Menyajikan Informasi dan Model Baju Muslimah terbaru serta Berbagai Artikel Menarik Lainnya

Sabtu, 24 Desember 2022

ARTIKEL REFLEKSI KEGIATAN SOSIALISASI BUDAYA POSITIF DI SEKOLAH KEPADA REKAN GURU AKSI NYATA MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF OLEH ERNAWATI

ARTIKEL REFLEKSI KEGIATAN SOSIALISASI BUDAYA POSITIF DI SEKOLAH KEPADA REKAN GURU AKSI NYATA MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF

 

Oleh : Ernawati, S.Pd.

A. Latar Belakang

Berdasarkan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Peran Guru di sekolah adalah sebagai among yang menuntun benih-benih kebudayaan yaitu murid untuk tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang beradab/berkarakter agar ia tidak kehilangan arah dan dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.

Seorang pendidik ini diibaratkan sebagai seorang petani. Dimana seorang petani ini memiliki sebuah peran yang sangat penting dalam menumbuhkan tanaman agar subur dan tidak layu. Seorang petani harus benar-benar memastikan bahwa tempatnya bercocok tanam memiliki tanah yang cocok untuk ditanami, memastikan bahwa tanamannya mendapatkan pengairan yang baik serta memberantas hama ataupun gulma agar pertumbuhan tanamannya itu tidak terganggu. Begitu pula dengan pendidik yang memiliki peranan hampir sama persis dengan petani.

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini seiring dengan perkembangan dan kemajuan teknologi yang sudah mendunia, banyak siswa-siswi yang berprilaku negatif seperti berkata kotor, berbohong, berkelahi, perundungan (bullying). Hal tersebut menjadi tanggungjawab yang besar bagi pendidik bagaimana mengatasi kenakalan yang indisipliner ini. Untuk itu membangun karakter murid sebagai warganegara yang baik sangatlah penting untuk segera dilakukan, karena sekolah merupakan salah satu institusi pembentukan karakter.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan di sekolah adalah dengan menciptakan budaya positif di sekolah. Dengan diterapkannya budaya positif tersebut, murid diharapkan memiliki karakter yang baik sesuai dengan karakter dalam Profil Pelajar Pancasila. Rencana aksi nyata yang akan saya lakukan untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yaitu menyusun keyakinan kelas dan mensosialisasikan budaya positif kepada rekan sejawat. Keyakinan kelas ini berisi nilai-nilai kebajikan yang menjadi harapan guru terhadap murid, dan harapan murid kepada guru yang telah disepakati bersama.

 

B. Deskripsi Aksi Nyata

Sosialisasi aksi nyata dilaksanakan pada komunitas belajar (Gugus) pada tanggal 19 Desember 2022. Bertempat di Gugus XI SD Negeri Sihoum. Dalam kegiatan tersebut dihadiri 15 orang guru, 1 orang ketua gugus dan 3 orang kepala sekolah perwakilan dari sekolah imbas lainnya.

Kegiatan berlangsung dengan lancar dan menyenangkan dimulai dari pukul 09.00 sampai pukul 10.45 WIB dengan susunan acara sebagai berikut : Pertama Pembukaan. Kedua sambutan ketua ketua gugus. Ketiga acara inti Sosialisasi Budaya Positif di Sekolah kepada Rekan Guru aksi nyata budaya positif di sekolah yang disampaikan secara kolaborasi oleh calon guru penggerak yaitu penulis sendiri Ernawati, S.Pd.

Dalam acara ini ada beberapa materi yang disampaikan penulis adalah konsep utama modul budaya positif ini antara lain :

1.    Perubahan Paradigma Belajar

2.     Disiplin Positif

3.    Kebutuhan Dasar Manusia

4.    Keyakinan Kelas

5.    Posisi Kontrol Restitusi

6.    Motivasi Prilaku Manusia

a.    Konsep Disiplin dengan Identitas Gagal (Hukuman dan Penghargaan)

b.    Konsep Disiplin dengan Identitas Sukses (Konsekuensi dan Restitusi)

7.    Segitiga Restitusi

 

1.    Pembelajaran dengan Paradigma Baru

Pembelajaran dengan paradigma baru dirancang berdasarkan prinsip pembelajaran yang berdiferensiasi sehingga setiap siswa belajar sesuai dengan kebutuhan dari tahap perkembangannya untuk mewujudkan PROFIL PELAJAR PANCASILA. Enam dimensi profil pelajar pancasila yaitu bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Berkebhinnekaan Global, Mandiri, Bergotong Royong, Kreatif, dan Berpikir kritis.

 

2.    Disiplin Positif.

Dalam budaya kita, makna ‘DISIPLIN’ dimaknai menjadi sesuatu yang dilakukan seseorang pada orang lain untuk mendapatkan kepatuhan, kita cenderung menghubungkan kata ‘DISIPLIN’ dengan ketidaknyamanan. Sebagai Pendidik, tujuan kita adalah menciptakan anak-anak yang memiliki disiplin diri sehingga mereka bisa berprilaku dengan mengacu pada nilai-nilai kebajikan universal dan memiliki motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik. Disiplin positif merupakan salah satu cara penerapan disiplin yang bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran serta memberdayakan anak untuk melakukan sesuatu tanpa sogokan, ancaman, maupun hukuman.

Jadi disiplin positif adalah prilaku yang mengacu pada nilai-nilai universal atas kesadaran dari dalam sendiri sendiri (motivasi intrinsik) bukan untuk menyenangkan orang lain maupun terhindar dari teguran maupun hukuman.

3.    Kebutuhan Dasar Manusia

a.    Bertahan Hidup (survival)

Dalam melaksanakan disiplin atau melakukan sesuatu itu siswa maupun kita sebagai orang dewasa pasti kita mempunyai kebutuhan dasar yang melatar belakangi tingkah laku kita. Kebutuhan fisiologis atau berkaitan dengan fisik yaitu bertahan hidup yaitu kita membutuhkan makan, membutuhkan minum, membutuhkan tempat tinggal atau sering disebut dengan kebutuhan sandang atau pangan.

b.    Kebutuhan Kasih Sayang dan Rasa Diterima (Love and Belonging)

Setiap manusia pasti menginginkan kebutuhan akan kasih sayang dan rasa diterima. Terkadang disetiap kelas ada siswa yang sering berbuat onar, cari perhatian, hiperaktif dan sebagainya. Itu dikarena kan dia butuh kasih sayang, perhatian dari gurunya dan ingin diterima.

Setiap siswa pasti ada rasa ingin diterima oleh kelompoknya meskipun ia bersikap cuek sekalipun. Sebagai guru harus dapat menerima murid apa adanya, karena setiap murid adalah unik, mereka memiliki kekuatannya masing-masing.

Murid-murid yang memiliki kebutuhan yang besar untuk merasa diterima, biasanya mereka belajar karena suka pada gurunya dan mereka juga suka bekerja dalam kelompok.

c.     Kebebasan (Freedom)

Kebutuhan kebebasan atau kebutuhan membuat pilihan. Murid harus diberi kesempatan membuat pilihan dan bertanggungjawab atas pilihannya. Beri mereka kebebasan bukan berarti membiarkan mereka melakukan apa saja yang mereka mau. Melainkan kebebasan yang berarti :

-       Kesempatan untuk membuat pilihan

-       Menyuarakan pendapat dengan percaya diri

-       Memberikan kesempatan untuk mencoba hal-hal yang baru

Pembelajaran yang beragam dan menarik juga akan memenuhi kebutuhan murid tentang kebebasan ini. pembelajaran berdiferensiasi dimana guru menyediakan beberapa jenis tugas yang bisa dipilih oleh murid sesuai minat mereka, sangat baik untuk mengembangkan murid menjadi lebih mandiri dan memiliki motivasi internal. Karena kebutuhan akan kebebasan pada dasarnya adalah kebutuhan untuk mandiri, memiliki otonomi, memiliki pilihan, dan mampu mengendalikan arah hidupnya sendiri.

d.    Kesenangan (Fun)

Glasser menghubungkan kebutuhan akan kesenangan dengan belajar. Jangan sepelekan kebutuhan murid untuk merasa senang di kelas. Sebagai guru jangan ragu-ragu untuk dengan sengaja memasukkan kegiatan yang menyenangkan dalam kelas. Murid-murid dengan kebutuhan dasar kesenangan yang tinggi ingin menikmati apa yang mereka lakukan. Mereka juga konsentrasi tinggi saat mengerjakan hal yang disenangi.

e.    Penguasaan (Power)

Setiap murid memiliki kebutuhan untuk merasa kompeten, menjadi terampil, diakui pencapaian dan keterampilannya, didengarkan, bisa membuat dampak dan pengaruh, dan memiliki rasa harga diri. Mereka sebaiknya diberi kesempatan untuk membuat keputusan tentang hal-hal yang penting dalam hidupnya dan tidak merasa dikontrol oleh sistem sekolah. Pada murid yang telah menginjak usia remaja, seringkali mereka merasa tidak memegang kendali atas kehidupannya sendiri, karena guru kerapkali mempengaruhi mereka dalam mengambil keputusan. Murid-murid yang memiliki kebutuhan dasar akan penguasaan yang tinggi biasanya selalu ingin menjadi pemimpin. Mereka juga suka mengamati sebelum mencoba hal-hal yang baru, mereka juga perfeksionis dan merasa kecewa bila melakukan kesalahan.

Ibu dan bapak guru sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui kebutuhan dasar murid-murid kita agar kita memahami alasan dibalik sikap dan tingkah laku mereka. Bila murid berprilaku buruk atau melanggar peraturan, sehingga tindakannya tidak sesuai dengan nilai-nilai kebajikan maka guru harus mencari tahu alasan yang mendasari tindakan tersebut dan kebutuhan apa yang belum terpenuhi. Melalui percakapan dengan guru dalam pendekatan disiplin positif, murid dapat diajak untuk bersikap reflektif dalam mengenali kebutuhan-kebutuhan yang berusaha mereka penuhi dan mendasari tindakan mereka. Jika guru mengabaikan perilaku buruk murid-murid, maka perilaku tersebut akan berpengaruh pada suasana kelas yang kurang kondusif dan akan berpengaruh pada tujuan dari pendidikan itu sendiri.  

4.    Keyakinan Kelas

Keyakinan kelas merupakan nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati bersama dengan murid di kelas, baik secara tersirat dan tersurat. Keyakinan disusun berdasarkan kesepakatan Kelas sebagai salah satu upaya penting untuk terbentuknya budaya positif.

Contohnya kita menggunakan helm bukan karena mentaati peraturan lalu lintas, namun karena keselamatan. Nilai keselamatan inilah yang kita sebut sebagai suatu ‘keyakinan’. Nilai-nilai kebajikan universal menjadi landasan kita dalam membuat suatu keyakinan kelas. Melalui kenyakinan kelas ini murid akan lebih tergerak dan bersemangat untuk menjalankan keyakinannya, daripada hanya sekedar mengikuti serangkaian peraturan tertulis

Keyakinan kelas bersifat lebih ‘abstrak’ daripada peraturan, yang lebih rinci dan konkrit. Berupa pernyataan-pernyataan universal.Pernyataan keyakinan kelas dibuat dalam bentuk positif. Keyakinan kelas hendaknya tidak terlalu banyak, sehingga mudah diingat dan dipahami oleh semua warga kelas.Keyakinan kelas sebaiknya sesuatu yang dapat diterapkan di lingkungan tersebut. Semua warga kelas ikut berkontribusi dalam pembuatan keyakinan kelas lewat kegiatan curah pendapat. Contoh: Tidak melakukan bullying menjadi keyakinan kelas saling menghormati. Tidak terlambat ke sekolah menjadi kenyakinan kelas komitmen. Dilarang berkelahi menjadi keyakinan kelas kasih sayang.

 

5.    Posisi Kontrol Guru

Berdasarkan pada teori Kontrol Dr. William Glasser, ada 5 posisi kontrol yang diterapkan seorang guru, orang tua ataupun atasan dalam melakukan kontrol. Kelima posisi kontrol tersebut adalah Penghukum, Pembuat Rasa Bersalah, Teman, Pemantau dan Manajer.

a.    Penghukum

Seorang penghukum bisa menggunakan hukuman fisik maupun verbal. Orang-orang yang menjalankan posisi penghukum, senantiasa mengatakan bahwa sekolah memerlukan sistem atau alat yang dapat lebih menekan murid-murid lebih dalam lagi. Guru-guru yang menerapkan posisi penghukum akan berkata: 

“Patuhi aturan saya, atau awas!” 

“Kamu selalu saja salah!” 

“Selalu, pasti selalu yang terakhir selesai”. 

Guru seperti ini senantiasa percaya hanya ada satu cara agar pembelajaran bisa berhasil, yaitu cara dia. 

b.    Pembuat Orang Merasa Bersalah

Pada posisi ini biasanya guru akan bersuara lebih lembut. Pembuat orang merasa bersalah akan menggunakan keheningan yang membuat orang lain merasa tidak nyaman, bersalah, atau rendah diri. Kata-kata yang keluar dengan lembut akan seperti: 

“Ibu sangat kecewa sekali dengan kamu” 

“Berapa kali Bapak harus memberitahu kamu ya?” 

“Gimana coba, kalau orang tua kamu tahu kamu berbuat begini?” 

Di posisi ini murid akan memiliki penilaian diri yang buruk tentang diri mereka, murid merasa tidak berharga, dan telah mengecewakan   orang-orang disayanginya. 

c.    Teman

Guru pada posisi ini tidak akan  menyakiti murid, namun akan tetap berupaya mengontrol murid melalui persuasi.  Posisi teman pada guru bisa negatif ataupun positif. Positif di sini berupa hubungan baik yang terjalin antara guru dan murid. Guru di posisi teman menggunakan hubungan baik dan humor untuk mempengaruhi seseorang. Mereka akan berkata: 

“Ayo bantulah, demi bapak ya?” 

“Ayo ingat tidak bantuan Bapak selama ini?” 

“Ya sudah kali ini tidak apa-apa. Nanti Ibu bantu bereskan”. 

Hal negatif dari posisi teman adalah bila suatu saat guru tersebut tidak membantu maka murid akan kecewa dan berkata, “Saya pikir bapak/Ibu teman saya”. Murid merasa dikecewakan, dan tidak mau lagi berusaha, Hal lain yang mungkin timbul adalah murid hanya akan bertindak untuk guru tertentu, dan tidak untuk guru lainnya. Murid akan tergantung pada guru tersebut.  

d.    Monitor/Pemantau

Memonitor berarti mengawasi. Pada saat kita mengawasi, kita bertanggung jawab atas perilaku orang-orang yang kita awasi. Posisi pemantau berdasarkan pada peraturan-peraturan dan konsekuensi. Dengan menggunakan sanksi/konsekuensi, kita dapat memisahkan hubungan pribadi kita dengan murid, sebagai seseorang yang menjalankan posisi pemantau. Pertanyaan yang diajukan seorang pemantau: 

“Peraturannya apa?” 

“Apa yang telah kamu lakukan?” 

“Sanksi atau konsekuensinya apa?” 

Seorang pemantau sangat mengandalkan penghitungan, catatan, data yang dapat digunakan sebagai bukti atas perilaku seseorang. Posisi ini akan menggunakan stiker, slip catatan, daftar cek. Posisi monitor sendiri berawal dari teori stimulus-respon, yang menunjukkan tanggung jawab guru dalam mengontrol murid. 

e.    Manajer

Posisi terakhir, Manajer, adalah posisi mentor di mana guru berbuat sesuatu bersama dengan murid, mempersilakan murid mempertanggungjawabkan perilakunya, mendukung murid agar dapat menemukan solusi atas permasalahannya sendiri. Seorang manajer telah memiliki keterampilan di posisi teman maupun pemantau, dan dengan demikian, bisa jadi di waktu-waktu tertentu kembali kepada kedua   posisi tersebut bila diperlukan. Namun bila kita menginginkan murid-murid kita menjadi manusia yang merdeka, mandiri dan bertanggung jawab, maka kita perlu mengacu kepada Restitusi yang dapat menjadikan murid kita seorang manajer bagi dirinya sendiri.   Di manajer, murid diajak untuk menganalisis kebutuhan dirinya, maupun kebutuhan orang lain. Disini penekanan bukan pada kemampuan  membuat konsekuensi, namun dapat berkolaborasi dengan murid bagaimana memperbaiki kesalahan yang ada. Seorang manajer akan berkata: 

“Apa yang kita yakini?” (kembali ke keyakinan kelas) 

“Apakah kamu meyakininya?” 

“Jika kamu menyakininya, apakah kamu  bersedia memperbaikinya?” 

“Jika kamu memperbaiki ini, hal ini menunjukkan apa tentang dirimu?” 

“Apa rencana kamu untuk memperbaiki hal ini?” 

Tugas seorang manajer bukan untuk mengatur perilaku seseorang. Kita membimbing murid untuk dapat mengatur dirinya.  Seorang manajer bukannya memisahkan murid dari kelompoknya, tapi mengembalikan murid tersebut ke kelompoknya dengan lebih baik dan kuat.  

Bisa jadi dalam praktik penerapan disiplin sehari-hari, kita akan kembali ke posisi Teman atau Pemantau, karena murid yang ditangani belum siap diajak berdiskusi atau diundang melakukan restitusi. Namun perlu disadari tujuan akhir dari 5 posisi kontrol seorang guru adalah pencapaian posisi Manajer, di mana di posisi inilah murid dapat menjadi pribadi yang mandiri, merdeka, dan bertanggung jawab atas segala perilaku dan sikapnya, yang pada akhirnya dapat menciptakan lingkungan yang positif, nyaman, dan aman. 

6.    Motivasi Perilaku Manusia

    Motivasi merupakan dorongan yang timbul pada diri seserang baik sadar maupun tidak sadar untuk melakukan sesuatu. Menurut Diane Gossen, ada 3 motivasi perilaku manusia.

    Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman. Ini adalah tingkat terendah dari motivasi perilaku manusia. Murid melakukan disiplin karena takut dihukum. Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain. Satu tingkat di atas motivasi yang pertama, disini murid berperilaku disiplin karena mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain. Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Ini yang akan kita laksanakan. Motivasi yang akan membuat murid memiliki disiplin positif karena motivasi berperilakunya bersifat internal, bukan eksternal.

Konsep Disiplin dengan Identitas Gagal (Hukuman dan Penghargaan)

Ini adalah penerapan disiplin melalui hukuman dan penghargaan. Hukuman Sesuatu yang menyakitkan, murid tidak nyaman, akibatnya murid akan menyembunyikan kesalahan. 

Penghargaan ternyata bukan cara yang efektif menegakkan disiplin di sekolah. Penghargaan merusak hubungan. Ketika seorang diberi penghargaan atau dipuji di depan orang banyak, maka yang lain akan merasa iri, dan sebagian dari mereka akan tidak menyukai orang yang diberikan penghargaan tersebut. Jika seorang guru sering memberikan penghargaan kepada murid-muridnya, besar kemungkinan murid-muridnya termotivasi hanya untuk menyenangkan gurunya.

 

Konsep Disiplin dengan Identitas Sukses (Konsekuensi dan Restitusi)

Ini adalah penerapan disiplin melalui konsekuensi dan restitusi. Konsekuensi, sudah terencana atau sudah disepakati; sudah dibahas dan disetujui oleh murid dan guru. Umumnya bentuk-bentuk konsekuensi dibuat oleh pihak guru (sekolah), dan murid sudah mengetahui sebelumnya konsekuensi yang akan diterima bila ada pelanggaran. Pada konsekuensi, murid tetap dibuat tidak nyaman untuk jangka waktu pendek, Perlu monitoring berkelanjutan, stimulus – respon, murid menghormati peraturan, kehilangan waktu untuk merenungi kesalahan. Konsekuensi biasanya diberikan berdasarkan suatu data yang umumnya dapat diukur.

Restitusi merupakan proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah mereka, dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain. Murid bertanggung jawab untuk perilakunya, fokus pada pemecahan masalah jangka panjang, murid menghormati dirinya dan orang lain,teori kontrol (dirinya memegang kontrol), murid bersemangat memperbaiki kesalahan.


7.    Segitiga Restitusi

Restitusi adalah sebuah pendekatan untuk menciptakan disiplin positif melalui proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah, dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain. Melalui pendekatan restitusi, ketika murid berbuat salah, guru akan menanggapi dengan mengajak murid berefleksi tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk memperbaiki kesalahan mereka sehingga mereka menjadi pribadi yang lebih baik dan menghargai dirinya. Pendekatan restitusi tidak hanya menguntungkan korban, tetapi juga menguntungkan orang yang telah berbuat salah.

Ada peluang luar biasa bagi murid untuk bertumbuh karakternya, ketika mereka melakukan kesalahan, karena pada hakikatnya begitulah cara kita belajar. Murid perlu bertanggung jawab atas perilaku yang mereka pilih, namun mereka juga dapat belajar dari pengalaman untuk membuat pilihan yang lebih baik di waktu yang akan datang.

Restitusi fokus pada karakter, dalam proses restitusi diri maka murid akan menyadari dia sedang menjadi orang yang seperti apa yang itu adalah menunjukkan fokus pada penguatan karakter. Ketika guru membimbing murid untuk penguatan karakter, guru akan mengatakan, “Ibu/Bapak tidak terlalu mempermasalahkan apa yang kamu lakukan hari ini, tetapi mari kita bicara tentang apa yang akan kamu lakukan besok. Kamu bisa saja minta maaf, tapi orang akan lebih suka mendengar apa yang akan kamu lakukan dengan lebih baik lagi. Berikut merupakan ciri-ciri restitusi :

1. Restitusi bukan untuk menebus kesalahan, namun untuk belajar dari kesalahan

2. Restitusi memperbaiki hubungan

3. Restitusi adalah tawaran, bukan paksaan

4. Restitusi ‘menuntun’ untuk melihat ke dalam diri

5. Restitusi Fokus pada karakter bukan tindakan

6. Restitusi mencari kebutuhan dasar yang mendasari tindakan



Segitiga Restitusi

       Merupakan sebuah pendekatan untuk Menciptakan Disiplin Positif, melalui 3 proses tahapan yaitu :

1)    Menstabilkan Identitas (Stabilize the Identity) “bahwa kita semua akan melakukan hal terbaik yang bisa kita lakukan”.

2) Validasi Tindakan yang Salah, “ Semua prilaku memiliki alasan.

3) Menanyakan Keyakinan,” Kita semua memiliki motivasi internal

Alhamdulillah dalam memaparkan materi berlangsung dengan baik dan lancar. Dalam durasi 40 menit selesai mempresentasikan materi tentang budaya positif kepada rekan guru di Gugus XI Sekolah Dasar Negeri Sihoum diselingi dengan tanya jawab. Ada 2 pertanyaan yang dilontarkan oleh peserta antara lain:

1.    Ibu Susi Susanti, S.Pd. “Tentang penghargaan, di sini dipaparkan bahwa

penghargaan maupun hukuman, adalah cara-cara mengontrol perilaku seseorang yang menghancurkan potensi untuk pembelajaran. Padahal selama ini kami sering melakukan memberikan penghargaan kepada murid dengan maksud untuk memotivasi mereka. Lalu kita sebagai guru sekarang harus bagaimana karena penghargaan dianggap sebagai identitas yang gagal. Apakah penghargaan yang dimaksud adalah termasuk penghargaan yang sering kami lakukan tersebut ?

2.    Ibu Salma, S.Pd. “Saya mengakui bahwa saya sering menempatkan diri sebagai penghukum dan rasa bersalah untuk mengatasi permasalahan murid yang indisipliner, namun hal ini menurut saya malah justru efektif karena kelas menjadi tertib.

 

Jawaban Penulis

1. Atas pertanyaan Ibu Susi, “Penghargaan yang diaggap identitas yang gagal adalah jenis penghargaan yang berupa barang atau benda dan yang bersyarat menginginkan murid melakukan sesuatu yang kita inginkan, dalam jangka waktu pendek ataupun panjang. Hal ini berbeda dengan penghargaan dengan kalimat reward yang tidak berlebihan saat siswa meraih prestasi. Menurut Alfie Kohn “Saat kita berulang kali menjanjikan hadiah kepada anak-anak agar berperilaku bertanggung jawab, atau kepada seorang murid agar mempelajari sesuatu yang baru, atau kepada seorang karyawan agar melakukan pekerjaan yang berkualitas, kita sedang berasumsi mereka tidak dapat melakukannya, atau mereka tidak akan memilih untuk melakukannya”.

2.  Atas peryataan Bu Salma “Ya, saya juga pernah melakukan hal yang sama seperti yang ibu lakukan. Namun ternyata menurut teori Alfie Kohn hukuman menyakitkan dan membuat murid/anak sakit hati dan membenci peraturan.

 

C. Hasil dari Aksi Nyata yang dilakukan

1. Adanya kesamaan pemahaman/persepsi tentang budaya positif di sekolah.

2. Adanya kekompakan wali kelas dan murid menyusun keyakinan kelas.

3. Terpampang keyakinan kelas di dinding ruang kelas dan keyakinan sekolah dalam bentuk poster yang terpasang di sudut sekolah yang mudah terjangkau dan terbaca.

4. Adanya perubahan terciptanya disiplin positif di sekolah yang tercermin pada berkurangnya tingkat indisipliner murid dan guru.

 

D. Pembelajaran yang Didapat dari Pelaksanaan

Pembelajaran yang penulis dapatkan dari pelaksanaan kegiatan penyusunan    

      keyakinan kelas dan sosialisasi ke rekan sejawat ini antara lain;

a.    Kegagalan

Belum 100% wali kelas/guru membuat keyakinan kelas. Sudah 3 kelas dari 6 kelas yang ada telah membuat keyakinan kelas dan terpasang di dinding kelas.

b. Keberhasilan

Sudah 50% wali kelas dan murid mampu menyusun keyakinan kelas. Hal ini merupakan langkah awal yang baik menuju keberhasilan upaya menciptakan budaya positif di sekolah. Sebagai aksi nyata utk mewujudnya karakter Pelajar Pancasila.

 

E. Respon Murid dan Guru

    Respon Murid

Utsman Abrar Arifin (Siswa kelas V) :

“Saya senang, karena ikut dilibatkan secara aktif dalam proses pembuatan kesepakatan kelas yang kemudian diubah menjadi keyakinan kelas. Saya berharap keyakinan kelas yang telah dibuat dan disepakati oleh seluruh siswa ini dilaksanakan dengan penuh tanggungjawab. Sehingga teman-teman yang suka membully menjadi hilang dan kami menjadi lebih baik lagi kedepannya”.

 

Respon Guru

Respon Guru diwakili oleh Ibu Raihan:

“Saya menyambut baik implementasi budaya positif di sekolah. Saya bersyukur mendapatkan wawasan dan pengetahuan baru yang gratis. Apa yang dipaparkan oleh ibu Ernawati tentang budaya positif cukup jelas, mudah dipahami. Sebelum mengikuti Sosialisasi ini, saya belum pernah menerapkan segitiga restitusi ketika menghadapi permasalahan siswa. Namun setelah ini saya akan mempraktekannya di kelas saya, terutama membuat kesepakatan/keyakinan kelas. Saya senang diperkenalkan program disiplin positif yang dinamakan Restitusi dan lima posisi kontrol guru. Saya akan segera mempraktikkan pula segitiga restitusi untuk menemukan solusi menangani siswa yang indisipliner. Berusaha menerapkan posisi diri sebagai teman dan manajer untuk menuntun siswa dan menumbuhkan karakter baik mereka”.

 

F. Rencana Perbaikan untuk Implementasi ke Depan

1). Melakukan pemantau, merefleksi dan mengevaluasi keyakinan kelas yang telah

     dibuat dan penerapannya.

2). Menghindari hukuman dan penghargaan dalam penerapan budaya positif di

         sekolah.

    3). Pada setiap tahun ajaran baru akan membuat keyakinan kelas melalui

         kesepakatan kelas.

 

G. Dokumentasi Pelaksanaan Sosialisasi

     Dokumentasi kegiatan berupa video ada di : https://www.youtube.com/watch?v=9A_Ir882LFc&t=820s

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

0 komentar:

Posting Komentar