. Tidak luput
juga dari bantuan ketiga temannya. Sekarang mereka sudah sukses semua sesuai
dengan keahliannya masing-masing tanpa kecuali Kanaya yang sangat sukses dari
segala sisi. Perpustakaan mini yang dulu berada disudut teras rumah Kanaya kini
disulap Kanaya beserta ketiga sahabatnya menjadi sebuah perpustakaan yang mewah
full AC dilengkapi dengan semua jenis
buku. Dari buku pelajaran sampai buku-buku cerita lainnya.
Sebagian dari karyawan Ayah Kanaya termasuk kelima anak
jalanan itu bekerja mengelola perpustakaan mini milik Kanaya. Dan banyak juga
karyawan-karyawan baru yang direkrut dari pemuda dan pemudi di desa terpencil
itu. Hadirnya perpustakaan mini tersebut membuat masyarakat desa terpencil itu
bagaikan mendapat nikmat dan karunia yang luar biasa. Mereka yang dulunya haus
dan buta dengan pengetahuan kini sudah dapat mengenyam pendidikan secara gratis
dan nyaman senyaman anak-anak orang ellit
di luar sana. Betapa tidak, ruangan membaca dan belajar didesain sangat indah
dan mewah disertai semprotan AC nan sejuk dan segar. Perpustakaan mini itu
dibangun begitu luas oleh Ayah Kanaya dan dilanjutkan polesan oleh Kanaya sendiri.
Disamping itu donatur untuk perawatannya yaitu Ayla, Ega dan Ratna. Mereka
adalah sahabat Kanaya dari kecil. Sekaligus itu adalah cikal bakal perpustakaan
dikala mereka kecil dulu. Kini dikembangkan oleh Kanaya untuk dimanfaatkan oleh
masyarakat-masyarakat desa yang rata-rata kurang mampu baik dari segi ekonomi
maupun sosialnya. Perpustakaan mini tersebut kini sudah menjadi trending topik
di kota tempat tinggalnya. Banyak pengunjung yang mengunjungi perpustakaan mini
itu. Tak terkecuali para dosen dan orang-orang penting lainnya. Setelah sampai
berita ditelinga ketiga sahabatnya Kanaya, mereka memutuskan untuk menjadi
donatur tetap dalam mengelola dan membangun perpustakaan mini itu. Kanaya dan
ketiga sahabatnya juga sering mengadakan reunian di perpustakaan mini itu.
Bahkan mereka membuat ruangan khusus berempat untuk mengadakan pertemuan sambil
sesekali mengenang masa kecil dulu. Tak disangka perpustakaan mini yang dibuat
Bunda untuk Kanaya dan teman-teman sudah menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat
bagi orang lain. Dan itu akan menjadi sedekah jariyah bagi keluarga Kanaya dan
juga ketiga sahabatnya. Aku sangat puas dan bahagia bisa membantu orang-orang
yang sangat membutuhkan. Perpustakaan mini ku yang dulunya terdapat di sudut
teras rumah kini menjadi perpustakaan mini nan megah dan mewah.
SI CORONA BERSAMA RAMADHAN
Oleh : Erna Putri Razali
Pada 11 Maret 2020 lalu, World Health Organization (WHO)
sudah mengumumkan status pandemi global untuk penyakit virus corona 2019 atau
yang juga disebut corona virus disease 2019 (COVID-19). Virus Corona alias
COVID-19 yang telah ditetapkan sebagai pendemi global ini pertama kali
ditemukan di Wuhan, Tiongkok. Dalam istilah kesehatan, pandemi berarti
terjadinya wabah suatu penyakit yang menyerang banyak korban, serempak di
berbagai negara. Sementara dalam kasus COVID-19, badan kesehatan dunia WHO
menetapkan penyakit ini sebagai pandemi karena seluruh warga dunia berpotensi
terkena infeksi penyakit COVID-19.
Gejala virus Corona diantaranya demam tinggi, sesak napas,
batuk kering, sakit tenggorokan, sakit kepala, nyeri dada, dan dibeberapa kasus
ada yang sakit perut, tidak nafsu makan serta diare. Masyarakat haruslah meningkatkan
daya imun tubuh dengan disiplin menerapkan pola hidup sehat. Resiko terkena
virus Corona bisa diminimalisir dengan sering mencuci tangan dengan bersih,
menghindari menyentuh wajah, hidung, atau mulut, menghindari kontak langsung
atau berdekatan dengan orang yang sakit, menutup hidung dan mulut ketika bersin
atau batuk, sementara hindari keramaian, menjaga jarak dengan orang lain,
menggunakan masker.
Solusi awal untuk menghindari virus ini adalah menyayangi
tubuh dengan kembali menerapkan pola hidup sehat yaitu dengan makan makanan
yang bergizi, bersih dan sehat serta menjaga lingkungan agar terlihat bersih.
Penularan penyakit ini sangat cepat melalui kontak fisik dengan orang yang
terinfeksi virus. Corona telah memakan banyak korban termasuk Indonesia. Oleh
karena itu, semua manusia dibuat dalam kecemasan oleh salah satu makhluk ciptaan
Allah yang tak tampak oleh kasat mata ini. Meski namanya begitu indah namun,
sifatnya sangatlah menakutkan sehingga bisa membuat manusia terdiam dan menutup
diri. Hadirnya Corona di muka bumi membuat bumi sejenak seakan beristirahat
dari segala aktivitas manusia, seakan dunia telah sepi.
Ramadhan 24 April 2020 (bertepatan 1441 Hijriah) tiba,
namun Corona tetap saja setia menanti. Tak ada tanda-tanda bahwa si Corona
ingin pergi. Bahkan di akhir Ramadhan mau berkemas diri, Corona masih saja
tetap bersikukuh menelusuri disetiap negeri. Dalam kegelisahan dan kecemasan
diri, menjalani ibadah tetaplah terus di update setiap hari. Setiap
manusia tidak mau menyia-nyiakan waktu spesial ini, Ramadhan adalah tamu yang
selalu dinanti dalam setahun sekali. Namun, cerita tahun ini sangatlah berbeda
dari tahun-tahun yang lalu. Kedatangan Si Corona yang masih betah saat ini
membuat umat manusia sangatlah bersedih, merasa sangat terusik dengan
penyambutan tamu istimewa kami. Ramadhan merupakan tamu istimewa dan sangat spesial
bagi segenap umat muslim di dunia. Kehadirannya selalu disambut dengan
kemeriahan dan hati yang suci. Kali ini dikeruhkan dengan terlebih dahulu
hadirnya si Corona, sehingga kami beribadah di rumah, kerja di rumah dan
belajar di rumah. Seakan ketakutan menghadapi dunia luar. Siapakah sebenarnya
dirimu wahai Corona ? kami tak pernah mengharapkan kedatanganmu. Dan kau pun
datang mengusik ketenangan beribadah kami. Kebiasaan dalam beribadah di bulan
Ramadhan berubah drastis dengan hadirnya Corona.
Ramadhan telah tiba, banyak orang menyambut dengan
gembira. Demikian pula yang dirasakan oleh keluarga Rania Kayra Qaleesya. Rania
adalah nama panggilannya. Gadis yang shaliha hidup dalam keluarga yang
berkecukupan namun sangat dermawan. Sama halnya dengan kedua kakak dan seorang
adik laki-lakinya. Mereka tumbuh dengan tradisi relegius yang selalu ditanamkan
oleh kedua orang tuanya. Norma-norma agama sangat di utamakan dalam segala
ativitasnya. Gadis cantik berusia 18 tahun ini sangat bertanggung jawab dalam
tugas dan kewajiban-kewajibannya khususnya dalam hal ibadah. Putri dari
pengusaha dermawan ini mengelola sebuah organisasi kemanusiaan yang dibantu
beberapa temannya.
Kebiasaan Rania dalam mengelola organisasi membuat dia
lebih dikenal dibanding kakak-kakaknya. Sifat dermawan gadis ini diturunkan
dari ayahnya, dan support ayahnya lah
yang membuat dia terus berlanjut bersosial lebih tinggi. Rania dikenal
dikalangan teman-temannya sebagai gadis yang humble, santun, religius
dan sangat memperhatikan tata krama dalam bersikap. Keindahan wajah dan tutur
katanya mencerminkan hatinya yang sangat lembut dan penuh kasih sayang. Ibarat
kata, ‘luar dalam, lahir bathin’ baik dimiliki gadis cantik ini. Jadi, tidak
heran jika banyak orang yang menyukai dan senang kepadanya. Baik itu dari
kalangan anak-anak, orang tua, dewasa, laki-laki dan perempuan. Kehadirannya
selalu dinanti teman-temannya.
Saat Ramadhan tiba Rania dan temannya di organisasi
seringkali melakukan aksi sosialnya seperti, berbagi takjil (makanan) saat
berbuka, dan berbagi makanan saat sahur tiba. Itu dilakukan Rania saat dia
berumur 16 tahun sampai saat ini. Dan kerapkali menjelajahi kampung-kampung di
pelosok-pelosok untuk mencari warga-warga yang hidupnya masih serba kekurangan.
Mereka mendata lalu memberikan santunan sesuai dengan kebutuhannya. Santunan
yang diberikan itu berasal dari donatur ayahnya dan keluarga ayah Rania. Tak
luput pula santunan tersebut berasal dari Rania dan teman-teman organisasinya.
Mereka mempunyai program yang bernama ‘subuh
bersedekah’, artinya sedekah yang khusus ditabung pada waktu subuh setiap
harinya dalam bentuk celengan masing-masing. Rania dan teman-teman menabung
selama setahun khusus untuk di berikan
kepada orang-orang yang membutuhkan. Aksi tersebut dilakukannya setiap setahun
sekali yaitu khusus bulan Ramadhan dengan cara blusukan langsung ke tempat
tersebut.
Aksi sosial dan kerja mulia yang dilakukan Rania dan
teman-teman terhenti seketika saat bulan Ramadhan kali ini. Sedih bercampur
haru mengingat saudara-saudara yang se-iman dan se-agama yang melaksanakan
ibadah Ramadhan dalam keadaan perut melilit akibat kelaparan yang dilanda.
Seketika airmata menetes di pipi yang yang mulus dan kemerah-merahan itu. Gadis
ayu berparas jelita itu sangat lembut hatinya, seketika mengenang perjalanan
aksi sosial bersama teman-temannya. Kehidupan mereka tak seberuntung dia dan
keluarganya. Ada tersirat rasa ingin mengangkat mereka dari kumuhan yang
berlumpurkan genangan-genangan air yang tak berselokan. Terkadang terbersit
dalam hati, dimanakah para pejabat negeri yang tak menghiraukan jeritan
rakyatnya. Dimanakah pengusaha-pengusaha hebat di negeri ini yang tak pernah
mendengar pilu hati rakyat kecil. “Ah, andai aku jadi pengusaha yang kaya
raya…? Aku akan tuntaskan kemiskinan di negeri ini’. Tersentak seketika dari
lamunannya, saat azan maghrib berkumandang, tiba saatnya berbuka puasa bersama
keluarga.
Saat berkumpul di ruang makan, Rania menikmati jamuan
makan malamnya bersama keluarga. Dibalik hatinya yang paling dalam terdapat
secercah perasaan kagum, bahagia dan bangga melihat orang tuanya. Ayahnya
seorang pengusaha yang penyayang lagi dermawan, yang hidupnya tidak pernah
luput daripada sedekah dimanapun dan kapanpun itu, sehingga bisa menjadi contoh
teladan bagi Rania dan saudaranya. Ibunya
Rania adalah seorang guru Sekolah Dasar yang sangat berdedikasi di tempatnya
dan merupakan guru teladan bagi semuanya. Meski sudah tidak muda lagi ibu Rania
masih sangat sejuk dipandang mata dan kecantikannya masih jelas terlihat.
Semacam kata orang-orang ibunya Rania awet muda, cantiknya gak ilang-ilang
meski anak-anaknya sudah dewasa. Memang Rania adalah full fotocopy dari ibunya, cantik lahir dan bathin.
Rutinitas keluarga Rania beribadah tarawih di Mesjid,
tadarus bersama, i’tikaf di tempat yang mulia, tak di jalaninya tahun ini,
semua itu karena Corona. Corona oh corona kapankah engkau enyah di muka bumi
ini. Kendati demikian ibadah yang biasa Rania lakukan selama bulan Ramadhan
tetap istiqamah dijalankan, meski semuanya di rumah saja. Rania beribadah di
rumah bersama keluarga, belajar bersama dengan keluarga dan juga bekerja di
rumah. Bahkan untuk melakukan buka puasa bersama dengan keluarga besar dan
kerabat pun tak dialaminya tahun ini. Sedih rasanya namun Rania memahami hal
ini, semua pasti ada hikmahnya.
Disela-sela menantikan saat Isya tiba, Rania dan keluarga
saling bercengkrama dan berbagi cerita bersama. Dalam hal tersebut Rania
menyampaikan niat mulianya kepada Ayah dan anggota keluarga lainnya. Rania
mengajak keluarganya untuk membuat sebuah celengan di rumah tepatnya di ruang
tempat mereka shalat berjamaah (Mushalla di dalam rumah). Kebiasaan Rania dan
keluarga di rumah selalu shalat berjamaah. Nah, di sana nanti (celengan yang
dimaksud) setiap kita akan menyumbangkan atau masukkan uang ke dalam celengan
tersebut sebelum melakukan shalat dengan jumlah uang seikhlasnya dan di waktu
shalat subuh saja. Namanya ‘subuh
bersedekah’, karena Rania pernah dengar ceramah ketika ikut pengajian
tentang kedahsyatan sedekah di waktu subuh. Keutamaan sedekah di waktu Subuh
itu adalah, didoakan Malaikat, bahwa siapa pun yang melaksanakan sedekah subuh
maka baginya diberi kemudahan rezeki. Dilipat gandakan hartanya, dihapuskan
dosanya, menolak bala dan terhindar dari su'ul khotimah. Nanti setelah uangnya
banyak kita sumbangkan kepada yang membutuhkan, seperti yang telah Rania
lakukan dengan teman-teman. Usul Rania tersebut disambut respon yang sangat
positif oleh ayah dan keluarganya. Bahkan ayahnya berkata “ayah bangga punya
anak seperti ini, gadis cantik, shaliha dan dermawan lagi” sambil mencubit
lembut hidung mancungnya. Serentak kedua kakak dan sibungsu memeluk erat adik
mereka yang sangat jelita itu, di susul pelukan hangat dari sang ibu sambil
meneteskan airmata dipipi yang lembut miliknya. Serta merta ayah juga ikut
memeluk dari belakang punggung sang ibu. Terasa sangat harmonis dan sakinahnya
keluarga tersebut. Keluarga yang diidam-idamkan oleh segenap umat.
Rania mengajak ‘subuh
bersedekah’ kepada anggota keluarganya karena setelah dilihat betapa
bermanfaatnya uang yang ditabung Rania dan teman-temannya untuk disumbangkan
kepada orang yang membutuhkan itu. Rania melakukan aksi ‘subuh bersedekah’ bersama teman-temannya ternyata belum pernah
diceritakan kepada anggota keluarganya. Sedekah subuh memiliki keutamaan
dibandingkan sedekah pada waktu lainnya. Saat sebagian orang masih terlelap,
kamu sudah sibuk meraih ridha Allah SWT dengan bersedekah. Tak selalu berupa
uang, sedekah subuh juga bisa dilakukan dengan berzikir, membagi makanan,
mengajar ngaji, atau melakukan kebajikan lain yang bersifat sosial. Sedekah
subuh dimulai sejak azan subuh sampai terbit fajar. Lakukan sedikit demi
sedikit sampai kamu bisa konsisten setiap hari. Kini amalan tersebut sudah
menjadi tradisi dan terus istiqamah dalam keluarga Rania.
Nah, kali ini karena tidak bisa melakukan aksi bersedekah
dengan cara blusukan ke kampung-kampung akibat covid-19 ini, sehingga membuat
Rania lebih banyak waktu di rumah bersama anggota keluarganya. Dan ide dia
tersebut dapat dicurahkan kepada keluarganya. Insya Allah sumbangan kita
Ramadhan depan bisa lebih banyak lagi dari biasanya karena dengan bertambahnya
tabungan dari keluarga Rania. Mungkin ini salah satu hikmah corona tidak bisa
kemana-kemana dan tetap di rumah saja. Sedekah di Ramadhan tahun ini kita
bagikan sembako-sembako yang disalurkan kepada korban covid-19 dan untuk
paramedis yang berada di garda terdepan. Meski di rumah saja Rania tetap
istiqamah dalam melakukan aksi sosialnya bersama teman-temanya yaitu melalui
jarak jauh. Sembako-sembakonya itu diminta salurkan melalui ojol yang datang ke
rumahnya.
“Masyaa Allah…!! nikmat banget rasanya, seneng, dan
gembira banget rasanya bisa buka puasa bareng keluarga tercinta”. Itu yang
dirasakan Rania pada saat buka puasa bersama keluarga di Ramadhan pertama.
Hikmah lainnya yang didapat Rania pada Ramadhan kali ini adalah bisa full
beribadah bareng bersama keluarga dan sahur bersama. Sedangkan dulu Rania lebih
banyak menghabiskan waktunya di luar bersama teman-temannya dalam rangka aksi
sosial bersedekah dengan cara blusukan ke kampung-kampung. Kini lebih banyak
punya waktu bercanda bersama, saling berbagi cerita dan memasak bersama di
rumah. Indahnya hidup ini jika setiap cobaan yang menimpa kita disikapi dengan
bijak dan selalu tetap bersyukur atas apa yang diberikan oleh Allah sang maha
kuasa.
“Kendati demikian Rania juga sangat merindui shalat
berjamaah di Mesjid, bisa berkumpul-kumpul lagi dengan sahabat dan kerabatnya,
bisa kuliah belajar bersama, dan makan bersama serta reuni buka bareng bersama
alumni yang dulunya seringkali setiap tahun diadakan. Tapi apa hendak dikata,
kondisi bumi kita belum pulih dengan wabah Corona. Ya Allah berikan kesembuhan
bumi kami dari wabah Corona ini. Jauhkan kami dari segala wabah penyakit. Allahummal
fa’nal ghola’ wal bala’ wal waba’, Fii dun’ya khossoh Fi baladina Indonesia
(Ya Allah hindari kami dari kekurangan pangan, cobaan hidup, dan wabah
penyakit, di dunia khususnya di Negara kami Indonesia). Hasbunallah wanikmal
wakil (cukuplah Allah sebagai penolong kami). Cukuplah sekali ini saja kami
menikmati Ramadhan bersama Corona. Semoga kami dapat mengambil ibrah dan
manfaat dari cobaan ini. Dan selalu sadar akan nikmat yang telah Engkau berikan
ya Allah”. Ungkap Rania sambil menutup
diary warna Pink-nya yang
bersampulkan gambar model muslimah dihiasi gembok merah muda.
Seketika gadis belia itu mengambil wudhuk untuk melakukan
2 rakaat shalat tahajud untuk memulai harinya. Dilanjutkan dengan sahur
bersama, subuh berjamaah di rumah dan tadarus bersama keluarga tercinta. Sampai
tiba waktu shalat dhuha, mereka terus melakukan ibadah Ramadhan secara
bersama-sama. Rutinitas tersebut dilakukan secara terus menerus dan semakin
istiqamah sampai di luar bulan Ramadhan sekalipun. Begitulah kehidupan keluarga
Rania di bulan Ramadhan bersamaan dengan hadirnya corona. Si corona datang
dalam bulan Ramadhan ini tidak selalu berdampak buruk bagi sebagian orang.
Tergantung siapa yang menyikapinya dan bagaimana cara menyikapinya.
Ramadhan bersama corona ternyata juga membuat banyak
manfaat bagi semuanya. Si Corona datang menyadarkan sebagian orang yang telah
lalai dalam dunia, lupa akan dosa-dosa yang telah lalu. Lalai dengan
gemerlapnya keindahan dunia yang fana. Semoga Allah memberikan hidayah kepada orang-orang
yang telah lalai dalam perintah-Nya. Amin ya rabbal ‘alamin.
TUKANG BECAK BERGELAR DOKTER
Oleh : Erna Putri Razali
Amran, sama halnya dengan tukang becak lainnya. Selalu
mangkal dipersimpangan bersama abang-abang tukang becak lainnya. Dia lah abang
becak yang paling muda usianya. Sejak ayahnya sakit-sakitan Amran sering
menggantikan posisi ayahnya mencari nafkah untuk keluarganya, disamping ia
tetap melanjutkan sekolah. Amran masih duduk dibangku kelas satu SMP. Ibunya
Amran sebagai ibu rumah tangga juga sering menjajakan makanan di jalan-jalan
bersama adik perempuannya untuk menambah-nambah kebutuhan biaya sekolah Amran.
Kedua orang tua Amran bukan lah orang yang berpendidikan, mereka hanya lulus
Sekolah Dasar. Maka dari itu kedua orang tua Amran menginginkan Amran dan
adiknya menjadi orang sukses dan berpendidikan tinggi. Karena hanya berprofesi
sebagai tukang becak kehidupan Amran dan keluarganya sangatlah sederhana dan
bahkan bisa dikatakan kurang. Mereka tinggal di sebuah rumah kontrakan yang
mungkin cuma layak disebut kamar. Tapi bagi mereka itu sudah lebih dari cukup.
Tidak ada yang istimewa dari kehidupan sehari harinya. Pagi-pagi Amran ke
sekolah dengan becaknya. Ketika pulang sekolah lanjut untuk mencari penumpang
sampai sore hari dia baru pulang ke rumah, setiap hari seperti itu.
Namun demikian ada hal yang menarik dan yang membuat Amran
berbeda dari tukang becak lainnya bahkan dari kebanyakan orang-orang. Amran
mempunyai sifat yang sangat jujur serta selalu menjaga shalat diawal waktu dan
selalu dia lakukan di Mesjid secara berjamaah. Kendati ia masih sangat belia, Amran
mengikuti jejak ayahnya. Itu adalah kebiasaan dan nasehat yang diajarkan
Ayahnya Amran. Dari kecil Amran sudah membiasakan diri shalat tepat waktu
secara berjamaah di Mesjid bersama ayahnya. Dan itu sudah menjadi kebiasaannya
sehari-hari dimanapun dia berada, ia selalu menyempatkan untuk shalat tepat
waktu. Seiring berjalannya waktu ayah Amran tak tertolong dari penyakit yang
dideritanya. Dan ia menghembuskan nafas terakhir dengan membawa penyakit yang
tak kunjung sembuh dikarenakan kekurangan ekonomi yang dilanda keluarga mereka.
Kesedihan yang amat mendalam menyelimuti Amran dan keluarganya. Dua tahun
berjalan, kini Amran telah masuk ke sekolah menengah atas. Untuk terus
melanjutkan studinya dia harus lebih rajin lagi dalam mencari nafkah. Apalagi
kini adiknya juga sudah masuk sekolah dasar. Amran akan menjadi tulang punggung
keluarganya. Ia harus tabah, kuat dan tegar dalam menjalani hidup untuk adik
dan ibunya. Meskipun demikian Amran tetap semangat dan terus menjadi pribadi
yang baik dan jujur serta menjaga shalat di awal waktu secara berjamaah. Itu
terus ia lakukan setiap hari.
Sayangnya kadang penghasilan dari membecak ini sering kali
hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari saja, sehingga Amran mesti memutar otak
untuk mendapatkan tambahan uang, tapi modalnya tidak ada. Hanya becak yang ia
punya. Amran hanya dapat mencari nafkah dari hasil membecak saja. Suatu hari
Amran berfikir ingin mengganti tempat mangkalnya yaitu yang lebih dekat dengan Mesjid.
Meskipun penumpang tak ada tapi ia bisa terus menjaga shalatnya secara
berjamaah diawal waktu. Itulah motto hidup Amran. Menjadi pribadi yang jujur
dan menjaga shalat lima waktu. Kebetulan tempat mangkal Amran yang baru dekat
dengan hotel berbintang.
Ketika pulang sekolah dan menggantikan seragam putih abu-abu,
Amran langsung menuju ke tempat mangkalnya itu. Jalanan macet tak bisa dilewati
mobil. Tapi Amran tidak merasakan kemacetan itu dikarenakan becaknya bisa
melewati jalan pintas. Tiba-tiba ditengah jalan ada seorang bapak-bapak yang
buru-buru jalan kaki menyetop becaknya Amran. Si Bapak meminta tolong kepada
Amran untuk mengantarkannya, karena tiba-tiba ban mobilnya kempes sekaligus
jalanan pun macet parah. Mobilnya ditinggal bersama sopir dan dia harus segera
tiba di kantor karena ada meeting mendadak. Lalu Amran mengantarkan
bapak tersebut ke tempat bekerjanya di sebuah lokasi gedung mewah, tentu
tempatnya orang-orang kaya bekerja. Pikir Amran sejenak. Setelah mengantarkan
si bapak tersebut Amran kembali menuju ke tempat mangkalnya. Saat
menunggu-nunggu penumpang, sekilas terbayang wajah lesu almarhum ayahnya. Amran
merasa sangat prihatin dan sedih karena akibat kekurangan ekonomi ayahnya tak
terselamatkan. Dalam hatinya ber-azzam “aku harus bisa melawan
kemiskinan ini, aku akan bercita-cita menjadi dokter agar tidak ada nasib yang
sama dengan ayahku”. Seketika menerawang melihat kanan kiri, Amran melihat
sebuah tas berwarna hitam di dalam becaknya. Langsung Amran membuka tas dan
ternyata isinya berupa uang dollar yang kira-kira berjumlah 100 miliyar. Betapa
kagetnya Amran melihat uang sebanyak itu, jantungnya hampir copot. Jangankan
memegang melihatpun tak pernah. Buru-buru Amran menutup kembali tas tersebut.
Pikirannya tak karuan semacam ada jin jahat dan jin baik sedang bertengkar
menggoda iman dan kejujuran Amran. Namun Amran tetap bersikukuh ingin
mengembalikan uang tersebut. Meski merasa mendapatkan rezeki nomplok, ia tak
lantas gelap mata. “ini pasti milik bapak yang rapi dan gagah tadi”, gumam
Amran. Seketika Amran mencari kembali jalan menuju ke sebuah gedung mewah tadi
siang saat ia mengantarkan seorang bapak-bapak. Sesampainya di sana Amran malah
di usir oleh satpam. Setelah berusaha ngomong dengan satpam maksud dan tujuan
ia ke sana, akhirnya Amran hanya bisa menyerahkan tas tersebut melalui satpam.
Azan pun berkumandang Amran bergegas menuju ke Mesjid untuk melaksanakan
kewajibannya sebagai hamba Allah yang taat dan selalu bersyukur walau dalam
keadaan bagaimanapun. Setelah menunaikan shalat ashar Amran selalu menadahkan
tangannya kepada Yang Maha Kuasa dan melangitkan doa untuk kedua orang tuanya.
Keesokan harinya Amran kembali lagi melakukan rutinitas seperti
biasa. Ke sekolah bersama adiknya dan dilanjutkan dengan membecak. Tak ada rasa
lelah dan putus asa di hati sang pemuda shalih tersebut. Dengan penuh
keikhlasan ia meniti hari sebagai tulang punggung dari keluarganya sejak ayah
telah tiada. Hari ini terasa sangat terik terasa hawa panas menggerogoti
kerongkongannya. Sebotol air putih menyejukkan dahaganya yang tiba-tiba
disodorkan oleh seorang ibu-ibu setengah baya yang bernampilan bak wanita
sosialita. Beliau meminta untuk di antar ke salah satu tempat perbelanjaan
seraya menyodorkan sebotol minuman kepada Amran saat Amran memegang-megang
tenggorokannya. Ibu tersebut baru keluar dari dalam hotel beserta asistennya.
Amran mengambil minuman yang diberikan ibu tersebut sambil mengucapkan
terimakasih. Dan Amran merasa aneh sambil bertanya,
“gak salah bu.. naik becak..?”. Amran tidak yakin sama
sekali dengan melihat penampilan mewah ibu tersebut yang masih sangat cantik
meski sudah tidak muda lagi.
“nggak dek, jalanan macet biar mobil tinggal di hotel aja
sekalian sopir saya juga istirahat”. Jawab si ibu dengan ramah.
Maka diantar lah si ibu bersama asistennya tadi ke pusat
perbelanjaan yang dia minta. Amran pun mengayuh becak masih dalam keadaan tak
percaya dan kaget.
Di tengah perjalanan terdengarlah suara adzan dari Mesjid.
Amran langsung belokkan becak ke pelataran parkir Mesjid. Si ibu pun heran
dengan apa yang dia lakukan. “kenapa berhenti dek ?" tanya si ibu
"iya bu, sudah adzan. Saya shalat ashar dulu ya bu..
ibu turun di sini saja, tokonya sudah dekat kok bu, 100 meter lagi dari Mesjid
ini. Ibu gak usah bayar juga nggak apa apa". jelas Amran dengan tenangnya.
"tanggung dek, lagian saya takut nyasar. Saya belum
pernah ke kota ini. Lagian saya juga mau keliling-keliling dek. Ternyata asik
juga naik becak sore-sore gini" kata si ibu sambil tersenyum.
"kalau ibu mau saya antar lagi, saya shalat dulu ya
bu.." kata Amran ramah dan tetap menjaga kesantunannya dikala menghadapi
orang yang lebih dewasa.
Setelah selesai shalat Amran pun kembali menuju becaknya
dan ternyata si ibu dan asistennya masih nunggu di becak. Kemudian di
antarkanlah si ibu tadi keliling-keliling kota dan berhenti di pusat
perbelanjaan.
“tunggu disini ya dek, nanti antarkan saya lagi ke hotel”.
Kata si Ibu.
“baik ibu, nanti kalau pas ibu balik ke becak saat Maghrib
ibu tunggu aja dulu di sini ya bu, ”. jelas Amran.
Setelah shalat maghrib sesuai dengan janjinya Amran
mengantarkan kembali si Ibu ke hotel. Di dalam perjalanan si Ibu bertanya
kepada Amran.
“masih sekolah dek..?”
“masih bu..”. jawab Amran singkat.
“kenapa mau narik becak.. orang tuamu dimana..?”. Lanjut
si Ibu ingin tau tentang Amran. Dan penasaran dengannya, seorang pemuda yang
seharusnya menghabiskan waktu mudanya dengan senang- senang. Namun yang
dilakukan Amran mencari nafkah serta yang paling dikagumi si ibu ketaatannya
dalam beribadah. Disiplinnya dalam menjaga waktu shalat. Sementara dirinya yang
sudah jauh berbeda umur dengannya masih saja sering menunda-nunda waktu shalat
bahkan melalaikannya demi kepentingan pekerjaan dan meeting dimana-mana.
Sebaliknya dengan Amran demi shalat di awal waktu dia berani meninggalkan
penumpang di becak. gak peduli dibayar atau tidak. “Subhanallah..? sungguh
mulianya hati anak ini..”. Si ibu membatin.
“Ayah saya sudah meninggal bu, tiga tahun yang lalu. Saya
membantu ibu mencari nafkah untuk kebutuhan kami sehari-hari dan biaya sekolah.
Ibu saya sebagai ibu rumah tangga juga menjajakan makanan di pinggir-pinggir
jalan”. Jelas Amran. Seketika si Ibu mengeluarkan airmata mendengar Amran
menceritakan kisah hidupnya.
“kamu masih sekolah dek..”. tanya si Ibu dengan suara yang
agak serak karena menahan sedih saat mendengar ceritanya Amran.
“masih bu.. kelas tiga SMA”.
“kamu punya cita-cita apa dek..?”. Lanjut si Ibu.
“jadi malu saya bu...”
“kok malu..”
“saya malu bu, menceritakan cita-cita saya ke ibu. Secara
saya gak mungkin menggapai cita-cita yang saya inginkan. Gak punya uang saya
bu.. hheee”. Kata Amran sambil tertawa terkekeh-kekeh.
“tapi bolehkan dek, saya tau cita-cita adek”.
“mmm… iya bu, boleh. Saya bercita-cita ingin menjadi
dokter bu. Saya ingin sekali mengobati orang-orang sakit yang tidak mampu
secara gratis. Karena saya tidak mau orang lain merasakan seperti yang ayah
saya rasakan. Karena keterbatasan biaya nyawa ayah tak terselamatkan”. Kenang
Amran dengan mata berkaca-kaca.
“Masyaa Allah.. sungguh mulia hatimu dek..”. Puji si Ibu
dengan suara seraknya, lagi-lagi menahan sedih mendengar cerita perjuangan
hidup pemuda shalih itu.
“trus.. rumahmu dimana..?”. Lanjut si Ibu.
“waduuh.. emangnya kenapa bu..?”. Tanya Amran penasaran.
“saya mau kenal sama ibumu dan keluargamu”.
“ya ampun, jangan bu.. gak usah bu... Rumah saya jauh bu,
lagian di rumah saya gak ada apa-apa kok”. Jelas Amran.
Si ibu terus memaksa. Setelah menunggu si ibu shalat jamak
maghrib dan isya di hotel mereka pun pergi ke rumah Amran. Sementara Amran juga
baru balik dari Mesjid guna melaksanakan kewajibannya seperti biasa. Malam itu
juga si ibu ke rumah Amran. Tapi kali ini Amran naik becak sendiri dan si ibu
membuntuti becaknya Amran dengan mobil mewah milik pribadinya. Sesampai di
kontrakan Amran. Si ibu begitu kaget melihat rumahnya yang sangat kecil tapi
kok berani tidak dibayar demi shalat. Saking penasarannya si ibu memberanikan
diri untuk bertanya.
"dek...kok berani nggak dibayar waktu di Mesjid tadi
?"
"rezeki itu bukan dari pekerjaan kita ibu, rejeki itu
datangnya dari Allah, saya yakin itu. makanya kalau Allah memanggil, kita harus
dateng. Kalau kita lari dari rezekinya untuk mengejar Allah dan memenuhi
panggilan-Nya, maka rezeki itu akan mengejar kita" kata Amran polos. Si
ibu pun lantas terdiam sambil meneteskan airmata mendengar kata-kata Amran. Dia
masih muda belia tapi mempunyai sifat yang bijak dan luar biasa.
Sesudah dikenalkan dan ngobrol banyak dengan ibunya Amran.
Si ibu pun pamit sambil meminta Amran mengantarkannya kembali minggu depan.
"Insya Allah saya siap bu.." kata Amran dengan
penuh semangat.
Si ibu pun pamit sambil memberi ongkos becak dalam bentuk
amplop berwarna putih kepada Ibunya Amran. Setelah si ibu pergi, Amran membuka
amplop tersebut dan ternyata isinya 2 juta rupiah. Amran dan keluarganya pun
kaget dan bersyukur atas apa yang telah Allah berikan melalui si ibu tadi.
Ibunya Amran langsung bersujud syukur atas nikmat yang Allah berikan.
“Alhamdulillah ya Nak.. uang ini bisa kita bayar SPP Amran yang sudah jatuh
tempo”. Ucap ibu sambil terisak haru. “iya bu..”. jawab Amran singkat sambil
memeluk ibunya.
Seminggu kemudian sesuai dengan tempat dan waktu Amran
mendatangi hotel tempat si ibu janjikan. Setelah bertanya pada satpam, Amran tidak diperbolehkan masuk. Satpam tidak
percaya ada tamu hotel bintang 5 janjian sama tukang becak. Namun Amran tidak
memaksa dia kembali ke becaknya yang ia parkir tidak jauh dari hotel. Naah...
itu pula yang sering sekali kita lakukan. Kita melihat orang dari penampilan
luarnya saja. Padahal Allah tidak pernah melihat pangkat, jabatan, pekerjaan,
warna kulit bahkan bentuk fisik mereka. Allah hanya melihat ketaqwaan dan hati
hamba-Nya. Karena penasaran Amran gak masuk-masuk ke lobby hotel. Akhirnya si
ibu keluar dan melihat Amran sedang tertidur di becaknya. Kali ini si ibu
datang berdua dengan suaminya. Ternyata si ibu sudah menceritakan semua kepada
suaminya itu tentang Amran.
“kenapa gak masuk dek..?”. kata si Ibu sambil
membangunkannya.
“gak boleh sama satpam bu..”. jawab Amran singkat.
“Dek, kenalin ini suami ibu…”. Si ibu mengenalkan suaminya
kepada Amran.
Sambil mengulurkan tangannya menyalami si bapak yang
tampan berpakaian rapi nan gagah berdiri disamping isterinya yang tak kalah
cantik bak bidadari. Tiba-tiba keduanya saling bertatapan lama seakan pernah
berjumpa sebelumnya. Amran tentu masih sangat mengenal wajah si bapak tersebut.
Si bapak berkata sambil menunjuk ke arah Amran, “kamu laki-laki yang pernah
ngantar saya waktu itu kan..?”
“iya pak..?”
“ya ampun.. dek. Saya minta maaf saking terburu-burunya
saya karena takut terlambat meeting, saya jadi lupa mau ngasi ongkos
becaknya. Ketika saya kembali kamunya sudah tidak ada lagi”.
“tidak apa-apa pak, saya ikhlas kok bantuin bapak”. Jawab Amran
sambil tersenyum.
“Oh iya.. ini Ma, laki-laki yang pernah Papa ceritakan ke
Mama. Dia anak yang sangat jujur mau mengembalikan tas Papa yang isinya uang
ratusan milyar”. Jelas si bapak kepada istrinya.
“ternyata dunia ini sempit ya Pa, pemuda yang kita
bicarakan adalah orang yang sama”. Ucap si Ibu Sambil tersenyum melihat Amran
dan suaminya.
Kedua suami istri tersebut sama-sama mengambil pelajaran
yang sangat berharga dari kisah tukang becak yang masih belia namun begitu
jujur, shalih dan disiplin dalam menjaga shalat lima waktunya. Seketika
sepasang suami istri ini juga melakukan perubahan seperti apa yang Amran
lakukan. Shalat selalu berjamaah dan diawal waktu. Mereka berfikir selama ini
selalu disibukkan dengan kegiatan duniawi saja, terlalu mengejar dunia. Sering
menunda-nunda shalat hanya karena takut terlambat meeting. Sementara
keduanya adalah merupakan pengusaha-pengusaha besar, tentu jika masalah
finansial tak perlu diragukan lagi. Sejak saat itu mereka sudah istiqamah dan
fokus dalam melaksanakan ibadah serta shalat di awal waktu.
“Oh ya, Amran saya panggil kamu Nak Amran saja ya.. secara
usia kamu beda tipis dengan putri ibu”. Ucap si Ibu sambil mengajak Amran masuk
ke mobilnya untuk diajak jalan-jalan.
“boleh bu..”. jawab
Amran sambil tersenyum manis.
Amran sebenarnya makin penasaran mau diajak kemana dia sama si bapak dan
ibu yang baik hati ini. Ingin bertanya namun Amran mengurungkan niatnya. Dia
pasrah dibawa kemana saja. Sesampai di sebuah rumah yang sangat mewah menurut
Amran. Mobil yang terkesan mewah pula itu pun berhenti. Si bapak dan si ibu
mengajak Amran masuk melihat-lihat keadaan rumah tersebut.
“kamu suka Amran..?” tanya
si Ibu.
“maksudnya bu…?” Amran
balik tanya penasaran.
“rumah ini untuk kamu dan
keluargamu Amran..” Lanjut si bapak.
“mmmmh.... ttttaapii…
pak..bu.. saya gak ngerti..?”. saking gugupnya Amran gak percaya dengan
kata-kata si ibu dan si bapak.
“iya nak Amran rumah ini
kami beli untuk kamu dan keluargamu”. Jelas si bapak sambil menyerahkan
sertifikat rumah, mobil beserta buku tabungan untuk biaya pendidikan Amran dan
adiknya. Amran kagetnya luar biasa terasa mau pingsan dan jantungnya mau copot
mendengar kalimat yang diucapkan si bapak yang baik hati itu. “Alhamdulillah ya
Allah.. atas nikmat rezeki yang telah engkau anugerahkan kepada kami”. Amran
seketika bersujud syukur dan terus memuji-muji Allah. Sambil meneteskan air
mata tidak hentinya Amran mengucap syukur kepada Allah dan tanpa sadar memeluk
si bapak dengan sangat erat sambil mengucapkan termakasih berkali-kali. Dengan
mata berkaca-kaca si ibu berkata, "rezeki ini bukan dari saya dan suami
saya, ini rezeki dari Allah untukmu nak
Amran kami hanyalah perantaranya”.
"hadiah ini belum seberapa dibandingkan kebaikan dan kejujuran kamu anak
Amran dan kamu sangat pantas menerima rezeki seperti ini karena kamu anak yang shalih
selalu menjaga shalat diawal waktu dan itu menjadi pelajaran yang sangat
berharga bagi saya dan istri saya. Mudah- mudahan kita semua bisa istiqomah
menjaga shalat di awal waktu ya nak" tambah si bapak dengan penuh
kekaguman melihat keshalihan Amran. Sikap dan akhlak Amran dapat meluluhkan
hati mereka. Akhirnya mereka pun kembali ke hotel namun sebelumnya mampir di Mesjid
untuk shalat ashar berjamaah. Setelah shalat Ashar kemudian mereka menjemput
keluarga Amran dan berkemas-kemas untuk menempati rumah barunya. Keluarga Amran
sangat bersyukur dan bahagia atas nikmat yang diperolehnya. Sesungguhnya
setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Maka dari itu janganlah risau seperti
apapun yang kini tengah kita jalani. Ikutilah jalur yang telah Allah
persembahkan dan nikmati prosesnya yang penting sempurnakan ikhtiar. Jangan lah
mengeluh di saat sebagian rencana-Nya tidak sesuai dengan apa yang kita
harapkan.
Enam tahun kemudian. Di sebuah rumah sakit swasta yang
terkesan cukup besar dengan peralatan yang serba canggih. Di sanalah sekarang
Amran bertugas yang dulunya wara wiri disepanjang jalan menarik penumpang
bersama becak bututnya. Di tengah teriknya mentari seakan tak terasa lagi panas
dan hujan kedinginan. Seakan badan sudah kebal dengan keadaan itu. Kini Amran
telah tercapai cita-citanya menjadi seorang dokter. Namun pekerjaan membecak
itu juga tetap dilakoninya disaaat sesekali menjenguk anak buahnya. Iya, selain
sukses menjadi dokter spesialis jantung Amran juga sukses menjadi pengusaha
becak. Sementara adiknya Amran juga sedang menyelesaikan gelar dokternya.
Kehidupan Amran berubah seratus persen lebih baik. Ia terus selalu berbuat baik
dan selalu istiqamah dalam shalatnya. Seperti janjinya dulu ketika dia telah
menjadi dokter akan membuka pengobatan gratis kepada orang-orang yang kurang
mampu. Ditempat tinggalnya dulu, kini dibangun sebuah klinik pengobatan gratis
oleh dokter Amran spesialis jantung. Siapa sangka sikap jujur ternyata mampu
mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik dari sebelumnya. Oleh karena
itu selalu lah berprasangka baik kepada Allah. Jika Allah yang kita utamakan
maka semua akan indah sesuai janjinya.
REZEKI SUDAH TERTAKAR,
JODOH TAK PERNAH TERTUKAR
Oleh : Erna Putri Razali
“Ya benar. Janji Allah itu tidak akan meleset sedikitpun.
Allah telah berjanji akan memberikan rezeki kepada semua makhluk-Nya di seluruh
muka bumi. Akan tetapi janji ini tidak dengan “cek kosong”, tidak hanya dengan
berleha-leha serta berdiam diri di rumah. Namun seseorang akan mendapatkan
rezeki jikalau mau berusaha, berjalan dan bertebaran di seluruh penjuru bumi
serta disempurnakan dengan berdo’a. Karena Allah menciptakan bumi dan seisinya
untuk kemakmuran manusia. Siapa yang mau berusaha dan bekerja ialah yang akan
mendapat rezeki dan rahmat dari Allah SWT”. Khutbah Jum’at yang disampaikan
khatib kemarin terus terngiang-ngiang di telinga Hilman. Sampai-sampai tak
sengaja sambil berjalan di pinggir perumahan jalan menuju ke rumah
kontrakannya, Hilman tersandung dengan batu sehingga mengenai badan seorang
bapak paruh baya. Beliau seorang tuna netra yang sering mangkal di
pinggir jalan perumahan Elite, sambil berjualan buah-buahan segar.
Seketika langsung Hilman menghampiri si Bapak tersebut.
“Bapak tidak apa-apa Pak..?” tanya Hilman dengan tergesa-gesa.
“Tidak Mas, saya tidak apa-apa”. Jawab lembut si Bapak.
“Saya mau beli buah, Pak..”
“Boleh. Ini Mas buahnya, 5000-, ya?”
“Terimakasih, Pak”. Jawab Hilman singkat sambil berfikir. “Bapak ini saja
yang tidak bisa melihat begitu semangat mencari rezeki. Kenapa aku yang masih
muda dan sehat wal’afiat menyerah begitu saja ya..” gumamnya.
Lalu secara spontan aku bertanya kepada si bapak.
“Pak. Kalau ada orang kasih uangnya 2000,- terus langsung pulang bagaimana
ya pak atau mungkin Bapak ngasi kembalian lebih. Bagaimana itu Pak..? Terus
nanti bapak rugi dong?”
“Allah ga akan salah alamat kasih rejeki Mas. Kalo sekarang saya harus
rugi, saya yakin Allah pasti lagi nyiapin rejeki lain buat saya.. rezeki setiap
kita ini sudah ditakar oleh Allah SWT. Alkisah seorang laki-laki yang bosan
dengan kekayaannya. Sehingga beliau berpuluh-puluh juta menyumbangkan harta
miliknya. Tiada hari tanpa membagi- bagikan uang kepada orang lain. Tapi
uangnya tak pernah berkurang sedikitpun. Bahkan terus bertambah dari hari ke
hari. Akhirnya pada suatu hari dia menemui seseorang yang dikenal bijak di
negerinya. Beliau itu sering di sapa dengan sebutan Tuan Guru. Dia curahkan
semua perihalnya tentang harta yang dimilikinya. Dia tidak sanggup kelak di
akhirat ketika dihisab hartanya sungguh berlimpah ruah. Dan orang kaya juga
telat masuk Surga dikarenakan terlalu lama dihisab mengenai hartanya. Ia ingin
sekali menjadi orang miskin. Karena dia berpikir seyogyanya orang yang
kekurangan itu lebih mendekatkan diri kepada Allah. Sementara orang yang
bergelimang harta hanyut dalam kekayaannya dan lalai dengan keindahan dunia
yang berusia hanya sebatas umur kita. Lalu si laki-laki tersebut diberikan
saran oleh Tuan Guru.
“Coba kamu nekat melakukan suatu hal kepada sang Raja, ketika beliau
sedang shalat berjamaah”. Kata Tuan Guru.
“Apa yang harus saya lakukan Tuan Guru?” Tanya Si Laki-laki itu.
“Jumat depan kamu harus cari tahu di mana biasanya Raja Shalat Jum’at.
Lalu kamu harus berdiri tepat di belakangnya”.
Si laki-laki makin penasaran dengan ide Tuan Guru yang tidak masuk akal
tersebut.
“Lalu saya harus melakukan apa Tuan Guru ?”
“Kamu pukul kepala Raja dengan sangat keras”.
“Hanya itu saja Tuan Guru?”
“Iya”.
Si laki-laki tersebut dengan mudahnya mencari tahu tentang kebiasaan Sang
Raja melaksanakan shalat Jum’atnya. Dengan mengelontarkan puluhan juta untuk
membayar orang mencari informasi dan keberadaan sang Raja. Sesegera mungkin si
laki-laki tersebut menyusul Sang Raja. Tepat seperti yang diarahkan Tuan Guru.
Laki-laki tersebut berdiri di belakang Raja. Setelah selesai shalat Jum’atnya,
si laki-laki tersebut memukul kepala sang Raja dengan sangat keras sampai
mahkotanya terjatuh ke bawah. Seketika
itu pula ajudan dan pengawal Raja menangkap laki-laki tersebut dan
memenjarakannya. Sungguh senang dan bahagia hati si laki-laki itu. Karena dia
merasa sudah dipenjara dan akan menjadi orang miskin. Esok harinya Raja
mendatangi si laki-laki itu dan mengucapkan terimakasih serta diberikan hadiah
ratusan juta untuknya. Karena Raja merasa berhutang budi kepada si laki-laki
itu. Kalau dia tidak memukul kepala Raja tentu Raja akan kesakitan bahkan bisa
meninggal dunia karena di gigit kalajengking yang ada dalam mahkotanya.
“Jadi Mas, jika kita memang ditakdirkan Allah menjadi
orang kaya atau sebaliknya. Maka bagaimanapun caranya tetap kita dalam
lingkaran takdir Yang Maha Kuasa. Rezeki kita sudah ditakar oleh Allah sesuai
dengan kemmapuan yang kita miliki. Begitu pula dengan jodoh tidak akan pernah
tertukar. Semua akan diberikan sesuai dengan kepribadian kita. Bukankah isteri
kita itu adalah tulang rusuk kita sendiri. Jika kita ingin jodoh yang baik,
maka perbaikilah dirimu agar jodohmu selaras denganmu. Skenario telah Allah tuliskan
jauh sebelum kita dilahirkan, kita hanya menjadi pemainnya. Jadilah kita pemain
yang terbaik di mata Allah, agar mendapat hadiah yang setimpal yaitu Surganya
Allah”. Hilman begitu terpesona mendengar cerita dari si Bapak tuna netra
itu. Banyak hikmah yang dapat di ambil dari perjalanannya hari ini.
“Subhanallah, gemetar hati mendengarnya”. Gumam Hilman sambil mengurut
dadanya. Seakan jiwanya tenteram dan semangat hidup semakin membara.
Setelah mendengar cerita yang begitu panjang lebar, Hilman kembali
melanjutkan perjalanannya menuju rumahnya. Hatinya begitu tak karuan antara
senang dan gelisah tak menentu. Terasa jiwa kembali di-charger saat
mendengar nasehat dan cerita dari si Bapak tuna netra itu. Orang yang
punya kekurangan pun masih giat mencari rezeki, kok yang punya kelebihan
seperti aku masih malas-malasan tidak mau berusaha lebih giat lagi.
Sejenak dia mengenang sosok perempuan berhijab rapi,
memiliki wajah yang sangat rupawan, berkulit putih bersih tentunya sangat
cerdas yang ditaksirnya diam-diam. Dia adalah Athiya Anindya, putri bungsu dari
3 bersaudara hidup bersama ayahnya. Ibunya telah meninggal dunia saat Athiya
dilahirkan. Kedua kakaknya sudah menikah dan tinggal bersama keluarganya
masing-masing. Athiya sering ketemu Hilman disaat mereka sama-sama ke
perpustakaan untuk mencari buku referensi. Kala itu Hilman sedang
sibuk-sibuknya menyelesaikan tesis, sementara Athiya adalah salah satu
mahasiswa kedokteran yang sebentar lagi juga menyelesaikan studinya dan segera
menyandang gelar dokter. Wajah gadis itulah yang selalu terbayang-bayang dan
mengganggu tidurnya Hilman. Pernah di suatu ruang perpustakaan saat mencari
buku referensi untuk menyusun tesis. Hilman nekad menyatakan cintanya. Dengan
sangat bersahaja Athiya mengatakan. “saya tidak mau pacaran Mas?, kalau Mas
senang dengan saya, silahkan datang ke rumah menjumpai Ayah saya?”. Jawab
Athiya dengan lembut dan santun sambil menyerahkan alamat rumahnya kepada
Hilman.
Dengan bermodalkan nekad, Hilman mendatangi rumah Athiya
dan menjumpai Ayahnya. Tak seperti yang Hilman bayangkan. Ternyata Ayahnya
Athiya sangat killer ketika ada lelaki yang ingin serius dengan putri
bungsunya itu.
“Kamu punya apa untuk melamar putri saya?”. Tanya Ayah
Athiya tegas.
“Ssss..saya sedang menyelesaikan magister saya, Pak?”.
Jawab Hilman
gugup.
“Lalu usaha kamu apa?”. Lanjut Ayahnya Athiya tetap dengan
gayanya yang
gagah.
“Saya punya warung kelontong, Pak?”.
Jawab Hilman seraya menundukkan kepalanya.
“Kamu tahu suami-suami dari kedua kakaknya Athiya alias
menantu
menantu saya. Mereka adalah
pengusaha-pengusaha yang sangat sukses dan terkenal di kota ini. Sedangkan
kamu... baru mau selesai Magister dan punya warung kelontong mau melamar anak
saya?”
Dengan semakin menunduk wajah Hilman memerah menahan malu
atas perkataan ayahnya Athiya. Sementara Athiya mengintip dibalik tembok
pembatas ruang tamu dengan ruang keluarga. Terasa hatinya sedih dan kecewa
melihat sikap ayahnya terhadap Hilman. Merasa sangat tidak adil baginya
dibandingkan dengan kedua kakak-kakaknya. Dengan mata berkaca-kaca Athiya
segera berlari masuk ke kamar. Sementara Hilman langsung minta izin pamit
pulang dengan membawa segenggam kekecewaan.
Hilman kembali fokus menyelesaikan sidang tesisnya.
Setelah selesai acara wisuda Magisternya, Hilman ingin mengenang masa-masa
terindah saat pertama kali jumpa dengan Athiya yaitu di sebuah ruang baca di
perpustakaan dekat kampusnya. Tiba-tiba ia ingin mengunjungi perpustakaan
tersebut sekalian mengembalikan sebagian buku yang dipinjamnya. Di sudut meja
baca ada seorang gadis berjilbab biru hanya terlihat bagian samping wajahnya
saja yang diduga Hilman itu adalah Athiya, namun Hilman enggan menemuinya. Dia
kelihatan sangat serius berbicara melalui ponselnya. Kalimat yang sempat
terdengar oleh Hilman adalah “Tapi.. siapa yang menemani Athiya berangkat ke
daerah terpencil tu, Yah..?. Athiya belum pernah ke sana”..... Hilman segera
keluar dari ruangan tersebut.
“Mas Hilman..?”. Suara lembut itu menyapaku.
Segera aku membalikkan badan mencari arah suara tersebut.
Terlihat seorang gadis cantik dan semakin menawan dengan balutan gamis berwarna
biru muda di hiasi wajah dengan kerudung biru pula.
“Athiya..!”. Sapaku dengan penuh kerinduan melihat wajah
cantiknya.
“Selamat ya, Mas?”. Ucap Athiya sambil mengulurkan
tangannya.
“Ooh iyaya... terimakasih..!” Sambil ku raih tangan
mulusnya itu.
“Kamu bagaimana kabarnya? selamat juga
ya.. sudah meraih gelar dokter..? ga apa-apa kan meski sudah terlambat, Hhee..”
Candaku.
Athiya hanya tersenyum manis sambil
mengangguk.
“Besok saya mau berangkat ke daerah,
Mas. Saya ditugaskan ke daerah terpencil. Hanya sendiri pula, ngeri-ngeri sedap
juga ya Mas ke daerah sana”. Curhat Athiya kepada Hilman.
Dugaan Hilman benar kalau Athiya butuh
bantuan untuk menemaninya ke daerah terpencil itu.
“eemmm... kalau Athiya tidak berani
kenapa tidak ajak ayah untuk menemani”. Tanya Hilman mencoba memberi solusi.
“Ayah sedang di luar negeri, Mas. Minggu
depan baru balik, Saya berdua dengan bibi di rumah. Jelas Athiya.
Di rumah kontrakannya Hilman tinggal seorang diri. Dia
sejak kecil sudah menjadi yatim dan ketika berusia 12 tahun ibunya pun
meninggal dunia. Setelah lulus dari SMA Hilman menjual peninggalan orangtuanya
yaitu rumah, sawah dan kebun untuk melanjutkan studinya di kota. Sebagian dari
warisan orangtuanya itu digunakan untuk usahanya yaitu berjualan kelontong.
Karena tidak ada sanak saudaranya lagi di desa, Hilman ingin menetap di kota
dan berkarir di sana.
Ketika malam tiba, Hilman kembali teringat percakapannya
tadi siang bersama Athiya. Hilman merasakan Athiya butuh bantuannya, tapi
bagaimana caranya. Karena diantara keduanya tidak ada hubungan apa-apa.
Terbersit di hati dan terbayang dipikirannya, wajah Athiya yang menari-nari di
pelupuk matanya. Kenapa rindu ini muncul lagi..? Setelah sekian lama berusaha
untuk melupakannya. Karena Hilman merasa tidak sederajat dan tidak se-level
dengan Athiya. Baginya Athiya itu ibarat bintang di langit yang cahayanya kelap
kelip, indah mempesona. Dan ia hanya bisa memandangnya saja. Athiya bagaikan
bulan purnama yang sinarnya menerangi semua manusia. Aku siapa lah.. hanya
seorang anak yatim piatu yang tidak mempunyai modal hidup. Aku mencintainya
bagaikan pungguk merindukan bulan. Kenang Hilman dengan hati yang penuh dengan
kesedihan.
Setelah shalat subuh. Seperti biasa Hilman berlari-lari
pagi. Tidak seperti biasanya pagi itu terasa jalan sangat sepi. Namun Hilman
tetap menikmatinya dengan terus berlari-lari disepanjang jalan. Di tengah
perjalanan dia mendengar teriakan seorang perempuan minta tolong. Hilman terus
berlari mencari suara minta tolong tersebut. Dan ternyata suara itu adalah
suaranya Athiya yang sedang di sandra oleh dua orang preman. Semua uang dan
perhiasan Athiya dirampok dan karena Athiya melawan untuk membela diri, Kaki
dan tangannya sebelah kiri cedera sehingga Athiya tidak dapat berjalan.
Akhirnya Hilman membopong Athiya dan membawanya ke rumah sakit terdekat untuk
segera ditangani oleh dokter. Seminggu berlalu Athiya di rumah sakit. Hilman
sangat telaten mengurusi dan merawat Athiya dengan dibantu oleh bibinya. Setelah diperbolehkan
pulang oleh dokter, Athiya diantarkan ke rumah oleh Hilman. Athiya kembali
sehat seperti sediakala. Saat Ayahnya pulang, Athiya menceritakan semua
peristiwa yang terjadi pada dirinya kepada ayahnya.
Terlintas nasehat dan cerita dari Bapak penjual buah tuna
netra dulu yang pernah Hilman jumpai. Yang paling terekam dalam otaknya
adalah ‘rezeki seseorang sudah ditakar oleh Allah sesuai dengan kemampuannya
dan jodoh itu tidak akan pernah tertukar’. Saat teringat kata-kata dari bapak tuna
netra itu, kembali hatiku sejuk bagaikan tersiram dengan es salju. Motivasi
ingin memiliki Athiya kembali membara. Cinta yang sudah lama ingin ia lupakan
dikarenakan tidak sederajat, kini mulai bersemi kembali. Aku akan membuktikan
kepada ayahnya, bahwa aku pantas bersanding dengan Athiya. Hilman mulai lebih
serius lagi dalam usaha kelontongnya dengan membangun tokonya lebih luas dan
besar serta memasukkan modal lebih banyak lagi melalui pinjaman koperasi. Ilmu dalam berbisnis sudah ia dapatkan
dibangku perkuliahan bahkan sudah mencapai masternya. Motivasinya terdapat dari
kata-kata si bapak penjual buah tuna netra yang dulu pernah ketemu dan
Hilman pernah curhat kepada beliau. Karena mendengar kata-katanya begitu
menyentuh dan menyemangati hidup Hilman. Hilman memberanikan diri bercerita
tentang gadis yang dicintainya, namun harus bermodalkan kekayaan. Sementara dia
hanya hidup sebatang kara tanpa ada tempat untuk mengadu keluh kesah. Sehingga
si Bapak tersebut melanjutkan kata-kata motivasi kepada Hilman yang bahwa
Rezeki, jodoh, maut, sudah diatur oleh Allah jauh sebelum kita dilahirkan ke
dunia ini. Jodoh kita tidak pernah tertukar. Kalau memang dia bagian tulang
rusukmu, maka ia akan kembali kepadamu dengan berbagai cara yang diatur oleh
Allah SWT. Rezeki pun sudah tertakar sesuai dengan kemampuan yang kita miliki.
Jangan pernah khawatirkan itu semua. Tugas kita hanyalah ikhtiar, berdoa dan
menyadari bahwa sampai kapan pun tiga hal ini tidak akan pernah tertukar. Takdir
itu tidak perlu dicari, dia akan hadir jika saatnya datang. Artinya tugas kita
di bumi ini adalah menjalankan takdir, bukan mempercepat takdir atau
memperlambat takdir. Yang dapat mengubah takdir hanyalah doa. Maka Mas Hilman
perbanyaklah berdo’a disamping terus menyempurnakan ikhtiar. “Usaha, ikhtiar
dan berdo’a akan aku sempurnakan untuk mendapatkan sesuatu yang kuimpikan,
terutama kamu adik Athiya Anindya”. Gumamnya dalam hati sambil tersenyum-senyum
bahagia.
Lambat laun usaha Hilman terus melejit. Toko yang dulunya
hanya satu sekarang sudah menjadi lima cabang. Seketika itu, ia kembali
teringat dengan si Bapak penjual buah tuna netra itu. Hilman ingin
kembali berjumpa dengan beliau. Didatanginya si Bapak tersebut di tempat yang
pernah ia temui. Setelah ia berkeliling komplek dan bertanya kepada beberapa
penghuni komplek perumahan Elite itu, tidak ada yang kenal dengan si
Bapak tersebut. Dan bahkan sejak didirikan perumahan tersebut tidak ada yang
berjualan disekitarnya kata salah seorang penghuni komplek perumahan Elite
itu. Keinginan Hilman untuk membawanya ke rumah dan menjadikan beliau bagian
dari anggota keluarganya gagal. Akhirnya Hilman pulang dengan membawa rasa
kecewa. Sesampai di rumah, ia kaget melihat sosok lelaki yang sudah beruban
namun tetap gagah berdiri di depan rumahnya. Jantung Hilman hampir copot ketika
melihat dengan jelas wajah ayah Athiya sedang berada di rumahnya.
“Assalamu’alaikum, Pak..?”
“Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh”
“Apakabar Nak Hilman?” Tanya Ayah Athiya.
“Baik Pak. Mari silahkan masuk, Pak”.
Jawab Hilman santun sambil mempersilahkan masuk Ayahnya Athiya.
“Begini Nak Hilman, tujuan bapak datang
kemari adalah ingin mengajak Nak Hilman tinggal bersama Bapak dan menjadikan
Nak Hilman menantu saya, apakah Anak Hilman bersedia menjadi suami Athiya?”.
Tanya Ayah Athiya dengan tegas namun lembut tanpa basa basi.
“Aaa..pa. Pak, saya tidak salah dengar
kan Pak?”. Jawab Hilman kaget terasa jantungnya mau copot kedua kali. Hilman
merasa dirinya bagaikan mimpi di siang bolong mendengar pembicaraan ayah
Athiya.
“Sebenarnya Nak Hilman, sebelum Bapak berangkat ke LN,
Bapak sudah berkeinginan ingin menjumpai Nak Hilman, untuk menyatakan ini
semua. Tetapi karena Bapak harus berangkat tiba-tiba. Makanya jadi tertunda.
Dulu ketika Nak Hilman ke rumah untuk melamar Athiya putri saya bukannya saya
tidak setuju, tapi saya ingin Athiya menyelesaikan kuliahnya dulu dan
memberikan kesempatan kalian berdua menjadi lebih dewasa dalam bersikap tidak
terburu-buru dalam mengambil setiap keputusan. Disamping itu banyak lelaki lain
yang ingin melamar putri bungsu saya. Semuanya sama saya perlakukan. Namun,
yang sangat berbekas di hati saya Cuma kamu Nak, dikarenakan akhlak kamu sangat
baik dengan Athiya. Dan disertai lagi dengan cerita cinta putri saya. Ternyata
Athiya mencintai kamu Nak Hilman. Oiya, sebelumnya Bapak mau berterimakasih
telah menolong dan mengurusi putri saya ketika dia kerampokan. Bapak juga minta
maaf ya Nak, telah merepotkan kamu dan mohon maaf juga atas sikap Bapak dulu
ketika kamu datang untuk melamar Athiya. Hilman merasa sangat bahagia mendengar
semua kata-kata dari calon mertuanya itu. Subhanallah..Walhamdulillah..Allahu
Akbar..!! Hilman sujud syukur dan berkali-kali memuji keagungan Tuhan yang
telah memberikan kebahagiaan yang tiada tara.
Usaha Hilman terus melejit. Hilman sudah menjadi pengusaha
yang sangat sukses. Sementara itu ia juga membantu usaha dan bisnis-bisnis dari
mertuanya itu. Hilman berjanji tidak akan meninggalkan ayah mertuanya
sendirian. Dia akan menemani mertuanya selamanya. Ayah Athiya semakin bangga
dengan akhlak yang dimiliki Hilman. Meskipun menantu-menantu yang lain juga
baik dan sukses, tapi mereka semua terlalu disibukkan dengan pekerjaannya.
Hanya setahun sekali mereka menjenguk ayahnya. Itupun jika punya kesempatan.
Maka dari itu, ayahnya Athiya tidak mau terulang lagi pada Athiya. Keinginan
ayahnya agar suami dari Athiya mau tinggal dan hidup bersamanya serta mempunyai
kepribadian dan akhlak yang baik. Ternyata itu ada pada Hilman Kinan. Hilman
sangat yakin, jika kita bersungguh-sungguh dan tetap me-nomorsatukan Allah
dalam segala hal, maka tidak pernah ada kekecewaan. Allah telah mengatur alam
dan seisinya, tentu apapun yang dihidupkan akan mendapatkan rezekinya
masing-masing sesuai dengan kesanggupan yang dimilikinya. ‘Rezeki sudah
tertakar, jodoh tidak pernah tertukar’. Kata-kata itu sudah menjadi motto dalam
hidupnya Hilman.
0 komentar:
Posting Komentar