ARTIKEL REFLEKSI KEGIATAN SOSIALISASI BUDAYA POSITIF DI SEKOLAH KEPADA REKAN GURU AKSI NYATA MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF
Oleh : Ernawati,
S.Pd.
A. Latar
Belakang
Berdasarkan
filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Peran Guru di sekolah adalah sebagai
among yang menuntun benih-benih kebudayaan yaitu murid untuk tumbuh dan
berkembang menjadi manusia yang beradab/berkarakter agar ia tidak kehilangan
arah dan dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
Seorang pendidik ini diibaratkan sebagai seorang petani. Dimana seorang petani ini memiliki sebuah peran yang sangat penting dalam menumbuhkan tanaman agar subur dan tidak layu. Seorang petani harus benar-benar memastikan bahwa tempatnya bercocok tanam memiliki tanah yang cocok untuk ditanami, memastikan bahwa tanamannya mendapatkan pengairan yang baik serta memberantas hama ataupun gulma agar pertumbuhan tanamannya itu tidak terganggu. Begitu pula dengan pendidik yang memiliki peranan hampir sama persis dengan petani.
Namun tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini seiring dengan perkembangan dan kemajuan teknologi yang sudah mendunia, banyak siswa-siswi yang berprilaku negatif seperti berkata kotor, berbohong, berkelahi, perundungan (bullying). Hal tersebut menjadi tanggungjawab yang besar bagi pendidik bagaimana mengatasi kenakalan yang indisipliner ini. Untuk itu membangun karakter murid sebagai warganegara yang baik sangatlah penting untuk segera dilakukan, karena sekolah merupakan salah satu institusi pembentukan karakter.
Salah satu upaya
yang bisa dilakukan di sekolah adalah dengan menciptakan budaya positif di
sekolah. Dengan diterapkannya budaya positif tersebut, murid diharapkan
memiliki karakter yang baik sesuai dengan karakter dalam Profil Pelajar
Pancasila. Rencana aksi nyata yang akan saya lakukan untuk mewujudkan Profil
Pelajar Pancasila yaitu menyusun keyakinan kelas dan mensosialisasikan budaya
positif kepada rekan sejawat. Keyakinan kelas ini berisi nilai-nilai kebajikan
yang menjadi harapan guru terhadap murid, dan harapan murid kepada guru yang
telah disepakati bersama.
B. Deskripsi Aksi
Nyata
Sosialisasi aksi
nyata dilaksanakan pada komunitas belajar (Gugus) pada tanggal 19 Desember
2022. Bertempat di Gugus XI SD Negeri Sihoum. Dalam kegiatan tersebut dihadiri
15 orang guru, 1 orang ketua gugus dan 3 orang kepala sekolah perwakilan dari
sekolah imbas lainnya.
Kegiatan
berlangsung dengan lancar dan menyenangkan dimulai dari pukul 09.00 sampai
pukul 10.45 WIB dengan susunan acara sebagai berikut : Pertama Pembukaan. Kedua
sambutan ketua ketua gugus. Ketiga acara inti Sosialisasi Budaya Positif di
Sekolah kepada Rekan Guru aksi nyata budaya positif di sekolah yang disampaikan
secara kolaborasi oleh calon guru penggerak yaitu penulis sendiri Ernawati,
S.Pd.
Dalam acara ini
ada beberapa materi yang disampaikan penulis adalah konsep utama modul budaya
positif ini antara lain :
1.
Perubahan
Paradigma Belajar
2.
Disiplin Positif
3.
Kebutuhan Dasar
Manusia
4.
Keyakinan Kelas
5.
Posisi Kontrol
Restitusi
6.
Motivasi Prilaku
Manusia
a.
Konsep Disiplin
dengan Identitas Gagal (Hukuman dan Penghargaan)
b.
Konsep Disiplin
dengan Identitas Sukses (Konsekuensi dan Restitusi)
7.
Segitiga Restitusi
1.
Pembelajaran dengan Paradigma Baru
Pembelajaran
dengan paradigma baru dirancang berdasarkan prinsip pembelajaran yang
berdiferensiasi sehingga setiap siswa belajar sesuai dengan kebutuhan dari
tahap perkembangannya untuk mewujudkan PROFIL PELAJAR PANCASILA. Enam dimensi
profil pelajar pancasila yaitu bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
Berkebhinnekaan Global, Mandiri, Bergotong Royong, Kreatif, dan Berpikir
kritis.
2.
Disiplin Positif.
Dalam budaya kita,
makna ‘DISIPLIN’ dimaknai menjadi sesuatu yang dilakukan seseorang pada orang
lain untuk mendapatkan kepatuhan, kita cenderung menghubungkan kata ‘DISIPLIN’
dengan ketidaknyamanan. Sebagai Pendidik, tujuan kita adalah menciptakan
anak-anak yang memiliki disiplin diri sehingga mereka bisa berprilaku dengan
mengacu pada nilai-nilai kebajikan universal dan memiliki motivasi intrinsik,
bukan ekstrinsik. Disiplin positif merupakan salah satu
cara penerapan disiplin yang bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran serta
memberdayakan anak untuk melakukan sesuatu tanpa sogokan, ancaman, maupun
hukuman.
Jadi disiplin
positif adalah prilaku yang mengacu pada nilai-nilai universal atas kesadaran
dari dalam sendiri sendiri (motivasi intrinsik) bukan untuk menyenangkan orang
lain maupun terhindar dari teguran maupun hukuman.
3.
Kebutuhan Dasar Manusia
a.
Bertahan Hidup
(survival)
Dalam melaksanakan disiplin atau
melakukan sesuatu itu siswa maupun kita sebagai orang dewasa pasti kita
mempunyai kebutuhan dasar yang melatar belakangi tingkah laku kita. Kebutuhan
fisiologis atau berkaitan dengan fisik yaitu bertahan hidup yaitu kita
membutuhkan makan, membutuhkan minum, membutuhkan tempat tinggal atau sering
disebut dengan kebutuhan sandang atau pangan.
b.
Kebutuhan Kasih Sayang dan Rasa Diterima (Love and Belonging)
Setiap manusia pasti menginginkan
kebutuhan akan kasih sayang dan rasa diterima. Terkadang disetiap kelas ada
siswa yang sering berbuat onar, cari perhatian, hiperaktif dan sebagainya. Itu
dikarena kan dia butuh kasih sayang, perhatian dari gurunya dan ingin diterima.
Setiap siswa pasti ada rasa ingin
diterima oleh kelompoknya meskipun ia bersikap cuek sekalipun. Sebagai guru
harus dapat menerima murid apa adanya, karena setiap murid adalah unik, mereka
memiliki kekuatannya masing-masing.
Murid-murid yang memiliki kebutuhan yang
besar untuk merasa diterima, biasanya mereka belajar karena suka pada gurunya
dan mereka juga suka bekerja dalam kelompok.
c.
Kebebasan
(Freedom)
Kebutuhan kebebasan atau kebutuhan membuat pilihan. Murid
harus diberi kesempatan membuat pilihan dan bertanggungjawab atas pilihannya.
Beri mereka kebebasan bukan berarti membiarkan mereka melakukan apa saja yang
mereka mau. Melainkan kebebasan yang berarti :
-
Kesempatan untuk
membuat pilihan
-
Menyuarakan
pendapat dengan percaya diri
-
Memberikan
kesempatan untuk mencoba hal-hal yang baru
Pembelajaran yang
beragam dan menarik juga akan memenuhi kebutuhan murid tentang kebebasan ini.
pembelajaran berdiferensiasi dimana guru menyediakan beberapa jenis tugas yang
bisa dipilih oleh murid sesuai minat mereka, sangat baik untuk mengembangkan murid
menjadi lebih mandiri dan memiliki motivasi internal. Karena kebutuhan akan
kebebasan pada dasarnya adalah kebutuhan untuk mandiri, memiliki otonomi,
memiliki pilihan, dan mampu mengendalikan arah hidupnya sendiri.
d.
Kesenangan (Fun)
Glasser menghubungkan kebutuhan akan kesenangan dengan
belajar. Jangan sepelekan kebutuhan murid untuk merasa senang di kelas. Sebagai
guru jangan ragu-ragu untuk dengan sengaja memasukkan kegiatan yang
menyenangkan dalam kelas. Murid-murid dengan kebutuhan dasar kesenangan yang
tinggi ingin menikmati apa yang mereka lakukan. Mereka juga konsentrasi tinggi
saat mengerjakan hal yang disenangi.
e.
Penguasaan (Power)
Setiap murid memiliki kebutuhan untuk merasa kompeten, menjadi terampil, diakui pencapaian dan keterampilannya, didengarkan, bisa membuat dampak dan pengaruh, dan memiliki rasa harga diri. Mereka sebaiknya diberi kesempatan untuk membuat keputusan tentang hal-hal yang penting dalam hidupnya dan tidak merasa dikontrol oleh sistem sekolah. Pada murid yang telah menginjak usia remaja, seringkali mereka merasa tidak memegang kendali atas kehidupannya sendiri, karena guru kerapkali mempengaruhi mereka dalam mengambil keputusan. Murid-murid yang memiliki kebutuhan dasar akan penguasaan yang tinggi biasanya selalu ingin menjadi pemimpin. Mereka juga suka mengamati sebelum mencoba hal-hal yang baru, mereka juga perfeksionis dan merasa kecewa bila melakukan kesalahan.
Ibu dan bapak guru sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui kebutuhan dasar murid-murid kita agar kita memahami alasan dibalik sikap dan tingkah laku mereka. Bila murid berprilaku buruk atau melanggar peraturan, sehingga tindakannya tidak sesuai dengan nilai-nilai kebajikan maka guru harus mencari tahu alasan yang mendasari tindakan tersebut dan kebutuhan apa yang belum terpenuhi. Melalui percakapan dengan guru dalam pendekatan disiplin positif, murid dapat diajak untuk bersikap reflektif dalam mengenali kebutuhan-kebutuhan yang berusaha mereka penuhi dan mendasari tindakan mereka. Jika guru mengabaikan perilaku buruk murid-murid, maka perilaku tersebut akan berpengaruh pada suasana kelas yang kurang kondusif dan akan berpengaruh pada tujuan dari pendidikan itu sendiri.
4.
Keyakinan Kelas
Keyakinan kelas
merupakan nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati bersama dengan murid
di kelas, baik secara tersirat dan tersurat. Keyakinan disusun berdasarkan
kesepakatan Kelas sebagai salah satu upaya penting untuk terbentuknya budaya
positif.
Contohnya kita
menggunakan helm bukan karena mentaati peraturan lalu lintas, namun karena
keselamatan. Nilai keselamatan inilah yang kita sebut sebagai suatu
‘keyakinan’. Nilai-nilai kebajikan universal menjadi landasan kita dalam
membuat suatu keyakinan kelas. Melalui kenyakinan kelas ini murid akan lebih
tergerak dan bersemangat untuk menjalankan keyakinannya, daripada hanya sekedar
mengikuti serangkaian peraturan tertulis
Keyakinan kelas
bersifat lebih ‘abstrak’ daripada peraturan, yang lebih rinci dan konkrit. Berupa
pernyataan-pernyataan universal.Pernyataan keyakinan kelas dibuat dalam bentuk
positif. Keyakinan kelas hendaknya tidak terlalu banyak, sehingga mudah diingat
dan dipahami oleh semua warga kelas.Keyakinan kelas sebaiknya sesuatu yang
dapat diterapkan di lingkungan tersebut. Semua warga kelas ikut berkontribusi
dalam pembuatan keyakinan kelas lewat kegiatan curah pendapat. Contoh: Tidak
melakukan bullying menjadi keyakinan kelas saling menghormati. Tidak terlambat
ke sekolah menjadi kenyakinan kelas komitmen. Dilarang berkelahi menjadi
keyakinan kelas kasih sayang.
5.
Posisi Kontrol Guru
Berdasarkan pada
teori Kontrol Dr. William Glasser, ada 5 posisi kontrol yang diterapkan seorang
guru, orang tua ataupun atasan dalam melakukan kontrol. Kelima posisi kontrol
tersebut adalah Penghukum, Pembuat Rasa Bersalah, Teman, Pemantau dan Manajer.
a. Penghukum
Seorang penghukum bisa
menggunakan hukuman fisik maupun verbal. Orang-orang yang menjalankan posisi
penghukum, senantiasa mengatakan bahwa sekolah memerlukan sistem atau alat yang
dapat lebih menekan murid-murid lebih dalam lagi. Guru-guru yang menerapkan
posisi penghukum akan berkata:
“Patuhi aturan saya, atau awas!”
“Kamu selalu saja salah!”
“Selalu, pasti selalu yang terakhir selesai”.
Guru seperti ini
senantiasa percaya hanya ada satu cara agar pembelajaran bisa berhasil, yaitu
cara dia.
b. Pembuat Orang Merasa
Bersalah
Pada posisi ini biasanya
guru akan bersuara lebih lembut. Pembuat orang merasa bersalah akan menggunakan
keheningan yang membuat orang lain merasa tidak nyaman, bersalah, atau rendah
diri. Kata-kata yang keluar dengan lembut akan seperti:
“Ibu sangat kecewa sekali dengan kamu”
“Berapa kali Bapak harus memberitahu kamu ya?”
“Gimana coba, kalau orang tua kamu tahu kamu berbuat
begini?”
Di posisi ini murid akan
memiliki penilaian diri yang buruk tentang diri mereka, murid merasa tidak
berharga, dan telah mengecewakan orang-orang disayanginya.
c. Teman
Guru pada posisi ini tidak
akan menyakiti murid, namun akan tetap berupaya mengontrol murid melalui
persuasi. Posisi teman pada guru bisa negatif ataupun positif. Positif di
sini berupa hubungan baik yang terjalin antara guru dan murid. Guru di posisi
teman menggunakan hubungan baik dan humor untuk mempengaruhi seseorang. Mereka
akan berkata:
“Ayo bantulah, demi bapak ya?”
“Ayo ingat tidak bantuan Bapak selama ini?”
“Ya sudah kali ini tidak apa-apa. Nanti Ibu bantu
bereskan”.
Hal negatif dari posisi teman
adalah bila suatu saat guru tersebut tidak membantu maka murid akan kecewa dan
berkata, “Saya pikir bapak/Ibu teman saya”. Murid merasa dikecewakan, dan tidak
mau lagi berusaha, Hal lain yang mungkin timbul adalah murid hanya akan
bertindak untuk guru tertentu, dan tidak untuk guru lainnya. Murid akan
tergantung pada guru tersebut.
d. Monitor/Pemantau
Memonitor berarti
mengawasi. Pada saat kita mengawasi, kita bertanggung jawab atas perilaku
orang-orang yang kita awasi. Posisi pemantau berdasarkan pada peraturan-peraturan
dan konsekuensi. Dengan menggunakan sanksi/konsekuensi, kita dapat memisahkan
hubungan pribadi kita dengan murid, sebagai seseorang yang menjalankan posisi
pemantau. Pertanyaan yang diajukan seorang pemantau:
“Peraturannya apa?”
“Apa yang telah kamu lakukan?”
“Sanksi atau konsekuensinya apa?”
Seorang pemantau sangat
mengandalkan penghitungan, catatan, data yang dapat digunakan sebagai bukti
atas perilaku seseorang. Posisi ini akan menggunakan stiker, slip catatan,
daftar cek. Posisi monitor sendiri berawal dari teori stimulus-respon, yang
menunjukkan tanggung jawab guru dalam mengontrol murid.
e. Manajer
Posisi terakhir, Manajer,
adalah posisi mentor di mana guru berbuat sesuatu bersama dengan murid,
mempersilakan murid mempertanggungjawabkan perilakunya, mendukung murid agar
dapat menemukan solusi atas permasalahannya sendiri. Seorang manajer telah
memiliki keterampilan di posisi teman maupun pemantau, dan dengan demikian,
bisa jadi di waktu-waktu tertentu kembali kepada kedua posisi tersebut
bila diperlukan. Namun bila kita menginginkan murid-murid kita menjadi manusia
yang merdeka, mandiri dan bertanggung jawab, maka kita perlu mengacu kepada
Restitusi yang dapat menjadikan murid kita seorang manajer bagi dirinya
sendiri. Di manajer, murid diajak untuk menganalisis kebutuhan
dirinya, maupun kebutuhan orang lain. Disini penekanan bukan pada
kemampuan membuat konsekuensi, namun dapat berkolaborasi dengan murid
bagaimana memperbaiki kesalahan yang ada. Seorang manajer akan berkata:
“Apa yang kita yakini?” (kembali ke keyakinan kelas)
“Apakah kamu meyakininya?”
“Jika kamu menyakininya, apakah kamu bersedia
memperbaikinya?”
“Jika kamu memperbaiki ini, hal ini menunjukkan apa tentang
dirimu?”
“Apa rencana kamu untuk memperbaiki hal ini?”
Tugas seorang manajer
bukan untuk mengatur perilaku seseorang. Kita membimbing murid untuk dapat
mengatur dirinya. Seorang manajer bukannya memisahkan murid dari
kelompoknya, tapi mengembalikan murid tersebut ke kelompoknya dengan lebih baik
dan kuat.
Bisa jadi dalam praktik
penerapan disiplin sehari-hari, kita akan kembali ke posisi Teman atau
Pemantau, karena murid yang ditangani belum siap diajak berdiskusi atau
diundang melakukan restitusi. Namun perlu disadari tujuan akhir dari 5 posisi
kontrol seorang guru adalah pencapaian posisi Manajer, di mana di posisi inilah
murid dapat menjadi pribadi yang mandiri, merdeka, dan bertanggung jawab atas
segala perilaku dan sikapnya, yang pada akhirnya dapat menciptakan lingkungan
yang positif, nyaman, dan aman.
6. Motivasi Perilaku Manusia
Motivasi merupakan dorongan yang timbul pada diri seserang baik sadar maupun tidak sadar untuk melakukan sesuatu. Menurut Diane Gossen, ada 3 motivasi perilaku manusia.
Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman. Ini adalah tingkat terendah dari motivasi perilaku manusia. Murid melakukan disiplin karena takut dihukum. Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain. Satu tingkat di atas motivasi yang pertama, disini murid berperilaku disiplin karena mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain. Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Ini yang akan kita laksanakan. Motivasi yang akan membuat murid memiliki disiplin positif karena motivasi berperilakunya bersifat internal, bukan eksternal.
Konsep Disiplin
dengan Identitas Gagal (Hukuman dan Penghargaan)
Ini adalah penerapan disiplin melalui hukuman dan penghargaan. Hukuman Sesuatu yang menyakitkan, murid tidak nyaman, akibatnya murid akan menyembunyikan kesalahan.
Penghargaan ternyata bukan cara yang efektif menegakkan disiplin di sekolah. Penghargaan merusak hubungan. Ketika seorang diberi penghargaan atau dipuji di depan orang banyak, maka yang lain akan merasa iri, dan sebagian dari mereka akan tidak menyukai orang yang diberikan penghargaan tersebut. Jika seorang guru sering memberikan penghargaan kepada murid-muridnya, besar kemungkinan murid-muridnya termotivasi hanya untuk menyenangkan gurunya.
Konsep Disiplin
dengan Identitas Sukses (Konsekuensi dan Restitusi)
Ini adalah
penerapan disiplin melalui konsekuensi dan restitusi. Konsekuensi, sudah terencana
atau sudah disepakati; sudah dibahas dan disetujui oleh murid dan guru. Umumnya
bentuk-bentuk konsekuensi dibuat oleh pihak guru (sekolah), dan murid sudah
mengetahui sebelumnya konsekuensi yang akan diterima bila ada pelanggaran. Pada
konsekuensi, murid tetap dibuat tidak nyaman untuk jangka waktu pendek, Perlu
monitoring berkelanjutan, stimulus – respon, murid menghormati peraturan, kehilangan
waktu untuk merenungi kesalahan. Konsekuensi biasanya diberikan berdasarkan
suatu data yang umumnya dapat diukur.
Restitusi
merupakan proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk
masalah mereka, dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang
mereka inginkan, dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain. Murid
bertanggung jawab untuk perilakunya, fokus pada pemecahan masalah jangka
panjang, murid menghormati dirinya dan orang lain,teori kontrol (dirinya
memegang kontrol), murid bersemangat memperbaiki kesalahan.
7.
Segitiga Restitusi
Restitusi adalah
sebuah pendekatan untuk menciptakan disiplin positif melalui proses kolaboratif
yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah, dan membantu murid
berpikir tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka
harus memperlakukan orang lain. Melalui pendekatan restitusi, ketika murid
berbuat salah, guru akan menanggapi dengan mengajak murid berefleksi tentang
apa yang dapat mereka lakukan untuk memperbaiki kesalahan mereka sehingga
mereka menjadi pribadi yang lebih baik dan menghargai dirinya. Pendekatan
restitusi tidak hanya menguntungkan korban, tetapi juga menguntungkan orang
yang telah berbuat salah.
Ada peluang luar
biasa bagi murid untuk bertumbuh karakternya, ketika mereka melakukan
kesalahan, karena pada hakikatnya begitulah cara kita belajar. Murid perlu
bertanggung jawab atas perilaku yang mereka pilih, namun mereka juga dapat
belajar dari pengalaman untuk membuat pilihan yang lebih baik di waktu yang
akan datang.
Restitusi fokus
pada karakter, dalam proses restitusi diri maka murid akan menyadari dia sedang
menjadi orang yang seperti apa yang itu adalah menunjukkan fokus pada penguatan
karakter. Ketika guru membimbing murid untuk penguatan karakter, guru akan
mengatakan, “Ibu/Bapak tidak terlalu mempermasalahkan apa yang kamu lakukan
hari ini, tetapi mari kita bicara tentang apa yang akan kamu lakukan besok.
Kamu bisa saja minta maaf, tapi orang akan lebih suka mendengar apa yang akan
kamu lakukan dengan lebih baik lagi. Berikut merupakan ciri-ciri restitusi :
1. Restitusi bukan
untuk menebus kesalahan, namun untuk belajar dari kesalahan
2. Restitusi
memperbaiki hubungan
3. Restitusi
adalah tawaran, bukan paksaan
4. Restitusi
‘menuntun’ untuk melihat ke dalam diri
5. Restitusi Fokus
pada karakter bukan tindakan
6. Restitusi
mencari kebutuhan dasar yang mendasari tindakan
Segitiga Restitusi
Merupakan sebuah
pendekatan untuk Menciptakan Disiplin Positif, melalui 3 proses tahapan yaitu :
1)
Menstabilkan
Identitas (Stabilize the Identity) “bahwa kita semua akan melakukan hal terbaik
yang bisa kita lakukan”.
2) Validasi Tindakan yang Salah, “ Semua prilaku memiliki alasan.
3) Menanyakan Keyakinan,” Kita semua memiliki motivasi internal
Alhamdulillah
dalam memaparkan materi berlangsung dengan baik dan lancar. Dalam durasi 40
menit selesai mempresentasikan materi tentang budaya positif kepada rekan guru
di Gugus XI Sekolah Dasar Negeri Sihoum diselingi dengan tanya jawab. Ada 2
pertanyaan yang dilontarkan oleh peserta antara lain:
1.
Ibu Susi Susanti, S.Pd.
“Tentang penghargaan, di sini dipaparkan bahwa
penghargaan maupun hukuman, adalah
cara-cara mengontrol perilaku seseorang yang menghancurkan potensi untuk
pembelajaran. Padahal selama ini kami sering melakukan memberikan penghargaan
kepada murid dengan maksud untuk memotivasi mereka. Lalu kita sebagai guru
sekarang harus bagaimana karena penghargaan dianggap sebagai identitas yang
gagal. Apakah penghargaan yang dimaksud adalah termasuk penghargaan yang sering
kami lakukan tersebut ?
2.
Ibu Salma, S.Pd. “Saya
mengakui bahwa saya sering menempatkan diri sebagai penghukum dan rasa bersalah
untuk mengatasi permasalahan murid yang indisipliner, namun hal ini menurut
saya malah justru efektif karena kelas menjadi tertib.
Jawaban Penulis
1. Atas pertanyaan
Ibu Susi, “Penghargaan yang diaggap identitas yang gagal adalah jenis
penghargaan yang berupa barang atau benda dan yang bersyarat menginginkan murid melakukan sesuatu
yang kita inginkan, dalam jangka waktu pendek ataupun panjang. Hal ini berbeda
dengan penghargaan dengan kalimat reward yang tidak berlebihan saat siswa
meraih prestasi. Menurut Alfie Kohn “Saat kita berulang kali menjanjikan hadiah
kepada anak-anak agar berperilaku bertanggung jawab, atau kepada seorang murid
agar mempelajari sesuatu yang baru, atau kepada seorang karyawan agar melakukan
pekerjaan yang berkualitas, kita sedang berasumsi mereka tidak dapat
melakukannya, atau mereka tidak akan memilih untuk melakukannya”.
2. Atas peryataan Bu
Salma “Ya, saya juga pernah melakukan hal yang sama seperti yang ibu lakukan.
Namun ternyata menurut teori Alfie Kohn hukuman menyakitkan dan membuat
murid/anak sakit hati dan membenci peraturan.
C. Hasil dari Aksi
Nyata yang dilakukan
1. Adanya kesamaan pemahaman/persepsi
tentang budaya positif di sekolah.
2. Adanya
kekompakan wali kelas dan murid menyusun keyakinan kelas.
3. Terpampang
keyakinan kelas di dinding ruang kelas dan keyakinan sekolah dalam bentuk
poster yang terpasang di sudut sekolah yang mudah terjangkau dan terbaca.
4. Adanya
perubahan terciptanya disiplin positif di sekolah yang tercermin pada
berkurangnya tingkat indisipliner murid dan guru.
D. Pembelajaran
yang Didapat dari Pelaksanaan
Pembelajaran yang
penulis dapatkan dari pelaksanaan kegiatan penyusunan
keyakinan
kelas dan sosialisasi ke rekan sejawat ini antara lain;
a.
Kegagalan
Belum 100% wali kelas/guru membuat
keyakinan kelas. Sudah 3 kelas dari 6 kelas yang ada telah membuat keyakinan
kelas dan terpasang di dinding kelas.
b. Keberhasilan
Sudah 50% wali kelas dan murid mampu
menyusun keyakinan kelas. Hal ini merupakan langkah awal yang baik menuju
keberhasilan upaya menciptakan budaya positif di sekolah. Sebagai aksi nyata
utk mewujudnya karakter Pelajar Pancasila.
E. Respon Murid
dan Guru
Respon Murid
Utsman Abrar Arifin (Siswa kelas V) :
“Saya senang, karena ikut dilibatkan
secara aktif dalam proses pembuatan kesepakatan kelas yang kemudian diubah
menjadi keyakinan kelas. Saya berharap keyakinan kelas yang telah dibuat dan
disepakati oleh seluruh siswa ini dilaksanakan dengan penuh tanggungjawab.
Sehingga teman-teman yang suka membully menjadi hilang dan kami menjadi lebih
baik lagi kedepannya”.
Respon Guru
Respon Guru diwakili oleh Ibu Raihan:
“Saya menyambut baik implementasi budaya
positif di sekolah. Saya bersyukur mendapatkan wawasan dan pengetahuan baru
yang gratis. Apa yang dipaparkan oleh ibu Ernawati tentang budaya positif cukup
jelas, mudah dipahami. Sebelum mengikuti Sosialisasi ini, saya belum pernah
menerapkan segitiga restitusi ketika menghadapi permasalahan siswa. Namun setelah
ini saya akan mempraktekannya di kelas saya, terutama membuat
kesepakatan/keyakinan kelas. Saya senang diperkenalkan program disiplin positif
yang dinamakan Restitusi dan lima posisi kontrol guru. Saya akan segera
mempraktikkan pula segitiga restitusi untuk menemukan solusi menangani siswa
yang indisipliner. Berusaha menerapkan posisi diri sebagai teman dan manajer
untuk menuntun siswa dan menumbuhkan karakter baik mereka”.
F. Rencana
Perbaikan untuk Implementasi ke Depan
1). Melakukan
pemantau, merefleksi dan mengevaluasi keyakinan kelas yang telah
dibuat dan penerapannya.
2). Menghindari
hukuman dan penghargaan dalam penerapan budaya positif di
sekolah.
3). Pada setiap tahun ajaran baru akan
membuat keyakinan kelas melalui
kesepakatan kelas.
G. Dokumentasi Pelaksanaan Sosialisasi
Dokumentasi kegiatan berupa video ada di : https://www.youtube.com/watch?v=9A_Ir882LFc&t=820s

0 komentar:
Posting Komentar