Rumah Tangga Berkarakter Surgawi
Rumah Tangga Berkarakter Surgawi - Merupakan impian setiap manusia yang menginginkan kebahagiaan dalam berumah tangga. Tetapi hal itu tidak mudah didapat sebagaimana mudahnya membalikkan telapak tangan. Karena dalam satu rumah tangga itu, terdiri dari sepasang orang dewasa yang yang berasal dari keturunan yang berbeda, sudah tentu karakter masing-masing berbeda. Mereka yang telah dipersatukan oleh hukum agama Allah melalui ijab kabul pernikahan yang dilandasi cinta. Cinta itu ibarat bayi yang sedang menyusui, perlu diperhatikan, mengasuh dan menjaganya agar selalu sehat dan ceria, jika tidak ia akan lemah, layu dan tak bernyawa atas kuasa dan kehendak-Nya. Namun demikian, tentu pasti ada percekcokan dalam rumah tangga, baik itu dari segi berbeda pikiran/pendapat, bahkan berbeda keinginan dalam membesarkan buah hati mereka ataupun dalam hal sepele sekalipun. Itu sangat manusiawi terjadi, tetapi kita sebagai isteri/suami sering-sering sekuat tenaga untuk menghindari hal-hal tersebut. Baik itu dengan cara mengalah diantara salah satu baik isteri maupun suami. Karena disaat kita mulai marah, syaitan terus berdatangan untuk menggoda manusia, dengan tujuan menghancurkan rumah tangga. Saat marah tersebut, syaitan seolah-olah menari-nari didalam hati si pemarah tersebut, segitu mudahnya dia masuk ke dalam relung hati manusia. Maka, sebisa mungkin kendalikan sifat amarah kita dalam bentuk, sikap, dan tempat apapun. Manusia yang kuat itu adalah yang dapat mengendalikan amarah.
Rumah Tangga Berkarakter Surgawi - Merupakan impian setiap manusia yang menginginkan kebahagiaan dalam berumah tangga. Tetapi hal itu tidak mudah didapat sebagaimana mudahnya membalikkan telapak tangan. Karena dalam satu rumah tangga itu, terdiri dari sepasang orang dewasa yang yang berasal dari keturunan yang berbeda, sudah tentu karakter masing-masing berbeda. Mereka yang telah dipersatukan oleh hukum agama Allah melalui ijab kabul pernikahan yang dilandasi cinta. Cinta itu ibarat bayi yang sedang menyusui, perlu diperhatikan, mengasuh dan menjaganya agar selalu sehat dan ceria, jika tidak ia akan lemah, layu dan tak bernyawa atas kuasa dan kehendak-Nya. Namun demikian, tentu pasti ada percekcokan dalam rumah tangga, baik itu dari segi berbeda pikiran/pendapat, bahkan berbeda keinginan dalam membesarkan buah hati mereka ataupun dalam hal sepele sekalipun. Itu sangat manusiawi terjadi, tetapi kita sebagai isteri/suami sering-sering sekuat tenaga untuk menghindari hal-hal tersebut. Baik itu dengan cara mengalah diantara salah satu baik isteri maupun suami. Karena disaat kita mulai marah, syaitan terus berdatangan untuk menggoda manusia, dengan tujuan menghancurkan rumah tangga. Saat marah tersebut, syaitan seolah-olah menari-nari didalam hati si pemarah tersebut, segitu mudahnya dia masuk ke dalam relung hati manusia. Maka, sebisa mungkin kendalikan sifat amarah kita dalam bentuk, sikap, dan tempat apapun. Manusia yang kuat itu adalah yang dapat mengendalikan amarah.
"Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan" (QS Âli ‘Imrân/3: 134).
Syaitan yang bernama Dasim adalah syaitan yang berada dalam setiap rumah tangga, tugasnya adalah untuk menggoda suami/isteri agar mereka bisa berpisah/bercerai.
Untuk menghindari atau mengusir syaitan tersebut biasakan lah ketika memasuki dan keluar rumah ucapkan sekurang-kurangnya Bismillah atau salam atau sering membaca doa masuk dan keluar rumah, niscaya syaitan tidak akan ada di rumah. Sebagaimana Firman Allah :
"Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik" (QS al-Nûr/24: 61).
Selain itu, jadikan suatu kewajiban ketika makan dan minum untuk mengucapkan bismillah, bahkan dalam mengerjakan suatu apapun, serta wajibkan pada setiap anggota keluarga untuk membiasakan diri sekurang-kurangnya setiap malam untuk membaca Al-Quran. Seperti sabda Rasulullah Saw, “Jangan jadikan rumah-rumah kalian (seperti) kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat al-Baqarah.”
Nasehat untuk para suami/isteri, di saat marah ataupun ada perselisihan, permasalahan bahkan berbeda pendapat, ingatlah bahwa ia adalah jodoh terakhirku. Kemudian untuk terus menjaga keharmonisan dalam berumah tangga bersikaplah selalu jujur, terbuka, saling percaya, rencanakan masa depan bersama, mengatur keuangan bersama, hindari hal yang tidak disukai pasangan, sediakan waktu luang bersama sesibuk apapun pekerjaannya, seringlah mengucapkan kata-kata yang menyenangi pasangan, berbagi tugas/pekerjaan dalam mengurusi anak, dengarkan keluhan pasangan, saling tukar pendapat dalam hal berhubungan intim, qanaah plus bersyukur atas rezeki/nafkah yang diberikan suami. Materi bisa dicari tapi mempertahankan komitmen cinta sejati butuh tekad perjuangan dan pengorbanan sangat kuat kedua belah pihak.
Dalam hidup berumah tangga itu, memang tidak bisa dipisahkan dengan yang namanya 'masalah'. Sangat berbeda jauh dikala kita masih kecil, masih gadis, masih bujangan, karena dikala itu kita tidak terbebani dengan yang namanya tanggung jawab, dan hanya memikirkan diri sendiri. Jika dipikirkan, dalam satu keluarga saja antara kakak beradik juga sangat sering terjadi perbedaan pendapat, apalagi suami isteri itu adalah pasangan yang berbeda keturunannya. Tentu perbedaan demi perbedaan muncul disetiap saat. Namun, apa yang akan dilakukan ketika terjadi permasalahan dalam keluarga? apakah kita akan mundur?. Tidak.
Sebagai manusia yang beriman tentu kita akan kembali kepada Rabb Yang Maha Kuasa. Dia-lah pemilik hati setiap manusia, Dia-lah yang membolak-balik hati manusia. Kepada-Nya lah kita berharap dan bermohon ampun atas segala dosa kesalahan. Sebagai orang yang bijak, berpikirlah dan cam kan lah dalam hati setiap pasangan bahwa setiap kesulitan, permasalahan, rintangan hidup, cobaan hidup, justru pernikahan akan semakin dewasa terasah, awet, sempurna dan membawa kebahagiaan sejati. Dengan masalah itulah yang membuat kita semakin dewasa dalam berpikir. Semua masalah kita adukan kepada sang pencipta, in sya Allah masalah bisa membawa berkah.
Rujukan kita sebagai manusia biasa, insan yang lemah dan pelupa. Dalam berumah tangga kita punya guru yang sejati yaitu Rasulullah SAW. Beliau adalah contoh akhlak yang agung, baik dalam berumah tangga maupun dalam berbagai apapun. Rasulullah adalah sosok seorang suami yang sangat meninggikan kedudukan para isterinya dan sangat menghormati mereka. Betapapun banyak dan beratnya tugas yang dipikul Rasul, tetapi beliau tidak pernah lupa akan hak-hak para isterinya. Beliau memperlakukan mereka sangat amat lembut dan dengan penuh kasih. Rasulullah adalah suami yang sangat memahami akan kondisi isterinya baik fisik maupun psikis. Beliau selalu bermusyawarah dengan isteri dalam setiap mengambil keputusan, beliau tetap santun meski saat marah. Meskipun Rasulullah memiliki kedudukan yang sangat agung, tapi kelembutan dan kesantunan beliau kepada para isterinya sangat mengagumkan.
Bercermin pada pribadi Rasulullah yang hidup dengan kesederhanaan,
kebersahajaan, terutama dalam materi. Karena materi bukanlah
satu-satunya sumber dari kebahagiaan dalam rumah tangga. Kebahagiaan
rumah tangga yang sejati adalah seperti yang dicontohkan Rasulullah
yaitu rumah tangga yang islami yang penghuninya hidup dalam zikrullah,
dalam lantunan ayat-ayat suci Al-Quran, dalam kebaikan dan kesalehan.
Rasulullah sosok suami yang sangat romatis kepada para isterinya. Tangannya yang mulia nan suci tidak segan-segannya menyuapi makan isterinya. Sungguh sangat indah islam mengaturnya. Sungguh sangat mulia sifat dan akhlak Rasulullah. Beliau juga suka bersenda gurau dengan para isterinya, beliau juga tidak sungkan dalam membantu isteri dalam mengurus rumah tangga, bahkan ketika bajunya robek, beliau menjahitnya sendiri. Sungguh sangat mengagumkan contoh teladanmu wahai Rasulullah. Keharmonisan, kebahagiaan rumah tangga yang diciptakan oleh Rasulullah adalah contoh teladan Rumah Tangga yang Berkarakter Surgawi yang sangat patut kita teladani dan kita contohkan. Meskipun penulis tidak dapat memaparkan lebih banyak tentang keharmonisan rumah tangga sang teladan kita, namun kita dapat menjadikannya contoh dalam keluarga. Sesungguhnya masih sangat banyak contoh-contoh yang dapat kita teladani dari kisah hidup Rasulullah khususnya dalam berumah tangga.
Kebahagiaan terdapat pada saling memahami, kerjasama dan bahu-membahu dalam menunaikan tanggung jawab yang ada di pundak masing-masing dari suami-istri dalam jalinan kasih-sayang sejati, dalam rajutan cinta yang hakiki, dalam balutan kesetiaan berasaskan takwa dan kesalehan.
Sungguh mulia wahai engkau Rasulullah. Sungguh mengagumkan akhlak yang engkau torehkan untuk ummatmu. Sungguh indah cerita hidupmu. Aku, dia, mereka, kami semua sangat mengagumimu wahai sang kekasih Allah. Engkaulah guru yang sejati yang dapat kami teladani sepanjang zaman. Engkaulah guru, teladan kami dalam memperagakan hidup berumah tangga.
Semoga kita dapat meneladani akhlak Rasulullah yang sangat mulia.
Sungguh mulia wahai engkau Rasulullah. Sungguh mengagumkan akhlak yang engkau torehkan untuk ummatmu. Sungguh indah cerita hidupmu. Aku, dia, mereka, kami semua sangat mengagumimu wahai sang kekasih Allah. Engkaulah guru yang sejati yang dapat kami teladani sepanjang zaman. Engkaulah guru, teladan kami dalam memperagakan hidup berumah tangga.
Semoga kita dapat meneladani akhlak Rasulullah yang sangat mulia.




0 komentar:
Posting Komentar